Tadinya mau langsung diberesin, tapi ternyata makan waktu juga
And I'm sorry kalau twistnya terlalu jauh atau tambah aneh ceritanya...

Disclaimer: Sunrise


Perlahan Athrun berbalik ke arah suara yang memanggilnya, setelah menyeka kedua matanya terlebih dulu. Ia kenal suara itu.

"Meyrin," Athrun membalas sambil mengangguk kecil.

"Maaf aku langsung masuk. Tadi aku sudah mengetuk beberapa kali, tapi tidak ada yang menjawab. Pintunya tidak terkunci jadi aku langsung masuk, maaf sekali lagi," Meyrin berkata sambil menunduk beberapa kali.

"Tidak apa-apa. Toh kamarnya sudah hampir kosong, dan kamarnya akan dikembalikan hari ini," Athrun berkata. Ia tahu tentang Meyrin karena sejak Cagalli dirawat, ia bisa dibilang mengambil alih kamar Cagalli dan banyak menghabiskan waktu di apartemen ini—yang lokasinya lebih dekat dengan kampus daripada rumah Athrun—dan mengurusnya. Meyrin sering datang ke kamar Cagalli—dan yang lainnya juga—mewakili ayah atau ibunya untuk mengingatkan kalau ada pengecekan berkala dari petugas yang memeriksa meteran gas, listrik, inspeksi tangga darurat, pemadaman bergilir, dan lain sebagainya—meskipun sudah ada selebaran pemberitahuan, terkadang ada yang tidak membacanya sama sekali jadi ia kadang berkeliling ke seluruh penyewa untuk memberi tahu. Atau ketika membayar sewa bulanan, terkadang Meyrin yang menyambutnya dan mengecap buku tanda bayar sewanya. "Tentang pemeriksaan nanti sore kan?"

"Aku cuma mau memberitahu, kalau kedua orang tuaku mendadak ada acara nanti sore, dan aku juga sudah ada janji lain, jadi kami tidak akan ikut pemeriksaan akhir dengan agen properti nanti sore. Makanya sekarang aku mau melihat-lihat situasi kamarnya dulu untuk memastikan apa ada bagian yang rusak parah atau tidak, mungkin aku akan mengambil beberapa foto juga, tidak apa-apa ya? Kuncinya nanti tolong serahkan pada agen properti saja," Meyrin berkata. Meskipun kamarnya atas nama Cagalli, tapi mau bagaimana lagi, Athrun-lah yang mengurus kamar ini sejak Cagalli dirawat di rumah sakit.

"Aku mengerti, silakan," jawab Athrun, "Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan, dan sampah yang harus dibuang. Kau tidak keberatan kan? Kalau ada yang mau kau tanyakan, bilang saja," Athrun berkata sambil mengarahkan tangannya ke kardus-kardus yang masih terbuka, untuk memberitahu bahwa ia akan meneruskan kegiatannya merapikan barang-barang.

Meyrin tidak keberatan. Ia mengecek kondisi sekeliling ruangan itu; dapur, kamar, kamar mandi, teras dalam tempat sepatu, sambil sesekali mengambil foto beberapa bagian seperti kertas dinding yang sedikit mengelupas, atau bekas noda matahari di beberapa bagian dinding, keramik di dapur, saluran air di kamar mandi, dan sebagainya.

Ketika Athrun sudah selesai dengan kotak kardusnya dan beralih ke barang-barang yang akan dibuang, Meyrin mendekatinya lagi. "Sudah selesai. Sepertinya tidak ada kerusakan yang berat, jadi mungkin tidak perlu renovasi besar. Sisanya nanti mungkin agen properti yang menentukannya."

"Baiklah. Terima kasih," Athrun menjawab sopan.

"Athrun…" Ujar Meyrin setelah memperhatikan wajahnya selama beberapa saat.

"Ya?"

"Apa kau baik-baik saja? Maksudku… Tadi waktu aku baru datang ke sini… Kelihatannya…"

"Ooh, itu," Athrun menghela nafas. Memalukan sekali ketahuan menangis di depan seorang wanita, yang bukan ibunya maupun Cagalli. "Aku menemukan beberapa barang yang mengingatkanku pada masa lalu. Kau juga tahu kenanganku dengan Cagalli tidak semuanya indah, terutama saat-saat Cagalli dirawat karena penyakitnya, itu merupakan saat yang berat bagi kami berdua." Ia tidak menceritakan surat Cagalli. Surat itu hanya ditujukan untuknya, dan Athrun ingin hanya dia saja yang tahu isinya. Meskipun mungkin Kira juga tahu; Cagalli pasti berniat menyuruh Kira memberikan surat itu padanya.

"Kau benar-benar menyayanginya ya," Meyrin menyimpulkan, melihat wajah damai Athrun yang selalu ia lihat ketika membicarakan Cagalli. Wajah yang juga membuatnya menyerah untuk mendapatkan hati pria yang ada di depannya ini, meski ada sekian banyak kesempatan untuk melakukannya.

"Tentu saja, tidak akan berubah sampai kapanpun," Athrun menjawab dengan mantap.

"Kalau begitu aku titip salam ya, kalau-kalau aku tidak bertemu dengan kalian lagi," Meyrin melambaikan tangannya pelan dan beranjak ke pintu depan, diikuti oleh Athrun. Di pintu depan sebelum menutup daun pintunya, Meyrin melambaikan tangannya sekali lagi, "Semoga betah di tempat yang baru ya, sampai ketemu lagi," ujarnya; Meyrin sudah mendengar kabar kalau Athrun sudah menyewa apartemen baru yang lebih besar, di tempat yang lebih dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja. "Kau juga, sehat-sehat ya," balasnya sebelum terdengar suara pintu ditutup. Athrun pun kembali ke dalam, bermaksud untuk menumpuk beberapa kardus di tempat yang mudah terjangkau tapi juga tidak menghalangi jalan. Belum jauh ia melangkah ke depan, ia mendengar samar-samar suara Meyrin.

"Lho, aku kira kita tidak akan sempat bertemu lagi."

Penasaran, dan dengan perkiraan siapa orang yang sedang diajak bicara Meyrin, Athrun kembali dan membuka pintu itu sedikit, melongokan kepalanya dari celah yang ia buat.

Tepat di depan tangga, Meyrin sedang berbincang dengan riang bersama seseorang yang baru datang, wajahnya tidak terlihat karena masih berada di anak tangga. Nampak Meyrin mengucapkan beberapa hal, seperti kata-kata perpisahan, lalu memeluk gadis yang perlahan menaiki tangga menuju ke atas. Lalu teringat lagi dengan janjinya, ia melepaskan pelukannya, dan berjalan menuruni tangga, tapi masih memalingkan wajah ke belakang, masih bertatap muka dengan lawan bicaranya.

Dari tempatnya berdiri, Meyrin tersadar pada Athrun yang melihat ke arah mereka dari balik pintu, yang kemudian memanggil gadis yang baru datang itu.

"Cagalli, kemari," Athrun memerintah, suaranya sedikit keras.

"Ah, Athrun. Maaf ya membuatmu beres-beres sendirian. Aku selesai duluan dan Kira tidak bisa menjemputku, jadi aku pulang sendiri." Di depannya, seorang gadis berperawakan kurus dengan rambut pendek yang ditutupi topi rajut, berjalan menghampirinya, menurunkan masker sekali pakai yang dikenakannya. "Tapi Kira bilang sudah ada di minimarket, dia sudah belikan makan siang dan sedang menuju ke sini lagi."

Tanpa memperdulikan Meyrin yang melihat mereka berdua, Athrun meraih pergelangan tangan Cagalli dan menariknya masuk ke apartemen, dan menutup pintu agak keras, membuat kaget Meyrin, karena Athrun kelihatan sedikit kesal. Dia penasaran ada apa sehingga Athrun bersikap seperti itu, tapi kemudian memilih untuk pergi saja, selain karena ia ada janji dengan kakaknya, ia juga tidak mau ikut campur dalam urusan mereka berdua.

Sementara itu, Cagalli yang kaget karena ditarik tiba-tiba oleh Athrun ke dalam apartemennya langsung bertanya, "Ada apa, Ath—"

Belum selesai pertanyaan dari Cagalli, Athrun sudah menahan mulutnya lebih dulu dengan bibirnya sendiri. Kedua tangan Athrun mengunci pergelangan Cagalli di samping, menekannya ke dinding, sehingga ia tidak bisa bergerak dan mau tidak mau harus pasrah dalam belenggu tangan Athrun.

Baru setelah Cagalli bergerak-gerak tidak nyaman karena kehabisan nafas dan pergelangan tangannya juga sedikit sakit, Athrun melepaskan pagutannya sambil masih menatap Cagalli tajam. Cagalli yang mengenal Athrun luar dalam setelah lebih dari empat tahun bersamanya, langsung bertanya, "Kenapa kau marah?" Pasalnya Athrun hanya menciumnya dengan kasar seperti itu kalau sedang kesal, dan itupun sangat jarang.

"Kata siapa aku marah?" Athrun membantah, tapi nada suaranya kecut.

"Itu marah," Cagalli menyeloroh, menatap mata Athrun yang biasanya menjadi jendela yang menunjukkan isi pikirannya. "Aku baru saja pulang, tiba-tiba diserang seperti ini, kenapa lagi kalau bukan marah?" Cagalli tidak kesal tiba-tiba diperlakukan begini, hanya heran karena Athrun bukan orang yang suka mendadak marah seperti ini, jadi pasti ada alasannya.

"Suratmu itu…"

"Surat…?" wajah Cagalli berkerut tidak paham. "Surat apa?"

"Yang kau tulis untukku di rumah sakit. Apa kau lupa?"

"Ooh itu…" Cagalli tersadar akan surat yang ia tulis setahun yang lalu, "Itu—Aaaaah!" awalnya ia bersikap wajar, lalu panik karena ia sebenarnya tidak bermaksud untuk memberikannya pada Athrun. "Kenapa kau baca?"

"Jelas-jelas suratnya ditujukkan untukku, ya sudah aku baca. Atau kau bermaksud menyembunyikannya supaya aku tidak perlu tahu sama sekali tentang itu?"

"Suratnya kan hanya akan aku berikan kalau proses kemoterapinya gagal," Cagalli beralasan. "Kalau memang gagal, setidaknya aku tidak ingin berpisah tanpa mengatakan apapun. Tapi kalau berhasil, aku mau membuang suratnya, supaya kau tidak perlu tahu."

"Kenapa aku tidak perlu tahu apa yang kau alami selama di rumah sakit? Memangnya aku orang lain bagimu, sampai kau menyembunyikan semuanya dariku?" Athrun menyebutkan salah satu hal yang membuatnya merasa kesal, sesuai tebakan Cagalli.

"Kalau kau baca sudah baca seluruh—"

"Iya aku sudah baca semuanya," Athrun memotong Cagalli singkat.

"Kalau begitu harusnya kau sudah tahu kan? Aku tidak mau membuatmu khawatir!"

"Tahu atau tidak, aku akan selalu khawatir padamu, Cagalli. Tapi…" Athrun bingung dan masih sedikit emosi sehingga tidak bisa menyusun kata-kata dengan benar. "Aku benar-benar berharap pada bumi dan langit kalau penyakitmu itu tidak akan pernah muncul lagi. Tapi kalau membayangkan seandainya muncul kembali, dan tahu di saat itu apa yang akan kau alami setelah pengobatan, lalu membayangkanmu menjalani proses mengerikan itu berkali-kali… Bahkan setelah pernah sembuh..." Athrun menundukkan kepalanya, merasa gagal sebagai seorang kekasih. "Aku merasa tidak berguna. Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu kau menyimpan ketakutanmu sendirian, aku merasa malu karena kadang-kadang berpikir bahwa ketakutanmu berlebihan, sebab kau dulu sudah pernah sembuh sekali, dan aku percaya diri sekali kalau kali kedua pun kau akan sembuh, padahal tidak semudah itu. Ketika kau harus berjuang sendirian, di mana aku tidak diizinkan bertemu denganmu hanya karena bukan anggota keluarga. Lalu mendengarkan vonis dokter mengenai kemungkinan jika proses penyembuhannya gagal. Sikapku yang terlalu acuh pada perubahan dalam tubuhmu. Aku meremehkan semua itu. Aku pergi ke kantor seperti biasa, menjalani hidupku seperti biasa padahal kau berjuang di antara hidup dan mati tiap detiknya." Athrun kesal pada dirinya sendiri. Ia merasa sedih karena Cagalli menyembunyikan banyak hal darinya, tapi ia lebih kesal lagi pada diri sendiri karena ketidakbecusannya. Ada banyak kesempatan ia bisa menggali lebih jauh tentang kekasihmya dan penyakitnya itu. Tapi dia justru tahu semuanya dari surat, yang mana dalam situasi terburuk, mungkin akan sampai di tangannya ketika Cagalli sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Tangan Athrun meraih tangan kiri Cagalli, jemarinya menyapu sebuah perhiasan kecil yang tersemat di jari manisnya, sebuah cincin bermata merah, yang ia berikan pada Cagalli tidak lama setelah Cagalli keluar dari rumah sakit untuk kedua kalinya. "Aku merasa tidak pantas memberikan cincin ini padamu dan meminta restu kepada kedua orang tuamu. Aku bahkan tidak bisa memperhatikan dirimu dengan baik. Bagaimana aku bisa menjagamu sampai akhir hayat kalau begitu?"

"Tidak berguna apanya?" Cagalli langsung membantahnya. "Kau mengorbankan waktumu untuk menjengukku di rumah sakit setiap waktu, kau bilang itu tidak berguna? Apa kau benar-benar membaca suratku? Aku masih ingat aku menulis kalau aku sangat berterima kasih kau selalu menyempatkan diri untuk menemaniku, seperti waktu proses biopsi tulang itu, kau ingat? Waktu pertama kali aku dirawat kau tidak pernah melewatkannya kan?" Gadis itu mencoba mengingatkannya kembali.

Tetapi Athrun masih tetap menyangkal, "Tapi waktu yang kedua kalinya aku jarang sekali bisa menemanimu. Hanya bisa mengunjungi di jam besuk malam saja."

"Tapi kau kan sedang bekerja," Cagalli membantah lagi. "Mana bisa kau ambil cuti seperti waktu kita kuliah? Pokoknya jangan berpikiran macam-macam lagi. Aku juga sudah bilang kan, kau berada di sampingku yang penyakitan ini pun sudah lebih dari yang aku harapkan. Aku tidak minta apa-apa lagi, kau mau bersamaku saja aku merasa sangat bersyukur. Padahal kau bisa saja mencari perempuan—"

"Itu, itu juga!" Nada suara Athrun tiba-tiba meninggi lagi. "Bisa-bisanya kau menawarkan ide untukku mencari wanita lain, aku kan sudah bilang berkali-kali. Aku tidak akan mau bersama dengan sembarang wanita, hanya kau saja. Sekarang pun kau masih berpikir begitu?"

"Waktu aku menulis surat itu kan kita belum bertunangan!" Cagalli menyanggah lagi.

"Tapi kau masih merendahkan dirimu sendiri bahkan sampai sekarang kan?" Athrun menuduh.

Menundukkan kepalanya, Cagalli terdiam, karena apa yang dikatakan Athrun ada benarnya. Membuat Athrun sedikit merasa bersalah karena sudah menaikan suaranya dan mengucapkan hal yang terkesan meragukan Cagalli. "Aku percaya padamu, Athrun. Tapi apa kau bisa menyalahkanku? Dengan riwayat kanker ini yang pernah kembali lagi setelah dinyatakan sembuh, bukan tidak mungkin nanti aku akan kembali lagi ke rumah sakit dengan alasan yang sama," Cagalli memandang wajah Athrun lagi. "Tubuhku sudah ringkih, mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu kenyataan yang tidak akan berubah" Cagalli menambahkan ketika melihat Athrun menggelengkan kepalanya, bersiap untuk membantah. "Aku juga berkali-kali bertanya padamu sebelum menerima lamaranmu kan? Masa depanmu denganku mungkin tidak akan seindah yang kita harapkan. Aku tidak sekuat dulu, aku tidak akan bisa memberimu anak seperti layaknya wanita yang normal, kalaupun bisa kemungkinannya sangat kecil, dan lagi kemungkinan untuk relaps selalu ada sampai kapanpun," Cagalli mengingatkan lagi segala alasan yang ia sebutkan setelah Athrun melamarnya, untuk membuat Athrun memikirkan pilihannya matang-matang. "Apa kau tidak akan menyesal nantinya, ketika kau seharusnya menikmati hidupmu malah harus mengurus orang penyakitan seperti aku? Kau malah seperti mendapat lotr—"

Lagi, Athrun menghentikan Cagalli sebelum kalimatnya selesai dengan mulutnya.

"Dilarang menjelek-jelekkan tunanganku," Athrun memerintah begitu ia melepaskannya.

"Tapi tunanganmu itu kan aku."

"Siapapun tidak terkecuali, tidak ada yang boleh menjelek-jelekkan tunanganku," Athrun menunduk dan menciumnya lagi. "Mulai sekarang kalau ada apapun yang membuatmu khawatir, takut atau apapun itu, apalagi yang berhubungan dengan kondisi tubuhmu, segera bilang padaku. Aku tahu aku tidak mungkin mengerti seratus persen apa yang kau rasakan, tapi aku tidak bisa apa-apa kalau kau diam saja. Tolong jangan menyembunyikan penderitaanmu seorang diri. Apa kau mau aku diam-diam saja ketika aku sekarat?" Cagalli langsung menjawab dengan gelengan kepala yang kuat, "Aku juga. Aku ingin membagi semuanya denganmu. Aku tidak mau hanya berbagi kebahagiaan. Aku juga ingin menerima kesusahanmu supaya bisa kita bagi dan pikul bersama-sama. Sebab mulai besok kau sudah bukan tunanganku lagi, tapi akan jadi tanggung jawabku sepenuhnya," ia mengelus lagi cincin bermata merah itu. "Berkasmu sudah selesai kan?"

"Sudah," Cagalli menjawab, "Kebetulan tadi di balai kota tidak ramai, jadi dokumennya cepat selesai. Besok aku bisa langsung mengajukan pindah alamat," ujarnya sambil melirik tas punggungnya.

"Oke, kalau begitu kita tinggal menunggu Lacus dan Kira untuk mengisi bagian mereka," Athrun menunduk lagi. "Sebelum mereka datang bagaimana—"

"Kami pulang!" terdengar suara merdu Lacus bersamaan dengan pintu depan yang dibuka Kira. "Ini, bekal makan dari mini market, aku belikan sesuai kesukaan kali—lho, kenapa?" tanya Lacus melihat Athrun dan Cagalli yang berdiri di kedua sisi dinding lorong. Rupanya kedatangan Lacus dan Kira membuat mereka kaget sampai Athrun mundur beberapa langkah hingga menempel dinding di belakangnya, tepat di seberang Cagalli.

"Kenapa muka kalian merah begitu?" Kira langsung bertanya dengan wajah masam, "Kalian mencuri-curi waktu selagi kami tidak ada ya?" Kira langsung menuduh Athrun dan mendekatinya; jari telunjuknya menutuk dada Athrun dengan gaya menuduh. "Ingat ya, kalian baru akan menikah besok, jadi sampai waktu itu jangan macam-macam dengan Cagalli."

"Kira, sudah. Ayo kita makan dulu, setelah ini kita masih harus memindahkan kotak-kotak kardus ke mobil dan menyetir ke rumah Athrun. Sebelum agen propertinya datang semuanya harus selesai. Ayo cepat," Lacus dengan luwesnya menarik tangan Kira masuk ke ruang tengah apartemen Cagalli. "Wah, semuanya sudah selesai dibereskan ya?" Ujarnya ketika melihat kardus yang sudah tersusun rapi yang belum Athrun pindahkan dari ruang tengah. "Oh iya, Athrun katanya kau mau minta kami jadi saksi pernikahan kalian ya?" Lacus berhenti sebentar.

"Iya, aku sudah minta berkasnya. Nanti kalian hanya perlu mengisi kolom saksi saja, besok kami akan ke kantor catatan sipil untuk menyerahkan berkasnya sekaligus dengan dokumen pindah alamat Cagalli, jadi hanya perlu sekali datang." Athrun menjawab sambil menggandeng tangan Cagalli menyusul kedua temannya masuk ke dalam. Dari sana ia bisa mendengar suara Kira bersungut-sungut sendiri, "Buru-buru sekali, memangnya tidak bisa nanti saja? Apa kata tetangga nanti."

"Aku sudah hampir kehilangan dia dua kali, aku tidak mau menyia-nyiakan waktu kami lagi," Athrun menjawab pelan ke dekat Kira, sementara Cagalli dan Lacus sibuk membuka tas plastik berisi makanan bekal yang dibeli di minimarket dan mengeluarkan alat makan sekali pakai untuk semuanya.

"Kalian tidak akan resepsi?"

"Mungkin nanti kalau sudah agak santai. Sekarang kan kami masih sibuk mengurus pindahan, Cagalli masih dalam masa penyembuhan juga, tidak boleh terlalu terpapar dengan orang banyak."

"Aku mengerti kalau begitu," Kira menghela nafas, menyerah. "Jaga adikku baik-baik ya," ujarnya sambil menghampiri para wanita yang duduk di lantai di tengah ruangan, mengelilingi meja lipat kecil.

"Athrun, ayo makan," Cagalli menengadah ke arah Athrun dengan tangan terulur memegang kotak makanan jatahnya. Athrun mendekat sambil tersenyum, mengambil kotak makannya dan duduk di samping Cagalli.

"Lihat, aku beli coklat juga tadi," Lacus mengeluarkan barang yang dimaksudnya. "Untuk camilan sehabis makan."

"Nanti kalian malah protes kalau tambah gemuk—Awww!" Kira mengaduh ketika kedua gadis di sana mencubit pipinya berbarengan.

"Kalau kau tidak tahu rasanya tidak bisa makan coklat, jangan protes, Kira," Athrun berkata sambil membuka bekal makan siangnya. Di sampingnya, Cagalli melirik ke arahnya, teringat apa yang ia tulis di surat itu.

"Memangnya tidak bisa makan coklat kenapa? Kau sakit gigi, Athrun?" Kira bertanya sambil mengusap pipinya yang berkedut dan memerah. Athrun hanya menggeleng, menyerah untuk memberitahu Kira.

Mereka pun melewati waktu makan siang yang penuh suka dan menyelesaikan tugas-tugas mereka sebelum waktu yang dijanjikan. Begitu selesai, Kira dan Lacus akan pergi duluan ke apartemen baru Athrun, dan di sana ada beberapa orang yang akan membantu menurunkan barang-barang, sementara Athrun akan tetap tinggal di bekas apartemen Cagalli untuk inspeksi bersama agen property yang sekaligus menggantikan keluarga induk semang apartemen itu.


Dengan pandangan yang teduh, Athrun menatap lekat bunga crossandra yang sekarang menghiasi meja di ruang tengah apartemennya yang baru. Bunga yang selalu mengingatkan orang yang melihatnya pada cahaya matahari.

"Athrun," seseorang membangunkannya dari lamunannya. Di sebelahnya, Cagalli duduk sambil memegang selembar kertas yang berisi kolom-kolom detail yang sudah hampir penuh terisi. "Begini sudah betul?"

Diperhatikannya semua kolom yang harus diisi, memastikan tidak ada kesalahan tulisan, tanggal, dan lain-lainnya; sebab jika ada yang salah, Kira pasti protes padanya karena harus menulis ulang bagiannya. Dan juga menunda hari mereka berdua terikat sebagai suami-isteri.

Setelah dirasa yakin, Athrun mengangguk, "Sudah oke. Tinggal membubuhkan tanda tanganmu di bawah," Athrun menunjuk kolom di kanan bawah.

Cagalli menganggukkan kepalanya dan membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditunjukkan tadi, sementara pandangan Athrun kembali ke arah bunga yang ada di depan mereka berdua.

Berikanlah pada orang yang selalu menerangi hari-harimu, begitu kata mereka tentang bunga crossandra.

Begitulah ia selalu melihat Cagalli, seorang yang periang, cerah dan selalu membawa kebahagiaan seperti matahari. Cagalli yang selalu ceria, bersemangat, dan tidak pernah menyerah menghadapi apapun.

Begitu juga dengan penyakitnya yang sempat membuatnya meredup hingga hampir padam. Dia bukan matahari yang bisa selalu bersinar tanpa lelah, dia manusia biasa yang juga mempunyai kelemahan dan ketakutan. Tapi sekarang, setelah mengetahui semuanya, ia merasa ini adalah kesempatan keduanya untuk bisa melindungi orang yang ia sayangi.

Ia sudah tahu harapan hidup seorang penyintas LLA yang pernah mengalami relaps seperti Cagalli tidak begitu bagus. Sebaik apapun mereka menjaga dirinya, tetap ada kemungkinan kankernya kembali. Dokter bilang, Cagalli beruntung karena memiliki saudara seperti Kira—meskipun masih belum diperiksa, kemungkinan dia bisa menjadi donor untuk Cagalli cukup tinggi seandainya saja terjadi kemungkinan terburuk dan penyakitnya tidak bisa disembuhkan dengan obat. Cagalli sempat menolak, tapi setelah dibujuk semua orang, akhirnya mengalah. Ia hanya meminta supaya semua orang tidak perlu membicarakan ini lagi, kecuali jika ia benar-benar mengalami relaps.

Dan meskipun prosesnya beresiko tinggi, tetapi kemungkinan berhasilnya pun sudah cukup meningkat seiring waktu. Tentu saja Athrun berharap bahwa Cagalli tidak perlu kembali ke rumah sakit untuk penyakit yang sama, tetapi seandainya ada yang berikutnya, dan dokter memutuskan untuk menjalankan cara terakhir ini, ia akan menyiapkan diri untuk bisa mendukung Cagalli lebih baik lagi dibandingkan dulu.

Apalagi karena setelah hari ini, mereka akan menjadi satu keluarga.

"Sudah selesai," Cagalli menyerahkan formulir tersebut pada Athrun, yang diambilnya sambil tersenyum. "Aku mau membereskan barang-barang dulu sedikit ya," ujarnya sambil berdiri dari tempat duduknya, namun ditahan Athrun yang memegang lengannya.

"Jangan, besok saja. Hari ini istirahat saja, sudah larut."

"Belum selarut itu kok. Lagipula kotak-kotaknya—"

"Besok saja. Ada barang yang mau segera kau pakai? Akan kuambilkan, bilang saja," Athrun ingat barang-barang Cagalli ada di kotak mana saja karena ia juga ikut membereskannya. Namun niatnya itu malah disambut dengan wajah cemberut Cagalli.

"Apa gara-gara baca surat itu kau jadi ekstra hati-hati begini? Aku memang penyakitan, tapi tidak serapuh itu juga."

"Bukan hanya karena surat itu, tapi memang perintah dokter seperti itu kan? Kau tidak boleh kelelahan," Athrun dengan lembut menariknya supaya duduk di sebelahnya lagi.

"Tapi itu kan waktu aku baru keluar dari rumah sakit," Cagalli mendebatnya lagi.

"Besok hari yang penting, aku ingin kau benar-benar sehat. Kita akan berangkat pagi-pagi sekali, jadi kau juga harus tidur cukup. Makanya istirahatlah sehabis ini," Athrun membujuknya sambil mengecup ringan puncak kepala Cagalli. Ia mengira Cagalli pasti akan mendebatnya lagi, tapi yang ia dapat malah keheningan.

"Cagalli?" Athrun memanggil pelan, tapi tunangannya itu tidak memalingkan muka ke arahnya, malah menatap ke arah yang sama dengan Athrun sebelumnya, ke arah bunga crossandra di meja di depan mereka. Bedanya, Cagalli tidak terlihat seperti sedang menatap bunga itu, tetapi seperti sedang memikirkan sesuatu yang lain.

"Hayo, kau sedang memikirkan apa?" dengan lembut Athrun menutuk pipi Cagalli dengan telunjuknya, membuat Cagalli terkesiap kaget dari lamunannya sendiri.

"Bukan apa-apa kok," Cagalli menggelengkan kepalanya pelan, tapi jawabannya masih terdengar sekenanya. Dan Athrun merasa ia tahu apa yang sedang dipikirkan Cagalli.

"Kau masih memikirkan pembicaraan kita tadi siang kan?" Cagalli masih diam meskipun ditanya. Matanya sekarang terpaku pada formulir registrasi pernikahan yang baru saja diisinya.

"Cagalli, lihat kemari," Athrun meminta dengan suara lembut seperti berbicara kepada anak kecil, sebab sepertinya ia harus menjabarkannya dengan perlahan, seperti menjelaskan kepada anak-anak, supaya bisa benar-benar tertanam di kepala Cagalli. Begitu pandangan mereka bertemu, Athrun berkata lagi, "Aku bertahan bersamamu karena aku ingin melihatmu sembuh, aku ingin bersama denganmu lebih lama lagi meskipun hanya sekedar sehari. Aku sudah pernah bilang kan, kalau aku tidak mau menyia-nyiakan waktu kita lagi. Seandainya waktu itu kau tidak sembuh pun, aku akan tetap menyerahkan cincin ini padamu," ia menjalin jemarinya dengan tangan kiri Cagalli. "Aku tidak perlu wanita cantik yang bisa mengurusku ketika aku tua nanti. Aku juga tidak berharap banyak untuk bisa punya anak. Tapi aku sudah pernah hampir kehilangan dirimu, dan aku tidak mau merasakan itu lagi. Jadi tolong jangan ambil kesempatan ini dariku; biarkan aku bersamamu dan menjagamu sebisaku."

Athrun berhenti sebentar dan mengambil formulir di atas meja. "Kalau aku tidak yakin denganmu sama sekali, sudah sejak dulu aku pergi darimu. Aku punya banyak kesempatan, sewaktu kau di rumah sakit, sewaktu masa penyembuhanmu. Tapi kau lihat sekarang, aku masih ada di sampingmu seperti ini, di rumah kita berdua, dan besok kita akan memiliki nama yang sama setelah menyerahkan formulir ini. Aku masih ingat kau menolak membicarakan mengenai kemungkinan penerimaan donor untuk pengobatanmu seandainya mengalami relaps. Sama sepertimu, aku juga menolak membicarakan semua kemungkinan untuk mencari orang lain selama kau masih bersamaku seperti ini. Biarkan aku menghabiskan waktuku untuk focus pada dirimu dan menikmati waktuku bersamamu yang terbuang karena jam besuk rumah sakit," lagi, Athrun mendaratkan sebuah ciuman ringan di dahi Cagalli. "Lalu nanti ketika kau sudah lebih sehat, aku harap bisa melihatmu memakai gaun putih yang cantik."

"Aku bahkan waktu itu tidak berani membayangkan bisa bertahan sampai bisa menikah denganmu," Cagalli menyandarkan kepalanya ke dada Athrun yang bidang.

"Kalau begitu, tujuanku berikutnya sebagai suamimu adalah mewujudkan semua mimpi yang menurutmu tidak bisa kau wujudkan itu," Athrun mempererat pelukannya, memperhatikan Cagalli yang mengulurkan tangannya ke arah formulir di tangannya, seolah masih tidak percaya, padahal baru saja ia selesai mengisi kertas itu.

"Kalau begitu, maukah kau mewujudkan keinginanku sekarang?"

"Apapun," Athrun berjanji.

"Bawa aku ke tempat tidur," Cagalli berkata sambil mengalungkan lengannya ke leher Athrun.

"Tentu." Athrun meletakkan lagi dokumen mereka di meja. Dipindahkan tangannya ke bawah paha Cagalli, bersiap untuk menggendongnya; mata hijaunya tidak lepas dari kilatan emas di mata Cagalli, bersiap untuk sesuatu yang lebih. "Ada lagi? Tanyanya dengan suara rendah.

"Tidak ada, aku lelah, ingin istirahat. Bolak-balik ke kantor catatan sipil dan beres-beres apartemen benar-benar melelahkan," Cagalli menjawab sambil meringis; mukanya sedikit merah karena sadar Athrun pasti menerjemahkan kata-katanya berbeda dengan yang ia maksud.

Di luar dugaannya, Athrun malah terbahak lepas. Ia akui pikirannya sempat menangkap terlalu jauh maksud permintaan Cagalli. Tetapi justru inilah yang seharusnya dilakukan sejak tadi, supaya Cagalli beristirahat setelah kegiatan berat hari ini, juga untuk persiapan hari esok. "Baik tuan putri. Pegangan yang kuat," ujarnya sambil membawanya ke kamar yang sekarang ditempati mereka berdua. "Aku mau mengurus beberapa hal dulu, tidurlah duluan," Athrun menarik selimut menutupi tubuh Cagalli dan mengecupnya ringan, ucapan selamat tidurnya.

Setelah membereskan semua dokumen untuk besok, Athrun pergi ke ruang kosong yang sekarang dipakai untuk penyimpanan semetara kotak-kotak kardus dari apartemen Cagalli, Athrun mengeluarkan beberapa barang yang sepertinya akan dipakai Cagalli dalam waktu dekat dan memilah-milahnya supaya bisa segera dipakai. Dari salah satu kardus yang dibukanya, ia menemukan lagi kotak kaleng yang dilihatnya tadi siang. Pikirannya sedikit teralihkan; diambilnya kotak itu. Ia mengeluarkan surat yang sudah membuat hati dan pikirannya campur aduk hari ini, sekaligus juga yang sudah lebih memantapkan hatinya pada apa yang harus ia lakukan mulai sekarang.

Athrun pergi mengambil pemantik yang ia simpan untuk menyalakan lilin, lalu membawanya ke beranda. Setelah menutup pintu kaca geser yang memisahkan beranda dengan ruangan dalam, dinyalakannya pemantik itu, pada tumpukan tebal kertas yang berisi tulisan pengakuan Cagalli.

Angin malam membuat apinya cepat membesar, dengan hati-hati Athrun memegangnya sambil menghindari lidah api, dan begitu kertasnya hanya tersisa sedikit, ia menjatuhkannya, membiarkan api membakarnya habis.

Ia tidak membutuhkan masa lalu itu, dan Cagalli juga tidak membutuhkannya. Yang mereka butuhkan saat ini adalah membentuk masa depan yang ada di depan mata. Sekecil apapun perubahan yang ia buat, ia akan menunjukkan dan memberikan masa depan yang seperti bunga crossandra, cerah seperti matahari.

Athrun berbalik meninggalkan beranda, bersiap untuk menyusul Cagalli yang sedang bergelung nyenyak di kamar baru mereka.


Happy Birthday Athrun, karena di chapter sebelumnya dibikin nangis, jadi di sini dikasihin lagi Cagalli nya buat hadiah ultah

Have a nice weekend

Cheers