"UWAAAAAH! Om Balakung bawa apa?"

"Kak Duri, minggir! Aku juga mau lihat!"

"Sini, Solar!"

Sepasang anak kembar memandangi wadah bundar dari porselen itu dengan sorot berbinar-binar. Ketika tutup wadah itu dibuka, tampaklah seonggok warna cerah dan segera menguar aroma yang menyenangkan bagi indera penciuman.

"Waaaah, wangi!" pekik anak berbaju hijau sambil menghirup napas dalam-dalam.

"Ini apa, Om?" tanya anak berbaju kelabu, mengamati potongan tumbuhan kering di dalam wadah itu.

"Ini ... potpourri," sahut pria bongsor yang berjongkok di depan kedua anak itu.

"Pot ... apa tadi?"

"Uh, Solar, namanya susah banget ..."

"Pot-pour-ri. Tumbuhan-tumbuhan kering yang dicampur untuk dijadikan pewangi ruangan."

Anak bermata hijau terbelalak.

"Tumbuhan kering? Ja-jadi, tumbuhannya sudah mati, dong?"

"Eh, Kak Duri ..."

"Huweeee!"

.

.

.

.

.

Disclaimer:

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Alternate Universe, current COVID-19 pandemic situation

Boboiboy's Elemental Twin (Duri & Solar), no super powers

Location, culture & religion alteration from the original story

.

Cover Art by: Asha_Cyclone

.

.

.

.

.

Beloved Potpourri (c) Roux Marlet

-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-

Trigger warning: gross stuff

.

.

.

.

.

"Kita belum bisa senang dulu. Justru di tahap selanjutnya, kita masih harus membuktikan keamanan dan efektivitas vaksinnya. Uji praklinis sudah hampir selesai, paling cepat dalam minggu ini kita bisa mulai percepatan uji klinis. Baiklah! Cukup itu saja untuk hari ini."

Semua orang bubar begitu sang ketua tim, seorang pria berumur empat puluhan berambut pirang, menyudahi pengumumannya pada akhir shift malam.

Bekerja dari pagi sampai pagi lagi, akhir-akhir ini Solar sering mengalaminya. Penduduk Bumi sedang diteror oleh sebuah virus yang namanya serupa mahkota dan sekarang perusahaan farmasi di seluruh dunia berlomba-lomba mencipta vaksin, termasuk industri tempat Solar bekerja sekarang. Pandemi sudah hampir setahun lamanya sejak pertama kali diumumkan di Wuhan, Tiongkok. Vaksin harus siap akhir tahun ini dan Solar yang berusia dua puluh lima tahun termasuk salah satu ketua proyek yang bertugas mengontrol kualitas penyimpanan bahan.

"Kita semua tahu, vaksin itu cold-chain product. Penyimpanannya di suhu dingin sangat krusial, begitu pula sepanjang proses penemuan dan penelitiannya. Karena itu, divisi kita harus selalu siaga."

"Iya, Solar. Kau sudah mengulangi itu tiap hari dalam sebulan terakhir," gerutu kawan satu divisinya. "Hei, ngomong-ngomong, sebentar lagi Halloween dan semoga saja kita masih bisa pesta kecil. Tentu saja, protokol kesehatan bakal sangat ketat. Herr Jaeger dan Frau Muller tadi bilang mau membahasnya sambil sarapan. Solar mau ikut?"

Benar juga, sebentar lagi bulan Oktober akan berakhir. Solar meraih ranselnya, lalu memijat dahinya sambil menghela napas. "Maaf, Zimmer, aku mau langsung pulang."

"Oh, oke, deh. Semangat, Ketua Proyek."

Pemuda berkacamata itu tersenyum sekilas di balik maskernya, kemudian masuk ke lift seorang diri. Begitu sampai di lantai dasar, dia segera memacu langkahnya menuju halte terdekat untuk naik trem yang biasa.

Sambil menunggu kedatangan kendaraan umum itu, Solar membuka ponselnya dan mengecek sebuah aplikasi.

Belum ada yang berubah, membuat pemuda itu menghela napas sekali lagi. Dia mendongak, menatap langit pagi hari yang dihias cerahnya matahari di musim gugur. Melihat trem yang sudah muncul di ujung jalan, Solar menghirup napas dalam-dalam. Dia masih bisa menikmati segarnya aroma tumbuh-tumbuhan di sekitar meski setengah terhalangi masker.

Trem itu berhenti sebentar, kemudian meninggalkan halte dalam keadaan kosong. Pikiran Solar melayang sepanjang perjalanan menuju rumahnya di ujung selatan Berlin.

.

.

.

.

.

"Guten Morgen! Selamat pagi, Kak Duri! Hari ini mentarinya cerah sekali."

Tirai-tirai jendela dan tingkap-tingkap atap dibuka, cahaya matahari menyelinap masuk dari balik kaca. Seperti biasanya, tak ada celotehan sebagai balasan. Yang ada hanyalah bunyi monoton dari monitor rekam jantung. Solar mendekat dan mengecek aliran selang infus yang melekat. Semua perangkat yang ada di sana terhubung ke sebuah mini-PC yang aplikasinya bisa dilihat Solar pada ponselnya. Senyum sendu tercetak di wajah yang serupa dengan sosok yang terbaring di ranjang itu selagi kehangatan surya pagi hari menyusup ke balik kulit.

"Sebentar lagi Halloween, Kak. Teman-temanku kayaknya mau pesta kostum akhir bulan nanti. Kak Duri masih ingat, dulu kita pakai selimut buat jadi hantu dan keliling main trick or treat? Mana selimutnya ternyata pernah dipipisi kucing, pula. Hahaha."

Tak ada balas yang menanggap. Solar seperti bicara kepada angin, karena lawan bicaranya tengah berada pada status koma.

Kakak kembar Solar, Duri, sudah seperti itu selama lima belas tahun terakhir.

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Duri yang berumur sembilan tahun masih memandangi pot porselen hadiah Om Balakung di ruang tamu itu lekat-lekat. Benar juga. Tumbuhan yang wangi, kalau diawetkan dengan cara yang tepat, justru bisa jadi pengharum ruangan. Duri tak akan bosan-bosan membersihkan ruang tamu kalau begini caranya! Dia sesekali akan mengintip isi pot itu dan mengagumi kelopak mawarnya, atau irisan jeruknya, atau daun mint-nya, yang semuanya dikeringkan dan dicampur dengan bahan tertentu yang menjaga keharumannya. Selain pemandangan yang menarik, aromanya memang membuai hidung yang bahkan masih bisa tercium dari ambang pintu dapur.

Sebuah suara keras dari ruang makan menyentakkan Duri dari lamunannya siang itu. Itu suara yang sangat dikenalnya ... detik berikutnya, sesosok anak laki-laki menghambur keluar, menuju ke arahnya.

"Solar ...?"

Anak berkaus putih yang dipanggilnya tak menoleh sama sekali dan menghilang lewat pintu depan, tapi Duri bisa melihat bahwa air matanya berlinangan. Anak berbaju hijau itu segera mengejar. Ditemukannya Solar berjongkok di pojok kebun, memunggunginya dengan badan berguncang-guncang.

"Solar kenapa ...?" tanya Duri pelan-pelan sesudah cukup dekat.

"Huuhuu ... Kak Duri ... huweee." Solar berbalik dan memeluk kakak kembarnya.

"Cup, cup ... Solar jangan nangis," gumam Duri yang juga belum paham duduk perkaranya.

"Hiks, hiks. Tadi Hans merebut jatah rotiku, Kak. Aku jadi nggak punya makan siang."

Mata hijau Duri melebar, lalu dirogohnya saku celana. "Umm. Jatahku tadi belum kumakan. Solar makan rotiku aja."

Solar mendelik. "Nggak mau! Nanti Kak Duri makan apa?"

"Ehe. Melihat Solar kenyang, itu udah bikin aku kenyang, kok," sahut Duri dengan cengiran polos.

"Ish, mana ada! Kalau gitu, kita bagi dua aja rotinya!"

"Ya ... boleh, deh, kalau Solar maunya gitu."

Roti bundar yang dibagi Duri, tidak berhasil dibagi tepat separuh. Diam-diam diberikannya potongan yang lebih besar buat si adik yang tak menyadarinya saking masih kesal terhadap Hans.

"Mentwang-mentwang ... badannyaw besawr! Huh! Memangnyaw kita semwa di sini nggak sedang di masa pwertumbuhan?!" gerutu Solar sambil mengunyah bagiannya.

"Ehehe. Iya. Solar, 'kan, suka baca buku. Kamu pasti butuh bahan bakar lebih banyak dari yang lain!"

Solar sudah selesai menelan rotinya. "Hmm. Nggak gitu juga, dong. Kak Duri suka mengurus kebun. Kamu juga butuh bahan bakar yang banyak."

Duri tersenyum lebar. "Habis ini, ayo kita ke kebun di samping situ, Solar. Ada banyak bahan bakar di sana ..."

"Haaah?"

'Bahan bakar' yang dimaksud Duri tersimpan di rimbunan semak liar. Solar terpekik kecil melihat tangan kakaknya menggasak semak yang tampaknya penuh duri itu, tapi kemudian Duri nyengir makin lebar sambil mengulurkan tangannya yang terkepal.

"I-ini apa ...?"

"Coba Solar cicipi! Manis, kok!"

Butiran-butiran berwarna merah dan biru yang lebih kecil dari kancing baju itu pun berpindah ke tangan lalu mulut Solar. Sang adik melotot.

"Iya! Manis!"

Duri pun tersenyum sama manisnya. "Namanya buah berry! Tumbuh liar di sebelah sini, bisa untuk mengisi perut yang lapar, hehehe."

Solar sampai menangis saking nikmatnya buah kecil-kecil itu, jika dibandingkan dengan roti kering dan hambar yang jadi menu mereka sehari-hari. "Kak Duri ... makasih."

Duri memeluk adiknya yang kurus itu erat-erat. "Kalau Solar lapar, kamu bisa ke sini dan petik sendiri. Jangan bilang-bilang Hans, ya! Nanti habis semua semak ini dimakan dia."

Solar terkekeh geli mendengarnya, balas memeluk sang kakak yang sama kurusnya. Tiba-tiba, di benaknya terbersit sesuatu.

"Kak Duri ... lain kali buahnya dicuci atau dilap dulu, ya. Nanti kalau sakit perut, gimana?"

"Ehehe ... biasanya karena saking lapar, langsung kumakan aja."

"Ish, Kak Duri! Kalau kamu nemu yang buahnya beracun dan jadi sakit, gimana?"

"Nggak, nggak akan. Aku, 'kan, kuat! Ehehe."

.

.

.

.

.

"Mama Bertha! Kapan Om Balakung main ke sini lagi?" Malam itu, Duri melompat-lompat di depan seorang wanita bersanggul yang sedang merajut.

"Iya, kapan Om Balakung ke sini lagi?" Solar membeo.

"Sabar, ya, kalian. Beliau orang sibuk. Ada perlu apa?"

"Duri mau belajar bikin potpourri!"

"Potpourri?" ulang wanita yang dipanggil Mama Bertha itu.

"Itu, pot bunga-bunga kering yang dipajang di ruang tamu itu, Ma," sahut Solar.

"Oh, iya. Wanginya enak, ya."

"Iya, Ma! Duri juga pengin bisa bikin sendiri! Om Balakung bilang, wanginya bisa awet sampai dua puluhan tahun lagi!"

"Wow, selama itu?" Mama Bertha meletakkan rajutannya dan membelai kepala dua anak kembar itu.

"Betul, Ma. Solar sudah baca di buku-buku. Kira-kira dua puluhan tahun lagi, aku dan Kak Duri sudah jadi apa, ya?"

"Duri mau jadi pembuat potpourri!" sorak sang kakak.

"Solar jadi salesman-nya, kalau gitu!" balas sang adik.

"Eeeh. Memangnya kamu bisa jualan, Solar?"

"Ish, bisa, lah! Apalagi, dengan muka imut begini, pasti banyak yang mau beli!"

Mama Bertha terkekeh. "Coba besok Mama telepon, ya. Om Balakung juga selalu senang ketemu kalian berdua. Nah, kalian ke kamar, sana! Jangan lupa sikat gigi, cuci kaki, dan berdoa sebelum tidur!"

"Oke, Mama!"

"Selamat tidur, Mama!"

Sepasang kembar itu pun berlalu dengan riang. Mama Bertha menatap sayu. Ada manusia tega yang demikian keji membuang sepasang kembar yang manis ini di depan pintunya sembilan tahun yang lalu ...

.

.

.

.

.

Panti Asuhan Kinderheim 133 bukan rumah yang besar. Dengan bangunan dua lantai berukuran sedang dari batu bata, terdapat banyak sekali kamar dan ruang gerak, namun menampung hampir seratus orang anak yatim-piatu dengan hanya kurang dari sepuluh orang pengurus bukanlah sesuatu yang ideal. Terlebih, anak-anak ini diduga berasal dari red light district di sekitar Berlin yang, di masa awal berdirinya panti itu, masih terpecah menjadi barat dan timur. Area hiburan yang tak sehat itu selalu membawa polemik tentang kehadiran anak-anak yang tak diinginkan, apalagi karena Jerman baru saja bersatu kembali setelah Perang Dingin puluhan tahun.

Anak-anak dari berbagai suku bangsa bernaung dalam rumah itu. Sebagian besar memang ras Kaukasia, segelintir lagi orang Asia, termasuk Duri dan Solar. Semua anak itu sama-sama tak punya orang tua. Bertha dan para pengurus, serta beberapa donatur murah hati seperti Balakung, menjadi sosok pengganti orang tua bagi mereka. Begitu pun, memberi makan ratusan perut kelaparan yang semuanya masih dalam masa pertumbuhan, bukanlah perkara mudah.

Mereka selalu diajari oleh Pastor di gereja untuk saling berbagi. Mirisnya, baru saja pulang dari gereja, selalu ada yang langsung berebut makanan. Anak-anak laki-laki yang badannya lebih besar dari yang lain biasanya berhasil mendapat makanan terbanyak, membuat teman-temannya menangis dan hanya bisa gigit jari. Pengurus panti kadang tidak bisa memberikan makanan lebih dari yang bisa disediakan di atas meja, dan menghukum anak yang nakal sampai jera lebih sulit daripada menepuk nyamuk.

Duri dan Solar masih menyimpan rahasia berdua saja: ada makanan lain di semak-semak belakang panti!

Semua anak di panti itu disekolahkan di beberapa sekolah yang tersebar di Berlin, di sekolah-sekolah milik negara yang biayanya murah. Beberapa buku sumbangan para donatur juga memeriahkan sebuah rak buku sederhana di pojok ruang tamu.

Sejak pernah membaca ensiklopedia tanaman, Duri berminat pada tumbuh-tumbuhan. Solar juga suka berjemur di bawah matahari, menggelar tikar lalu membaca buku sambil menemani kakaknya mengurus kebun. Solar tahu dari buku bahwa ada yang namanya Provitamin D pada kulit manusia dan baru akan aktif sebagai Vitamin D kalau terkena ultraviolet dari sinar matahari.

"Vitamin D itu bagus buat tulang dan pertumbuhan!" terang Solar pada kakaknya, suatu hari di kebun. "Vitamin D disebut juga Sunshine Vitamin!"

"Sunshine? Kayak Solar, dong! Ehehe."

"Eeeh? Kok, bisa?"

"Iya! Kalau Solar tersenyum, hatiku jadi cerah kayak disinari matahari!"

Lagi-lagi, Duri dipeluk oleh sang adik. "Solar sayang Kakak!"

"Um! Duri juga sayang Solar!"

.

.

.

.

.

"Solar, yuk, kita cari bahan buat potpourri!"

"Eh? Ke mana, Kak?"

"Kamu lihat, di sebelah sana, barisan pohonnya rapat. Kalau di hutan lebat gitu, biasanya banyak tumbuhan yang unik!"

"Ayo, Kak! Eh, udah bilang Mama Bertha?"

"Udah, barusan. Mama bilang, hati-hati dan jangan lama-lama. Yuk, buruan. Kita harus kembali sebelum makan siang atau Hans bakalan makan jatah kita!"

Bergandengan tangan, sepasang kembar itu melangkah menjauhi tenda-tenda yang digelar. Pengurus panti baru saja mendapat donasi besar dan berinisiatif mengajak anak-anak liburan dengan berkemah ke Heidelberg, kawasan dekat Hutan Hitam Jerman, Black Forest alias Schwarzwald, yang kabarnya dipakai sebagai latar dongeng-dongeng tenar Grimm bersaudara itu.

"Kak Duri, beneran, lho. Jangan jauh-jauh masuk hutan. Nanti kesasar kayak Hansel dan Gretel, gimana?" Solar, yang teringat salah satu dongeng Grimm bersaudara, mendongak dan mencoba mencari cahaya matahari di balik kanopi serbahijau yang menjulang di atas kepala. Remang-remang, hanya sedikit cahaya yang bisa menembus masuk. Solar yang berumur sepuluh tahun merasakan firasat tak enak. Ada yang bilang bahwa hutan ini mistis, seperti nuansa yang dihadirkan penulis dongeng bersaudara itu dalam cerita mereka.

"Iya, Solar. Sebentar aja kita di sekitar sini. Lihat itu! Daunnya cantik banget!"

Duri berjongkok di depan serumpun dedaunan dan meraup seberkas dengan tangannya.

"Wah, daun ini punya bunga putih dan buah kuning kecil-kecil! Lucunya!"

"Eh, Kak Duri, kotor ..."

Duri sudah melahap benda di tangannya lalu mengunyahnya. Detik berikutnya, dia meludah.

"Huweeek! Bentuk dan warnanya lucu, tapi rasanya pahit!"

"Makanya, jangan sembarangan dimakan, Kak!" omel Solar. Perasaan tak enak di hatinya makin menjadi. "Udah, yuk, kita kembali aja."

"Sebentar, barangkali bisa jadi bahan potpourri." Duri masih berjongkok dan memetik beberapa helai daun beserta bunganya.

"Katanya pahit? Mana mungkin bisa wangi kalau—" Solar melotot ketika Duri tiba-tiba berguling di tanah, tubuhnya mendadak kaku dan terhentak-hentak di luar kendali.

"KAK DURIIII!"

.

.

.

.

.

"Duri keracunan?"

"Menurut cerita Solar, Duri tadi makan bunga dan buah ini."

Pria botak berjas putih di hadapan Mama Bertha menggeleng dengan sedih sambil menatap potongan tanaman yang dimaksud.

"Ini Strychnos nux-vomica ...," gumam sang dokter, "tanaman cantik yang mematikan. Mengandung racun Strychnine dalam bijinya. Biasanya dipakai sebagai pestisida, tapi, kalau termakan manusia, efeknya kejang-kejang ... termasuk di otot pernapasan ... dan, kalau demikian, orang bisa meninggal kehabisan napas."

Mama Bertha tak kuasa menahan tangis.

"Pernapasan Duri tertolong untuk saat ini. Namun, kita tidak tahu apakah kesadarannya masih bisa kembali atau tidak ..."

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Hidup Duri, si kembar yang lebih tua, berhenti di usianya yang baru sepuluh tahun, tapi tubuhnya terus bertumbuh dalam kesadaran berstatus koma. Balakung dan beberapa donatur lainnya mendukung perawatan Duri di rumah sakit.

Hidup Solar, si kembar yang lebih muda, berubah selamanya. Dia jadi penyendiri dan terus menghabiskan waktu untuk membaca buku sendirian, bahkan di waktu semua orang seharusnya sudah tidur. Solar sering memakai senter di balik selimut untuk membaca dalam gelap, membuatnya lambat laun memerlukan kacamata untuk mengatasi rabun jauh. Saat umurnya delapan belas tahun, dia mengejutkan Mama Bertha dengan pengumuman,

"Aku dapat beasiswa untuk kuliah farmasi."

Solar adalah anak pertama di Kinderheim 133 yang berhasil mendapatkan akses ke pendidikan tinggi. Semua merayakannya dengan penuh syukur dan haru. Empat tahun dijalaninya kuliah dan akhirnya Solar lulus dengan nilai memuaskan. Dia segera mendapat tawaran pekerjaan di sebuah industri farmasi yang sudah mendunia.

"Aku mau bawa Kak Duri tinggal di rumahku. Terima kasih untuk semuanya, Mama ..."

Begitu kata Solar pada ibu asuhnya, setelah setahun bekerja. Solar sudah punya rumah sendiri serta gaji tetap yang berlimpah dan masih dibaginya kepada rumah pertamanya. Dia tak mau anak-anak seperti dirinya kekurangan makanan dan tak bisa mengakses pendidikan yang layak.

Pekerjaan Solar sangatlah prestisius. Seluruh dunia tahu bahwa pabrik-pabrik obat paling bagus berada di Jerman. Dengan penghasilannya yang tidak sedikit dan pengembangan teknologi oleh otaknya yang cemerlang, Solar bisa merawat sendiri kakaknya di rumah. Ada selang infus khusus untuk cairan tubuh dan nutrisi, kateter untuk buang air, serta alat-alat perekam tanda vital yang bisa dipantau dari mana saja. Tak lupa dirancangnya bagian atap kamar Duri supaya bisa dibuka tingkapnya, agar sang kakak tetap mendapatkan cahaya matahari saat hari cerah.

Sejak peristiwa nahas di usia sepuluh tahun itu, Solar bertekad untuk mempelajari ilmu tentang racun dan obat. Keracunan strychnine saat ini belum ada penawarnya secara khusus. Barangkali penanganan yang kurang spesifik telah mengantarkan Duri ke ambang pintu kematian tapi tak cukup untuk mendorongnya benar-benar meninggal.

.

.

.

.

.

Siang itu, Solar, yang habis kerja lembur, terbangun dengan kaget. Rupanya dia ketiduran di tepi ranjang Duri dengan posisi tak mengenakkan, lehernya sakit dan tadi dia seperti tertindih sampai sesak napas.

Namun, yang lebih membuatnya sesak, barusan dia memimpikan sang kakak. Dalam mimpi itu, Duri masih terbujur tidur, namun tubuhnya tampak dirambati sesuatu dalam jumlah banyak.

Ketika Solar mencoba melihat lebih dekat, dia menyadari bahwa itu adalah sekumpulan belatung. Solar menjerit dalam tidur dan tersandung dalam usahanya menjauh. Dia malah jatuh ke atas Duri dan ikut dikerumuni makhluk-makhluk itu.

"Oh, ya, Tuhan ...," gumam Solar sambil menutup mulutnya. Mimpi barusan terasa sangat nyata sampai membuatnya mual. Ditatapnya lekat-lekat lengan kakaknya yang tidak terselubung kain dan tak ditemukannya seekor pun makhluk hidup. Solar lalu melempar pandangan ke atas meja di dekat dinding, di mana sebuah pot porselen berwarna hijau bertengger.

Itu adalah potpourri terakhir yang dibuatnya bersama Duri sebelum kecelakaan. Lima belas tahun sudah lewat dan aromanya masih harum. Sepertinya mereka akhirnya berhasil membuat campuran yang tepat, namun Duri sendiri malah tak bisa menikmati hasil karya mereka.

"Astaga, aku belum sarapan," keluh Solar saat tersadar bahwa matahari sudah ada di puncak kepala dan buru-buru menutup kembali tingkap atap. Hari sudah siang dan perutnya mual. Apakah karena asam lambungnya yang naik atau efek mimpi barusan, Solar tak begitu tahu. Seruan-seruan di ponsel yang dari tadi dibisukan menambah runyam pikirannya.

.

.

.

.

.

[Woke up this morning

Another brand new start

That' s our life

I jumped with every beat of my heart

When you came over

I could see something was wrong

It really isn't worth that you

Just get to keep moving alone]

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

"Sebentar lagi Halloween!"

"Apa itu?"

"Pesta kostum dan makan permen! Hahaha!"

Anak-anak Kinderheim 133 terdengar antusias menjelang tanggal 31 Oktober di tahun kesembilan Duri dan Solar tinggal di sana. Beberapa anak perempuan membuat sendiri kostum penyihir dari potongan kain milik Mama Bertha, sedangkan anak-anak laki-laki ada yang memakai ember bekas dan kardus untuk berkreasi.

"Kita jadi hantu selimut aja, Solar!"

"Hieeeh? Nggak keren, Kak Duri!"

"Habis, mau bikin apa lagi? Seluruh isi gudang sudah dipakai semua."

"Hmm, benar juga. Ayo, Kak. Kita bikin hantu selimut yang keren!"

Malam terakhir di bulan Oktober diisi oleh gelak tawa dan seruan-seruan trick or treat! dari rumah ke rumah. Solar, yang ikut terbawa suasana dan sudah mengisi kantong permennya sampai penuh, baru menyadari bahwa hantu selimut yang satu lagi sudah tak bersama rombongan.

"Kak Duri?"

Tidak ada yang menyahut selagi rombongan itu masih tertawa-tawa, pulang ke arah panti. Kostum yang serupa dengannya tak ada di pandangan.

"Kak Duri?"

Solar berbalik arah dan memanggil-manggil. Sejak kapan kakaknya itu berpisah dari yang lain? Hati Solar serasa mendung dan dengan cepat dilanda hujan badai. Air matanya membanjir tanpa bisa dibendung.

"HUUHUUU. KAK DURIIIII?!"

"Ya?"

Solar berhenti berlari dan menoleh dengan panik ke sebuah taman terbuka. Sosok hantu selimut yang dicarinya ada di sisi taman, sedang berjongkok dekat rerumputan.

"Kak Duri!" Solar menjerit, membuang selimutnya ke tanah, lalu menerjang kakaknya sampai jatuh. Selimut Duri juga terlepas dari badannya.

"Uuuh. Solar?"

"Kamu ngapain, Kak! Aku nyariin kamu!" Sang adik tak bisa menahan amarahnya.

"Aku ... tadi lihat di sini ada bunga yang cantik. Mau buat bahan bikin—"

"Potpourri!" sela Solar tak sabar, air matanya tumpah.

"Maaf, ya, Solar ...," gumam Duri dengan rasa bersalah, dipeluknya Solar yang sesenggukan heboh.

"Lain kali, kalau Kakak mau pergi, bilang-bilang dulu, dong!"

"Iya, iya ..."

"Kalau mau bikin potpourri lagi, kita cari bahannya sama-sama!"

"Iya, iya ..."

"Janji?" Solar menggembungkan pipinya, matanya memerah. Duri tak tahan untuk tidak mencubit pipi itu.

"Awww! Sakit, Kak!"

Duri tertawa. "Duri janji! Makasih Solar, udah nyariin Duri! Ayo, kita pulang sama-sama."

Waktu itu, ketika melihat lagi wajah Duri yang tertawa dan membuatnya mau tak mau ikut tertawa lega, Solar seolah sedang menyaksikan secercah cahaya matahari sehabis hujan badai.

.

.

.

.

.

[I'll be your sunshine after the rain

When the sky is turning grey

You know that I'm not far away]

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Solar tak mau, tak akan pernah mau, kehilangan Duri lagi seperti waktu itu. Duri adalah kakak kembarnya, satu-satunya keluarga di dunia.

Namun, ada masalah di tempat kerjanya, sehingga Solar harus kembali ke kantor hari itu juga dan tidak pulang sampai keesokan siangnya.

Pengatur pendingin di tempat penyimpanan produk perlu kalibrasi ulang karena suhunya menyimpang jauh, padahal saat dicek oleh tim Solar sebelum pulang tadi, masih baik-baik saja. Begitu ketemu akar masalahnya, Solar dan teman-temannya segera mengecek kondisi bahan yang disimpan.

"Aduh. Sepertinya beberapa rusak karena sempat kena suhu panas ..."

"Oh, tidak ..."

"Bagaimana bisa ini terjadi? Lihat, warnanya memang berubah. Pasti sempat panas."

"Oi. Kamu sungguh-sungguh sudah mengeceknya kemarin?"

"Hei, jadi kamu menuduhku yang teledor?"

"Sudah, jangan bertengkar," sela Solar yang juga mengernyit dalam-dalam. Dia masih kurang tidur dan sekarang harus menyelesaikan masalah yang mengancam kelanjutan proyek vaksin mereka. Kalau semua produk ini rusak, mereka harus mengulangi dari nol, dan Solar yang bertanggung jawab atas semua itu meskipun jika memang anak buahnya yang teledor. "Kita bagi tugas untuk mengecek."

"Zimmer, sih, masih kerja malah bahas pesta Halloween," cibir salah seorang dari mereka.

"Hei, sudah!" Solar agak menaikkan suaranya. "Kita semua perlu istirahat, jadi hemat energi kalian."

Seseorang bersin-bersin di ruangan itu. Solar mendelik dan membentaknya,

"Zimmer! Kamu pulang sana dan periksa ke dokter!"

.

.

.

.

.

Meski baru tiga tahun bekerja, Solar dengan cepat mendapat kepercayaan besar. Dia memang jenius dan cepat beradaptasi, punya ide-ide brilian dan dapat merealisasikan semuanya, yang tentu saja menambah maju perusahaan. Kariernya akan gemilang di perusahaan itu, apalagi kalau proyek vaksin COVID-19 untuk dunia ini berhasil.

Sekarang, hal itu terancam di depan matanya. Dia tidak berhasil menyelamatkan dua per tiga produk yang sensitif terhadap perubahan suhu itu. Divisinya dapat rapor merah di mata para atasan dan Solarlah yang mendapat teguran. Kerugian mereka ditaksir mencapai miliaran.

Siang itu, Solar pulang ke rumah dengan lesu dan lelah. Lagi-lagi dia lupa makan. Dia membersihkan kakaknya sesuai rutinitas kemudian jatuh tertidur, lagi, di sisi ranjang Duri.

Solar bermimpi aneh lagi. Duri dan dirinya berada di pinggir Black Forest. Oh, tidak. Ini seperti kilas balik kejadian yang ingin dilupakannya. Namun, di dalam mimpi, sebelum mengunyah tanaman yang mematikan itu, Duri bicara pada Solar.

Apa?

Solar tak bisa mendengar apa pun dalam mimpi itu, meski dia bisa melihat mulut kakaknya bergerak-gerak. Memangnya waktu itu Duri bilang sesuatu padanya? Sebelum Solar bisa berbuat apa pun (dalam mimpi), wajah Duri ditumbuhi ulat lalu perlahan keropos dan rontok, seperti daun-daun yang hancur oleh angin kencang.

"Kak Duri!" Napas Solar tersentak, dia terbangun. Monitor jantung masih berbunyi monoton, tak ada pergerakan berarti dari sang kakak. Solar buru-buru lari ke kamar mandi, kali ini tak sanggup menahan rasa mual yang menjadi-jadi. Saat dia kembali ke kamar itu, Solar merasa ada yang hilang.

Oh, ya. Potpourri-nya di atas meja, entah kenapa sudah tidak wangi lagi. Apakah akhirnya benda itu kedaluwarsa juga setelah lima belas tahun? Solar gemetaran dan meraih ponselnya, mencari sebuah kontak.

.

.

.

.

.

"Halo, Kak Gempa?"

"Halo. Ini siapa, ya?"

"Solar, Kak. Masih ingat?"

"Oh, Solar! Masih, lah. Siapa anak yang paling rajin baca buku sebelum misa pagi kalau bukan kamu?"

Solar terkekeh singkat. "Kak Gempa apa kabar?"

"Baik. Kamu?"

"Kabarku ... kurang baik. Kak Duri masih belum bangun."

"Oh."

Gempa adalah salah satu penghuni senior di Kinderheim 133, dia lima tahun lebih tua dari Duri dan Solar. Dia masih ada di panti itu ketika Duri kecelakaan dan kini dia sudah bekerja sebagai seorang psikiater di Frankfurt. Menghubungi Gempa adalah pilihan yang baik dan Solar bahkan sudah menyiapkan sejumlah uang untuk konsultasi.

"Nggak usah bayar, Solar. Anggap saja kita ngobrol sebagai teman."

Solar ragu sejenak. Dari dulu Gempa memang baik hati. "Aku ... pekerjaanku sedang banyak masalah, Kak. Dan, akhir-akhir ini, aku mimpi aneh soal Kak Duri."

Gempa menyimak cerita Solar dalam diam. Dibiarkannya pemuda itu menyebutkan semua detail yang sudah diberi peringatan ("Kak Gempa nggak lagi makan, 'kan?") dan lima belas menit sudah berlalu saat cerita itu habis. Telinga dan ponsel Gempa terasa panas, tapi dia membalas Solar pelan-pelan,

"Kamu masih simpan potpourri yang dulu?"

"Masih, Kak. Oh, iya. Sampai kemarin, potpourri-nya masih wangi."

Gempa diam sebentar. "Hari ini nggak wangi?"

"Nggak. Wanginya sudah hilang. Tapi aku nggak mau membuangnya."

"Kenapa?"

"Aku pengin Kak Duri melihatnya kalau dia bangun nanti."

Kali ini, Gempa betul-betul speechless. Dikerjapkannya mata saat Solar juga tidak kunjung bicara lagi.

"Solar ... Duri sudah koma selama lima belas tahun."

"Aku percaya dia akan bangun suatu saat."

Gempa ingin sekali bilang bahwa kemungkinan itu sangat kecil. Para dokter yang merawat Duri dulu bilang begitu, Gempa sendiri yang belajar mengenai ilmu medis juga setuju. Namun, dia tak mau menambah buruk kondisi Solar saat ini.

"Kamu sulit tidur, nggak?" Gempa mengalihkan topik dari Duri.

"Nggak, Kak. Cuma mimpi aneh."

"Makan minum teratur?"

Jeda yang tercipta membuat Gempa merasa sedih. Solar menjawabnya dengan jujur,

"Err, akhir-akhir ini, kerjaan membuat pola makanku kacau."

"Ambillah cuti, Solar."

"Hah?" Solar melongo. "Mana bisa, Kak? Seluruh dunia membutuhkan vaksin ini!"

Gempa menghela napas, menangkap setitik nada histeris dalam kalimat terakhir. "Kalau nggak bisa cuti, aturlah istirahat dan makanmu. Mimpi aneh itu mungkin karena kamu kelelahan. Badan yang nggak sehat bikin pikiran melantur juga."

Solar terdiam. Gempa ada benarnya, sih.

"Atau, kamu lebih suka kuresepkan obat?"

"Nggak, nggak usah. Oke, akan kucoba saran Kak Gempa. Terima kasih, Kak."

.

.

.

.

.

[There've been some good times

And it's even been some sad

But we always somehow managed

To get something good

Out of the bad]

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

"Zimmer positif COVID-19?!" Solar melotot lebar-lebar ketika tiba di kantor pagi itu. Dia terbatuk singkat di balik masker, tenggorokannya sendiri terasa nyeri sejak semalam dan pagi ini dia agak pilek.

"Hei, Solar. Kamu juga bergejala!" Rekan satu timnya beranjak menjauh dari kubikel. "Sebaiknya kamu juga periksa. Dua hari yang lalu, 'kan, kamu satu shift sama Zimmer?"

Solar cukup yakin dia sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, tapi kondisi badannya memang tidak prima, jadi akhirnya dia memeriksakan diri dan menerima fakta bahwa hidung dan tenggorokannya harus disogok. Sakit karena disogok itu rasanya aneh dan membuatnya hampir muntah, untung bisa ditahan. Hari itu Solar absen kerja karena semua karyawan yang bergejala COVID-19 harus pulang segera setelah diambil sampel swab.

Sampai di rumah, Solar yang sudah membuka pintu kamar Duri meragu di ambangnya. Kalau Solar kena COVID-19, apakah merawat Duri seperti biasa akan berbahaya? Apakah COVID-19 bisa menular pada orang yang sedang koma? Dipandanginya pot porselen hijau di atas meja dan pikirannya yang melesat seketika membuatnya merasa lega. Mungkin Solar memang kena COVID-19, makanya dia tidak bisa mencium aroma wangi dari potpourri itu.

"Kak Duri ... semoga saja ini memang karena COVID-19, ya? Kamu juga, lekaslah bangun, biar kamu tahu betapa potpourri buatan kita ini masih wangi sampai sekarang."

Solar terkekeh seorang diri. Mana ada orang di masa ini yang berharap dirinya kena COVID-19? Dia mendekati ranjang dan memulai rutinitasnya membersihkan sang kakak, tapi lambat laun merasa lemas.

Oh, iya. Tadi pagi sepertinya Solar lupa sarapan lagi ...

.

.

.

.

.

[Remember - I'll always be there]

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Solar berjalan-jalan dengan langkah ringan. Di mana ini? Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan hijau dan angin yang sejuk. Solar merasa kacamatanya juga tidak sedang bertengger di depan hidung, namun segala bentuk tumbuh-tumbuhan terlihat jelas. Rasanya dia menyukai tempat ini.

"Solar!"

Si empunya nama menoleh. Siapa yang memanggil barusan? Sosok kehijauan itu berlari ke arahnya dari kejauhan dan dengan cepat menubruknya sampai terjengkal.

"Solar, Solar!" pekik si penubruk yang bajunya serbahijau.

"Kak ... Duri?" Mata kelabu Solar melebar.

"Iya, ini Duri!"

"Kak Duri?" ulang Solar tak percaya sambil mencoba duduk.

"Ish, kok, nggak percaya, sih?" Duri mencubit pipi adiknya, yang segera mengaduh. "Ini Duri! Seratus persen Duri yang asli! Hehehe."

"Kamu ..." Solar tak sanggup berkata-kata. Pemuda di hadapannya berwajah serupa dengannya dengan tinggi badan yang hampir sama, tapi jauh lebih kurus dan pucat. Namun, senyum itu ... senyum lebar secerah matahari, tak mungkin punya orang lain lagi.

"Kak Duri," panggil Solar sekali lagi, memastikan. Cubitan tadi sakit dan dia tidak terbangun. Jadi, ini bukan mimpi, ya?

"Ini mimpi, kok," seloroh Duri dengan sorot mata serius.

"Heh?"

"Aku dan Solar sama-sama sedang tidur. Mana mungkin bukan mimpi? Hehehe. Ayo, Solar. Kita jalan-jalan sebentar."

Solar masih bingung. Apa gejala COVID-19 salah satunya adalah halusinasi? Logikanya serasa tidak berfungsi di sini. Diikutinya Duri yang menggiringnya entah ke mana.

"Orang bilang, mimpi adalah bunga tidur," ujar Duri, buka suara sekali lagi. Suaranya mirip suara Solar sendiri, masih ada ciri khas cempreng yang kekanakan meski sudah dewasa. "Bunga itu, ada yang wangi dan ada yang enggak."

Solar teringat sesuatu. "Kak Duri, potpourri kita di rumah—"

"Iya, masih wangi, 'kan?"

Rupanya Duri bisa menciumnya juga selama koma? Solar tersenyum kecil.

"Kita akhirnya berhasil membuat potpourri juga, Kak."

"Iya! Hebat, ya? Hehehe."

Mereka berdua diam sejenak sambil masih berjalan. Hei, Solar rasanya kenal tempat ini.

"Black Forest?" gumam Solar, sekali lagi merasa takut melihat barisan pohon yang rapat dan familier. Dia tak mau mengenang tempat ini.

"Sebentar lagi Halloween, ya, Solar?" undang Duri sambil mengulurkan tangannya kepada sang adik. "Solar ingat, dulu Pastor pernah jelasin soal Halloween?"

Solar mengangguk. "Di malam Halloween, arwah orang-orang yang sudah meninggal 'bangkit' untuk melakukan perjalanan ..." Solar terbelalak. "Perjalanan ... menuju dunia setelah kematian."

"Dan setelah itu, ada perayaan untuk mendoakan orang-orang yang melakukan perjalanan itu," sambung Duri sambil tersenyum simpul.

Tangan Solar mendadak terasa dingin, begitu pula tangan Duri yang digenggamnya. Solar takut, sangat takut. Dia tak berani bicara apa-apa lagi sementara Duri membimbingnya masuk lebih jauh ke dalam hutan.

"Apa Solar tahu, kapan bunga mekar paling indah?"

Solar tak menjawabnya, hanya memandang sang kakak lekat-lekat, takut kalau Duri tiba-tiba menghilang.

"Um? Duri kasih tahu, deh ... hehehe." Duri berbalik dan balas memandangi sang adik. "Waktu bunga mekar paling indah itu ... sesaat sebelum dia gugur ke tanah."

Air mata Solar mulai merebak.

"Solar ... kamu sudah jadi orang hebat! Vaksinmu pasti bermanfaat untuk dunia! Jangan menyerah! Tapi, jangan lupa istirahat dan makan tepat waktu, ya! Kalau Solar sakit, Duri jadi sedih, nih ..."

Sosok Duri di depan mata Solar mengabur karena air mata.

"Sebetulnya, aku sudah berusaha ngomong ke Solar akhir-akhir ini ... tapi, karena kamu sedang banyak masalah, akhirnya kuputuskan untuk mengajakmu ke sini sekalian."

"Ap-apa maksudnya, Kak?" Suara Solar keluar dalam bisikan serak.

Duri berpaling sekali lagi dan menarik Solar lebih maju. Mereka kemudian berhenti di dekat serumpun tanaman yang familier dengan bunga putih dan buah oranye kecil-kecil.

"Strychnos nux-vomica ... uh, namanya susah juga. Solar hebat, bisa hapal nama ini di luar kepala."

Solar tidak mau mendekat, tubuhnya tegang seketika. Buat apa Duri mengajaknya melihat tanaman maut itu lagi?

"Solar belum ingat apa yang kubilang waktu itu di sini, ya?" Duri berjongkok sambil tersenyum ke arahnya. "Hmmm. Kita ini saudara kembar, meski nggak pernah tahu siapa orang tua kita. Kita selalu bareng-bareng sejak kecil. Solar ingat, kamu pernah marahin Duri waktu ngilang di malam Halloween dan setelah itu kamu minta ke Duri: kalau Duri mau pergi, harus bilang-bilang ke Solar dulu?"

Tentu saja Solar ingat.

Senyum Duri melebar. "Ini, Duri bilang."

Solar menggeleng sambil menelan ludah.

"Solar belum ikhlas Duri pergi?"

Gelengan Solar makin cepat. Dia ikut berjongkok di sisi sang kakak.

"Tapi, sudah waktunya Duri pergi."

"Kenapa, Kak?" Solar terisak.

"Sudah terlalu lama Duri di dunia. Seharusnya aku langsung pergi di umur sepuluh dulu."

Solar kehilangan kata-kata. Apakah itu artinya dirinya yang menahan Duri di dunia? Dia yang tak bisa merelakan kakaknya itu berpulang ke rumah Tuhan?

Duri menunjuk tanaman beracun itu. "Solar, jangan pernah nyalahin diri sendiri. Aku makan ini, lalu keracunan, semua salahku sendiri. Aku sudah lama ikhlas untuk pergi dari dunia, tapi ... aku takut, Solar nggak akan bisa melanjutkan hidup tanpaku. Mungkin aku egois, ya? Hehehe. Karena ternyata, Solar bisa, kok, menjalani hidup tanpa Duri. Malahan, Duri yang nggak mau pergi dari hidupnya Solar."

Air mata Solar membanjir ke tanah tanpa bisa dicegah. Direngkuhnya tubuh kurus itu, yang terasa solid dan hangat dalam dekapannya.

"Kalau Solar belum bisa ingat apa yang Duri bilang waktu itu, biar kuulangi sekarang."

Solar berharap waktu bisa berhenti selamanya. Dia ingin tetap di sini, di detik ini, bersama kakaknya. Namun, itu mustahil. Duri sudah berbicara,

"Kita nggak pernah tahu, berapa lama kita dikasih waktu di dunia. Ternyata Duri yang harus pergi lebih dulu ... jadi, jangan lupakan Duri, ya, Solar?"

Solar terus menangis, mendekap Duri dalam pelukan, keduanya terisak bersama-sama. Perlahan, tubuh yang dipeluk Solar itu meluruh, seiring dengan memudarnya kesadarannya.

.

.

.

.

.

Solar nggak mungkin lupakan Kakak ... selamanya Kakak akan hidup di hatiku. Kak Duri adalah alasan kenapa aku bisa jadi aku yang seperti ini. Terima kasih untuk semua kenangan kita, Kak Duri ... kamu bisa pergi tidur dengan tenang sekarang, karena aku pasti sanggup berjalan sendiri.

Dan, kita pasti akan ketemu lagi suatu saat nanti.

.

.

.

.

.

Ketika Solar terbangun lagi, tangannya masih menggenggam erat tangan Duri yang mendingin. Monitor jantung itu menandakan garis lurus.

.

.

.

.

.

[Sunshine after the rain

Together 'til the end

Whenever you're in need of a friend

Or a shoulder to cry on

Someone there to rely on

I'll be your sunshine after the rain

It's the one thing I won't change]

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

**BELOVED POTPOURRI**

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Author's Note:

[Potpourri /ˌpoʊpʊˈriː/ is a mixture of dried, naturally fragrant plant materials, used to provide a gentle natural scent, commonly in residential settings. It is often placed in a decorative bowl.]

.

Credit to Alexander Krawl untuk lagu "Sunshine after the Rain" yang liriknya pas banget buat nulis ini :"

Juga kepada musisi dalam negeri, Tulus, untuk lagunya "Monokrom" yang liriknya saya kutip semena-mena untuk menutup cerita :" ditambah kepada Versailles (visual kei Jepang) untuk lagu "Serenade" yang juga saya kutip dalam pesan terakhir Solar kepada Duri.

.

Dalam budaya Kristen Barat, Halloween adalah malam hari sebelum Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November) dan Hari Peringatan Arwah (2 November). Meski dipublikasi bulan April 2022, timeline cerita ini merujuk bulan Oktober tahun 2020 saat vaksin COVID-19 sedang dipersiapkan, ya ^^

Kenapa setting-nya Jerman? Karena Pfizer dan Janssen, serta banyak lagi pabrik farmasi terkenal di dunia, ada di negara itu. Lagipula, kata potpourri berasal dari bahasa Prancis, jadi Roux sekalian aja mindahin latarnya ke Eropa—kenapa enggak? Hehe

SIAPA YANG PENGIN PELUK DURI DAN SOLAR?

SAYAAAAAA!

.

Sedikit menjelang terakhir.

Pembaca yang terhormat, bagi yang pernah meninggalkan jejak di karya saya dalam bentuk apa pun, mohon sesekali cek kotak pesannya, ya. Roux mengusahakan selalu meninggalkan pesan kalau ada yang berjejak dan akunnya bisa dikirimi pesan. Roux sangat mengapresiasi semua yang sudah membaca cerita saya, jadi kalau bisa saya hubungi pasti akan saya hubungi :3

Akhir kata, terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima!

[24.04.2022]