Naruto membuka pintu ruangan yang ada di depannya itu, dia mengintip melalui celah-celah pintu tersebut. Kedua matanya membola sempurna saat melihat sosok wanita berambut merah jambu sedang melakukan hal yang mungkin sudah biasa dia lihat akhir-akhir ini.

Wanita itu memasukkan dua buah jarinya ke dalam vaginanya sendiri, dia menggigit bibir bawahnya seolah tak ingin seseorang mendengar desahan nikmatnya.

'Jika aku mengganggunya, maka aku akan dipukul.'

Sebuah seruan tertahan terdengar oleh telinga Naruto, tubuh wanita itu melengkung dengan cairan yang menyembur dari vaginanya. Dia pun langsung duduk lemas dengan napas yang tersengal-sengal akibat klimaksnya barusan.

'Apa aku harus menunggu? Masa bodoh!' Naruto langsung membuka pintu itu dan masuk dengan seenak jidatnya. "Sakura-chan! Pemeriksaan rutin!"

Wanita yang dipanggil Sakura itu memandang Naruto malas, ini sudah kesekian kalinya dia dipergoki Naruto saat bermasturbasi seperti itu, endingnya pun sudah bisa dia tebak.

"Dasar seenaknya sendiri, kunci pintu itu sekarang!"

Naruto tertawa tak enak, kemudian mengunci pintu tersebut, wanita itu pun berdiri dari tempatnya duduk tanpa memperdulikan bagian bawahnya yang masih tak tertutupi apapun.

"Jadi pemeriksaan rutin kan?"

"Ya!"

Naruto tersenyum dan langsung duduk di kursi.

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto.

Warning: OOC, Cheating, AR, Typo, Lemon, Smut, dan lainnya.

Pairing: Naruto x Sakura.

Seri Naruto cuckold

...

..

Pemeriksaan rutin.

Enjoy it.

Sakura saat ini sedang jongkok di bawah dengan penis Naruto yang sudah ereksi berat. Wanita itu menggenggam benda besar itu untuk yang kesekian kalinya.

"Sakura-chan, jangan di remas! Akh!"

Sakura menatap datar Naruto. "Kau sendiri, masuk saat seorang wanita sedang melakukan sesuatu."

"Ma-maafkan aku Sakura-chan."

Sakura mendengus kesal, lalu meremas penis Naruto. "Lalu, bagaimana dengan pemeriksaan rutin?" Naruto hanya menggaruk pipinya yang tak gatal, membuat Sakura menghela napas pasrah. "Dasar Hokage mesum!" Wanita itu kemudian menarik resleting pakaiannya, membuka pakaian yang dia kenakan dan hanya menyisakan sebuah bra berwarna putih yang menutupi payudaranya saja.

"Sakura-chan, dadamu tambah besar."

Sakura berdiri, dia menatap Naruto nyalang, lalu memukul kepalanya. "Kau yang terus meremasnya sampai seperti ini, baka! Untung Sasuke-kun tak curiga dengan ini." Dia kemudian menjewer telinga Naruto. "Bahkan kau memberikan bercak merah sebelum Sasuke-kun datang, sialan!"

"Ma-maafkan aku!, Sa-sakit Sakura-chan!"

"Biarin!"

Sakura pun melepas jewerannya pada Naruto, dia kemudian membuka bra yang dikenakannya. Sebelum pada akhirnya duduk di atas paha Naruto. "Jadi Sakura-chan?"

"Iya, aku tahu."

Sakura mulai menggerakkan tubuhnya di atas Naruto, dia memperagakan lap dance yang biasa dilakukannya bersama pria pirang itu, wanita itu tersenyum menggoda di depan Naruto, dia terus menggerakkan tubuhnya sembari kedua tangannya menyentuh beberapa bagian tubuh Naruto.

Pria itu tersenyum, kemudian mendekatkan penisnya yang ereksi itu ke vagina Sakura. "Kau sudah sangat terangsang?"

"Entahlah, aku terangsang pada siapapun sepertinya."

Sakura mencubit hidung Naruto, kemudian dia mencium bibir pria itu, dia mengapit penis Naruto dengan pantat seksinya. Pinggulnya bergerak naik turun seolah dia tengah memberikan sebuah seks pada Naruto. Payudara Sakura mendorong dada bidang Naruto, kedua tangan pria itu berada di pantat Sakura sambil meremas pantat tersebut dengan gemas.

Keduanya terus berciuman mesra hingga Sakura menarik kembali ciuman itu. "Depan atau belakang?"

"Depan saja, aku ingin main biasa."

"Baguslah."

Sakura mengangkat pinggulnya, dia mengarahkan penis Naruto ke dalam liang senggamanya, Sakura menurunkan pinggulnya dengan pelan, dia merasakan benda besar itu mulai masuk ke dalam tubuhnya. Sakura menggigit bibir bawahnya untuk meredam desahan nikmatnya.

Sakura pun menggerakkan pinggulnya naik turun, kedua tangannya bertumpu pada bahu Naruto dengan wajahnya yang menatap pria di depannya. Sebuah senyuman manis dia berikan pada Naruto, namun senyuman itu hilang berganti dengan wajahnya yang tampak menikmati tiap inchi dari penis Naruto.

"Jangan keras-keras saat meremas pantatku!"

Sakura mencubit pipi Naruto, wanita itu benar-benar kesal karena tiap kali dia berhubungan badan dengannya, maka Naruto akan meremas pantatnya dengan keras.

"Apa untungnya kau meremas pantatku dengan keras begini?"

Naruto tak menjawabnya sama sekali, dia mengalihkan kedua tangannya untuk meremas payudara Sakura sembari pinggul wanita itu bergerak naik turun.

Sakura menahan desahan nikmatnya saat Naruto mencubit sekaligus menarik puting susunya, pria itu tahu seluk-beluk tubuhnya.

"Sialan Naruto! Hnnngg!" Tubuh Sakura bergetar hebat, dia mengeluarkan cairannya dan membasahi penis serta perut Naruto. Tubuhnya langsung tergeletak lemas di atas tubuh Naruto. "Aku bertaruh jika kau tak puas dengan hanya sekali klimaks seperti tadi?"

"Sakura-chan tahu saja."

Sakura pun menarik dirinya, dia menghela napas lega setelah menyelesaikan tugasnya barusan. "Sekarang, mana tanganmu!"

Naruto pun menyodorkan tangan yang tertutupi oleh perban. Sakura mulai memeriksa beberapa hal yang ada di tangan tersebut, dia memang bertugas untuk mengatasi beberapa kesalahan yang terjadi pada tangan tersebut.

"Perban sudah diganti, sekarang kau boleh pulang!"

Sakura membungkukkan badannya untuk mengambil bajunya yang berserakan di atas lantai, namun Naruto tak bergeming dengan pengusiran yang dilakukan mantan rekan satu timnya itu. Penisnya masih berdiri tegak akibat Sakura yang seolah lupa jika dirinya belum klimaks sama sekali.

"Tunggu dulu!" Baru saja Sakura akan menoleh, dia sudah di tusuk bagian vaginanya oleh penis Naruto, Sakura terkejut saat penis itu menerobos vaginanya. "O-oi!"

"Aku belum keluar, dasar."

Naruto menggerakkan pinggulnya maju mundur, Sakura sendiri masih dilanda keterkejutan karena vaginanya kembali di masuki oleh penis Naruto.

"Ahhh, Naruto berhenti!"

Sakura mulai bisa mengontrol tubuhnya, dia kemudian bergerak ke pinggiran meja kerjanya untuk menggenggam pinggiran meja itu agar tubuhnya bisa dia topang saat Naruto menyetubuhinya.

Sakura menggigit bibir bawahnya merasakan penis besar itu bergerak di dalam tubuhnya, dia merasakan jika kedua payudaranya mulai di remas dari belakang oleh Naruto, pinggul pria itu terus bergerak dengan kecepatan sedang.

Sakura beberapa kali melayangkan protes pada Hokage Konoha itu, namun tak digubris sama sekali, Naruto malah mengangkat kedua kaki Sakura, wanita itu terkejut saat Naruto terus menggerakkan pinggulnya.

"Aku keluar!"

Tubuh Sakura bergetar hebat, namun Naruto tak menghentikan gerakan pinggulnya, dia terus bergerak, kali ini dengan gerakan yang cepat. Sakura sendiri sudah lemas karena dia telah klimaks untuk yang kedua kalinya.

"Keh!" Naruto pun menyemburkan sperma hangatnya ke dalam vagina Sakura, hingga cairan itu meluber keluar dari dalam tubuh Sakura.

Wanita berambut merah jambu itu tak memperdulikannya, dia sudah sangat lemas setelah dua kali dibuat klimaks oleh Naruto.

"Sialan Naruto..."

Naruto pun melepaskan pelukannya, dia membiarkan tubuh Sakura merosot ke bawah, dia terduduk dengan napas yang tersengal-sengal akibat pergumulan tersebut.

"Sakura-chan, terakhir."

"Hah?!" Sakura menoleh ke arah Naruto, lebih tepatnya ke penis ereksi pria itu. "Kau bercanda?"

"Ti-tidak." Naruto mengangkat tubuh Sakura, kemudian mengarahkan penisnya pada vagina Sakura.

"Kau sia--ahhhhh!!" Naruto mendorong keras penisnya sehingga 'adik' Naruto itu masuk semua. Sakura sontak menggenggam erat pinggiran meja kerjanya, serta menggigit bibir bawahnya. "Si-sialan!"

"Uhh, di dalam sini masih terasa hangat Sakura-chan.x

"Kau hangat, aku yang kuwalahan, bodoh!"

Naruto menggerakkan pinggulnya dengan pelan, kemudian dilanjutkan dengan gerakan sedang. "Uhhh, sempit..."

"He-hentikan Naruto uuhhhh..."

Penis besar itu terlihat keluar masuk di dalam vagina Sakura. "Aku tak berpikir jika harus menghentikan ini."

"Ka-kau!"

"Sakura-chan, kita sudah sekitar dua bulan tak melakukan ini."

Naruto menarik tubuh Sakura, pinggulnya masih terus bergerak dengan gerakan cepat. "Ta-tapi kita sudah punya pasangan masing-masing."

"Hinata tak masalah sih sebenarnya, karena dia tak bisa meladeniku secara penuh." Naruto meletakkan dagunya pada bahu Sakura, dia meniup leher Sakura. "Tapi kau dengan tenaga monstermu bisa meladeniku."

"Si-sialan!" Kedua tangan Sakura menggenggam tangan Naruto yang berada di pinggul rampingnya. "Ka-kau memang si-sialan aahhh..."

Naruto tersenyum tipis mendengarnya, kedua tangannya merambat ke depan hingga sampai pada payudara Sakura. Wanita itu sontak terkejut, dia menoleh ke samping dan melihat Naruto yang tengah meletakkan dagunya pada bahu Sakura.

Dan di saat bersamaan, Naruto mencium bibir Sakura, wanita itu menikmati ciuman itu dengan kedua payudaranya yang diremas oleh Hokage ketujuh itu. Keduanya berciuman beberapa saat, sebelum pada akhirnya Sakura kembali klimaks untuk yang kesekian kalinya.

Naruto mengehentikan gerakannya, dia membiarkan Sakura mengambil napasnya, kedua tangan pria itu tak lepas dari kedua payudara Sakura.

"Kau suka dengan payudaraku atau bagaimana? Punya Hinata lebih besar, baka."

"Aku suka payudara."

Sakura menepuk jidatnya mendengar pernyataan Naruto barusan. "Aku malah mengajukan pertanyaan konyol," ujar Sakura, dia pun memberikan isyarat pada Naruto dengan menggerakkan pinggulnya.

Naruto yang tahu isyarat itu menggerakkan pinggulnya dengan gerakan cepat, Sakura tersentak karena Naruto menggerakkan pinggulnya dengan cepat.

"Si-sial! Akh! Naruto! Be-berhenti!"

"Ughh!"

"He-hentikan!"

"Aku keluar Sakura-chan!" Naruto mendesah nikmat sembari mengeluarkan semua cairan spermanya di dalam vagina Sakura, cairan putih itu meluber keluar dari vagina Sakura.

"Ka-kau!"

-o0o-

Sakura duduk sembari memakai bajunya, dia menghela napas lega karena urusannya dengan Naruto telah selesai.

"Anu, Sakura-chan."

Sakura menatap tajam Naruto yang tengah mengintip melalui pintu ruangannya. "Apa?!"

"U-uhh, galaknya." Sakura menatap nyalang pada Naruto. "Anu, nanti ke kantor Hokage ya? Ada yang harus kita bicarakan."

"Bilang saja kau ingin blowjob di sana!"

"Hehe."

...

..

.

End