Mata Sasuke mengerjap-ngerjap pelan, sebenarnya ia tidak ingin bangun. Tetapi pendengarannya terusik sebuah suara yang sangat mengganggu. Mencoba tidak memedulikan dan kembali menyamankan posisi tidurnya, sayangnya semakin mengganggu juga suara berisik itu.
Sebenarnya ada apa?
Masih memejamkan matanya, Sasuke kembali teringat bahwa hari ini dia sama sekali tidak melewati jalan untuk pulang. Lalu ranjang empuk ini di mana, dan suara apa itu?
Menyerah, akhirnya Sasuke memutuskan untuk bangun.
Yang pertama kali didapati oleh kedua matanya adalah langit-langit ruangan berwarna putih, dengan cahaya mentari sore yang meremang. Lalu Sasuke menoleh ke arah samping, ada sebuah tirai pemisah, ternyata dia berada di ruang UKS.
Krauk krauk
Suara itu lagi, Sasuke terduduk cepat. Agak meringis saat merasakan punggung, dahi, dan tengkuknya yang sakit, dia merabanya, mengelus-elus seakan dapat mengurangi rasa sakitnya. Sasuke berdecak dalam hati, semua ini karena Hyuga sialan itu.
Hinata Hyuga.
Krasak krusuk, krauk krauk
Slrup slrup
Sasuke menarik tirai itu, dan terdiam setelahnya. Menatap tak percaya, apa yang tengah dilihatnya.
Yang benar saja, apa-apaan wajah bodoh yang tengah menoleh ke arahnya dengan senyuman konyol itu.
"Hai," sapa Hinata.
Sasuke mengabaikannya, kembali menarik tirai itu agar tertutup.
Sudah, tidak lagi. Sasuke tidak mau lagi berurusan dengan orang barbar itu, setidaknya saat ini dia butuh ketenangan, bukan masalah.
Tirai itu tersibak lagi, Sasuke langsung memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Hinata yang ia yakini tengah mendekat ke arahnya.
"Hei, Satsuki!"
Spontan Sasuke memberinya deathglare, lagi-lagi gadis itu salah menyebut namanya.
"Ehehehe." Hinata tertawa kikuk. "Aku, umm ... minta maaf untuk pukulanku tadi."
Sasuke semakin menyipitkan matanya.
"Itu, itu juga salahmu," hardiknya tiba-tiba. "Jika saja kau tidak berniat bunuh diri, aku juga tidak akan memukulmu."
Astaga, gadis di hadapannya ini. Dia pikir karena siapa Sasuke ingin membenturkan dahinya ke tembok.
Sasuke enggan menjawab, Hinata masih di tempatnya. Berdiri kaku, sambil memandang sepatunya.
Kruwuk
Perut Sasuke berbunyi, terdengar kekehan tertahan dari Hinata, namun segera hilang saat Sasuke kembali memberinya tatapan membunuh.
"Kau lapar?" tanya Hinata.
"Bukan urusanmu."
Hinata mengerucutkan bibirnya, dan Sasuke tidak peduli, dia mengambil tasnya yang tergeletak di bawah ranjang. Seingatnya, dia menyisipkan beberapa camilan dalam tas, seperti kripik kentang, buah apel dan satu kotak jus kemasan.
Saat Sasuke sibuk mencari, Hinata berusaha mengintip. Namun terkesiap, saat Sasuke kembali menatapnya dengan tatapan seperti mengingat-ingat.
"Sepertinya aku melupakan bekalku."
"Bekal apa?" tanya Hinata ingin tahu.
"Tidak."
Gadis itu mengedikkan bahunya, lalu berbalik dan berjalan ke ranjang sebelah yang ia tempati tadi. Tidak lama, sebelum dia kembali lagi ke tempat Sasuke.
"Ini." Hinata menyodorkan satu bungkus besar kripik kentang ke arah Sasuke.
Sebenarnya Sasuke sangat lapar, apalagi kripik yang disodorkan Hinata adalah kripik favoritnya. Tapi dia malu, gadis ini selalu membuatnya susah, dan sekarang Sasuke malah menerima pertolongannya.
"Ini, ambillah."
Berat hati Sasuke menerimanya. "Terima kasih."
"Hmm." Hinata mendudukkan dirinya di pinggir ranjang Sasuke, ternyata dia membawa satu kotak jus jeruk yang juga Sasuke sukai.
Gadis itu meminumnya santai sembari memandangi sepatunya. Sasuke memperhatikannya dalam diam, tidak buruk juga. Meskipun tingkahnya aneh, tetapi dia baik.
"Aku tidak tahu, perempuan sepertimu hobi juga membawa bekal."
Hinata menoleh ke arahnya.
"Aku tidak bawa bekal," balas Hinata.
Sasuke memelankan kunyahannya. "Lalu ini apa?"
"Oh, itu ... Aku menemukannya." Jawab Hinata santai dan kembali menikmati jusnya.
Sasuke menautkan alisnya heran. "Menemukan?"
Hinata mengangguk cepat.
"Di mana?"
"Di dalam tasmu."
Ralat, perempuan di hadapannya ini. TIDAK ADA BAIK-BAIKNYA.
Bersyukurlah Sasuke tengah di dalam kondisi yang lemah, jika tidak maka dia pastikan sudah mencekik gadis ini dengan lengannya. Jadi Sasuke hanya berdecak kesal dan memakan kripik miliknya itu.
Hinata sendiri terlihat tidak peduli, dia malah bersenandung tidak jelas dengan suara yang cukup sumbang.
"Hentikan."
"Apa?"
"Senandungmu."
"Kenapa memangnya?"
Lagi-lagi Sasuke mati gaya, dia mendengus kasar. Tidak ada gunanya meladeni gadis ini, sebaiknya dia pulang.
"Aku pulang saja." Sasuke turun dari ranjang, mengambil tasnya, dan bersiap pergi jika saja Hinata tidak kembali bersuara.
"Tunggu sebentar!"
"Apa?"
"Kau mau ke mana?"
"Pulang, apalagi?"
"Asal kau tahu, sekarang pukul enam sore."
"Lalu?"
"Gerbang sekolah sudah tertutup satu jam yang lalu."
Sasuke menatap nyalang ke arah Hinata yang menatapnya tanpa dosa.
"Jadi, maksudmu-"
"Ya. Kita terjebak di sini, tidak bisa pulang."
.
.
.
Setelah berperang dengan egonya sendiri, Sasuke akhirnya mengalah dan menerima jika malam ini dia harus bermalam di sekolah, hanya berdua dengan gadis yang paling dia hindari saat ini.
Sambil memakan apel yang juga adalah miliknya, tak jarang Sasuke melirik Hinata yang asyik memainkan game pada ponselnya.
Kadang gadis itu memekik kecil, kadang tersenyum sendiri, dan kadang pula wajahnya berubah cemberut. Kewarasannya sungguh Sasuke pertanyakan.
Sasuke memalingkan wajahnya, saat Hinata menyudahi permainannya lalu mengantongi ponsel. Keduanya kembali terjebak dalam keheningan, tapi sepertinya gadis itu tidak suka berdiam diri. Dia memandang Sasuke sarat rasa ingin tahu.
"Apa?" tanya Sasuke.
"Tidak."
Hening kembali untuk beberapa saat.
"Ehm, Satsuki."
"Sa-su-ke."
"Ah ... ya, Sasuke."
"Hn?"
"Kau pernah dengar tidak, katanya toilet laki-laki di sekolah kita ini ada hantunya."
Sasuke memilih diam, dia sebenarnya tahu. Meskipun pendiam, dia tetap memiliki telinga yang bisa mendengar kasak-kusuk tidak jelas teman-temannya.
"Aku tidak percaya, itu hanya kebohongan yang dibuat agar anak lelaki tidak ada yang merokok di dalam toilet."
Hinata mengedikkan bahunya lagi. "Terserah kau saja, tetapi toilet itu memang berhantu."
Ingin sekali Sasuke mengelus dada., tidak bisakah gadis ini menutup mulutnya saja. Haruskah dia bercerita tentang hantu, saat mereka berdua tengah terjebak di sekolah seperti sekarang.
"Dulu ada anak yang tertidur di kelas, sampai terjebak juga seperti kita sekarang ini."
Sasuke memang tidak melirik ke arahnya, tetapi Hinata tahu laki-laki itu mendengarkan.
"Malam harinya, dia ingin ke kamar mandi," ujar Hinata. "Awalnya dia santai-santai saja, berpikir tidak ada yang perlu ia takuti."
"Lalu saat dia tengah buang air, tiba-tiba terdengar suara pintu bilik toilet yang lain tertutup, dan suara air keran terdengar." Hinata berujar dengan mimik wajah serius.
"Dia berpikir, mungkin ada anak lain juga yang terjebak bersamanya. Cepat-cepat dia menyelesaikan urusannya, lalu keluar dari bilik toilet dan kau tahu apa?"
Sasuke berkedip dua kali. "Apa?"
Hinata melirik kanan-kiri, lalu mendekat ke arah Sasuke. Berbisik lirih dengan suara yang terdengar dingin.
"Tidak ada siapa pun di sana."
GLEK
Sasuke menelan ludahnya susah payah, saat Hinata memilih menjauhkan dirinya.
"Dia berlari keluar toilet dengan tergesa, sadar ada yang tidak beres, dia merasa tidak dapat lagi menunggu hingga pagi tiba. Jadi dia memutuskan untuk pulang dengan cara apapun."
"Dia terus berlari, tersandung, jatuh lalu bangkit. Sampai tiga kali, lalu ..."
"Lalu apa?" tanya Sasuke penasaran.
Ekspresi Hinata kembali berubah, wajahnya tiba-tiba terlihat menakutkan.
"Saat dia terjatuh untuk yang ketiga kalinya, tepat di hadapannya dia mendapati sebuah kaki penuh luka bakar dan belatung. Lalu ketika ia mendongak ..."
Sasuke dan Hinata saling tatap penuh keseriusan dalam keheningan, menunggu Hinata menyelesaikan ceritanya.
"Dan, saat dia mendongak ... BOOM!"
Refleks Sasuke melempar apelnya ke arah Hinata dan mengenai kening gadis itu.
"Akh! apa yang kau lakukan?!"
Sasuke berusaha menormalkan laju detak jantungnya yang sukses gadis itu permainkan. Hinata mengelus keningnya, biarpun apel itu tinggal setengah tetapi tetap saja sakit karena Sasuke melemparnya dengan sekuat tenaga.
"Dasar, keningku sakit tahu!" keluh Hinata.
Sasuke berdecak. "Sepadan, itu salahmu karena mengagetkanku."
"Hish!"
Keduanya kembali menekuni kegiatan masing-masing, Sasuke memungut apelnya dan Hinata yang kembali memainkan ponselnya.
Berbeda dengan Hinata yang terlihat santai, Sasuke malah gelisah. Cerita Hinata tadi terngiang-ngiang di benaknya dan sialnya, kini perutnya melilit, dia harus ke kamar mandi.
Sasuke coba menahannya, tetapi perutnya semakin sakit.
"Hei, Hyuga."
"Hm?"
"Kau tidak ingin pergi ke toilet?"
"Tidak." Jawab Hinata yang masih sibuk dengan ponselnya.
Sasuke menatapnya penuh harap. "Apa kau yakin, kau 'kan perlu buang air dulu sebelum tidur."
"Aku sedang tidak ingin."
"Benar-benar tidak ingin?" desak Sasuke.
Seketika Hinata menghentikan aktivitasnya, dia menatap Sasuke dengan sorot jenaka.
"Kau takut ya?" goda Hinata.
"Aku? tentu saja tidak!"
Hinata menatap Sasuke tak yakin. "Kalau begitu, kenapa kau menawariku untuk ke toilet?"
Sasuke salah tingkah. "I-itu karena aku tidak ingin kau repotkan, saat nanti malam kau membangunkanku untuk ke kamar mandi."
Hinata hanya mengangguk-angguk.
"Jadi, mau tidak?"
"Tidak."
"Baiklah, awas saja jika memintaku untuk mengantarmu nanti," ancam Sasuke.
Hinata hanya mengedik acuh.
Dengan perasaan tak rela, Sasuke bangkit dan keluar dari ruang UKS sendirian. Sumpah demi apapun, tiba-tiba hawa dingin menusuk menerpanya. Dia memang laki-laki, dan hanya seorang manusia biasa. Jujur saja, cerita Hinata tadi cukup mengganggunya.
Langkahnya semakin berat, dia menyerah, Sasuke memilih berbalik dan kembali ke ruang UKS.
Hinata masih di sana, sibuk memainkan ponsel.
"Hinata!"
Gadis itu menoleh. "Kau? katanya mau ke toilet?"
"Kau harus bertanggung jawab atas cerita bodohmu, cepat antar aku atau kucukur kau!" maki Sasuke.
Seketika tawa Hinata pecah.
Nyatanya, orang sekaku Sasuke Uchiha juga bisa takut pada hantu.
Bersambung
ular lari lurus terus harus urus tikus-tikus yang kurus di kardus.
