As Long As You're With Me


Disclaimer

NARUTO dan NARUTO SHIPPUDEN akan selamanya menjadi milik Masashi Kishimoto-sensei.


Suara kicauan burung tertangkap oleh indra pendengaran seorang pria dewasa yang baru bangun dari tidur pulasnya. Sinar matahari yang masuk dari jendela. kamar tidurnya terasa begitu menusuk hingga memaksanya untuk menyipitkan mata.

Melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06:13, pria itu bangkit dari kasurnya dan duduk sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Sayangnya, keindahan pagi yang cerah ini harus rusak ketika ia mengingat tumpukan tugasnya yang tertinggal di kantor. Ingin rasanya ia kembali tidur, namun nyonya besar dari rumah ini pasti akan mengomel tanpa henti jika ia benar-benar melakukannya.

Pria yang bernama Uchiha Itachi itu mengusap matanya dan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dinginnya air yang mengalir di wajahnya seketika mengusir semua rasa kantuk yang ia rasakan. Pantulan dari wajahnya di cermin mengalihkan perhatiannya untuk sejenak.

Rambutnya hitam panjangnya nampak sedikit berantakan akibat bangun tidur. Warna hitam juga terlihat di bagian kantung matanya secara samar-samar. Dan janggut tipis mulai menghiasi bagian dagunya, yang dengan cepat ia cukur habis.

Keluar dari kamar mandi, aroma yang begitu sedap tercium di hidungnya, membuat perutnya secara berbunyi dengan keras secara naluriah. Itachi pun melangkahkan kakinya ke arah dapur, penasaran akan hal yang mengeluarkan bau sedap ini.

Tak perlu waktu lama baginya untuk menemukan sumber bau tersebut. Di meja makan sudah tersedia nasi, sepiring ayam goreng, dan beberapa buah segar. Matanya juga menangkap sosok wanita cantik berambut coklat sedang menuangkan sup sayur ke dalam mangkuk. Wanita tadi menoleh dan tersenyum ke arah Itachi sembari berkata, "Ah, kau sudah bangun, Anata? Tunggu sebentar, ok? Supnya baru matang."

Itachi yang sedang mencuci tangannya di wastafel pun balas tersenyum tipis. "Baiklah..." ucapnya. Ia pun segera duduk di kursi yang ada dan menunggu istrinya untuk duduk juga. Tak perlu waktu lama bagi si wanita untuk datang membawa semangkuk sup dan duduk di seberang Itachi.

Sesaat ia menatap wanita di depannya. Namanya adalah Uchiha Izumi, wanita yang bersedia mendampingi hidup Itachi selama beberapa tahun ke belakang, dan akan tetap begitu hingga akhir hidupnya nanti. Setidaknya, begitulah sumpah mereka ketika keduanya saling memasangkan cincin di jari manis satu sama lain.

"Hey! Halo? Apa ada orang di dalam sana?"

Suara Izumi yang melambaikan tangannya di depan wajah Itachi menyadarkan pria itu dari lamunan singkatnya.

"Ah, maaf. Aku hanya mengantuk." jawabnya dengan tersenyun tipis, hal yang membuat Izumi mengerutkan keningnya.

"Mengantuk? Lalu kenapa kau tersenyum?" tanya Izumi lagi. Itachi pun menautkan satu alisnya ketika mendengar pertanyaan Izumi. "Apa kau tidak suka melihat suamimu sendiri tersenyum?" tanya balik Itachi.

Memutuskan untuk tidak memperpanjang pembicaraan tak berguna ini, Izumi menghela nafasnya dan berkata, "Terserah kau sajalah." Ia lalu mengambil piring dan menaruh nasi serta sepotong ayam goreng diatasnya. Tak lupa ia juga memberikan semangkuk kecil sup hangat pada suaminya.

"Terima kasih." ucap Itachi.

Sarapan pagi pasangan Uchiha pun berlalu dengan cepat. Keduanya menikmati hidangan masing-masing dengan hening. Setelah selesai membereskan peralatan makan, Izumi pun segera mengambil sekeranjang pakaian basah dan menjemurnya di luar.

Jam masih menunjukkan pukul 06:45. Masih banyak waktu untuk Itachi bersantai sejenak sebelum berangkat kerja pada pukul 07:30. Tanpa beranjak dari tempatnya duduk, Itachi memandangi figur Izumi yang sedang menjemur pakaian. Seketika, rasa hangat muncul di hatinya.

Melihatnya membuat Itachi terpikir akan semua hal yang telah terjadi di antara mereka. Izumi adalah teman sebangku Itachi ketika SMA. Satu-satunya gadis yang ingin berteman dengannya secara tulus tanpa memandang fisiknya. Izumi jugalah yang membantunya untuk bersosialisasi dan selalu ada di sampingnya meski terkadang Itachi memperlakukannya dengan dingin.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Itachi. Ia lantas berdiri dan bersiap untuk mandi. Ia tidak boleh telat ke kantor jika ingin gajinya tetap utuh bulan ini. Setelah beberapa saat mandi dan berpakaian rapi, Itachi pun keluar dan bersiap untuk berangkat. Meskipun ia memiliki sebuah mini van tua yang terparkir di garasinya, Itachi lebih memilih untuk pergi menggunakan kereta. Berdempetan di sana lebih baik daripada harus menyetir mobil ke kantor yang jaraknya cukup jauh.

"Izumi, aku berangkat." ujarnya sembari menatap Izumi yang mengantarnya ke depan pintu. Ia mengecup dahi istrinya dan berangkat dengan hati yang senang, meski tumpukan pekerjaan menunggunya nanti.


Saat ini Itachi sedang berdiri di depan gedung 2 lantai berwarna hitam. Di sinilah tempatnya bekerja, Percetakan Akatsuki. Memang bukan pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi, namun di tempat inilah ia menemukan minat dan bakatnya sebagai editor. Ia bertugas untuk menyunting cerita dan memberikan saran pada para penulis yang dikontrak.

Baru saja ia ingin melangkah masuk, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Ketika Itachi menoleh, ia melihat Nagato berdiri di belakangnya.

"Yo." sapa rekan kerjanya yang berambut merah itu. Nagato adalah rekan sekaligus atasan Itachi, karena dia lah membangun tempat ini dari nol bersama dengan kedua teman dektanya, Yahiko dan Konan. Itachi diajak bergabung setelah tempat ini berdiri selama satu tahun, saat dirinya baru saja mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya.

"Yo." sapa balik Itachi. Nagato mensejajarkan langkahnya dengan Itachi dan berjalan bersama pria itu. Pertemanan keduanya bermula ketika Nagato kelaparan karena lupa membawa dompet dan meminjam uang pada Itachi. Aneh memang, namun itulah kenyataannya.

"Kau terlihat ceria pagi ini. Apa ada yang terjadi?"

Itachi menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang spesial. Kau hanya berkhayal, Nagato." jawabnya. Tak ingin bertanya lebih jauh, Nagato hanya bisa mengangkat bahunya.

Keduanya kini sampai di lantai atas, tempat dimana kantor mereka berada. Sebelum mereka berpisah, Nagato sempat memanggil Itachi sebentar.

"Hey, uh... Kau ada acara pulang nanti?" tanya Nagato. Melihat Itachi menggelengkan kepala, ia kembali berkata, "Bagus. Tunggu aku setelah jam kerja nanti, ok?"

Setelah Nagato berkata demikian, dia pun masuk ke dalam ruangan Supervisor, meninggalkan Itachi bingung dengan rencana Nagato.


Ketika jam sudah menunjukkan pukul 18:00, para pegawai percetakan pun mulai membereskan meja mereka dan bergegas untuk pulang, kecuali untuk 3 orang pria dengan warna rambut berbeda. Pria berambut pirang dan merah itu mendekat ke meja Itachi.

"Hey, Itachi, kau belum pulang, un?" tanya pria berambut pirang sembari duduk di kursi yang ia ambil.

"Nagato menyuruhku untuk menunggunya di sini."

"Huh... Dia juga menyuruhmu begitu?" kali ini pria pendek dengan rambut merah yang bersuara. Mereka berdua adalah Deidara dan Sasori, editor yang sama-sama bekerja di Percetakan Akatsuki.

Tepat setelah Sasori berkata demikian, Nagato pun keluar dari ruangan Supervisor bersama dengan Yahiko, Direktur Utama tempat itu. Mereka berdua pun menghampiri Itachi dan yang lainnya.

"Nagato, apa-apaan ini?" tanya Yahiko. Rambut oranye nya yang tadi nampak klimis, kini diacak-acak oleh si pemilik hingga menjadi jabrik. Nagato berfokus pada Yahiko dan berkata, "Jadi begini, kau sudah terlalu lama menjomblo hingga aku dan Konan khawatir."

'Ah... Jadi begitu...' ujar Itachi dalam hati. Kurang lebih ia bisa menebak maksud dan tujuan Nagato.

"Kalau saja aku tidak mengenalmu sejak kecil, mungkin aku akan mengira kau tidak menyukai perempuan." lanjut Nagato. Perkataan sahabatnya membuat wajah Yahiko memerah seperti tomat. "A-apa?! Hey! Biar kuberitahu kau kalau aku masih normal!" protes Yahiko tidak terima.

"Aku tahu. Oleh karena itu, Konan dan aku sudah mengatur kencan kelompok malam ini." jelas Nagato. Ia menyandarkan diri di dinding kantor. "Dia bilang kalau akan ada 5 orang yang datang, termasuk Konan. Jadi aku mengumpulkan mengajak bertiga untuk ikut meramaikan suasana." imbuh Nagato sembari menunjuk Itachi, Deidara, dan Sasori.

Sebelum Nagato berbicara lebih jauh, Itachi segera memotong pria itu dan bertanya pada Nagato, "Kau tahu kalau aku sudah menikah, bukan?" Dan Nagato hanya mengangguk, seolah-olah tidak ada yang aneh dari hal tersebut. Beberapa detik kemudian, ia pun menghela nafasnya dan melihat kearah Itachi.

"Baiklah, Itachi, kumohon bantu aku kali ini." pinta Nagato dengan memohon. Tak sampai hati menolak permintaan temannya, Itachi hanya menghela nafas berat dan mengangguk setuju.

"Bagus! Kalian berdua juga tidak keberatan, bukan?" tanya Nagato pada dua orang lainnya. Setelah mendapat persetujuan, ia mulai menjelaskan rencananya. "Baiklah. Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini. Jadi, ayo kita pergi sekarang." ajak Nagato. Mereka semua lalu pergi ke tempat yang dituju menggunakan mobil pribadi Nagato.

Di tengah-tengah perjalanan, Yahiko membuka suara. "Tunggu, kenapa Konan membawa banyak sekali perempuan?" tanya Yahiko penasaran.

Tanpa mengalihkan fokusnya ke jalan Nagato menjawab, "Tempat itu memberi diskon spesial hari Valentine. Biaya sewa ruangan akan dikurangi menjadi setengah harga jika digunakan oleh 10 orang atau lebih.

Mendengar perkataan Nagato, Itachi baru sadar kalau hari ini adalah tanggal 14 Februari, atau lebih tepatnya, hari Valentine. Tentu dirinya tidak bisa pulang dengan tangan kosong, maka Itachi berencana untuk mencari kado untuk Izumi ketika pulang nanti.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran ternama di pusat kota. Mereka berlima pun turun dan masuk ke dalam tanpa membawa tas masing-masing. Di dalam, nampak meja-meja telah penuh diisi oleh para pasangan yang menghabiskan malam Valentine mereka dengan kekasih masing-masing.

"Permisi, tuan-tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayang yang menghampiri mereka berlima. Nagato pun merespon dengan, "Ah, bisa tolong tunjukkan ruangan yang dipesan atas nama Nyonya Konan?"

Mendengar hal tersebut, si pelayan lantas pergi untuk sesaat sebelum kembali lagi dan meminta mereka untuk mengikutinya hingga mereka sampai di pintu yang mengarah ke balkon di lantai 2.

"Silahkan masuk, tuan-tuan. Saya akan kembali lagi dan membawa daftar menu dalam lima menit." setelah berkata demikian, si pelayan tadi pun pergi.

Nagato melihat teman-temannya yang berdiri di belakang dirinya. "Kalian siap? Yahiko?" tanyanya. Mereka semua mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. Nagato lalu membuka pintu tersebut.

Di balkon, terlihat sebuah meja panjang dan dua buah bangku yang sama panjangnya, masing-masing terletak di sisi berlawanan. Di atasnya, terdapat beberapa lilin merah dan bunga mawar yang terletak di dalam vas di tengah-tengah meja.

Seorang wanita berambut biru berdiri dan menyambut mereka. Itachi mengenal wanita ini. Jujur saja, siapa yang tidak mengenalnya? Konan, yang kini berstatus sebagai istri sah Nagato, adalah mantan Idol terkenal di Jepang. Dia memutuskan untuk graduate lebih cepat demi membangun keluarga bersama Nagato. Kini, ia bekerja sebagai Manajer untuk grup Idol yang baru beberapa bulan belakangan.

"Akhirnya kalian sampai, Nagato." ucap Konan setelah memeluk Nagato. Itachi dan yang lainnya lalu duduk setelah Konan mempersilahkan mereka.

"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dengan perkenalan?" ujar Konan.


Sejauh ini, acara tersebut berjalan dengan lancar. Masing-masing perempuan tampaknya sudah menentukan target mereka. Salah satunya kini berfokus pada Itachi. Perempuan itu memiliki rambut merah dan memakai kacamata. Dari perkenalan di awal tadi, Itachi tahu kalau nama perempuan itu adalah Uzumaki Karin, saudara jauh Nagato.

Sebenarnya, Itachi sudah merasa tak nyaman dengan Karin sedari awal. Perempuan itu terlalu agresif, tidak mengerti tentang etika dalam berbicara, egosentris, dan selalu menggoda Itachi tanpa memperdulikan apa itu 'Privacy Space'. Hal itu begitu mengganggunya. Namun, ia tetap mencoba bertahan sekuat tenaga dan bersikap sopan demi menghargai Nagato. Dan alkohol yang sudah masuk ke dalam tubuhnya tidak membantu usaha Itachi sama sekali. Semakin lama, ia makin susah mengontrol perkataan dan perbuatannya.

Puncaknya adalah ketika Karin terus menerus memberinya alkohol dan mencoba membuatnya lebih mabuk.

"Santai saja, Itachi-kun~ Kau pasti sedang stress, bukan?" ujar Karin sembari memberikan Itachi segelas penuh whiskey. Pria itu tetap menerima apa yang diberikan padanya, namun ia tidak segera meminum whiskey tersebut. Sebisa mungkin Itachi menjaga agar dirinya tetap dalam kendali dan tidak dipengaruhi oleh alkohol yang ia minum.

Melihat Itachi yang tidak minum, Karin pun berdiri dan mendekat ke arah Itachi dan menaruh dagunya di bahu Itachi sembari berbisik,

"Minumlah. Itu bisa membantu melepas stress mu~" godanya. Nagato yang sadar akan tingkah sepupunya yang terlalu jauh itu segera menegur Karin.

"Baiklah, kau sudah terlalu jauh, Karin. Berhentilah." perintah Nagato. Namun bukannya mendengarkan Nagato dan berhenti, tingkah Karin malah semakin menjadi-jadi. Ia memegang dagu Itachi dan memaksa pria itu untuk menoleh kearahnya.

Itachi tidak memberikan perlawanan. Pikirannya sudah mulai berkabut dan ia tak mampu lagi mengendalikan dirinya sendiri. Bau alkohol dari mulut Karin mulai tercium di hidungnya ketika wanita itu mendekatkan wajahnya ke Itachi.

Otaknya mencoba berontak, namun tubuhnya tetap tidak bereaksi. Secara samar ia bisa mendengar Nagato yang membentak Karin. Ketika bibir mereka hampir bertemu, bayangan Izumi terlintas di pikirannya. Ia membayangkan Izumi yang saat ini mungkin tertidur di sofa ruang tamu sembari menunggunya pulang.

Dengan menggunakan sisa tenaga yang ia miliki, Itachi mendorong bahu Karin dan menggeser posisi duduknya agar sedikit menjauh. Dengan nafas yang terengah-engah dan tubuh yang lunglai, Itachi segera berdiri dan mengambil tas kerjanya. Tanpa banyak bicara ia berjalan keluar dari restoran tersebut, disusul oleh Nagato yang berlari menghampirinya di luar.

"Aku akan mengantarmu pulang." kata Nagato. Ia mengalungkan tangan Itachi di bahunya untuk membawa temannya itu ke dalam mobil.

"Tidak perlu. Aku bisa... pulang sendirian..."

Nagato memilih tak menghiraukan perkataan Itachi dan tetap menuntun Itachi masuk ke mobil. Ia lalu segera ikut masuk dan lekas menjalankan kendaraan miliknya itu. Beruntung Nagato pernah beberapa kali mampir ke rumah Itachi, jadi ia tahu dimana temannya tinggal.

"Aku minta maaf atas perbuatan Karin. Dia memang frontal dan agresif, namun pengaruh alkohol semakin membuatnya tak memiliki malu." kata Nagato. Ia menoleh sesaat kearah Itachi untuk mengecek kondisi pria itu. Itachi hanya mengibaskan tangannya sembari menjawab, "Tidak apa-apa, Nagato. Aku tahu dia juga mabuk."

"Bisa kau berhenti di toko itu sebentar?" lanjut Itachi sembari menunjuk sebuah kedai kopi Starduck di pinggir jalan. Nagato pun menuruti permintaan Itachi dan memarkirkan mobilnya. Namun sebelum Itachi membuka pintu mobil untuk keluar, Nagato segera mencegahnya dan berkata, "Biar aku yang masuk, kau tunggu saja di mobil."

Tak ingin berdebat lebih jauh, Itachi kembali menyandarkan dirinya di kursi mobil. "Segelas espresso dan sebuah kue coklat yang dibungkus seperti kado." pesannya pada Nagato. Nagato mengangguk dan segera masuk ke dalam kedai, meninggalkan Itachi sendirian di mobil bersama dengan pemikirannya yang melayang entah kemana.

Apa yang telah dilakukannya?, pikir Itachi. Hampir... Hampir saja ia merusak sumpah yang dirinya dan Izumi ucapkan beberapa tahun lalu. Ia memukul kepalanya sendiri untuk meluapkan kekesalannya, tanpa peduli pada rasa pusing yang semakin menguat akibat pukulannya.

"Bodoh! Bodoh!" cerca Itachi pada dirinya sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengontrol emosi yang bergejolak di hatinya. Bagaimana ia bisa menatap wajah Izumi nantinya?

Brak! Suara dashboard mobil yang dipukul pun terdengar. Setelah terdiam sesaat, nafasnya mulai kembali teratur. Itachi melihat kondisi dashboard yang nampak normal tanpa cacat, membuatnya lega. Itachi tak ingin merepotkan Nagato lebih jauh dengan merusak mobil miliknya.

'Terkutuklah alkohol sialan ini.' ucapnya dalam hati.

Tak lama kemudian, Nagato pun kembali dengan membawa dua gelas berbeda ukuran dan sebuah kantung plastik yang cukup besar dengan logo bebek. Ia masuk dan memberikan Itachi gelas yang kecil dan menaruh kantung tadi di kursi belakang.

Itachi pun meminum espresso yang dipesannya dengan perlahan. Sedikit demi sedikit rasa mabuk yang ia rasakan mulai menghilang. Espresso yang diminumnya mengembalikan kesadarannya dan menjernihkan pikirannya. Namun Itachi tahu kalau ini hanyalah sesaat. Memikirkan apa yang akan terjadi esok pagi membuat ia menghela nafas. Tetapi, semua ini adalah sebuah keharusan. Ia tidak boleh terlihat mabuk di hadapan Izumi.

Itachi merogoh sakunya dan mengambil handphone miliknya. Angka 20:49 terpampang jelas menimpa gambar dirinya dan Izumi yang ia atur sebagai wallpaper dan screensaver. Masih belum terlalu larut, pikirnya. Matanya menangkap notifikasi telepon dari Izumi yang tidak sempat ia angkat.

Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya sampai ke rumah Itachi.

Setelah memberhentikan mobil miliknya, Nagato segera keluar dan membantu Itachi untuk turun. Ia membiarkan temannya itu untuk sejenak menarik nafas dan menyeimbangkan tubuhnya. Espresso yang barusan mereka beli terbukti bekerja karena tak butuh lebih dari beberapa detik untuk Itachi menenangkan dirinya.

"Terima kasih, Nagato." ucapnya pelan. Ia lalu mengambil sekotak kue coklat do kursi belakang dan kembali ke depan pagar rumahnya. Itachi bisa melihat Izumi yang sudah keluar ketika mendengar suara mobil tadi.

"Perlu kuantar ke dalam?" tanya Nagato yang dengan segera ditolak oleh Itachi.

"Tidak perlu, aku sudah merasa lebih baik." tolaknya. Ia memandangi kotak kado berwarna pink muda yang diikat dengan pita merah.

"Sekali lagi, terima kasih, Nagato. Kau boleh memotong gaji ku bulan depan untuk ini." ujar Itachi sembari mengangkat kado yang ada ditangannya.

Nagato yang sudah kembali ke dalam mobil pun hanya mengibaskan tangannya dan tersenyum. "Tenang saja. Anggap itu permintaan maafku padamu."

"Izumi-san!" sapa Nagato yang memencet klakson mobilnya dua kali. Ia bisa melihat Izumi yang tersenyum dan melambaikan tangannya. Nagato lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Itachi.

"Ambil cuti untuk esok hari, Itachi. Aku tidak ingin pegawaiku muntah di kantor."

Itachi tersenyum tipis mendengar candaan Nagato dan bergegas menghampiri Izumi yang berdiri di depan pintu masuk. Ia menoleh untuk terakhir kalinya dan melihat mobil Nagato mulai bergerak pergi.

"Okaeri, Anata."

Ketika Itachu mendengar kalimat itu dan melihat sosok Izumi yang tersenyum, ia merasakan perasaan hangat dan aneh yang menjalar dari ujung kepala hingga ke ujung jari kakinya. Memori dari masa sepuluh tahun lalu pun kembali ke permukaan ingatannya secara paksa.

Sepuluh tahun lalu, festival kembang api, permukaan danau yang memantulkan cahaya, dan figur gadis manis yang berbalik ke arahnya sembari tertawa. "Kau ternyata cukup konyol, Itachi-kun." ujar gadis itu ketika Itachi berbicara tentang alasannya sulit untuk bergaul. Saat itu pula semua tentang Itachi berubah. Ia tidak lagi menutup diri dan mencba untuk lebih ramah pada sekitarnya. Ia tidak lagi bermimpi untuk punya mobil mewah dan mengencani seorang Idol. Saat itu impiannya berubah. Yang ia inginkan hanyalah hidup aman dan tenang bersama Izumi.

Dan ketika Itachi mendengar suara Izumi yang menyambutnya di depan pintu malam ini, membuat api cinta dalam dirinya kembali hidup dan menyala dengan terang, lebih kuat sepuluh tahun lalu. Membahagiakan wanita lembut yang selalu mendukungnya dengan tersenyum di dalam suka maupun duka itu sudah menjadi tujuan hidupnya. Mendengar suara Izumi yang membangunkannya di pagi hari, memakan makanan buatan tangan Izumi, dan tertawa bersama Izumi adalah suatu kebahagiaan yang Itachi syukuri di hidupnya.

Dirinya mungkin tidak bisa mengencani seorang Idol, ataupun mengendarai mobil mewah, seperti yang ia impikan di masa mudanya. Dan bahkan kalau dirinya tidak menjadi orang terkenal atau menjadi orang yang menyelamatkan dunia, semua itu tidak masalah.

Selama ia punya Izumi di sisinya, Itachi tahu kalau kebahagiaan pasti akan selalu menghampiri mereka.

Tersadar dari lamunannya, Itachi kembali memandang Izumi. Untuk sesaat, sekali lagi ia terperangkap oleh dua manik hitam yang menatapnya dengan kebingungan.

Itachi mengangkat dan menunjukkan kue coklat yang ia bawa sembari tersenyum lembut pada sumber kebahagiaannya.

"Aku pulang. Dan selamat hari Valentine, Izumi."


A/N :

Yo, akhirnya balik lagi ke FFN setelah cukup lama ga seliweran di sini. Event yang diadakan grup Fanfiction Indonesia membuat saya kembali memaksa otak agar mengeluarkan inspirasi di tengah kesibukan dunia nyata.

Ya... ya... Sebelum ada yang nanya kapan lanjut Crowmaster RE, mungkin masih lama. Semangat buat nulis belum balik sepenuhnya. Dan juga, DxD season 2 masih blom kelar saya tonton XD. Ga kuat, pak... Way too many fan service awokawokawok.

Lalu buat kalian sesama fans ItaVio, White Lily kemungkinan bakal saya update beberapa hari setelah fic ini di publish :) So, rejoice, my people...

Ah satu lagi, ada yang bisa ngasih referensi pop culture tentang Zombie? Yang kalo bisa backstory nya ga terlalu kompleks.

Just bear with my cringe romance story, ok? Review dari kalian akan menjadi pertimbangan para Author untuk menjadi lebih baik dan bersemangat lagi menulis. Jadi budayakan Review sehabis baca. :)

Last thing, ada yang minat gabung grup Fanfiction Indonesia? Kan lumayan, bisa tanya jawab dan bercengkrama bersama para sepuh FFN, maupun sesama anggota baru. Dan kalian juga bisa nagih Author favorit kalian buat update lebih cepat. Nyahahaha...

Kalo ada yang minat, bisa kirim PM ke saya atau langsung ke kepala sukunya, yaitu FI.EinsZwei.

'Till next time, i bid y'all farewell.

Silvermane Kudan, Out.