Semua terjadi begitu saja.
Cagalli merasa bahwa ada yang tak beres terjadi padanya. Tubuhnya terasa sangat berat. Gravitasi seakan menariknya untuk terbaring lebih lelap. Ketika ia akan benar-benar menutup matanya, tanpa menyadari ada banyak keramaian di sekitarnya...
"CAGALLI!!!"
Matanya yang hampir tertutup kembali terbuka, ditatapnya wajah panik sahabatnya, ada tetesan air mata membasahi pipinya yang tertutup oleh masker. Cagalli bisa tau itu.
"Ah, Miri..."
LOVE IN THE DARK
By. Panda Nai
Gundam Seed by. Bandai
.
Untuk kesekian kalinya, Cagalli membuat seisi kantor menjadi gempar. Dengan kedatangannya dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Cagalli sudah tak bisa memikirkan apa yang akan dikatakan para rekan kerjanya saat melihatnya. Yang ia tahu saat ini Miri dan Lacus nampak bolak-balik ruang konsultan dan ruang kesehatan, mengambil alat P3K untuknya.
Cagalli meringis saat Miri membersihkan luka gesek di lututnya menggunakan air bersih.
"Sakit?"
Cagalli mengangguk pelan.
"Demi Tuhan, Cagalli. Apa yang kau pikirkan?"
Cagalli memejamkan mata sejenak, suara Miriallia terdengar serak. Ia juga bisa merasakan Lacus yang memijat lembut tangan kanannya. Ya ada banyak memar di tubuh Cagalli.
"Tidak ada." Suara Cagalli begitu pelan.
Miriallia semakin emosional mendengarnya. "Apa kau frustasi? Bukankah sudah kukatakan jangan pergi ke rumah orang tuamu menggunakan motor. Naik Bis saja! Lihat apa yang terjadi padamu!"
Cagalli tertawa pelan. "Apa kau melihat kejadiannya?"
Miri mengangguk, "Ya, aku berada tepat di belakangmu. Kau jatuh terseret bersama dengan motormu. Kau tau bagaimana perasaanku? Kondisi jalan sedang ramai. Bagaimana kalau terlindas truk atau roda empat lainnya?"
"Maaf, tapi aku tak jatuh sendiri."
"..."
Semenit Cagalli diam, mengambil napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Aku menabrak kucing."
Miri mencoba untuk tertawa disela kepanikannya. Darah dilutut Cagalli masih mengalir meski sudah diobati. "Ya, haruskah kita menyalahkan kucing itu?"
"Yang kulawan kasta terkuat, Miri. Oyen."
Jika saja Cagall tak sedang kesakitan, mungkin Miri sudah akan memukul keras kepalanya.
"Sudahlah, Miri. Biarkan Cagalli beristirahat dulu." Lacus menyarankan.
Cagalli dan Miri saling pandang. "Kenapa kau tak membawaku ke klinik?"
Miri hampir emosi, "Kenapa? Bukannya kau sendiri yang meminta untuk dibawa ke kantor saja?"
Cagalli lagi-lagi tertawa. "Oh iya, aku lupa.
"Kau bisa berdiri?" Lacus bersiap untuk membantu Cagalli menuju ruang kesehatan. Cagalli perlu ruang untuk mengistirahatkan dirinya.
"Lacus." Panggil Cagalli saat mereka bersama berjalan menuju ruang kesehatan. "Apa Athrun sudah tiba?"
Lacus menggeleng, "Athrun belum tiba. Ada yang harus dia urus sebelum ke kantor pagi ini."
Cagalli bernapas lega. "Syukurlah, aku bisa masuk ke ruang kesehatan tanpa sepengetahuannya."
.
.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Sahib pada Miriallia.
"Cukup baik meski kuyakin setelah ini badannya pasti terasa remuk."
"Ini sudah ketiga kalinya dia jatuh, dan ini di bulan yang sama. Ada apa dengan Cagalli?"
Miriallia memandang sendu Sahib. Ia yakin tak perlu ikut campur, tapi Miriallia ingin Cagalli selamat dengan semua ini. "Semua ini karena Athrun."
Sahib terdiam, bingung hendak berkata apa. "Kalau itu yang kau maksud, sepertinya bukan karena Athrun. Tapi karena aku dan Natarle kan?"
Miriallia membungkuk dan segera undur diri dari hadapan Sahib. "Permisi."
.
.
Cagalli mencoba untuk memejamkan mata dan tidur, tapi selalu gagal. Rasa nyeri yang mulai menyerang tangan kanannya membuatnya gelisah. Belum lagi memar di sekitar paha, panggul, bahu, bahkan kakinya. Ia hanya berharap semoga tidak demam. Ingin ia kembali memaksa untuk tidur, tapi gagal karena...
"Kau baik-baik saja?"
Mata amber miliknya menatap Sahib yang berdiri di pintu yang terbuka. Ah, untuk apa orang tua ini datang?
Cagalli mencoba bangun namun ditahan oleh Sahib, "Berbaring saja, tubuhmu masih sakit."
Cagalli menggeleng, "Aku masih kuat. Ada apa?"
Hening di antara mereka berdua. Cagalli sadar ia akan dinilai bersikap tak sopan. Usia Sahib lebih tua darinya, dan juga...
Sahib adalah paman Athrun.
"Aku menabrak kucing. Bukan sesuatu yang perlu dibesarkan. Tidak apa, Pak."
Sahib mendekat pasa Cagalli dan mengambil tangan kanan Cagalli, memijitnya dengan lembut. "Tolong lain kali berhati-hati. Walaupun tidak parah. Tapi kami semua sedih jika melihatmu seperti ini."
Cagalli termenung. "Baik, Pak. Akan selalu saya ingat."
Sahib tersenyum, menepuk pelan kepala Cagalli. "Nanti tidak perlu pulang sendiri ke apartemen."
Cagalli tertawa pelan, "Apakah Bapak berbaik hati memberikan tumpangan?"
"Bukan aku. Tapi Athrun. Dia yang akan mengantarmu pulang."
Cagalli terdiam. Apakah ini pertanda angin segar ditengah kekeringan? Seingatnya Sahib dan Natarle adalah pelaku utama perjodohan Athrun dan Lacus. Lalu apa maksudnya sekarang?
"Saya tidak bisa."
"Natarle sudah tau kondisimu. Santai saja."
Sial. Apakah perlu jatuh dulu untuk mendapatkan restu? Tapi tentu tidak semudah itu kan? Mungkin mereka hanya kasihan.
.
.
Athrun memasuki ruang konsultan dengan terburu-buru.
"Dimana Cagalli?" tanyanya pada Lacus yang ada di ruang itu bersama Natarle.
Lacus tersenyum hangat, "Cagalli ada di ruang kesehatan. Kau bawa obatnya?"
Athrun mengangguk.
"Jangan lupa bawakan air hangat untuknya."
Tanpa basa basi Athrun pergi meninggalkan Natarle dan Lacus.
.
.
Cagalli baru saja merasa dirinya bisa tertidur. Mimpi hampir membuainya. Tubuhnya hampir terasa ringan karena mulai masuk alam bawah sadar.
"Hei."
Suara lembut Athrun membangunkannya.
"Hai." Sahutnya dengan pelan. Jujur, Cagalli tak pernah menyukai kondisi dimana ia terlihat lemah.
Athrun menyentuh kening Cagalli yang terasa panas. Tubuhnya sudah bereaksi akibat benturan keras di aspal. "Kau demam."
"Tak apa, nanti juga pulih."
"Tidak, minum obat dulu. Aku sudah membelikannya untukmu."
Cagalli terkekeh, "Untuk apa kau beli? Di ruang ini juga ada obat."
Athrun membantu Cagalli untuk bangkit dari kasur. Dengan sigap ia membuka obatnya dan menyerahkan pada Cagalli lengkap dengan segelas air hangat. "Ruang penyimpanan obat di sini lembab. Kualitasnya sudah pasti berkurang."
Cagalli meminum obat pemberian Athrun. "Ya ya. Terima kasih, Tuan. Aku merasa seperti ratu hari ini."
Athrun duduk di samping Cagalli, memandanginya lekat. "Apa mencium aspal adalah hobi barumu?"
Cagalli memicing, "Apa maksudnya itu?"
Athrun menghela napas, "Kau terlalu sering jatuh. Lain kali tak usah bawa motor dengan jarak jauh. Jam berapa kau berangkat dari rumah orang tuamu?"
"Pukul 05.30."
"Astaga, sedingin dan segelap itu kau pergi sendirian? Kau mau cari masalah? Jalanan pasti masih sepi. Bagaimana kalau diikuti orang tak di kenal seperti tahun lalu?"
Cagalli mendengus, "Kurasa tak mungkin. Sebab aku menuju cahaya. Hari akan semakin terang, tak mungkin ada orang yang akan menguntitku."
"Pulang nanti, aku akan mengantarmu."
"..."
"Tak ada bantahan."
.
.
Jika memang benar seseorang perlu menderita untuk mengubah pendirian orang lain, apakah harus Cagalli rela menyakiti dirinya demi mendapatkan perhatian dari Athrun?
Tentu saja tidak.
Cagalli yakin tanpa harus membuat drama, Athrun akan tetap ada di sampingnya. Itu yang selalu ia yakini. Mencoba bertahan diketidakpastian hubungan mereka yang nyatanya sudah berakhir. Cagalli paham, Natarle masih mengamati tingkahnya. Selama beberapa hari Cagalli memutuskan untuk menetap di apartemen, memulihkan diri. Ia tetap bekerja, karena merasa luka yang ia dapat masih bisa ditoleransi.
Dan Athrun tak pernah absen dalam mengantar dan menjemputnya. Seolah mereka belum berakhir, tapi Cagalli tetap sadar diri, mau bagaimanapun kondisinya. Kehaluan Natarle tetap tidak tergoyahkan.
Sahib mungkin mulai luluh, hal ini nampak dari permintaan Sahib untuk dipanggil 'Ayah' oleh Cagalli. Tapi Natarle tetap bersikeras untuk menjodohkan Lacus dan Athrun.
Cagalli selalu tau itu, karena Lacus selalu menceritakan apa yang ia dengar dari Natarle. Cagalli tau jelas, Lacus sangat tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka berdua. Tapi entah mengapa, semakin lama semakin tidak nyaman. Seperti dunia berputar sangat lambat. Kisahnya dengan Athrun sudah tak menemui titik terang. Dan harus sampai kapan ia bergelut dalam kisah cinta yang kedepannya akan hambar dengan sendirinya?
Haruskah ia membuat Athrun menyerah? Bersikeras menyuruh Athrun berbalik pada Lacus agar, Natarle dan Patrick senang tak akan mungkin.
Cagalli masih ingat wajah sumringah Athrun, saat mengantarkan masakan Lenore untuk Cagalli yang dalam masa pemulihan.
"Aku rasa ibuku mulai menyukaimu."
Cagalli mengurut pelipisnya. Ya, kalau benar ia harusnya senang. Sahib dan Lenore mungkin mulai mendukungnya. Tapi Cagalli tetap tidak akan merubah pendiriannya selama masih ada yang menentang hubungan mereka.
Beribu cara Cagalli pikirkan untuk menjauhkan Athrun yang makin mendekati nya. Karena Cagalli lelah dengan tatapan tidak mengenakan yang diberikan Natarle untuknya. Bukan hanya itu, Natarle bahkan tak segan mengiriminya pesan hanya untuk bertanya perihal hubungannya dengan Athrun.
Kau dan Athrun benar-benar sudah berakhir kan?
Cagalli ingat betul dengan seluruh pesan Natarle meski ia hapus sekalipun. Merasa lelah dengan semua kekonyolan ini, Cagalli akhirnya menemukan solusi tepat agar Athrun menjauhinya.
.
.
"Pernyataan gila macam apa itu, Cagalli?" Yzak hampir saja mereset seluruh data konsumen perusahaan akibat ucapan tak masuk akal Cagalli.
Mereka saat ini hanya berdua saja dalam ruang IT. Sebenarnya ruang IT yang sering dipakai Cagalli kabur dari Athrun adalah markas dari Yzak. Yzak ditunjuk sebagai pengelola ruang IT oleh CEO.
"Kudengar kau juga tak mendapat restu dari orang tua Shiho."
Yzak tersedak kopi hangat. Ia melotot pada Cagalli. "Jangan ungkit lagi, Cagalli. Aku sudah berusaha move on."
"Yakin? Kau tak akan bisa move on tanpa bantuan orang lain."
Yzak menyandarkann tubuhnya di kursi, "Memang benar. 8 tahun bukan waktu yang singkat. Tapi aku tak mau kembali pada Shiho bukan hanya karena restu. Shiho selingkuh dariku."
Cagalli menatap tumpukan kertas yang ada di dekat Yzak. "Bagaimana kalau kita move on bersama?"
Yzak menatap tak percaya. "Oh, aku tak mau bersaing dengan Athrun. Dan lagipula kita tak saling suka."
Cagalli menatap Yzak dengan serius. "Kalau begitu kita harus saling menyukai terlebih dahulu."
.
.
Orang bilang sahabat adalah orang pertama yang akan menyadari perubahan dalam dirimu. Hal itu yang dirasakan oleh Miriallia begitu menyadari dalam beberapa hari Cagalli sangat rajin ke ruang IT. Apa yang dilakukan Cagalli di sana? Bukankah Yzak sudah mulai menguasai ruangan itu kembali setelah sekian lama bergelut dengan tugas tambahan dari pimpinan?
"Cagalli?" Miriallia yakin harusnya apa yang ia lihat adalah pemandangan biasa, pemandangan normal. Mengingat orang terdekat Cagalli selain dirinya adalah Yzak.
Tapi melihat Cagalli yang begitu santai bergurau bersama Yzak, makan bersama bahkan anggaplah waktu bersama Miri jadi berkurang. Porsi waktu Cagalli di kantor lebih banyak dihabiskan bersama Yzak. Ini agak mengganggu Miriallia.
"Kalian ghibah tanpa aku? Wah kejam sekali." Miriallia ikut duduk bersama kedua temannya.
Yzak dengan wajah datar, "Miri, sepertinya otak temanmu ini harus direparasi. Dia mulai sinting."
"Maksudnya?"
Cagalli menatap bosan Yzak, "Kami sedang berdiskusi mengenai vendor pernikahan."
Miriallia melongo hebat. "Hah? Siapa?"
Cagalli mengangguk, "Iya, untuk kami berdua."
"Omong kosong macam apa ini?"
"Kau tak setuju jika aku dengan Yzak?"
"Bukan begitu, Cagalli. Tapi apa-apaan ini?"
"Cukup Athrun saja yang tidak direstui, jangan Yzak juga."
Yzak hanya menghela napas mendengar kedua gadis ini saling berdebat. Ia lalu mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang.
"Cukup, Cagalli!!! Kalian jangan sama-sama mencari pelarian! Aku tau Yzak dan juga kau!" suara lembut Miriallia mulai meninggi.
"Tidak ada yang pelarian. Kami saling mengobati."
"Omong kosong! Jangan buat aku marah. Sudah kubilang kami akan membantumu mendapatkan Athrun!"
Cagalli berdiri dari tempatnya, "Mendapatkan Athrun? Mengalahkan Patrick dan juga Natarle?! Begitu maksudnya?"
Miriallia ingin membalas ucapan Cagalli, namun gagal karena Athrun tiba-tiba masuk ke ruangan dan menarik tangan Cagalli untuk mengikutinya.
"Katakan Yzak. Apa kau yang menghubungi Athrun?" tanya Miriallia saat Athrun dan Cagalli sudah pergi.
Yzak membuang muka, "Aku benci perdebatan kalian."
.
.
Athrun mendudukkan Cagall pada kursi panjang yang ada di lorong perusahaan. Dengan cepat iya mengecek kondisi tangan kanan Cagalli.
"Masih sakit?"
Cagalli tak berkata apapun.
"Cagalli?"
Sedetik kemudian Cagalli mengangguk dengan mata yang berair. "Iya, sakit. Sangat sakit. Saking sakitnya aku tak bisa mengembalikannya seperti semula."
Athrun tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ia lalu berjongkok di hadapan Cagalli. Menatapnya lembut, ada sorot khawatir dibalik kacamatanya. Lingkar hitam di bawah mata Cagalli semakin nampak, pertanda kurang tidur.
"Apa ada yang aku lewatkan selama ini?"
Cagalli menggeleng.
"Lalu kenapa kau menjauhiku?"
"Bukannya kita sudah usai?"
Athrun menggenggam tangan kiri Cagalli. "Belum. Kita sudah selangkah maju. Ibuku menanyakan kabarmu selama ini, beliau bahkan memintamu untuk datang ke rumah."
"Aku tidak mau."
"Hei, kenapa tidak mau? Aku hanya perlu membujuk ayahku."
Tanpa sadar Cagalli menangis. "Aku tidak sanggup lagi, Athrun."
Athrun terkejut. Genggaman pada tangan Cagalli menguat. "Apa terjadi sesuatu?"
Cagalli mengangguk, "Natarle selalu mengirimiku pesan untuk menjauhimu. Aku tidak tahan lagi."
Rahang Athrun mengeras, "Natarle keterlaluan! Tapi jika hanya dia itu tidak jadi masalah kan?"
Mata Cagalli yang memerah menatap lurus Athrun, "Apa kau lupa jika orang yang pertama kali menolakku adalah ayahmu? Saat malam tahun baru."
Pupil Athrun membesar, ingatan saat malam tahun baru kembali terngiang di benaknya.
"Lacus adalah calon istri yang paling cocok untukmu. Ayah mengenal Ayahnya, dan juga ibunya sudah tiada. Ayah ingin kau menjaga Lacus ketimbang Cagalli."
"Apa yang harus kita usahakan? Selangkah lebih maju apanya? Tidak akan ada yang berubah, Athrun."
Sekitar lima menit hening di antara mereka berdua. Athrun harusnya sadar ucapan Ayahnya benar-benar melukai hati Cagalli. Ditambah dengan segala pesan yang dikirimi Natarle tanpa sepengetahuan Athrun. Cagalli mungkin benar-benar sudah lelah. Tawa yang diperlihatkan Cagalli setiap hari di kantor hanya untuk menutupi kesedihannya.
"Lalu kau ingin aku apa?"
Cagalli memandang Athrun tanpa keraguan dan masih berada dalam genggaman Athrun, "Aku ingin kita benar-benar usai. Mau sekeras apapun kau mencoba, tak akan bisa merubahku. Aku sudah sampai batasnya. Aku ingin hidup Athrun, tidak hanya selamat. Tapi aku ingin hidup."
Athrun berdiri dan merengkuh Cagalli dalam pelukannya. "Apa aku harus membawamu lari? Apa aku harus menghamilimu dulu?"
"Itu tidak akan menyelesaikan apapun. Karena yang kita cari bukan hal itu."
Untuk satu menit mereka kembali hening. Cagalli mengerutkan alis saat merasakan ada yang jatuh di atas kepalanya. Ia pun mendongak dan melihat Athrun menangis dalam diam.
Ah, kisah ini terlalu mengenaskan...
Take your eyes off of me so I can leave
I'm far too ashamed to do it with you watching me
This is never ending, we have been here before
"Jika memang selama ini kau berjuang sendirian. Menangis sendirian tanpa aku tahu. Aku minta maaf."
"Its okay."
Please, stay where you are
Don't come any closer
Don't try to change my mind I'm being cruel to be kind
"Jika selama ini aku hanya menyakitimu. Aku minta maaf."
"Its okay."
I can't love you in the dark
It feels like we're oceans apart
There is so much space between us
Baby, we're already defeated
"Aku hanya berharap kita masih bisa berjuang, Cagalli."
"..."
"Maaf, waktu singkat ini malah banyak menyakitimu."
Cagalli tak lagi menjawab, ia hanya berusaha menghentikan air matanya sebelum semakin sembab dan menimbulkan gosip baru.
"Untuk kali ini aku ikhlas. Tapi aku tak akan pernah menuruti keinginan ayahku."
.
.
Miriallia dan Yzak yang mencuri dengar percakapan Athrun dan Cagalli hanya bisa terdiam. Miriallia segera menutup wajahnya, bibirnya bergetar menahan isak. Tak sanggup membendung lebih lama, dengan penuh air mata. Miriallia menatap Yzak.
"Jika kau bisa membahagiakan Cagalli. Kumohon rebut hatinya dari Athrun, jangan sisakan sedikitpun."
Yzak menyandarkan tubuh pada dinding, matanya terpejam. "Apa yang membuatmu berkata semudah itu?"
"Cagalli tak akan menemukan siapapun selama Athrun berada di sisinya."
"Kau yakin?" tanya Yzak.
Miriallia mengangguk, "Mungkin ini egois, tapi jika dengan begini tidak hanya Cagalli yg mungkin tertolong. Tapi kau juga."
Yzak menatap Miriallia, dipegangnya pundak Miriallia. "Aku melakukan ini bukan untuk diriku, tapi untuk Cagalli. Jika pada akhirnya aku benar-benar menyukainya. Athrun tak akan bisa mengambilnya lagi."
That's why I can't love you in the dark
It feels like we're oceans apart
There is so much space between us
Baby, we're already defeated
And i dont think you can save me
Love in the Dark – Adelle
The End
