Kenapa Kita Berteman?

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


"Nah, Shimazaki, kalau begitu biarkan aku bertanya. Kenapa kita bisa berteman, ya? Atau bagaimana caranya kita berteman?"

Satu tomat ceri utuh kini mengambang di udara bersama sumpit. Shimazaki Touson jadi batal melahapnya, karena Tokuda Shuusei tiba-tiba bertanya setelah mendiamkan suasana. Wajahnya bahkan terlihat penasaran dengan sepasang rona merah yang lucu. Apakah diam-diam Shuusei sudah mempersiapkannya, dia benar-benar spontan tanpa perencanaan, atau bagaimana? Tetapi Touson akan menahannya daripada Shuusei dongkol–masa pertanyaan dibalas pertanyaan?

"Shuusei sudah merencanakan ini, ya? Kamu memang membuat dirimu terlihat imut biar aku mau menjawabmu."

Namun, mengingat dia adalah Shimazaki Touson yang rasa penasarannya selalu penuh, dan puasnya sesekali saja agar ia tetap memanen keseruan, Shuusei bisa apa selain maklum? Dia akan menjawab Touson terlebih dahulu, dan tak lupa untuk memaafkannya karena membalas pertanyaan dengan pertanyaan.

"Ekspresiku memangnya selucu itu? Aku tidak sadar, sih."

"Berarti Shuusei spontan, ya. Kuharap kamu ulang tahun setiap hari, deh, supaya ekspresimu lebih variatif." Mulai, deh, aneh-anehnya. Berarti dalam waktu empat bulan lebih sedikit, Shuusei akan menjadi kakek-kakek. Nanti ia meninggalkan Touson, dan mereka tidak bisa lulus bersama-sama. Pemikiran suram tersebut membuat Shuusei menghela napas. Kenapa di hari ulang tahunnya ia tak bisa berhenti dari menuliskan mendung dan hujan?

"Sembarangan. Jadi apa jawaban untuk pertanyaanku barusan?"

"Sebegitu penasarannya, kah?"

"Begitulah. Lagi pula aku hanya kepikiran itu saat kau berkata, kau akan menambah hadiah ulang tahunku dengan tatapan yang memaksa."

Tadi itu Touson tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya. Seolah-olah memaksa agar netra Shuusei hanya dipenuhi Touson, dan langit biru bahkan dilarang memasuki matanya yang hitam teduh ini. Touson mengangguk-angguk, usai mendengar jawaban Shuusei. Ternyata ia mengakuinya membuat Shuusei kian ingin gencar.

"Kalau tidak dibegitukan, nanti Shuusei menolak."

"Pertanyaanku bisa dijawab sekarang, kah?" Siapa tahu Touson butuh waktu sekitar beberapa jam, atau jangan-jangan seharian, mungkin? Pasti Shuusei berikan walau sebenarnya, itu berlebihan. Dia tidak sedang melamar Touson dengan cinta sejati, lho.

"Kalau aku jawab lupa, Shuusei marah enggak?"

"Mau bagaimana lagi. Aku tidak akan memaksamu juga."

"Malah balik membosankan lagi."

"Demi Tuhan Shimazaki maumu itu apa, sih? Meladenimu memang selalu melelahkan, ya, tapi anehnya aku tetap melakukannya."

Mereka sudah berteman sejak kelas tiga SD. Saat itu Shuusei ingat sekali cicadas berbunyi nyaring, mataharinya seperti akan terbit 24 jam, lalu seseorang berteriak nyaring meminta pertolongan. Shuusei yang tertidur di bawah pohon tahu-tahu hanya terkejut mendapati Izumi Kyouka menghilang. Ternyata ia hanyut terbawa arus sungai, ditemukan tewas dua hari kemudian, sehingga seisi kelas diminta melayat oleh Ibuse-sensei.

Sepanjang prosesi pemakaman berlangsung, segala-galanya menjadi terlalu menyeramkan. Shuusei tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri hingga ia takut terhadap dirinya sendiri. Lagi pula jika ini bukan kesalahannya, siapa yang akan menanggung kematian Kyouka sampai kapan pun? Mengingat ia menggunakan bahasa baru seperti mengenang?

Semua perandaian, dan harapan, pasti menaruh diri mereka pada pundak Shuusei. Kalau saja Shuusei tak ditidurkan angin sepoi-sepoi, Kyouka pasti selamat. Shuusei mana perlu membawa rasa bersalah ini ke mana pun, apabila ia siaga memperhatikan Kyouka.

Jadi secara tak langsung, bukankah seolah-olah Shuusei menginginkannya? Jika dia menolak luka hati yang diciptakan oleh kematian Kyouka, kenapa Shuusei ceroboh? Padahal Shuusei tahu kemarin malam hujan deras. Frekuensi air akan naik habis-habisan menyebabkan sungainya kembali deras, dan mau-mau saja memangsa siapa pun.

Kejadian tersebut memang mengerikan. Shuusei terus mendengar bisik-bisik mengerikan yang serupa manusia itu, sampai akhirnya seseorang memeluk Shuusei. Dialah Shimazaki Touson yang ketika Shuusei agak membentaknya gara-gara direngkuh sembarangan, Touson hanya berkata kematian Kyouka bukanlah salah Shuusei. Bisa jadi Shuusei ikut tewas gara-gara terbawa arus, atau Kyouka ditabrak kendaraan walau ia selamat dari ancaman sungai–kemungkinannya terlalu banyak, sehingga Shuusei jadi keliru apabila menyalahkan diri sendiri.

"Habisnya Shuusei baik banget, sih. Omong-omong aku tahu jawabannya, kok."

"Apa?"

"Saat aku mengulurkan tangan, lalu mengajakmu berteman. Jawabannya sederhana banget, kan?" Ini adalah lanjutan dari Touson yang menjelaskan, kematian Kyouka tak lebih dari surat yang sudah lama takdir tulis, tetapi baru dikirimkan. Shuusei sebenarnya ingat dengan jelas. Bahkan kalimat yang Touson ucapkan selanjutnya, kata-katanya tak pernah pudar.

"Manusia tak mungkin menyebabkan kematian bagi manusia, kecuali takdir sudah menghendakinya, Shuusei. Tuhan saja tidak akan berkata, 'semua salahku sehingga manusia ini mati terseret arus'. Padahal Dialah yang menciptakan manusia dengan sepenuh hati."

Kalau dipikir-pikir ulang, perkataan Touson ternyata kejam dan keji. Namun, di satu sisi Shuusei dengan jujurnya mengakui, ketenangannya kembali tenteram saat berada di dadanya. Mungkin memang begitulah kekuatan dari seorang Shimazaki Touson, di mana hanya ia yang dapat menggunakannya, dan takkan dibenci karena itu selain dimaklumi.

"Kita benar-benar menjadi teman, ya, saat itu?"

"Tentu. Soalnya selain mengajakmu berteman, diam-diam aku berjanji pada diriku sendiri akan selalu berada di sampingmu. Makanya kita ini berteman."

"Lalu kenapa Shimazaki ingin berteman denganku?" Shuusei itu membosankan, nama tengahnya adalah kikuk, dan paling payah dalam diajak bercanda. Teman Shuusei pun tergolong sedikit, karena sifatnya menyerupai kata membosankan. Paling dekat, ya, Touson, sementara yang lainnya Shuusei anggap biasa saja.

"Hanya orang aneh yang berkata, orang baik itu enggak menarik. Lalu kebetulan saja kebaikanmu cocok denganku. Masa ditolak?"

Yang lagi-lagi memang begitulah Shimazaki Touson. Penuh kejutan, rasa penasaran yang ingin melampaui angkasa, sulit ditebak, tetapi intinya ia selalu baik dengan caranya sendiri. Shuusei pun tidak tahan untuk kembali menepuk-nepuk kepala Touson. Sama seperti dulu ketika Shuusei meminta maaf, sebab ia membentak Touson.


Tamat.


A/N: Ide ini jelas sederhana banget. Hanya tentang, "kenapa kita berteman" tanpa ada sesuatu yang spesial banget. Awalnya mau bikin DanShuu, tapi gak jadi karena bingung juga dikembanginnya gimana. Ideku buat BTA entah kenapa lagi kering banget emang. Bawaannya mau ke KnY sejak bikin TanKana. Meskipun ini singkat (karena hanya niat bikin drabble), semoga tetap bisa dinikmati.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic lainnya~