Disclaimer :
Date A Live merupakan karya milik Koshi Tachiban. Katekyo Hitman Reborn merupakan karya milik Akira Amano. Serta unsur fiksi lain jadi milik pencipta masing-masing. Saya hanya memiliki karakter buatan saya serta alur cerita yang saya buat.
Reply to Tamu : Sebuah cerita. Tidak lebih.
Selamat membaca!
- Apartemen Milik Tsuna -
Situasi yang sangat menarik telah terjadi di kediaman pribadi milik Tsuna yang bisa bertahan terhadap distorsi ruang. Di satu sisi Tsuna masih memikirkan kenapa ada gadis telanjang yang merupakan roh ini tiba-tiba muncul menindih tubuhnya. Hiroto yang berusaha sebisa mungkin tidak panik melihat ada seseorang yang menindih Tsuna.
Dia masih mengingat hal terakhir yang terjadi apabila temannya berada dalam kondisi seperti ini. Itu kenangan yang sangat mengerikan.
Lalu si roh yang diberikan kode Princess ini hanya menatap mata Tsuna sambil berpikir kenapa aku ada di sini? Siapa dia ini?
Segera sadar dari situasi ini tanpa mengubah ekspresi wajah, Tsuna memberikan isyarat pada Hiroto menggunakan jarinya. Hiroto sendiri mengerti apa yang Tsuna maksud.
Kain, Tali, Ikat.
Hiroto langsung mencari benda yang dimaksud dan hanya menemukan kain untuk menangkap Princess. Dia mengacungkan jempol pada Tsuna lalu dia memberikan tiga jari.
Rencana mereka dimulai dari tiga...
dua...
satu...
!!!!!!!!!
Hiroto menutup pandangan roh itu sebelum membungkus tubuhnya secara utuh. Lalu produk itu dia gulingkan ke samping. Menyadari bahwa Hiroto tidak memiliki tali, Tsuna segera membuat tali dari api kabut dan segera mengikat roh ini dengan kuat agar dia tidak bisa lepas. Mungkin.
"Wuih..." Tsuna dan Hiroto mengusap tangan mereka dari debu. "Penangkapan berhasil dengan sukses. Dia juga terlihat sehat."
"Memangnya dia hewan buruan, Tsuna?"
"Tentu saja bukan. Tapi setidaknya kita berhasil mengikatnya." dia menyilangkan lengannya.
"Tapi maaf ya aku tidak bilang kalau aku tidak punya tali. Kau jadi harus menggunakan api kabutmu."
"Tidak masalah. Aku juga harus sering melatih api ini hing-"
"Kalian berdua!" Tsuna dan Hiroto melihat pada Princess yang berusaha membebaskan diri dengan menggeliat. "Cepat lepaskan aku! Kalian pasti ingin membunuhku bukan?"
"Tidak." jawab Hiroto dengan spontan. "Kami tidak akan membunuhmu karena tidak ada untungnya."
"Bohong! Kalian pasti berusaha menipuku. Aku tidak akan semudah itu tertipu. Cepat lepaskan aku! Kalian pikir kalian hebat manusia?!"
Tsuna hanya menghela nafasnya. "Kau ingin aku jujur? Tidak. Kalau kami ingin membunuhmu maka dari tadi pasti sudah kulakukan. Lihat saja kau tidak berdaya di hadapan kami terikat seperti itu."
Berkedip beberapa kali Princess merasa bahwa kalau itu masuk akal. "Jadi kalian tidak akan membunuhku seperti pasukan mecha-mecha itu?" mereka menggelengkan kepala mereka. "Lalu kalian itu siapa?"
"Kami hanya siswa SMA biasa yang kebetulan santai." Ini menambah pertanyaan dalam pikiran Princess.
Siswa SMA? Dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai dunia ini. Yang dia tahu hanya pasukan terbang yang ingin membunuhnya.
Selagi Hiroto mengalihkan perhatian Princess darinya, Tsuna segera menggunakan api malamnya untuk pergi ke toko pakaian di kota. Dia mengambil berbagai macam ukuran pakaian. Mau itu kaos, gaun, celana, rok, sampai pakaian dalam dia ambil. Tentu saja dia membayar semua yang dia ambil.
Kembali dengan cepat, Tsuna masih mendapati sang roh sedang berpikir mengenai apa yang Hiroto ucapkan. Temannya yang satu ini memang handal dalam mengalihkan perhatian. Tapi untuk menjaga keamanan di tahap selanjutnya, dia harus mengirim temannya ke tempat khusus.
Dalam sekejap mata, Hiroto tiba-tiba muncul di tengah pegunungan kota Tengu. Dia berkedip beberapa kali untuk mencerna apa yang baru saja terjadi sebelum menggeram.
Princess terkejut bukan main. Orang yang tadi berbicara dengannya hilang tanpa jejak. Dia hanya bisa melihat Tsuna yang mendekati dirinya. Merasa terancam, dia berusaha lari namun ingat bahwa dirinya masih terikat.
Dan Tsuna menyentuhnya...
"Berdirilah." Princess bingung kenapa ikatan tubuhnya dilepas begitu saja oleh Tsuna. Dia berdiri sesuai perintah.
Saat itulah Tsuna menyentuh tubuh bugilnya. Roh ini ingin menepis tangan Tsuna tapi tidak jadi setelah dia melihat tali panjang yang melingkari tubuhnya. Mulai dari payudara, pinggul, dan bokong. Semuanya diukur. Setelah itu dia memberikan kain yang tadi digunakan untuk menangkap Princess.
"Tutupi dulu tubuhmu kalau kau tidak ingin dilihat telanjang seperti itu." dengan cepat dia langsung melakukannya karena malu.
Tsuna segera mencari pakaian yang pas dengan ukuran tubuh roh ini. Dia pun menemukan tiga setel beserta pakaian dalamnya. Dia pun memberikan satu setel pada Princess untuk dikenakan.
"Kain apa ini manusia?" tanyanya pada Tsuna sambil menginspeksi pakaian yang dia dapat.
"Itu pakaian untuk kau kenakan. Untuk sementara kau harus memakainya." jawab Tsuna yang sedang meminum kopinya.
Dia pun melihat pakaiannya itu sebelum bertanya. "Bagaimana cara memakainya?"
Pffft!
"Uhuk! Uhuk! ...yang benar saja." Tsuna tidak percaya kalau pengetahuannya sangat rendah. Tapi dia tidak bisa menyalahkan roh ini. Tidak semua roh asal muasal mereka dari manusia seperti adiknya.
Tsuna pun memutuskan untuk membantunya.
Manusia ini cukup aneh.
Setahuku mereka semua itu membenciku bahkan sampai ingin membunuhku.
Tapi dua manusia ini tidak. Mereka hanya menangkapku lalu memberikanku pakaian untuk kukenakan. Salah satu di antara mereka juga membantuku memakainya. Yang berambut hitam tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Kelihatannya itu hal yang biasa terjadi.
Aku ingin tahu kenapa mereka berbuat seperti ini.
"Hei," aku melihat orang yang tadi memberiku pakaian. "Apa kau punya nama?"
"Apa itu nama?" kataku. Dia masih meminum air beruap di tangannya.
"Nama punya banyak definisi. Tapi yang paling umum adalah untuk mempermudah memanggil orang yang kita kenal. Tidak mungkin aku terus memanggilmu dengan sebutan kau bukan?" Dia benar. Sepertinya aku membutuhkan sebuah nama.
"Namaku Shiero Tsunakawa. Shiero adalah nama keluargaku sedangkan Tsunakawa adalah namaku. Orang-orang memanggilku Tsuna." dia.. memperkenalkan diri?
Oh iya! Aku butuh nama!
"Manusia-Tidak. Tsuna. Aku ingin nama. Bisakah kau memberikanku sebuah nama?"
"Bagaimana kalau Tome?" suara itu datangnya dari belakang. Rupanya dia sudah kembali.
"Aku tidak menyukainya." saat aku mengatakannya dia kelihatan seperti tertusuk.
"Haha. Selera penamaanmu cukup buruk ya Hiroto."
"Oh? Kalau begitu mari kita dengarkan selera penaanmu itu."
Mereka saling adu tatap sebelum Tsuna berbicara.
"Kita mulai Sakura, Ino, Tenten, Hinata, Temari, Nami, Robin, Mikasa, Sasha, Petra, Annie, Katarina, Sophia, Mary, Maria, Anne, Frey, Ginger, Shuna, Shion, Asuna, Argo, Silica, Elze, Linze, Sushie, Rias, Akeno, Koneko, Xenovia, Irina, Rossweisse, Ravel, Kuroka, Ingvild, Clara, Ix, Ameri, Kerori, Irumi, Raphtalia, Firo, Melty, Rishia, Eclair, Stella, Shizuka, Shiori, Arturia, Medusa, Jeanne, Scathat, Tamamo, lalu hal yang terpikirkan padaku tanggal sepuluh April ini adalah Tohka."
Brain.exe has stopped working.
Rebooting...
...
12%...
...
35%...
...
69%...
...
99%... 100%
Reboot Complete!
Welcome Back!
"Aku memilih Tohka." Itu hanya nama yang kuingat saat dia menyebutnya.
"Kau yakin? Kita masih punya banyak waktu sebelum hari kiamat terjadi." tanya Tsuna padaku.
"Umu. Mulai sekarang namaku adalah Tohka." aku bilang dengan bangga.
"Baiklah. Aku juga sudah menyiapkan nama keluarga untukmu. Mulai hari ini namamu adalah Yatogami Tohka. Coba kau tulis seperti yang kucontohkan." Tsuna mengambil sebuah tongkat kecil yang ujungnya runcing lalu dia membuat garis di atas papan putih lembek.
Aku juga mengambil tongkat itu sambil mengikuti sama persis seperti yang dia buat. Setelah selesai aku pun menunjukkan hasilnya.
"Lihat ini Tsuna! Seperti ini kan?"
Dia memegang kepalaku lalu mengusapnya dengan lembut. "Kerja bagus." Tsuna tersenyum padaku.
dag dig dug dag dig dug
Dadaku mulai terasa aneh sekarang. Selain nyaman aku juga merasa hangat. Tangan Tsuna menerimaku di dunia yang membenciku ini.
Kurasa.. tidak semua manusia itu sama.
- Fraxinus -
Saat ini Kotori Itsuka merasa jengkel. Bukan hanya karena tadi pagi dia dijahili oleh teman kakaknya, namun roh yang seharusnya dia selamatkan menghilang. Harusnya setelah distorsi ruang terjadi sang roh pasti muncul. Tapi tidak.
Tepat di kawah tempat distorsi ruang terjadi, hanya ada puing bangunan yang sudah menjadi kerikil. AST berkeliaran seperti lalat di sekitar kawah tersebut dan tidak menemukan apapun. Merasa kondisi sudah aman mereka kembali ke markas.
brak!
"Ke mana perginya Princess?! Cepat lacak keberadaannya!"
"Komandan, jejak reiryoku milik Princess sama sekali tidak ada. Sepertinya dia berhasil keluar dari radar atau dia menghilang seperti sebelumnya." lapor salah satu anggota kru.
"Mikimoto benar komandan. Menyesuaikan dengan data yang ada, Princess bisa dibilang telah kembali ke tempat asalnya."
Menggertakan giginya, dia mencoba mengatur emosinya yang naik. Kotori tidak pernah merasa sekesal ini seumur hidupnya. Kecuali untuk beberapa hal tentu saja.
"Komandan, saya sudah membawanya." ucap seorang wanita yang datang bersama siswa SMA Raizen. Dia tidak lain adalah kakaknya Kotori. Itsuka Shido.
Seorang pria pirang berambut panjang pun menyambut dirinya. "Kau sudah sadar rupanya. Perkenalkan, namaku Kyouhei Kannazuki. Wakil komandan di kapal ini."
"Ah, salam kenal. Aku Itsuka Shido." Dia memperkenalkan diri sebelum akhirnya sadar kenapa ia di sini. "Benar! Di mana adikku?! Katanya aku bisa menemuinya jika datang ke sini."
Kannazuki mengarahkan lengannya pada sebuah kursi di belakangnya. Kotori menyilangkan kakinya sambil menyeringai menatap Shido.
"Selamat datang di Ratatoskr. Itsuka Shido."
"Kotori? Kau tidak sedang ngambek karena Tsuna mengerjaimu tadi pagi bukan?"
Pfft!
Semua kru berusaha menahan tawa karena kebetulan mereka melihat peristiwa memalukan itu. Merasa saja tidak percaya komandan mereka bisa dijahili oleh teman kakaknya.
"Berisik kalian! Dan jangan pernah mencoba untuk membawa topik itu lagi!" dia menghela nafas sebentar. "Perlihatkan laporan beberapa hari yang lalu."
"Siap komandan."
Di layar komputer pun muncul beberapa gambar mengenai distorsi ruang yang belakangan ini sering terjadi. Lalu dimunculkan juga roh yang mengakibatkan distorsi ruang tersebut. Kotori menjelaskan dengan cepat mengenai roh kepada Shido meskipun harus mengulang karena otaknya yang ber-IQ rendah.
Semua informasi diberikan kepada Shido. Termasuk kejadian tadi malam di Italia.
"Lihat yang ini" muncul gambar sebuah hotel dengan dua orang masuk ke dalamnya. "Mereka adalah orang-orang bodoh yang melakukan hal sama seperti AST. Mereka hanya mengandalkan fisik seadanya."
"Tapi kenapa mereka melakukannya?" tanya Shido penasaran.
"Uang. Roh yang satu ini berbeda daripada yang lain. Phoenix adalah roh api yang sangat cerdas. Tidak ada yang tahu wujud aslinya seperti apa karena tubuhnya selalu diselimuti api. Dan coba lihat apa yang terjadi selanjutnya."
Di video menampilkan hotel yang masih utuh tiba-tiba terbakar dari atas langit hingga menjadi abu. Keringat dingin mengalir di tubuh Shido.
"Mereka... mati.." Ekspresi horor terlihat jelas di wajahnya.
"Benar. Phoenix merupakan roh yang tidak kenal ampun. Siapapun yang ingin memburunya malah berbalik menjadi mangsa. Dan masih ada satu lagi. Kawagoe."
"Siap komandan!" Kawagoe menampilkan rekaman yang dimaksud.
Kini lokasi ada di tengah laut malam hari. Ada tiga buah kapal angkasa yang terbang bersama ratusan anggota AST. Di depan mereka ada roh berzirah putih membentangkan sayapnya dengan lebar.
"Kenapa banyak sekali AST yang dikerahkan? Ini sangat berbeda dengan Princess."
"Lihat saja dulu. Setelah itu baru kau boleh berkomentar." Shido hanya menurut.
Video diputar kembali. Roh itu mengarahkan tangannya ke arah musuhnya. Petir berwarna hijau bisa terlihat berpercikan di langit dan di laut. Di tangan roh itu pun keluar sebuah lingkaran sihir yang cukup besar. Sekitar dua puluh meter diameternya. Para AST pun mulai menyerang dengan segala yang mereka miliki. Seluruh serangan mereka sudah dikerahkan sampai maksimum.
Namun sesaat sebelum mengenai sang roh...
"Half Dimension!"
Seakan dunia terbelah menjadi dua. Mau itu manusia ataupun mesin, semua kehilangan separuh bagian dari diri mereka. Mayat-mayat mulai berjatuhan ke laut. Kapal-kapal meledak hingga menjadi puing rongsokan tidak berguna. Yang tersisa hanyalah sang roh berzirah putih tersebut.
Shido jatuh terduduk dari tempat ia berdiri. Semua kru juga merasakan hal yang sama. Ini memang bukan pertama kalinya mereka melihat rekaman ini, akan tetapi melihat ratusan jiwa melayang seperti itu bukanlah pemandangan yang dapat dinikmati mata.
"Mo-Monster! Kenapa dia melakukan hal seperti itu?!"
"Kami tidak tahu. Hakuryuukou adalah roh yang sangat misterius. Dia hanya bertarung untuk kepuasan diri. Seorang maniak bertarung yang tidak mempedulikan nyawa orang lain. Dan tugasmu Shido adalah untuk menangkap dan menyegel para roh ini."
"A-aku..."
"Jangan khawatir. Kami semua ada untuk membantumu. Tapi target utamamu adalah Princess. Jadi kau tidak usah cemas."
Shido hanya termenung saja sebelum mengangguk. Dia juga mengingat ekspresi wajah Princess yang sebelumnya.
'Dia kuat tapi wajahnya terlihat kesakitan. Kenapa dia membuat wajah seperti itu?'
- 19.00 -
- Apartemen Tsuna -
Hiroto sudah kembali ke rumahnya untuk beristirahat meninggalkan Tsuna dan Tohka berdua di apartemen milik Tsuna. Saat ini mereka berdua makan malam bersama dengan Tsuna sebagai kokinya.
Dikarenakan dia sama sekali belum me-restock bahan makanan di dalam kulkas. Yang dia miliki saat ini hanya roti kinako dan sayuran sisa. Dia memutar otaknya untuk berpikir makanan apa yang harus dia buat. Tohka sendiri hanya memandangi Tsuna yang sedari tadi menatap bahan makanan di hadapannya.
Mengendus bau roti yang sedap, tanpa sadar tangannya meraih satu potong roti kinako. Dia menginspeksi makanan di tangannya sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam mulut.
hap nyam nyam glek
"Enaaaak! Apa ini?! Kenapa rasanya sangat enak saat masuk ke dalam mulutku?" mata Tohka berbinar-binar pada Tsuna.
Terkejut dengan sikap kekanakan Tohka, Tsuna hanya bisa tersenyum melihat roh yang sudah ia beri nama ini. Apalagi dia juga akan mengurus hidup Tohka mulai hari ini.
"Itu roti kinako. Kita bisa menemukan roti ini di kota."
"Roti Kinako?" Tsuka mengangguk. "Apa aku boleh makan lagi?"
"Boleh. Tapi bagaimana jika kukatakan kalau roti ini," Tsuna memegang sepotong roti lalu dia dekatkan ke mulut Tohka. "menjadi lebih enak daripada yang kau makan tadi."
"Benarkah?" Tohka mendekati wajah Tsuna dengan penuh antusias.
Tsuna pun memberikan usapan kepala pada Tohka. "Iya."
'Sekarang aku mengerti kenapa dunia ini menolakmu. Kau bersinar terlalu terang hingga mereka tak mampu menampungnya. Kehangatan yang kau pancarkan hanya membakar mereka. Tapi tidak untukku. Akan kuberikan tempat untukmu bersinar jadi kau tidak perlu khawatir lagi jika kau ingin mengeluarkan semua perasaanmu.' Hati Tsuna mulai dipenuhi tujuan baru. Api langitnya perlahan berubah menjadi murni.
Mereka mulai makan malam bersama dengan canda dan tawa.
Tanpa Tsuna sadari, dia baru saja berharmonisasi dengan Tohka.
- Antah Berantah -
Seorang pria berkacamata sedang menyantap ramen kesukaannya. Saat akan menyantap suapan berikutnya dia berhenti tanpa sebab. Sumpit dia letakkan di meja bersama dengan kacamatanya itu.
"Ini tidak mungkin. Aku harus menyelidiki hal ini segera."
Dia pun menyelesaikan sisa ramen yang dia makan sebelum pergi menghilang di dalam kabut indigo yang tebal.
- Apartemen Tsuna -
Hari mulai berlalu. Karena bangunan sekolah tidak terdampak oleh distorsi ruang, kami para murid diwajibkan bersekolah seperti biasa. Tak terkecuali untukku juga. Sebenarnya hal ini sudah diterapkan dua tahun yang lalu namun tahun ini kebijakan tersebut diperketat.
Selesai mengenakan seragam sekolah, aku bergegas pergi ke dapur memasak sarapan seadanya. Kulkas masih belum kuisi dengan bahan makanan untuk satu minggu ke depan. Artinya belanja menjadi jadwal tambahan sebelum pulang ke rumah.
Sarapan pagi ini cukup simpel. Nasi putih didampingi sayuran kukus sebagai lauknya. Kebetulan nutrisi harian harus kutambah daripada sebelumnya. Makanan sudah siap dalam dua set piring. Ya, kecenderunganku memakai piring daripada mangkuk nasi sudah menjadi kebiasaan sejak berada di bawah bimbingan Bermuda. Entah kenapa aku tidak bisa lepas.
tap tap tap
Suara langkah kaki mendekati meja makan. Rambut ungu yang masih acak-acakan bisa terlihat mendekati sajian di atas meja.
Sang putri baru saja bangun tidur.
Aku mengarahkannya menuju kamar mandi agar dia menyegarkan diri. Untungnya Tohka sama sekali tidak menolak jadi aku bisa lega menghindari masalah di pagi hari ini.
"Ah, dingin!"
Atau tidak.
Menghela nafasku, kuambil handuk dan satu setel pakaian untuk Tohka gunakan. Sebuah hasil perlu dicapai menggunakan proses. Dan ini salah satunya. Yaitu membiasakan putri yang sudah kunamai ini agar bisa hidup layaknya manusia pada umumnya. Aku sadar hal ini tidak mudah, tapi hei! Setidaknya aku berusaha membuat perubahan.
cklek
Pintu terbuka dengan Tohka yang hanya menunjukkan kepalanya. "Um.. Tsuna. Boleh.. aku minta baju ganti untuk kupakai?" Rambutnya masih basah setelah mandi.
Kuserahkan pakaian beserta handuk yang sudah kusiapkan tadi. "Jangan main air. Langsung keringkan tubuhmu lalu ganti pakaianmu. Setelah itu bergabung denganku ke meja makan untuk sarapan."
Seketika benda yang ada di tanganku lenyap diiringi suara pintu yang menutup dengan cepat. Antara lapar dan rakus bisa menggambarkan watak utama Tohka. Cukup gunakan satu kata kunci ini dan dia akan setia padamu selamanya.
Makanan.
Perutnya memiliki batas hanya saja asupan hariannya tiga kali lipat lebih banyak dari manusia biasa. Lebih dari itu kupastikan dia akan muntah. Belum terjadi namun kupastikan jangan sampai hal itu terjadi. Dia matahari yang harus kujaga betul. Perlu beberapa minggu sebelum dia bisa bersekolah layaknya manusia biasa. Interaksi sosial juga diperlukan olehnya. Mungkin akhir pekan bisa jadi waktu yang tepat.
Lagipula tidak ada salahnya mengajak Tohka kencan.
"Tsuna! Hari ini kita makan apa?" oh, dia sudah siap. Wajahnya lebih ceria dari kemarin.
"Nasi dan sayuran kukus. Duduklah di meja makan." kataku duduk di bangku meja makan.
"Oke!" dia sungguh ceria.
Kami duduk berhadapan. Sebelum makan Tohka sudah kuberi tahu tata cara makan yang sopan. Kami merapatkan tangan kami sambil memejamkan mata.
""Selamat makan!""
Seperempat porsi di piring Tohka langsung lenyap. Mulutnya penuh dengan makanan yany dia lahap. Mengunyah dengan cepat lalu ditelan seutuhnya. Masih ada sebutir nasi di samping bibirnya. Aku berdiri meraih wajahnya dan mengambil sebutir nasi tersebut lalu memakannya. Wajah Tohka memerah.
Aku berkedip beberapa kali sebelum mengeluarkan reaksi yang sama.
Kenapa aku melakukan hal itu?! Ini masih terlalu awal! Tapi dia terlalu imut untuk kutolak!
Aku menggelengkan kepalaku fokus pada nasi di piringku. Suapan demi suapan masuk tanpa halangan. Tenti saja aku mengunyah makananku tidak seperti Hawk. Babi fiksional pemakan remah yang setia menemani tuannya di sebuah bar.
Kulirik Tohka makan dengan perlahan. Dia hanya mencuri pandang padaku sebelum tersenyum sendirinya. Melihat itu hatiku terasa hangat. Matahari yang satu ini hampir mirip dengan bocah petinju di Namimori. Siapa namanya...? Ah benar. Sasagawa Kyouhei. Fanatik tinju. Kuharap kami tidak bertemu lagi di masa depan.
Varia sudah cukup merepotkan untuk ditangani dan aku tidak butuhp menambah satu. Kecuali dia bisa memberiku tantangan.
Sesi sarapan sudah selesai. Aku berdiri dengan piring kotor di tanganku berjalan ke arah wastafel. Piring kuletakkan di dalamnya sebelum meraih sabun cuci piring yang mana tangan Tohka juga ikut meraihnya. Kulit kami pun bersentuhan.
bzzt!
Tohka segera menarik tangannya begitu juga denganku. Sensasi apa itu tadi? Tidak pernah seumur hidupku aku merasakan sensasi seperti ini. Kulihat Tohka yang masih terkejut mengedipkan matanya sambil mengatur nafas. Sungguh pagi yang aneh.
Piring bekas makan kucuci sendiri. Aku masih ragu Tohka akan melakukan pekerjaan rumah dengan benar jika kubiarkan. Layaknya adikku Mayuri yang saat ini masih direhabilitasi di Vindice karena menerima Sephira Crystal dari Phantom.
Aku masih ingat kebakaran yang terjadi waktu itu. Mengingatnya saja membuatku merinding.
Melupakan masa lalu, aku segera mengambil tas sekolahku dan bersiap untuk berangkat. Sepatu kukenakan lalu aku melihat Tohka yang sedang mengantar kepergianku.
"Aku akan pulang terlambat. Kalau bosan ada beberapa hiburan yang bisa kau gunakan di kamarku." dia mengangguk pada pesanku.
"Kau tidak akan meninggalkanku bukan?" aku menghampirinya dan kuusap kepalanya.
"Jangan khawatir. Aku sudah berjanji untuk merawatmu bukan?" dia tersenyum mendengar itu. "Aku berangkat dulu!"
"Hati-hati di jalan!" dia melambai sebelum akhirnya aku keluar dari pintu apartemenku.
Sudah lama aku tidak mendapat jawaban seperti ini.
Bersambung...
