Disclaimer : All Characters belong to Sunrise, but this story is mine
Anestesi
By
LaNiinaViola
Warning: Au, OOC, Typos, Similar Plot, Gaje, Garing, dkk
Aku membuka mata dengan perlahan, berusaha membiasakan pandanganku yang sebelumnya tertutup dengan cahaya yang ada di sekitar. Butuh waktu sampai aku bisa membiasakan diri dengan cahaya yang ternyata berasal dari lampu di ruangan tempat aku terbaring. Hal pertama yang masuk ke dalam pandanganku adalah putih langit-langit ruangan. Kemudian bau khas ruangan steril mulai memasuki penciumanku, bau disinfektan.
Ahh, lemas sekali rasanya. Aku seakan tidak punya kekuatan untuk sekedar menggerakkan kepalaku dan melihat isi ruangan yang aku tempati sekarang. Aku memutuskan untuk kembali menutup mataku dan indra pendengaranku mulai menajam dengan sendirinya. Aku mendengar suara seorang wanita tidak jauh dariku. Suara lembut yang mengalun seperti gemerisik angin. Suara ini terus mengalunkan nyanyian-nyanyian indah pengantar tidur. Aku semakin mengantuk mendengar suara nyanyian itu.
Nyanyian indah itu tidak lama terusik dengan suara lainnya, suara tangis. Suara tangis yang cukup keras membuatku akhirnya membuka mataku dengan segera. Aku mulai menggerakkan tubuhku yang semula hanya bisa berbaring menjadi posisi duduk dan saat itulah aku melihat dari mana suara-suara yang aku dengar tadi.
Seorang wanita cantik dengan rambut merah muda panjang sedang menggendong bayi di samping Kasur rawatku. Wanita itu dengan telaten menimang bayi kecil yang terlihat rapuh itu sambil terus menenangkannya dengan bisikan-bisikannya yang lembut. Seolah mengerti, sang bayi akhirnya berhenti menangis dan tertidur. Pemandangan yang sangat menakjubkan bagiku.
Wanita itu kemudian meletakkan bayinya dalam ranjang khusus bayi yang ada di sampingnya, saat itulah pandangan kami bertemu.
"Ah, maaf bayi saya membuat anda terbangun." Ucap wanita cantik ini padaku.
"Ah, tidak apa-apa." Jawabku sekenanya.
Aku kemudian mulai memperkenalkan diri pada orang yang akan berbagi ruangan denganku. "Nama saya, Cagalli Zala." Ujarku sambil tersenyum padanya.
"Saya Lacus Yamato, sekali lagi maaf membuat anda terbangun." Wanita cantik yang aku ketahui sebagai nyonya Yamato kembali mengucapkan permintaan maafnya padaku.
"Tidak apa-apa, anda tidak perlu sungkan."
Kami kemudian mulai mengobrol dari Kasur masing-masing. Biarpun jaraknya cukup jauh tapi kami berusaha tidak terlalu kencang dalam berbicara karena takut mebangunkan putri nyonya Yamato yang tertidur.
Dari obrolan kami yang cukup singkat itu aku mengetahui jika nyonya Yamato melahirkan putrinya dengan proses Caesar. Kaki bayinya keluar lebih dulu daripada kepalanya dan air ketuban sudah banyak sekali keluar saat di perjalanan. Sehingga dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi padanya untuk menyelamatkan nyawa sang bayi.
Saat sedang asyik mengobrol, seorang perawat masuk ke dalam ruangan kami. Perawat itu datang untuk membawa bayi nyonya Yamato ke ruang perawatan khusus bayi. Saat itulah aku mulai berpikir, dimana bayiku? Kenapa sampai sekarang mereka belum mengantarkannya padaku untuk disusui?
Rasa cemas dan panik tiba-tiba memenuhi diriku. Apa hal yang buruk terjadi pada bayiku? Tanpa sadar aku menyuarakan pikiranku.
"Kenapa bayi saya belum diberikan ya?" aku tidak bermaksud menanyakan ini pada nyonya Yamato, tapi tampaknya wanita itu merasa demikian.
"Mungkin sebentar lagi, anda baru saja siumankan nyonya Zala." Wanita itu berusaha menenangkanku.
"Mu.. mungkin saja ya." Bukannya berkurang, ketakutanku mulai semakin besar. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Semua kemungkinan berkelebat mulai dari bayiku yang butuh penanganan ekstra karena premature hingga kemungkinan terburuk jika Tuhan mengambilnya tanpa memberikan kesempatan untukku merawatnya.
Semua kemungkinan membuatku sangat cemas, tanpa terasa air mataku turun dan aku mulai menangis.
"Huaaa, dimana bayiku? Kenapa sampai sekarang tidak ada perawat yang mengantarkannya padaku."
Nyonya Yamato juga terdengar panik saat aku mulai menangis. Aku mendengar kata-katanya yang berusaha untuk menenangkan, tapi semua kemungkinan yang terlintas membuatku tidak bisa menghentikan tangisku. Aku mulai meraung-raung dan suara nyonya Nyamato mulai tertelan oleh teriakan tangisku yang memenuhi ruangan.
Athrun sedang kembali dari kafetaria rumah sakit setelah membeli beberapa makanan untuk mengganjal perutnya. Ia sudah di rumah sakit sejak pagi dan tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Ia baru bisa pergi mencari makanan setelah memastikan tindakan yang dilakukan pada Cagalli, istrinya, sudah selesai di lakukan. Maka setelah istrinya masuk ke ruang perawatan baru ia mulai memikirkan perut yang belum terisi sejak pagi itu.
Ruang rawat istrinya sudah dekat, tapi ia merasa mendengar tangisan istrinya. Apakah Cagalli sudah bangun dari efek bius operasi yang sudah dijalaninya? Pria bersurai sekelam malam itu segera berlari, tidak mempedulikan aturan bahwa tidak boleh berlarian di Lorong rumah sakit.
Ia segera membuka ruangan tempat Cagalli dirawat. Ia melihat istrinya sedang menangis sambil terus meraung-raung. Nyonya Yamato yang berada di sebelahnya terlihat berusaha menenangkan istrinya yang terus menangis. Sebelum pergi ke kafetaria ia sempat berkenalan dan menitipkan Cagalli karena dirinya akan pergi membeli makanan.
"Tuan Zala.." Wanita bersurai gulali itu terlihat lega saat Athrun masuk ke ruang rawat mereka. Tanpa mengindahkan wanita itu, Athrun segera menghampiri Cagalli.
"Cagalli? Ada apa? Apa terasa sakit?" Tanya Athrun dengan panik.
"Athrun, Athrun, dimana bayiku? Dimana anak kita?" Cagalli bertanya sambil terus menangis.
"Apa?" Athrun terlihat bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Anak kita? Kenapa sampai sekarang mereka belum memberikannya padaku?"
"Katakan ia baik-baik saja?" Raut wajah Cagalli sangat pilu saat menanyakannya pada Athrun.
"Kumohon katakana padaku ia baik-baik saja." Wanita bersurai pirang itu terus bertanya sambil menangis.
"Cagalli, kumohon tenangkan dirimu lebih dulu."
Tidak, kenapa Athrun tidak bisa menjawabnya? Jangan bilang ketakutannya menjadi nyata. Jangan bilang Tuhan benar-benar mengambil anaknya.
"Tidaaak, kumohon Tuhan, aku masih ingin merawat anakku. Kenapa kau mengambilnya dariku."Cagalli terus menangis.
Nyonya Yamato yang ada di samping mereka hanya bisa menutup mulutnya dengan terkejut. Ia ikut merasakan kesedihan Cagalli dan merasa turut berduka atas bayinya.
Cagalli menangis cukup lama dan semua perkataan Athrun tidak ada satupun yang didengarkannya. Athrun yang sudah tidak tahu harus melakukan apa hanya bisa memeluk istrinya dan terus mengusap kepalanya. Tanpa disangka hal itu berhasil, Cagalli mulai memelankan suara tangisnya dan balik memeluk Athrun dengan erat.
Saat suara tangis istrinya sudah berubah menjadi isakkan, Athrun mulai berbicara lagi pada Cagalli.
"Apa yang kau bicarakan? Anak siapa yang kau bicaran sejak tadi?" Tanya Athrun pada Cagalli.
Cagalli, merasa ada yang salah mulai melepaskan pelukannya dan menatap suaminya. "Anak kita, aku habis melahirkan kenapa mereka belum memberikan bayiku?" Ia kembali mengulang pertanyaannya di sela isak tangisnya.
"Kau habis operasi amandel, siapa bilang kau habis melahirkan?" Athrun bertanya sambil menatap wajah berantakan istrinya yang dipenuhi air mata.
Cagalli kini terdiam, dirinya seperti berusaha mengingat memorinya.
"Apa efek biusnya masih berpengaruh padamu?" Athrun kembali bertanya.
Kenangan sebelum operasi mulai memasuki ingatan Cagalli.
Ia ingat ia masuk ke dalam ruang operasi dan berkata pada Athrun,
"Tenang saja, hanya operasi amandel. Kau tidak perlu khawatir."
"Sudah aku bilang jangan makan bayak micin, kenapa kau keras kepala sekali?"Athrun terus menyerengitkan dahinya.
"Ehehe, habis enak."
"Kalau kau tidak keras kepala, kau tidak perlu operasi amandel."
"Maafkan aku. Hanya operasi amandel, kau bisa menunggu di kafetaria sambil makan kue, oke?"
Itulah memori yang diingatnya sebelum masuk ke ruang operasi. Setelah mengingat semuanya, Cagalli mulai cengengesan sambil menatap suaminya.
"Ehehehehe.. aku malu sekali."
"Kau sudah ingat sekarang?" Tanya Athrun dan dijawab oleh anggukan kepala oleh istrinya.
Setelah menyelesaikan kesalahpahaman yang ada, pasangan suami itsri ini selanjutnya meminta maaf pada nyonya Yamato karena telah membuat keributan.
Note :
Hallo, bagaimana kabar kakak-kakak semua? Semoga dalam keadaan sehat ya. Kali ini Niina membawakan kisah yang terinspirasi dari tweet orang, maaf kalau gaje dalam pembawaan ceritanya. Semoga ga pada bosen ngeliat pen name Niina terus disini hahaha. Oke deh, stay safe and healty ya .. jangan kendor prokes pokoknya. Sampai jumpa di cerita lainnya. Bye bye..
Beberapa minggu kemudian saat istirahat makan siang di kantor, Athrun tengah mengobrol bersama teman-temannya dan menceritakan kejadian yang dialami Cagalli.
"Shiho pernah meminta mobil saat bangun dari operasi." Yzak membagi pengalam serupa istrinya setelah Athrun menceritak kisah tentang Cagalli yang merancau setelah bangun dari operasi amandel yang dilakukannnya.
"Minta dokter bius lagi saja istrimu." Dearka bergurau dengan cerita Yzak.
"Aku ingin melakukannya." Jawab Yzak.
Athrun tertawa, "Benarkan? Kalau begitu bukan hal aneh ya orang berhalusinasi setelah operasi."
"Tidak aneh, obat bius memang bisa menyebabkan amnesia anterograde." Yzak menjawab pertanyaan Athrun.
"Amnesia anterograde?" Dearka kebingungan, baru kali ini ia mendengar istilah itu.
"Iya, tidak bisa mengingat hal-hal yang terjadi selama beberapa waktu setelah pemberian obat." Laki-laki bersurai platina itu menjelaskan.
"Ah, begitu."
Setelah menyelesaikan istirahat siang, kemudian mereka kembali ke unit kerja masing-masing lagi.
