Still the world keeps spinning around you
Heaven knows were drifting apart
All the burning buildings surround you
All the world is falling down
All the world is falling down
-Requiem For a Private War by Annie Lennox
"Mati saja badut Amerika sialan itu!"
Sambil membanting gelas bir di atas meja, Tenko memandang ku dengan wajah muram. Mungkin sebenarnya dia tidak benar-benar menunjukkan kekesalannya padaku, melainkan poster All Might edisi pertama yang dicetak setelah tiga tahun dia debut. Kubeli poster itu di situs eBay dengan harga lumayan tinggi. Tapi itu sepadan dengan kamuflase yang kubuat.
Seingat ku Tenko hampir tidak pernah memerahi ku. Orang-orang bilang dia memujaku karena menurutnya aku adik paling lucu. Harus aku akui sejak kecil dia memang sangat overprotective padaku dan tidak masalah teman-temannya memanggilnya brother complex, 'asalkan aku bisa memeluk Izuku, persetan dengan omongan kalian!' Setidaknya itu yang mungkin Tenko akan ucapkan, meski dia tidak melakukannya. Aku sendiri tidak mempermasalahkan sikap Tenko kepadaku. Sedikit mengganggu mungkin, tapi itu juga memberi ku kenyamanan. Apalagi saat serangan panik, aku selalu menggunakan memori kedekatan kami untuk menenangkan diri.
Apartemen ku berada distrik Hakata, jantung Fukuoka. Dekat dengan tempat kerjaku di agensi Hawks, menjadi alasan aku memilih tempat ini. Selain itu, karena termasuk jenis mansion dengan harga tinggi di kelasnya privasi ku terjamin jadi tidak masalah kalau Tenko mengeluarkan unek-unek dalam hatinya sesukanya. Tidak ada orang lain terganggu, lagipula orang yang tinggal di mansion seperti ini cenderung memiliki sikap 'urusi masalah mu sendiri'
"Fuck! Fuck! Fuck!" gerutu Tenko terus mengeluarkan segala isi hatinya.
"Orang itu… aku bersumpah akan aku ubah dia jadi debu dan kuberi makan pada para belatung sialan di sana!"
Aku hanya mengangguk sambil menempelkan bibir di gelas dan meminum sisa Malbec Argentina. Setelah itu Tenko tidak berkata-kata lagi. Sikapnya mengingatkan ku iklan snickers yang selalu bisa membuat tenang orang yang memakan jajanan itu dan setelahnya berubah menjadi suatu yang berbeda. Beberapa menit lalu Tenko menjadi iblis kini dia tenang seperti kucing. Gelasnya kosong dan dia tidak keberatan aku menuangkan Malbec ke dalam gelasnya. Dibanding diriku, Tenko jauh lebih kuat minum.
Tenko tinggal di Nagoya. Waktu kami terbatas untuk bisa bersama karena perbedaan waktu bekerja. Di siang saat aku menjadi asisten Hawks, Tenko tidur. Di malam saat Tenko patroli sebagai pahlawan bawah tanah, aku tidur. Tentu ini bukan jadwal tetap, kadang di hari-hari tertentu kami bebas, tapi tidak bisa menemukan waktu bebas bersamaan. Jadi kalau kesempatan itu datang, kami akan mengusahakan untuk bersama meski hanya beberapa jam.
Dan belum lagi berkat asisten ibuku, Kurogiri. Jarak bukan masalah.
Ini bukan pertama kali Tenko mengejek dengan penuh dendam All Might. Sejak dulu dia memang sudah membenci pahlawan nomor satu hingga tingkatan yang sulit dipahami ketika hampir kebanyakan orang memuja simbol perdamaian. Mereka yang membenci All Might adalah para penjahat, tapi disini Tenko adalah pahlawan. Bukan pahlawan sembarangan. Seorang underground yang reputasinya sekelas 10 pahlawan top.
Kebanyakan kejengkelan Tenko bermula kalau kebetulan All might di arena yang sama dengan Tenko. Maksudku, mereka terjebak dalam kasus yang sama. Awal kariernya, Tenko hampir selalu merajuk dan ada titik diriku ingin menendang nya sekali dan pernah aku bertanya kenapa dia ingin terus menjadi pahlawan meski tahu ada besar kemungkinan wajah All Might akan membayangi hari-harinya.
"Tentu saja untuk menggosok pantat ku ke wajah badut sialan itu. apakah kau tahu Izuku setiap aku berhasil dengan caraku. Maksudku 'cara penjahat' ku lebih berguna dibanding senyum menjanjikannya itu. aku selalu suka melihat segala emosi dari mata biru miliknya itu."
"Kau bisa melihat itu semua?"
"Tentu saja bodoh. Dan aku akan semakin puas kalau bisa sekali mengejek warisan master nya yang bodoh itu."
"Hm… entahlah Tenko, maksudku kita beruda tahu kekuatan itu sudah diberikan ke muridnya bukan? All Might sekarang Cuma obor kecil yang redup kalau terguncang angin keras. Bukannya lebih puas mengganggu penerus nya?"
"Urusanku bukan One for All. Aku tak peduli Quirk bodoh itu. Asal aku bisa memberi hidup neraka pada All Might. Aku sudah puas."
Aku mengangguk. Tak ada yang bisa merubahnya.
"Bicara soal One for All."
"Ya?"
"Sudah kamu putuskan apa yang akan kamu lakukan dengan itu?"
"Hm…. Aku belum memikirkannya, toh itu tidak menggangguku sekarang."
Tenko tidak mengatakan apa-apa selama beberapa menit. Dia mendongakkan kepala ke atas melihat langit-langit. Aku juga mengikuti apa yang dia lakukan. Kami berdua diam dalam segala pikiran masing-masing.
"Kalau sudah memutuskan… ajak aku. Tidak buruk kurasa. Mungkin dengan ini balas dendamku akan jauh lebih sempurna.
"Tentu saja," bahkan meski Tenko tidak mengatakannya, aku akan melakukannya.
Lagipula ini bisnis keluarga Midoriya, right?
