"Aku pulang." Matsuno Chifuyu, dengan tubuh yang ideal di umur tiga belas nya, rambut pirang yang ditata kuncung, mengucapkan dua patah kata salam dan memasuki apartemen kecilnya. Ia sedikit terkejut ketika indra penciumannya menangkap aroma kari yang familiar baginya. Sepasang mata biru nya melirik ke arah rak sepatu yang biasanya banyak ruang di waktu senja. Segera ia beranjak ke ruang tengah dan bertemu penghuni lainnya di sana.
Sosok bidadari (atau setan jika Chifuyu melakukan kesalahan) dengan surai legum yang terurai hingga menutupi punggungnya, masih menggunakan seragam polisi namun depannya ditutupi oleh celemek kuning, sedang mematikan kompor di depannya dan menyiapkan piring untuk makam malam mereka. Wanita itu tidak sendirian dan ditemani oleh sosok pria paruh baya dan mengenakan seragam yang sama dengannya. Segelas kecil berisi sake diminumnya dengan perlahan, Chifuyu dapat mengerti bahwa mereka baru saja selesai dari pekerjaan yang berat.
Tidak memakan waktu lama untuk menyadari keberadaan si tunggal Matsuno. Dua pasang mata tertuju ke wajah Chifuyu yang tidak karuan. Terdiam sejenak, bahkan mereka sempat menahan napas sembari menganalisa apakah ada cairan merah yang haram jika keluar dari tubuh anak mereka. Napas lega pun keluar dari mereka setelah tidak menemukan cairan tersebut.
Tapi mereka tetap tidak boleh lengah.
"Chifuyu, apa-apaan dengan wajahmu yang penuh luka itu?" Tanya sang Ibu dengan nada omel khas nya. Chifuyu harus menjawabnya dengan jujur dan tenang agar sendok sop di tangan wanita itu tidak melayang ke arahnya.
"Aku diserang oleh para pengecut."
"Tidak ada gigitan?" Kini sang Ayah yang gantian bertanya, masih dalam keadaan sadar walaupun sudah satu botol sake dihabiskan olehnya.
"Tenang saja. Mereka manusia." Jawab Chifuyu jujur. Dengan bekal teori yang dipelajari bersama kedua orang tua nya, ia tidak melihat ciri-ciri makhluk penghisap darah dari orang-orang yang menyerangnya.
"Ada luka terbuka? Darah? Astaga Chifuyu. Seharusnya kau berpura-pura menjadi anak teladan dibandingkan berandalan. Rambut model seperti itu aja tidak cocok untukmu!" Chifuyu sedikit kesal ketika sang Ibu mengkritik model rambutnya. Padahal model ini hasil dari diskusi sang Ayah dan dirinya yang memiliki selera yang sama. Tapi ia harus tetap menjawab karena sendok sup itu tak kunjung lepas dari tangan Ibu nya.
Sedikit ragu tapi ia ada jawaban lain yang dapat menenangkan mereka. "Ada. Sedikit."
Sebelum kedua orang tua nya panik dan mendekati nya, Ia langsung melanjutkan ucapannya. "Tenang saja. Aku sudah diobati oleh temanku."
"Teman atau orang yang kau paksa menjadi temanmu?"
"Ayah! Percaya lah denganku!" Gerutu Chifuyu karena tersinggung terhadap ucapan Ayah nya. "Nama nya Baji Keisuke, tinggal di apartemen yang sama dengan kita." Chifuyu mulai bersemangat untuk melanjutkan cerita nya.
"Dia sangat keren! Kukira dia hanyalah kutu butu yang bodoh, bahkan tidak dapat menulis kanji 'tora' dengan benar. Dia datang menolongku dan.."
'whuss.. whuss!'
Chifuyu memperagakan beberapa gerakan tinju nya ke udara dan loncatan kaki kecil seperti atlet yang terlatih. Dua orang lainnya menyimak cerita Chifuyu dalam hening.
"Dengan senyum lebarnya, dan memperkenalkan dirinya sebagai kapten divisi satu geng Tokyo Manji, dia mampu mengalahkan sepuluh orang pengecut itu dengan mudah! Dia juga menganggap ku sebagai temannya! UWOHHH! Dia sangat kerennnn!"
Chifuyu tak kenal lelah jika ia bercerita tenang hal yang seru baginya. Walaupun saat ini ia sedang duduk di kursi, mulutnya enggan untuk berhenti dan masih melanjutkan dongeng nya.
"Lalu dia menawarkan ku untuk berkunjung ke ruang apartemennya. Ibu nya sama galaknya dengan Ibu. Terus dia menawarkan ku makam mi peyoung yakisoba dan bagi dua."
"Pelit sekali." Gumam sang Ibu seraya memindahkan nasi ke tiga mangkuk yang telah tersedia.
Chifuyu langsung membantah nya. "Itu tidak pelit! Itu adalah awal mula persahabatan kami dimulai!"
"Ya ya ya. Terserah kamu aja lah, Chifuyu." Balas sang Ibu yang tidak peduli. Sebuah mangkok mendarat di hadapan anak tunggal Matsuno, sang Ibu pun melanjutkan bicara nya. "Makan mi setengah porsi tidak akan membuatmu kenyang. Ayo makan kari buatan Nona Matsuno yang cantik ini."
"Dih. Cantik apanya? Banyak kerutannya."
Perempatan siku empat muncul di dahi sang Ibu. Beruntung sendok sup masih ia pegang sehingga ia dapat memukul kepala anaknya. "Asal kau tahu ya Matsuno junior, Wajah kita sangat mirip."
Chifuyu yang masih mengelus kepala nya masih keras kepala untuk membalas sang Ibu. "Baguslah. Aku tidak mau dipanggil cantik karena aku laki-laki."
Sang Ibu menghela napas berat. "Kalau saja model rambutmu lebih baik daripada ini, pria dan wanita pasti berdatangan ke kita untuk meminangmu. Tidak peduli jika ada hubungan sesama jenis, yang penting dia mau membantu mu untuk mengubur jasad tua kami nanti."
"Urgh!" Ucapan sang Ibu menohok baginya yang masih belum memiliki pasangan. Sang Ayah yang melihat perdebatan kecil antar mereka hanya tertawa kecil dan mencoba melerai nya dengan tenang. "Sudahlah kalian berdua. Ayo kita makan sebelum karinya menjadi dingin."
Sebelum memulai makan malam mereka, sang Ayah mencoba untuk memberi pesan kepada anaknya. "Chifuyu. Siapapun itu, kau tidak boleh mempercayai nya melebihi kepercayaanmu terhadap Tuhan."
Pesan yang baru dimengerti setelah kejadian dua Matsuno pergi meninggalkannya. Jasad mereka terlalu muda untuk dikubur. Sekali lagi, Chifuyu kesal kepada Ibu nya karena ia masih belum memiliki pasangan dan membantu dirinya untuk mengubur tubuh mereka.
.
.
.
.
.
Sepasang langit cerah menyambut pagi hari setelah rekam memori masa lalu dihabiskan di bunga tidurnya. Chifuyu mengerangkan tubuhnya sebelum beranjak dari tempat tidurnya. Ia merasakan kasur milik Seishu terlalu luas untuk satu orang. Sisa aroma tubuh di sampingnya masih dapat ia rasakan. Terkadang, dirinya ingin orang tersebut menemani nya tidur di sepanjang malam.
Pria bersurai legum pendek itu langsung menuju ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya. Sesekali bercermin dan meneliti taringnya yang tajam. Entah kenapa dirinya merasa bahwa taring itu pas dengannya. Setidaknya ada hikmah dari kejadian dua hari lalu yang dapat diambil olehnya. Terutama pengakuan dua insan yang memiliki rasa yang sama, walaupun adu pukulan menjadi bahasa utama mereka.
Setelah membersihkan wajahnya, ia keluar dari kamar mandi dan menuju ke lantai bawah. Ia melirik ke arah bengkel yang ditutup sementara dan menjadi tempat fitness kecil dadakan. Terdapat treadmill, sasak tinju yang menggantung di ruang tengah, dan matras yoga yang sedang digunakan oleh Keisuke saat ini. Chifuyu dengan senang hati memperhatikan pria itu dari ambang ruangan, bersandar di samping pintu garasi dan menikmati pemandangan indah di sana.
Chifuyu tak pernah bosan melihat otot lengan itu semakin terbentuk ketika Keisuke melakukan kegiatan push-up nya. Rambut panjangnya yang diikat membuat dirinya dapat melihat butiran peluh yang membasahi tengkuk nya. Tak sadar Chifuyu meneguk air liur nya sendiri. Rasa dahaga mulai mengganggu tenggorokannya. Akhirnya Chifuyu yang tidak tahan langsung pergi meninggalkan Keisuke tanpa mengganggu kegiatannya.
"Minum air tidak akan membantu untuk menghilangkan rasa haus mu."
Langkah kaki Chifuyu terhenti, terkejut bahwa Keisuke menyadari eksistensi nya. Hampir lupa dengan kemampuan dimiliki para penghisap darah yaitu indra penciuman yang tajam. Chifuyu membalikkan tubuhnya kembali dan berhadapan dengan Keisuke yang sudah menyelesaikan kegiatannya.
"Aku tidak ingin merepotkanmu, Baji-san."
"Haa?" Ekspresi kesal terlukis di wajah Keisuke. "Aku tidak bilang kalau darahku yang berharga ini gratis untukmu, Chifuyu." Tangannya bergerak memberi kode agar Chifuyu mendekati nya. Yang menerima pesan tersirat dari Keisuke langsung menurutinya tanpa ada sepatah kata protes yang keluar dari mulutnya. Semenjak Chifuyu mengagumi nya, ia merasa bahwa ia terlalu bersikap patuh kepada Keisuke. Tetapi ia tidak keberatan dengan hal itu.
Setelah tubuhnya sudah dekat dengan keberadaan Keisuke, Chifuyu mengangkat kepala nya agar dapat melihat wajah tampan dari sosok di depannya. Senyum lebar yang penuh dengan arti. Sudah lama ia tinggal bersama nya sehingga Chifuyu dapat mengerti maksud dari senyuman itu. Senyuman itu adalah awal rutinitas mereka tiap mentari mulai menyinari dunia.
Satu tendangan dari Chifuyu hampir mengenai wajah Keisuke. Pria besar itu berhasil menangkis nya hanya dengan satu tangan miliknya. Bahkan ia dapat mengangkat tubuh Chifuyu dengan mudah. Chifuyu yang tidak menyerah langsung melepaskan diri sebisa mungkin. Satu kaki lainnya mencoba untuk menendang dagu Keisuke. Lagi-lagi, ia gagal karena Keisuke dapat menghindarnya dengan mudah. Disaat bersamaan, Chifuyu berhasil lepas darinya.
Chifuyu memiringkan senyumnya, bangga dengan keberhasilannya.
Suara siul kagum terdengar dari Keisuke, memuji tanpa kata adalah kebiasaannya. Semenjak Chifuyu berubah menjadi makhluk penghisap darah sepertinya, kelincahan nya semakin meningkat. Keisuke mengakui bahwa ia semakin susah untuk memprediksi gerakan pria yang sedang mempertahankan sikap kuda-kuda di depannya. Ia mencoba untuk membaca kuda-kuda Chifuyu yang terlihat rendah, Keisuke menebak bahwa satu tendangan selanjutkan akan datang untuk menghajarnya.
Namun tebakannya kali ini salah. Tidak hanya satu tendangan yang menyerangnya. Tiga tendangan ditambah satu pukulan datang berurutan dari Chifuyu. Layaknya melayang di udara, ayunan kedua kaki Chifuyu terlalu cepat. Bahkan dia sempat mendarat di lantai dengan sempurna sebelum satu pukulan menuju ke Keisuke. Akan tetapi, Keisuke yang sudah terbiasa dengan pertarungan antar makhluk penghisap darah memiliki refleks lebih baik daripada Chifuyu. Sekali lagi, Keisuke berhasil menangkis empat serangan dari nya.
Chifuyu menggeram kesal. Entah kenapa Keisuke merasa bahwa Matsuno Chifuyu saat ini terlihat seksi di mata nya.
Ingin menggoda nya lebih lama namun wajah pucat Chifuyu berhasil membuat Keisuke mengurungkan perbuatannya. Tangannya memberikan isyarat kepada Chifuyu untuk memberhentikan aktivitas pagi mereka. Keisuke mengambil posisi duduk bersila di atas matras yoga, menepuk kedua paha nya sebagai pesan menyuruh Chifuyu untuk duduk di atas pangkuannya.
Chifuyu dengan senang hati melakukannya. Paha Keisuke yang keras akibat otot-otot yang terbentuk di sana tetap nyaman bagi Chifuyu. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di leher mantan kapten divisi satu Touman itu dan menenggelamkan wajahnya di sana. Aroma tubuh Keisuke membuat Chifuyu menggeram, layaknya seekor hewan yang enggan berbagi hasil buruan nya.
"Ba-Baji-san.." Chifuyu menggesekkan batang hidungnya di kulit leher Keisuke, ada nada memohon terselip agar ia diperbolehkan untuk menancapkan taringnya dan menyantap sarapannya. Tapi Keisuke sengaja tidak memberikannya jawaban, mempermainkan kesabaran Chifuyu menjadi kesenangannya saat ini.
"Unghh, Baji-san. Kumohon.." Suara rengek Chifuyu membuat Keisuke terkekeh mendengarnya. Ia mengelus kepala pria yang sedang duduk di pangkuannya dengan lembut. Sesekali jemari nya menyentuh leher putih Chifuyu yang sudah sembuh dari gigitan Sanzu. Erangan lolos dari bibir manis pria itu ketika jemari panjang milik Keisuke menari di atas titik sensitifnya. Kini Keisuke yang harus bersabar agar ia tidak menerkam Chifuyu di atas matras milik Ken. Ia tidak mau diusir karena mengotori ruangannya.
Tapi Keisuke tidak menyerah dan masih ingin menggoda pria itu lebih lama lagi.
"Hei," Keisuke memanggil Chifuyu seraya mengangkat dagu pria yang lebih muda darinya. "Aku tahu kalau tinju dan pukulan adalah bahasa utama kita." Tangannya kini menangkup wajah Chifuyu dengan hati-hati. Ibu jarinya mengelus permukaan kulit itu dengan pelan. "Tapi tetap saja, aku tidak akan mengerti jika kau tidak mengatakannya dengan jelas."
Buliran air mata mulai keluar dari pelupuk mata biru muda. Paha mulus Seishu kini kalah menggoda dibandingkan pemandangan di depannya. Keisuke tidak akan mengakui hal tersebut di depan Chifuyu.
"Aku ingin minum." Bisik Chifuyu lemah.
"Hm?" Keisuke menyapu buliran itu sekaligus bertanya. "Apakah darahku sangat menggiurkan bagimu?"
Chifuyu mengangguk cepat. Kelihatan sekali kalau dia sangat lapar. "Tolong, tolong aku, Baji-san—"
"Kasih aja darahnya, sialan!"
'Bletak!'
Sebuah spatula sukses mendarat di kepala Keisuke. Dua insan di ruang tamu terkejut akan kemunculan tuan rumah terutama yang menjadi korban kekerasan. Keisuke menggeram, ditambah rasa panas spatula seperti baru saja dipakai memperparah rasa sakitnya. Tatapan tajam pun dilayangkan ke arah pelaku, lalu disusul teriakan yang menggema.
"Draken sialan! Bangsat! Spatula nya masih panas, bodoh!"
"Pilih spatula panas atau ku usir dari rumahku?"
Keisuke langsung terdiam. Ancaman Ken membuatnya bungkam.
Chifuyu melirik lemah ke arah Ken yang sedang minum satu bungkus darah dengan santai. Bau amis nya yang menggoda, membuat Chifuyu tak tahan untuk berlari ke arahnya. Tetapi aroma pria di sampingnya yang lebih nikmat dibandingkan sekantong darah rusa hasil buruan membuat Chifuyu enggan pergi dari pangkuan Keisuke.
Berbeda dengan Keisuke yang tergiur dengan minuman Kei.
"Masih ada kantong terakhir di penyimpanan." Ucap Keisuke di sela kegiatan minumnya. "Tapi aku tidak akan mengizinkanmu untuk mengambilnya sebelum kau memberikan Chifuyu makan dengan benar." Setelah itu, Ken pergi ke arah dapur dan meninggalkan mereka berdua.
Hela napas menyerah keluar dari mulut Keisuke. Ia pun langsung mengarahkan leher nya ke Chifuyu, helaian rambut disingkirkan agar pria di pangkuannya tidak perlu tersedak di tengah menyantap darahnya. Tanpa basa-basi, Chifuyu langsung menancapkan taringnya dan menghisap darah Keisuke dengan buru-buru. Ia sudah menahan lapar terlalu lama. Keisuke tidak keberatan, elusan lembut di punggung Chifuyu menjadi jawabannya.
Mereka akhirnya menyusul Ken ke dapur. Di sana sudah ada Seishu yang juga menyantap darah rusa dengan santai dan elegan. Berbeda dengan Chifuyu yang masih harus menyantap makanan manusia, meminum darah sudah cukup bagi mereka untuk hidup. Ken yang berbaik hati memasakkan sarapan untuknya. Chifuyu menjadi sungkan.
"Jangan begitu. Kita sudah lama bekerja sama di Touman, bukan? Anggap saja ini reunian kecil kita." Tutur Ken seakan-akan dapat membaca isi pikiran Chifuyu. Lebih tepatnya, kemampuan Ken sebagai vampir memang dapat mengetahui isi pikiran orang lain.
Setelah dirinya resmi menjadi penghisap darah, Ken dan Seishu yang lebih pandai menjelaskan dibandingkan Keisuke pun memberikan banyak informasi yang tidak diketahui oleh Chifuyu sebagai pemburu mereka. Dari asal-usul mereka yang menjadi vampir hingga kekuatan yang dimiliki tiap masing-masing makhluk. Catatan imajinari Chifuyu terasa penuh karena banyak misteri yang akhirnya terpecahkan.
Awalnya Chifuyu hanya mengetahui bahwa kekuatan vampir hanya fisik dan kemampuan untuk mengganggu telekomunikasi seperti Keisuke. Namun kenyataannya, makhluk penghisap darah lebih kuat dari perkiraannya. Dimulai dari cerita Ryuguji Ken, tidak seperti Keisuke yang lahir dan memiliki genetik makhluk penghisap darah berasal dari Ayah nya, dia menjadi vampir karena ajakan sahabatnya dan bertekad untuk melindungi orang-orang yang ia cintai dengan kekuatan baru nya. Chifuyu tak perlu bertanya sosok sahabat Ken yang sudah lama menghilang. Lebih tepatnya, orang tersebut menjadi buronan polisi karena sudah terikat dengan kejahatan obat-obat terlarang dan prostitusi.
Kembali lagi ke topik utama. Selain dua kekuatan yang didapatkan oleh Ken, pria yang saat ini bekerja menjadi montir memiliki kemampuan membaca pikiran orang. Ia berkata jujur bahwa kekuatan ini jarang digunakan setelah ia mencoba ke orang yang ia cintai, senang mengetahui fakta bahwa mereka memiliki perasaan yang sama.
Tetapi, rasa penyesalan itu datang ketika wanita yang ia cintai meninggal dunia. Lebih baik ia tidak mengetahui perasaannya daripada meninggalkan ruang kosong di hati nya.
Mengesampingkan trauma yang ia dapatkan di masa lalu nya, Ken terpaksa menggunakan kemampuannya untuk mengawasi Chifuyu. Merasa tergelitik ketika Ken meminta izin dan maaf kepada nya karena hal tersebut. Chifuyu juga akan melakukan hal tersebut jika dirinya menjadi Ken, walaupun ada rasa malu kalau Ken mengetahui bahwa pikirannya selalu tertuju ke pria di sampingnya.
Bahkan mereka sempat bertelepati, mendengar Ken yang mengejek Keisuke seperti "Si bodoh itu terlalu beruntung. Kau bakal menyesal kalau kau mengetahui masa kecilnya yang sering membakar banyak mobil." Chifuyu hanya membalasnya dengan tawa kecil, karena Keisuke sudah memberitahu nya lebih dulu.
Lalu penjelasan berlanjut ke kisah Inui Seishu. Kisah paling tragis di antara mereka bertiga, bahkan Ken dan Keisuke yang sudah mengetahui nya sempat menitikkan air mata mereka. Suara lirih membuat cerita bertambah menjadi pilu.
Jika semua orang menyukai keberuntungan dan selamat dari maut, Seishu memilih kebalikannya. Maut datang menghampiri rumah keluarga Inui di umur delapan tahun. Jago merah menyelimuti rumah sehingga hanya Seishu yang selamat. Lebih tepatnya, ia diselamatkan oleh teman masa kecilnya. Cinta pertama nya, bertepuk sebelah tangan karena orang tersebut lebih menyukai kakaknya. Bahkan keselamatannya dikarenakan wajah Seishu yang mirip dengan sang kakak sehingga temannya merasa salah menyelamatkan orang.
Si sulung beserta kepala keluarga Inui tewas di tempat kebakaran, menyisakan si bungsu sendirian bersama teman masa kecilnya. Disaat itu juga ketidakpercayaannya terhadap kehadiran vampir dipatahkan di suatu malam, di rumah sakit yang sunyi. Sahabatnya langsung menggigit lehernya agar Seishu berubah menjadi makhluk yang sama sepertinya. Berharap luka bakar di wajahnya sembuh, tetapi luka itu meninggalkan jejak di wajah rupawannya.
Kisah cinta memilukan pun dimulai. Mereka selalu bersama, berawal dari dua anak lugu yang sedang mencoba belajar menjadi kekasih hingga berani bercinta setelah menduduki bangku sekolah menengah pertama. Candu untuk melakukannya lagi ke orang tersebut masih terasa oleh Seishu, tetapi telinga nya masih belum menerima ketika ia mendengar nama kakaknya di setiap mereka bercumbu. Hubungan mereka pun kandas di pertempuran antar Tokyo Manji dan Tenjiku. Bukan karena orang tersebut enggan masuk kembali ke Touman, melainkan tidak menerima kenyataan bahwa Seishu bukanlah sosok orang yang ia cintai.
Setelah mengungkit kembali memori buruknya, Seishu menjelaskan bahwa ia masih tidak tahu kemampuan yang ia miliki selama menjadi vampir. Tetapi informasi penting yang didapatkan dari cerita tersebut adalah seorang vampir dapat tumbuh hingga dewasa namun sel nya berhenti menua ketika mereka menginjak umur 20 tahun dan hidup abadi. Vampir dapat menurunkan generasi jika mereka berhubungan badan dengan wanita manusia, tetapi wanita vampir tidak dapat melahirkan karena mati nya sel telur yang tidak dapat dibuahi oleh sperma siapapun. Lalu ada tambahan teori dari Ken terhadap kekuatan terpendam Seishu sebagai vampir yang diam-diam Chifuyu setuju dengan hal tersebut. Bengkel Ken semakin laris setelah Seishu bekerja bersama nya, tetapi kebanyakan dari pelanggan hanyalah usaha modus mereka mendekati Seishu.
Maka dari itu, Ken dengan senang hati menaikkan gaji nya. Selain ahli menjadi montir, Seishu sudah menjadi pesugihan alami untuk kesejahteraan bengkel nya. Keisuke menuduhnya licik, dibalas Ken kalau Keisuke juga menyukai paras wajah Seishu yang indah. Ada rasa cemburu yang membakar di dalam diri Chifuyu, tetapi kenyataan bahwa mantan anggota Black Dragon itu memiliki wajah yang rupawan tidak dapat ia hindar.
Topik pembicaraan mereka dua hari lalu berlanjut tentang tujuan mereka bertiga. Sama seperti manusia, vampir memiliki konflik sesama bangsa nya. Ada yang mencoba menguasai dunia dan ada yang mencoba untuk tinggal berdampingan dengan manusia. Sebenarnya konflik tersebut sudah lama terjadi beberapa ribu tahun yang lalu. Namun terjadi nya puncak panas mereka ketika keluarga vampir terkuat, keluarga Sano, yang awalnya ingin berdamai dengan manusia kini berubah haluan. Puncak tersebut terjadi akibat salah satu anggota keluarga mereka mati dibunuh oleh polisi dengan alasan yang tidak jelas. Orang tersebut adalah Sano Emma, adik dari Sano Manjirou yang dikenal sebagai ketua Tokyo Manji. Rencana mereka tidak hanya bersembunyi dari pemburu mereka yang dibentuk oleh Polisi sejak dua tahun yang lalu, tetapi mencari tahu siapa dibalik rencana adu domba yang mengubah Sano Manjirou berubah.
Lalu pembicaraan itu diakhiri dengan topik tentang kondisi Chifuyu yang dialami setelah digigit oleh vampir. Jujur, penjelasan ini yang paling ditunggu oleh sang korban. Tidak seperti penghisap darah lainnya, Chifuyu masih bisa merasakan lapar dan membutuhkan tidur untuk istirahat. Keisuke memberitahu bahwa gigitan vampir memang selalu membuat para korban berubah menjadi sebangsa nya. Akan tetapi, kebanyakan gagal karena tidak dapat menahan dahaga sehingga korban meninggal dunia. Bahkan ada yang lebih kejam yaitu sengaja mengubah para korban menjadi vampir dan dijadikan pasokan makan malam mereka.
Sebelum darah Chifuyu dihabiskan oleh Sanzu, Keisuke sudah memenggal kepala pria itu dengan pisau dapur yang tergeletak di lantai apartemen. Racun vampir terlalu cepat sehingga dirinya terlambat untuk menolong Chifuyu agar tidak berubah menjadi seperti dirinya. Taring tajam sudah terbentuk, tetapi tubuh Chifuyu terlalu lemah. Jika ia biarkan, Chifuyu akan mati karena kehabisan darah. Menyadari kesalahannya, Keisuke pun mengarahkan salah satu tangannya ke taring Chifuyu agar darah Keisuke dapat menyelamatkannya.
Dari situlah Chifuyu sangat tergila-gila dengan darah Keisuke. Beruntung pria itu memiliki kemampuan regenerasi tubuh lebih cepat dibandingkan vampir lainnya. Vampir memang memiliki regenerasi sel lebih cepat dibandingkan manusia, bahkan dapat menumbuhkan bagian tubuh yang terpotong terkecuali organ otak. Namun kemampuan itu tidak efisien bila luka tersebut berasal dari cakar atau gigitan vampir lainnya dan membutuhkan waktu selama 3 hari untuk pulih. Berbeda dengan Keisuke yang tetap memiliki regenerasi sel yang cepat walaupun dirinya diserang vampir. Ada informasi tambahan bahwa Keisuke dapat menghilang tanpa meninggalkan jejak dan suara. Akhirnya Chifuyu mendapatkan jawaban dari kemampuan Keisuke yang menyembunyikan identitasnya dengan rapi.
"Jujur, sudah tiga hari terlewati, sampai sekarang kami tidak tahu kenapa kau masih bisa merasa lapar dan lelah setelah menjadi vampir." Ucap Ken sebelum menghabiskan darah rusa dari kegiatan beli ilegal nya. "Atau mungkin racun dari Sanzu tidak terlalu efektif seperti kita?"
"Entahlah." Seishu menyahut. "Atau mungkin itu adalah kemampuan dari Chifuyu sendiri?"
"Oh.." Keisuke yang sedang menyantap darahnya dengan santai ikut menimbrung. "Aku juga tidak mencium bau vampir dari Chifuyu."
"Benar, seperti manusia. Tetapi bau darahnya tercium lebih manis dibandingkan manusia lainnya." Balas Draken dengan kepala yang menghadap ke dinding langit. Dunia ini terlalu banyak misteri, pikirnya.
"Chifuyu," Seishu menoleh ke arah pria yang sedang menyantap sarapan nya. Omelet buatan Ken terlalu menggiurkan sehingga dirinya tidak sadar bahwa Seishu dan dua orang lainnya menatap Chifuyu. "Apakah di kantor polisi ada pengecekan kondisi tubuh?"
"Ada." Jawabnya sembari memasukkan suapan omelet ke mulutnya. Merasa sedikit tidak sopan namun omelet Ken tetap nomor satu baginya. "Tiap bulan kami selalu melakukannya."
"Berarti benar kata Takashi."
Kini Chifuyu menghentikan kegiatan makannya, menatap Seishu tak percaya. "Takashi? Maksudmu Mitsuya-kun?"
Bukannya dia dekat dengan Shiba Yuzuha?
"Anggap saja Yuzuha dan Inupi adalah korban kharisma seorang Mitsuya Takashi." Ucap Ken yang membalas isi pikiran Chifuyu. "Tapi kita bisa gunakan untuk memantau para pemburu kami."
"Aku bukan korban." Balas Seishu tidak suka. "Yang mencetuskan ide sebenarnya aku, bukan?"
"Ya ya. Terserah kau saja. Dasar kurang belaian."
"Ngaca. Setidaknya Koko masih hidup dibandingkan Emma yang sudah di alam lain."
Ucapan Seishu terlalu menusuk bagi Ken sehingga dirinya tak mampu membalasnya lagi. Keisuke yang melihat nya hanya tertawa mengejek ke mereka. Dua orang yang merasa tersindir pun menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa Chifuyu mau bersama dengan orang sepertimu?" Desis Seishu ke arahnya.
"Derita orang tampan. Benar kan, Chifuyu?" Tanya Keisuke sembari merangkul bahu Chifuyu di sampingnya.
"Hmm?" Senyum goda terukir di bibir manisnya. "Benarkah?"
"Oi!" Chifuyu tertawa melihat Keisuke yang kesal karena Chifuyu tidak menyetujui nya. Ia melepaskan rangkulan dari pria di sampingnya dan beranjak ke westafel untuk membersihkan alat makannya. Sebelum ia berdiri dari tempat duduknya, ia memberikan kecupan lembut di pipi Keisuke agar kerutan di dahi pria itu hilang.
Tidak hanya Keisuke, Ken dan Seishu yang menyaksikannya ikut mengukir senyum senang mereka. Ryuguji Ken yang selalu membaca pikiran pria itu sudah mengetahui bahwa Chifuyu tidak merasa terkhianati ketika baru mengetahui bahwa Keisuke termasuk makhluk penghisap darah yang ia buru. Ia mempercayai Keisuke sepenuhnya, bahkan melebihi dirinya yang pernah mempercayai Sano Manjirou sebagai rekannya dulu.
"Jadi nostalgia ya?" Celetuk Ken ke Chifuyu.
Chifuyu mengangguk senang, menanggapi Ken sebelum mereka kembali sunyi. "Setidaknya, kita dapat melihat Tokyo Manji seperti dulu."
Suara air westafel mengalir pun menggema ruang makan mereka yang sedang hening. Semua penghuni yang ada di sana sedang terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Begitu pula Chifuyu sembari melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Berarti empat jam lagi mereka menjalankan misi yang telah dibuat oleh Ken dan Seishu.
.
.
.
.
.
Lima jam berlalu. Kini cerita beralih ke sudut pandang dua pria berseragam polisi sedang melaju ke arah bengkel milik Ryuguji Ken, atau bisa disebut berkumpul dengan teman lama. Begitulah pikir Takemichi setelah mendengar penjelasan dari kapten dari divisi pemburu makhluk penghisap darah. Seharusnya ia merasa senang dapat bertemu dengan teman lama dan berbincang bersama. Tetapi penjelasan teori dan rencana yang disusun oleh Takashi membuat ia merasa sebaliknya.
Bengkel yang tiba-tiba tutup bersamaan dengan hilangnya Chifuyu dan jejak Baji Keisuke yang tidak ditemukan di TKP menjadi jawaban mereka bahwa Keisuke kabur ke sana. Lalu terdapat teori bahwa Ken dan Seishu adalah makhluk yang sama dengan Keisuke. Hal tersebut masuk akal bagi Takemichi karena tidak ada manusia yang mau menolong vampir yang namanya menjadi buronan dan selalu ditemui di televisi. Hanya teori terakhir yang tidak dapat diterima oleh Takemichi.
Teori tentang Chifuyu yang kemungkinan berubah menjadi vampir bukanlah teori yang ia suka dari Takashi. Sempat terjadi perdebatan di tengah perjalanan, tetapi ia juga tidak ingin sang kapten menambah teori bahwa sahabatnya menjadi makan malam para teman lama mereka.
Alasan Takashi membuat teori seperti itu terdengar masuk akal. Racun pada taring vampir memang sudah pernah diuji di laboratorium dan ke hewan pengerat. Hasilnya, sel teroksidasi dan hewan uji tidak ada yang selamat dari racun tersebut. Ditambah racun tersebut mudah menguap ketika bertemu dengan suhu udara. Polisi juga tidak dapat surat izin kode etik untuk menguji ke manusia yang hidup seperti kriminal dengan hukuman mati. Dari hasil yang ada, tidak menutup kemugkinan bahwa racun tersebut mengubah Matsuno Chifuyu menjadi bagian dari mereka.
Kendaraan roda empat yang mereka gunakan sudah terhenti karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Jalanan terlihat lebih sepi, membuat suasana menjadi lebih mencekam. Takemichi hanya mampu berdoa kepada Tuhan agar rasa takutnya dapat menurun. Tak lupa ia siapkan beberapa batang peluru dan salib nya.
"Kau masih percaya dengan mitos itu, Takemichi?"
"Ma-mau bagaimana lagi, Mitsuya-kun! Hampir semua yang menaruh salib di kamar mereka selamat dari vampir."
Takashi membalas jawaban Takemichi sambil memasukkan sebatang peluru ke pistolnya. "Keluarga Shiba yang terkenal paling taat kepada Tuhan juga kena."
"Urgh! Mereka kurang taat! Aku yakin itu!"
Takashi menghiraukan bawahannya dan fokus untuk berdoa kepada diri sendiri. Luka batin masih terasa sejak ia mulai mencurigai kekasihnya. Entah ucapan apa yang akan ia katakan kepada kedua adiknya yang sudah akrab dengan Inui Seishu nanti malam. Kini ia mengerti perasaan Chifuyu ketika harus ditampar oleh kenyataan.
Sekarang ia sudah siap. Pemanasan sudah dilakukan sebelum berangkat, dan mental sudah siap untuk dipermainkan. Takeshi menoleh ke arah Takemichi dan memberikannya kode untuk keluar dari mobil. Tetapi Takemichi tidak mengikuti Takashi masuk ke kediaman Ken. Rencana sang kapten dijalankan mulai dari sekarang.
Langkah kaki Takashi menuju ke pintu utama rumah terlihat tak tergesa-gesa namun tak terlihat hati-hati. Berjalan seperti biasa dirinya menjemput Seishu ketika mereka ingin berkencan. Ia juga sudah terbiasa mengenakan seragam polisi di depan teman dan kekasihnya. Hari ini hanya ditambah atribut seperti rompi hitam dan pistol di saku nya. Karena hari ini adalah hari pembulatan tekadnya untuk menjalankan tugas dengan totalitas.
Takashi mulai mengetuk pintu rumah di depannya. Ia yakin ketukannya tidak terdengar buru-buru. Kekhawatirannya adalah detak jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Angin musim dingin mulai mengelus tengkuk nya berhasil menambah adrenalin. Seakan-akan memberi Takashi pesan bahwa ia harus menjaga belakangnya.
Suara penghuni rumah tak kunjung muncul. Takashi mengerutkan dahi nya. Padahal dirinya yakin bahwa ketukan darinya mampu menembus ke dalam rumah. Sepasang mata nya menangkap tombol bel yang menempel di samping pintu. Takashi mengutuk dirinya yang terlalu bodoh untuk tidak menekan tombol tersebut.
'Ting tong..!'
Suara bel terdengar setelah Takashi menekan tombol bel nya. Tak lama kemudian suara yang diinginkan Takashi akhirnya muncul. Suara dari pria yang dulunya dijuluki sebagai Naga Kembar bersama dirinya. Luka hati pun terasa perih karena dirinya harus membunuh sahabat lama nya hanya karena pekerjaan dan perbedaan spesies. Takdir hanya berjalan semesti nya dan tidak pernah berpihak kepada siapapun.
"Sebentar! Akan kubuka pintunya!"
Pintu pun terbuka dan sosok sumber suara itu muncul di hadapannya. Takashi memberikan senyum bersahabatnya dan mengarahkan kepalan tangannya ke arah pemilik rumah. Sang pemilik rumah pun membalas salam kepalan itu dan senyum yang tak kalah lebar. Takashi yang sudah lama mengenal Ryuguji Ken dapat melihat ada otot wajah yang memaksa pria itu untuk tersenyum kepada nya.
"Pekerjaan sedang lagi sulit-sulitnya, ya?" Tanya Ken basa-basi.
"Yah, begitulah. Apakah aku terlihat aneh mengenakan rompi seperti ini? Kalau aneh, dia pasti mengejekku."
Tawa keras dikeluarkan oleh Ken dan membalas pertanyaan Takashi. "Memangnya dia peduli dengan hal begituan?"
"Haha. Benar juga, sih." Tanpa menunggu waktu berjalan, Takashi melanjutkan percakapannya. "Seishu belum siap?"
"Masih bingung memilih high heels katanya."
"Astaga. Padahal hari ini kita hanya di rumah ku saja."
Ken menepuk bahu pria di depannya. "Namanya juga Inupi. Aku sampai bingung kenapa dia punya hobi mengoleksi sepatu tidak jelas seperti itu. Kau tidak memberikan hadiah high heels sebagai ulang tahun nya kemarin, kan?"
Hela napas berat keluar dari Takashi. "Aku dijebak untuk pergi ke toko sepatu bersama Luna dan Mana. Sialnya, adik-adikku jadi tertular dan membeli lemari untuk mengoleksi sepatu tinggi itu."
"Ah…" Ken tidak dapat berkomentar lebih jauh lagi. Pria dengan kepala bertato itu membuka pintu nya lebar-lebar, mempersilahkan Takashi untuk memasuki rumahnya. Tetapi si tamu enggan untuk melangkahkan kaki nya ke sana.
"Bisakah kita berbicara di sini saja?" Ucap Takashi menawar. "Di sini cukup hangat bagiku."
"..Mitsuya.." Akhirnya topeng ramah antar temannya kini luntur, digantikan ekspresi seakan ia terkhianati oleh sahabatnya sendiri. Mereka sudah lelah untuk bersandiwara untuk lebih lama lagi.
Takeshi tidak menyukai raut wajah yang digunakan oleh Ken. Tidak pantas bagi nya. "Woi. Seharusnya aku yang kecewa di sini, Draken."
"Dalam konteks apa? Aku tidak pernah mengkhianati temanku." Jeda, Ken mendekati tubuh nya dan keluar dari rumah. Kini mereka berdua sudah berada di teras rumah, di bawah lampu yang menerangi hari malam yang panjang.
"Aku tidak akan menyakiti temanku.
"Tetapi sekarang kau sudah tidak menjadi temanku, Mitsuya Takashi."
'Duarr!'
'Duarrr! Duarr!'
Suara tembakan dari tempat Takemichi terdengar keras. Jika sudah lebih dari tiga kali peluru itu bersuara, Takashi dapat menebak bahwa Takemichi sedang diserang oleh vampir lain. Ia kenal bahwa Takemichi handal dalam menembak tepat sasaran, sehingga suara satu peluru meluncur ke udara seharusnya dapat mengenai musuh. Takashi dapat menebak bahwa gerakan musuh yang menyerang Takemichi sangat cepat.
"MITSUYA-KUN!" Bawahannya berteriak dan berlari ke arahnya. "AWAS DI BELAKANGMU!"
Tak perlu menunggu lama, Takashi langsung mengeluarkan dua buah pistolnya. Satu diarahkan tepat ke kepala Ken, satunya lagi menembak ke arah musuh yang hampir menyerangnya dari belakang. Vampir tersebut terkena peluru dari Takashi dan mengenai jantungnya. Sosok itu terjatuh di atas lantai teras milik Ken, tetapi Takashi tidak boleh lengah. Apalagi ia melihat asap kecil dari tubuh vampir yang terkena tembakannya, menyembuhkan luka tembakan di dada nya dengan cepat.
Takashi mendecih.
"Maaf terlambat, Takashi. Sepertinya high heels merah memang cocok untuk hari ini."
Ia melirik ke arah sepatu yang dikenakan oleh vampir yang sedang dalam penyembuhan luka nya. "Aku tidak tahu kalau kau buta warna, Seishu."
"Oh.." Tidak ada senyum di wajah cantiknya. Inui Seishu kini terlihat lebih dingin dibandingkan malam di bulan Desember.
"Aku akan mewarnai nya..
"Dengan darah Hanagaki."
Seishu langsung berlari ke arah Takemichi. Yang dijadikan sasaran olehnya pun kelagapan dan menembak peluru ke tubuh pria itu. Saking paniknya, Takemichi tidak dapat membidiknya dengan benar dan selalu meleset. Tetapi Takashi yang berusaha keras untuk tanggap lebih cepat langsung mengarahkan pistolnya ke arah Seishu dan mencoba untuk menembaknya tepat di kepala nya. Tetapi usahanya digagalkan oleh sosok vampir baru yang melindungi sosok Seishu.
Baji Keisuke, yang kini menjadi buronan polisi terutama divisi pemburu vampir, berhasil menangkap peluru yang tadinya menuju ke arah Seishu dengan tangannya sendiri. Takashi tidak dapat berbohong bila ia merasa takut sekarang. Tetapi ia tidak sudi menunjukkan rasa takutnya saat ini.
"Lama tak berjumpa, Baji."
Keisuke tak menjawab sapa Takashi dan melemparkan peluru yang baru saja ia tangkap ke pria itu. Beruntung sang kapten pemburu vampir dapat menghindarnya. Atau Keisuke yang sengaja agar peluru tersebut meleset dan hampir mengenai daun telinga nya sebagai peringatan. Sekali lagi, Takashi mendecih kesal karena mereka sudah kalah dari jumlah anggota mereka.
Dua lawan tiga. Terutama jumlah yang lebih unggul memiliki kekuatan yang tidak setara dengan mereka. Tetapi dari segi situasi, dua kubu yang sedang bertarung menjadi seri. Kondisi dimana mereka jika bergerak satu senti pun, teman mereka akan kehilangan nyawa. Seishu menahan Takemichi ke tanah agar pria bersurai ikal itu tidak dapat bergerak dan ujung pistol Takeshi satunya yang masih menempel di kepala Ken.
Keisuke yang sedang berada di tengah keributan dapat memutar balik keadaan. Tetapi kemampuan Ken sangat dibutuhkan bagi mereka. Juga, Keisuke tidak ingin kehilangan temannya untuk kedua kalinya. Bayangan Hanemiya Kazutora masih menghantuinya, terutama rekaman memorinya yang selalu menunjukkan kematian Kazutora disetel ulang di kepala nya.
"Aku tidak suka basa-basi. Dimana Chifuyu?" Tanya Takashi tegas.
"Dia tidak berguna dan kami memakannya tanpa sisa." Jawab Keisuke cepat. Tentu saja Takeshi tidak akan mempercayai nya.
"Jika Chifuyu sudah mati. Kenapa kalian masih ada di Tokyo?"
"Dana bengkel tidak akan bisa mengangkut tiga orang pergi ke luar kota, bodoh." Kini Seishu yang bergantian membalas pertanyaan nya.
"Bengkel Draken banyak pelanggan, terutama kau yang menjadi bawahannya." Pistol yang tadi membidik ke arah Seishu kini diarahkan kembali. "Wajah lacur seperti mu pasti berhasil membuat Draken kaya raya."
Ekspresi dingin Seishu berubah menjadi ekspresi yang tidak enak dilihat. Ucapan tersebut pasti akan membuatnya sakit hati. Luka Seishu kembali terbuka hanya karena satu kalimat yang dilontarkan dari pria tersebut. Pria yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah menyakiti seseorang dengan kalimat kasar dan menyayangi kedua adiknya, kini penilaian tersebut luntur hanya dengan sekedip mata.
Seharusnya Seishu marah dan mengamuk ke Takashi. Namun ia tak dapat bergerak. Takemichi ada di bawahnya, bahaya bila ia bergerak sedikit pun. Tak lama kemudian, rasa kesal itu tersalurkan oleh Ken yang mengambil kesempatan untuk menyingkirkan pistol di kepala nya. Takashi yang tak sempat bereaksi kini ditahan oleh Ken. Rasa sakit dan dingin yang bercumbu di lantai teras Ken sangat terasa.
"Seenaknya kau mengatakan kata itu ke orang lain." Wajar jika Ken murka. Dirinya yang terlahir dari wanita yang bertugas melayani nafsu pelanggan ikut tersakiti dengan ucapan Takashi. Terlihat dari cengkraman tangannya ke kedua lengan Takashi yang diletakkan di belakang tubuhnya semakin kuat. Bahkan Takemichi yang menyaksikannya terkejut ketika Takashi berteriak kesakitan ke arahnya.
"Jika Luna dan Mana mendengar ucapanmu seperti itu, mereka pasti akan kecewa padamu." Bisik Ken kecewa.
"Aku tidak mau mendengar itu dari mulut pengkhianat."
Ken mencengkram kedua lengan pria itu lebih keras. Suara teriak kesakitan terdengar kembali dari Takashi. "Pengkhianat? Seharusnya gelar itu cocok bagimu dan Takemichi.
"Kenapa kau mau bekerja sama dengan Kisaki?"
"DRAKEN-KUN!" Takemichi berteriak memanggil Ken. Yang dipanggil pun menoleh ke arah pria yang sedang ditahan oleh Seishu. "Tolong lupakan masa lalu, Draken-kun. Selepas jabatannya kini adalah pemimpin kami, aku membela nya karena dia sudah mengaku salah atas kejadian waktu itu!"
Keisuke yang ikut kesal kini menendang wajah Takemichi. Sama seperti dulu, wajah Takemichi memang layak untuk dihajar olehnya. "Kau kira dengan pengakuan seperti itu, Kazutora akan kembali hidup?"
Tendangan susulan pun datang cepat. Seishu yang melihat Keisuke yang mulai mengamuk mencoba untuk menghentikannya. "Hentikan, Baji. Kalau ada darah yang keluar, kau bisa memancing vampir lain."
"Emang ada yang mau meminum darah busuk seperti dia?"
Komplek di sekitar kediaman Ryuguji Ken memang terkenal sepi. Jika jam segini ada mobil yang memasuki komplek tersebut, maka kendaraan tersebut bisa menjadi dua kemungkinan yaitu milik penghuni sekitar atau aparat keamanan yang bertugas. Kendaraan tersebut bergerak ke arah mereka, lalu berhenti dan menerangi jalan. Keisuke dan Inui yang terkena sinar lampu mobil harus menyipitkan matanya karena terlalu terang.
Pemilik mobil tersebut akhirnya keluar. Seragam polisi yang sama seperti Takashi dan Takemichi. Terdapat tiga orang yang keluar dari kendaraan tersebut. Salah satunya adalah sosok yang mereka kenal semenjak masa sekolah mereka. Tidak ada yang berubah kecuali model rambut dan warna kulit yang memutih. Tetapi wajah dan kacamata yang dikenakan tetap sama seperti dulu. Dia adalah orang yang baru saja namanya disebut-sebut oleh mereka.
"Mitsuya, Hanagaki. Kalian baik-baik saja?" Keisuke dan dua penghisap darah lainnya tidak menyukai suara pria itu dan volume dari speaker yang mengganggu pendengaran mereka.
Yang dipanggil hanya bisa memasang ekspresi terkejut. Padahal tidak ada yang tahu tentang misi penangkapan Ryuguji Ken dan Inui Seishu kecuali mereka berdua. Tetapi mereka bersyukur akan kehadiran atasan mereka yang menyelamatkan nyawa mereka.
"Matsuno Chifuyu sudah ditemukan! Dia juga memberitahukan lokasi para vampir yang menculiknya!" Suara yang dibantu oleh speaker sengaja dibesarkan, seakan-akan memberitahukan informasi kepada tiga vampir di sana. Kini tiga penghisap darah yang mendengarnya pun terkejut. Tidak disangka bahwa Chifuyu yang bersembunyi di tempat lain, tertangkap dengan mudah dan membocorkan informasi kepada pihak kepolisian.
Seketika mereka ingat bahwa Chifuyu masih menjadi anggota kepolisian. Wajar jika ia memberitahukannya kepada polisi lain yang menemukannya. Tetapi Keisuke merasa terkhianati dengan tindakannya yang tidak disangka itu. Geraman kesal terdengar dari Keisuke, tetapi tidak ada yang menghiraukannya.
Keisuke dan Ken mencoba kabur dari sana, membuang tubuh Takashi ke arah mobil tersebut dan berlari sekencang mungkin. Berbeda dengan Seishu yang masih menahan Takemichi dan diam di tempat. Ia tersenyum ke kedua temannya dan berkata "kalian pergilah. Biar aku yang mengurus ini semua." Jika pria bersurai pirang itu mengatakan hal tersebut sambil mengukir senyum nya, mereka harus mempercayai Seishu sepenuhnya.
Pertempuran kali ini dimenangkan oleh pihak kepolisian. Pria berseragam polisi dan membawa speaker pun mendatangi Seishu yang masih enggan untuk melepaskan Takemichi. Dua petugas lainnya menyusul dan menangkap Seishu yang sama sekali memberikan perlawanan ke mereka. Sang pemimpin menatap pria itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Lama tak berjumpa, Kisaki Tetta."
Pria bernama Tetta itu mendekat ke samping vampir yang sedang ditangkap oleh dua anak buahnya dan berbisik. "Aku menang lagi."
Seishu dibawa paksa ke dalam mobil. Di saat bersamaan, Tetta melangkahkan kaki nya ke arah Takemichi dan mengarahkan tangan ke arahnya. Takemichi pun menyambut tangan tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada nya.
"Terima kasih, pemimpin." Setelah ia berhasil beridi dengan tegak, Takemichi melanjutkan ucapannya. "Kalau kalian tidak datang, mungkin kami sudah mati di tangan mereka."
"Jangan terlalu formal. Kisaki sudah cukup bagiku, apalagi dari teman seperti kalian.
"Kalau aku tidak menyelamatkanmu, Hinata akan sedih, bukan?"
To be continued
