Ice tahu bahwa setiap orang terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya saja, ia tidak suka akan kenyataan bahwa takaran nasib yang seringkali simpang sebelah.

Lihatlah dirinya sekarang. Terbaring di atas ranjang dengan piyama biru, mendekam seorang diri dalam ruang serba putih yang dipenuhi bau obat-obatan, dan hanya bisa menatap dunia luar dari bingkai segi empat.

Padahal di umur yang ke 23 ini, seharusnya ia tengah melakukan penelitian untuk tugas akhir, seperti mahasiswa lain. Kemudian menyiapkan ujian skripsi secara sempurna, lalu lulus dengan membawa predikat terbaik—meskipun tidak bisa cumlaude.

Tapi sayang, kenyataan mengatakan sebaliknya.

Setelah keadaan fisik memenjarakan cita-citanya menjadi pemain sepak bola, Ice terpaksa melepas impian itu. Ketika teman-temannya masuk ke jurusan yang diimpikan, ia pun terpaksa mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi duta dengan setengah hati.

Sungguh, menjalani kehidupan dengan penuh keterpaksaan, ditambah fisik yang lemah itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Rasanya setiap hari bagai di neraka.

Andaikan ia bisa hidup normal, apakah ia bisa keluar dari jeratan ini?

Untuk kesekian kalinya, Ice menghela nafas berat. Lagi dan lagi, ia harus merelakan sesuatu karena keterbatasannya.

Drrt! Drrt!

Ponsel di atas meja itu bergetar, menunjukkan sebuah notifikasi pesan masuk.

Dari Blaze.

Ice tertegun sesaat, sebelum akhirnya membuka pesan dari saudara kembarnya itu. Sebuah foto pun memenuhi layar ponselnya.

Foto Blaze dan Yaya.

Blaze tampak tersenyum paksa dan menggunakan setelan kemeja putih dengan bawahan hitam. Sementara di sampingnya, Yaya yang selalu menggunakan pakaian serba merah muda itu justru tersenyum ceria.

Kemudian Blaze mengirim pesan lagi: Hari ini aku seminar hasil. Sebenarnya aku pingin kamu datang, tapi... melihat kondisimu, jadi aku baru memberitahumu sekarang. Maaf ya. Semoga kamu cepat sembuh, Ice. Ini aku lagi sama Yaya. Doakan aku ya!

Ice menatap kosong layar ponselnya selama beberapa detik, kemudian merenggut tidak suka. Dimatikannya ponsel itu tanpa niatan membalas, sebelum akhirnya kembali menatap langit-langit kamar dengan kosong.

Lagi dan lagi, kenapa harus Blaze yang menerima semua kebahagiaan?

Katanya, kembar identik itu memiliki berbagai kesamaan, mulai dari lekuk wajah, postur tubuh, bahkan hingga sifat dan kondisi mereka sehari-hari.

Tapi nyatanya, keidentikan itu hanya berlaku pada wajah mereka. Sisanya justru bertolak belakang.

Dan Ice benci karena selalu mendapat sisi yang lemah.


Your Life © Akari Hikari

Boboiboy © Animonsta

CollegeAU! OOC parah! Minor Fic! Long Oneshoot!

Happy Reading!


"Baiklah, dengan ini saya nyatakan Boboiboy Blaze telah sukses mengadakan seminar hasil hari ini. Kamu bisa lanjut ke ujian komprehensif selanjutnya. Selamat!"

Tepuk tangan serta sorak-sorai memenuhi ruang di tengah siang cerah itu. Selepas ditutupnya seminar hasil skripsi yang diadakan oleh Blaze, puluhan kata selamat membanjiri mahasiswa manajemen bisnis itu.

Yaya tak bisa menahan senyum ketika Blaze berulang kali mengucapkan terima kasih pada tiga dosen penguji yang keluar dari ruangan. Jujur saja, ia tidak pernah menyangka kalau Blaze akan mendahuluinya.

Blaze yang ia kenal selalu tampak slebor, lebih suka bermain, dan jarang sekali menyentuh buku-buku tebal yang diberikan Tok Aba. Jadi, Yaya berpikir kalau Blaze mungkin saja ingin memaksimalkan jatah kuliah hingga tahun ke tujuh.

Tapi nyatanya, di saat Yaya masih sibuk revisi, kini Blaze telah mendahuluinya. Hanya tinggal satu langkah lagi sebelum lelaki itu mendapat gelar sarjana.

Benar-benar tipikal manusia yang diam-diam menghanyutkan!

"Selamat, Blaze. Memang terbaik kamu ini!"

Blaze menyengir lebar sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, sedikit malu. "Terima kasih, Yaya."

Yaya mengangguk senang dan membantu Blaze merapikan laptop dan berkas dokumennya. Tak ada siapapun di dalam ruangan, kecuali mereka berdua. Yaya pun tak masalah, lagipula ia juga tak yakin kalau Boboiboy bisa merapikan kelas ini sendirian.

Yaya melirik punggung Blaze yang tengah mematikan proyektor. Sebelumnya, Yaya tidak pernah menyangka kalau persahabatan mereka akan selanggeng ini. Memulai dari pertengkaran di SD, lalu mengenal kalau Blaze memiliki kembaran, hingga akhirnya terus bermain se-geng, sampai di detik ini.

Bocah ingusan yang ia kenal dulu, kini benar-benar telah menjadi seorang lelaki dewasa yang penuh semangat.

Tapi bagi Yaya, rasanya masih ada yang kurang. Seharusnya, ia tak datang seorang diri. Seharusnya, orang itu juga datang menyaksikan Blaze hari ini.

Tanpa sadar, Yaya menghela nafas panjang.

Andaikan saja tidak hanya Blaze yang berada di sini sekarang...

"Kenapa, Yaya?" Blaze memecah lamunan dengan tatapan bersalah. "Kamu kerepotan, ya?"

"E-enggak apa-apa. Ada yang harus kubantu lagi?" tanya Yaya, buru-buru memberikan berkas Blaze yang sudah dirapikan.

Senyuman Blaze kembali merekah lebih lebar. "Sudah selesai! Terima kasih, Yaya. Yuk, keluar! Aku lapar banget, nih!"

Yaya hanya bisa terkekeh pelan saat Blaze mengenakan tas dan berjalan antusias seperti anak kecil. Meski umurnya sudah melampaui kepala dua, sepertinya ada yang tidak berubah dari sikapnya itu. Blaze masih saja kekanak-kanakan.

Sesampainya di kantin, Blaze langsung memesan semangkuk bakso jumbo dan mentraktir Yaya. Tidak henti-hentinya Blaze berceloteh tentang bagaimana kegugupannya sebelum seminar. Namun, sifatnya yang ceria itu seolah cepat membuatnya lupa akan ketegangan yang baru saja dilaluinya.

"Sayangnya, Ice lagi di rawat. Coba saja kalau dia ikut ke sini," gerutu Blaze sambil mengaduk kuah bakso yang baru saja tiba. "Tapi tadi aku kirim chat kenapa cuma di baca doang, ya?"

"Hmm, mungkin sedang setengah tidur?" canda Yaya, mengingat kalau Ice suka sekali tidur siang.

"Atau … jangan-jangan dia cemburu karena aku kirim foto denganmu?"

Yaya yang baru saja mengunyah satu gigitan hampir saja tersedak jika tidak menahan bibirnya. Sementara Blaze langsung tertawa tanpa dosa.

"Blaze!" seru Yaya sedikit kesal, sekaligus malu. "Mana mungkin Ice kayak gitu, kan?"

"Mungkin aja, tuh!" sahut Blaze enteng. "Lagipula kita tidak tahu isi hatinya. Dia terlalu pendiam."

Kali ini Yaya setuju dengan pernyataan Blaze. Ia tahu kalau Blaze dan Ice sangat berbeda, dimana Blaze yang selalu frontal dan jujur, sementara Ice yang tenang dan tertutup. Bahkan bisa dikatakan bertolak belakang, layaknya dua sisi keping koin.

"Tapi ya … sebenarnya aku juga berharap dia datang tadi," ucap Blaze sambil mengendikkan kedua bahunya. Lagi-lagi dia menyengir, meski matanya tidak berkata demikian. "Kali aja ada keajaiban kan tiba-tiba dia ke sini."

Melihat sorot mata Blaze yang sedikit berubah, Yaya jadi iba. Seharusnya memang momen ini menjadi ajang yang ditunggu untuk dirayakan, bukan?

"Maaf ya cuma aku yang datang," ucap Yaya dengan sedikit merasa bersalah. "Fang dan Ying lagi sibuk mengurusi penelitian mereka. Lalu, Gopal lagi sibuk sama pesanannya."

"Enggak apa. Aku senang, kok," jawab Blaze santai. "Lagipula tadi juga udah banyak teman-teman sejurusan yang datang. Aku malah takut kalau semakin banyak orang, semakin banyak yang nanyain skripsiku."

Yaya tertawa kecil, mengingat bagaimana Blaze menjawab belasan pertanyaan dari teman-temannya sampai kewalahan. Tapi untungnya, lelaki itu bisa menanganinya sampai tuntas, yah meski harus dibantu dengan dosen pembimbing.

"Kamu habis ini enggak ada kelas?" tanya Blaze tiba-tiba.

"Enggak. Jam kuliahku kosong hari ini," jawab Yaya seraya melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Pukul setengah dua belas. "Mungkin setelah sholat dzuhur, aku mau menjenguk Ice dulu. Aku udah lama enggak ketemu dia. Kamu mau ikut?"

Blaze terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Enggak. Mungkin … nanti."

Yaya menarik alis, bingung dengan air muka Blaze yang langsung berubah. Biasanya Blaze yang paling semangat menjenguk kembarannya, tapi kenapa sekarang terbalik seperti ini? Rasanya seperti ada jarak di antara mereka.

"Kenapa?"

"Dia … sepertinya tidak akan suka." Blaze membuang napas, wajahnya berubah muram. "Mungkin karena lagi-lagi aku mendahuluinya."

"Hah? Bagaimana mungkin?" Yaya benar-benar tidak paham.

"Aku tahu dari lama, Yaya. Dia tidak suka aku," jawab Blaze sambil menunduk, memainkan bakso yang tinggal dua buah. "Aku tahu seharusnya kami tidak seperti ini. Tapi … Ice memang sudah lama tidak suka aku."

"Maksudku, kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?"

"Sejak Ice masuk ke rumah sakit dan rencana operasi itu … Ice menjadi lebih murung dan pendiam. Dia memang bersikap biasa aja kalau ada kamu atau yang lain … tapi entah kenapa aku merasakan sikapnya mulai berbeda jika menyangkut aku."

Jemari Blaze bergerak gelisah. Berulang kali ia mengecap bibir, tampak tak nyaman mengungkapkannya. Rasanya seperti ada batu besar yang mengganjal di tenggorokannya.

"Tapi Ice memang begitu, kan?" tanya Yaya dengan hati-hati. Mendapati gelengan keras Blaze, Yaya langsung melanjutkan, "Maksudku, dia memang pendiam. Mungkin kamu salah mengartikan wajah muramnya."

"Mana mungkin," sahut Blaze, sedikit ketus. "Kami ini kembar identik, Yaya. Aku bisa merasakan kalau ada yang berbeda dari dia. Ice itu pandai menyembunyikan perasaannya karena tampangnya yang selalu tanpa ekspresi itu."

Yaya termanggu sesaat. Dia kira telah mengenal Blaze dan Ice sejak lama—meski sekarang jarang bertemu karena kesibukan tugas akhir—di mana Blaze yang selalu semangat dan Ice yang lebih pendiam.

Tapi setelah mendengar hal ini, Yaya jadi ragu, apakah ia memang telah 'mengenal' mereka sebenarnya?

"Kamu sudah mencoba berbicara dengannya?" tanya Yaya lagi.

"Belum. Aku … takut, kau tahu?" Suara Blaze bergetar samar.

"Takut? Kenapa?"

"Aku takut dia semakin membenciku, Yaya. Karena objek kebenciannya itu adalah aku, orang yang berwajah sama, tapi punya nasib lebih baik daripada dia." Blaze tersenyum sendu dan menatap Yaya dalam-dalam. "Bagaimana … kalau kamu yang bicara dengan dia?"

"Aku?" Yaya meneguk ludah, tidak yakin. "Bukannya ini … urusan keluarga?"

"Tapi kami berdua ini juga teman kamu kan, Yaya?"

Yaya masih diam, masih ada keraguan di lubuk hatinya.

"Aku ini kan sahabatmu. Tidak salah kan kalau aku meminta bantuan ke kamu, kan? Lagipula, pas banget kamu mau menengoknya. Siapa tahu aja hatinya berubah kalau sama kamu."

Tidak salah, tapi Yaya juga tidak yakin kalau itu pilihan yang benar.

"Kalau ternyata dia jadi marah sama aku, kamu mau tanggung jawab?" tanya Yaya seraya mengembuskan nafas berat.

"Enggak akan. Dia pasti akan luluh kalau sama kamu," jawab Blaze enteng, seolah pembicaraan mereka sebelumnya tak ada apa-apanya.

Yaya memutar bola matanya kesal. "Ayolah, Blaze. Jangan main-main."

"Memangnya siapa bilang aku lagi main-main?" Blaze tersenyum penuh keyakinan, begitu pun sorot matanya yang membara. "Aku beneran percaya sama kamu, Yaya. Karena itu kamu, aku percaya semua akan berjalan mulus!"

Yaya mendesah melihat senyuman Blaze yang semakin mengembang. Rupanya terlalu lama menghabiskan waktu dengan Blaze, membuat Yaya tak tega untuk menolak permintaannya.

Tapi di sisi lain, Yaya juga ingin melihat keadaan Ice yang sebenarnya.

"Baiklah," jawab Yaya pada akhirnya. "Aku … akan mencobanya."

Dan Blaze langsung bersorak senang layaknya anak kecil yang baru mendapat mainan.


Sejujurnya, Yaya tidak benar-benar dekat dengan Ice. Mereka memang satu sekolah dari SD, SMP, SMA hingga kampus, tetapi sebenarnya Yaya jarang bertemu dengannya jika hanya berdua saja. Kalau tidak salah ingat, terakhir ia ke sini bersama Blaze sekitar satu minggu yang lalu.

Bukan tidak ingin bertemu, tapi Yaya selalu merasa canggung di dekat Ice. Berbeda dengan Blaze yang supel dan humble dengan orang-orang, Ice sebaliknya, selalu menutup diri dengan orang lain.

Yaya tidak tahu apa tindakannya ini benar. Tapi dari pada keempat temannya yang lain, Yaya lah yang lebih sering ikut Blaze untuk menjenguknya. Jadi logikanya berpikir kalau memang lebih baik Yaya yang menemuinya.

Sekarang, Yaya hanya bisa berharap kalau semuanya berakhir lancar. Semoga saja Ice tidak membencinya.

Krieet!

"Assalamualaikum, Ice."

Yaya menyembulkan kepalanya dari bilik pintu, takut dengan kedatangannya yang tanpa permisi.

"Haloo, Ice?"

Tapi bukannya mendapat jawaban salam, hanya ada keheningan panjang di dalam sana. Yaya pun membuka pintu semakin lebar, mencari keberadaan Ice.

"Ice? Kamu kemana?"

Namun sayang, tidak ada siapapun di dalam sana. Hanya ada ponsel yang tergeletak di meja dengan latar rooftop. Yaya mengerjap, kemana perginya Ice?


Ice menyandarkan tubuhnya sambil menyeka peluh di kening. Jantungnya masih berdebar keras setelah menaiki anak tangga lantai tujuh. Padahal dia hanya menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke tempat ini, tapi kenapa rasanya sangat melelahkan?

Ice benci sekali kondisinya kembali seperti ini.

Setelah beberapa menit berhasil mengontrol detak jantungnya, Ice menoleh, mengamati hamparan kota yang terbentang luas dari pagar pembatas. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis terukir di bibir pucatnya.

Rooftop menjadi tempat yang sangat nyaman baginya untuk menyendiri. Tak ada siapapun di sini. Hanya ada dirinya dan pikirannya yang pelik.

Sejujurnya, Ice lelah dengan semuanya. Hidupnya yang terbatas, masa kuliahnya yang kacau, fisiknya yang lemah, dan kebencian pada dirinya sendiri. Lalu tadi, gadis itu telah bersanding dengan saudara kembarnya sendiri.

Gadis penyuka merah muda yang diam-diam menjadi penyemangatnya selama ini.

Iya, Ice tahu kalau dia itu terlalu pendiam, lebih tepatnya terlalu malas untuk berbicara dengan orang. Tapi ketika gadis itu datang—meskipun seringkali bersama Blaze—Ice selalu mencoba untuk mengobrol ringan.

Tapi sayang, karena sisi introvertnya yang sangat dominan, pembicaraan mereka seringkali berakhir canggung.

Dan hanya Blaze yang bisa mencairkan suasana. Hanya Blaze.

Ice menahan napas, kemudian menggeleng pelan. Selalu Blaze yang memiliki sisi positif. Selalu Blaze yang bernasib lebih baik darinya. Selalu Blaze yang lebih beruntung. Terlahir dengan fisik kuat, semangat, ceria, dan selalu bisa diandalkan.

Itulah Blaze, yang selalu berada di sisi terang. Sementara Ice yang selalu mendapati kesialan, di sisi gelap.

Kalau begitu, bukankah lebih baik hanya Blaze yang dilahirkan? Untuk apa ia hidup jika hanya menjadi sisi gelapnya? Ice benar-benar lelah. Ia sudah tidak sanggup lagi.

Dan ketika Ice membuka mata, ia telah berdiri di pagar pembatas rooftop. Suatu keberanian yang entah muncul dari mana, berniat untuk mengakhiri hidupnya dalam beberapa detik ini.

Namun, tepat sebelum Ice melakukannya, terdengar gebrakan dari pintu rooftop dan langkah kaki yang bergerak cepat.

"ICE!" Sebuah suara memekik panik, membuat Ice menghentikan pergerakannya. "ICE! JANGAN!"

Tanpa sadar, Ice menoleh dan mendapati gadis busana pink yang tadi memenuhi layar ponselnya bersama Blaze. Itu Yaya, tengah berlari dengan raut paniknya.

"Kenapa kamu di sini?" Sebuah pertanyaan bodoh terlontar begitu saja.

"Mencari kamu lah! Cepat turun!" seru Yaya takut.

Tanpa menunggu jawaban Ice, Yaya segera meraih tangan Ice yang dingin, kemudian menggenggam pergelangannya kuat-kuat supaya Ice tidak jatuh ke arah berlawanan. Melihat Ice tengah berdiri saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan, apalagi memegang tangannya seperti ini.

Sungguh, Yaya mati-matian untuk terlihat kuat sekarang.

"Lepasin aku saja. Nanti kamu ikut jatuh," bisik Ice, tersenyum getir. "Nanti Blaze bakal marah kalau kamu ikut jatuh."

Yaya terbelalak sempurna, sama sekali tidak menyangka akan jawaban Ice. Apa-apaan itu maksudnya?

"Jangan bodoh, Ice! Memangnya kamu kira aku bakal tahan ngeliat orang bunuh diri di depan mata, hah!?" ucap Yaya, seraya menyentak pergelangan tangan itu sedikit. "Kamu sudah bosan hidup, ya!?"

"Aku capek, Yaya. Aku capek," lirih Ice pelan. Ia membuang muka, beralih pada hamparan bangunan di depannya. "Hidupku, kuliahku, semuanya sudah kacau karena fisikku ini. Kalau fisikku lemah seperti ini, kenapa aku enggak mati sekalian aja?"

Yaya bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari sorot mata itu. Ekspresi yang tidak pernah Ice tunjukkan pada siapapun membuat Yaya ikut sedih.

Bagaimana bisa Ice menyimpan perasaan itu sendirian?

"Nggak, kamu enggak boleh mikir begitu!" ucap Yaya, bersikeras untuk menahan Ice. "Kamu enggak mikirin perasaan Blaze, hah!? Perasaan keluargamu? Perasaan teman-temanmu? Pikirkan itu, Ice!"

"Enggak. Memangnya selama ini Blaze pernah memikirkanku?" Ice berbisik pelan, namun Yaya masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Keluargaku sibuk bekerja. Mereka tidak akan sedih jika hanya kehilangan satu orang anak. Lalu teman … memangnya aku punya teman?"

Apa-apaan itu? Yaya tidak bisa menerimanya. Apalagi mengakui kalau Ice tidak punya teman. Yaya sama sekali tidak bisa menerimanya.

"Memangnya aku bukan temanmu, hah!?" Yaya berteriak kesal, membuat Ice sedikit tersentak. "Kalau begitu, pikirkan perasaanku, Ice!"

Ice tertegun sesaat, kemudian menarik nafas panjang dan melirik cengkraman Yaya yang bergetar hebat.

"Memangnya apa yang kamu harapkan dari aku, hah? Aku bukan teman yang baik. Apalagi aku ini enggak ada apa-apanya dibanding Blaze."

Yaya tersentak dan menatap sepasang iris yang menggelap.

"Aku tidak pantas kamu selamatkan. Jadi, lepaskan aku aja. Tanganmu udah gemetaran, Yaya."

Yaya menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng keras. Sungguh, Yaya tidak suka ketika Ice berucap seperti itu, seolah hidupnya sama sekali tidak ada harganya.

Selama ini Yaya memang tidak tahu apa yang dirasakan Ice, tapi itu bukan berarti Yaya tidak peduli. Dia peduli, hanya saja terlalu malu untuk mengungkapkannya. Oleh karenanya, ia selalu menjenguk Ice jika ada Blaze. Ia hanya takut tidak bisa menangani rasa canggung karena hanya bicara berdua dengannya saja.

Tapi ternyata Yaya salah. Selama ini caranya bersikap salah. Ice tidak ingin hidup dalam bayang-bayang Blaze. Ia tidak ingin disamakan ataupun diremehkan.

Ice hanya ingin diterima oleh sekitarnya tanpa keterpaksaan.

"Aku enggak akan ngelepasin kamu," Yaya menggenggam pergelangan tangan Ice lebih kuat dari sebelumnya. Yaya tersenyum, menahan bulir-bulir asin agar tidak menetes begitu saja. "Enggak akan pernah, Ice."

Ice terbelalak lebar.

"Karena kamu itu Ice! Kamu enggak perlu ngebandingin hidupmu dengan Blaze dan kamu enggak perlu menjadi Blaze. Karena kalian itu memang berbeda, Ice!"

Satu hentakan keras dari Yaya membuat tubuh Ice goyah, dan akhirnya jatuh tepat di sebelah Yaya. Ice merasakan badannya sakit, tapi ia berusaha untuk duduk dan menghadapi Yaya. Namun saat melihat Yaya yang tak lagi bisa menahan air matanya, Ice jadi merasa bersalah.

Gadis itu menangisi dirinya.

"Kenapa kamu … enggak pernah bilang?" bisik Yaya, sambil mengusap air matanya yang belum bisa berhenti. "Kenapa kamu selalu diam, Ice?"

Ice hanya bisa membuang muka tanpa menjawab apapun.

"Memendam semuanya sendirian, tidak bilang apapun, pasti rasanya … menyakitkan, kan?"

Yaya menarik napas panjang dan menatap Ice lekat-lekat. Ia tidak ingin Ice salah mengartikan maksud ucapannya. Jadi, ia memaksa Ice untuk balas menatap kedua matanya secara halus.

"Kamu tahu, Ice? Kamu enggak perlu menjadi orang lain untuk diterima," ucap Yaya seraya tersenyum. "Hidup kamu dengan Blaze itu memang berbeda. Kalian memang kembar, tapi bukan berarti hidup kalian itu sama."

"Aku tahu," bisik Ice. Pandangannya jatuh pada kedua tangan. "Tapi Blaze selalu lebih beruntung daripada aku. Dia memiliki semuanya. Semua orang menyukainya. Sementara aku sebaliknya. Selalu berada di posisi yang lemah …."

"Lalu kenapa?"

Pertanyaan Yaya sukses membuat kepala Ice terangkat.

"Memangnya kenapa kalau hidup Blaze lebih baik daripada kamu? Itu kan hidup Blaze, bukan hidup kamu. Kalau kamu merasa hidupmu kurang beruntung, bukankah itu tandanya kamu masih disuruh untuk terus berusaha?"

Ice terbelalak sempurna. Yaya tersenyum dan menatapnya dalam-dalam, berharap kalau Ice akan mengerti apa yang dia ucapkan.

"Ice, semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku tahu kalau sifat manusia itu tidak akan pernah puas, tapi bukan berarti kita boleh untuk terus mengeluh. Apalagi berniat bunuh diri seperti tadi."

"Yaya …."

"Aku tahu perasaan iri dan dengki, aku juga pernah merasakannya. Rasanya tidak enak melihat orang lain bahagia, bukan?" Jeda sesaat, sebelum Yaya meraih punggung tangan Ice yang dingin. "Tapi … pada akhirnya aku sadar, kalau kita terus-terusan berpatokan pada kehidupan orang lain, bagaimana kita bisa bahagia, Ice?"

Ice menjatuhkan kembali pandangannya. Secara tidak sadar, ia menggigit bibir bawahnya seiring dengan otaknya yang menyadari apa maksud ucapan Yaya.

"Untuk bisa mensyukuri hidup, kamu harus bisa menerima semuanya, Ice. Menerima kehidupanmu, kekuranganmu, dan keadaanmu. Peluklah itu semua dan hiduplah."

Menerima kehidupan, katanya? Ice bahkan tidak pernah menyukai kehidupannya. Tapi setelah mendengar ucapan Yaya, entah kenapa ada pilu yang menjalari dadanya.

Rasanya begitu sesak, semua kesedihannya selama ini seolah meluap begitu saja.

"Sesuatu yang buruk, tidak selamanya buruk. Sesuatu yang lemah, tidak selamanya lemah, Ice. Jangan berpikir kalau hidupmu akan selalu di bawah karena … kehidupan itu terus berputar. Aku percaya itu."

"Tapi aku …." Lidah Ice kelu, tidak bisa membantah ucapan Yaya.

"Kamu bisa, Ice. Hidupmu, perjuanganmu, semua yang kamu miliki, kamu berhak untuk bahagia dengan caramu sendiri," Yaya menggenggam jemari Ice erat dan memberikan senyuman terbaiknya. "Karena ini hidupmu, kamu harus yakin, Ice."

"Yaya … Terima kasih …."

Ice tidak bisa menahannya lagi. Ia menutup kedua matanya dengan lengan, membiarkan emosinya tumpah, melupakan fakta bahwa ia tengah menangis di depan seorang gadis.

Sementara Yaya hanya bisa tersenyum dan mengelus punggung Ice perlahan. Ia tidak bisa menyalahkan sikap Ice yang seperti ini. Merasa tidak adil itu wajar, apalagi jika saudara terdekatmu memiliki kebahagiaan yang tidak kau miliki.

Tapi Yaya bersyukur kalau ucapannya bisa menggerakkan hati Ice. Karena ia tahu selama ini Ice yang pendiam, hanya ingin didengar dan diterima.

Setidaknya, untuk menjadi teman dan sahabat yang baik, Yaya mulai sekarang bertekad untuk mulai memperhatikannya lebih. Jadi, ia membiarkan dirinya merengkuh Ice, berbagi kehangatan meski hanya sesaat.

Sekarang Yaya hanya bisa berharap kalau Ice benar-benar merubah pola pikirnya. Karena ia tahu kalau menerima diri sendiri itu tidaklah semudah.

Entah kapan, Yaya ingin melihat Ice bisa tersenyum lepas bersama Blaze tanpa harus membandingkan diri mereka lagi …

END


Author's Note :

Halo! Salam kenal. Akari di sini. Sebelumnya, ini fic pertama ku di fandom ini dan setelah hiatus di ffn setelah 2016. Ha ha ha.

Jadi ya aku harap temanya enggak berat-berat amat lah ya. Ini fic terpanjang, nyampe 3K hiks. Dan entah kenapa aku memilih Blaze sama Ice yang termasuk chara minor di sini :'')

Maap juga kalo enggak ngefeels. Jujur, susah ya bikin fic ngefeels hahaha. Mungkin ada yang mau baca kalau aku lanjutin jadi bersambung? /Ga.

Terakhir, terima kasih telah membaca. Jangan lupa tinggalkan reviewnya!