hetalia © hidekaz himaruya.
tidak ada keuntungan komersial yang diambil penulis dalam pembuatan karya ini. karya dibuat semata-mata untuk keperluan hiburan.
note: companion/prequel fic for cabin.
.
.
Natalya sengaja memasuki jalan yang lebih kecil; tetapi jantung New York masih berdenyut di dadanya, dengan cahaya malam yang tak berhenti berkelip, dengan mobil yang berlalu-lalang, dan pejalan kaki dengan minuman di tangan mereka. Ia sudah masuk ke dalam kota dan tersesat di dalamnya. Tersesat di jantung Alfred.
Ia menutup mata dan memikirkan ciuman terakhir Alfred sebelum ia tiba ke sini—hari itu, penutupan Konferensi di Washington DC. Ia pamit pulang karena bosnya sudah menunggu di Minsk, dan berpesan agar ia tidak berlama-lama setelah menyelesaikan acara. Alfred menahannya, minta maaf karena tidak bisa mengantarnya ke bandara, lalu menciumnya di ujung koridor gedung pertemuan.
Alfred dan ciumannya, selalu terasa seperti sebuah penyambutan yang hangat.
Natalya bertanya: apa dirinya pantas untuk cinta?
Natalya menenggelamkan dagunya di dalam syal. Barisan antrean maju perlahan, satu per satu order dibuat. Natalya tenggelam di antara pria-pria tinggi yang menunggu kopi, wanita-wanita yang menginginkan cokelat hangat mereka dengan cepat. Remaja-remaja yang ingin kopi dengan susu, orang-orang dewasa yang didesak deadline dan butuh kopi untuk energi. Di situ ia membaur, berharap waktu bisa bergulir lebih cepat untuknya yang sudah sangat tua.
Satu lagi menuju giliran Natalya, kakinya menapak-napak di lantai. Orang-orang mengira itu musik tanpa nama, tetapi Natalya mengingatnya sebagai lagu masa kecilnya, jauh di masa saat ia baru mengenal dunia, ketika orang-orang Rus meninabobokannya dengan impian hangat kerajaan di sekitar Volga.
Akhirnya tiba gilirannya. Natalya menginginkan kopi hitam panas, tiga shot, tanpa gula. Tidak ada makanan tambahan, hanya satu pesanan.
Natalya pun keluar setelahnya, berjalan lurus menuju tepi trotoar dan tiba-tiba saja, seperti sebuah keajaiban, mobil yang sangat dikenalnya terparkir di sana. Sepanjang hidupnya, ia sudah sering melihat kebetulan yang sepertinya terlalu indah untuk jadi kenyataan—tetapi kelindan takdir selalu punya arusnya sendiri. Kaca mobil itu turun, dan sapaan hey yang terlalu familiar menyambutnya.
"Kebetulan sekali. Firasatku bilang kau pasti di sini—dan here you are!" Alfred pun keluar dari Mustang GT Coupe hitamnya. "Masuklah. Aku mau beli kopi dulu." Dia melewati Natalya sambil menepuk bahunya.
"Hm."
Natalya duduk di dalam mobil itu, menunggu, dan merasa terkesan bahwa Alfred masih menggantung hiasan bunga salju di sana.
Natalya ingin bilang, koperku masih di hotel, tetapi Alfred pasti lebih memahaminya dan mungkin akan segera mengirim salah satu staf untuk mengambilnya. Tapi nanti saja, ia tidak ingin mengusik ketenangan yang ia dapat di rumah ini dengan sesuatu yang remeh-temeh.
Penthouse Alfred berada di jantung kota New York. Tempat Natalya bisa menengok bagaimana arteri Big Apple berdenyut di siang dan malam hari, cahaya mengalir di pembuluhnya bak nyawa sang kota. Ia menengok lagi lewat dinding kacanya sore ini, melihat bagaimana musim dingin tidak mematikan kesibukan sama sekali.
Alfred turun dari tangga. "Air hangat sudah siap. Kau mau mandi sekarang, atau aku duluan?"
"Kau saja." Natalya melirik pada alas yoga di sudut ruangan, yang tergulung rapi, masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan berbulan-bulan lalu.
"Hmmm, okeee." Alfred berbalik lagi di tangga, Natalya bisa mendengarnya bergumam pelan, kalau bareng kan lebih asyik.
Natalya menggelar alas yoga itu di depan dinding kaca, dan duduk di atasnya sambil bersilang kaki. Ia menarik napas dalam-dalam, menutup mata, meresapi alam sekitar dan berusaha untuk memikirkan sekitar dengan mata tertutup. Furnitur ruang tengah. Kaca besar di hadapannya. Arus yang mengalir di bawahnya. Langit senja yang telah gelap. Lampu mobil yang berkelip-kelip di sepanjang jalan seperti denyut. Ia menarik napas lagi, mengaturnya, mencapai ketenangan. Kota masih berdenyut di bawahnya, angin berlalu pelan membawa serpih musim dingin yang tersisa.
Natalya semakin tenang, merasakan napasnya yang damai dan teratur. Big Apple sedang berdetak dengan irama yang tenang pula, seiring dengan napasnya. Aliran cahayanya pada arteri-arteri di bawah sana memberi tanda nyawa kehidupan sedang berlangsung baik-baik saja, setidaknya di sekitar sini. Natalya mengingat Minsk, sedang berdenyut pelan juga, meski lebih hening daripada New York, kota itu juga sedang baik-baik saja.
Ia memikirkan benaknya yang seperti air kolam tenang, meski dingin seperti musim, tidak membeku dan tidak pula teraduk-aduk kacau. Tenang dengan energi kehidupan yang membelainya lembut dari pepohonan sekitar.
Big Apple adalah rumah kesekian untuknya (ada banyak; Minsk, St. Petersburg, Moskow, dan berbagai titik di Belarus yang di sana ia menyimpan jiwanya). New York adalah rumah Alfred, dan Natalya secara tak sadar telah menjadi bagian darinya.
Ia membuka mata setelah Alfred memanggilnya, "Air panas untukmu, Tuan Putri!"
Entah berapa lama ia menutup mata; dunianya begitu tenang sampai-sampai ia lupa waktu.
Ia berada di tempat tidur Alfred, membaca buku yang selalu dibawanya di tas. Alfred keluar dari ruang kerja, membawa laptopnya, dan menuju tempat tidur. Dia awalnya mengetik sambil bersandar pada headboard, tetapi lama-kelamaan dia dengan sengaja menyandarkan kepalanya pada pundak Natalya. Dia tidak lagi mengetik, hanya memandangi laporan dari staf bosnya yang tampil pada jendela lain.
Natalya menoleh, mendapati Alfred sedang kosong tatapannya. Ia pun meraih tangan Alfred tanpa kata, menggenggamnya begitu saja. Alfred lantas mengangkat tangan mereka yang bertaut, dia mengecup punggung tangan Natalya.
"Tutuplah. Kau sudah lelah."
Terdengar bunyi debam pelan, dan laptop itu pun dengan cepat berpindah ke meja kecil di samping ranjang. Alfred mencium Natalya, pelan pada awalnya, tetapi Natalya menjawabnya sehingga Alfred semakin bersemangat.
Natalya mengingat bagaimana cara dan rasa Alfred mencium. Pada keningnya, pelipisnya, pipinya, bibirnya, lehernya, dan tempat lainnya. Dia selalu punya caranya sendiri. Kehangatan seperti mentari California, panas seperti gurun Nevada. Pertama kali Alfred menciumnya (Natalya tak begitu mengingatnya, mungkin di kali pertama ia menginap di DC tahun 1992? Setelah ia membuka dirinya pada dunia? Entahlah), rasanya mengejutkan. Saat itu Natalya belum bisa membuka hatinya, menganggap itu hanya salam hangat pada pipi.
Namun seiring waktu berjalan, Alfred konsisten. Seolah ingin membuka jahitan pada hati Natalya (yang sebenarnya renggang, namun ia ragu), dan pada satu titik Natalya bertanya pada dirinya sendiri, apa ia siap? Apa ia menginginkan orang lain dalam hidupnya? Apakah bisa jika orangnya adalah Alfred?
Ciuman-ciuman darinya bukan cuma soal cinta, hawa nafsu, keinginan untuk menarik Natalya ke dalam jurang ruang hatinya. Itu adalah tentang hasrat hati, mengundang Natalya ke dunia terbuka, dunianya yang sehangat Florida dan seindah Yellowstone. Bahwa genggaman tangannya bukan cuma soal sentuhan kulit ke kulit, tetapi juga sebuah cerita tanpa kata tentang kebersamaan. Tentang aku di sini, aku bersamamu, aku menginginkanmu.
Natalya mengalungkan tangannya pada leher Alfred. Alfred dengan mudah mengubah tempat, Natalya sekarang berada di antara kedua kakinya. Natalya didorong pelan ke bantal, dan Alfred mengambil buku dari tangan Natalya. Cukup mengejutkan baginya karena Alfred tidak melemparkannya begitu saja ke lantai.
Bercinta dengannya membuat Natalya lupa konsep waktu—setidaknya untuk sementara. Ia tak ingin semua menjadi terlalu cepat, tetapi tak suka jika Alfred terlalu lambat. Kehangatan berdenyut di antara kedua kakinya, dan Alfred sudah membasahi lehernya, jejak-jejak merah harus ditutupinya esok hari. Natalya menarik napas, aroma feromon Alfred tak tertahankan. Memabukkan, seperti Vegas pada tengah malam atau New York saat senja musim semi.
Natalya menarik kaos Alfred dan memaksanya melepasnya sekarang juga. Alfred melemparkannya, celananya tak lama bergabung di lantai. Natalya telah lama kehilangan miliknya, dan ia leluasa mengaitkan kakinya pada pinggang Alfred. Tangan Alfred terasa sangat besar dan panas saat dia menjamah bagian-bagian tubuh Natalya seperti menjelajah sebuah bentang.
Dan Natalya bertanya lagi pada dirinya: apa aku pantas untuk cinta?
Natalya bangun terlebih dahulu. Alfred masih nyenyak, menghadap dirinya, bantalnya tersingkir menjauh dan dia tidur beralaskan lengannya sendiri. Mulutnya setengah terbuka, napasnya teratur.
Ia menyentuh ujung hidung Alfred. Kemudian jarinya bergerak ke bibirnya, ke pipinya. Ada satu jerawat yang baru tumbuh di dagunya. Entah ada masalah apa.
Natalya mengingat lagi sentuhan dan ciuman Alfred sebelumnya, lalu memikirkan pertanyaan terakhir di kepalanya sebelum pikirannya tenggelam oleh Alfred Alfred Alfred—apa aku pantas?
Dengan ingatan yang hangat itu ia menjawab dirinya sendiri: ya, pantas.
Dengan tangan yang merasakan detak jantung Alfred—detak New York, denyut Kota Apel yang membuatnya merasa hidup hidup hidup—ia menyunggingkan senyum tipis: ya, pantas.
.
.
.
.
a/n: ini literally word-vomit. pengen nulis apa aja gitu deh pokoknya vomiting words that have been stuck in my mind yesterday. i'm in the middle of city-lust hehe. dan bagian natalya duduk di depan dinding kaca rumah alfred? that's how i do 'meditate' buat bikin rileks, hehe. that's how my doctor taught me, dengan cara semacem itu aku bisa dengan mudah tidur nyenyak dan nenangin diri. anyway makasih udah baca word-vomit aku hehe
