Sejak awal Shingeki no Kyojin

Milik Hajime Isayama

Ini hanya imajinasi yang tertuang dalam tulisan

Typos, bahasa dan penulisan jelek

Fic bertujuan untuk hiburan semata

Kritik dan saran dilakukan untuk perbaikan

LevixMikasa

Saya pecinta romance

Peringatan! Untuk cerita saya bayangkan saja Levi itu tingginya di atas rata-rata

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hope

Chapter 1

Arti Sebuah Pertemuan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dunia ini fana, para pemuka agama berkata. Hingga sampai akhir kamu tidak tahu roda mu berjalan sejauh mana. Jalan berbatu atau lumpur, tidak ada bedanya. Ibarat dunia seperti itu jadi entah di titik mana kamu berhenti. Bila saja manusia bisa memilih umur berapa mereka mati, mungkin kata abadi akan jadi kata mayoritas. Bila saja manusia bisa memilih dengan siapa mereka jatuh Cinta, mungkin sakit hati tidak pernah memiliki rasa. Realitanya, takdir sudah mengatur dan manusia tinggal segelintir roda kayu menunggu giliran untuk tiba di titik terakhir untuk lapuk.

.

Bulan November. Menurut ramalan cuaca tidak ada sinar matahari untuk tiga hari ke depan. Hujan terasa berat, simfoni-nya jadi bekas lalu membiaskan cahaya pagi sunyi. Hujan tidak deras, cukup membasahi rambut bila berlari menerjang. Berbekal dua telapak tangan sebagai payung darurat, seorang pemuda berpakaian rapi berlari meneduh di halte bus. Sepatu ket putih basah akibat genangan air. Ternyata genangan air dijalan lebih tinggi dari pada hujan tempo hari. Mungkin saja gorong-gorong sudah menyempit, atau otak manusia yang semakin sempit akibat sampah terus menghimpit.

Warna mendung masih sama, ketika iris abu bertatap ke langit seolah bertanya mengapa rasa hujan kali ini begitu berbeda. Sama dengan takdir dan kehidupan pemuda tersebut.Tangan terulur, membiarkan jari-jari basah akibat siraman rintik tanpa henti,tapi ada beberapa tatapan iba dari para gadis yang berdiri tak jauh dekat si pemuda tersebut. Seolah berkata, gadis mana yang tega mencampakkan pria setampan itu.

Sesat lelaki remaja tidak peduli tentang penilaian mereka. Dirinya lebih tertarik suasana sendu pagi ini. Dia akan sedikit terlambat untuk pergi sekolah karena lupa membawa payung akibat tidak memperhatikan ramalan cuaca. Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan hari-harinya di sekolah yang terasa menyesakan. Bosan? Ah, begitu selalu bosan dan akan terus bosan. Lebih baik hari ini ia putuskan untuk tidak masuk kelas saja.

ooo

Tiga bulan lalu, awal bulan Agustus

Kriiiinngggg kkkriiinngggg

Dua kali bel tepat pukul 8, kelas masih gaduh. Tidak ada yang spesial di jam pertama. Mata pelajaran Biologi berlanjut Kimia. Sungguh perpaduan hukum alam teritori sempurna. Sejalan dengan hukum alam hayati dan non hayati.Tak ada menarik kecuali materi reproduksi. Maka dari itu, para lelaki di kelas lebih tertarik pada buku biologi. Mencari sedikit pertanyaan bila ada yang kurang di pahami.

"Nah, hari ini akan ada murid baru. Aku dengar dia pindahan dari Tokyo"

"Sungguh? Anak-anak kota yang aku tahu sangat menyebalkan"

Obrolan terus bergulir saat Masaki sensei masuk ke dalam kelas. Gosip keberadaan murid baru jadi topik hangat di udara dingin pagi itu,hingga mengabaikan sang guru yang telah memasuki ruangan. Masaki sensei meletakan tumpukan buku setebal empat centimeter di atas meja. Papan tulis warna hijau masih bersih tak berbekas. Bermodal geraman, murid-murid yang heboh karena adanya murid pindahan berangsur menyusutkan suara.

"Hari ini kita kedatangan murid pindahan dari Tokyo, Dia akan menepati kelas ini. Jadi gunakan ilmu sosial kalian sebaik mungkin. Mengerti! "

"Hai" Jawab mereka kompak.

Dougi terbuka, Masaki sensei melambai seolah isyarat menyuruh seseorang untuk masuk ke dalam kelas. Kelas heboh, begitu para lelaki yang beranjak puber saat tahu ada seorang gadis memasuki ruang kelas. Bertepatan dengan tatapan mencemooh para gadis lain yang merasa tersaingi. Potongan pendek, garis wajah jelas dengan bibir warna pink terlihat menawan. Sedikit polesan bedak itu sudah cukup membuat para remaja puber begitu serius memperhatikan dari atas sampai bawah.

"Nah, silakan perkenalkan dirimu"

"Ha? Mikasa Ackerman, panggil saja Mikasa"

Sudah?

Gadis bernama Mikasa mengangguk seolah nama saja sudah cukup sebagai awal perkenalan. Mata obsidian mengitari kelas seolah menilai setiap orang. Perhatian teralihkan dengan seorang pemuda dengan tatapan kosong menatap ke jendela. Seolah embun yang menempel di kaca lebih menarik daripada berita acara kedatangan siswi baru.

Masaki sensei berdehem, penggaris kayu sudah ditangan. Menunjuk ke arah bangku kelas kosong, ada tatapan kecewa tak kala hanya tersisa satu bangku kosong di kelas tersebut.

"Nah, kau bisa duduk di sana. Levi bisa membimbing mu bila ada kesulitan dalam pembelajaran"

Masaki sensei masih berharap bila ada cahaya di kelas yang ia pimpin. Selain berharap pada Levi si murid paling dingin sekaligus terpintar di kelas.

"Baik, sensei"

Mikasa berjalan pelan, melewati bangku-bangku dengan tatapan heboh. Seakan seperti ada pertaruhan di dalam kelas tersebut. Sampai kapan murid baru itu bisa bertahan duduk bersama Levi. Seorang pemuda dingin, cuek dan juga bermulut tajam.

ooo

Pagi berlanjut, langit kota lumayan bersahabat. Suhu rata-rata sudah di atas 24 derajat, suhu udara yang cukup hangat di kala musim hujan. Suasana kelas heboh karena hari ini akan ada ujian setengah semester. Sialnya keadaan ini tidak menguntungkan untuk murid yang baru pindah untuk beradaptasi. Sehingga sistem romusa pada otak diterapkan sejak satu minggu pertama masuk ke kelas. Mikasa duduk santai dengan buku materi disisi kiri. Sedangkan tangan kanan sibuk membuat bulpoin menari di atas kertas. Menulis rangkuman materi secepat ia bisa sebelum para guru datang dan memberi soal ujian.

Tapi keadaan berbeda dengan pemuda yang duduk di sampingnya. Bila boleh menyimpulkan. Pemuda itu pergi ke sekolah karena ia butuh piknik saja. Tiada hari tanpa tidur dan tiada hari tanpa melamun. Seakan berkata 'dunia ini terlalu kecil dan kurang menarik'.

Mikasa tidak peduli tentang kehidupan yang remaja itu jalani, ia hanya ingin jadi murid SMA yang normal, tidak butuh eksistensi untuk membuat dirinya begitu mencolok. Tapi apa daya tanpa di minta atau dibuat-buat eksistensinya sebagai seorang murid pindahan begitu besar. Satu minggu berada lingkungan sekolah membuat dirinya terbiasa dengan kegiatan belajar dan godaan dari para lelaki puber. Memori masa lalu jadi ikut terproyeksi, lama kenangan jadi sedikit kabur mengingat waktu zaman sekolah dulu.

Wajah itu menatap sekeliling, tak ada yang menarik untuk diperhatikan selain teman satu bangku yang tengah tertidur dari awal masuk ke kelas. Terasa istimewa, atau mungkin itu cara pemuda dingin menyerap ilmu, ibarat vampir tak butuh taring untuk menghisap darah.

Teman satu bangku yang tak pernah sekalipun menyapanya sejak awal masuk ke kelas ini. Banyak kabar bahwa remaja itu suka menyendiri, dan hanya mengenal beberapa orang saja dalam daftar list kehidupan. Sungguh kehidupan remaja penuh ironi. Tapi satu hal yang menyedot perhatian cukup lama, mengalihkan dari buku LKS selama lima menit. Tak kala sinar pagi mentari pagi jadi sorot alami wajah tampan yang tertidur seperti bayi. Mikasa meruntuki diri sejak kapan ia mulai berdebar. Sial, upatnya dalam hati.

ooo

"Sebenarnya kau ini siapa?"

Entah telinga Mikasa bermasalah atau ia hanya sekedar berhalusinasi. Tidak ada angin atau hujan yang menyulut percakapan siang ini dengan teman satu bangkunya. Tiba-tiba remaja yang terkesan dingin sedingin bongkahan es bertanya dengan pertanyaan aneh, seakan menganggap dirinya adalah mahkluk asing yang baru turun ke bumi.

"Aku manusia"

Jawaban itu seperti harapan bila tidak akan ada percakapan setelah ini. Mikasa yakin remaja di sebelahnya sudah salah makan. Bertanya dengan pertanyaan yang tidak ia mengerti. Apa dia sudah lupa cara bersosialisasi dengan sesama mahkluk hidup?

"Di gang Akamichi"

"Apa?"

Mikasa berpikir, selama ini ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan Levi di luar sekolah. Ingatannya kembali ke dua hari lalu. Karena baru menghajar beberapa anak buah Yakuza di sebuah gang pinggir kota. Pekerjaan sebagai polisi harus bertaruh dengan bahaya, apalagi sekarang ia harus berhati-hati karena sedang melakukan penyamaran. Mana mung_

"Oh, kau salah lihat tidak mungkin ak_"

Mikasa kelabakan tak kala Levi menyebut sebuah nama jalan tak jauh dari pos para gangster bermotor yang sama lama ini ia selidiki secara diam-diam.

"Mataku cukup awas, memperhatikan model tas norakmu itu"

Mata sipit dan pandangan itu lebih tertarik pada model tas jaman dulu. Tidak tertarik kepada wanita yang tengah melotot tajam. Mikasa tidak tahu tentang teman sebangkunya ini. Tugasnya hanya satu yaitu menyamar sebagai siswi SMA untuk menyelidiki sindikat narkoba yang merasuk ke sekolah menengah atas di pinggiran kota Tokyo. Merekrut para murid yang memiliki masalah finansial untuk dijadikan kurir dan juga anak buah dalam perdagangan gelap tersebut. Selain visi misi di atas tidak ada hal menarik untuk dilakukan, apalagi berurusan dengan teman satu bangkunya yang dari awal ia kenal sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan layaknya manusia yang tidak memiliki empati.

"Ah, gosip itu ternyata benar kau itu berlidah tajam ya?" Sahut Mikasa diiringi dengan senyum mengejek seakan memberi tahu pada Levi jangan bertanya hal yang tidak masuk akal lagi. Sudah cukup ia dibuat pusing dengan ujian setengah semester.

"Apa dirimu seorang Polisi?"

Oke, Mikasa sudah mengalihkan seratus persen perhatian pada remaja disebelahnya. Tanda tanya besar, kalau remaja disampingnya tahu akan identitas dirinya. Pertanyaannya cuma satu, bagaimana ia bisa tahu?

"Kau bicara apa? Bagaimana kau menyimpulkan aku seorang polisi?"

"Kau meninggalkan ini" Sebuah lencana dan juga kartu identitas dalam dompet kecil di dorong dengan apik ke arah Mikasa. Hari ini kepalanya tiba-tiba jadi pusing mendadak, padahal waktu ujian masih setengah jam lagi. Mengingat hal bodoh yang baru saja terjadi, Tuhan sudah mengatur semua, bagaimana cara menghubungkan Mikasa dengan teman satu bangkunya, serta cara membuat manusia bernama Levi itu bisa berkomunikasi layaknya manusia lain.

ooo

Nafasnya memburu, ini kali ke empat ia menaiki tangga. Mikasa sedikit menyeka keringat di pelipis. Mengatur nafas, berusaha meredakan emosi di pucuk kepala. Nasibnya sungguh mujur. Bisa-bisanya dia harus berurusan dengan bocah remaja ingusan. Penyamaran adalah hal penting dalam memecahkan masalah kasus yang ia tangani. Tapi berurusan dengan Levi itu diluar kehendaknya. Berperan sebagai siswi SMA sudah menguras otak dan tenaga. Sekarang ia harus jadi pelayan dari bocah antisosial tersebut.

Langkah terhuyung dengan berat hati Mikasa berjalan masuk kelas, membawa pesanan berupa satu botol susu rasa vanila dan juga roti panggang rasa keju. Untung, kelas masih sepi. Apa kata teman sekelasnya bila tahu sekarang ia jadi pesuruh si cowok muka datar. Bisa jadikan besok ada gosip yang beredar bahwa di kelas ada budak cintanya si Levi. Sejak SMA ia memang populer, tapi untuk mengemis Cinta, tidak pernah tertulis dalam kamus sejarah hidupnya selama 23 tahun terakhir.

Siang itu, kelas tidak berpenghuni para siswa masih sibuk berburu menu makan siang di kantin. Apalagi menu stik sapi ini jarang sekali keluar tiap bulannya. Tak salah bila antrian di kantin cukup panjang. Mungkin sampai jam istirahat selesai banyak murid yang tidak kebagian jatah makan siang. Mikasa berucap syukur, bahwa bocah dingin itu tidak menyuruhnya mengantri untuk mendapatkan satu porsi menu stick sapi.

"Kenapa lamban sekali? "

"Ah, kenapa kau selalu membuatku kesusahan? Ini terakhir kalinya aku mau menurutimu! " Mikasa meninggikan nada suara. Seolah ia ingin meluapkan semua amarahnya. Cukup untuk perintah hari ini, ia sudah jengah dengan perlakuan Levi pada dirinya yang menyuruh melakukan kegiatan konyol tiap waktu.

"Kau lupa dengan perkataan mu waktu itu"

"Maaf, karena faktor usia aku mulai pikun"

Kedua tangan terlipat di dada isyarat menantang. Ini juga salahnya, mengapa ia harus mengajukan diri untuk menjadi budak remaja dingin dan minus akhlak di depannya ini. Dia cukup tua untuk disuruh lari kesana-kemari hanya untuk melakukan hal kecil yang tidak berguna. Ini ibarat pertukaran menyangkut identitasnya agar tidak bocor. Atas dasar apa remaja antisosial ini jadi ikut campur dalam masalahnya?

Levi berdiri, kedua mata menatap penuh arti pada wanita angkuh di sampingnya. Sedikit berjalan mendekat, membuat Mikasa yang tadi bersikap arogan, jadi mundur satu langkah ke belakang. Sayang, satu meja menghalangi satu langkah lagi untuk mundur ke belakang.

'Sial, ternyata dia tinggi juga' Umpat Mikasa dalam hati.

Jarak antara dua manusia itu tak lebih dari setengah meter. Disini Mikasa merasa teritimindasi, harga dirinya sebagai seorang polisi ikut dipertanyakan.

"Kenapa? Apa yang akan ka_"

Dua tangan kanan dan kiri seperti jeruji. Mengunci sisi kanan kiri meja. Menghimpit Mikasa supaya nona muda tidak kabur atau mengalihkan tatapan serta obrolan. Levi sedikit kesal pada wanita dewasa di depannya, tapi kadang kala orang dewasa memang suka seenaknya.

"Hai nona setidaknya bersikap baiklah padaku, apa kau tidak ingin tahu informasi apa yang aku miliki?" Levi sedikit mendekatkan wajah. Menatap wajah wanita di depannya tanpa berkedip. Berbeda dengan orang yang di tatap, sedari tadi umpatan dan cacian di lontarkan dari hati. Aura Levi berbeda dari kebanyakan remaja seusianya. Ibarat ia harus terlihat jadi lebih dewasa tapi masih belum waktunya.

"Kau harusnya bisa bersikap kooperatif terhadap pihak kepolisian, sekarang ini kamu saksi yang mempersulit penyelidikan" Ungkap Mikasa tidak mau kalah. Padahal jantung pada rongga dada sudah mau rontok akibat kelakuan remaja ingusan di depannya.

"Lalu apa kau tahu yang akan dilakukan instansi pendidikan bila seorang polisi menyamar jadi siswi masuk dalam kegiatan belajar mengajar? "

"Iya aku mengerti, Kenapa kau terus menekanku?"

"Aku hanya barter" ucap Levi sesantai mungkin, tanpa merubah posisinya. Mikasa sedikit tidak nyaman dengan posisi ini. Bagaimana kalau sampai anak-anak satu kelas berburuk sangka akan posisi mereka berdua. Kedua tangan Mikasa mendorong jauh dada bidang Levi yang notabene cocok sebagai tempat untuk bersandar, tapi sayang imajinasi liar segera ia hapus. Dua kali dorongan Mikasa dapat melebarkan jarak antara dirinya dan juga Levi, memperingati remaja itu untuk lebih menjaga sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Sayang, karena Levi juga minus etika serta tata krama, sekali tarik Mikasa kembali ke posisi awal. Dimana wajah remaja tampan itu malah semakin mendekati wajahnya, lalu berhenti tepat di samping telinga kiri.

"Nanti malam jam 8, di gang Akamichi"

Mikasa bisa mendengar nada sensual itu sedikit dibuat-buat, dan deru nafas hangat yang menggelitik di persimpangan leher. Bulu kuduk berdiri, pertanda buruk. Ah, jantung berdetak tak karuan akibat rangsangan suhu. Ini bukan bertukar informasi lagi. Melainkan sebuah siasat pria untuk menggoda wanita. 'Dasar bocah tengik' pikir Mikasa.

"Hei!"

Dukk

Baik, oke Mikasa adalah lulusan judo terbaik. Levi tidak tahu akan hal itu. Satu sundulan maut membuat hidung Levi berdarah tanpa henti, dan ini lah puncak balas dendam pada bocah tengil tersebut.

"Ah,maaf aku tidak sengaja"

Ekspresi kepuasan dengan wajah pura-pura polos. Mikasa senang bukan main karena misi balas dendamnya sudah tercapai. Dirinya segara beranjak pergi ke tempat duduknya. Mengambil tas dan bertukar bangku dengan teman sebelahnya.

"Sial!" Umpat Levi kala itu. Siang itu bendera merah berkibar. Maksudnya perang dingin antar dua kubu sedang memanas.

ooo

Jalanan basah, tetapi cuaca cukup bersahabat untuk malam ini. Gumpalan kapas abu-abu tak terlihat. Mungkin malam yang menutupi si kelabu. Sehingga tertinggal cuma rintik kecil menyentuh kulit. Lampu kota menerangi jalan utama, cahaya sedikit menyusup ke gang-gang kecil kumuh. Beradu dengan kecoa yang berlarian kesana-kemari. Mikasa tidak cemas, ia terus berjalan pasti ke depan. Malam ini ada janji temu dengan Levi. Arloji menunjukan pukul 8 lewat 5 menit, ia sedikit terlambat mungkin. Tapi bagi Levi dimana katanya 1 menit sama dengan satu jam baginya. Tapi Mikasa masa bodoh, Ia lebih tua jadi tak masalah terlambat sedikit saja.

"Kau terlambat!" Suara khas, tepat di bawah lampu penerangan berdiri seorang remaja dengan jaket hitam Hoodie dan terusan sekolah. Matanya masih memandang layar handphone, seakan punya mata batin, tahu kedatangan Mikasa yang jaraknya masih terpaut lima meter.

Pertanyaan Mikasa cuma satu di kepala, melihat stelan sekolah yang masih terpakai, Mikasa yakin Levi tidak pulang ke rumah setelah jam pelajaran ekstrakulikuler.

Mikasa mendekat, tapi kedua matanya meneliti dari atas sampai bawah. Berpikir bahwa bocah sesempurna seperti Levi memiliki cacat juga.

"Wah, ternyata kau seorang preman sekolah juga ya?"

"Berisik, ini terakhir kali aku membantu"

"Ya ya, tuan sok dingin" Mikasa mengritik semua perbuatan Levi selama ini, sedangkan orang yang dikritik mengalihkan pandangan dari ponsel, lalu menyimpan benda tersebut ke dalam saku celana. Pandangan dialihkan pada Mikasa yang berpakaian ala kadarnya. Piyama terbalut jaket Hoodie pink tebal, lengkap dengan kaos kaki warna-warni.

"Yah, sikapmu sudah tercermin dari penampilanmu"

"Kenapa?Kau kira aku harus berdandan untuk bertemu denganmu?"

Oke, mereka mulai berdebat satu sama lain. Levi acuh lanjut berjalan pergi di ikuti Mikasa mengekor dari arah belakang. Sebenarnya Mikasa enggan pergi, karena hari beranjak malam serta udara yang kurang bersahabat. Tapi kiriman foto yang dikirim Levi pada dirinya lewat ponsel, secara ajaib membangkitkan adrenalinya. Sosok remaja yang selama ini jadi kurir obat terlarang akhirnya bisa ia temukan. Sebenarnya dengan foto yang dikirim Levi sudah menjadi cukup bukti. Tapi sayang juga kalau hanya sekedar foto. Dirinya ingin memastikan bahwa foto yang dikirim Levi itu memang benar. Maka dari itu walaupun enggan ingin bertemu dengan si muka datar, Mikasa tetap pergi menemuinya

"Apa kau masih marah?katanya sudah dewasa?"

Mikasa menyingung kejadian siang tadi di sekolah, soal hidung Levi. Maklum, setelah kejadian tak mengenakan itu, ia tidak melihat batang hidung Levi sampai jam sekolah berakhir. Kata teman satu bangkunya, pemuda itu seharian berada di ruang UKS karena mimisan tiada henti. Lubuk hati wanita tersebut ikut merasa bersalah karena melukai remaja di bawah umur.

"Kau tahu apa yang dikatakan Hanji sensei?"

"Mana ku tahu"

"Hidungku butuh ronsen" Levi kesal. Mikasa hanya tersenyum garing, rasa bersalah semakin menggerogoti diri.

"Maaf deh" Kata Mikasa sedikit tidak ikhlas. Seratus persen ini juga bukan salah dirinya. Siapa suruh bicara pada orang yang lebih tua dengan jarak sedekat itu. Jujur, itu pengalaman pertamanya sebagai seorang wanita di buat berdebar oleh pria. Mungkin otaknya agak konslet, menganggap bocah ini sebagai pria dewasa yang menawan.

"Aku bisa saja melaporkan ini sebagai tindak kekerasan, kalau aku mau visum. Apalagi pelakunya seorang polisi wanita bodoh"

Levi melirik sebal, alasan baru untuk memperbudak wanita yang berjalan di sebelahnya. Mikasa sedikit terkejut juga, mendengar ucapan remaja disampingnya sama saja seperti mendengar deru suara perintah untuk tidak mengibarkan bendera damai. Mulut licik bocah tersebut begitu lihai, dalam membuat kalimat ancaman.

"Apa kau akan mengancam orang dewasa untuk melakukan hal kekanakan lagi hah? "

Kedua kaki berhenti berjalan, menatap bocah di depannya. Perdebatan mereka tak cukup soal membahas hidung. Tapi juga perbudakan di jaman modern.

"Itu salah satunya, kau tidak bisa menjalankan misi tanpaku?" Levi ikut berhenti, menatap sinis polisi wanita di sampingnya. Seakan seperti menilai kinerja anak buah yang kurang kompeten.

"Wah, bagaimana aku bisa terjebak dengan bocah licik sepertimu? Apa duniaku terlalu terlalu sempit?"

"Mungkin"

"Apa kenapa kau menatapku seperti itu?"

Mikasa sedikit curiga dengan tatapan penuh arti dari lawan bicaranya. Apalagi tergambar di setiap ekspresi pemuda itu, bahwa isi kepala seakan merencanakan siasat buruk terhadap dirinya. Apa jangan-jangan Levi juga ikut terlibat dalam peredaran obat terlarang dalam lingkungan sekolah? Dilihat dari pergaulan, Levi seperti menghindari kontak kepada banyak orang. Lalu maksud dari nilai-nilai ujian yang tak manusiawi? Apa mungkin pengguna obat terlarang bisa sejenius itu. Mikasa berdebat serius dengan pikiran serta penilaian terhadap bocah yang duduk satu bangku dengan dirinya selama 3 minggu terakhir.

"Aku baru tahu ada polisi sebodoh ini"

Satu kalimat tersebut bisa membuat aksi saling kejar-kejaran antar si polisi wanita dan juga remaja nakal yang baru kabur dari rumah.

ooo

Beberapa hari gosip miring beredar cukup luas di kelas maupun lingkungan sekolah. Dari satu mulut ke mulut lain dan dari satu telinga ke telinga yang lain berakhir pada Levi si pangeran es. Kabar beredar bahwa ada murid pindahan baru sedang berkencan dengan kapten club basket sekolah. Siapa lagi kalau bukan si rambut klimis, Erwin Smith. Katanya adalah cowok paling populer di kalangan gadis-gadis di lingkungan sekolah. Jangan tanya lagi siapa pelaku utama wanita yang tengah digosipkan tersebut. Dia adalah Mikasa Ackerman, teman satu bangkunya.

Semua bermula saat malam itu, ketika ia dan si nona polisi melakukan misi mata-mata di gudang kosong dekat gang Akamichi. Jalanan yang terkenal akan kekuasaan preman paling sadis, tempat awal perjumpaan dirinya dan juga si nona polisi.

Ternyata Erwin Smith terlibat dalam sindikat penjualan obat-obatan terlarang. Pantas dalam satu bulan terakhir, siswa yang melakukan drop out dari sekolah jumlahnya meningkat. Levi menemukan keterlibatan Erwin dalam kasus ini, ketika hari terakhir festival musim panas tahun lalu. Ada sebuah transaksi gelap yang biasa di lakukan di bawah meja kantin sekolah oleh para anggota club basket. Dan kejadian itu sudah berjalan hampir 4 bulan yang lalu.

"Sejak kapan_?" Levi hendak bertanya, tapi lidahnya kelu mendadak. Tak habis pikir ada seorang bibi-bibi yang berkencan dengan brondong di lingkungan sekolah.

"Apa?"

Levi hanya diam, tak bergeming. Kedua mata kembali menatap lurus ke arah papan tulis. Seakan percuma memberi pertanyaan kalau jawabannya sudah ia ketahui. Dirinya bukan tipe orang yang suka ikut campur, tapi entah mengapa ada suatu dorongan kuat dalam dirinya untuk bertanya secara langsung, mengenai alasan kenapa nona polisi ingin mendekati si Erwin Smith.

"Karena dia kunci utama yang bisa mengantarkan ku pada bandar utamanya" Mikasa berkata dengan yakin akan bisa menangkap si penjahat sesungguhnya.

Seratus persen jawaban itu akan terucap oleh Mikasa. Deru nafas berat. Entah kenapa sekarang tiba-tiba otak Levi berubah jadi dark mode. Padahal ia terkenal paling jenius di kelas.

"Berkatmu dirimu aku tahu langkah apa untuk menyelesaikan kasus ini"

Iris abu-abu sedikit menatap lama pada nona polisi yang duduk disampingnya. Seakan Levi juga sedang mencari jawaban atas pertanyaan dalam diri yang tidak berani ia ungkapkan secara langsung. Seperti kehilangan mainan atau serasa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi diantara mereka. Berurusan dengan orang jahat memanglah tugas polisi. Tapi ada sedikit rasa khawatir menerpa hati kecil.

'Ada apa denganku?' Levi sedikit berubah akhir-akhir ini, begitu dengan tingkat kehadirannya di kelas yang mulai jarang absen. Mungkin ada sesuatu yang menarik membuat ia betah berlama-lama di sekolah.

.

.

.

.

TBC

See you next chap guys