Halo para pembaca sekalian! Saya merupakan Author cerita fiksi penggemar ini. Saya sudah meminta izin dari kakak @Sucidisastra untuk membuat ulang ceritanya.

Saya akan membuat cerita ini agak lambat dalam alurnya. Fokus kita dalam cerita ini adalah OC buatan saya dengan Tohka. Dunia yang saya buat merupakan crossover dua anime tapi dicampur unsur anime lain.

Disclaimer :

Date A Live merupakan karya milik Koshi Tachiban. Katekyo Hitman Reborn merupakan karya milik Akira Amano. Serta unsur fiksi lain jadi milik pencipta masing-masing. Saya hanya memiliki karakter buatan saya serta alur cerita yang saya buat.

Selamat membaca!


- Italia -

"Kau yakin dia ada di sini? Aku tahu Don meminta kita memburunya karena harga kepala yang menggiurkan. Tapi bung, kita sudah mencarinya LEBIH DARI SEPULUH JAM!! Serius Melone, aku bisa gila jika kita tidak bisa menemukannya sampai tengah malam ini." protes seorang pria kepada rekannya yang sedang memegang pistol.

Dikatakan rekan masih menganalisa tempat ini. "Di molto, bukan hanya kau yang merasakannya Peschi. Kau tidak tahu betapa kesalnya aku kehilangan jejaknya saat pemasok kita kehilangan kepala dalam sekejap mata. Oh Di molto."

Peschi yang mendengar balasan dari rekannya tersebut mulai menggeram. Kedua pembunuh bayaran ini sedang berada di sebuah hotel terlantar untuk melaksanakan misi mereka. Membunuh dan memutilasi orang yang sudah memutus rantai perdagangan obat organisasi mereka selama dua tahun.

Peschi dan Melone merupakan pembunuh bayaran kelas kakap yang tidak pernah gagal dalam misi mereka dan tingkat kesuksesan mereka mencapai 82 persen. Waktu eliminasi mereka dibawah lima hari. Banyak orang yang sudah menggunakan jasa mereka dan mengaku puas dengan hasil yang mereka berikan.

Namun hari ini pertama kalinya sang duo dibuat jengkel oleh target mereka yang satu ini. Melone si ahli melacak saja hampir membenturkan kepalanya ke gardu listrik karena targetnya bergerak layaknya kecoak. Di satu waktu dia ada di atap lalu di waktu berikutnya dia ada di lantai dasar.

Berpencar akan menjadi hal yang berbahaya dikarenakan target mereka ini bisa melawan balik. Bukan untuk kabur namun membunuh orang yang ingin membunuhnya. Semakin banyak yang mengejarnya, semakin banyak pula yang akan tumbang. Dikatakan bahwa hitman nomor 1 di dunia saja tidak mampu menyentuhnya.

Entah apa yang duo ini pikirkan. Uang tetaplah uang. Jika sudah berbicara, orang pasti akan menurut.

Begitulah yang dilakukan oleh duo ini. Reputasi dan keahlian membuat mereka sedikit arogan saat menerima misi ini. Peschi hanya berharap targetnya berhenti menjadi pengecut.

bip bip bip

Mereka berhenti di tempat. Sensor yang Peschi gunakan untuk mengecek suhu aktif bergerak ke titik yang lebih hangat. Melone bersiaga dengan pistol di tangannya tanpa membuat gerakan mendadak.

"SaYs YoUr prAy~"

Bisikan buram melewati telinga keduanya membuat mereka merinding. Nadanya bisikan itu terdengar seperti candaan yang menakutkan. Tidak pernah dalam hidup mereka untuk merasakan takut yang luar biasa hebat.

glek

Melone menelan ludahnya dengan berat. Keringat mulai mengucur deras dari kepalanya. Respirasinya hampir tidak terkendali.

glutuk

Peschi sama sekali tidak membantu. Dia terlalu panik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Demi dewa dia bersumpah itu hanya bisikan. Tapi instingnya berteriak agar dia segera keluar dari bangunan ini. Kalau perlu dia harus menyeret Melone keluar dari kaca hotel ini sekarang.

bip bip bip bip bipbipbipbipbipbipbip

Suhu di sekitar mereka semakin naik. Uap mulai terlihat jelas dari cahaya rembulan yang membantu penglihatan mereka. Dari luar bisa terlihat kobaran api jingga layaknya tembakan laser ke arah langit.

'Mio Dio... Terkutuklah kalian para pengguna api langit.' Melone menyilangkan kedua telapak tangannya ke langit. Dia sudah tidak peduli lagi.

"Melone."

"Ya Peschi?"

"Katakan hal itu sekali lagi. Aku ingin kematian kita memiliki kenangan."

"Di molto.."

Duuuaaaaaaaaaarrrrrrrrr!!!!!!!!

Hidup mereka berakhir begitu saja dilahap oleh api berwarna jingga yang juga ikut menghanguskan seluruh bangunan hotel hingga menjadi abu.

Dari jauh bisa terlihat seorang bayi memakai fedora dengan memakai fedora sedang menikmati kopinya. Sebelum dapat menyeruput bagian terakhir, dia berhenti di tengah jalan. Kebetulan suasana kafe saat itu sepi jika tidak mereka bisa melihat cangkir yang bayi ini minum retak.

"Jadi kau ada di Italia? Akan kuberi kau pelajaran untuk menghormati orang tua." dia bilang dengan bunglon naik ke pundaknya.

"Ayo kita pergi ke sana." dia pergi tanpa lupa memberikan uang tip bagi pelayan di kafe itu.

- TKP -

Hotel sepuluh lantai terbengkalai yang tadinya masih berdiri kokoh kini hanya menjadi tumpukan abu. Seorang pemuda berambut pirang mata jingga berdiri di atas tumpukan abu tersebut. Dia memindai lokasi yang baru saja dia hancurkan sampai akhirnya menghela nafas. Ponsel dia raih dari saku bajunya. Dia mencari kontak yang dituju lalu menunggu.

tuuut tuuut cklek

[Kau sudah selesai? Lebih cepat dari yang kuduga.] Suara dari balik ponsel berkata. Sang pemuda masih berwajah datar.

[Kurang lebih seperti itu. Jadi apa ada hal lain sebelum aku kembali?]

[Apa Renato melacakmu?]

[Satu kilometer lagi dia akan sampai ke sini. Aku sudah meninggalkan hadiah untuknya dan Timoteo. Sedikit oleh-oleh pasti membuat mereka senang.]

[Kau bisa libur sesukamu. Ada pendidikan yang harus kau jalani bukan? Adikmu juga terus menyeloteh membuat Jaeger terkena hipertensi.]

[Aku turut senang kalau begitu. Baiklah aku akan pulang. Sampaikan salamku untuk Mayuri.]

[Onii-chan! Kapan kau akan datang ke sini?! Bermuda-san selalu jahat padaku. Mukuro Onee-chan juga hanya memandang bintang terus menggumamkan "Nushi-sama" tanpa berhenti. Dan- Seperti yang kau dengar dia tidak berhenti mengganggu kami. Perlu waktu dua minggu sebelum dia bisa kulepas dari rehabilitasi. Krubiel sudah mencapai tahap normal.]

[Baiklah. Sampai jumpa lagi Bermuda.]

[Hmf. Kau juga nak.]

Dia menutup panggilannya sebelum menghela nafas menyebarkan api hitam di sekitar tubuhnya. Api hitam itu memakan tubuhnya menghilangkan dia tanpa jejak.

Bayi dengan fedora tadi sampai tepat di tempat pemuda itu menghilang. Dia membunyikan lidahnya menandakan kekesalan sang bayi.

"Pertama distorsi ruang lalu pemuda dengan api malam. Apa dunia ini mencoba untuk menghinaku?" ocehnya sebelum melihat anting yang tergeletak begitu saja. Si bayi menyeringai lebar.

"Akhir-"

Duaaaaarrrrr!!!!

Bayi tersebut juga mendapat hadiah yang sama seperti kedua pembunuh bayaran tadi hanya saja bentuknya berbeda. Untung saja dia berhasil selamat ledakan dari tersebut.

"NONOOOOOOO!" teriak bayi itu dengan lantang.

Di suatu tempat di Italia seorang pria tua bersin.


- 10 April -

- Kota Tengu, Jepang -

Kriiiiiiing Kriiiiing Cklek

"Ngghhh... sudah pagi rupanya." aku menggisik mataku yang dihiasi kerak lalu menguap.

Mentari bersinar terang seperti biasanya menusuk mataku yang masih ingin terlelap di kasurku. Namun hari ini adalah hari pertama di semester baru yang mana semua murid tidak bisa membolos atau ada konsekuensi dari penilaian.

Aku menghembuskan nafasku cukup panjang sampai merasakan angin masuk lewat jendela kamarku. Kulihat waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Diriku segera menyiram tubuh dengan air dingin dari shower. Sampo dan sabun hanya kugunakan untuk membersihkan diri dari noda darah setelah misi pembunuhan yang kulakukan kemarin malam.

Sangat lucu jika kupikirkan baik-baik. Seorang pemuda diminta menjadi pembunuh bayaran oleh orang yang memiliki hutang padanya. Jika alasannya tidak menguntungkanku pasti sudah kutolak mentah-mentah sejak awal.

Mafia, Vindice, Bermuda.

Tiga hal yang saling berkaitan ini adalah kunci utama kegiatan kotorku ini. Heh...

Rambutku pirang melawan gravitasi hanya kuikat kebelakang kusisakan poni depan. Wajah dan tubuh kukeringkan lalu seragam sekolah kupakai. Sarapan pagi ini hanya berupa nasi dan tahu orak-arik. Bagi orang lain mungkin menyedihkan tapi hanya ini nutrisi yang kubutuhkan.

Menghidupkan televisi, berita soal distorsi ruang langsung muncul. Ah.. benar.

Tiga puluh tahun yang lalu, sebuah distorsi ruang terjadi di semenanjung Eurasia menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa. Secara umum tidak dipublikasikan apa penyebabnya namun hal ini terjadi akibat formula roh yang dibuat oleh tiga wizard.

Elliot, Isaac, dan Ellen. Tiga figur ini menjadi dalang dibalik genosida planet ini. Elliot yang memisahkan diri dari Isaac bertujuan untuk menyelamatkan roh karena jatuh cinta pada roh yang mereka munculkan. Sebaliknya Isaac ingin menggunakan kekuatan roh untuk mendominasi dunia.

Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Selagi diriku dan lebih utamanya orang-orang yang kusayangi aman maka itu saja sudah cukup. Meski aku harus menodai tanganku dengan darah aku tidak peduli.

Aku, Shiero Tsunakawa, remaja enam belas tahun yang sudah melibatkan diri di dunia mafia akan melindungi semua yang kusayangi dengan Dying Will Flame-ku.

Seluruh elektronik kumatikan dan peralatan sekolah kubawa di lenganku. "Aku berangkat." Keluar dari pintu aku melangkahkan kaki menuju sekolah.

Semoga saja sekolah bisa sedikit menghiburku. Semoga.

- Jalanan kota Tengu -

Matahari mulai naik menyinari langit dan bumi lebih terang dari sebelumnya. Jalanan mulai dipadati kendaraan roda dua dan empat. Mereka yang memiliki pekerjaan harus tiba tepat waktu. Kami para pelajar juga harus tiba di sekolah sebelum bel masuk berbunyi.

Di depanku sudah terlihat beberapa manusia yang memakai seragam sama sepertiku. Satu sedang menguntit di balik tiang listrik, dua sedang berbincang, tiga membuat gosip, dan loli yang masih SMP.

Beberapa dari mereka telah menjadi temanku. Sedangkan sisanya hanya kenalan. Mungkin bermain dengan si loli akan menyenangkan.

Kakiku melangkah tanpa suara mendekati mereka dari belakang. Tanganku yang sudah terbiasa mematahkan rahang manusia mulai melingkari kepala loli ini. Seringaiku bertambah lebar seiring dekatnya tanganku dengannya.

Dan...


- The Danny's -

Itsuka Kotori. Siswi SMP yang mulai menjalani semester baru di tingkat selanjutnya merasa sangat senang karena kakaknya akan mentraktir dia di restoran favoritnya.

Yang hanya perlu dia lakukan adalah pergi ke sekolah dan menunggu sampai waktu belajar selesai. Setelah itu dia bisa menikmati makanan spesial bersama dengan kakaknya.

Namun...

"Mmmf!!" seseorang membekapnya dari belakang dengan sangat kuat. Kedua lengannya dikunci, kakinya tertekuk, serta tubuhnya tidak berhenti gemetaran.

Dia ditarik oleh orang yang membekapnya hingga masuk ke gang kecil. Sebenarnya dia bisa melawan tapi orang yang menculiknya terlalu berpengalaman. Hanya stamina yang bisa menolong dirinya saat ini.

"Kotori!" suara laki-laki memanggilnya. Dia mengenal suara itu.

"Mmmmf-!" dia mencoba berteriak namun bekapannya memaksa tubuh mungilnya untuk diam.

"Kotori! Hei kau, apa yang kau lakukan dengan adikku?! Lepaskan Kotori sekarang!" Sang pahlawan berseragam putih sudah datang. Rambut biru serta rambut coklatnya membuat hati sang adik menjadi lebih tenang.

"Itsuka, kau tidak perlu melakukan hal itu." lelaki di sebelahnya mencegah. Seakan dia tahu bahwa usahanya ini sia-sia.

"Apa maksud perkataanmu itu Tonomachi? Dia mencoba menculik adikku!"

Tonomachi hanya berkata dengan datar. "Itu hanya Tsuna yang ingin mengerjai kalian berdua."

Hening...

.

.

.

.

.

"Cih! Kau tidak asik Hiroto." Tsuna melepaskan Kotori dari bepakannya.

Kotori yang sudah lepas langsung lari memeluk kakaknya. "Onii-chan! Huwaa! Aku takut sekali! Tsuna Onii-chan sangat jahat!"

"Anu, Shiero, bisa tidak kau jangan membuat kami panik seperti itu. Aku takut Kotori terkena serangan jantung." pintanya pada si pirang.

Menyilangkan dua jari dan menjulurkan lidah, Tsuna menyatakan penolakannya. "Tidak akan pernah aku berhenti melakukan hal ini. Wajahnya sangat menghibur untuk kulihat Itsuka Shido."

"Kau ini tidak pernah berubah ya? Pertama ketua OSIS dan sekarang adiknya Itsuka. Apa kau tidak pernah jera?" heran Tonomachi.

"Meh, seperti kau tidak tahu saja aku sering merebut pistol dari tangan bayi Hiroto." mata Tonomachi berkedut saat mendengar hal ini.

Itsuka bersaudara hanya bingung saja tidak tahu dengan apa yang mereka maksud. Karena waktu sudah termakan cukup banyak, Tsuna langsung kembali ke jalan utama melanjutkan perjalanannya ke sekolah.

Dia menoleh ke belakang pada ketiganya. "Oi, kalian yakin mau diam saja di situ? Aku akan pergi ke sekolah lebih dulu." Hal ini menyadarkan mereka.

Tonomachi Hiroto menyusul Tsuna berjalan di sampingnya. Dia menyapa temannya itu. "Pagi Tsuna. Kau terlihat agak lelah."

"Pagi juga Hiroto. Aku hanya kurang tidur, itu saja."

"Eh, memang kau melakukan hal itu lagi?"

"Seperti yang kau sudah tahu. Aku juga memberikan sedikit oleh-oleh agar si bayi senang." Tsuna sedikit menahan tawa.

"Betapa baiknya kau ini. Sungguh aku iri padamu."

Itsuka Shido menyusul dari belakang ikut bergabung dalam percakapan mereka. "Tsuna sebaik itu pada anak kecil?"

"Begitulah Itsuka. Aku bahkan masih ingat saat dia membantu seorang kakek dalam membersihkan gudangnya. Dia bahkan tidak meminta upah."

"Kurasa aku sudah salah menilaimu Shiero. Maaf ya."

Si pirang melambai rendah pada temannya. "Tidak masalah. Setiap orang memiliki pendapat masing-masing terhadap sesama. Ayo kita percepat langkah kita ke sekolah."

"Ya."

- Kelas 2-4, SMA Raizen -

Protagonis kita sedang duduk di baris kedua bagian belakang. Kebetulan dua temannya sekelas dengannya. Dia menolak untuk duduk di kursi protagonis samping jendela layaknya para tokoh anime yang pernah dia tonton.

Sebaliknya si rambut birulah yang duduk di bangku tersebut dengan Hiroto di depan bangkunya. Dia punya firasat buruk jika harus duduk di kursi tersebut.

Sekarang ketiga pemuda ini bercakap sebelum waktu belajar dimulai.

"Itsuka, rupanya kita berada satu kelas lagi. Ditambah Tsuna bergabung dengan kita, aku merasa ini adalah takdir." Hiroto.

"Benarkah? Menurutku biasa saja." Shido.

"Terima saja Itsuka. Kau tidak bisa merubah pemikiran Hiroto." Tsuna.

"Tapi aku tidak mengira kau akan sekelas dengan kami Shiero. Biasanya kau senang menjalin kontak jauh." Shido.

"Silahkan bertanya pada rumbut yang bergoyang untuk mencari jawabannya, Itsuka." Tsuna.

ding ding

Hiroto meraih ponsel di saku celananya. "Ah, maaf. Ini dari pacarku."

Menaikkan alisnya, Shido bertanya. "Eh, sejak kapan kau punya pacar?"

"Takdir mempertemukan mereka secara online saat kita berlibur kemarin." jawab Tsuna menyilangkan lengannya.

"Wah, kau beruntung juga ya Hiroto. Tak kusangka kau akan bisa mendapatkan pacar." Hiroto bisa merasakan hinaan dibalik ucapan Shido.

"Bagaimana kalau kutunjukkan padamu?" dia mencari gambar yang sesuai lalu menunjukkannnya. "Ini dia."

Yang ada di layar ponselnya adalah gadis dua dimensi yang hampir mirip dengan adiknya Shido. Apalagi bisa terlihat judul permainannya.

My Little Seed.

"Ini kan galge!" kaget Shido.

"Jangan begitu Shido. My Little Seed ini dirancang khusus bagi para pemainnya jadi mereka bisa mengerti perasaan serta sikap seorang wanita. Ditambah lagi kita bisa memilihkan-" ucapannya terpotong oleh seseorang.

"Itsuka Shido." panggil seorang siswi albino.

"Eh.. aku?" Shido menunjuk pada dirinya sendiri.

"Ya." si albino masih berwajah datar.

"Kau.. siapa ya?"

"Kau tidak ingat?" Shido menggelengkan kepalanya.

Si albino langsung duduk di belakang bangku Tsuna. Shido langsung bertanya soal albino pada Hiroto dengan berbisik. Sebaliknya Tsuna melakukan fist bump dengan si albino.

"Bagaimana kabarmu Tobiichi Origami? Apa nilaimu turun?" tanya Tsuna santai.

"Aku baik. Nilaiku tidak berubah. Kau sendiri?"

"Kau bisa menebaknya." Origami mengangguk atas jawaban itu.

"Mau pesan? Aku sudah menyediakan paket berkas yang berkualitas."

"Hari ketiga periode kelima. Dua paket premium lengkap." Tsuna mengerti. "Berapa harganya?"

"Katakan saja gratis. Perasaanku sedang baik saat ini." mata Origami sempat melebar sebentar lalu senyuman tipis bisa terlihat di wajahnya.

Mereka pun bersalaman. "Sepakat."

DING~ DONG~ DING~ DONG~

Waktu belajar sudah tiba diawali dengan masuknya wali kelas. Dan yang muncul adalah loli legal berkacamata. Namanya Okamine Tamae.

"Wah, Tama-chan ya."

"Selamat pagi semuanya. Aku Okamine Tamae. Mulai hari ini aku akan menjadi wali kelas kalian. Mohon kerjasamanya."

"Baik Tama-chan!"

Sesi bimbingan wali kelas di tahun pelajaran baru ini dimulai. Melihat keluar, langit kelihatan terlalu tenang pagi ini.

'Badai akan datang sebentar lagi. Mungkin hari ini memang akan menjadi semakin menarik.' pikir Tsuna sebelum mengangkat tangannya untuk bertanya.

- 12.00 -

- SMA Raizen -

Waktu belajar hari ini terbilang cukup singkat. Bagi Tsuna ini sangat menggembirakan. Dia bisa memanfaatkan hari ini untuk beristirahat atau jalan-jalan di kota.

"Hei Itsuka, kita ke main di arkade yuk." tawar Hiroto.

Mengangkat tangannya, dia menolak ajakan temannya. "Maaf saja. Tapi sudah punya."

"Ho~ Dengan seorang gadis kah?"

Tsuna pura-pura syok. "Apa?! Ada yang mau kencan dengan Itsuka? Hiroto, dunia sepertinya sudah mendekati akhirnya. Ayo kita pergi ke brankas teraman!"

"Oi! Ini hanya Kotori. Kalian tidak perlu berlebihan seperti itu." bantah Shido pada keduanya.

"Ooh~ Kukira kau sudah punya pacar. Tapi kalau melihat dirimu mana mungkin ada yang mau berkencan denganmu. Kalau ada pun pasti hanya pacar sewaan."

""Hahahahahaha!"" mereka menertawakan Shido.

NGUUUUNG!!

[Perhatian! Ini bukan latihan. Sekali ini bukan latihan. Distorsi ruang sebentar lagi akan terjadi. Diharapkan semua penduduk mengungsi ke tempat yang sudah disediakan.]

"Distorsi ruang lagi."

"Akhir-akhir ini sering terjadi. Yang penting ayo kita seger-" Shido berhenti saat melihat Origami bergegas menuju arah yang berbeda. 'Mau ke mana dia?'

Merasakan tepukan di pundaknya, Shido melihat kelas mulai kosong. Dia berjalan di depan dua temannya tanpa menyadari kabut indigo yang menyelimuti seluruh sekolah. Munculah dua salinan pengganti Tsuna dan Hiroto sementara yang asli menghilang dilahap api hitam.


- Apartemen Milik Tsuna -

"Akhirnya! Setelah sekian lama aku duduk di sofa ini lagi. Kau tidak tahu betapa aku rindu dengan keempukannya Tsuna." ungkap Hiroto yang langsung bersandar di sofa apartemenku setelah kami berteleportasi ke sini.

"Kenapa kau tidak membelinya saja kalau begitu?"

"Yah, kau tahu sendiri kan suasana di tempat ini berbeda dengan rumahku. Aku cukup kesulitan."

Ah, benar. Tonomachi Hiroto selain merupakan temanku dia juga termasuk ke dalam Mafia. Bedanya dia memiliki sesuatu bernama Sacred Gear. Senjata dan alat ciptaan dewa yang dikhususkan untuk membantu manusia. Tidak pernah ada satupun catatan soal benda ini.

Dia sendiri saja tidak tahu mendapat Sacred Gear ini dari mana. Yang dia tahu Divine Dividing terikat dengan jiwanya. Bermuda sendiri masih mencari tahu asal-usul senjata ini.

Dan berbicara soal kekuatan, ada beberapa hal yang menjadi fokus di dunia ini. Contohnya sihir dan Dying Will Flame. Sihir menjadi kekuatan utama DEM Industries sedangkan Dying Will Flame menjadi kekuatan utama para mafia.

Apa sebenarnya Dying Will Flame? Itu adalah api yang muncul atas dasar penyesalan yang sangat dalam seseorang. Bisa terhadap manusia atau hal lain. Api ini sendiri bisa diibaratkan seperti aura hanya saja dapat diwujudkan. Bisa membakar dan juga tidak. Tergantung pemakaian.

Dying Will Flame sendiri terbagi menjadi beberapa macam. Dying Will Flame of Sky, Dying Will Flame of Earth, dan Special Flame. Aku sendiri memiliki empat api.

Api langit. Penenang. Harmonisasi semua api yang termasuk ke dalam Dying Will Flame of Sky.

Api kabut. Merubah ilusi menjadi kenyataan dan merubah kenyataan menjadi ilusi. Dying Will Flame of Sky.

Api malam. Telepotasi. Special Flame.

Api bumi. Gravitasi. Harmonisaso semua api yang termasuk ke dalam Dying Will Flame of Earth.

Untuk Tonomachi dia memiliki api petir dan api awan. Membuat dia menjadi tank absorber yang ditakuti di dunia mafia sejak dia berumur dua belas tahun. Dua tahun setelah aku mulai menodai tanganku. Awalnya dia seperti pengecut namun perlahan dia bersikap seperti naga.

Kami memiliki topeng untuk bertingkah sebaliknya jadi musuh tidak bisa mengenali kami. Untukku anak biasa mirip berandalan, lalu Hiroto pemain galge. Kami sudah terlatih agar kepribadian yang kami tunjukkan di depan publik tidak tercampur dengan yang asli.

Untuk sekarang aku sedang meretas kamera keamanan yang ada di kota. Begini-begini aku punya simpati dan empati terhadap makhluk lainnya meski aku kurang peduli terhadap orang yang tidak kusayangi. Dan juga aku dibayar untuk mengamankan masyarakat yang terancam oleh bahaya distorsi ruang.

Berbicara soal distorsi ruang, aku penasaran roh jenis apa yang akan muncul nanti. Sudah lama aku tidak mengakses jaringan kota ini. Fraxinus juga masih berada lima belas ribu meter di atas kota ini. Kapal seperti itu tidak akan bisa bersembunyi dariku.

"Mencari warga yang belum mengungsikah?" aku hanya mengangguk. "Padahal kau sudah diberikan waktu untuk libur. Tapi aku tidak bisa melarangmu. Dan juga- Hei! Bukannya itu Itsuka?"

Mataku segera bergerak ke layar yang ditunjuk Hiroto dan benar saja ada Itsuka yang sedang berlari mencari sesuatu. "Apa yang sebenarnya anak itu pikirkan?" aku mencoba melihat apa yang ada di ponselnya. Rupanya dia sedang melacak lokasi adiknya yang tepat berada di Fraxinus di atas The Danny's. "Dasar bodoh. Sudahlah, dia tadi sudah duduk di kursi protagonis. Dia akan baik-baik saja."

"Hangatnya hatimu itu. Futonku saja tidak bisa menyaingi kehangatannya."

"Terserah kau saja. Sebentar lagi distorsi ruangnya akan terjadi. Apa kau tahu roh apa yang akan muncul nanti?"

Dia memegang dagunya sambil memejamkan mata. "Kalau tidak salah namanya itu..."

Distorsi ruang pun terjadi. Perlu tiga puluh detik sampai fenomena ini selesai secara normal. Namun ada hal yang aneh. Di kawah bekas distorsi ruang itu terjadi sama sekali tidak ada roh di sana. Kosong. 'Ada yang janggal. Ke mana perginya roh itu? Apa dia memiliki kemampuan kamuflase setelah muncul di kawah tersebut? Aku harus tahu.'

Setelah beberapa saat Hiroto menjentikkan jarinya menyebutkan kode nama roh yang belum Anti-Spirit Team (AST) basmi. "Aku ingat! Namanya adalah Princess."

buk!

Tiba-tiba ada sesuatu yang menimpa tubuhku. Kepalaku merasa agak pening akibat terbentur lantai tanpa persiapan. Aku melihat ada seseorang yang menindih tubuhku. Rambut violet terurai panjang, mata ungu gelap, kulit putih, dan tubuh proporsional.

"Tsuna! Yang menindih tubuhmu sekarang adalah Princess!" ucapan Hiroto membuat mataku melebar.

Apa? Gadis ini adalah Princess? Apa yang dia lakukan di sini?


Bersambung...