Perpustakaan, seharusnya, adalah tempat yang tenang untuk menuntut ilmu dari kumpulan buku di sana. Volume suara bisikan dari beberapa orang di sekitar Matsuno Chifuyu membuat dirinya tidak dapat fokus. Sepasang mata langit siang sesekali memerhatikan pemuda berkacamata tebal di hadapannya yang sedang kesusahan menulis rencana penelitiannya. Tidak ada yang menegur para mahasiswi yang sedang menggosip, bahkan Chifuyu diam-diam juga menyimak pembicaraan mereka.
"Kau dengar berita pagi ini? Seisi keluarga Shiba tewas karena makhluk itu."
"Aku mendengarnya! Pantas saja Yuzuha-chan tidak membalas pesanku! Bagaimana perasaan Mitsuya-kun sebagai pacarnya ya?"
"Tidak tahu. Tunggu dulu, bukannya Mitsuya-kun dekat dengan Hakkai-kun?"
Salah satu dari mereka meluruskan topik. "Hei itu tidak penting. Mitsuya -kun juga tidak masuk hari ini. Inti dari cerita ini, sekuat apapun keluarga Shiba, mereka dikalahkan oleh vampir."
"A-aku jadi takut. Ayo kita selesaikan tugas nya lebih cepat biar kita tidak pulang terlalu malam."
Perpustakaan kembali hening. Sepertinya semua penghuni perpustakaan saat ini juga takut dalam diam dan fokus ke pekerjaan mereka masing-masing. Namun berbeda dengan Chifuyu yang terlena dengan pikirannya sendiri.
"Urghh! Chifuyu, kau yakin kalau judul ini akan diterima?" Suara pria yang duduk di hadapannya berhasil menyadarkan dirinya. Berusaha terlihat fokus, Chifuyu langsung membaca kertas di depannya. Tidak lama kemudian, ia membalas pertanyaan senior nya yang kebetulan mengulang satu tahun sehingga mereka bertemu di tugas akhir.
"Data yang diambil sepertinya mudah untuk diolah, Baji-san. Tenang saja, judul seperti ini hampir sama dengan topik ku. Aku akan membantu mu sebisa mungkin."
Hela napas berat keluar dari Baji Keisuke. Kacamata tebal dan ikat rambut dilepas bersamaan, lalu memijat batang hidungnya yang lelah karena kacamata terlalu lama diam di atasnya. Sepasang mata oranye memberikan tatapan menusuk ke arah Chifuyu. Tidak lupa dengan ekspresi menggerutu yang sudah menjadi ciri khas nya.
"Kau terlalu menempel dengan ku, Chifuyu."
Senyum gigi lebar andalan Chifuyu terpampang sehingga Keisuke harus menyipitkan mata nya karena terlalu terang bagi nya. "Kalau aku tidak ada, mungkin Baji-san akan menjadi mahasiswa abadi di sini."
Suara erangan terdengar, ucapan Chifuyu terlalu tepat. Ia terkekeh melihat Keisuke yang tidak punya pilihan lain.
"Chifuyu," Suara seseorang yang hanya dapat didengar oleh Chifuyu, berasal dari anting perak nya yang menggantung di telinga nya. Salah satu perangkat canggih yang hanya dimiliki oleh para petugas pemburu vampir seperti dirinya. Ketika suara pria itu memanggilnya, berarti rencana mereka akan dimulai satu jam lagi.
Chifuyu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore. Sesekali melirik Keisuke yang sedang membaringkan kepala nya di atas meja, beristirahat sejenak setelah menggunakan otaknya terlalu lama.
"Aku tahu Baji-kun adalah orang yang berharga bagi mu, bagi kita semua. Tapi tugas kita tetap nomor satu, Chifuyu."
Chifuyu tidak menanggapi suara pria itu. Kenyataan menamparnya dengan kuat, namun dirinya enggan membuka akalnya dan bersikap denial. Tidak mungkin, seorang Baji Keisuke yang saat ini sedang mabuk buku, adalah makhluk penghisap darah yang sudah membunuh belasan orang di kota nya. Jejak merekam semua bukti nya.
Ditambah ada jejak baru dari TKP pembunuhan keluarga Shiba barusan yang menjadi bukti akhirnya. Dengan bercak darah yang dapat dideteksi melalui tes DNA, Baji Keisuke adalah nama yang menjadi hasil dari uji lab kepolisian. Chifuyu sudah menahan para polisi agar mereka tidak menangkap Keisuke dengan bukti yang lemah seperti mengandalkan ciri-ciri dari fisiknya. Akan tetapi, tes DNA menghancurkan usaha Chifuyu secepat kedipan mata.
Keisuke tidak pernah mengetahui bahwa Chifuyu adalah salah satu anggota pemburu vampir yang sedang menyamar menjadi anak laki-laki normal yang menjadi berandalan kecil, ikut geng motor, dan sekolah. Manipulasi yang diciptakan oleh kedua orang tua yang sudah memberikan tugas berat kepada nya. Tidak ada yang tahu jika keluarga Matsuno selalu membahas rencana pemburuan di tiap makan malam mereka, terkecuali Hanagaki Takemichi yang bersuara di antingnya dan Mitsuya Takashi dari anggota geng motor yang sama dengan Keisuke dan dirinya.
"Baji-san," sebuah tangan mengelus surai malam milik Keisuke dengan lembut. Hawa dingin dari makhluk penghisap darah mengenai permukaan kulit Chifuyu. Dulu ia hanya bersikap denial bahwa tubuh dingin itu adalah angin malam yang menusuk di tengah perjalanan mereka pulang. Rengkuhan dari belakang yang semakin erat waktu itu, dengan suara motor yang mereka kendarai, berusaha menghilangkan pikiran buruk mengarah kematian kedua orang tua Chifuyu tewas akibat keluarga Keisuke yang tinggal di apartemen yang sama dengannya.
Pikiran buruk itu pun kandas ketika dirinya mengingat kedua orang tua Keisuke yang mengurusnya setelah kejadian tersebut, sampai mereka tewas akibat kecelakaan lalu lintas yang menimpa.
"Hmm?" Keisuke menyahut nya dengan gumaman. Kehangatan jemari Chifuyu menenangkan kepala nya yang sakit. Bahkan pria itu menarik pergelangan tangan yang lebih kecil darinya agar Chifuyu tidak berhenti untuk mengelusnya.
"Ayo pulang sebelum kita diserang oleh vampir."
Keisuke mengangkat kepala nya, memasang ekspresi mengejek ke arah Chifuyu. "Kau masih percaya dengan makhluk seperti itu, Chifuyu?"
"Hakkai dan kedua kakaknya mati karena mereka." Mati karena perbuatanmu, lanjut Chifuyu dalam hati.
Baji terdiam sejenak, masih memegang pergelangan Chifuyu namun semakin erat. Pemuda bersurai gelap pendek itu menelan ludahnya sendiri. Tatapan yang seolah menguliti dirinya, Chifuyu takut bila Keisuke dapat membaca pikirannya.
Takemichi, sepertinya aku akan menyusul Hakkai pergi ke alam lain.
Karena sampai detik ini pun, dirinya tidak dapat menyakiti pria yang ia cintai semenjak Baji Keisuke menyelamatkannya dari kerumunan kakak kelas yang ingin menghajarnya.
"Baji-san, sakit." Sebuah dusta telah ia lontarkan ke pria itu. Cengkraman tangan Keisuke memang kuat namun tidak terasa untuk dirinya yang terlatih dengan militer dan terbiasa berkelahi pada zaman remaja yang tidak stabil. Ia sudah kehabisan kata-kata agar Keisuke tidak mencurigai nya.
Karena terlalu fokus dengan cengkraman di pergelangan tangannya, Chifuyu baru menyadari bahwa jemari panjang milik Keisuke memainkan anting kiri nya. Dinginnya kulit Keisuke yang menyapa daun telinga tidak membantu Chifuyu yang sedang panik dalam diam.
"Anting baru?" Tanya Keisuke sembari memainkan anting silver milik Chifuyu.
"Eh?" Chifuyu berusaha menjawabnya dengan tenang. "Aku hanya bosan dengan anting lama ku."
"Hee begitu." Tidak lama kemudian, Keisuke melepaskan genggaman nya. Pria besar itu beranjak dari tempat duduknya lalu membereskan buku yang ia pinjam dari perpustakaan dan memasukkannya ke dalam ransel nya. Sepasang biru muda memerhatikan Keisuke dengan bisu. Mulutnya masih tertutup rapat ketika mereka melangkah keluar dari perpustakaan.
Sembari berjalan menuju tempat parkir kendaraan dua roda, pikiran Chifuyu berjalan untuk mengingat rencana yang dibuat oleh Takemichi dan dirinya. Melawannya secara langsung adalah rencana yang paling dihindari oleh mereka, terutama kekuatan Baji Keisuke yang tidak dapat dideteksi. Kaum vampir memiliki kekuatan di atas kemampuan manusia. Rekaman masa remaja mereka ketika melihat seorang Keisuke mampu melawan 50 orang dalam keadaan luka tusukan yang dalam terlintas di pikiran mereka. Tidak menutup kemungkinan bahwa Keisuke menurunkan level kekuatannya untuk menyetarakan dirinya dengan manusia.
'Klik'
Suara kunci helm membuat Chifuyu sadar dari lamunannya. Keisuke membantu sahabatnya yang terlena dalam pikirannya untuk mengenakan helm. Dibalik sifat dan ucapannya yang kasar, Baji Keisuke yang ia kenal selalu lembut kepada nya. Mengesampingkan fakta bahwa pria tersebut pernah membuatnya babak belur di markas geng Valhalla, Keisuke selalu menenangkan dirinya ketika mimpi buruk menerkam nya di tengah malam. Rengkuhan sederhana yang menjadi bahasa afeksi membuat Chifuyu kembali jatuh hati kepada pria di depannya.
Satu cerita yang membuat Takemichi mengerti bahwa Chifuyu tidak akan mampu untuk melukai Keisuke. Tetapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Pikiran rasional harus ditaruh di bangku utama serta mengesampingkan hati nurani.
Chifuyu membiarkan Keisuke mengunci helm miliknya, menikmati afeksi yang kemungkinan ini adalah afeksi terakhir dari cinta pertama nya.
Tak ada satupun yang ingin membuka pembicaraan di tengah perjalanan pulang mereka. Banyak suara kendaraan serta klakson saling sahut-sahutan yang berjalan di atas aspal yang sama dengan motor mereka menutupi kesunyian mereka. Perlahan, Chifuyu merengkuh tubuh di depannya. Pria yang sadar bahwa ada dua tangan yang melingkari pinggangnya membalas dengan elusan singkat ke punggung tangan itu. Chifuyu mengeratkan pelukannya, berharap tubuh Keisuke menghangat seperti manusia lainnya. Ia menunggu hingga sampai di apartemen mereka, Tuhan tidak mengabulkan permohonan Chifuyu.
Malam mulai menyelimuti Tokyo. Ruangan apartemen mereka pun gelap karena penghuni nya baru saja sampai. Keisuke segera menyalakan lampu dan Chifuyu langsung menuju ke dapur, menyiapkan teh untuk mereka berdua. Sebelum Keisuke menyusul nya, Chifuyu membuka bungkusan obat tidur dari saku nya dan menaruh di salah satu gelas milik mereka.
Kelemahan terbesar vampir yang ia pelajari sejak kecil bersama orang tua nya adalah mereka tidak mampu mencium bau makanan selain darah manusia maupun hewan. Seketika dirinya ingat bahwa Keisuke pernah memakan daging ayam yang masih mentah dengan lahap dengan alasan bahwa Chifuyu sudah berusaha untuk membuatkannya bekal. Kebohongan yang manis namun perih ketika terkena luka masa lalu nya tentang kedua orang tua yang meninggalkannya di usia yang muda.
"Takemichi," Chifuyu mencoba untuk memanggil rekannya melalui anting yang sudah diberi chip untuk berkomunikasi. Suara pria yang ia tunggu tak kunjung muncul. "Oi, Takemichi." Kedua kali ia memanggil nama tersebut namun tidak ada jawaban dari anting nya. Seketika kilasan memori di perpustakaan menempel di pikirannya. Teringat bahwa ada tangan yang memainkan anting nya sebelum pulang ke kediamannya.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Bulu tengkuk nya meremang, menandakan bahwa dirinya mulai cemas. Bodohnya Chifuyu yang tidak menyadari bahwa Keisuke yang merusak chip komunikasi di antingnya dengan mudah. Chifuyu tak habis akal terhadap cara Keisuke menggagalkan misi penangkapannya.
Suara langkah kaki terdengar mencekam, padahal mendengar suara ketukan kaki dan lantai dari Keisuke adalah makanan sehari-hari nya di apartemen. Sepasang mata biru menangkap eksistansi pisau dapur di sampingnya. Tangan pun bergerak untuk mengambilnya, melawan gemetar yang mengganggu nya.
Sosok Keisuke pun muncul di ruang tengah, lalu pandangannya menuju ke arah Chifuyu yang sudah memantau nya dari awal. Sosok pria yang lebih kecil berusaha untuk memasang ekspresi tenang seperti biasa. Kemampuan bersandiwara memang bukan keahliannya jika ia harus berhadapan dengan Keisuke. Layaknya buku terbuka, Keisuke mengetahui Chifuyu sepenuhnya. Begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, tidak ada yang ingin jujur terhadap satu sama lain sampai sekarang.
"Chifuyu,
"Aku baru tahu kalau membuat teh harus menggunakan pisau."
Chifuyu pun langsung melemparkan pisau ke arah pria itu.
Keisuke sukses menghindar pisau yang dilempar dengan dua jari menangkap mata pisau nya. Ujung pisau berhasil menyentuk pipi kanannya, terlihat luka goresan yang mengeluarkan darah segar setelah ia menangkap pisau tersebut. Keisuke menyeringai seakan-akan memuji kelincahan mantan wakil kapten divisi satu dari geng motor nya dulu. Namun Chifuyu menangkapnya sebagai ancaman bagi nya.
Karena ia tahu, jika Baji Keisuke menemukan orang yang kuat, ia tidak akan segan-segan untuk menyambutnya.
Lampu tiba-tiba padam dan hanya menyisakan cahaya rembulan yang membantu untuk menerangi ruangan. Berkat itu, Chifuyu langsung mengambil pisau lainnya dan lari ke arah Keisuke. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan mampu untuk membunuh pria yang ia sayang. Namun luka kecil agar mobilitas Keisuke menjadi terbatas akan menyelamatkan mereka berdua dari adegan saling membunuh.
Chifuyu memang cepat, tetapi Baji Keisuke lebih lincah dibandingkan dirinya.
Keisuke berhasil menangkis serangan Chifuyu lalu ia gunakan untuk menendang perut Chifuyu dengan kuat. Suara batuk terdengar keras dan menggema di ruangan, cairan merah bercampur saliva keluar dari mulut Chifuyu. Keisuke yang tadi nya memasang ekspresi santai kini berubah menjadi panik. Pria besar itu langsung menghampiri tubuh Chifuyu yang tergeletak di atas lantai. Karena Chifuyu masih dalam keadaan sadar, Keisuke menindih badan pria itu. Tidak lupa kedua pergelangan tangan Chifuyu ditahan dengan satu tangannya dan diletakkan di atas kepala nya.
Cahaya rembulan menghiasi dua insan di sana, pantulan dua biru muda dan dua emas bertemu di malam yang sunyi. Chifuyu berusaha untuk tidak memberontak. Jika ia melakukannya, Baji akan senang hati menghajar nya seperti kejadian di markas Valhalla waktu itu.
Ia tidak takut dengan hal tersebut. Bahkan dirinya pantas untuk menerima pukulan dari Keisuke karena sudah bersandiwara terhadapnya. Akan tetapi, bulan purnama adalah puncak para penghisap darah untuk memburu mangsa mereka. Chifuyu tidak ingin ada vampir lain yang datang ke sini dan membuat keributan di gedung apartemen.
"Sejak kapan?"
Pertanyaan Keisuke terdengar gantung, namun Chifuyu dapat mengartikannya. Akan tetapi ia masih menunggu agar Keisuke dapat bertanya kembali dengan kalimat pertanyaan yang jelas untuknya.
"Jangan sampai aku mengulangi pertanyaanku, Chifuyu." Genggaman tangan di kedua pergelangan tangannya semakin erat, lebih erat dibandingkan genggaman di perpustakaan tadi. Chifuyu mengakui bahwa genggaman Keisuke kali ini terasa sangat sakit. Pria itu hampir berteriak kesakitan karena nya.
"Aku sudah menjadi pemburu kalian sejak lahir dua orang tua yang bekerja di sana."
"Aku tidak bertanya itu, Chifuyu." Cengkraman semakin kuat, kini suara erangan dari Chifuyu lolos dari bibir nya. "Aku dan keluarga ku sudah tahu hal itu. Keluarga Matsuno adalah pemburu vampir yang menyamar menjadi keluarga biasa."
Keisuke melanjutkan ucapannya. "Aku hanya bertanya, sejak kapan kau menyadari tentang identitas asliku?"
Chifuyu masih mencerna ucapan dari Keisuke. Selama sandiwara yang ia lakukan bersama keluarga nya, sudah ketahuan oleh keluarga Baji. Keluarga Matsuno tidak ada yang mencurigai keluarga Baji sampai suatu hari sepasang Matsuno tewas akibat kehabisan darah. Amarah menyelimuti hati Chifuyu hingga ia mampu melepaskan cengkraman Keisuke dan memukul wajah pria yang menindihnya.
Keisuke memang kuat dan tidak mudah terpental karena pukulan tersebut. Tetapi suara pukulan itu sangat keras bahkan lehernya terasa ingin lepas. Keisuke sedikit menyesal karena telah mengajari nya bela diri di tiap aktivitas pagi mereka.
"Sebelum itu, aku bertanya kepada kau, Baji Keisuke." Chifuyu adalah anak yang penuh sopan santun jika berhadapan dengan Keisuke. Bahasa kasar Chifuyu saat ini mengingatkan dirinya kepada sosok congkak Matsuno Chifuyu di umur tiga belas nya.
"Kenapa kalian membunuh kedua orang tua ku?"
Keisuke mengerutkan dahi nya. "Apa maksud-"
"Ayah dan Ibu mati karena kehabisan darah. Terdapat bekas gigitan di leher mereka. Tidak ada makhluk vampir di gedung apartemen kecuali keluarga Baji."
"Chifuyu, tunggu-"
"KAU JUGA MEMBUNUH KELUARGA SHIBA! MEREKA ITU TEMAN KITA, BAJI SIALAN!"
'Pranggg!'
Suara pintu kaca yang pecah berhasil menghentikan amukan Chifuyu. Dua orang memasuki apartemen mereka dengan cara yang tidak sopan. Lampu bulan tidak mampu menyinari kedua sosok itu dengan baik. Tetapi, suara dari mereka membuat Chifuyu tahu sosok tersebut. Terkecuali Keisuke yang sudah menyadari nya lebih awal.
"Hoi, Baji-kun. Kenapa kau tidak bilang kalau kau ingin membuka makan malam berharga mu di malam ini?"
"Cih, aku tahu bau Chifuyu memang kuat. Tapi tak kusangka hanya sedikit batuk darah dapat memancing kalian." Gerutu Keisuke seraya beranjak dari tempatnya, berdiri menghadap ke kedua sosok itu yang menyeringai ke arahnya.
"Lama tak berjumpa, Hanma-kun, dan juga Sanzu."
Chifuyu juga sudah lama tidak melihat mereka setelah kejadian Blood Halloween yang menewaskan seorang Hanemiya Kazutora. Tidak disangka bahwa mereka akan bertemu di saat seperti ini. Ditambah Chifuyu yang baru mengetahui bahwa mereka adalah makhluk yang sama seperti Keisuke. Kekuatan berkelahi mereka yang di atas rata-rata sudah terjawab sekarang.
Chifuyu mengatai dirinya bodoh berkali-kali dalam diam. Selama ini, ia dikelilingi oleh makhluk yang ia buru bersama kedua orang tua nya.
"Chifuyu bukan makan malam ku."
Keisuke melanjutkan bicara nya. Di saat itu juga, Chifuyu berusaha berdiri dan menegakkan badannya. Ia siap untuk melawan mereka walaupun rasa sakit di perutnya masih terasa perih. Salah satu lengan Keisuke menghalangi dirinya. Tatapan tajam diarahkan ke Chifuyu, memberi isyarat untuk tidak ikut campur dalam urusan antar vampir.
Dirinya yang keras kepala tidak menuruti perintah Keisuke. Chifuyu tetap berdiri dan mengeratkan pisau yang ia pegang. Sebenarnya ia ingin membawa pistol namun karena beberapa kondisi seperti penangkapan seorang Baji Keisuke di tengah pemukiman warga, suara peluru yang keras adalah solusi yang buruk.
"Oh, baguslah kalau begitu. Serahkan anak itu sekarang juga. Mikey akan sangat senang jika dia itu berada di atas meja makannya."
Mikey? Sano Manjiro sang pemimpin Touman?
Tidak sempat berpikir lebih lama, sosok Sanzu sudah berada di hadapannya. Pria yang kini memiliki surai merah muda itu langsung menendang tubuh Chifuyu dan menahannya di ujung ruangan. Chifuyu kembali terbatuk, tapi ia masih dalam keadaan sadar. Pisau yang ia pegang langsung ia arahkan ke Sanzu. Akan tetapi, Sanzu dapat menahan tangan Chifuyu dan suara patah tulang terdengar keras.
Chifuyu berteriak kesakitan. Keisuke yang mendengarnya langsung menghajar Hanma. "Sial! Kenapa kalian melakukannya?!" Satu genggaman tangan diarahkan ke Hanma namun ditangkis dengan mudah.
Pria berkacamata lingkaran itu hanya terkekeh. "Kau tidak tega dengan Sanzu yang sudah menahan laparnya selama tiga hari?" Salah satu jari nya menunjuk ke arah Chifuyu yang sudah tidak berdaya di tangan Sanzu. "Hora, Sanzu sudah mulai mencicipi nya."
Kini beralih ke Sanzu yang sedang menikmati mangsa nya yang tersiksa. Saliva bercampur darah mengalir dari sudut bibir Chifuyu. Sanzu yang tergoda akan pemandangan di depannya langsung mencicipi cairan itu sekilas. Ujung lidah nya sengaja tersetuh dengan bibir bawah Chifuyu. Tidak kusangka ia memiliki bibir yang lembut.
"Aku heran kenapa Baji dapat menahan nafsu nya ketika ia bersama mu." Ucapnya seraya memainkan bibir bawah Chifuyu dengan ibu jari nya. Wajahnya kini mengarah ke ceruk leher Chifuyu dan menempelkan ciuman lembut di atas kulitnya. Layaknya tersengat listrik, Chifuyu merinding karena sentuhannya. Namun hal tersebut tidak menjelaskan kenapa wajahnya memerah setelah Sanzu mencium lehernya.
"Satu fakta yang tidak diketahui manusia." Sanzu berbisik di dekat daun telinga Chifuyu, terkekeh ketika Chifuyu menggeliat di dalam kurungannya. "Sebelum vampir memakan mangsa nya, mereka akan memberi sentuhan agar manusia terlena dan hanya bergantung kepada mereka. Mungkin sebagai ucapan terima kasih dari vampir. Kurang dermawan kah kami terhadap kalian?
"Jadi, Matsuno Chifuyu,
Tahan saja. Akan kubuat enak habis ini."
Taring tajam menusuk leher Chifuyu. Setelah itu, kesadarannya hilang dan tidak dapat mengingat kejadian selanjutnya, setelah ia mendengar teriakan dari Keisuke.
.
.
.
.
.
Cahaya mentari mengganggu waktu istirahat Chifuyu. Perlahan, ia membuka kedua kelopak matanya dan langsung menghadap langit dinding yang asing baginya. Ia menyadari bahwa tempat ini bukanlah apartemennya. Chifuyu langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia hanya dapat duduk di atas tempat tidur, pandangan kembali kabur. Hal yang wajar ketika seseorang kekurangan darah seperti dirinya.
Teringat dengan kejadian kemarin malam, dirinya mencoba untuk memegang lehernya. Ada plester yang menutupi luka gigitan, tapi ada rasa sakit yang menjalar hingga ke bahu nya. Wajahnya memerah ketika ia mengingat kecupan dari Sanzu sebelum dirinya tidak berdaya di tangannya. Memalukan baginya yang mudah dikalahkan oleh makhluk vampir. Belajar bertarung yang hanya berdasarkan simulasi dan tidak pernah bertemu mereka di lapangan merupakan bekal yang minim bagi seorang pemburu vampir seperti dirinya.
Indra peciumannya menangkap bau tubuh yang familiar. Jaket warna hitam milik Keisuke menyelimuti tubuhnya. Tercium sedikit bau amis darah namun Chifuyu tidak mempedulikannya. Aroma tubuh yang selalu ia nikmati di tengah perjalanannya ke bunga tidur yang indah, mengusir mimpi buruk yang memburu nya.
"Oh, sudah bangun?" Suara familiar terdengar dari ambang pintu kamar. Bukan suara Keisuke yang ia harapkan. Melainkan sosok pria dengan kemeja putih yang besar, hanya menutupi pakaian dalam nya dan kaki mulus yang tersinar oleh mentari. Begitu pula dengan wajah bak malaikat yang tersenyum lega ke arahnya. Luka bakar pun tak mampu untuk menutup kecantikan dari pria yang sedang berdiri di sana, membawa air minum dan obat untuknya.
Oh, sudah lama ia tidak bertemu dengan pria itu. Hanya kabar pesan dan internet yang memberitahu keadaan teman-teman lamanya. Tokyo yang luas tidak dapat dikunjungi di tiap sudut jika waktu Chifuyu yang selalu padat.
"Inui Seishu- Inupi? Kenapa aku di sini?" Tanya Chifuyu dengan suara serak lelahnya. Pria itu menghampiri nya dan memberikannya air minum sekaligus obatnya. Chifuyu langsung menerima nya, meminum obat tersebut dan berharap agar pandangannya kembali cerah.
"Seharusnya aku bertanya itu kepada mu." Balasnya sembari mengarahkan tangannya ke wajah Chifuyu. "Buka mulutmu, Chifuyu."
Chifuyu bingung namun ia menuruti permintaan Seishu. Jemari lentik menyentuh salah satu taring miliknya. Gumaman Seishu menjadi final dan tangannya pergi dari wajah Chifuyu. "Ada apa?"
Seishu menggeleng dan menjawab. "Aku hanya memastikan apakah kau berubah menjadi bagian dari diri kami atau tidak."
Oh, kau juga rupanya.
"Kau tidak terkejut?" Tanya Seishu heran.
"Aku terkejut, kok." Jawab Chifuyu seadanya. Hela napas Seishu terdengar sebelum menanggapi ucapan Chifuyu. "Kau tidak terlihat terkejut bagiku."
Seishu menuju lemari baju yang terletak di samping kasur, mengambil beberapa pakaian dan handuk baru untuk pria yang sedang terduduk lemah di kamarnya. Setelah itu, pakaian itu ia taruh di atas pangkuan Chifuyu. Ia pun menepuk pundak Chifuyu dan berkata. "Sosok tenang dan dapat diandalkan, siapa lagi kalau bukan mantan wakil kapten divisi satu Touman sekaligus tangan kanan Baji Keisuke bernama Matsuno Chifuyu."
Pujian yang terlalu tinggi menurut Chifuyu. Ia merasa dirinya hanya menjalankan tugas sebagai wakil kapten sekaligus sekutu yang siap untuk menolong teman-temannya, terutama kepada Keisuke yang telah menolongnya. Rasa tersanjung pasti ada setelah mendengar ucapan tersebut.
Pria bersurai pirang melanjutkan ucapannya sebelum ia pergi meninggalkan Chifuyu. "Kamar mandi bisa kau gunakan untuk membersihkan tubuhmu. Siap-siap, kau akan bertemu Baji yang suasana hatinya memburuk karena kau. Sekarang ia sedang adu mulut dan tinju dengan Draken di ruang tamu."
Chifuyu bergegas pergi ke kamar mandi agar ia dapat menghentikan Keisuke sebelum merusak bengkel milik Ken dan Seishu. Sekaligus permintaan maaf yang belum ia ucapkan kepada pria itu.
Membersihkan badan tidak memerlukan waktu lama, seharusnya. Namun rasa kaku dan bekas gigitan yang memilukan berhasil menghambat kegiatan Chifuyu. Bahkan mengenakan kaos milik Seishu yang sedikit kebesaran harus mengeluarkan suara rintihan darinya. Setelah itu, ia bergegas ke lantai bawah, dimana ruang tamu sekaligus bengkel milik Ryuguji Ken terletak di sana. Beruntung rumah Ken hanya memiliki dua lantai sehingga Chifuyu tidak perlu memakan waktu lebih lama untuk mengunjungi mereka.
Bengkel terlihat sepi, tidak seperti status di internet milik Seishu yang selalu menampilkan jika bengkel mereka sangat diminati masyarakat sekitar. Pandangannya menuju ke arah pintu garasi yang tertutup rapat, menandakan bahwa bengkel mereka sedang tutup. Padahal tidak ada kata libur untuk bengkel motor seperti mereka.
Langkah kaki nya kini bergerak menuju ruangan lainnya, dimana di sana adalah ruang tamu milik Ken. Ia sudah berada di ambang pintu, langsung dipertemukan oleh tiga pria dengan suasana yang muram. Terutama pria bersurai panjang diikat yang kemarin mengamuk setelah Sanzu menghisap darahnya.
Tiga pria baru saja menyadari kehadiran Chifuyu. Keisuke menatap pria itu dengan raut wajah kesal. Ia langsung berlari ke arah nya dan melayangkan satu pukulan keras ke wajahnya. Rasa ngilu di lehernya semakin terasa, Chifuyu tidak dapat bergerak dan terbaring di atas lantai dingin milik Ken. Badannya kini ditindih kembali oleh Keisuke, sekilas teringat kejadian kemarin malam yang menimpa nya.
Belum sempat pukulan dua datang, Ken sudah menahan Keisuke. "Apa yang kau lakukan, Baji bodoh?! Chifuyu baru saja siuman!" Lalu Ken berteriak ke arah Seishu. "Inupi! Bantu aku menahan si dungu besar ini!"
"Kalian refleksnya terlalu cepat, sialan! Kalian vampir jenis apa sih, hah?!" Bentak Seishu seraya berlari ke arah mereka. Ia pun membantu Ken untuk menarik Keisuke dari tubuh Chifuyu. Pemberontakan Baji membuat mereka kewalahan, kekuatan Baji yang hampir setara dengan mantan pemimpin geng Touman memang tidak dapat dibuat bahan canda.
"Chifuyu," Suara geraman terselip di nama yang ia panggil. Yang dipanggil bersusah payah untuk berdiri lagi dan bersiap untuk menjawab pertanyaan dari Keisuke. Seishu ingin membantu nya berdiri, namun tubuhnya saja hampir tidak mampu menahan Keisuke yang sedang mengamuk. Melihat wajah Ken yang penuh luka adalah jawaban untuknya agar tidak macam-macam dengan Keisuke.
"Sejak kapan kau mencurigai ku?"
Chifuyu langsung menjawabnya. "Semenjak Ayah dan Ibu meninggal dunia."
"Kenapa kau tidak membunuhku dari awal?"
"Aku tidak punya bukti yang kuat, begitu juga kepolisian."
Suara geraman kembali terdengar. "Lalu kau masih mempercayaiku sepenuhnya? Setelah aku menghajarmu di Valhalla dan membunuh kedua orang tua mu?"
Chifuyu menundukkan kepala nya, enggan melihat wajah Keisuke lebih lama. "Setelah kejadian kemarin, aku tidak tahu harus menjawab seperti apa."
Hela napas frustasi keluar dari mulut Keisuke. Ken dan Seishu yang mengerti bahwa Keisuke sudah berkepala dingin langsung melepaskannya. Mereka membiarkan pria itu mendekati Chifuyu yang masih tertunduk. Jari telunjuk ia gunakan untuk mengangkat dagu agar Chifuyu dapat langsung menatapnya. Chifuyu hanya menuruti dan menatap ke arah Keisuke dengan tatapan kecewa.
"Kenapa Baji-san tidak memberitahu ku?" Butiran bening keluar dari pelupuk netra biru langit.
"Aku yakin kau tidak membunuh keluarga Shiba dan kedua orang tua ku. Tapi, tolong, jangan selalu membebani dirimu sendiri."
Keisuke dapat membaca Chifuyu layaknya buku terbuka, begitu pula sebaliknya. Sebelum terjadi nya bentrok antar Touman dan Valhalla, Keisuke terkejut ketika Chifuyu mengerti bahwa ia tidak ada niat untuk mengkhianati Touman. Ia benci itu, awalnya. Karena ia takut jika ia akan mengecewakan Chifuyu pada suatu hari nanti. Terlalu mempercayai nya adalah beban terberat bagi Keisuke.
Tetapi, sekarang ia bersyukur bahwa Chifuyu masih mempercayai nya.
"Chifuyu, pukul aku."
"…hah?"
Keisuke melepaskan jarinya dari dagu Chifuyu dan kembali bertitah. "Aku hitung dari angka sepuluh.."
Cuplikan memori kembali terulang. Merasa déjà vu, dan Chifuyu tidak menyukainya.
"Sembilan, delapan, tujuh, enam.." Keisuke mendekat sehingga tidak ada jarak di antara tubuh mereka. "Kenapa, kau masih tidak mampu untuk memukulku. Kemana seorang Matsuno Chifuyu yang kemarin malam berhasil melemparkan pisau dapur ke arah ku?" Chifuyu masih bungkam dan tidak mau membalas ejekan Keisuke.
"Lima, empat, tiga, dua, satu.." Chifuyu memejamkan matanya, bersiap untuk menerima pukulan sekali lagi. Hitungan mundur sudah habis, namun pukulan itu tak kunjung mampir ke wajahnya. Melainkan sebuah bibir yang mendarat di atas bibir miliknya, lumatan terasa sekilas. Bibir itu terasa dingin, namun Chifuyu menikmati nya. Ciuman pertama dalam seumur hidup ia dapatkan dari orang yang tepat untuknya.
"Kenapa?" Tentu saja Chifuyu masih bingung dengan tindakan Keisuke yang diluar dugaannya.
Hening sejenak, lalu Keisuke menjawab pertanyaannya. "Karena tinjuan yang selalu ku beri untukmu malah membuat dirimu semakin keras kepala."
Dua orang lain yang menyaksikan hanya membeku di tempat. Tak lama kemudian, suara tawa lolos dari mulut Ken. Disusul dengan Seishu yang terbahak-bahak melihat tingkah Keisuke yang tidak dapat ditebak.
"Oh, jadi ini cara dari seorang Baji Keisuke ketika menyatakan perasaan? Hahahaha."
"BERISIK DRAKEN!"
Chifuyu tidak sengaja ikut tertawa. Keisuke yang kesal melihatnya langsung mencubit pipi nya. Ia berpura-pura merintih kesakitan ke kekasihnya. Akhirnya semua terbayarkan. Sudah banyak tahun yang ia lewati dengan membawa perasaan terpendam ke Baji Keisuke, terbalas dengan satu kecupan ringan. Mengesampingkan pukulan menjadi pembuka awal di pagi hari. Chifuyu tidak keberatan.
Mereka kembali ke ruang tamu, Ken pun mengarahkan salaman ke arah Chifuyu.
"Ada apa ini, Draken-kun?" Tanya Chifuyu walaupun ia menerima sambutan tangan kekar Ken dengan senang hati.
"Selamat sudah mempunyai kekasih, dan menjadi bagian dari kami."
Tunggu…
Chifuyu terdiam dengan ekspresi bingung. Dua pasang mata lainnya tertuju ke arah pria yang masih mengenakan kemeja putih besarnya, menatap pria cantik itu dengan tuntutan. Seishu terkejut bahwa Chifuyu tidak sadar dengan keadaannya sendiri.
"Oh." Seishu mengeluarkan jari telunjuk yang terluka akibat dirinya menyentuh ujung gigi Chifuyu. "Apakah aku lupa bilang bahwa taringmu semakin tajam, Chifuyu?"
.
.
.
.
.
Tiga hari kemudian, di markas pemburu vampir di Tokyo. Kapten Mitsuya Takashi memeriksa laporan dari bawahannya tentang barang-barang yang mereka temukan di TKP pembunuhan keluarga Shiba dan apartemen Matsuno Chifuyu. Membandingkannya dengan seksama, dibantu oleh bawahannya bernama Hanagaki Takemichi sekaligus menjadi saksi sebelum rekannya hilang.
Kejadian ketika chip komunikasi milik Chifuyu rusak, Takemichi yang baru menyadarinya setelah satu jam mereka tidak bersuara. Kerusakan chip tersebut tidak terdeteksi. Hikmah dibalik kasus hilangnya Matsuno Chifuyu adalah mereka menemukan satu fakta tentang kekuatan penghisap darah yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Fakta tersebut menjawab pertanyaan di kasus keluarga Shiba dimana sebelum pembunuhan terjadi, terdapat gangguan alat komunikasi dan listrik di rumah mereka sehingga kamera pengintai di komplek rumah tidak dapat merekam kejadian dalam hati yang terdalam, Takemichi merasa sedih karena kehilangan rekan yang sudah bekerja selama lima tahun dengannya, ditambah ikatan persahabatan yang kuat terbentuk dari geng motor Touman.
"Ada apa, Takemichi?" Sang kapten bertanya dengan nada khawatir. "Khawatir tentang pernikahan mu dengan Hinata yang masih lama atau sahabat yang diculik oleh vampir?"
"A-eum. Ya, aku mengkhawatirkan kedua nya. Tetapi Chifuyu yang lebih pertama."
Salah satu tangan menepuk pelan pundak Takemichi. "Percaya lah dengan Chifuyu. Dia sangat kuat."
"Aku tidak meragukan kekuatan Chifuyu, Mitsuya-kun." Ucap Takemichi sembari membaca berkas-berkas di tangannya. Berbeda dengan berkas yang dipegang Takashi, tulisan di kertas tersebut adalah identitas dua mayat vampir yang tergeletak di apartemen Chifuyu. Dua orang yang mereka kenal di masa sekolah menengah atas. Rasa terkejut masih terasa walaupun tiga hari sudah terlewat. "Aku meragukan sikap loyalitas nya terhadap Baji-kun."
Hela napas berat keluar dari mulut pemuda bersurai ungu muda di sampingnya. "Kau benar. Tapi sifat loyalitasnya sangat berguna bagi kita."
Takemichi mengangguk setuju. Suasana markas hening kembali sampai suara ponsel milik Takashi berdering keras. Takemichi melirik ke arah Takashi yang tersenyum ketika melihat nama yang terpampang di layar ponsel pintar miliknya.
Dibandingkan dirinya, Mitsuya Takashi banyak diminati karena penampilan dan sifat nya. Dulu ia dekat dengan kakakknya Hakkai, sekarang ia dekat dengan Inui Seishu. Lebih tepatnya, Takashi dekat kembali dengan mantan anggota Black Dragon setelah keluarga Shiba pergi meninggalkan dunia.
Takemichi mengingat bahwa hari ini adalah hari sabtu, di mana para sepasang kekasih akan menggunakan waktu malamnya untuk berkencan. Seperti dirinya dan tunangannya.
"Kencan dengan Inupi-kun, Mitsuya-kun?"
Sebelum menangkat teleponnya, Takashi menjawab pertanyaan anak buahnya. "Malam minggu kami hanya biasa. Mengajak ke rumah, masak untuknya, nonton bersama Luna dan Mana.."
Kenapa kalimatnya menggantung?
Takashi keluar dari markas sembari mengangkat teleponnya.
"Halo, cantikku.."
"Sudah puas selingkuh nya, si zodiak kembar Takashi jelek?"
Takashi terkekeh mendengar nada cemburu dari telepon nya. "Aku sama Yuzuha tidak berhubungan. Kau tahu itu tugasku, bukan?"
"Aku jadi kepikiran kalau kau mengencani ku karena kau curiga dengan ku juga." Takashi kembali terkekeh namun ia tidak menanggapi ucapan Seishu.
Karena ucapan Seishu tepat kena sasaran. "Hari ini jadi, kan? Aku masak pasta kesukaan Luna dan Mana."
"Ya, seperti biasa."
"Hmm, seperti biasa. Ya." Takashi sengaja mengulang ucapan Seishu. Firasat buruk muncul tiba-tiba. Malam di bulan desember terasa panjang dan dingin, kencan pertama mereka di bulan musim dingin. Juga, bersamaan dengan kasus penghisap darah yang meningkat.
"Kalau kau sampai di bengkel, langsung masuk saja. Draken pasti memperbolehkan."
"Tumben?"
"Apanya? Kau saja yang tidak pernah masuk ke bengkel pas tutup." Seishu membuat jeda sebelum melanjutkan ucapannya. "Kalau kau ingin mengobrol dengan Draken di luar dan di musim dingin begini, aku tidak ingin bertanggung jawab kalau kau sakit."
"Oh, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Seishu. Malam ini mau berapa ronde?"
"APA MAKSUDMU-"
"Bercanda, sayang. Mungkin." Takashi memotong suara panik Seishu sembari menghitung batang pistor yang berisi peluru nya.
Hm, tiga batang. Berarti malam ini menjadi tiga ronde.
"Habis ini aku menuju ke sana. Jangan dandan terlalu cantik."
"Aku cowok, Takashi."
"Tahu kok. Dah." Takashi menutup telepon nya dan kembali masuk ke markas.
Terlihat Takemichi yang masih berkutat dengan berkas yang mereka pelajari. Dari raut wajahnya yang sungguh-sungguh dalam membaca kumpulan kertas di meja nya, Takashi dapat menilai bahwa malam minggu Takemichi bisa ia jajah sebelum Hinata mengajak tunangannya kencan. Ditambah segelas kopi yang diminum anak buahnya agar ia dapat lembur tanpa rasa kantuk yang mengganggu.
"Takemichi,"
"Hmm?"
"Mau nonton AV secara langsung?"
Ucapan Mitsuya Takashi sukses membuat Takemichi menyemburkan kopi buatannya. Selama lima tahun ia bekerja di kepolisian, Takashi adalah orang pertama yang mengajaknya untuk melakukan hal aneh seperti itu.
"Ayolah. Kau pasti penat setelah tiga hari bersarang di markas tanpa bertemu Hinata, bukan?"
Ya kalau begitu mending aku bertemu dengan Hinata dan bercinta sepanjang malam daripada nonton, batin Takemichi. Tapi karena ia mengingat bahwa Hinata juga sibuk dengan pekerjaannya, ia tidak dapat menemukan jalan melarikan diri dari atasannya.
"Genre nya apa, Mitsuya-kun?"
Mitsuya menyeringai ke arahnya. "Biting, Licking, Sucking, sedikit gore dan hardcore. Ayo, kita menonton di bengkel Draken."
To be continued..
