I don't own Naruto.
Without "You" belong to R-daisy.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Typos, Gaje Etc.
Musim semi adalah awal yang tepat untuk seseorang memulai hal yang baru termasuk asmara. Setelah melewati musim dingin yang panjang, seluruh makhluk pun menyambut musim ini dengan sukacita. Tidak seperti kebanyakan, ada pula yang masih betah akan kesendiriannya.
Di sini, di taman Hyde kota London, Hinata tengah duduk minum kopi sambil menikmati pemandangan. Ini adalah hari dimana dia keluar setelah sakit. Ia kemudian mengambil buku sketsanya, melukis dimana ia mulai menekuni kegiatan ini semenjak ia memutuskan untuk berkeliling dunia. Ia juga sudah mengelilingi 10 negara lebih di Eropa demi mencari pemandangan lukisan sang kakek.
Dan kala sinar matahari telah duduk di atas kepalanya, Hinata menyudahi kegiatannya. Kakinya pun bergerak menuju jalanan yang akan berakhir ke apartemen.
Sebenarnya tempat ia tinggal sekarang bukanlah miliknya. Itu adalah milik kenalannya. Karena kenalannya tengah berada di luar negeri makanya Hinata disuruh menepatinya. Dan ia pun sudah 20 hari di kota London ini.
Saat akan melewati pintu keluar, manik bulannya melihat sebuah keramaian yang tak biasa. Dimana sebuah calon pasangan pengantin baru selesai melakukan pemotretan untuk foto prewedding mereka. Kaki Hinata tiba-tiba terdiam bak tertancap ke tanah.
Tiba-tiba ingatan akan pernikahannya dengan Sasuke terbuka dari kotak kenangan. Gaun pengantin yang putih bersih serta bunga yang melambangkan cinta suci tanpa batas —Baby breath. Bunga pilihan almarhum Itachi yang semula untuk pernikahan mereka.
Daging bibir Hinata sontak saling mengatup. Awalnya Hinata menganggap hal itu adalah kenangan yang buruk. Akan tetapi, kakinya telah melewati jalan takdir itu hingga ia tiba pada waktu ini. Pernikahan mereka tidak terbilang hancur juga tidak terbilang buruk. Hubungan mereka terbilang seperti halnya warna abu-abu.
Hinata juga tak tahu kejelasan statusnya sekarang ini. Ia memang telah mengajukan surat perceraian pada Sasuke dua tahun yang lalu, akan tetapi sampai sekarang ia tak mendapat kabar apapun mengenai hal ini.
Sejenak desahan lewat keluar dari mulutnya. Sosok pria itu tak pernah keluar dari ingatan. Selalu muncul di setiap kesempatan jika dia jauh dari kegiatan. Dimana ada momen sesuatu di sanalah bayang-bayang wajah pria itu menyeruak mengingatkan eksistensinya.
Walaupun begitu Tuhan benar-benar membuat kejutan pada hidupnya. Tiada yang menyangka, pada akhirnya Hinata akan jatuh cinta pada suaminya sendiri. Ia baru yakin perasaannya berupa murni cinta setelah berpisah jauh. Namun ia tak pernah menyesal. Sasuke telah mengajarkan cinta yang jauh berbeda dari yang diajarkan Itachi. Ketulusan dan gairah.
Di hari yang penuh sakral ini tak seharusnya selalu berjalan bahagia. Nasib yang sudah tertulis oleh pena takdir berjalan atas rencana Yang Maha Kuasa. Sebuah anggapan ironi yang mendapati nasib serupa dengan apa yang dialami oleh seorang pengantin wanita itu.
Takdir dimana seorang pengantin wanita telah ditinggalkan tiba-tiba oleh kekasih hatinya di hari pernikahan mereka. Dan sekarang ia sudah menikahi pria yang seharusnya jadi adik iparnya. Apalagi pria itu telah beristri. Pria itu adalah Uchiha Sasuke, dan pengantin wanita yang memiliki takdir pilihan itu adalah Uchiha Hinata.
"Hei, sampai kapan kau akan tiduran di sana?"
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri!"
"Kau pikir dengan kau bersikap seperti ini Kakak akan terbangun dari kematian, hah!?"
Mata bulannya melebar tak percaya, bergetar memandangi wajah kekasih hatinya yang telah berpulang. Menyentuh wajah pucatnya dengan tenang.
"Bagaimana bisa orang yang meninggal punya wajah setenang ini? Aku akan menemanimu sampai kemanapun kau pergi Itachi-kun..."
Air matanya berlinang tak terhitung lagi kini mengering. Suaranya hampir hilang dimakan oleh kepiluan yang tak berujung. Make up yang membuatnya cantik kini sudah tak berbentuk. Lantas senyum yang terbentuk di bibirnya bukanlah tanda kebahagiaan.
"Jangan gila, Hinata! Tubuh kakak akan dipindahkan dan besok Kakak akan dikremasi."
Sasuke menarik paksa Hinata dari jasad Itachi. Ia memegang kedua lengan Hinata, dan menatap tajam wanita itu seakan ia mampu membuatnya pingsan.
"Lepaskan...! Lepaskan aku!"
Hinata memukul dada Sasuke dengan sisa kekuatannya. Betapa hancur hatinya saat ini sehingga tidak sebanding oleh apapun kemalangan dunia ini. Kini ia benar-benar sendirian.
Sementara perasaan Sasuke tak jauh beda dengan Hinata. Perasaan itu bercampur aduk antara duka dan marah. Duka yang teramat dalam untuk kakaknya yang telah meninggal dan serta marah karena wanita ini semakin susah di atur.
Entah ancaman macam apa yang dibicarakan ayahnya kepada wanita itu sehingga ia menunduk patuh atas pernikahan ini? Padahal Hinata yang Sasuke kenal adalah wanita keras kepala yang tak akan tunduk pada siapapun. Kini, wanita itu membuat kesalahan besar untuk tidak menolak pernikahan gila ini.
Tapi bagaimana pun juga, nasi telah menjadi bubur. Jika Sasuke menceraikannya sekarang, maka nyawa istrinya akan jadi tumbal.
"Jika kau tak mau menurut, maka jangan protes kalau aku berbuat kasar!"
Dengan satu tarikan, Sasuke menggendong Hinata ke atas pundaknya. Mengabaikan teriakan penolakan Hinata yang telah memekakkan telinganya serta menahan tubuh Hinata yang terus memberontak meminta untuk diturunkan. Sasuke berjalan cepat keluar dari rumah sakit yang mulai sepi itu. Ia tak mempedulikan akan tatapan sisa orang-orang, sampai ia berhasil membawa Hinata ke dalam mobil.
Akan tetapi, pemberontakan Hinata seakan tidak terbatas. Di dalam mobil Sasuke tak bisa lepas dari pukulan wanita itu. Namun, kesabaran pria itu telah melebihi batas. Dengan sigap Sasuke menangkap kedua pergelangan tangan itu.
"Bisakah kau tenang sedikit, Hinata? Aku bukanlah karung tinjumu!" desisnya.
Sasuke mengunci pergerakan Hinata, ia memojokkan wanita itu. Kini jarak wajah mereka hanya selebar satu sentimeter. Dan napas mereka saling memburu.
"Ada yang dua hal yang harus kuingatkan."
Hinata mencoba menghindari tatapan menyakitkan pria itu. Sedangkan mata pria itu menyipit karena menahan air matanya. Tubuhnya bergetar. Ia tak suka mengatakan apa yang ada ingin disampaikannya.
"Kakak tak akan pernah kembali, ia telah meninggalkan kita semua "
Di sanalah air mata Hinata perlahan kembali tergenang. Jantungnya berdenyut sakit. Suara Sasuke yang tak bersahabat itu semakin memperburuk keadaannya hingga hancur.
"Dan suka atau tidak... Kau dan aku telah menikah."
Hinata membatu akan fakta itu, kedukaannya telah melupakan bahwa ia telah menikah sekarang.
"Jadi sebelum kita bicara jauh tentang hubungan ini, jernihkan kepalamu dulu!"
Malam itu tak ada yang namanya malam pertama layak pengantin baru pada umumnya. Seusai mengatakan hal itu, Sasuke langsung meninggalkannya sendiri di dalam mobil. Hinata pun langsung dibawa supir ke tempat yang telah Sasuke pesankan padanya.
Di musim semi yang seharusnya hangat kini dingin layaknya angin musim dingin. Sejak saat itulah Sasuke tak pernah menunjukkan batang hidungnya hingga musim panas pun tiba.
Hinata membuka sepatu boots coklatnya ketika ia sampai di apartemen. Jarum jam sudah menunjukkan angka lima lewat saat ia tiba. Dengan lunglai ia menyeret kakinya ke arah dapur. Namun begitu di dapur, ia malah mendapat kejutan yang tak pernah ia bayangkan.
Kenalan alias pemilik apartemen yang ditempati Hinata ternyata telah pulang.
"Selamat datang, Hinata."
Belanjaan yang Hinata pegang hampir terlepas dari tangan jika saja ia tidak bersikap sigap. Siapa yang tidak salah tingkah jika orang yang menyambut kepulangan dirimu tampil hanya dengan memakai handuk yang melilit bagian ditubuh intimnya. Ia pun sontak menghalangi pandangannya dengan telapak tangannya.
"G-Gaara-kun, sejak kapan kau datang?"
Sebisa mungkin Hinata menatap lantai, kelopak matanya berkedip canggung. Tiada yang menyangka Gaara memiliki tubuh yang bagus di balik tubuhnya yang terbilang pendek bagi anak yang mempunyai darah campuran Jepang-Inggris itu.
"Sejam yang lalu... Mungkin?"
Setelah itu pria itu melenggang pergi seraya menghirup minuman kalengnya, meninggalkan Hinata yang speechless akan sikap acuh pria itu.
Note :
Untuk momen sasuhina di fiksi ini adalah masih kilas balik ya. Momen kilas baliknya pun di tulis secara acak serta full italic. Jadi intinya, untuk sementara momen SH di fiksi ini kebanyakan kenangan Hinata bersama Sasuke yang gak sempat kutulis ke dalam fiksi BB. Tapi, biar begitu Sasuke akan tetap muncul kok.
Sudah dulu ya guys. Terimakasih atas dukungannya.
Selalu jaga kesehatan dan jangan lupa bersyukur,
Salam manis,
R-daisy.
