Aku pertama kali bertemu Izumi Kouta setelah pulang dari Amerika. Usiaku 17 waktu itu dan Kouta baru berusia 8 tahun. Kejadiannya tak selang beberapa bulan setelah perseteruan ku dengan suatu penduduk kota yang menyebut diri mereka Meta Army. Aku saat itu tengah menghabiskan waktu malam di Nagoya, mendatangi kafe kopi acak yang direkomendasikan google maps dan beruntung pilihan yang kuambil tidak buruk. Espresso diracik enak dan view kafe itu tidak buruk. Jendela luas yang menyorot deretan gedung-gedung lima lantai di distrik Atsuta. Kegemaranku menikmati kopi sambil sesekali melempar tatapan gemerlap kepadatan kota.
Duduk sendirian dengan ditemani dua buku detektif karya Agatha Christie, novel di era sebelum Quirk yang sulit di dapatkan di masa sekarang. Di Amerika aku berkenalan dengan beberapa anggota komunitas buku dan mereka merekomendasikan beberapa buku-buku tua. Tidak buruk. Bisa menjadi selingan di banyak bacaan soal Quirk dan pahlawan dan soal novel detektif ini kebetulan aku suka. Khususnya aku menyukai kasus-kasus yang ditangani Hercules Poirot
Karena bukan akhir pekan, kafe tidak begitu ramai. Selain aku, ada dua perempuan paru baya yang kelihatan baru selesai bekerja. Ada seorang mahasiswa yang sibuk dengan layar laptopnya sampai jarang menyentuh cangkir kopinya. Aku dan bukuku sudah disini hampir tiga jam dan kopi yang kupesan itu yang kedua.
Barista kafe seorang gadis yang kelihatan baru saja diterima di sini dan mungkin sedang magang. Dia kurang cekatan, tapi berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi terbaik. Aku memberi tip dan dia memberi cookies. Pertukaran yang menarik. Aku keluar dengan suasana hati baru.
Tadinya aku dan Tenko sudah janjian untuk pergi mencari makanan di beberapa Izakaya. Aku sudah membuat daftar, tapi kecerobohan ku tidak mengecek pesan yang mengabarkan kalau saudaraku itu tidak sedang di Nagoya. Ada urusan dan dia baru selesai tiga hari lagi.
Aku tidak keberatan. Malah mungkin terjadi suatu hal menarik tak terduga. Aku memesan hotel yang tidak begitu mahal tapi cukup untuk kenyamanan ku. Menikmati Nagoya dengan berjalan-jalan sendiri. Berpapasan dengan hero berpatroli dan melempar dua kata kalimat untuk sekedar basa-basi. Tentu aku akan selalu mencari soal Quirk mereka dan hampir tanpa keraguan para hero membongkar rahasia. Andai mereka tahu aku bisa dengan mudah mencuri harta benda berharga kalian…
Mungkin tidak bisa bertemu Tenko karena lusa aku harus bertemu Hawks membahas penempatan ku di agensinya. Hari terakhir di Nagoya aku memutuskan untuk berbelanja.
Puas melepas energi di gym aku mengambil rute ke selatan hingga sampai Kasadera street. Dari sana aku berbelok dan langsung menemukan Mall tepat di samping deler mobil Honda. Itu mungkin bukan mall terbesar di kawasan, tapi banyak kedai beraneka jenis membuatku memilih tempat ini. Aku hanya membeli beberapa potong pakaian yang keperluan di Fukuoka, beberapa cemilan dan sisanya menikmati kopi sambil melanjutkan membaca novel.
Perjalanan kembali ke hotel aku harus menaiki kereta dari stasiun Kasadera. Aku sengaja masuk ke gang-gang yang aku pilih asal-asalan. Beberapa aku menemukan bar bawah tanah dengan tampang para penjaga seperti preman. Ketika melewati tempat itu, aku cukup banyak mendapatkan tatapan curiga. Tapi aku belajar, kalau aku menunjukkan rasa takut mereka menang. Jadi aku santai seolah aku sudah sering melewati gang-gang itu.
Aku tidak khawatir Villain, bukan karena kemampuanku. Minami Ward termasuk daerah dengan tingkat kriminalitas rendah. Pahlawan disini kebanyakan pemula tapi bisa diandalkan. Newbie dengan tingkat kenaifan yang muda dipelintir, aku meminjam itu dari Tenko.
Tanpa tujuan, hanya sekedar membuang waktu sebelum sampai ke stasiun, pendengaran ku menangkap bunyi sesuatu yang membentur. Dalam aturan gang, itu pertanda sebuah perkelahian.
Mungkin sekali lagi juga karena hanya ingin membuang waktu, aku menuju sumber bunyi. Hanya ingin tahu apa yang terjadi dan mungkin ada beberapa Quirk yang bisa aku pelajari. Bukan menemukan dua pria atau lebih saling mengadu siapa yang paling kuat, yang aku lihat adalah pria berotot besar sedang meluapkan segala emosinya ke tubuh pria kecil yang kelihatannya sudah nyaris mati. Aku bersembunyi memakai lower untuk menekan diriku ke titik seperti hantu. Mereka tidak akan menyadari aku sedang mengintip. Dan sekali lihat bisa tahu itu bukan tubuh pria kecil. Itu tubuh anak kecil.
Pria itu kelihatannya sudah selesai dengan apa yang menurutnya pantas dan aku menunggu sampai keberadaan pria itu menjauh.
Memastikan kondisi aman, barulah aku masuk arena.
Semakin aku melihat kondisi anak laki-laki itu bisa kutebak pria itu sengaja tidak membunuhnya langsung. Dengan Quirk yang aku pikir semacam augmentasi otot, dia dengan muda bisa menghabisi anak sekecil ini. Kecuali laki-laki bajingan tadi lebih kejam dengan memberikan kematian perlahan-lahan
Tidak ada tanda-tanda penyembuhan atau regenerasi. Kondisi kepala berlumuran darah dan napas terputus-putus nyawanya hanya seujung tanduk jika tidak mendapat pertolongan cepat.
"Kasihan, kau nak," ucapku sambil meraba emosi yang kurasakan dari anak itu. beberapa lemah, tapi yang paling kuat membuatku terkejut.
Balas dendam. Balas dendam. Balas dendam. Balas dendam. Balas dendam. Balas dendam.
Begitu kuat sampai aku hanyut untuk beberapa saat.
"Laki-laki itu pasti melakukan sesuatu padamu sampai kau bisa berani melakukan tindakan semacam itu."
Kedamaian mungkin benar-benar terjadi dengan tingkat kejahatan dibawah 5%. Tapi simbol All Might tetap tidak akan bisa benar-benar membasmi akar dari kejahatan itu bermula.
"Tapi, dengan kondisi mu sekarang mungkin sudah terlambat. Tentu saja kamu bisa menyerahkan masalah pria itu pada polisi dan biarkan hukum memenjarakan laki-laki itu."
Tubuhnya mungkin menunjukkan kenyataan umur anak itu segara berakhir. Tapi emosi dalam hati anak itu semakin bergemuruh.
"Aku bisa membantu memberimu kekuatan. Bukan sembarang kekuatan dan aku jamin kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau dari laki-laki itu. Tapi dunia ini adil, tidak ada yang instan. Meski kamu mendapatkannya cuma-cuma, ada harga yang harus dibayar selanjutnya."
Aku membungkuk, menjulurkan tanganku untuk menyapu helai rambutnya agar bisa dengan jelas melihat wajahnya. Matanya buram, separuh kesadarannya sudah hilang apa yang tersisa dari anak itu hanyalah emosinya untuk terus bertahan. Aku tidak punya Quirk yang bisa benar-benar membaca isi pikiran atau mengintip memori seseorang, hanya merasakan emosi dan jika diperlukan, aku bisa mempengaruhi tindakan seseorang bila emosi itu aku pelintir. Pandanganku kini hanya tertuju pada anak yang hampir mati itu. sedikit memberi waktu sampai aku yakin tidak melakukan kesalahan.
"Kau bisa jadi monster sekuat All Might, tapi kau juga bisa benar-benar jadi monster dan kehilangan jati dirimu sebagai manusia."
Tidak ada jawaban. Tentu saja. Aku perlahan bangkit masih terus memusatkan pandanganku ke tubuh anak itu. lalu aku menutup mataku perlahan dan beberapa saat kemudian aku menghela napas. Kuambil ponsel dari saku celana kananku dan tidak perlu lama aku menelpon kontak pria yang bisa ku percayai untuk tugas ini.
"Ethan? Malam ini persiapkan laboratorium. Ada paket spesial yang mesti kamu perbaiki."
Noumu adalah hasil apa yang ayahku dan Dokter Garaki ciptakan untuk menjawab seberapa jauh manusia bisa merekayasa Quirk. Kacamata orang awam melihat itu sebagai bentuk pelanggaran, kebiadaban dan perbuatan iblis. Kacamata sains melihat itu sebagai terobosan, cabang baru yang perlu diuji dan pastinya teori kalau kita masih belum tahu apa-apa soal Quirk. Aku sendiri cukup muda untuk tahu apa itu Noumu dan dari situlah aku belajar harus seperti apa menggunakan salah satu warisan ayahku satu itu.
