Aku dan Tenko tidak berhubungan darah. Dia dibawa ke rumah saat aku masih dalam kandungan ibuku. Menurut cerita Kurogiri, Ayah menemukan Tenko hampir mati kelaparan dengan banyak luka dan darah di bekas pabrik produksi plastik di Yokohama. Apa dia berasal dari Yokohama atau Tenko datang ke sana sampai bertemu ayahnya, aku tidak tahu pasti. Tenko tidak pernah bercerita apa-apa soal masa lalunya dan sebagian yang aku tahu berasal dari Kurogiri. Itupun tidak semua, pelayan setia itu hanya menceritakan yang sepatutnya bisa aku pahami atau hal-hal yang boleh aku tahu. Barulah ketika aku lebih memahami keluarga ini dengan sudut pandangku, aku tahu kisah keseluruhan sosok Tenko sebelum menjadi Midoriya Tenko. Dan tentu saja aku mendapatkannya bukan dari pihak keluargaku.

Kami tidak benar-benar dekat satu sama lain awalnya. Tenko lebih banyak bersama Ayah dibanding di rumah dengan ibu dan aku. Hanya beberapa waktu saja dia datang, itu pun malah tidak langsung membuat kami dekat layaknya saudara. Tenko membangun semacam tembok untuk mencegah ku masuk. Aku sendiri juga tidak memaksakan diri. Tahun-tahun itu kami seperti semacam teman baru canggung yang harus hidup di satu kamar yang sama.

Setidaknya itulah gambaran hubungan kami sampai tiba di tahun ayah meninggal dan ibu mulai mengambil alih bisnis keluarga. Tenko lebih banyak tinggal bersamaku yang mungkin sebenarnya dia ditugaskan untuk menjaga ku karena Kurogiri ikut bersama ibu.

Kami tidak langsung dekat. Ada kejadian yang membangun hubungan kami.

Itu sekitar musim semi di awal tahun aku masuk kelas lima SD.

Aku untuk pertama kali memakai Quirk milikku untuk melawan seseorang yang mencoba menculik ku. Itu sebenarnya murni kesalahanku karena terbawa apa yang sedang ku pikirkan tentang aksi pencurian bank di kotaku. Ada seorang hero baru dengan Quirk yang membuatku penasaran dan akhirnya menyeret ku ke dalam masalah. Kurogiri selalu mengingatkan ku untuk tidak terbiasa bergumam saat di jalan dan fokus, mengatakan diriku adalah anak bermasalah kalau itu kulakukan.

Dan di sanalah penjahat yang mungkin beruntung menemukan ku untuk diculik atau ketidaktahuan mereka soal siapa diriku yang berakhir kemalangan.

Ibu selalu memberitahu ku untuk tidak memakai Quirkku, sesuatu yang tidak disukai masyarakat karena menakutkan dan dianggap jahat. Aku tahu dia bermaksud baik, tapi untuk anak seusia ku dulu, kata-kata ibu adalah semacam penjara yang membuatku iri. Ketika anak-anak lain dengan bangga menunjukkan Quirk mereka. aku terpaksa diam. Sampai-sampai rumor aku Quirkless itu datang dan seorang yang kuanggap teman meninggalkanku.

Penjahat itu cepat dalam beraksi dan tanpa membuang waktu mengancam akan menyakiti ku bila aku macam-macam. Aku panik meronta, meski Kurogiri mengajari beberapa teknik mempertahankan diri, semua tidak berarti karena rasa takut ku jauh lebih besar. Mungkin itu juga yang membuatku tanpa sadar memakai Quirkku.

Kenangan itu salah satu yang paling ku ingat jelas. Ketakutan, bingung. Penculik mulai tidak sabar dan aku yakin sekali membunuh anak kecil bukan masalah baginya. Aku berusaha melepaskan diri, tapi rasa sakit yang aku dapatkan ketika semakin memberontak. Sampai bisikan muncul di kepalaku. Yang ini bukan suara kekaguman menilai Quirk orang, tapi bisikan godaan untuk dilepaskan dan berakhir pada satu warna dari puluhan warna yang sudah aku punya.

Aku bisa mengambil Quirk orang lain dan hari itu aku menggunakan Quirk yang kuambil untuk melawan si pencuri.

Tidak banyak yang bisa aku ingat, kecuali dorongan untuk lari dan mungkin sedikit marah. Begitu aku menguasai diriku, yang kutemukan adalah pencuri itu sudah tergeletak dengan wajah meleleh seperti baru saja terbakar. Aku memandangnya dalam diam. Sulit untuk mencari tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan waktu itu, tapi mungkin itulah yang menjadi awal iblis dalam diriku perlahan bangun.

Beberapa saat aku diam begitu saja. Lalu aku teringat apa yang harus aku lakukan dan mencari ponsel. Setelah menemukan aku menelpon nomor Tenko. Aku mengatakan aku diculik dan kuberikan alamat lokasi ini padamu. Dan selama itu aku menunggu.

Tenko datang sekitar setengah jam dan saat melihatku dan mayat laki-laki itu. dia hanya melihatku sekilas. Lalu memeluk erat-erat dan mengatakan aku di sini. Tak apa-apa, semua sudah baik-baik saja. Aku menangis. Aku ingin terus Tenko memelukku. Aku ingin diperhatikan orang lain.

Tenko mengajak ku naik gunung mengendarai motor yang baru dia dapatkan. Dia tidak bertanya apa-apa. Aku hanya mengikuti apa yang laki-laki lebih tua itu katakan. Sepanjang Tenko membonceng ku, aku tidak ingat apapun. Tahu-tahu aku sudah duduk di semacam kafe lalu ketika aku amati dari luar, itu seperti di tengah hutan.

Kafe itu mengutamakan makanan Italia dan konsep rumah makan yang membuat nyaman pengunjung. Mungkin jika ada di kota, tempat ini akan ramai.

Aku juga melihat Tenko dekat dengan pegawai kafe. dia berbicara akrab dengan perempuan salah satu karyawan. Pria lebih tua yang kelihatannya pemilik kafe juga berbicara dengan Tenko seperti seorang ayah pada anaknya. Aku sempat mendengar beberapa obrolan. Sesuatu untuk Tenko lebih sering mengajak orang selain Iguchi.

Kembali ke meja dimana aku sudah menunggu, Tenko membawakan segelas jus jeruk. Dia mengatakan kalau aku boleh memesan minuman lain. Tenko memesan spageti untuk dirinya dan pizza untukku. Saat pesanan kami diantara, Tenko sekali lagi mengatakan jika aku boleh memesan yang lain.

Kebaikan ini membuatku canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Tenko yang ini bukan Tenko yang ku tahu. Bukan remaja yang berusaha untuk menjauh dariku dan bicara denganku dengan sikap formal dan sebatas apa yang disuruh olehnya. Tenko seperti sosok kakak laki-laki yang sedang bersama adiknya.

Kami makan tanpa banyak bicara. Tenko tidak merasa itu hal aneh dan cenderung menikmati keheningan yang ada. sesekali aku melirik dan melihat terkadang anak laki-laki lebih tua itu melamun. Aku juga tidak memiliki dorongan untuk bicara. Lebih banyak mengamati dan ketika Tenko menyadari aku menatapnya dia cuma diam balas menatap ku. Kami saling menatap, seolah diam diantara kami hanyalah kedok, sedangkan sebenarnya kami mengobrol dalam telepati. Tentu itu hanya imajinasi ku. Dia tidak sedikitpun merubah raut wajahnya. Datar dengan kedua mata merah seperti menguliti untuk menemukan apa yang tersembunyi. Aku tidak takut. Justru timbul aku mengagumi sorot mata anak laki-laki yang lebih tua itu.

Dia mengalihkan wajahnya, menoleh memandang jalanan di luar sepi. Hanya motor kami terparkir sendirian di sana. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mengikuti apa yang dia lakukan saja.

"Kamu nggak apa-apa?" Tenko memulai percakapan sejak kami datang ke kafe ini.

"Ya."

"Sejak kapan kamu mengambil Quirk orang lain?"

"Aku meminta bantuan Kurogiri. Selama ini dia yang mencarikan ku Quirk… tapi aku melakukannya kepada orang yang benar-benar ingin Quirk itu diberikan padaku. Kebanyakan mereka manula yang akan segera mati."

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Tenko setelah mendengar jawabanku. Aku memang meminta Kurogiri tidak mengatakan pada siapapun soal permintaanku. Ibu jelas akan jadi sumber masalah. Aku tidak tahu ayah dan Tenko akan mengatakan apa. Awalnya aku ragu Kurogiri akan menjaga rahasia. Tapi mengetahui kalau Tenko tidak tahu sampai detik ini, aku lega dan semakin mempercayai Kurogiri.

Lalu Tenko bertanya macam-macam soal Quirk-ku.

Dan betapa tenang aku menjawab semua itu. Tidak ada keraguan atau rasa bersalah.

Mata merah itu seperti sedang mencari sesuatu. Aku hanya balas menatapnya tanpa berpaling.

"Sejenak kamu seperti ayah," Tenko kembali bicara. Dia minum kopi keduanya. "Begitu tenang, meski sudah terjadi hal seperti itu. Dia juga tenang saat pertama kali bertemu denganku, bahkan seolah tidak merasakan apapun saat aku menceritakan apa yang ingin dia dengar. Jujur aku takut saat ayah begitu tenang. Sama seperti mu."

"Aku tidak tahu apa-apa soal ayah."

Itu benar. Ingatan tentang ayahku cukup buram. Dia sibuk dengan dunianya. Aku tidak bisa mengatakan aku benci atau tidak padanya. Dia yang membuatku lahir dengan Quirk yang sedikit mirip dengannya.

"Aku juga tidak tahu apa-apa soal ayah kandungku. Dan kupikir itu lebih baik daripada tahu aslinya."

Aku menatap wajah Tenko dengan kening berkerut. Sulit menemukan kata-kata untuk membalas apa yang dikatakannya. Apakah aku harus berpikir untuk memulai mencari tahu soal ayah ku sekarang? Atau menerima apa yang dikatakan Tenko soal sebaiknya tidak tahu apa-apa? Makna apa yang sedang dia ingin sampaikan?

"Hei, kurasa kita lebih cocok jadi satu tim daripada saudara, bagaimana menurut mu?"

Aku kaget, semula dia kelihatan serius lalu begitu saja menjadi santai. Tatapan penuh selidik dari wajahnya berubah menjadi cengiran.

"Eh… aku tidak keberatan."

"Keren! Aku selalu memikirkannya cukup lama. Nyonya Inko meminta ku untuk jadi kakak yang baik. Tapi aku tidak tahu apa-apa soal itu. itu buruk kan?"

Aku mengangguk saja, lalu bertanya, "Pertama-tama apa yang kita lakukan?"

"Kamu mau pulang sekarang?"

Aku menggeleng.

"Mau mencoba bolos satu hari besok? Malam ini aku ajak kamu keliling kemanapun, ada banyak tempat keren di sekitar sini."

Kami membayar di kasir yang diterima laki-laki berkumis panjang itu dengan candaan yang menurut ku garing, tapi Tenko tertawa mendengarnya. Dia juga memberi kami dua cup jus jeruk secara cuma-cuma. Di perjalanan menuju parkiran Tenko menceritakan kalau kafe itu sering menjadi basecamp kelompoknya. Perempuan yang Tenko ajak mengobrol bernama Ito. Dia salah satu anggota tim Tenko untuk jaringan mata-mata.

"Dia juga pencuri kharismatik. Dia mencuri untuk diberikan ke beberapa panti asuhan bobrok yang tidak terawat."

"O mirip Robin hood."

"Yup, kamu tahu juga komik kuno seperti itu rupanya."

Kami berkendara menuju kota kecil di lereng, kami berhenti menikmati jus jeruk yang tadi di berikan sambil duduk di bangku taman. Tenko menceritakan rutinitas nya dan aku memilih mendengarkan. Lalu berkeliling kemanapun semau Tenko. Anehnya malam itu aku tidak mengantuk sama sekali. Rasanya seperti aku tidak bisa tidur saat itu.

"Rasanya sepeda motor ini bisa terus membawa kita keliling dunia," ujar Tenko.

"Menurutku juga begitu."

Tenko tertawa. "Kita benar-benar pasangan yang cocok. Sebagai Tim, kita berdua tidak terkalahkan!"

Menurutku juga begitu.