"Kamu belum bilang apapun soal misi terakhir itu. Ada apa sebenarnya?" tanyaku.
"Serius setelah panjang lebar begitu aku belum bilang apa-apa?"
Aku menggelengkan kepala, menunggu Tenko memberikan ceritanya. Dia berpikir keras mengenai itu, dan setelah lima menit dia membuka mulut.
"Sial, aku pasti benar-benar seperti perempuan habis diputus sama pacarnya. Jadi begini, kamu tentu masih ingat kasus penggerebekan ke markas yakuza yang disinyalir jadi otak pembuat obat penghapus Quirk, kan?"
"Ya. Aku ingat. Bukan kasus besar, tapi karena melibatkan anak-anak UA, kejadian banyak dibicarakan. Kalau tidak salah ada beberapa pahlawan pro gugur ya?"
"Nighteye… bekas sidekick badut itu. sisanya pahlawan kecil yang bakalan dilupakan begitu saja. Kebetulan aku di tempat lain saat itu, jadi Aizawa pergi sendirian."
Sambil makan kacang dan salad sayuran secara bergantian. Aku mencari tahu di beberapa titik kepalaku soal kasus tersebut. Itu bermula dari ditemukannya penjahat membawa peluru yang dapat membuat seseorang tidak lagi bisa memakai quirknya. Seorang murid magang terpaksa melawan lalu mendapatkan tembakan itu. Namun rupanya jenis peluru yang dibawa pelaku, jenis yang belum final sehingga efeknya tidak permanen. Tak menunggu waktu, pahlawan yang bertanggung jawab dengan murid yang terkena tembakan meminta gabungan beberapa pahlawan untuk mencari dan memutus rantai pasokan senjata baru ini. Bagaimanapun juga senjata penghilang Quirk jelas bukan masa depan yang baik.
Beruntung atau tidak Nighteye di waktu sama juga sedang menyelidiki kasus serupa soal perdagangan narkoba dan trigger yang semakin marak di pasar gelap. berkat koneksi (tentu saja nama 'bekas sidekick All Might), pahlawan yang bergabung cukup banyak. Itu bukan hal sulit, apalagi jika mengajak pahlawan kecil yang butuh panggung untuk mendongkrak popularitas, tentu ajakan misi dari pahlawan besar sulit ditolak.
Misi berjalan dan boleh dikatakan bukan akhir baik ketika pihak pahlawan mendapatkannya banyak korban, fall. Aku tidak tahu selebihnya karena perlu ijin kepolisian dan bukan insiden besar sehingga media kurang memerasnya lebih jauh. Aku balik bertanya sambil menikmati Malbec dalam gelas ku.
"Overhaul pemimpin yakuza otak pembuat peluru itu berhasil ditangkap dan sekarang happy forever di Tartarus. Sebagian besar anggotanya juga berhasil diringkus. Masalahnya bahan peluru penghilang Quirk itu masih hilang sampai sekarang."
"Bahannya?"
"Anak kecil. Dia rupanya punya Quirk berhubungan dengan sel atau kondisi semacamnya yang membuat seseorang tidak bisa menggunakan Quirk. Catatan di TKP sudah hancur lebih dulu sebelum polisi datang, jadi bisa dikatakan meski kami menghancurkan jaringan pandangannya, kami juga sama sekali tidak tahu apa-apa soal apa yang sebenarnya terjadi."
Perdamaian mungkin ada selama All Might hidup, tapi kejahatan akan terus tumbuh selama manusia bernafas. Dan tak sedikit dari kejahatan yang ada, bagian terkecilnya berada di tingkat ekstrim. Melibatkan anak bukan hal baru, apalagi teori singularitas Qurik menjadikan anak-anak rentan. Apalagi jika mereka hidup di lingkungan jauh dari hukum.
"Tidak ada lanjutan itu? mencari anak kecilnya?"
"Polisi angkat tangan karena masa berlaku kasus itu hampir kadaluarsa. Tapi kloningan badut itu masih terus mencari sampai sekarang."
"Kloning?"
"Lemillion."
"Oh… Togata Mirio-san itu ya."
Tenko menghela napas sejenak kemudian meminum anggurnya.
"Tampaknya dia menjadikan itu sebagai misi seumur hidupnya. Sungguh untuk kali ini aku tidak akan mengejek nya meski dia mengingatkan ku pada si badut. Kadang, aku cukup sering membantunya di beberapa kesempatan."
Tenko membenci All Might sampai ubun-ubun. Tapi tidak sepenuhnya benci. Aku yang bekerja di belakang meja pahlawan nomor dua sekarang tentu mempunyai akses untuk melacak apa saja yang Tenko kerjakan, yang ini aku tidak pernah membicarakannya pada Tenko. Aku tahu, dia kerap bekerja dengan apa yang disebut orang-orang berbau All Might dan laporan tidak pernah meninggalkan jejak merah. Malahan Tenko selalu menjadi orang yang sebenarnya bisa diandalkan. Sebagai pahlawan bawah tanah, Tenko punya kebebasan bertindak yang kadang tidak bisa dilakukan pahlawan pada umumnya.
Jika dibandingkan Endeavour yang benar-benar membenci All Might. Tenko jauh lebih beradab.
"Menurutmu, apa mungkin kita minta bantuan Nyonya Inko?" tanya Tenko.
Aku meraup kacang di atas piring dan memakannya dalam sekali kunyah lalu menggeleng pelan. "Ibu pasti akan mencari dimana anak itu berada jika dia punya sumber informasi. Kau tahu dia selalu paling pertama yang melakukannya."
"Akhir-akhir ini aku menjalin kontak dengan si Togata itu."
"Hmm," aku bergumam. Tidak menjawab.
"Entahlah… rasanya aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Lain kali mungkin akan ku ajak dia ke sini dan kita bertiga minum-minum."
"Tidak masalah bagiku."
"Dia masih normal. Tapi sebagian dia seperti hantu."
"Aku bisa membayangkan."
Sampai akhir aku masih tidak tahu misi terakhir Tenko yang membawa kami bertemu malam ini. Tapi aku berpikir, mungkin akan mencari sendiri. lagipula kasus anak ini dan Lemiliion sekarang yang membuatku tertarik.
