Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Pemandangan Furi yang berjingkrak-jingkrak di ruang dapur pesta sebenarnya tidak begitu aneh. Furi acapkali tanpa sadar menunduk atau mengendap secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari orang. Yang tidak biasa adalah karena Furi tidak perlu melakukannya di tempat seperti ini. Kecuali dia berbuat yang kriminal—yang tidak bisa dibayangkan Fukuda karena ini Furi; seseorang yang jika kau bernafas keras sedikit saja padanya, dia akan tumbang.
Lalu dia ingat, saat Kapten Rakuzan menghampirinya dan menanyakan keberadaan si rambut cokelat, Fukuda menggeleng tidak tahu karena dia memang tidak tahu. Asik bergerumul di depan meja penuh kue dan sirup membuat Fukuda lupa kehadiran sahabatnya yang samar. Kawahara sepertinya juga begitu. Berebut makanan dengan Kagami dan berakhir mendapat satu pukulan di kepala oleh pelatih kebanggaan Seirin.
Dahi Akashi mengerut sedikit saat kembali ke tempat Kiseki no Sedai berkumpul. Melanjutkan obrolan yang pastinya tidak jauh-jauh dari mereka sendiri; Generasi Keajaiban. Mereka seperti menciptakan kelompok yang tak terjangkau dengan rambut mereka yang warna-warni—mengingatkan Fukuda akan satu bendera ini yang dia tidak begitu ingat. Luar biasa. Orang-orang berbakat.
... tidak normal. (Tentu dalam artian yang bagus).
Meskipun Akashi meladeni segala percakapan dan dia merespon dengan cara yang Akashi—begitu Furi menyebutnya, Fukuda bisa mengintip bercak kekhawatiran yang tersembunyi baik di bawah sikap tenang Sang Kaisar. Sesekali Akashi akan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sebelum melanjutkan apa yang hendak dikatakan. Halus, namun bukannya tidak ada.
Fukuda merasa kemampuan observasinya sudah setingkat point guard mereka atau karena Furi yang terlalu banyak menjejalkannya dengan Akashi-kun ini, Akashi-kun itu—Fukuda berharap itu adalah poin yang pertama. Tapi itu dulu. Karena sekarang telah berganti menjadi Sei ini, Sei itu ... ya, panggilannya yang sudah berganti.
Setelah sedikit lama berkencan dan merasa panggilan Akashi-kun terasa formal, juga sepertinya Akashi baik-baik saja dipanggil dengan nama depannya dengan syarat Furi juga mengizinkan Kapten Rakuzan tersebut memanggilnya Kouki, maka sekarang tinggallah Seijuuro dan Kouki. Bukan lagi Akashi–Furihata atau Singa–Chihuahua. Atau lagi yang lebih kejam Kaisar–Pecundang ... demi Tuhan!
Siapa pun yang membuat julukan tersebut, Fukuda akan dengan senang hati menghadiahkannya tinju manis. Berani-beraninya mereka menghina sahabat baiknya. Tidak tahu saja orang yang mereka jelekkan, yang berdiri tegak saja kadang tak bisa, tapi satu-satunya orang yang bisa melunakkan hati baja seorang Akashi Seijuuro.
Mendekat perlahan, sekarang Fukuda bisa melihat tampilan si rambut cokelat lebih jelas. Anak itu bersembunyi di ceruk sempit. Remang-remang karena pencahayaan yang kurang. Tapi Fukuda mengenal kaus biru muda berlengan panjang dan celana jins putih yang akrab itu. Fukuda tidak akan salah mengenali Furi dalam kegelapan sekali pun. Nafasnya saja terdengar familiar. Malahan terkadang Furi tidak bernafas saking gugupnya.
"Furi?"
Furi terlonjak keras, Fukuda ikut kaget karenanya. Seperti maling yang kepergok sedang mencuri. Konangan, point guard Seirin berbalik terpatah-patah. Fukuda mendengar suara tegukan ludah. "Mmm ... y–ya?"
"Apa ... apa yang kaulakukan di sana?"
Furi tidak menjawab, pun bergerak dari tempatnya bersembunyi. Fukuda tidak bisa melihat wajahnya dengan pasti. Dia menyipitkan mata dan bergerak mendorong dirinya lebih dekat, kalau Furi tidak tiba-tiba berteriak, "Berhenti di sana!" pekiknya tertahan. Fukuda spontan membeku di udara. Tingkah laku Furi sekarang benar-benar aneh. Membuat Fukuda takut juga.
"Apaan sih, Furi! Jangan berteriak tiba-tiba begitu," gerutunya. "Dan lagi, apa yang sedang kaulakukan di dalam sana hah?"
Rambut cokelat bergeser dari tempatnya. "Hanya ... jangan mendekat dulu. Aku akan keluar."
Fukuda menunggu dengan tidak sabaran. Dia mengetukkan jemarinya ke konter terdekat. "Serius, Furi." Fukuda gusar. Tapi Furi mengulangi jangan, jadi Fukuda menyaksikan Furi yang berjuang keras keluar dari ceruk—bahkan bagaimana caranya anak itu masuk jika dia tidak bisa keluar? Fukuda tahu terkadang Furi bisa jadi aneh. Tapi ini ...
"Oke, aku hampir sampai–"
"Kau tidak bergerak barang seinci pun."
"–diam!"
Setelah melewati beberapa perjuangan, kepala itu berhasil menyembul keluar sebelum diikuti badan dan kaki, barulah Fukuda benar-benar melihat Furihata. Mulutnya baru akan terbuka. Kalimat apa pun yang hendak keluar digantikan dengan erangan kasar karena Furi buru-buru menariknya ke kamar mandi, membanting pintu, menguncinya, semua dilakukan dalam waktu singkat. Kekuatan apa pun yang digunakan Furi, Fukuda tidak pernah tahu anak itu memilikinya. Wajah Fukuda menghantam sisi dinding akibat tarikan tajam si rambut cokelat.
"M–maaf."
Di telinga Fukuda, itu sama sekali tidak terdengar sebagai penyesalan karena Furi lebih panik ketahuan seseorang. Kepalanya celingukan sebelum pintu tertutup rapat. "Apa sih yang salah denganmu?!" Fukuda jelas tidak membeli cengir-cengir sok polos yang dijual Furi. Ditempelengnya kepala sahabatnya itu. Acuh kala si rambut cokelat mengaduh sembari menggosok-gosok dahinya.
Fukuda memastikan apa yang dilihatnya. Tatapannya menari dari bawah ke atas; sekujur tubuh Furi dan seketika melotot.
"Tuhan, sialan!"
Furi meliriknya melewati bahu. "Tuhan bukan sialan," katanya. Fukuda menendang tulang kering anak itu.
"Apa yang terjadi denganmu hah?"
Setelah Fukuda melihatnya baik-baik, dari ujung rambut hingga ke mata kaki—intinya seluruh bagian dari Furihata, si rambut cokelat terlihat seperti ...
"Kau terlihat seperti sampah," keluarnya.
Rambut kusut, baju kotor tertutup lumpur (Apakah itu bekas pijakan tapak sepatu di perutnya?), dan wajahnya ... wajahnya memar. Kelopak mata membiru dan sudut mulutnya koyak—Fukuda kehilangan nafas. Terengah-engah, suaranya berubah khawatir.
"Kau baik-baik saja? Ya, Tuhan. Apa yang terjadi denganmu?!"
Tidak ada tanggapan.
Furi terlihat gelisah. Tangannya menggaruk tengkuk canggung. Mendapatkan kesadarannya, Fukuda bergerak tanpa diperintah, "Aku akan memanggil Pelatih," setengah jalan memutar kenop pintu, sebuah tangan menghentikannya.
"Jangan!"
"Apa maksudmu jangan?!" Fukuda menggeram. Furi tersentak, melepas cengkeramannya. Tapi, secepat itu Furi pulih, dia beringsut ke depan. Menghalangi Fukuda dari mendapatkan pintu.
"Tidak, dengarkan aku dulu. Kumohon ..." rambut cokelat memelas.
Fukuda sama sekali tidak setuju. Baru dua jam yang lalu sahabatnya baik-baik saja, makan gembira bersama mereka, memadu kasih sejenak dengan sang pacar dan sekarang babak belur mengerikan. Fukuda bahkan tidak tahu ke mana anak ini menghilang! Atau sadar dia hilang! Sekembalinya anak itu sudah ada luka di sekujur tubuh. Fukuda berusaha sebaik mungkin untuk tidak membelalak ngeri menatap bekas sepatu yang menodai baju bersihnya setelah yakin itu benar-benar tapak kaki seseorang. Furi baru saja ditendang! Ditendang atau diinjak, apa pun itu yang pasti menggunakan kaki.
"Tolong."
Fukuda tidak lemah dengan mata anjing milik Furi. Mungkin saja masuk jajaran orang yang sanggup menghadapinya. Jadi, tidak—
"Fuku," mohonnya lagi lebih pelan. Fukuda menatap langsung ke manik sewarna tanah; warna kesukaan Akashi Seijuuro kalau kata Kapten Rakuzan itu sendiri. Fukuda tidak tahu apakah Akashi mengatakan itu karena memang Akashi menyukai warna cokelat yang dalam kacamata Fukuda tidak ada istimewa-istimewanya atau hanya untuk membesarkan hati Furi akan ketidakpercayaan dirinya. Fukuda ikut tersesat seolah tenggelam ditelan bumi. "Please." Suara itu berbisik.
Fukuda mengalah. "Sebaiknya kau punya penjelasan bagus untuk ini." Furi mendesah syukur, "dan artinya itu di mulai dari sekarang," lanjutnya sengit.
Fukuda menahan gejolak emosi sepanjang Furi bercerita.
"Apa kau bercanda?" desisnya sama sekali tidak ramah.
Ternyata alasan di balik kepergian sahabatnya adalah bermula saat Momoi Satsuki menemukan beberapa bahan dapur yang habis dan Furi—karena dia adalah malaikat sialan, menawarkan diri untuk membelinya ke toko terdekat. Mengatakan tidak apa-apa karena dia punya barang yang juga ingin dibeli padahal nyatanya tidak.
Bukan salah Furi jika mendengar keributan selepas berbelanja. Berjalan lima meter menjauhi toko dan dia menemukan seorang lansia terperangkap di antara orang-orang bertubuh besar yang mengintimidasi. Bukan salahnya memang, hatinya tergerak menengahi. Rupanya orang-orang berbadan besar itu tidak terlalu suka dicampuri. Jika saja Furi menangkap sinyal bahaya dan bekerja sama dengan tidak ikut campur, tapi ini Furi. Ya, Tuhan, ini Furihata!
Fukuda bahkan tidak terkejut mendengar masalah ini tidak berakhir dengan jalan damai. Bagaimana pun, ciri-ciri yang diceritakan Furi tentang sekelompok orang ini mudah ditebak; preman setempat yang senang merampas dari orang-orang lemah. Umumnya pria/wanita tua atau anak sekolah. Yang tidak mampu melawan dan punya kuasa untuk menuntut. Fukuda bertemu orang-orang seperti ini hampir setiap hari. Bedebah bernyali pecundang.
"Itu atau nanti akan menjadi pertarungan dua lawan tujuh atau bahkan satu lawan tujuh jika aku tidak ada!"
Fukuda memijit pelipisnya yang berdenyut. Untungnya Furi tidak seorang diri. Ada orang baik lain yang kebetulan melihat dan ternyata sama gila dan nekatnya dengan si rambut cokelat. Menyela pertarungan bak ksatria berkuda atau pahlawan di siang bolong dan julukan lainnya yang sejenis. Mereka bertiga melawan tujuh pria berbadan kekar nan sangar. Atau haruskah itu dua; Furi dan si pahlawan kesiangan? Jujur Fukuda tidak bisa membayangkan Kakek ringkih itu ikut berkelahi melawan preman-preman tangguh.
"Dan apa? Kalian berhasil mengalahkan mereka?"
Tidak. Dilihat dari sisi mana pun, pertarungan tiga (dua?) lawan tujuh sama sekali tidak seimbang. Sekuat apa pun orang yang membantu ini. Fukuda mengkalkulasi kekuatan Furi yang di bawah rata-rata—bukan menghina. Lalu ada pria tua ini ... Fukuda menggeleng. Sama sekali tidak ada kesempatan.
"Lalu apa yang terjadi?" Fukuda penasaran dengan kelanjutannya. Namun, masih mengingatkan dirinya untuk memarahi Furi nanti.
"Polisi datang," oh, seseorang menelepon polisi? "Mereka berniat kabur. Tapi polisi mendahului mereka dan berhasil menangkap semuanya." Furi, sekali lagi diselamatkan oleh takdir. Fukuda tidak ingin menebak-nebak apa yang terjadi jika aparat keamanan setempat tidak datang. Atau terlambat sampai. Dia menepis bayangan tersebut dari kepalanya.
"Kau tahu kau bertindak sembrono 'kan?"
Furi memiliki kesopanan untuk terlihat bersalah.
"Furi! Apa kau tahu apa yang terjadi jika seseorang tidak memanggil polisi?!"
"Aku tahu!"
Dia tidak tahu.
"Hanya saja ... aku tidak— aku tidak mungkin membiarkan itu semua terjadi di depan mataku."
Bagaimana caranya memasukkan ke kepala bebal sahabatnya ini bahwa yang dia lakukan bisa berujung maut? Furi harus bersyukur lawannya tidak membawa senjata. Bayangkan saja pisau kecil; pisau lipat itu menggorok leher—Fukuda tidak bisa melanjutkan pemikiran mengerikan tersebut.
"Kau teledor."
Furi tersenyum kecut.
"Untuk apa senyum itu?" Fukuda merasakan amarahnya mendidih di bawah kulit. "Furi," ancamnya.
"Bukankah selalu begitu?"
Fukuda mengerut bingung. "Apa?"
Furi mengedik acuh. Bibirnya terpelintir masam.
"Mereka memukul kepalam— jangan bilang kau gegar otak?"
Dia dihadiahi delikan.
Fukuda menunggu di depan pintu pada akhirnya. Membawa handuk bersih dan meminjam kaus oblong entah milik siapa. Dia juga sudah bersiap dengan kotak P3K.
"Bagaimana tampilanku?" tanya Furi sesaat setelah si rambut cokelat keluar dari kamar mandi. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian baru yang dibawakan Fukuda meski celana jinsnya tetap. Rambutnya dirapikan. Wajahnya juga tidak sebengkak tadi. Tampak lebih baik.
"Masih terlihat seperti sampah," bahu Furi melorot, "jangan sampai Akashi melihatmu seperti ini." Benar, Akashi. Tertangkap, sunyinya tanggapan mengetuk ekspresi mengejek Fukuda. "Kau tidak bermaksud memberitahunya." Itu bukan pertanyaan.
"Dia akan marah!" Dalam pembelaan Furi.
"Oh, tidak, tidak. Jangan kira kau bisa lepas dari ini."
"Menurutmu apa yang akan dia lakukan bila dia mengetahui ini?!"
Fukuda tidak tahu langkah apa yang akan diambil Akashi bila mendengar kekasihnya—kekasih yang sangat disayanginya—baru saja menjadi korban pengeroyokan pemalak. Dia juga curiga langkah apa pun itu akan sesuai dengan yang diekspetasikan di imajinasinya. Yang mana mungkin membuat Fukuda puas juga. Mengingat betapa protektifnya Kapten Rakuzan tersebut pada sahabatnya ini.
Furi diam. Mengutak-atik kotak P3K tanpa banyak bicara. Dia menuangkan alkohol di atas kapas dan menempelkannya pertama-tama ke lebam di bawah mata. Fukuda mendesah lelah sebelum mengambil alih pekerjaan. Mereka tetap begitu untuk beberapa saat. Tidak ada yang membuka percakapan. Tapi Fukuda bisa melihat raut frustrasi di wajah bengkak itu.
"Aku tidak ingin selalu mengandalkannya." Fukuda meliriknya sebentar. Bibir Furi terkatup rapat. "Dia hanya begitu luar biasa; semua orang segan padanya dan dia benar-benar ..." kata-katanya tersendat, "Sei hanya menjadi dirinya sendiri. Luar biasa dan ... luar biasa."
Akashi Seijuuro memang luar biasa.
... dan sepertinya semua orang tahu itu.
Pria itu bisa memilih siapa saja—siapa saja untuk jatuh cinta. Berdiri di sisinya. Menjadi orang yang istimewa yang beruntung Akashi Seijuuro menyukainya. Orang yang berkedudukan sama; harkat dan martabat. Yang hebat dan sama luar biasanya dengan pria itu. Yang sederajat. Dan itu semua bukan Furi. Furi tidak masuk jajaran di atas. Anak itu merasa kecil ketika Seijuuro mengaum keras bak singa sang raja hutan di tahta tertinggi.
Fukuda bisa mengerti itu. Kadang masih seperti mimpi dan sulit dipercaya. Akashi Seijuuro memilih Furihata Kouki dari semua orang. Kenapa?
Hampir seperti dongeng dan Fukuda tidak mempercayai dongeng. Bahkan Furi yang diam-diam menyimpan koleksi Siluman dannSang Putri juga tidak bisa mempercayainya. Sangat tidak nyata dan itu menyakitkan. Fukuda berhenti di persimpangan jembatan hidung. Dia menarik diri. Melempar kapas yang telah dinodai warna merah ke tong sampah di sudut konter.
Dia menatap sahabatnya lekat. Mencari sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui. Rambut berwarna cokelat dan pupil kecil dengan warna senada. Hidung tak terlalu mancung, begitu juga sebaliknya. Biasa. Sederhana. Polos seperti lembaran baru.
"... kau juga luar biasa, Furi."
Fukuda tersentak dihadapkan manik cokelat gelap yang berpaling segera setelah mengembara ke segala arah. Mungkinkah Akashi berbohong dan warna kesukaan sebenarnya bukan cokelat? Fukuda yakin Akashi bukan orang yang mau berbohong sekecil apa pun hanya untuk memanjakan sesuatu. Namun kata-katanya juga susah dibeli.
"Kau luar biasa dengan cara yang berbeda."
Furi tersenyum sakit. "Kata luar biasa tidak pernah menjangkauku. Kau tahu benar itu, Fuku."
Furi mengembalikan alkohol, plester, dan benda-benda lainnya ke kotak P3K. Meninggalkan ide mengobati dirinya dan pasrah membiarkan luka tergambar tanpa berusaha ditutupi. Dia berbalik badan, menemui rak kaca dan melihat pantulan dirinya yang samar persis seperti keberanian Furi sendiri. Kepercayaan diri bukanlah sesuatu yang Furi dapat sejak kecil. Dia bukan kakak laki-lakinya yang dipuja banyak orang karena berbakat dan mudah bergaul dengan semua orang
"Memang benar," Fukuda tidak akan membiarkan percakapan ini jatuh begitu saja.
"Huh?" Furi memiringkan kepalanya bingung.
Fukuda meneguk ludah. Dia tidak pernah pandai dengan kata-kata. Memilah-milah kalimat di dalam hati, dia meneruskan pelan namun penuh keyakinan. "Karena," karena apa? Apa yang membuat Furi luar biasa? Terlebih lagi, apa yang membuat Akashi Seijuuro menganggap Furi sama dengannya? "... karena orang punya definisi luar biasanya masing-masing." Fukuda tersenyum kala bola mata itu melebar. "Dan Akashi juga punya definisi luar biasanya sendiri. Menurut Akashi, yang luar biasa itu adalah kau, Furi."
Furi jelas sekali tidak mempercayai semua itu. "Aku ti–"
"Ya, kau!" Fukuda menyela sebelum anak itu sempat merendahkan dirinya lagi dan lagi hingga sejajar tanah. "Kau tidak memilih-milih kepada siapa kau mempercayai orang meski kadang itu akan membuatmu dalam masalah pada akhirnya. Kau tidak perlu berpikir dua kali untuk menolong siapa pun, tidak peduli siapa orangnya. Kau pekerja keras untuk alasan yang bisa tidak masuk akal. Tidak sampai di situ ..."
Fukuda adalah yang berbicara panjang lebar. Tapi Furi juga ikut terengah-engah.
"Kau bersedia menungguiku semalaman di rumah sakit saat Ibuku didiagnosis penyakit keras. Kau membantu Kawahara bekerja sambilan karena tanggungan keluarganya. Kau rela hujan-hujanan karena menemani anak kecil yang tersesat. Kau juga menyempatkan diri membantu seorang nenek menyebrang meski sedang terburu-buru. Dan Furi ..." masih banyak lagi, Fukuda ingin mengatakan itu. "kau menggantikan anak kecil yang ditahan hari itu, kasus penyanderaan TK Kaegi. Kau mengorbankan dirimu supaya mereka tidak bisa melukainya. Anak itu selamat."
Hati Fukuda berdenyut melihat mata itu berkaca-kaca, bersinar di bawah pencahayaan lampu dapur.
"Kau luar biasa, Furi. Untuk alasan yang sebagian orang tidak mengerti."
Dia merasakan dirinya ditarik dalam sebuah pelukan saat harusnya dialah yang menarik Furi ke dalam pelukan. Mereka tidak tahu betapa berharganya sahabatnya ini. Orang kerap memandang mereka sebelah mata. Melabeli mereka semena-mena dengan standar yang mereka pegang. Itu tidak adil tapi mereka selalu berusaha menerima karena mereka bukan yang berkuasa. Mereka tidak punya itu yang membuat orang mengakui itu.
Fukuda mendengar isak kecil dan menyadari potongan bajunya basah oleh rembesan air mata. Dia tidak bisa menahan air yang ikut jatuh dan menenggelamkan diri dalam pelukan mencoba menguatkan Furi—dan dirinya sendiri. Cukup lama keduanya berpelukan, Furi mengambil inisiatif pertama melepas jalinan. Dia mengusak hidungnya. Merah karena tangisan. Fukuda juga menggosok matanya kasar. Malu menangis berai dengan sahabatnya tanpa alasan. Jika ada yang melihat mereka, mungkin orang lain berpikir sesuatu yang sangat buruk terjadi.
"Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara memberitahu Akashi." Yah, benar. Ada masalah lain yang masih harus mereka hadapi.
Furi menggosok lengannya. "Itu ... biar aku saja." Suaranya mengecil di akhir.
"Kau yakin?"
Furi mengangguk pasti. "Terima kasih." Itu adalah senyuman paling tulus yang pernah Fukuda lihat dari anak itu.
Mereka menenangkan diri sejenak. Mengembalikan semuanya ke tempatnya. Mereka berdua menyerah dengan konsep mengobati yang diduga tidak banyak membantu. Entah bagaimana tatapan mereka bertemu, ikatan batin sebagai sahabat begitu terasa di antara Furi dan dia.
"Siap?" bisik Fukuda.
"Ya," jawab Furi tak lebih dari bisikan yang sama.
Mereka keluar dari dapur langsung menuju ruang tempat berkumpul. Keadaan masih huru-hara karena semua orang menikmati pesta. Fukuda melihat point guard Shūtoku mengatakan sesuatu pada Akashi sembari mengedikkan dagu ke arah mereka. Akashi menoleh cepat dan sekilat itu bergerak melintasi ruangan. Saat itulah Fukuda merasa sudah waktunya dia meninggalkan Furi. Anak itu menoleh saat Fukuda memberi remasan kecil sebagai bentuk dukungan dan meremas balik. Senyum manis muncul di bibirnya.
Beberapa pemain sempat melirik, begitu juga Kawahara yang sigap menaikkan alis bertanya padanya. Fukuda hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. Dia menatap untuk terakhir kalinya. menghembus lega Furi di tangan Akashi. Wajahnya ditangkup dan ibu jari Kapten Rakuzan mengelus lembut pipi sahabatnya. Wajah Akashi berkerut khawatir. Furi mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangan hangat yang menangkup wajahnya.
Fukuda tidak tahu alasan apa yang dipakai Furi, tapi dia juga tidak akan ikut campur jika keputusan Furi memang tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Dia juga berharap Furi tahu apa yang dia lakukan.
Fukuda tidak pernah bertanya bagaimana perasaan Furi. Dia selalu mengira Furi bahagia-bahagia saja. Tak pernah menyangka ada lubang besar berisi tekanan di punggungnya. Sekarang Fukuda tahu. Dia berjanji pada diri sendiri untuk menjadi teman yang lebih bisa diandalkan.
Orang-orang bersemu merah saat menyaksikan tayangan Akashi mengecup mesra bibir kekasih point guard-nya. Fukuda tertawa dalam hati.
