I don't own Naruto.

Without "You" belong to R-daisy.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Typos, Gaje Etc.


Di masa jam menunjukkan jam 2 pagi, dimana hujan baru selesai bertamu, sepasang insan tengah berselimut. Posisi tidur mereka pun saling menyamankan satu sama lain. Tidak hanya selimut yang berbagi peran tetapi tubuh mereka yang berpelukan itu menghangatkan diri mereka.

Lalu tiba-tiba suara alarm nan merdu memukul gendang telinga. Hinata pun lantas terbangun mematikan alarm. Ia terbangun seraya mengucek matanya lalu melihat ke arah sampingnya.

Di sanalah ada Sasuke yang tengah memeluk pinggangnya. Wajahnya yang tertidur begitu polos bak anak kecil membuat Hinata tak dapat menyembunyikan senyumannya.

"Sasuke-kun, ini sudah jam 6 lewat lho... Sasuke-kun tidak kerja? "

Hinata menyentuh bahu Sasuke dan menggoyangkannya.

"Hmm... Bentar lagi Hinata. Aku baru tidur 3 jam."

"Lalu bagaimana rapatnya? Katanya minta dibangunkan jam segini karena ada rapat penting?"

Sebelah oniks pria Uchiha itu lantas terbuka. Ia melirik Hinata sejenak sebelum akhirnya terpejam.

"Hmm kalau begitu... Tolong ambilkan iPhone." Gumam Sasuke yang suaranya terpendam oleh bantal yang disusul Hinata yang segera mengambil iPhone Sasuke yang terletak di atas nakas dekat dirinya.

"Hn, terimakasih."

Tanpa membuang waktu Sasuke segera menekan dial telepon. Sedangkan Hinata yang tak beranjak dari kasur juga memainkan ponselnya.

"Karin, kau gantikan aku menghadiri rapat. "

Jari Hinata bergerak perlahan, telinganya melebar.

"Semalam adalah malam yang melelahkan."

Kelopak mata Hinata berkedip-kedip, namun ucapan Sasuke yang berikutnya telah membuat orang salah paham sampai kedua alis Hinata menekuk dalam.

"Kami main sampai pagi. Jadi aku masih lemas."

Mata Hinata lantas melebar. Kini jari itu berhenti bergerak. Perlahan ia bangun dari tidur. Di lihatlah Sasuke yang melemparkan senyum seringai kepadanya. Ia jadi salah tingkah.

Dan kala Sasuke mengakhiri telepon, Hinata lantas mencubit pelan lengan pria itu. Pipinya yang merona sontak mengembung bak ikan buntal.

"Bagaimana kalau Karin-san salah paham!? "

"Lah... Memangnya ada yang salah, kita kan suami-istri!?"

"Tapi kan, aku tak suka Sasuke-kun mengumbar 'kegiatan' kita di kamar kepada orang lain! Sekecil apapun itu wilayah privasi kita."

Hinata sontak membuang muka sambil melipatkan tangannya di depan dada. Sedangkan Sasuke terbangun tanpa harus melunturkan senyuman seksi di bibirnya.

"Kalau hanya karena main itu saja Sasuke-kun sampai lelah, lebih baik tak usah main lagi. "

Padahal semalam mereka hanya bermain kartu. Hanya karena Hinata selalu kalah maka mereka main sampai Hinata menang. Hingga akhirnya tanpa mereka sadari mereka sudah main kartu selama berjam-jam.

Sasuke lantas memeluk erat Hinata yang membelakanginya. Ia sangat suka ketika Hinata mulai merajuk padanya. Topeng 'jaga image' yang selalu Hinata kenakan kini perlahan mulai memudar kepadanya. Hinata sudah menjadi dirinya sendiri. Bagi Sasuke ini adalah kemajuan pesat.

"Iya aku mengaku salah, aku minta maaf. " Bisik parau Sasuke tepat ke telinga Hinata, "Aku janji tak melakukannya lagi Hime. "

Pipi Hinata sontak merona akan panggilan khusus Sasuke untuk dirinya. Ia tak ingat persis kapan Sasuke mulai memanggilnya seperti itu, hanya saja setiap suaminya memanggilnya seperti itu, ia seakan terbang melayang ke atas awan. Lagipula seingat Hinata, Sasuke bukanlah pria bermulut manis.

Mungkin karena Hinata adalah istrinya, sehingga Sasuke juga punya kewajiban untuk menyenangkan hatinya. Kalau memang demikian, ia tidak dapat melarangnya. Tak ada gunanya untuk selalu bersikap serius di sepanjang waktu, Hinata juga butuh hiburan kecil untuk membasahi hatinya yang gersang.

Tak lama kemudian Hinata membalikkan badannya —menghadap- Sasuke, dilihatnya wajah pria itu dengan seksama. Dan ketika Sasuke menampilkan raut wajah sedikit memelas, Hinata sedikit t ak tega. Sebenarnya Hinata tahu bahwa Sasuke cuma berpura-pura agar mendapatkan hatinya. Baginya itu adalah trik yang licik.

"Jadi, apa kau masih marah Hinata? "

"Siapa bilang aku marah!?"

Hinata sontak menggulung rambutnya hingga menampakkan bekas gigitan ciuman ulah Sasuke di leher jenjangnya kemarin. Sasuke lantas tersenyum, tangannya pun segera menari-nari di leher Hinata yang kemudian langsung ditepis halus oleh empunya.

"Pagi ini masih terasa dingin, bagaimana kalau sedikit bermain untuk menghangatkan badan?"

"Aku lapar Sasuke-kun. Aku mau buat sarapan dulu. Memangnya Sasuke-kun tidak lapar?"

Wajah semangat Sasuke kemudian memudar. Hinata telah beranjak berdiri dari kasur, dan diam-diam menyembunyikan senyuman usilnya.

"Hn." Sahut malas Sasuke.

"Lagipula bukankah tadi Sasuke-kun bilang kalau sedang lelah? Sasuke-kun istirahat saja dulu."

"Aku sudah tidak ngantuk lagi."

Sasuke tidak menyangka dikecewakan oleh orang sangat ia cintai tidak menyenangkan. Apa ini buah hasil dari sikapnya yang selalu mengecewakan orang lain?

Tapi, tak lama kemudian Hinata duduk lagi dihadapannya sambil menyimpulkan senyuman manis padanya. Untuk sejenak mereka hanya saling menatap sampai akhirnya Sasuke tak menyangka Hinata akan memberikan kecupan singkat di sudut bibirnya.

"Ah, mengagetkan... " Gumam Sasuke yang benar-benar terkejut. Ia memegang dadanya yang berdetak kencang.

"Kalau Sasuke-kun sudah tidak ngantuk lagi, bagaimana kalau membantuku? "

Hinata dengan sengaja menjilat bibirnya yang kering, ia menyisihkan beberapa helai rambut yang jatuh ke belakang telinganya, namun ia tidak tahu bahwa karena tindakan itulah Sasuke jadi tergoda.

Dan ketika Hinata sudah berdiri lagi, manik gelap Sasuke lantas mengekori kemana Hinata bergerak. Sudut bibir Sasuke sontak tertarik ke atas. Menyeringai seksi.

"Kurasa itu ide bagus."

Tanpa harus berpikir dua kali, pria itu dengan secepat kilat menyusul kepergian Hinata yang telah berada di dapur.


"Gaara-kun... "

Gaara tak menoleh namun ia hanya menyahut dengan sekedarnya. Karena ia tahu tanpa menoleh pun, baik dirinya atau pun Hinata sama-sama sibuk dengan ponselnya.

"Apa kau tau kabar tentang Sakura-san? "

Kali ini Gaara menaruh perhatian penuh pada wajah Hinata, dan wanita itu kini juga menatapnya dengan sungkan.

"Apa kau tidak tau sama sekali kabar tentangnya?"

Gaara tiba-tiba merasa iba. Hinata pasti akan terkejut.

"Kau tau kan semenjak Shikamaru-san gagal memasukkan Fugaku-san ke penjara, kami sama sekali tak punya alasan untuk saling chatting. "

Ah, itu benar. Kakak iparnya memang pemalas, dia itu koala. Tapi, biar begitu, Gaara bisa mengerti kekecewaan Shikamaru yang tak dapat membalaskan dendamnya. Fugaku telah bunuh diri sebelum Shikamaru dapat menangkapnya. Namun, begitulah takdir, sematang apapun rencana yang dibuat manusia, ia tidak akan pernah tahu seperti apa jalan akhirnya.

"Sedangkan aku dan Kakek Izuna tidak sedekat itu." Hinata memeluk lengannya dengan gusar. "Yah, kami memang saling memberi kabar lewat telepon tapi pembicaraan kami tak sedalam itu. Lagipula aku terlalu banyak berhutang budi padanya."

Semua karena mimpi Hinata semalam. Di dalam mimpinya Sakura tampak bahagia menggendong bayinya. Berkat mimpi itulah, ia jadi kembali mengingatnya, dan anehnya ia tiba-tiba merindukan wanita itu.

Hinata kemudian memainkan lagi ponselnya. Ia menatap kembali pesan yang ia kirim kepada Sakura beberapa tahun yang lalu. Pesan itu sebenarnya telah terbaca jika melihat tandanya, namun sayangnya ia tak pernah mendapatkan kembali balasan yang ia harapkan. Waktu itu ia pikir Sakura lupa membalasnya, jadi ia bisa memakluminya. Dan sekarang ia jadi penasaran setengah mati.

Awalnya percakapan chatting mereka di DM twitter terlihat lancar dan baik-baik saja, tapi setelah Sakura mengabarkan akan segera melahirkan, ia tak pernah menjawab kembali pesan darinya. Dan Sasuke juga bukan tipe yang membatasi pergaulan istri-istrinya asalkan semua temannya perempuan. Jadi ia tak mungkin menghalangi persahabatan mereka.

Tapi, seiring waktu berlalu, meskipun sesekali Hinata mencoba menghubungi Sakura lewat telepon atau sosial media, wanita itu tak pernah terlihat kembali aktif sampai sekarang.

Hinata kemudian menyadari bayangan Gaara yang mendekatinya —duduk di sampingnya. Pria itu lantas melepaskan kacamata bacanya. Ia pun menyadari Gaara mempunyai warna mata yang hampir sama dengan Sakura. Akan tetapi, melihat raut wajahnya yang berubah serius itu membuat Hinata merasa tak nyaman. Ia gusar. Sepertinya akan ada badai malam ini.

"Kau mau tau?"

Hinata mengangguk canggung.

"Sakura sudah lama meninggal."


Note :

Hayoo siapa yang sudah lama menantikan fiksi ini lanjut. Tuh, kan begitu update langsung banyak bocoran apa yang akan terjadi ke depannya di fiksi BB. :p

Sebenarnya aku mau update setelah Gaara muncul lagi di BB. Namun karena aku sedang ada waktu, maka bab 3 tercipta hehehe. Btw, chapter fiksi BB selanjutnya Gaara bakal muncul lagi kok. Ceritanya Gaara pengen panas-panasin Sasuke nih. Jadi di tunggu aja ya updatenya, insyaaAllah.

Sudah dulu ya guys. Terima kasih atas support kalian. Selalu jaga kesehatan dan jangan lupa bersyukur ya.

Salam manis,

R-daisy.