Sebelumnya saya ingin memohon maaf karena keterlambatan yang sudah bisa dikatakan tidak tahu diri ini. Terlebih, saya merasa menjadi author yang saya pribadi tidak sukai ketika ada cerita yang saya tunggu-tunggu, namun berhenti di tengah jalan tanpa ada pemberitahuan selanjutnya. Sebenarnya, lanjutan cerita dari chapter yang terakhir, sudah saya buat pada tahun yang sama. Namun saya merasa tidak percaya diri dengan alur cerita yang ada, dan merasa alur ceritanya aneh.. Jadi saya tidak memiliki keberanian untuk update. Klise memang. Oleh karena itu, saya sangat amat memohon maaf atas ketidakmampuan saya..

Juga saya ingin mengucapkan terima kasih untuk para pembaca yang masih bolak-balik mengecek update yang saya lakukan, atau sekadar kembali membaca ulang cerita untuk melepas rindu. Jika ada kata yang lebih tinggi dari terima kasih sebagai apresiasi yang ingin saya berikan, akan saya tujukan untuk kalian.

Berikut akan saya lampirkan naskah cerita yang sudah saya sampaikan sebelumnya.. Mohon bantuan untuk review cerita ini nantinya di kolom review seperti biasa ya minna..


DISCLAIMER : FUJIMAKI TADATOSHI

WARNING : 1]Awas Bosen karena kepanjangan menuju menu utama nya fufu.. [2] Humor LEBIH garing, maksa, absurd dari fanfic sebelumnya

[3] Mungkin agak OOC [4]Typo[5]Romancega terlalu dapet [6]Sho-ai / BL(?) [7]Dan lain-lain (?)

Rate : T

By : Neutral Kingdom

"Damn it!I" teriak Kagami kesal di apartemennya

"Kenapa kau?" tanya Ogiwara acuh tanpa memandang Kagami yang kini menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

"Aku disuruh pulang ke Jepang." Jawab Kagami malas.

"Lalu?" Ogiwara masih merespon acuh.

"Lalu? LALU KATAMU? Lalu Embahmu? Besok kita akan ada pertandingan final, dan kau masih bisa bertanya lalu? Kau mau aku dibunuh oleh Alex huh? Kau tidak ingat ancamannya apa? Jika kalah, kita disuruh mengambil piala runner up dengan telanjang. TELANJANG ASTAGAA! Bagaimana jika sampai aku tidak muncul? Bisa-bisa di pertandingan selanjutnya, ia akan menyuruhku bermain dengan telanjang!" Kagami yang kesal + frustasi melempar bantal dan guling ke arah Ogiwara yang sedang bermain PS dengan ganteng.

"Bakagami Bakka! Maksudku kan, kau bisa pulang setelah pertandingan ini kita menangkan. Kenapa kau harus sefrustasi itu? Dasar hiperbolis!" Ogiwara kembali melempar bantal dan guling yang tadi dialamatkan kepadanya ke arah Kagami dan kembali bermain PS.

"Dan ya katakan hal itu pada si titan ungu yang memintaku pulang besok. Besok. BESOK TUHAAANNN! Ini namanya memilih untuk menyerahkan nyawa berhargaku pada hewan buas macam naga atau raksasa" Kagami mulai jumpalitan ga jelas di atas tempat tidur orang. Nah kali ini Ogiwara menengokkan kepalanya ke arah Kagami setelah mem-pause game nya, bingung untuk menanggapi ucapan Kagami, yang pertama, apa naga itu ada? Dan yang kedua, emangnya raksasa itu hewan? buas? Err.. abaikan.

"Murasakibara?" yang dibalas Kagami hanya berupa gumaman dan kemudian menengkurapkan tubuhnya. Ogiwara terdiam sejenak memikirikan beberapa kemungkinan yang menyebabkan sahabat ungunya itu meminta si alis cabang pulang dengan mendadak seperti itu. "Menurutku, kau memang harus pulang secepatnya Kagami." Kagami memandang Ogiwara dengan tatapan 'apa kau gila?'. "Tidak. Aku tidak gila. Kalau aku saja gila, lalu kau apa? Sarap? Sinting? Miring? Otakmu ges-" Dan Kagami kembali melakukan headshot untuk menghentikan keabstrakan sahabatnya itu. "Oke maafkan aku. Maksudku, bukankah aneh jika Murasakibara memintamu pulang secara tiba-tiba seperti itu? Apa dia mengatakan alasannya"

"Tidak." Kagami mengganti posisi telungkupnya menjadi duduk untuk menanggapi pembicaraannya dengan Ogiwara yang sepertinya akan berubah serius dan membuatnya membeli tiket ke Jepang didetik mereka menyelesaikan pembicaraannya. Ya, Ogiwara dan kemampuan persuasifnya untuk membuat orang lain mengikuti kemauannya tanpa ada yang menyadarinya. Walau Kagami sadar bahwa ia akan masuk skenario yang dibuat Ogiwara dan sudah mempertingati dirinya sendiri untuk tidak masuk ke dalam skenario tersebut, tetap saja ia tanpa sadar akan melakukan hal yang sudah direncanakan oleh Ogiwara.

"Menyuruhmu pulang tanpa memberitahukan alasannya? Se-absurd-absurd nya Murasakibara, ia paling malas untuk turun tangan terhadap suatu masalah. Kecuali masalah tersebut memberikan dampak yang tidak baik untuk Himuro dan –"

"Kuroko" Kagami memotong ucapan Ogiwara.

"Ya, Tetsuya. Dan kemungkinan lainnya kau tidak diberi tahukan masalahnya saat ini adalah, karena masalah ini cukup atau sangat besar dan mampu membuat tindakamu yang biasa kau lakukan dengan tidak pernah berpikir menjadi tindakan yang tidak rasional."

"Benar. Eh, apa katamu? Tidak pernah berpikir?" Kagami kembali melakukan headshot ke arah Ogiwara.

"Okay, maaf. Ayo fokus lagi." Kagami menghentikan kegiatannya yang ingin melempar selimut dan kembali tenang. "Jadi bagaimana bisa Murasakibara memintamu pulang?"

"Awalnya Tatsuya yang menelponku dan memintaku untuk pulang secepatnya, dan aku menyanggupinya untuk pulang minggu depan setelah final kita besok dan camp yang diadakan Alex selesai. Tapi setelah itu Tatsuya menelpon kembali dan memintaku untuk pulang besok. Tentu saja aku tidak bisa. Dan kemudian titan ungug itulah yang mengambil alih." Ogiwara kembali terdiam setelah mendengar penjelasan Kagami.

"Jika Himuro yang menelponmu, ada kemungkinan bahwa yang memiliki masalah saat ini adalah Tetsuya. Dan jika Murasakibara yang langsung turun tangan, sepertinya…"

"Sepertinya apaa?"

"Sepertinya situasinya sangat sulit dan mereka membutuhkanmu secepatnya." Ogiwara dan Kagami sama-sama terdiam. "Atau.."

"Atau?"

"Atau, Tetsuya yang membutuhkanmu secepatnya." Dan mereka berdua kembali terdiam.

"Baiklah sudah kuputuskan." Ogiwara menaikkan salah satu alis matanya saat Kagami memecah keheningan yang tercipta. "Sudah kuputuskan bahwa terserah jika si wanita mesum itu akan menyuruhku bertanding dengan bertelanjang atau memintaku untuk menyatakan perasaanku dengan telanjang. Itu akan kulakukan demi keluarga dan sahabatku." Putus Kagami dengan nada tegas.

"Oke jika itu keputusanmu." Ogiwara mengangguk-anggukan kepalanya mendengar keputusan Kagami.

"Baiklah, aku akan memesan tiket untuk besok."

"Besok akan ada penerbangan pukul 10 malam, pertandingan basket dimulai jam 7 malam. Apa jadinya jika kau ada di Amerika, tapi tidak pergi ke pertandingan dulu? Alex pasti akan memaksamu untuk bertanding dulu besok dan membuatmu berangkat keesokan harinya lagi yang berarti kau akan sampai di Jepang lusa. Bagaimana jika malam ini saja kau berangkatnya, jadi besok kau sudah di Jepang. Dengan begitu, setidaknya kau tidak akan dibunuh dua kali. Oleh Alex dan oleh Murasakibara." Kagami terdiam sejenak untuk memikirkan saran Ogiwara.

"Huh, baiklah. Pesankan tiket untuk hari ini. Jam berapa?"

"Sudah kupesan sejak tadi. Jam 10."

"Akan kuganti uangnya besok. Sekarang kau bantu aku berkemas."

"Berkemas? Kau harus berangkat sekarang Ka-ga-mi."

"Huh?" Ogiwara memberi isyarat Kagami untuk melihat jam dinding digital yang ada di kamarnya.

08.30 PM

"WHAAATTTT?" Ogiwara menutup telinganya mendengar suara barbar Kagami.

"Cepat ambil tasmu yang ada di lemari pakaian paling bawah. Itu adalah tas urgent yang kusiapkan berisi dompet, visa, paspor, dan hal-hal urgent yang sekiranya kau butuhkan. Aku tunggu kau di bawah." Ucap Ogiwara sambil mendorong Kagami untuk keluar dari kamarnya dan bergerak cepat. Dan sesuai komando Ogiwara, Kagami pergi ke kamarnya tanpa melihat seringai yang ditunjukkan Ogiwara saat mendorong tubuh Kagami keluar dari kamarnya.

Ogiwara kemudian menuju basement terlebih dahulu dengan ponsel yang berada ditangannya.

"Baiklah sudah kuputuskan. Sudah kuputuskan bahwa terserah jika si wanita mesum itu akan menyuruhku bertanding dengan bertelanjang atau memintaku untuk menyatakan perasaanku dengan telanjang. Itu akan kulakukan demi keluarga dan sahabatku"

Terdengar kembali suara Kagami saat ia menyuarakan keputusannya di kamar Ogiwara tadi. "Fufufu.. Hahahaha.. apa yang akan dilakukan Alex ya saat ia mendengar rekaman ini? Hahaha.." Ogiwara tertawa dengan memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Kemudian ia menghentikan tawanya saat pintu lift terbuka, dan wajahnya menampakkan keseriusan.

Ogiwara dan Kagami sampai di bandara 20 menit sebelum jadwal keberangkatan pesawat, kemudian berlari kesetanan untuk melakukan check in.

"Aku pergi dulu." Ucap Kagami sebelum masuk

"Ya. Kabari aku jika kau sudah sampai." Kagami hanya mengangguk dan berlari ke dalam karena waktunya hanya tinggal 12 menit lagi.

"Aku akan menyusulmu jika masalah ini berkaitan dengan adikku." Ujar Ogiwara lirih sambil menatap punggung Kagami yang perlahan menghilang. Kemudian membalikkan tubuhnya setelah ia tidak lagi melihat punggung Kagami.

Di dalam pesawat, Kagami sama sekali tidak bisa duduk dengan tenang. Bagaimana bisa tenang jika ia memikirkan masalah apa yang sebenarnya terjadi di tempat para sahabatnya bernaung. Apalagi sahabat biru mudanya. Menyerah dengan rasa khawatir berlebih yang ia rasakan, Kagami memilih untuk memakai penutup mata yang ada di tas ajaibnya dan pergi ke Lalaland.

Ogiwara merebahkan tubuhnya di kamar dan menatap langit-langit kamarnya. Setelah berdiam diri cukup lama, ia mengambil HP yang ada di kantong celananya dan menelpon seseorang di seberang sana.

"Ya Ogiwara-kun?"

"Kenapa kau tidak menelponku? Dia adalah adikku. Tapi kenapa kau malah menelpon si Bakagami?"

"Aku hanya menjalankan permintaan Atsushi saja Ogiwara-kun. Maafkan aku." Suara di seberang sana terdengar menyesal.

"Ya, aku sudah mendengarnya dari Kagami. Jadii? Apa yang terjadi?"

"Umm.. aku tidak bisa memberitahumu sekarang Ogiwara-kun. Karena Atsushi memiliki rencana lain untukmu." Ogiwara menghela napasnya. "Maafkan aku Ogiwara-kun."

"Nah.. santai saja Himuro. Tolong jaga adikku di sana. Karena aku yang akan menjaga adikmu di sini. Apalagi saat ini nyawanya dipertaruhkan hahaha.."

"Maksudmu?" dan Ogiwara pun menjelaskan kondisi Kagami yang dilemma antara harus memilih telanjang atau dimakan hidup-hidup. Dan ia memilih untuk ditelanjangi saat pulang nanti.

"Yaa.. dan aku harus memenangkan pertandingan besok untuk menyelamatkan adikmu itu haha.."

"Aku sungguh berterima kasih padamu Ogiwara-kun. Please save my brother's ass Ogiwara-kun."

"I will Himuro. You can keep my word. Kalau begitu sudah dulu ya, aku harus beristirahat. Dan jangan lupa untuk menjemput adikmu besok. Jika tidak, kau tau sendiri dia akan marah seperti apa bukan jika ia merasa dilupakan?"

"Hahaha.. tentu saja aku tahu. Terima kasih atas infonya Ogiwara-kun. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Dan telepon sambungan internasional itupun selesai.

Kagami terbangun dari tidurnya karena ia merasa tepukan pelan berulang yang ia rasakan dibahunya.

"Sir, wake up please. We are already in Japan right now." Ucap seorang pramugari pelan saat Kagami membuka penutup matanya.

"Hoaamm.. we are already in Japan? How fast." Kemudian ia melihat ke arah bangku penumpang lain yang ternyata sudah kosong. "Thankyou for waking me up."

"Sure sir. Thankyou for using our company for your air ride." Kagami hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali menguap. Kagami kemudian menyalakan teleponnya dan melihat 15 panggilan tidak terjawab.

Kemudian ia kembali menelpon balik si penelpon yang merupakan kakaknya itu.

"Ya Tatsuya?" tanyanya saat panggilannya diangkat oleh sang kakak.

"Yo katamu? Kami sudah menunggumu selama 20 menit. Di mana kau?" dan Kagami pun melek seutuhnya dan melihat nama kontak yang ia hubungi. Benar nama Tatsuya kok. Tapi kenapa suaranya si titan ungu ya? Batin Kagami miris karena harus langsung berhadapan dengan kekasih Himuro.

"Oh hei Murasakibara. Apa kabarmu?"

"Kabarku tidak baik. Dan semakin tidak baik jika dalam dua puluh menit kau tidak ada di parkir kedatangan F5 dan di dalam swift putih 543." Dan sambungan terputus. Dengan sekuat tenaga Kagami berlari menuju parkiran yang diminta oleh Murasakibara setelah bertanya pada petugas yang berjaga di sana. Dan untung saja di sisa 3 menit terakhir, ia mampu sampai di mobil Murasakibara.

"Naik Taiga." Himuro menginstruksi adiknya yang masih berupaya mengatur napasnya. Dengan cepat Kagami mengikuti instruksi kakaknya tersebut. Setelah naik, Himuro memberikan sebotol mineral dan Murasakibara menyetir mobilnya menuju tempat tujuan mereka selanjutnya.

"Jadii.. apa kalian tidak akan menjelaskan padaku dulu kondisi di sini saat ini?" Kagami berusaha mulai membuka pembicaraan.

"Hmm.. kau hanya perlu untuk menemani Kuroko-kun dan mengalihkan perhatiannya untuk sesaat." Kagami terdiam dan berusaha mencerna jawaban yang diberikan oleh Himuro, ya tapi gimana ya? Otak Kagami kan emang jarang dipakai untuk berpikir, apalagi menganalisis, bukannya dapat jawaban logis, yang ada malah dia emosi -_-

"Kalau hanya untuk menemani Kuroko, kenapa kalian memaksaku untuk pulang secepatnya? Memangnya kalian ini sibuk semua apa sampai tidak bisa menemaninya? Kalian tahu bahwa aku meninggalkan pertandingan pentingku karena kukira keadaan di sini sangat gawat dan sangat membutuhkanku. Tapi apa? Hanya menemani Kuroko? Jangan salah sangka, aku sangat menyayangi Kuroko seperti adikku sendiri, walau dia terlahir duluan, dan akan kulakukan appaun yang kubisa untuk melindunginya, tapi astagaaaa.. " Kagami mengusap-usap wajahnya kasar. "Yang benar saja kau Murasakibara-teme."

CKIIIITTT.. Mobil direm mendadak.

"Kagami-chin dan kebodohannya huh?" Murasakibara berujar dengan nada gelap, Himuro menghela napas lelah sambil menggelengkan kepalanya, dan Kagami yang menegakkan duduknya dan menelan ludah dengan perlahan. Himuro menggenggam tangan Murasakibara yang berada di perseneling dan mengusapnya perlahan saat kekasihnya ingin membuka mulutnya untuk melanjutkan omelannya pada adiknya itu.

"Taiga, untuk saat ini kau hanya perlu menemani Kuroko-kun tanpa bertanya apapun pada Kuroko-kun langsung atau kepada kami. Temani dia, dan alihkan pikirannya jika kau melihat dirinya bukan seperti pribadi yang kau kenal selama ini. Kami bukannya tidak ingin memberitahumu saat ini, hanya saja sifat mudah meledakmu itulah yang ditakutkan oleh Atsushi akan mengganggu rencana kami." Kagami mendengarkan dengan khidmat penjelasan dari Himuro tanpa berani menyela, ya gimana mau menyela kalau sepasang mata ungu terus menatapnya dari spion depan -_- "Kau mengerti Taiga?" Kagami hanya menjawab dengan anggukan, dan Murasakibara kembali melajukan kendaraannya.

Kuroko berjalan menuju pintu apartemennya saat ia mendengar bel nya sudah dibunyikan berkali-kali. Rasanya ia tidak punya janji dengan siapapun hari ini, ya walau tidak menutup kemungkinan para sahabatnya yang datang tanpa pemberitahuan dahulu atau tanpa diundang seperti biasa.

"Huh?"

"Begitukah sambutanmu untuk kekasihmu Tetsuya? Huh? Yang benar saja" ledek pria merah yang ternyata adalah kekasihnya. Kuroko yang diledek seperti itu hanya bisa salah tingkah dan membuat pipi putihnya merona. "Kau yakin tidak menginginkanku masuk ke dalam apartemenmu?" tersadar dari kesaltingannya, Kuroko pun mempersilakan Akashi untuk masuk ke dalam apartemennya.

"Jadi?" Kuroko bertanya dari bar yang berada di satu ruangan dengan ruang tamunya untuk menyiapkan Akashi segelas teh yang biasa kekasih merahnya itu inginkan tiap kali Kuroko menawarkannya minum.

"Hm?"

"Jadi ada apa Sei-kun datang ke sini?"

"Apakah ada yang salah jika aku mengunjungi kekasihku?" Akashi bertanya dengan nada heran.

"Bukan begitu.. hanya sajaaa.. bukankah ini hari kerja? Bukankah harusnya kau masih ada di kantormu saat ini? Bagaimana jika mereka membutuhkanmu saat kau berrada di sini? Bagaimana jika kau ada me-"Mendengar jawaban pria vanilla di hadapannya membuat Akashi tertawa kecil.

"Aku adalah boss di perushaanku Tetsuya, apa yang kau khawatirkan, hm? Aku akan dipecat? Bahkan jika Otou-sama yang mengatakan bahwa ia akan memecatku, ia tidak akan bisa melakukannya. Kau tahu kenapa? Karena ia tidak akan menemukan seseorang yang sekompeten diriku." Akashi berujar sombong di hadapan kekasihnya. Kuroko hanya memutar bola matanya malas mendengar kenarsisan kekasihnya.

"Akashi dan kenarsisannya huh?"

"Dan kau mencintai kekasihmu yang narsis ini Tetsuya." Akashi menyeringai melihat pipi kekashinya yang kembali merona.

"Tapi bagaimana jika ada meeting dadakan Sei-kun?" Kuroko kembali bertanya dengan nada datar, namun tidak dengan genggaman tangannya pada sendok pengaduk teh yang membuat tangannya memutih karena besarnya tekanan yang Kuroko berikan.

"Tetsuya –"

Bunyi bel apartemen Kuroko kembali terdengar dan dengan lancangnya memotong apapun yang ingin diucapkan oleh seorang Akashi. Bosan hidup rupanya huh?

Kuroko berjalan cepat dengan dua cangkir teh dan menaruhnya di atas meja. "Aku akan membuka pintu dulu Sei-kun." Akashi hanya mengangguk sambil meminum teh nya, untuk kali ini dia akan memaafkan siapapun yang berani mengintrupsinya karena teh favourite buatan kekasihnya.

CEKLEK . . .

"Huh? Himuro-kun, Murasakibara-kun?"

"Dan Kagami-kun, Kuroko-teme!" sebuah suara mucul secara tiba-tiba membuat Kuroko mengalihkan atensinya ke asal sumber suara yang ternyata memunculkan kepala dengan rambut berwarna merah gradasi hitam dari belakang Murasakibara.

"Supriseeeeee…" ucap Kagami keras dengan meloncat dari belakang tubuh Murasakibara dan melakukan pose merentangkan kedua tangannya lebar dan kaki kiri yang ditekuk dengan menumpu pada lantai dan kaki kanan yang ditekuk 45 derajat di depan Kuroko yang membukakan pintu. Murasakibara menggigit snacknya, Himuro memijat keningnya malu, dan Kuroko menaikkan alis kanannya.

"Aku sudah tau kau akan datang Kagami-kun."

NGIK NGIK NGIK.. Dua ekor burung gagak terbang begitu saja ketika Kuroko menyelesaikan kalimatnya.

"Huh? Kau tahu?" Kuroko mengangguk sistematis. Kagami kemudian menurunkan kedua tangannya yang masih merentang dan berdiri dengan canggung. "Uh.. kukira kau tak tahu" Kagami menggaruk leher belakangnya karena tidak tahu harus bagaimana, apalagi dua burung gagak yang sejak tadi terus menerus berlalu lalang seakan meledek kebodohannya.

"Tetsuya.. siapa?" Sebuah suara akhirnya mampu memecahkan kecanggungan yang diakibatkan oleh Kagami. Dan suara tersebut memunculkan dirinya di samping Kuroko. Akashi menatap tajam tiga tamu yang mengancam akan mengganggu quality time nya dengan Kuroko.

"Untuk apa kalian datang kemari?"

"Uh, bertamu?" jawab Kagami tidak yakin.

"Kau yakin tidak ingin berbicara di dalam Kuro-chin? Aku ingin makan sambil duduk." Rengek Murasakibara.

"Ah aku lupa. Silakan masuk minna." Para tamu tak diundang pun masuk meninggalkan Akashi yang mengerutkan keningnya tidak suka. Demi apapun, ia datang hari ini untuk quality time dengan kekasihnya dan terancam batal. Yang benar saja? Beneran mau pada langsung dipindahin ke kehidupan selanjutnya apa?

"Sei-kun, ayo." Ajak Kuroko pada kekasihnya yang tidak bergerak se inch pun setelah ia menutup pintu masuk apartemennya. Oke, Akashi bisa menanyakannya langsung nanti dan memikirkan hukuman apa yang pantas untuk para tamu tak diundang tersebut. Elah, padahal Akashi juga ga diundang -_- (#CKRISH *dilempar gunting sama Akashi).

"Kalian ingin minum apa?" tanya Kuroko pada tiga makhluk yang sudah duduk ganteng di kursi ruang tamunya.

"Santai saja Kuro-chin. Aku dan Muro-chin hanya men-drop Kagami-chin."

"Men-drop? Jelaskan Atsushi!"

"Aah.. jika seperti ini, kami memang membutuhkan minum Kuro-chin." Kuroko hanya mengangguk dan mundur perlahan ke arah bar diikuti oleh Himuro yang ingin membantu Kuroko. Saat Kagami ingin berdiri juga, ia melihat kakaknya menggelengkan kepala ke arahnya. Mengerti dengan isyarat yang diberikan Himuro, Kagami pun mengurungkan niatnya.

"Jadi? Apa maksudmu dengan men-drop Taiga?" Murasakibara membuka snack barunya sebelum menjawab pertanyaan Akashi. Menghadapi Akashi yang kemungkinan akan masuk ke dalam level emosi membutuhkan kesabaran ekstra dalam penanganannya, terutama bagi Murasakibara yang tidak memiliki stok kesabaran di garis rata-rata kebanyakan orang.

"Aku dan Kagami-chin memilki project di Jepang, dan Kagami-chin akan tinggal bersama Kuro-chin selama project ini berlangsung."

"Kau dan Taiga memiliki project bersama aku mengerti. Tapi kenapa ia harus tinggal di apartemen kekasihku? Kenapa tidak denganmu? Bukankah project ini milik kalian? Kenapa kalian harus melibatkan kekasihku?"

"Ugh.. aku dan Muro-chin kan tinggal bersama Aka-chin. Akan tidak nyaman jika ada orang lain yang tinggal bersama kami. Akan lain ceritanya jika Kagami-chin itu benda mati, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati." Kagami melotot mendengar ucapan Murasakibara. Nyumpahin dirinya mati tuh raksasa satu itu?

"Dan aku juga tidak bisa menitipkannya pada yang lain. Aomine-chin tinggal dengan Kise-chin, Takao-chin sedang pulang ke Jepang, sudah pasti Mido-chin tidak akan menerima Kagami-chin. Takao-chin tidak ada saja pasti Kagami-chin ditolak mentah-mentah, apalagi kalau Takao-chin sedang ada, sudah pasti Kagami-chin akan dibunuh oleh Mido-chin jika berani mengganggu privasi nya. Aka-chin tidak suka teritorinya dimasuki orang lain selain Kuro-chin, ya jadi pilihan terakhirnya hanya Kuro-chin." Murasakibara kembali menggigit snack nya setelah pidato singkatnya ia akhiri.

"Ia bisa menginap di hotel atau penginapan sementara."

"Mahal Aka-chin." Kagami meurutuk dalam hati. Kok kayaknya dia ga mampu banget ya buat nyewa hotel? Sudahlah, ikutin alur yang ada saja jika ia ingin selamat.

"Aku tidak apa jika Kagami-kun akan tinggal sementara di sini Sei-kun." Kuroko berujar sambil membawa nampan dengan tiga gelas dan satu jar jus jeruk kemasan, di belakangnya Himuro membawa mangkok berisi es batu yang tidak muat untuk diletakan di nampan yang dibawa Kuroko.

"Kau mungkin tidak mengapa. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu tinggal dengan laki-laki lain di depan mataku Tetsuya." Kuroko duduk di kursi sebelah Akashi setelah menaruh nampan yang ia bawa di depan Murasakibara.

"Kagami-kun bukan laki-laki lain Aka-chin. Dia sahabat Kuro-chin, adik dari kekasihku, dan walau berat kukatakan, ia adalah sahabat kita. Apa yang membuatmu merasa bahwa ia adalah orang lain? Dia tahu bahwa Kuro-chin sudah memiliki kekasih, dan setia terhadap kekasihnya. Apa yang membuatmu tidak mengizinkannya Aka-chin?" Himuro menuangkan es batu di tiga gelas yang sudah disediakan Kuroko dan menuangkan jus jeruk ke gelas Kagami agar adiknya yang keringat dingin tersebut tidak mati dehidrasi karena terjebak di perang dingin antara titan ungu dan rajanya (?).

"Seperti yang kau bilang Atsushi. Aku tidak suka jika ada yang melewati teritoriku. Dan Tetsuya berada di wilayahku sejak ia menjadi kekasihku. Dan aku tidak suka jika ada yang mendekati milikku."

"Kagami-chin." Kagami menengokkan kepalanya saat baru saja ia ingin meminum jus yang diberikan oleh Himuro. "Apa kau tahu bahwa Kuro -chin adalah milik Aka-chin."

"Tentu saja." Murasakibara mengangguk puas, dan Kagami dapat meminum minumannya dengan tenang—untuk sementara.

"Sei-kun, kurasa ini bukanlah masalah besar. Kagami-kun bisa tinggal di sini untuk sementara waktu sampai project miliknya dan Murasakibara-kun selesai."

"Dan membiarkanmu tinggal dengan laki-laki lain?" Akashi menatap kekasihnya dengan tajam. "Tidak Tetsuya." Kuroko menatap langsung bola mata kekasihnya.

"Mengapa kau melarangnya Aka-chin? Apa kau tidak mempercayai Kuro-chin? Atau ada sikap Kuro-chin yang membuatmu tidak bisa mempercayainya?"

"Ini bukan masalah kepercayaan Atsushi. Jika masalahnya adalah kepercayaan, aku percaya pada Tetsuya 100%. Aku hanya tidak suka ada yang berdekatan dengan sesuatu yang merupakan milikku."

"Jika yang kau permasalahkan adalah kepemilikan, aku selalu milikmu Sei-kun. Apa itu cukup untukmu?" Akashi yang ingin menjawab ucapan kekasihnya terhenti karena bunyi dering handphone yang dikenalnya - bunyi khusus untuk seseorang yang ada disisinya selain Kuroko.

Dan sadarlah ia bahwa dering tersebut adalah miliknya. Akashi segera merogoh kantong celananya. Setelah mengetahui identitas yang menelponnya, ia langsung me-reject dan mematikan handphone nya.

"Tidak kau angkat Sei-kun?"

"Telepon tidak penting." Jawab Akashi singkat.

TBC


Author's Note (Again) #Sigh:

Sekian chapter kali ini.. semoga sedikit mengobati rindu (jika ada), dan beneran ga aneh (tolong jika ada masukkan) huehehe..

Demikian disampaikan. Atas perhatian dan kerja samanya diucapkan terima kasih (?) #HAH?

Best regards,

Author tidak bertanggungjawab

NeutralKingdom