a falling star fell from your heart and landed in my eyes
.
.
genshin impact © HoYoverse
penulis tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari fanfiksi ini
.
.
Ia akan selalu mengenang tempat ini lewat cara yang sama; langit-langit ruangan yang rendah, dipan yang cukup kokoh untuk menopang bobot tubuh dua lelaki dewasa, aroma hio menguar kuat bahkan dari pakaian lelaki satunya, menempel di tulang selangka dan ujung-ujung rambut, dan bukannya Childe hendak memprotes semua itu.
Satu-satunya yang mengganggu cuma nyeri yang sekarang merambat ke sekujur perut, rasa sakit yang ia kutuki sejak lima menit lalu, luka sayatan segar yang kembali membuka dan menerbitkan cemas itu lagi di mata Zhongli, meredupkan sinar keemasan di tatapannya.
"Ini bukan apa-apa," suaranya lebih lantang dari rintihan jengkelnya sebelum ini. Childe duduk di sisi dipan, menyentuh hati-hati belitan perban yang belum apa-apa sudah kemerahan berjejak darah. "Kau pernah melihat yang lebih parah dari ini, bukan? Zhongli-xiansheng."
Tawa pelannya kali ini tak berhasil menipu; Childe menoleh dan mata mereka bersirobok, ia tergelak ketika mendapati Zhongli bergeming di sisinya, mata menatap tajam seolah sedang berusaha menyusup ke kepalanya cuma dengan kekuatan pikiran. Barangkali pria itu hendak mengunjungi benaknya hanya untuk meremukkan segala omong-kosong Childe dengan tangan kosong—barangkali seorang mantan Dewa tetap punya kemampuan memanipulasi otak manusia, dan dalam hitungan detik ia akan harus mematuhi perintah seorang Rex Lapis tanpa mampu membantah?
Namun Zhongli hanya menggeleng; kamar si pria begitu lengangnya hingga Childe bisa mendengar Zhongli berdecak samar. Jelas tak mengapresiasi keringat dingin dan ujung jarinya yang masih gemetar, keras kepala menahan sakit.
Jubah tidur pria itu masih tersingkap, kulitnya pucat di bawah nyala lampu minyak.
"Setidaknya aku tidak perlu lagi memaksamu tidur lebih cepat? Tidurlah, besok pagi akan kurebuskan teh dan racikan obatmu supaya kau merasa lebih baik."
Giliran Childe yang sekarang merengut kekanakan. "Jadi kita berhenti di sini?"
"Berhenti di sini, tentu saja."
Dan kau tidak peduli, bahkan meski sudah berbulan-bulan lamanya sejak aku mengunjungi Liyue?
Bahkan untuknya pun, setiap protes dan keluh itu terlalu memalukan untuk diungkapkan. Bukankah ia yang selalu pergi sesuka hati, patuh pada setiap surat dan komando yang dititipkan Ekaterina padanya, segalanya demi loyalitas tunggalnya pada Tsaritsa? Setiap torehan cedera baru di kulitnya bukanlah tanpa alasan. Sekian petak luka bakar yang telah mengering, dan parut-parut luka yang bersilangan di punggungnya tak lebih dari pertanda bahwa ia sedang bergerak maju. Bahwa perintah untuknya selalu mutlak dan tak terbantahkan—bahwa setiap distraksi hanyalah debris yang takkan berkontribusi apa-apa pada kemaslahatan hidupnya, dan betapa Teyvat mestinya menampung beribu petualangan dan suntikan adrenalin tiada akhir untuknya; satu kamar terpencil di lantai dua Rumah Duka Wangsheng harusnya tak mengikat hatinya sampai seerat ini.
Sebagian pakaiannya berantakan di lantai, menyelubungi topeng Fatui yang sama-sama telah ditanggalkan. Dadanya telanjang, penuh plester dan belitan perban seperti karya seni paling buruk yang pernah ada, dan ujung jari Zhongli kini menelusur tulang selangkanya, mengusapi pelan.
Ia ditarik pergi dari lamunannya. Childe menyipitkan mata, tangannya naik, menahan jemari Zhongli agar tetap di kulitnya.
"Apa-apaan ini," cahaya lampu jatuh lembut di sisi wajah Zhongli, dan itu turut melunakkan ujung-ujung bibir Childe. "Ini maksudnya 'berhenti di sini', Zhongli-xiansheng?"
Bibir lelaki satunya turut meretas senyum karenanya. "Aku hanya memastikan tidak ada luka yang terlewat diobati."
Jari itu menekan, lembut di tempat nadi si pemuda berdetak, mengantarkan hangat yang kemudian merambati pipi. Childe menarik napas jengah, tangan masih menangkup jari-jari kurus Zhongli.
"Aku tidak selemah itu."
Zhongli bergumam, seolah tengah bersabar meladeni bocah ingusan yang sesumbar hendak menaklukkan dunia. "Aku tahu."
Jeda, dan dibawanya jemari Zhongli pada perban di perutnya. Lukanya tak henti berdenyut, menimpali detak jantung di dada.
"Kau yakin tidak ingin melanjutkan?" bisiknya, lirih—begitu lengahnya hingga Childe tak menyadari betapa ia sebetulnya sedang meminta. Dari matanya, dari tangan yang meremas dan menekankan telapak tangan Zhongli pada perutnya, dan nyeri yang timbul akibat setiap tekanan itu kini terasa tumpul, begitu tidak signifikan. Tak tahu mengapa. "Apa Zhongli-xiansheng tidak takut aku takkan kembali ke sini, dan selamanya ini tidak bisa dilanjutkan?"
Di antara senyap dan pijar lemah lampu minyak, mereka sama-sama terdiam. Kata-katanya meninggalkan getir di bibir, tiap untaian hurufnya ibarat menggantung dan terayun-ayun canggung di udara, dan meski tidak ingin mengakui, ia menyesal mengucapkannya.
Zhongli membisu, dan mata Childe meredup seiring itu. Ia baru berkedip ketika mendapati dua lengan pria itu terangkat, mendorong bahunya hati-hati.
Dipan itu kokoh, dan hanya kain pelapis tempat tidur yang bergemeresak manakala punggung Childe bersandar di sana. Ujung rambut panjang Zhongli jatuh menirai, tak terikat; menggelitik dada dan sisi pipi, wanginya sama seperti yang selalu terpatri di ingatan, dan ia hanya menunduk ketika pria tersebut ikut membaringkan diri di sampingnya, bersandar di dada. Tangan Zhongli menahannya, dari bangkit dan dari memprotes, separuh memeluk Childe di sisi pinggang.
"Kau berpikir seperti itu?" tandas si pria, suaranya seperti biasa, tak dicampuri emosi apa-apa. Ruangan temaram dan ketika Zhongli mendongak, matanya berpendar, emas cemerlang. "Untuk pergi dan tidak kembali lagi."
Pada masa-masa lain ia tidak pernah kesulitan mengalihkan pembicaraan. Di waktu-waktu lain ia tak pernah sekalipun gentar; ia hanya akan menjawab dengan pelukan dan ciuman, lantas tawa ringan ketika Zhongli membalas dan kemudian bersandar padanya, dan mereka akan saling menyentuh, dan helai kain terakhir di tubuh akan disingkirkan tanpa perlu disela keragu-raguan.
Akan tetapi Tartaglia tahu ia akan selalu kembali ke tempat ini pada penghujung misinya, dengan pakaian bebercak darah dan mata yang letih namun diperciki selintas kelegaan, sebetapapun ia berusaha melindungi hatinya dari serangan melankolia. Ia akan mengunjungi Rumah Duka Wangsheng tanpa mengumumkan kedatangan, mencari-cari alasan bodoh supaya Zhongli meninggalkan seluruh kesibukan hanya agar ia bisa mencuri sedikit perhatian dari pria tersebut, dan di malam hari ia akan mendaki anak tangga ke lantai dua dengan langkah-langkah ringan yang tak sabar—seakan sepanjang apapun hari dan musim yang dilaluinya sendirian, labirin gelap itu akan tuntas di sini, di antara curahan cahaya lampu minyak dan aroma dupa yang halus menyergap hidung.
Zhongli membisu, menatapnya lurus dan menunggu jawaban, dan kali ini lidah Childe berubah kelu. Tangannya tak lagi menangkup jemari pria satunya, ganti menautkan jari-jari mereka satu demi satu.
"Tapi sekarang aku berada di sini, bukan?" Ia bergumam, menegakkan punggung sedikit. Tangannya menarik tautan jari mereka, membawa Zhongli lebih dekat, dan keduanya tertawa kecil ketika telapak Zhongli menggerapai ke sisi-sisi lengan Childe, membuat pria tersebut berakhir terduduk di pangkuannya.
Zhongli hangat, dan pakaian tidur si pria masih tersingkap melewati garis pundak, dan Childe menatap tanpa mampu berpaling.
"Aku..." matanya terpejam ketika dua lengan Zhongli menjangkaunya, menangkup kedua pipi si pemuda. Rasanya hangat, wajahnya membara cuma karena jari-jari kokoh itu kini mengusap pelan setiap inci kulit wajah, merapikan rambut yang berantakan dan utas-utas yang jatuh kusut di dahi, menjamah warna gelap di pelupuk matanya, dan Childe—Ajax mendesah, separuh bersandar ke telapak lelaki satunya. "...selalu kembali ke tempat ini. Asal kau tahu, xiansheng, aku tidak pernah menyentuh orang lain lagi selain dirimu."
Zhongli tak berkedip mendengarnya. "Apa pernah ada perjanjian seperti itu di antara kita?"
Rex Lapis bedebah.
Tapi bukan kejengkelan yang sekarang merambat di sekujur tubuhnya; darah di balik kulit wajah si pemuda mendidih, malu dan rikuh mendatanginya tanpa sebab, begitu tanpa peringatan hingga ia mesti memalingkan tatap dari sepasang mata keemasan yang sekarang memandanginya geli. Tapi apa yang bisa diucapkannya untuk membantah—untuk menyergah, meralat, menyemburkan satu kenyataan mutlak, bahwa sebetapapun mereka bertingkah seperti sepasang kekasih sekarang, tak ada yang dapat menjamin seperti apa pilihan dan keputusannya ketika hari atau bahkan jam telah berganti nanti?
Alih-alih Childe membisu; alih-alih, keegoisannya yang ia biarkan terbebas. Dua tangannya terulur, menyentuh pinggang Zhongli hati-hati, ia menunduk dan membiarkan dahi mereka bertemu.
"Aku yang tidak ingin ada orang lain yang menyentuhmu seperti ini," bisiknya lirih, seolah sebersamaan itu ia meraup selubung tebal yang selama ini melindungi hatinya, lantas menghempaskannya sekuat tenaga, sejauh yang dibisa. Keputusan bodoh, tak seharusnya terjadi—tetapi Zhongli hangat dalam pelukannya, dan napas pria itu menyatu dengan hembus napasnya, dan jejak sentuhan jemari Zhongli meninggalkan panas yang tak hilang di pipi, dahi dan tulang rahang, dan seketika itu ia merasa apapun pilihan hidupnya, semua mungkin akan baik-baik saja.
Kebimbangan itu menggariskan kernyit di antara dua alisnya, mewujud jadi sebongkah batu yang menghalangi jalan napas di tenggorokan—dan Zhongli yang pertama kali menjauh untuk merentang jarak. Tanpa kata-kata, jari si pria terasa menekan lembut gurat-gurat emosi di kening Childe, seolah hendak mengenyahkan setiap kemelut di baliknya. Setiap keraguan dan lubang hitam dan tangan-tangan dari kegelapan yang tak pernah benar-benar menghilang.
"Begitupun aku," tutur pria di pelukannya. Dan meski mata Childe kini terpejam, tatapan Zhongli terasa begitu jujur, mengungkapkan kerentanan yang baru sekarang bisa ia pahami. Pria itu seputus-asa dirinya.
Childe tak bicara lagi setelahnya. Ia cuma mendongak, meraup wajah Zhongli dan membawanya ke dalam ciuman perlahan—lidah yang membentur, bibir yang menyesap, yang lambat laun kehabisan napas namun enggan berhenti, dan luka di perutnya menjeritkan nyeri yang sesungguhnya tidak tertahankan. Namun pemuda itu berpegang seerat yang dibisa, tangan turun dan menekankan pinggang lelaki satunya pada tubuhnya, selapis tipis pakaian tidur si pria berkerut-kerut karena cengkeraman tangan yang tak sedetik pun mengendur.
Pijar lampu minyak di sudut ruangan meredup dan berkelip, keras kepala bertahan.
