Cinnamon Roll (c) faihyuu
Naruto (c) Kishimoto Masashi
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
•••
Pemakaman umum Konoha.
Seharusnya ada rasa gentar; mengingat Naruto tak biasa berkenaan dengan hal-hal seram dan menakutkan. Namun, pagi itu rasanya semua terlupakan.
Dan kini Naruto merasa segala tujuannya tiba. Setidaknya, pemuda itu berhasil meninggalkan ruangan dominasi putih membosankan dengan bau obat menusuk nan dirasa agak konyol untuknya.
Tahun yang telah terganti, bahkan memasuki bulan kedua; beberapa waktu setelah perang, pertarungan, dan detik demi detik dari memorial segala sendu—Naruto kembali lagi ke tempat ini. Mendekati sebuah makan nan tertera sebuah nama yang sangat dikenali.
Hyuuga Neji.
Rasanya seperti takdir. Apakah memang begitu?
Ada setitik rasa bersalah menghunjam hati. Terkadang membawa kembali memori paling frustrasi. Kenangan sedu sedan akan hidup-mati. Sebuah doa terucap, dan senyum getir terpatri.
"Hai, Neji. Maaf baru mengunjungimu lagi, bahkan sekarang pun aku sedang tidak bawa apa-apa."
Dibersihkannya sekejap tumpukan putih dingin—salju—yang sedikit menutupi pusara teman paling berharga. Tak begitu sempurna karena kini Naruto hanya memiliki satu tangan pada bagian kiri. Setelahnya, terdiam tak dapat mengatakan apa pun. Hanya saja dalam hati penuh dengan ucapan-ucapan terima kasih.
Tak begitu lama, ketika sang jejaka ingin berdiri. Sepasang langkah menyapa telinga, datang dari arah kiri.
Sesosok gadis bermahkota nila. Dengan suara manis yang menyapa.
"Naruto-kun..."
"Oh, Hinata." Gadis itu jauh lebih mungil darinya. Namun dengan asa sedalam samudra. Datang membawa senyum dan bunga-bunga krisan dalam dekapnya.
"Terima kasih telah mengunjungi Neji nii-san."
Kata siapa pelangi tak akan muncul pada musim dingin? Hinata membuktikan bahwa pelangi dapat datang kapan saja. Terutama pada tubir. Sama indahnya dengan pelangi di langit setelah hujan.
"Tapi aku tidak bawa apa-apa," Mengangkat satu telapak yang kosong melompong. Merutuki kebodohan yang rasanya takkan pernah lepas darinya. Akan tetapi, sang gadis masih tetap tersenyum. "Maaf, sekali."
"Tidak perlu membawa apa pun, aku yakin Neji nii-san sudah senang dengan kedatangan Naruto-kun. Apalagi membantu membersihkan pusaranya, lebih-lebih sebuah doa." Diletakkan oleh sang gadis kumpulan krisan warna-warni itu di atas pusara. Menunduk, memejamkan manik, dan mengatupkan kedua telapak tangan (yang diingat Naruto rasanya hangat, walau jauh lebih kecil)—dengan waktu tak terlalu lama. Berdiri kembali dan baru disadari sang pemuda jika matahari telah agak meninggi di atas sana. "Apakah Naruto-kun akan tetap di sini?"
"Tidak, kok. Mungkin aku ingin berjalan-jalan mengelilingi Konoha. Mumpung bisa bangun pagi." Birunya safir menyelami rembulan. Langit siang menatap penerang malam. "Mumpung ruanganku kosong, tidak ada satu pun dokter."
Kecubung pucat itu memperlihatkan sedikit kekhawatiran, tetapi tak lama—berubah menjadi setitik geli. Mengerti segala tingkah sang Uzumaki. "Naruto-kun kabur lagi?"
"Bukan kabur," Mengerucut sedikit bibirnya, agak malu mendapatkan sematan memalukan oleh gadis di dekatnya saat ini. "Aku hanya—kau tahu? Sepi saja sendiri di kamar rumah sakit. Mana si Teme sudah pergi. Sakura-chan juga jarang-jarang mengunjungiku, apalagi Sai—cuma sekali saja ke sana. Terus, Kakashi-sensei lagi sibuk sekali. Mentang-mentang mau jadi Hokage baru. Kau juga, kau jarang mengunjungiku."
Sedikit memelan pada akhir, Naruto tersenyum tipis. "Padahal aku merindukanmu loh, Hinata."
Uzumaki Naruto selalu menyukai semburat-semburat merah pada pipi bak pualam sang dara. Atau segala tingkah uniknya. Terkadang pula disusupi rasa geli karena bahagia jika mendengar suaranya yang terbata-bata. "U-uhm, m-maafkan aku, Naruto-kun. A-akhir-akhir tim 8 memang s-sedang memiliki banyak misi."
"Aku tahu, kok. Dan aku iri pada kalian karena bisa bebas ke mana pun."
Keduanya beriringan melangkah keluar dari pengingat kematian bagi manusia. Menimbulkan sebuah kesan tersendiri dalam hati si Uzumaki, dengan doa-doa batin membumbung tinggi ke udara—supaya kehangatan yang dirasakannya kini tak cepat berakhir dan sirna.
"Kami juga tidak sebebas itu, Naruto-kun," balas Hinata dengan nada lembut, memang hanya gadis inilah yang selalu bersabar menanggapi seluruh ujarannya. "Misi kami akhir-akhir ini agak berat. Memastikan bahwa desa-desa kecil tanpa Shinobi yang terdampak perang maupun tidak. Belum lagi ada banyak bandit yang bermunculan, mereka mengaku Shinobi."
Langkah Naruto terhenti. Lamat-lamat pemuda itu memandangi Hinata; dari rambut hingga ujung kaki. Membuat rona merah hadir di pipi sang gadis—lagi.
"Kau tidak apa-apa, 'kan? Aku tahu, tim 8 kuat, kau pun sangat kuat. Hanya saja—"
Tak disangka oleh Uzumaki Naruto, bahwa pemuda itu menemukan gores pada bagian rahang kanan sang dara, memang tak begitu terlihat jelas—tampak hampir memudar. Namun, walau keduanya jarang bertemu—Naruto yakin bahwa luka itu sebelumnya tidak pernah berada di sana.
Luka baru. Mungkin usianya sudah seminggu lebih.
Entah mengapa, pemuda itu tak memiliki keberanian untuk menyentuh. Ada rasa segan. Pun Naruto tahu bagaimana terlindunginya putri dari Hyuuga. Ditambah pula, si Uzumaki muda baru saja mengunjungi kawannya, Neji—agak protektif pula pada Hinata.
Jadilah sang pemuda hanya dapat menggerakkan jemari dengan kaku ke arah rahangnya sendiri—seakan-akan menunjukkan letak sang luka. "—rahang kananmu terluka."
Hyuuga Hinata mengikuti pula aksi Naruto, perlahan menyentuh rahangnya. Sebuah senyum tipis mengembang pada tubir sang dara. "H-hanya luka biasa, kok. Ini juga telah memudar. Aku tak menyangka Naruto-kun menyadarinya."
"Gara-gara latihan atau misi?" Pemuda itu berusaha menenangkan batin, entah apa pula kekhawatiran meledak dalam diri. Namun tak dapat disuarakan dengan baik; Naruto merasa dipencudangi.
Hening sejenak, sebelum kembali suara lembut itu didengarkan oleh Naruto. "M-misi kemarin. Namun sama sekali bukan masalah, luka ini hanya goresan. Dan sebagai Shinobi, kita semua pasti memilikinya, 'kan?"
"Ya, luka gores memang makanan sehari-hari. Tapi bagaimanapun, kau seorang gadis. Biasanya para gadis tak menginginkan wajah mereka luka." Mungkin Hinata tak mempermasalahkan, tetapi Naruto merasa bahwa setitik kemarahan muncul dalam diri. Kemarahan pada siapa pun yang melukai gadis nan berada di sampingnya ini, nan kembali berjalan beriringan tanpa tujuan pasti.
"Ya, risiko," Gadis itu justru terlihat makin santai. "Semua orang tak ingin terluka, tetapi terkadang luka itu selalu ada."
Naruto melirik, Hinata nan mungil—paling pendek di angkatannya. Gadis itu tak mencolok; pakaian nan sering kali dipandang tak modis, jarang juga berkumpul untuk bersenang-senang bersama atau sekadar jalan-jalan penuh rumor di Konoha. Paling-paling dapat ditemukan di tempat latihan, atau kadang pula di pasar—membawa beberapa barang belanja ditemani beberapa orang dari Hyuuga. Namun jika berkumpul, Hinata pun dapat berbaur dengan baik walau jarang bersuara.
Sekali lagi, Hinata sangat terlindungi. Benar-benar menggambarkan definisi seorang putri.
Putri yang kuat dan baik hati.
Dan Naruto akan selalu tahu, punggung dan bahu itu lebih kokoh daripada baja. Pun walau ada segores atau dua gores luka, di balik segala tingkah lakunya yang agak aneh, Hinata masih tetap manis—cantik juga. Namun sang pemuda lebih suka kata pujian pertama.
"Ya, kau benar," Pemuda itu menggantungkan sedikit ucapannya. Beberapa orang yang kini mulai berlaku lalang menyapa, dibalas ramah oleh keduanya. "Tapi, menurutku, meski ada luka—wajahmu masih sangat manis di mataku. Walaupun Hinata juga kadang suka aneh, ya."
Langkah Hinata yang tengah terhenti membuat Naruto menyadari bahwa kata-katanya dalam pikirannya tadi terlontar begitu saja.
"E-eh?"
Naruto berdeham, refleks menggaruk pipi kirinya nan tak gatal dengan tangannya yang tersisa. "Y-ya, begitulah. Kan Hinata memang begitu."
Gadis itu memainkan jemari, agak menunduk. "U-uhm, terima kasih."
Pemuda pirang itu tersenyum dan mengangguk, kembali mereka melangkah tanpa tujuan pasti. Hinata yang mengikuti. Membuat pagi cerah bagi si Uzumaki. Dan lagi menyapa warga Konoha sesekali.
Ketika hampir berada di ujung timur; pasar Konoha yang sudah diramaikan oleh manusia-manusia pencari asa maupun pemenuhan hidup mereka. Begitu pula saat bau harum nan manis lezat yang membumbung rasa lapar mereka.
Hinata tersenyum manis, gadis itu bak berbisik—dengan suara halus penuh bahagia. "Gulungan kayu manis."
Naruto tahu itu, salah satu jenis roti pastri. Pemuda itu tak begitu sering makan pasti, mungkin sesekali. Itu pula jika memang diberi. Namun, kala melihat segala rona dan kesenangan Hinata, tanya akan bagaimana rasa mulai muncul dalam benak sang Uzumaki.
"Kau suka gulungan kayu manis, ya?"
Manik kecubung pucat bercampur keperakan itu berbinar—mirip bulan purnama di malam cerah nan nila. "Ya, terutama gulungan kayu manis."
Si gadis Hyuuga—yang pada masa depan nanti akan menjadi seorang Uzumaki—kemudian melayangkan sebuah senyum nan takkan pernah Naruto lupa dari segala triliunan memorinya. "S-sebenarnya, selain mengunjungi Neji nii-san, aku juga ingin menikmati gulungan kayu manis pagi ini. Apakah Naruto-kun menginginkannya pula?"
Dan Uzumaki Naruto sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan menyetujui; masuk bersama ke dalam salah satu toko kue sumber aroma. Terdapat ruang penuh elatase kaca berisikan kue maupun roti yang menggiurkan. Mereka disambut pula oleh seorang wanita baya dengan wajah ramah dan menyenangkan, harumnya pun membangkitkan kembali rasa lapar. Wanita baya yang tampaknya sangat mengenali si gadis Hyuuga. "Hinata-chan, aku tak menyangka, kau akan datang bersama Kono Yo no Kyūseishu di hari penuh kasih sayang ini."
Pipi Hinata yang entah keberapa kali merona, dan sebuah kalender kecil di atas elatase bagian kue-kue berbahan dasar cokelat menunjukkan bahwa saat ini tanggal 14 Februari—hari kasih sayang. Naruto benar-benar baru menyadarinya.
"A-aku bahkan lupa ini tanggal berapa," Makin memerah saja pipi Hinata, gadis itu kembali pada kebiasaan memainkan jemari. "U-uhm, Baa-san, a-aku ke sini untuk membeli gulungan kayu manis."
Senyum wanita itu makin ramah, Naruto merasakan segala kehangatan. "Aku tahu, Hinata-chan. Omong-omong, kali ini spesial karena hari kasih sayang. Kau hanya perlu membayar sepotong untuk mendapatkan kue. Dan tambahan frosting krim keju."
Seketika lengan sang pemuda yang tersisa merogoh kantung celana—memucat menyadari bahwa Naruto lupa membawa dompet maupun sepeser uang.
"K-kalau begitu, dua potong porsi besar, Baa-san," Hinata mengeluarkan dompet, makin membuat Naruto pucat. Mengingat Gama-chan dengan isi tak seberapa masih ada di dalam kamar rumah sakitnya.
"H-hei, Hina—"
"—silakan."
Pun dengan cepat sebungkus kertas cokelat beraroma rempah yang manis diterima Hinata dengan sebuah senyum bahagia. Gadis Hyuuga itu yang kembali agak terkejut kembali—Hinata nan mengajaknya keluar; menyelusuri jalan-jalan kecil pasar hingga sampai pada suatu tempat pembangkit nostalgia. Lapangan latihan mereka.
"Hinata, maaf sekali," Naruto berdeham. "Aku lupa bawa dompet."
Namun, tawa manis lah yang pemuda itu dapatkan. Hinata tertawa, duduk di salah satu kayu besar pohon yang dialihfungsikan sebagai tempat para shinobi beristirahat sejenak. "Tidak apa, Naruto-kun. Tidak usah diganti. Lagi pula, aku yang menawarimu."
Naruto ikut duduk di samping gadis itu—merasakan harum gulungan kayu manis yang kini bercampur setitik lavendel nan menenangkan. "Tidak, tidak. Lain kali akan kuganti."
"Tidak usah, Naruto-kun," Hinata yang kini menawarkan sepotong—diterima Naruto dengan senang hati. Sang pemuda menggigitnya perlahan, menikmati kali pertama mencoba.
"Hei," Gigitan pertama, sang Uzumaki merasakan alasan mengapa gadis Hyuuga itu bisa sangat menyukainya. "Aku tahu alasan kau menyukai ini! Ini sangat enak!"
Pagi itu, kala matahari yang akhirnya benar-benar bertakhta pada angkasa semesta dunia manusia—setelah mengunjungi kawan terbaik dalam hidupnya, doa Naruto nan terkabul untuk berada lebih lama di dekat Hyuuga Hinata. Dan menikmati sepotong gulungan kayu manis di hari kasih sayang bersama dengan seorang gadis yang luar biasa.
"Pokoknya aku akan mengganti ini lain kali!"
Sebuah janji yang terucap dari Naruto di akhir pertemuan mereka hari itu.
•
Tangan kanan barunya!
Naruto sudah diperbolehkan pulang; berjalan mengitari Konoha dengan bangga. Sesekali menyapa para shinobi pun warga. Terkadang memamerkan tangan barunya pada anak-anak akademi yang dibalas gelengan dari sang guru, Iruka.
Langkahnya dengan pasti menuju ke arah timur pasar dari Konoha, memasuki sebuah toko kue dan roti yang pernah didatanginya pula.
"Baa-san, aku pesan gulungan kayu manisnya dua potong ukuran besar!"
Dan kalender yang tertera menunjukkan tanggal 14 Maret.
.
.
—selesai sampai di sini
.
.
Kono Yo no Kyūseishu: Salah satu julukan untuk Naruto yang artinya Juru Selamat Dunia.
.
Catatan Kecil:
Dibuat untuk R-senpai. Cepat sembuh :"( Bagi yang baca ini juga stay safe and health, ya!
