seluruh tokoh milik keluarga dan agensi. tidak ada keuntungan apa pun yang didapat. dibuat hanya untuk senang-senang.
warning; boys love
selamat membaca.
.
[ i'll write up the stars, the night you're lonely ]
by
Dianzu
.
Adakalanya, Mark dan Jeno bercakap-cakap ria di bawah kerlipan bintang.
Tidak hanya bercakap-cakap, mereka tertawa, melempar senyum satu sama lain, atau terkadang hanya saling menatap dari balik lensa yang berbinar. Mark tidak berkedip barang sedetik ketika melihat wajah pemuda berkulit putih di hadapannya; cantik, cantik sekali, hingga tak mampu membuat pemuda berwajah blasteran itu enggan berpaling ke lain arah. Apalagi melihat tahi lalat kecil yang menempel indah di bawah matanya.
Ah, mata itu—seakan jiplakan bulan sabit yang selalu menjuntai indah di langit malam.
Jeno pun tak kalah terkagum-kagum dengan sosok pria berahang keras yang tengah asyik menatap ke atas bintang—entah melihat betulan atau tidak, karena sebenarnya Jeno menyadari jika mata legam itu selalu saja melirik ke arahnya. Bukan, bukannya Jeno terlalu percaya diri, tapi memang pada kenyataannya seperti itu. Mark Lee selalu mencuri-curi pandang padanya.
Mark dan Jeno pertama kali bertemu di kursi panjang dekat tepian danau. Jeno yang selalu memberikan makan para angsa, dan Mark yang diam-diam memerhatikan dari kejauhan. Tidak ada yang spesial, keduanya hanya saling melemparkan senyum—lalu duduk bersebelahan. Bibir keduanya sama-sama bungkam; tidak ada percakapan apa pun yang menghiasi awal pertemuan mereka. Hanya embusan napas disertai kencangnya angin yang mulai melalang-buana.
Hari-hari berikutnya, Mark akan datang kembali ke tepian danau—setiap pulang sekolah, bahkan terkadang hampir larut malam ia baru akan kembali ke rumah. Pria Kanada itu hanya ingin melihat para angsa yang selalu mengerumuni sosok pemuda cantik yang kulitnya seputih salju; seindah poselen; bahkan melebihi ukiran termahal sekali pun. Matanya akan melengkung ketika senyumannya mengembang—menyadarkan Mark jika bulan sabit pun dapat dilihat ketika sore hari.
Tak perlu menunggu malam untuk melihatnya, hanya perlu berlarian ke arah tepi danau di sore hari—Mark sudah bisa menatap indahnya bulan sabit lebih dekat.
Kini keduanya hanya saling diam membatu; menatap ke arah langit yang sudah menggelap. Menatap beberapa bintang yang memberikan cahaya hingga pantulannya terlihat pada genangan danau. Para angsa bahkan sudah pulang ke rumahnya masing-masing; tidak lagi berenang dengan bebasnya—membiarkan Mark dan Jeno menghabiskan waktu berdua dalam malam.
Satu bintang, dua bintang, tiga bintang; Jeno seakan sedang menghitung apa saja yang kini terlihat bergelantungan indah di atas langit. Bulan menjadi pemimpinnya, tapi kerlipan yang lebih kecil mengambil atensi sang pemuda cantik sejak tadi.
Pria berparas bule diam-diam mengamati; melihat pergerakan yang dilakukan Jeno berulang-ulang. Alis matanya berkerut sedikit ketika tahu jika si cantik tengah menghitung ribuan bintang yang ada di langit.
Untuk apa Jeno menghitungnya? Apa untuk melihat keindahannya?
.
"Jeno."
"Iya?"
"Apa yang kamu lakukan?"
Jeno tersenyum manis, "Menghitung bintang."
Mark terlihat sedikit bingung, "Untuk apa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin menghitungnya. Mereka semua teman-temanku—yang selalu menemaniku ketika malam tiba. Jadi, aku tidak akan pernah merasa kesepian."
Jeno menjelaskannya secara panjang-lebar, Mark kembali menatap ke atas langit.
Pria Kanada itu kembali menatap ke arah Jeno—kali ini lebih dalam.
"Aku akan menuliskan sesuatu pada bintang."
Jeno menoleh, "Menuliskan apa?"
Mark melontarkan senyum—yang terlihat berkali-kali lipat tampannya di mata Jeno.
"Kepada bintang; tolong jaga Lee Jeno untukku—temani dia ketika aku sedang tidak ada di sisinya pada malam hari."
.
Lantas Jeno tersipu malu—kedua pipinya memerah hebat akibat ucapan Mark. Kedua bibir tidak bisa untuk sekadar tidak tersenyum tipis. Mark semakin melebarkan senyumannya—semakin dalam menatap pemuda cantik yang tengah menundukkan wajah.
Tapi yang pasti; Mark benar-benar ingin menuliskan sesuatu pada bintang di langit;
;—untuk menjaga Jeno-nya.
.
the end
Cirebon, 24 Juni 2021 - 17:52 PM
