Ons Nieuwe Licht

Sequel of Blue(s)

Busujima Mason Riou x Samatoki Aohitsugi

ABO Dynamic—Omegaverse, Canon-divergence

WARNING! OC included, implied M-Preg, it contains explicit content that may disturb some people. Read at your own risk.

©King Records, Idea Factory, Evil Line, Otomate. Saya hanya meminjam karakternya.

It's just BL-fiction, no-beta reader, typo(s) no you didn't see that /sobs

Enjoy!~ ^^


-0-

Samatoki mulai mencobanya. Setiap hari, ia sempatkan untuk mencincang wortel dan paprika hijau sekecil mungkin kemudian mencampurnya dalam adonan daging sebelum direbus. Sesekali ia terkejut dengan rasanya, pahit dan masih getir. Begitu terus, hingga merasa bosan. Samatoki harus melirik buku resep Nemu agar menemukan formula menu lainnya.

Sekarang pukul setengah satu. Samatoki sedang melihat-lihat dokumen Katen-gumi. Perhatiannya terpusat pada data statistik penurunan kasus di awal bulan, senyumnya sedikit mengembang mengingat kerja keras dirinya beserta anak buah yang turut 'bekerja sama' secara tidak langsung dengan polisi untuk menekan angka kejahatan. Setidaknya dalam lingkup pengawasan.

Tidak lama kemudian pintu setinggi tiga meter itu terbuka.

"Apa aku terlambat?" tanya seorang pria berambut ginger sedikit terengah. Terdapat kantong putih besar berisi 10 katsudon di tangan kekarnya.

"Tidak." Jawab Samatoki menyambut hangat . Mengecup pipinya singkat lalu membantu menaruh kantong ke atas meja. Pria itu duduk, sementara Samatoki beranjak membuka kulkas demi dua minuman dingin.

"Ugh, kamu habis ngapain?" tanya Samatoki menepuk-nepuk jaket Riou yang sedikit berdebu.

"Oh, aku membersihkan basement tadi." Jawabnya mengedikkan bahu.

Pria tinggi berpredikat alpha Samatoki ini menaruh perhatian pada sekeliling ruangan, "Sedang ada perayaan ya?" tanya Riou penasaran.

"Tidak, tidak ada." Jawab Samatoki mengamati betapa menggodanya daging yang tersiram saus. Nasi pun masih mengepul hangat.

"Lalu kenapa kamu pesan sebanyak ini?"

Samatoki hampir memasukkan satu potongan daging, "Ya… untuk kumakan. Semuanya." Jawabnya mulai mengambil suapan pertama.

"Tumben sekali."

"Kenapa, tidak boleh?" tanya Samatoki masih mengunyah. Riou hanya menggeleng kemudian menyesap minumannya lagi.

Sejak pertemuan di tengah badai, Samatoki akhirnya meraih tangan kiri Riou untuk pergi bersama. Tangan kiri itu kini sudah tersemat sebuah cincin pertalian. Satu tahun terakhir berlangsung sangat menyenangkan. Di bawah atap yang sama, mereka bertiga menulis cerita. Menumbuhkan akar kepercayaan yang disebut keluarga, merajut momen sambil menunggu tua. Tidak lupa, Ryuujin tampak bangga dengan nama barunya.

"Mason." panggil Samatoki menyudahi suapan terakhir.

"Ada apa, Samatoki?"

"Aku kenyang." Katanya meletakkan –lebih tampak seperti melempar kotak makan ke atas meja.

Riou heran, baru tiga suap tetapi Samatoki sudah bersikap seperti seseorang yang memiliki alergi.

"Hmm? Apa kamu baik-baik saja?"

"Ya, tiba-tiba saja aku merasa kenyang."

Riou menunjuk sembilan kotak yang menumpuk, "Lalu mau kita apakan kesembilan katsudon ini?"

Samatoki mengibas tangan seperti mengusir ayam, "Kau bisa memakannya, atau berikan saja pada Rentei."

Ia berkedip bingung, sekitar 30 menit yang lalu Samatoki menelepon minta dibelikan makan siang 10 kotak sekaligus lantaran sangat lapar, katanya. Bergegaslah Riou menuju kedai makanan usai membersihkan ruang penyimpanan tanaman hias yang gagal dirawat dan barang orang tua yang sudah meninggal. Selama ini ia memutuskan untuk menjadi salah satu pengurus tak tetap panti jompo hingga bertemu Samatoki, hingga saat ini.

"Ah, sekarang aku ingin makan pizza dengan banyak keju di atasnya. Ya, kelihatannya enak." Katanya mencari-cari di mana ponsel bersembunyi.

Samatoki kembali ke meja kerja, mengambil ponselnya dan segera mencari situs kedai pizza terdekat. Kedua mata ruby itu memindai menu pizza mana yang bisa memuaskan selera makan. Belum sempat memutuskan, ia tertegun dengan pelukan Riou dari belakang. Samatoki bersandar nyaman sambil memperlihatkan layar ponsel, siapa tahu Riou ada preferensi menu.

"Menurutmu yang mana?" tanya Samatoki.

Riou melihat feromon Samatoki menguar dalam dekapan. Feromon indigo beraroma patchouli dan vanilla memicu miliknya ikut keluar. Riou ingat sesuatu, belakangan ini feromon Samatoki meluap lebih banyak dari biasanya. Riou lantas mengamati sang omega seksama, kulitnya cerah, halus dan berkilau disiram cahaya. Bibirnya merekah merah, dan sorot mata yang biasanya tajam berubah lebih lembut. Tidak bisa mengelak, Samatoki memang sedikit lebih.. cantik. Namun, pertanda ini seperti pedang bermata dua, entah akan membawa suka atau duka.

Ah, tidak usah dipikirkan. Lagi pula Samatoki terlihat baik-baik saja.

Ia membalas, "Yang ini."

Samatoki mendengus kesal. Pasalnya saat menjawab tangan Riou turun meraba-raba paha dalam Samatoki.

Tengkuk Samatoki tidak lolos dari bibir sang alpha. Dikecupnya beberapa kali sebelum menggigit kecil hingga Samatoki sedikit berjengit. Samatoki menghela napas sambil menggeleng, pria besarnya ini kadang tidak peka terhadap situasi.

"Oi!" Samatoki terkesiap saat Riou tiba-tiba membalik dan mengangkat tubuhnya menuju meja kerja.

"Tunggu! Laptop-laptopnya! Bodoh!" Ia memukul kepala Riou berkali-kali demi menciptakan jeda.

Samatoki panik saat kedua tangannya dibimbing untuk melingkar pada bahu Riou. Layaknya koala Riou menggendong Samatoki menuju sofa yang lebih besar.

"Dasar tidak sabaran!" cerca Samatoki sedikit kesal.

"Jangan salahkan aku. Ini gara-gara feromonmu terlalu kuat, sayang."

"Tch! Mau gimana lagi? Aku tidak bisa mengontrol feromonku, brengsek."

Riou melangkah maju, perlahan memeluk Samatoki sambil terus memberi afeksi. Mata Riou melebar, dalam pandangannya hanyalah Samatoki dengan semburan feromon indigo yang lebih rapat. Bukan berarti Riou tidak menyukainya, melainkan kondisi ini jarang terjadi. Aroma tubuh Samatoki semakin harum, Riou takut hilang kendali.

Menyadari sedang diamati, Samatoki merasa seperti satu-satunya anomali.

"Ada apa sih?!" tanya Samatoki.

Spontan Riou menggeleng, "Tidak, hehe." lantas ia mencium Samatoki.

Belahan bibir Samatoki terbuka, Riou lalu menyapukan lidahnya di langit-langit yang lebih muda. Sambil membelit lidah, tangannya bergerilya mengelus punggung Samatoki sangat lembut. Biasanya Samatoki akan langsung terlena lalu buru-buru membuka celana. Namun kali ini tidak, pria bermata ruby ini masih menikmati bibirnya, membalas semua serangannya, melumat dan menggigit hingga kebas.

"Mngh!" suara desahan berat mengiringi usainya pagutan bibir mereka. Pria besar itu menarik diri.

Riou menutup mulut dengan punggung tangan, manik biru itu menatap nanar sang omega.

"Oh…" seringai Samatoki terukir jelas di wajah cantiknya.

Riou terkesiap, ada setitik perasaan takut dalam pilar alpha miliknya. Ia sadar, ada yang tidak beres. Mulai dari gelagat moody Samatoki, disusul feromon yang meluap-luap, dan sekarang lihat siapa yang mulai mencoba mendominasi?!

Dalam kesempatan ini Samatoki menubruk Riou hingga terhempas ke belakang. Pandangannya mengabur sesaat sebelum kembali fokus pada sosok cantik yang sedang duduk tepat di atas selangkangan. Riou menyaksikan sendiri Samatoki yang mulai membuka belt, melucutinya lalu menendang sembarangan. Tidak lupa menyingkap kemeja putih andalan sebelum membuang ke tempat yang sama.

"Mason…" kali ini Riou tahu betapa keparatnya panggilan itu karena sudah sanggup membuat kejantanannya berkedut. Ia menelan ludah susah payah.

Kekaguman tidak sepadan untuk lekuk tubuh elok Samatoki yang sedang memandangnya dari atas. Sebagaimana insting alpha, pria ini harusnya bertindak sebagai raja, akan tetapi pada detik ini ia terpaku, tidak bisa berkutik seujung jari pun. Aksen indigo mengikat keempat anggota geraknya, satu tangan Samatoki tengah bermain-main di dada.

Jemari Samatoki merangkak naik, menggelitik leher sang alpha lalu berhenti di bibir yang bergetar gugup. Samatoki membukanya paksa, mulut Riou menyambut dua jari itu tanpa beban, mengulumnya dengan lambat dan sensual. Hanya dengan dua jari Riou mencapai ekstasi, rasa manis ujung jemari tersebut mampu mengikat insting alpha-nya.

Samatoki menggigit bibir bawah, gemas dengan tingkah pria yang sudah resmi menjadi suaminya.

"Ungh…" geraman penuh nafsu itu terdengar kembali saat Samatoki menarik kedua jari. Air liur menjuntai dari ujung jari hingga permukaan bibir. Riou masih berharap ada sesuatu yang menyumpal mulutnya.

Sebenarnya siapa yang lapar?! Pendam Samatoki dalam hati.

Entah, mungkin Samatoki terlalu beruntung karena berhasil menaklukkan alpha dengan serangan feromonnya. Berinisiatif, Samatoki membawa diri mendekat menuju kepala di bawahnya. Sempat membelai pipi Riou, Samatoki perlahan mengangkat pantatnya dan mulai menduduki wajah tampan sang alpha. Sudah seharusnya Samatoki meminta persetujuan terlebih dahulu. Namun melihat reaksi Riou yang tampak sangat senang menerima, ia tak ambil pusing.

"Oh, yah! Mnghh…" desah Samatoki merasakan jilatan lidah Riou menyapu lubangnya. Mereka bergerak lihai ke berbagai arah, terkadang menusuk seakan ingin membuka jalan.

Akhirnya Riou bisa mengeluarkan feromon yang sempat terkikis Samatoki. Seiring dengan itu Riou sanggup menggerakkan kedua tangannya untuk mencengkram masing-masing paha Samatoki agar diam di tempat. Baginya diapit kaki omega sekarang menjadi salah satu candu, aroma aksen sudah bercampur dengan gejolak nafsu.

"AH!" Samatoki mendongak dengan mata terbelalak. Lidah panjang sialan milik Riou mampu menembusnya. Benda tak bertulang itu keluar-masuk menggoda bagian tersensitif Samatoki.

Sifat manusia itu tak pernah puas, Samatoki menambah stimulan seksual dengan memilin dan mencubit putingnya sendiri. Benar saja, rasanya sungguh luar biasa memabukkan. Geli bercampur ngilu dia rasakan saat lidah Riou menjejal lubangnya lebih dalam, berpadu dengan gerakan intens pada putingnya.

"Mmmh.. yah .. just like that ..ssh.." Samatoki mendesis merasakan seluruh tubuhnya bergetar halus. Lubang senggamanya diladeni dengan sangat baik, Samatoki pikir Riou tidak keberatan dengan lendir lubrikasi yang mengalir deras karena terlalu enak.

Riou sesekali menyesap dan melahap cincin anal Samatoki dengan rakus, vibrasi basah dari lidahnya yang adiktif membuat Samatoki terangsang untuk kerap menggesekkan pantatnya maju-mundur di permukaan wajah itu. Kedua mata Riou terpejam menikmati sensasi nikmat sekaligus menyesakkan rongga dadanya.

Namun sepersekian detik kemudian Riou membuka mata, ia mendapati Samatoki sudah mengangkat pantatnya lagi. Melenguh kecewa, pria ini masih ingin menyapa bagian bawah tubuh sang omega lebih lama. Dari atas, Samatoki dapat melihat suaminya yang keenakan, wajahnya berlumur cairan lubrikasi dan keringat. Samatoki menjilat bibir atas saat menatap Riou yang tak berdaya. Ia berani bertaruh penis Riou sudah menegak keras sekarang. Sangat terangsang.

"More, Samatoki." kata Riou dengan dada yang naik turun.

Tanpa diminta pun Samatoki akan melakukannya. Tangan Samatoki turun dan membuka belahan bibir Riou. Ia arahkan penisnya ke dalam lubang mulut dan memasukkannya perlahan. Keduanya mendesah dengan hadiah masing-masing. Riou senang menerima penis Samatoki yang berkedut, sedangkan Samatoki menggigil dalam hawa panas rongga mulut. Kedua tangan itu dengan cepat berpindah menuju sisi kepala Riou, setelah pasang ancang-ancang, Samatoki bergerak maju dan mundur.

Sambil meremas pantat sang omega, Riou menikmati penis yang menubruk tenggorokannya. Bukan hanya menelan, mantan tentara ini juga bersinergi dengan gerakan tangan Samatoki. Bermula pelan lalu bertambah cepat bersamaan dengan kesabaran Samatoki yang menipis.

"Unghkh… ukh.. uh..khuh.." hisapan berisik Mason memenuhi ruangan tersebut. Dari yang hanya memegang, kali ini Samatoki menarik helai rambut Riou untuk memperdalam kulumannya.

Samatoki tersenyum dalam desahan, ia suka saat mulut Riou turut melahap testisnya. Samatoki benar-benar melayang dibuatnya.

"AH!" teriak Samatoki mendapati dua jari menusuk analnya. Jari-jari itu membuat gerakan menggunting, membuka akses untuk pertunjukan utama.

Ada satu waktu di mana Samatoki hanya menenggelamkan penisnya menuju bagian terdalam. Rasanya hangat dan sempit. Jari-jari panjang Riou juga berhenti sejenak, tetapi masih menekan titik sensitif sang omega. Indra pengecap Riou sibuk mencicipi lezatnya daging berurat itu, kedua pipinya menirus demi memberi layanan tambahan. Lehernya mengembung berisi batang penis Samatoki. Riou mengulum dengan sangat sempurna.

Otak Samatoki berhenti berfungsi, kepalanya mendadak kosong. Ia merelakan kesadarannya hilang demi kenikmatan dua arah yang menghajarnya tanpa ampun. Lenguhan panjang mengalun bersamaan dengan cairan precum yang keluar dalam mulut suaminya. Riou menyipit merasakan perih akibat penis Samatoki yang kunjung membesar.

Gerakan tubuh Samatoki berangsur lebih liar, pantat sintalnya bergoyang demi mencapai kepuasan sendiri. Genggaman tangannya terlepas, mereka pindah menuju puting yang mencuat merah. Darahnya berdesir cepat, di pikirannya sekarang hanya ada jari dan mulut Riou yang terus mendesak untuk mencapai klimaks.

"Ngh.. cum- cumming! I'm cumming! Ahhh…" teriak Samatoki melenting indah. Tubuhnya bergetar hebat menyambut orgasme terbaik.

Bola matanya berkumpul di titik tengah kala tangan lain Riou –yang sempat menganggur mulai memompa pangkal batang penis Samatoki agar cairan putih kental itu tidak terbuang sia-sia. Tubuh cantik yang terselimuti peluh mengejan beberapa kali, mulut Samatoki terasa kelu hanya untuk mengadu nikmat; ujungnya hanya menganga lebar dengan air liur yang gagal tertampung.

Tak berselang lama kepala Samatoki berayun turun, libidonya kembali meninggi melihat pemandangan di bawah sana. Wajah merah Riou dengan satu sisi pipi yang mengembung, kedua mata sayu itu berair, entah karena air mata, keringat atau keduanya. Terakhir, ada sisa lelehan putih kental yang keluar dari sudut bibir tipisnya. Ekspresi Riou seperti orang yang overdosis alkohol.

Well, penampilan mereka tidak jauh berbeda.

"Riou?" panggil Samatoki sembari menarik miliknya keluar dari mulut Riou.

Riou mengambil napas dalam, kemudian tersenyum manis.

"Enak… ya?" tanya Riou dengan napas tersendat.

Samatoki dengan lubang becek-nya menunduk, menyamakan pandangan hingga hidung mereka bersentuhan, "Banget." Bisiknya penuh bahaya. Demi apapun Riou ingin membungkam bibir merah yang suka memaki itu.

Perlahan, Samatoki mencium leher Riou, sedangkan tangannya bergerak menuju selatan. Ia menemukan gundukan fabrik yang sudah basah dan lengket.

Menyunggingkan senyum kemenangan, "Did you cum just from 'that', Sergeant?" goda Samatoki menggesekkan dadanya di tubuh sang alpha.

Riou mengangguk lemah, pasrah ketika Samatoki melucuti celananya. Bergerak gesit, kali ini Samatoki sudah di atas batang panjang nan berurat milik mantan tentara. Ujung penis itu sangat merah, masih lembab dengan cairan ejakulasi. Kalau diingat lagi, ini kali pertama Riou klimaks tanpa disentuh.

Samatoki mulai menduduki penis Riou. Pria berdarah Amerika itu gemar menyaksikan dua bola mata Samatoki yang bergulir ke belakang saat melakukan penetrasi. Sebuah geraman dari si alpha menandakan bahwa Samatoki berhasil melahap penis sepenuhnya. Riou mendongakkan kepala merasakan himpitan kuat yang lebih muda.

Tidak ingin membuang waktu, Riou menghentakkan pinggul dengan keras hingga membuat Samatoki terkesiap.

Dasar tidak sabaran! Vonis Samatoki untuk kedua kali.

Pria berambut perak ini bergerak naik turun dengan konstan. Kedua tangannya menyangga tubuh agar tidak roboh. Samatoki harus berterima kasih kepada kedua jari besar yang membuat lubangnya menjadi lebih lentur dan sensitif. Akibatnya mereka memproduksi cairan lubrikasi terlampau banyak. Wajah Samatoki cemberut, ini terlalu basah … terlalu licin.

Riou tidak memiliki tempat pengaduan selain kepada sosok yang setia mengeluarkan desahan penuh kenikmatan tiap kali menjatuhkan diri. Samatoki tidak bermaksud mengambil alih kemudi melalui posisi ini, tentu saja ia mempersilakan suaminya untuk memimpin kembali. Riou berangsur duduk, pandangannya terkunci pada omega yang memejamkan mata. Samatoki menjulurkan lidah demi memasok udara; itu menjadi nilai tambah keerotisan di depan suaminya. Sofa berkualitas tinggi itu ikut berguncang dengan dua manusia yang sedang bercinta, bibir Riou bergumam pujian tentang betapa cantik sekaligus menggodanya wakil ketua Yakuza.

"Jangan diam saja! Gerak dong!" protes Samatoki kewalahan.

Riou menurut di tengah pening kepala. Samatoki memeluk leher Riou, mereka berciuman singkat sebelum melanjutkan pertunjukan. Tangan Riou menangkup pantat Samatoki, tidak segan menampar hingga mencakar demi mendengar alunan desah nikmat lagi.

Riou sangat tahu suaminya adalah seorang tsundere, meski terus merengek Samatoki malah menambah kecepatan gerakan melampaui tempo sebelumnya. Gampang bagi Riou, ia hanya bertugas menunggu momen-momen tertentu untuk mencapai puncak bersama. Hitung-hitung untuk mengeluarkan feromon agar mengembalikan kedudukan. Ingat, mereka adalah sepasang pria yang kompetitif dalam hal apapun.

Keputusan Riou membuahkan hasil, saat feromon indigo memudar ia dengan sigap memeluk Samatoki dan menghujam dengan ganas. Tubuh Samatoki berangsur lemah, tangannya lunglai terjatuh di kedua sisi, kakinya seperti tak bertulang. Lagi, euforia menelan bola matanya, seluruh tubuh Samatoki meremang. Kepalanya terlempar ke belakang memberikan kesempatan bagi Riou untuk memberi tanda yang kesekian.

Riou mendekati batas, napasnya memburu dan geraman keserakahan itu memekakkan telinga. Samatoki berteriak merasakan klimaks kedua, sekujur tubuhnya bergetar didera nikmat tiada tara. Air maninya menggenang di perut dan menodai dagu. Riou di bawah masih menghentakkan pinggang untuk menyusul puncaknya.

"Ja..ngan… di –di dalam.." lirih Samatoki yang enggan di dengar.

Lubang rektumnya mengencang, memicu knotting sang alpha. Satu hentakan kuat mengakhiri perjalanan, Samatoki menggelinjang senang menyambut semburan hangat ejakulasi Riou. Walaupun masih dalam sesi penguncian, benihnya masih bisa lolos keluar karena Riou selalu datang dengan volume penuh. Riou melepas gigitan sambil mengatur napas, Samatoki ambruk bersandar di tubuh kekarnya. Mata biru itu menyipit menyaksikan Samatoki memegangi perut seperti orang kesakitan.

Riou menunduk untuk memberi ciuman terakhir di pelipis Samatoki sambil berterima kasih.

Lalu ia menjatuhkan diri ke sofa, tenaganya terkuras cukup banyak.

Samatoki berusaha menjaga kesadaran terakhir agar tidak padam, seluruh tubuhnya merespon kenaikan suhu sang alpha. Awalnya berpikir hal terjadi akibat pasang surut adrenalin, tetapi Samatoki harus mencabut hipotesisnya saat melihat Riou yang memegangi kepala dengan alis bertaut dalam.


-0-

"Kamu pulang saja, istirahat. Lagi pula hari ini giliranku untuk menjemput Ryuujin." kata Samatoki selesai memasangkan kompres demam di dahi Riou.

"Tidak, masih ada yang harus aku lakukan di panti."

"Seberapa penting kerjaanmu itu sampai mengesampingkan kesehatanmu?"

Riou bangun susah payah, berjalan sempoyongan meraih jaket. Tidak segera mendapat jawaban, Samatoki memilih untuk mengganti pakaiannya yang basah. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan setelan black high neck dan fossil green long coat. Mau tidak mau Samatoki harus menutupi tanda pemberian dari sang alpha di sepanjang lehernya.

"Hari ini upacara peringatan kematian salah satu kolega, aku harus datang untuk membantu persiapan." Jawab Riou sedikit serak.

Ekspresi Samatoki perlahan melunak, ia mengangguk kecil mengerti, "Setidaknya biarkan Rentei mengantarmu." Riou pun setuju.

"Suppressant-nya ada di meja."

"Iya, bawel." Sahut Samatoki meraih kunci mobil. Ia berencana meminumnya setelah menjemput Ryuujin.

"Samatoki?"

"Hmm?" sahut Samatoki menaruh atensi.

Sedikit ragu, tapi Riou ingin memastikan sesuatu, "Kapan terakhir kali kamu heat?" pertanyaan itu sukses membuat Samatoki membeku. Mereka bertukar pandang, saling mengingat.

Samatoki menjawab, "Dua bulan lalu."

Riou membulatkan mata, pasalnya omega secara normal akan mengalami masa heat tiap bulan. Pada kasus ini heat Samatoki berlangsung lima hingga tujuh hari. Namun, ia akui dua bulan terakhir mereka benar-benar disibukkan dengan pekerjaan, Riou harus berkutat dengan pembangunan fasilitas ruang baca serta Samatoki meloncat dari pertemuan klan satu ke klan yang lain. Memang selama rut Samatoki selalu ada di sisinya, akan tetapi hanya sebatas melayani. Riou sama sekali tidak ingat tentang heat Samatoki. Baru setelah melihat tiga suap katsudon, Riou sadar jika mereka saling menanti penyatuan kedua. Ia mendadak cemas, apakah ini sebab Samatoki terlambat heat sehingga feromonnya tidak terkontrol? Apakah perannya sebagai alpha terlalu pasif sehingga berhasil merusak mekanisme hubungan?

"Tapi tenanglah, aku baik-baik saja." Ucap Samatoki seakan mengerti gemuruh isi kepala suaminya.

Meskipun tidak puas, Riou tetap menanggapi dengan tersenyum, "Kalau ada apa-apa, bilang ya? Aku khawatir." Katanya lembut.

"Sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri. Kamu kelihatan pucat." Samatoki mendekat untuk memastikan kompres itu tertempel sempurna.

Riou ingin mencuri ciuman tetapi telapak tangan Samatoki bergerak lebih cepat untuk membungkamnya, "Mason, Aku sudah terlambat menjemput Ryuujin." Kata Samatoki sebagai kalimat perpisahan.

Sudah terhitung ada empat panggilan tidak terjawab selama perjalanan ke taman kanak-kanak. Samatoki baru mengetahuinya setelah sampai tempat tujuan. Ia menaikkan alis, tumben sekali salah satu guru di sana menelepon dengan selisih waktu singkat. Seingatnya Samatoki tidak memiliki kepentingan, atau apa dia sudah melewatkan acara di taman kanak-kanak? Entahlah.

"Ah..sshh." tiba-tiba Samatoki mendesis kesakitan.

Samatoki mengelus permukaan perut bawahnya. Hal itu memang biasa terjadi setelah berhubungan badan, akan tetapi ia tidak menyangka akan selama ini efeknya. Asumsi paling kuat adalah kombinasi perut kosong sedari pagi ditambah seks; ternyata hasilnya sangat buruk. Samatoki mengambil napas dalam, lalu berangsur keluar dari mobil.

Baru saja memasuki ruang kelas, Samatoki disambut dengan dua anak-anak yang saling membelakangi dan orang dewasa. Satu wanita berambut ikal dengan gaun putih tengah memandangnya dengan rasa takut, sedangkan wanita berambut lurus hitam yang Samatoki yakini adalah guru sedang berjalan ke arahnya.

"Ryuu-chan memukulku!" tuduh seorang laki-laki berumur lima tahun sambil menunjuk Ryuujin.

Guru tersebut tersenyum tipis kemudian menjelaskan, "Maaf tiba-tiba menelponmu, Busujima Samatoki-san. Mereka berdua tadi bertengkar, Sato-kun tidak sengaja mendorong Ryuu-kun, jadi dia membalas memukul. Saya melihatnya sendiri."

"Ah, saya minta maaf Busujima Samatoki-san, Sato memang terkadang suka mencari masalah." Ucap wanita ikal tersebut sambil terus membungkukkan badan.

Samatoki ikut membungkuk, "Saya juga maaf, Ryuu seharusnya bisa menyikapi lebih baik."

"Hora, Sato-chan! Ayo minta maaf!" ujarnya membimbing sang putra untuk berbaikan dengan Ryuu.

Sambil mengulurkan tangan anak bertubuh cukup gempal itu berkata, "Aku minta maaf." Nadanya bergetar habis menangis.

Ryuu tidak mengacuhkan, ia masih berdiri membelakangi. Kedua tangannya masih meremas udara, menahan semua air mata yang nyaris menetes.

"Ryuu-chan, ayo berbaikan dengan Sato-chan." Bujuk sang guru berjongkok sambil mengusap bahu kecil Ryuu.

Sang anak masih terdiam kaku, "Ryuu." Samatoki akhirnya ikut membujuk.

"Tidak mau!" tolaknya dengan lantang.

Samatoki memutar tubuh Ryuu paksa, wajahnya memerah menahan amarah dan air mata. Sekali lagi ia mencoba membujuk, "Ryuu, lihat, Sato-chan sudah minta maaf duluan."

"Tidak mau! Sato-chan sudah mengejek Papa-sama!"

"Ryuujin." Panggil Samatoki bernada dingin.

"Sato-chan sudah mengakui kesalahannya, kamu juga harus melakukan hal yang sama. Sekarang, ayo minta—"

"TIDAK MAU!" jawab Ryuu gigih.

"Kamu kenapa sih?!" tanya Samatoki mulai kesal dengan putranya sendiri.

Ryuu menatap sang ayah dengan alis menukik tajam, "PAPA-SAMA NGGAK AKAN MENGERTI!"

"Jangan buat Papa marah, Ryuujin." Tegas Samatoki meremas kedua bahu mungil Ryuu.

Sekali lagi guru tersebut mencoba menengahi, "M-Ma, Ryuu-chan. Papa Ryuu, Mama Sato dan Sensei akan senang jika kalian berdua berdamai, dan besok kalian berdua bisa bermain bersama lagi. Jadi, ayo kita saling berjabat tangan."

Ryuu menggeleng tegas, Samatoki hilang kesabaran. Ia menarik putranya dengan paksa, Ryuu meronta-ronta tidak berani menghadap kedua mata ruby Samatoki. Otot-otot di wajahnya tampak mengencang, "Ini peringatan terakhir, Ryuujin. Sekali lagi kamu membantah apa kata Papa, maka—"

Deringan dari ponselnya sukses memotong perkataan Samatoki. Ia merogoh saku, salah satu anak buahnya menelepon. Ketika Samatoki ingin menjawab panggilan tersebut Ryuu dengan cepat merampas ponsel itu lalu melemparnya hingga membentur lantai cukup keras. Ponsel itu terpecah menjadi tiga bagian.

Cukup, ini sudah kelewatan.

Plak! Samatoki menampar Ryuu impulsif. Suara tersebut memecah kesunyian ruangan.

Semuanya terkejut.

Ia lantas berdiri, menatap putranya yang mulai menangis histeris sambil memegangi pipi kiri.

"Busujima-san!" seru sang guru langsung meraih Ryuu. Anak laki-laki itu menangis dan menjerit, meluapkan kekesalannya kepada semua orang di ruangan itu.

Samatoki bergeming, lalu pergi.


-0-

Satu pil penurun demam baru saja Riou teguk dalam persiapan upacara penghormatan kematian. Dia tidak berharap banyak, semoga obat kecil itu bisa mengalihkan rasa sakit kepalanya. Barangkali agenda terakhir akan terlaksana dengan lancar apabila tidak ada seorang wanita yang menggendong seorang anak tengah menunggumu di luar bangunan sembari berharap cemas, hampir menangis. Pandangan Riou terpusat pada anak yang meringkuk dalam pelukan sang guru.

"Busujima-san." Panggil wanita tersebut putus asa.

Riou berusaha dengan sisa tenaga untuk menenangkan Ryuu. Saat ini mereka berdua sedang duduk di bangku halaman samping wisma yang biasanya menjadi tempat untuk berjemur dan senam. Kemeja hitam Riou terasa sesak dengan dua tubuh di sana, miliknya dan Ryuu yang bersembunyi seperti anak kangguru. Anak berambut perak itu masih menangis akan tetapi tidak sehisteris beberapa waktu lalu.

"Papa-sama benci sama Ryuu." Katanya masih tersedu.

"Itu tidak benar, Papa sayang sama Ryuu."

"Buktinya Papa-sama tadi pukul Ryuu!" tangisnya mulai pecah kembali, Ryuu tersengguk-sengguk mengingat raut wajah murka Samatoki sebelum meninggalkannya.

Tangan besar itu berpindah menuju puncak kepala putranya, sontak Ryuu mendongak melihat tatapan teduh Riou. Bahu kecil itu mengendur seakan turut merasakan setitik ketenangan. Anak itu kembali meringkuk, memeluk tubuh hangat Ayah yang sedang demam.

"Apa tadi Ryuu memukul Sato-chan?" tanya Riou saat Ryuu berangsur tenang.

Dalam suara parau Ryuu menjawab, "Sato-chan mengejek Papa-sama, lalu dia mendorong Ryuu. Ryuu marah dan memukulnya." Ia susah payah mencoba tegar.

"Apa Sato-chan sudah meminta maaf?" Ryuu mengangguk singkat.

"Kalau Ryuu?" anak itu kembali mendongak, kali ini memandang heran Riou.

Riou tersenyum, "Kalau Ryuu sudah belum?" ulangnya.

"Kenapa Ryuu harus minta maaf?"

"Itu namanya bertanggungjawab, Ryuujin." Isakannya mereda, sekarang hanya raut penasaran yang ada. Satu kata baru yang ia dapatkan hari ini, yaitu tanggung jawab.

Riou melanjutkan, "Sato-chan memang membuat Ryuu marah, tapi dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Ryuu. Sekarang, apa Ryuu sudah memaafkan Sato-chan?"

Ryuu berpikir sejenak, lalu mengangguk.

"Anak baik." Riou mengusap wajah putranya lembut.

"Itu berarti Sato-chan sudah bertanggung jawab kepada Ryuu. Dan ini giliran Ryuu untuk bertanggungjawab kepada Sato-chan." Katanya berharap dipahami oleh sang anak.

"Ryuu sudah memukul Sato-chan. Ryuu membuat Sato-chan menangis." Senyum pria itu semakin lebar mendapati Ryuu sudah menyadari kesalahannya.

"Ryuu harus minta maaf!" katanya sangat mantap.

"Benar, besok kita minta maaf sama Sato-chan."

"Hn!"

Tubuh Riou menggigil merasakan angin malam yang masuk melalui celah kemeja. Ia ingin segera kembali ke dalam akan tetapi masih terlena dengan tingkah putranya yang bergelayut manja dalam pelukan. Meski gen Samatoki mendominasi, tetapi Riou bisa melihat dirinya dalam tubuh kecil Ryuujin. Polah menyusup pakaian ini merupakan kebiasaan Riou ketika masih kecil. Bukan hanya baju, kadang Riou akan bersembunyi di balik rok ibunya tanpa alasan tertentu. Ia tidak sadar tertawa kecil.

"Ryuujin.." panggil Riou kemudian.

"Hmm?"

"Mungkin ini hanya kesalahpahaman, aku tahu Ryuu bukan anak yang nakal." Kepala Ryuu miring beberapa derajat, mata bulatnya berkedip mencoba mencerna maksud kalimat sang Ayah.

Merasa gemas, Riou mengecup dahi Ryuu sekilas.

"Um… bagaimana dengan Papa-sama?" tanya Ryuu bergetar takut.

Riou memberi ekspresi seolah berpikir keras, "Hmm, aku tidak tahu. Bagaimana kalau kita menemuinya?"

Ryuu beringsut, "Ryuu takut." Riou tertawa atas reaksi lugu putranya.

"Tenang, semua akan baik-baik saja." ucapan sang Ayah seperti mantra, Ryuu yang sudah terhipnotis pun mengangguk. Ryuu percaya jika dalam kata-kata itu ada sebuah perlindungan yang membuatnya merasa aman.

"Ayo kita pulang. Hmm, haruskah kita membeli coklat untuk Papa?"

Mata Ryuu berbinar mendengar nama makanan manis itu, "Coklat!" serunya mulai lupa dengan kesedihan.

"Baiklah, sekarang keluar dulu." Perintah Riou sambil membantu Ryuu meninggalkan kantung kangguru-nya. Riou lantas merengkuh tubuh Ryuu, menggendongnya dengan satu tangan.

Setelah berpamitan pada anggota pengelola panti jompo mereka pun pulang. Kedua tangan mungil itu masih melingkar di leher Riou. Ryuu merasa nyaman merasakan kehangatan dalam dekapan, sementara Riou harus tetap menjaga kesadaran di tengah terjangan demam.

Tangan yang tidak lebih besar dari buah apel itu merangkak naik. Menangkup satu pipi Riou, mau tidak mau ia menoleh barangkali Ryuu meminta perhatian. Saat itu juga Ryuu mengecup pipi Riou singkat lalu kembali bersandar, meletakkan kepalanya di ceruk leher sang Ayah.

"Terima kasih… Ri—Oto-sama." Kata Ryuu sambil tersenyum.

Ia berterima kasih atas segala perhatian, penantian, dan perlindungan yang Riou berikan malam ini.

Mendengar sebuah panggilan yang dinanti hampir satu tahun itu Riou luar biasa terkejut. Ryuu mungkin akan menertawakan wajahnya yang semerah kepiting rebus, tapi ia tak peduli, -persetan dengan kepiting rebus. Ucapan Ryuu sudah mengobrak-abrik isi hatinya, ribuan kupu-kupu memberontak keluar dari perutnya. Apa sebutan untuk perasaan bahagia, terkejut, dan bangga yang melebur jadi satu? Sialan, Riou hanya bisa tersenyum salah tingkah.

"Ryuu bilang apa? Oto-sama tidak dengar." Pintanya jahil.

"Terima kasih Oto-sama." Ulang Ryuu lugu.

"Apa?" belum, ini belum cukup.

Ryuu mengambil napas, bibir tipis itu mendekat ke telinga Riou, "TERIMA KASIH, OTO-SAMA!" teriaknya berharap pria itu menyerah bertanya.

"Panggil Oto-sama lagi."

"Hnggg…" rajuk Ryuu mengusap wajahnya di leher Riou. Sang Ayah hanya tertawa geli.

Seketika, satu pil penurun demam yang ia minum mulai bekerja.


-0-

Mimpi buruk Samatoki menjadi nyata.

Kalau ditanya, siapa juga yang mau mimpi buruk mereka menjadi nyata? Tidak ada, termasuk Samatoki. Pria ini tidak menunggu, tetapi ia merasa ketakutan itu semakin dekat. Tangan kanan yang bergetar itu sudah melukai putranya sendiri. Padahal Samatoki sudah berjanji mati-matian untuk menjaga dan merengkuhnya dalam lindung pelukan. Lalu, hari ini pun tiba. Hari ini ia melanggar janjinya, dalam kesadaran nyata.

Samatoki takut. Tindakannya akan menjadi sebuah awal mimpi buruk lain. Tangan Samatoki mengepal, giginya menggeretak keras.

Brengsek. Lalu apa bedanya ia dengan sang Ayah? Tak mungkin Samatoki melupakan bagaimana cara sosok pria dalam mengiringi perjalanan hidup mereka. Kenangan buruk itu bergumul dan mengendap menghasilkan residu trauma. Sebenarnya keinginan Samatoki tidak muluk-muluk, ia hanya ingin pantas untuk menjadi Ayah. Samatoki sadar betul jika ia masih sangat jauh dari kata layak.

Sekarang ia hanya duduk memandang gorden berwarna rosepetal yang bergerak-gerak tertiup angin dari celah ventilasi. Di luar hujan menggelontor, petir tidak jarang menyapa. Samatoki kalut, dua orang tersayang sedang berada di lantai bawah, entah sedang melakukan apa. Samatoki ingin menyapa, akan tetapi ego menyuruhnya untuk tetap tinggal. Mengurung diri, ia tidak lebih dari seonggok daging yang bernapas.

"Arrgh.." rasa nyeri itu datang kembali. Otot punggungnya mengencang dan menjalar menuju perut bagian bawah. Ada sesuatu yang membuat perutnya tegang dan nyeri, seperti kram. Samatoki melenguh kesakitan, dengan gegabah mulai mengobrak-abrik laci untuk mencari suppressant.

Walaupun matanya menyipit Samatoki dapat melihat pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok kecil yang membelakangi cahaya. Sangat kontras dengan kamarnya yang remang.

"Papa-sama… kenapa?" tanya Ryuu cemas.

Samatoki duduk kembali di atas ranjang, menyembunyikan sakitnya, "Ah.. nggak apa-apa, sayang. Ada apa?" Samatoki menyangga tubuhnya dengan satu tangan.

Perlahan jagoan kecil itu masuk dengan langkah lambat. Samatoki mengucap syukur keadaan Ryuu terlihat lebih baik. Kedua tangan mungilnya tersimpan di belakang, badan Ryu bergerak gugup masih takut memandang Papa.

"Um.. Papa-sama." Panggilnya mirip suara anak kucing.

Samatoki menelan ludah menahan kram perut, "Iya?"

"Ryuu minta maaf." Kedua pupil Samatoki melebar kala sang anak mengulurkan sekotak coklat dengan pita merah di sudutnya. Ryuu bersemu, antara malu dan ingin menangis.

"Ryuu sudah memukul Sato-chan dan membuat Papa-sama marah. Oto-sama bilang kalau Ryuu harus bertanggungjawab, jadi…" ada jeda sebelum Ryuu melanjutkan kalimatnya.

Menahan air mata di pelupuknya, "Ryuu minta maaf. Papa jangan ninggalin Ryuu sendirian lagi ya?"

Astaga, tamparan itu sangat tidak setimpal dengan wajah manis Ryuu.

Samatoki menarik Ryuu menuju pelukan hangat. Mata Samatoki terpejam, ingin menyalurkan kasih sayang pada tubuh yang sedikit bergetar. Samatoki mengelus punggung Ryuu untuk menenangkannya, ia menyesal. Sangat menyesal.

"Papa juga minta maaf." Lirihnya.

Samatoki masih memeluk, tangan yang lain meraih wajah Ryuu. Masih terlihat jelas bekas tamparan di pipi Ryuu. Samatoki mengusapnya lembut, sambil memandang iba. Bagaimana bisa ia melukai anak semanis ini? Kepala Samatoki turun dan mengecup seluruh bagian wajah Ryuu hingga pemiliknya memilih untuk bersembunyi.

"Papa-sama sudah tidak marah lagi 'kan?"

Samatoki menggeleng, "Tidak, sebenarnya Papa juga tidak ingin memarahi Ryuu."

"Eh?" mereka saling bertatapan.

"Tapi Ryuu tadi tidak mengakui kesalahan 'kan? Jadi Papa harus memarahi Ryuu, karena itu tanggung jawab Papa." Terangnya mencoba tersenyum masih menahan sakit.

"Mulai sekarang, Ryuu juga akan selalu bertanggungjawab." Ucap anak itu memeluk Samatoki lagi.

Samatoki menepuk pucuk kepala Ryuu beberapa kali, "Anak baik."

"Ayo turun, Papa-sama! Oto-sama sudah menyiapkan makan malam." Ajak Ryuu berangsur turun, sambil menarik tangan Samatoki.

"Iya." Satu matanya menyipit merasakan perutnya seperti diremas dari dalam.

Ryuu berlari duluan sementara Samatoki harus merambat dinding untuk menunjang langkah. Tangannya gemetar tiap menuruni anak tangga, Samatoki bingung dengan rasa nyeri yang datang dan pergi ini. Samatoki sampai di meja makan dengan keringat yang mengembun di punggungnya.

"Bagaimana keadaanmu, Riou?" tanya Samatoki mengatur napas.

Riou baru saja meletakkan piring terakhir, "Lebih baik. Samatoki? Kamu kenapa? Wajahmu pucat." Riou menyentuh dahi Samatoki, dingin. Ia tidak demam.

"Tidak, cuma telat makan. Aku tidak apa-apa."

Mereka lalu duduk bertiga. Samatoki tersenyum kecil, di momen ini ia selalu menyadari bahwa mereka telah menjadi sebuah keluarga. Kursi kosong ketiga kini terisi dengan pria besar bermata sebiru lautan. Ini terasa.. lengkap.

"Itadakimasu." Ucap ketiganya.

Di tengah-tengah mereka menyantap makanan Samatoki bertanya, "Ryuu, emang Sato-chan ngejek Papa apa?"

Ryuu cemberut, "Sato-chan mengejek pekerjaan Papa-sama."

"Hmm? Memangnya ada yang salah dengan pekerjaan Papa?" timpal Riou kemudian.

"Sato-chan bilang kalau… Ryuu tidak akan pernah punya adik karena Papa-sama seorang Yakuza."

Jawaban Ryuu seketika membuat Riou tersedak dan batuk-batuk, ia segera menyambar gelas air, semetara Samatoki menjatuhkan kedua sumpitnya bersamaan, wajahnya melongo tidak percaya.

"Tapi itu tidak benar 'kan? Ryuu yakin kalau Ryuu akan punya adik."

"Iya 'kan Papa-sama, Oto-sama?" tanya Ryuu memandang Riou dan Samatoki bergantian. Matanya berbinar penuh harap.

Mereka berdua membuang muka, belum memberi jawaban.


-0-

Keesokan harinya Riou sudah dibikin panik karena mendapat kabar jika Samatoki pingsan. Baru singgah selama sepuluh menit di wisma, pria itu langsung tancap gas menuju rumah sakit. Ia menambah kecepatan mengingat Samatoki ditemukan tergeletak di kamar mandi dengan darah yang merembes melalui celana. Riou mencengkram kemudi, dalam pikirannya hanya ingin segera sampai tujuan.

Riou memasuki rumah sakit dengan tergesa, menyusuri koridor mencari-cari ruangan bernomor 105. Ia sempat ditegur oleh suster agar memelankan langkah kaki. Riou belok kanan di lorong kedua, akhirnya ia menemukan ruangan yang dimaksud. Sedikit ceroboh Riou membuka pintu kamar cukup keras hingga dua orang di dalamnya terkejut. Rentei spontan berdiri dan menyambut Riou, Samatoki duduk dengan kondisi tangan yang tersemat selang infus, pakaiannya sudah berganti dengan seragam pasien.

"Permisi, Kashira, Busujima-san." Pamit Rentei tidak ingin mengganggu.

Sempat ragu tapi Samatoki putuskan untuk menyapa, "Hey."

"Don't 'Hey' me." Sahut Riou dingin.

Samatoki menelan ludah, suaminya benar-benar marah kali ini. Ia menutup hidung, demi Tuhan esens Riou menerjang pembauannya.

"Samatoki, I came here as soon as possible after Rentei said you passed out. Bleeding. Even though this morning I told you if you were sick, we could go to the hospital. You didn't listen to me, did you?" Katanya dengan nada meninggi. Ia menggeleng, kecewa dengan dirinya dan Samatoki.

Riou menghela napas dalam, "Tolong, jangan begini lagi, ya?!" Samatoki mengangguk pelan.

"Iya. Maaf sudah membuatmu khawatir." Kata Samatoki menampakkan raut menyesal.

"Jadi, apa kata dokter?" tanya Riou pergi sejenak menyeret kursi.

Samatoki sempat menggigit bibir bawah lalu menjawab, "Ada kabar baik dan buruk. Mau yang mana dulu?" tawarnya.

"Samatoki."

Samatoki terkekeh, "Iya.. iya. Kabar buruknya aku harus istirahat total selama satu bulan. Aku harus berhenti minum alkohol dan merokok –ugh menjengkelkan, tapi yah, aku tidak punya pilihan. Terakhir Dokter melarang kita seks selama…. setidaknya dua bulan dari sekarang." jelasnya panjang lebar.

Riou nyaris tidak berkedip mendengar penjelasan, semua kemungkinan-kemungkinan buruk memenuhi kepalanya.

"Kabar baiknya,"

Ini kali kedua Samatoki menyajikan senyum lebar, senyum yang sama seperti saat mereka memenangkan pertandingan melawan Buster Bros. Ia begitu bahagia.

"Ryuujin akan jadi seorang kakak." Sambungnya.

Napas Riou lolos tanpa beban. Kalimat terakhir Samatoki meluluhkan sendi-sendi yang sempat mengencang. Ternyata ini adalah jawaban semua keganjilan yang Riou lihat pada Samatoki. Ia lalu menjelaskan alasan masalah heat, fenomena itu hanya terjadi pada sebagian kecil omega. Sebenarnya ia hanya sangat terlambat mengalami fase ini, karena kadar stress yang tinggi, jam mobilitas padat, dan pembuahan menyamarkan fase heat Samatoki. Dokter sempat heran sekaligus kagum kenapa kandungan Samatoki begitu kuat pasalnya ia mengaku masih mengonsumsi alkohol dan merokok di dua bulan lalu. Sekarang, Samatoki memasuki bulan ketiga.

"Jadi itu alasan kenapa feromonmu keluar begitu banyak?" tanya Riou.

Samatoki mengangguk, "Ya, bisa dibayangkan, mereka mengendap selama dua bulan lamanya."

"Lalu bagaimana dengan… pingsan.. dan darah?" tangan Riou bergerak-gerak bingung.

"Itu menjadi alasan kenapa kita harus berhenti seks untuk sementara waktu." Jawabnya.

Riou benar-benar mengerti.

Hening untuk beberapa sesaat.

Perlahan, pria besar itu meraih tangan Samatoki, menggenggamnya erat. Samatoki tahu, Riou adalah manusia paling susah mengekspresikan perasaannya. Di balik tatapan dingin dan suara baritone-nya Riou merupakan pria yang berkepribadian hangat. Seorang Alpha yang loyal, meski kadang sama-sama keras kepala, seperti dirinya. Tidak memerlukan kata, Samatoki tahu. Hanya melalui tatapan teduh yang mulai berkaca-kaca, Samatoki dapat merasakan kebahagiaan sang Alpha.

Riou sedang terharu, dan hanya Samatoki yang tahu itu.

"Kemarilah." Lirih Samatoki melebarkan tangan.

Riou menyambut pelukan, Samatoki mengusap-usap lehernya lembut. Pelukan itu tidak bertahan lama, Riou merosot hingga kepalanya berpangku pada perut Samatoki.

"Ryuu memanggilku Oto-sama." Katanya tersenyum bangga.

"Ya, aku sudah tahu."

Tangan Samatoki menyentuh helaian poni Riou, menyingkirkannya demi melihat mata birunya.

"Akhirnya."

"Akhirnya?"

Senyum manis Samatoki berubah menjadi seringai mengerikan, "Akhirnya, aku bisa membuktikan kalau Ryuu bisa punya adik."

"Jangan bilang kalau kamu—" Samatoki mengangguk mantap.

"Samatoki, balas dendam pada seorang anak kecil adalah hal paling konyol."

"Ini bukan balas dendam, ini tentang harga diri, Mason. Kau tidak akan pernah mengerti."

Riou menegakkan punggung, "Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti siapapun."

"Aku tidak akan menyakitinya, yah.. aku tidak janji sih."

"Tidak."

"Apa maksudmu tidak?"

"Kau tidak boleh melakukannya."

"Ayolah. Biarkan aku sedikit bersenang-senang."

Sungguh, Riou harus segera mencari buku resep Nemu agar perhatian Samatoki teralihkan.

The End.


Notes:

Jadi…saya ngga nyangka kalo bakalan ngelanjut FF Blue(s) [baca: pasusu baru] whahaha. Walopun telat tapi.. I made this for valentine's daaayyy. Oh, oh, there may be different rules in the ABO world, like focusing on visualizing color and essence and other things [ex: Riou has the essence of Dark Blue, almost like Prussian blue, whereas Samatoki Indigo etc.]

I hope you guys enjoy this ff, and pay attention to little things like..r you aware of Samatoki's name change here? HAHAHAHA

Semoga suka dan jangan sungkan tinggalkan jejak ya!~~

Sampai jumpa di ff berikutnya!

Arigatou Gozaimasuuuu ^^