"Hee.. Kenapa Seishu-onii-chan bisa sakit?"Suara rengek dengan nada bertanya terdengar jelas dari ponsel milik Mitsuya Takashi. Dirinya yang lelah, sudah tiga hari dirinya tidak tidur, harus memaksakan kemampuan bersandiwara nya ke saudara nya yang sedang menelponnya. Setelah susunan aksara yang siap untuk dilontarkan secara lisan, pria berseragam polisi dengan warna putih dan logo lembaga aparat keamanan di saku nya pun menjawab pertanyaan adiknya. "Namanya juga manusia, Mana. Pasti sakit kalau ia terlalu lelah."
"Dia bukan manusia!" Takashi membeku di tempat, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Dia adalah malaikat!"
"..astaga." Hela napas lega keluar dari Takashi. "Tapi kau benar, dia malaikat.." malaikat cantik yang telah mencabut nyawa Ibu kita.
"Ngomong-ngomong, aku tidak tahu kapan kakak mu ini bisa mendarat kasur di rumah dengan tenang. Jadi, adik-adikku yang manis, tolong kalian bisa mandiri agar aku bisa fokus dengan pekerjaanku."
"Aye-aye, captain."
Seseorang masuk ke ruangan divisi pemburu vampir tanpa mengetuk pintu. Seorang wanita berpakaian jas laboratorium merasa tak enak hati ketika orang yang ingin ia temui masih sibuk dengan ponselnya. Tetapi, tangan Takashi memberikan arah ke kursi kosong di depannya dan mempersilahkan wanita itu duduk di sana. Wanita dengan nama belakang Yasuda, tertulis di saku jas putihnya, menuruti perintah sang kapten sembari mempersiapkan berkas berisi laporan hasil uji tim nya.
Takashi kembali fokus ke suara dari ponselnya, memberikan satu pertanyaan penting sebelum menutup percakapan mereka. "Kalian sudah makan?"
"Sudah dong!"
"Mi instan bukan makan malam, Mana."
Suara gerutu dari sang adik membuat Takashi gemas. Kali ini, si sulung Mitsuya memberi sedikit kebebasan untuk kedua adiknya. "Asalkan mi nya ditambah telur dan sayuran, aku memperbolehkan kalian makan."
"Yeay! Makasih onii-chan. Dadah~"
Telepon pun ditutup dan akhirnya Takashi dapat fokus ke pekerjaannya. Tidak sepenuhnya pikiran darinya tertuju kepada tugas saat ini. Tamparan realita masih terasa baginya yang tidak menyukai fakta bahwa kekasihnya adalah penghisap darah yang sudah membunuh banyak orang di Jepang terutama kota besar seperti Tokyo. Bahkan dirinya tidak menyukai nama Inui Seishu yang terpampang di berkas miliknya dan Yasuda sebagai peneliti di laboratorium kepolisian.
"Kapten, kami turut berduka cita atas kejadian yang telah menimpa Anda."
Semua anggota kepolisian yang bekerja di bawah Takashi sudah mengetahui cerita romansa sederhana nya. Cerita skandal sang kapten dengan salah satu anggota keluarga Shiba tidak mereka hiraukan layaknya angin yang berhembus tanpa dosa. Bahkan beberapa dari mereka tak sengaja melihat sang kapten memasang foto kekasihnya sebagai wallpaper di ponselnya. Sesekali mereka tergelitik ketika melihat Takashi berkali-kali mengganti nya agar tidak terlihat orang yang mabuk dengan cinta.
Senyum lemah terlihat di wajah sang kapten, pemimpin laboratorium yang melihatnya merasa iba. "Terima kasih, Yasuda-san. Mungkin yang membuat saya tidak terima adalah masa lalu kami yang harus kehilangan seorang Ibu akibat perbuatan makhluk seperti Inui."
Tidak menggunakan nama depan seperti biasanya. Yasuda semakin sungkan untuk menyahut Takashi yang sedang mengenang masa lalu nya yang tak indah.
"Menjadi punggung keluarga di umur muda bukanlah perkara yang mudah."
Saya tahu, kapten. Yasuda sudah mengenal kaptennya semenjak ia duduk di bangku SMA. Pertemuan mereka di klub menjahit adalah hal yang tidak dapat ia lupakan. Kemampuan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh para puan terpahat di dalam diri pria berseragam polisi di depannya. Ketika Yasuda mencoba bertanya kepada salah satu temannya tentang kemampuan itu, semua masuk akal bagi nya. Si sulung yang malang harus menjaga kedua adik perempuan adalah hal yang berat.
Kepala laboratorium ingin menghibur, tetapi melihat raut wajah sang kapten yang tak ingin membahasnya lebih jauh berhasil membuat Yasuda mengurungkan niatnya. Ia pun menyerahkan berkas yang dijepit di papan jalannya ke sang kapten agar ia dapat dianalisa bersama. Lebih tepatnya, orang laboratorium akan menjelaskan semua hasil yang mereka dapatkan dan sang kapten dapat menyimpulkan agar kejanggalan misterius di tiap kasus yang sedang ia kerjakan dapat terpecahkan.
"Ada kabar baik, kami menemukan fakta baru dari uji racun gigi vampir." Takashi diam dan menyimak penjelasan wanita di depannya. Informasi yang diberi oleh Yasuda bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Takashi memakan waktu hingga dua jam. Untuk informasi banyak yang tidak diduga oleh sang kapten, durasi tersebut terasa singkat baginya.
Satu informasi yang penting bagi Takashi adalah racun dari taring Inui Seishu tidak terlalu kuat seperti punya Sanzu Haruchiyo dan Hanma Shuji, atau seperti mayat vampir lainnya yang mereka temukan di kasus yang sama. "Kandungan di racunnya memiliki genetik manusia lebih dari 50 persen. Berbeda dengan yang lainnya yang hanya memiliki kurang dari 30 persen."
"Lalu hasil uji coba lainnya?"
Takashi dapat melihat wanita di depannya meneguk ludahnya. Cahaya ruangan memang terang, tetapi itu bukan akibat dari wajah Yasuda semakin pucat. Takashi mengerutkan keningnya heran. "Yasuda-san, apakah Anda baik-baik saja?"
"A-ah, ada satu masalah yang terjadi di laboratorium." Yasuda memegang kepala nya, ekspresi kesakitan terlihat di wajah nya. Takashi yang tanggap mengambil kembali air minum dengan gelas baru. Setelah itu, ia berikan ke wanita yang sedang mengeluh kesakitan. Tetapi niat baik Takashi ditolak oleh ketua lab itu dan melanjutkan pembicaraannya.
"Memang kadar racunnya lebih sedikit, tetapi hampir 90 persen dari hewan uji kami tewas karena sel yang teroksidasi. Sisanya berhasil melewati seleksi tersebut." Yasuda tidak kembali memegang kepala nya, pandangannya fokus ke Takashi yang masih menunggu kelanjutan laporan dari nya. "Sisa hewan uji tersebut menjadi lebih ganas. Kandang yang terbuat dari kaca dapat dipecahkan oleh mereka dan menyerang salah satu anggota laboratorium. Lalu.."
Takashi meletakkan gelas berisi air ke meja nya. Hela napas berat terdengar keras dari biasanya. Sembari menunggu Yasuda melanjutkan, Takashi mengeluarkan pistol nya dan mengisi nya dengan batang berisi satu buah peluru. Suara batuk Yasuda menggema dan sempat menggentarkan mental Takashi. Terutama bau amis tercium di ruangan. "dia terinfeksi, berubah dan menyerang kami semua. Hanya aku yang selamat karena Hayashi menolongku, walaupun sedikit terlambat." Lanjut Yasuda seraya menunjukkan bekas gigitan di lengannya.
Pengakuan Yasuda berhasil membulatkan tekad Takashi untuk mengarahkan pistol ke arah kepala nya. Air mata bergulir dan membasahi wajah wanita yang sedang duduk di depannya, namun senyumannya seakan-akan senang menyambut pistol yang mengarah kepada nya.
"Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan sebelum mengundurkan diri sebagai anggota divisi pemburu vampir. Terima kasih telah mempercayakan saya selama ini, kapten." Ucapnya lirih. Di saat bersamaan, ia melirik ke arah berkas Takashi yang tertulis dua biodata anggota polisi. Ia mengetahui salah satu dari biodata tersebut. "Syukurlah. Dari dulu Hayashi ingin bergabung ke divisi ini." Hujan semakin deras, Takashi yang melihatnya harus menahan rasa perih di hati nya.
Semua hasil pasti perlu pengorbanan yang besar. Sama seperti dirinya yang mendapatkan banyak informasi dan harus merelakan para anggota laboratorium sebagai bayarannya. Termasuk Yasuda yang sudah bekerja sama dengannya dari SMA hingga mereka sama-sama menjadi anggota aparat keamanan di Tokyo. Dua anggota baru memang akan dimasukkan ke divisi nya, namun kehilangan wanita berpakaian jas putih di depannya tetap tidak dapat ditutupi oleh mereka.
"Ada kata-kata terakhir, Yasuda-san?"
"…Tolong sampaikan ke Hayashi bahwa aku menjawab 'iya'."
Bertepatan dengan selesainya ucapan terakhir dari Yasuda, suara peluru yang menembus kepala nya terdengar. Disusul oleh amukan sang ketua divisi yang menendang meja nya hingga terbalik. Suara berisik dari ruangan terdengar hingga keluar sehingga ada orang yang mendobraknya masuk.
Takashi menoleh ke arah orang yang masuk ke ruangannya. Sosok yang disebut Hayashi oleh Yasuda berdiri di ambang pintu dengan pistol ke arahnya. Seakan-akan pria itu sudah menunggu nya dari luar dan siap membantu jika ketua divisi pemburu vampir celaka.
"Peyan? Kau sudah mengetahui nya?"
Anggukan dari pria menjadi jawaban untuk pertanyaan Takashi. Ia pun melangkahkan kaki nya ke ruangan tersebut, menemui wanita yang sudah tergeletak di lantai. Cairan merah mengotori lantai, tetapi Hayashi Ryohei mengangkat tubuh wanita yang ia cintai dan memeluknya erat. Isak tangis pecah, Takashi tersakiti lagi untuk sekian kalinya.
"Salahku yang terlambat untuk menolongnya." Rengkuhan ke tubuh tak bernyawa semakin erat.
"Kejadian ini diluar kendali kita, Peyan." Ucap Takashi seraya menepuk surai cokelat Ryohei. Hujan dari Yasuda pun terasa, membasuh wajah nya yang lelah. Mungkin ini adalah pesan dari nya agar melanjutkan misi mereka. Takashi berusaha untuk berpikir jernih, tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Yasuda dan anggota lainnya yang sudah gugur.
Takashi ingin menyerah. Akan tetapi jiwa semangat para anggota sebelum mereka bertemu ajalnya menghantui pikirannya.
"Kau melamar Yasuda-san?" Ryohei mengangguk. Akhirnya Takashi mengerti maksud dari kata terakhir dari temannya yang baru saja gugur.
"Dia menyuruhku untuk menunggu ku sampai kasus ini selesai." Ujarnya di sela tangisnya. "Aku yang tidak sabar, mengajukan diri untuk bergabung dengamu, berkali-kali tetapi selalu gagal. Lalu memberikan kejutan kepadanya."
"Baguslah." Takashi mengarahkan tangannya untuk bersalaman ke Ryohei. "Hayashi Ryohei, ku perintahkan kau bersama Tachibana Naoto untuk menemuiku besok pukul delapan pagi di ruangan ini. Kalian akan di briefing oleh Hanagaki Takemichi sebagai anggota baru di divisi kami."
.
.
.
.
.
Waktu berjalan dan tidak membiarkan kapten divisi pemburu vampir mengistirahatkan dirinya. Setelah penangkapan Inui Seishu, kasus meningkat tajam dan ia kekurangan anggota. Lebih tepatnya banyak anak buahnya gugur, seperti anggota laboratorium yang bertugas di bawahnya. Ia pun harus mencari para ilmuwan di kepolisian agar dapat menggantikan Yasuda dan anggota lainnya yang tewas akibat tikus yang terinfeksi racun Inui Seishu.
Dengan bantuan Kisaki Tetta sebagai pendiri divisi ini, Takashi menerima banyak anggota baru termasuk para ilmuwan untuk mengganti tim Yasuda yang gugur akibat kecelakaan yang tidak terduga. Namun yang benar-benar ia percaya hanyalah Ryohei dan Naoto yang ia pilih secara langsung. Ditambah Takemichi sebagai anggota lama yang sedang bertugas di luar.
Ucapan Ryuguji Ken berputar di pikirannya. Terutama tentang kerja sama nya dengan Kisaki Tetta. Jika ia boleh jujur, ia tidak pernah menaruh rasa yakinnya ke pria itu. Dilihat dari histori kinerja sebagai salah satu anggota aparat keamanan, Tetta memang menjadi sosok yang patut dicontoh. Bahkan banyak kasus yang dikerjakan oleh timnya selalu sukses. Teringat kasus pembunuhan berantai yang sempat menggemparkan satu kota yang sukses dipecahkan oleh pendiri divisi pemburu vampir saat ini.
Tetapi, Takashi masih tetap tidak bisa mempercayai nya. Seakan buta dan tuli terhadap prestasi yang dioleh Tetta di pekerjaannya. Kejadian Halloween Berdarah tidak bisa dilupakan. Namun, rasa balas dendamnya terhadap makhluk penghisap darah menutupi luka yang dialami oleh dirinya dan mantan anggota Tokyo Manji lainnya. Alasan yang membuat Takashi berakhir dengan menyambut salam kerja sama nya dengan Kisaki Tetta.
Kini Takashi sedang berada di samping ruang interogasi, dimana terdapat kaca satu arah agar dapat melihat orang yang sedang di dalam ruangan tersebut. Tangannya sedang memegang lembaran kertas berisi data orang di sana, walaupun ia merasa tidak perlu karena ia sudah mengenalnya. Fakta tentang penghisap darah memang adalah hal yang baru ia tahu dari orang tersebut, tetapi ia mengesampingkan hal itu.
Inui Seishu, 22 tahun, bekerja sebagai montir setelah lulus dari masa sekolah menengah atasnya. Seisi keluarga nya tewas akibat terjadi kebakaran di kediamannya. DNA keluarga nya juga sudah keluar dan tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki gen penghisap darah yang sama seperti Seishu. Ia berkata bahwa ia berubah menjadi vampir karena seseorang menggigitnya. Hasil interogasi tersebut menjawab semua keanehan di kasusnya. Terutama uji laboratorium yang berhasil karena racun darinya.
"Karena dia bukan vampir asli, maka racunnya tidak terlalu kuat dibandingkan vampir lainnya yang berhasil kita tangkap." Walaupun kebanyakan mereka sudah menjadi mayat sebelum diinterogasi.
"Benar, kapten." Sahut wanita yang menjadi anggota di divisi nya dan bertugas di bagian interogasi. Biasanya bagian tersebut sering berhubungan dengan Tetta dan Takashi tidak menyukai nya. Ia merasa banyak informasi yang hilang setelah ketua pendiri divisi berhubungan dengan mereka yang bekerja di sana. Tetapi Takashi tidak dapat menemukan celah tersebut sampai saat ini.
Sepasang mata lavender memantau Seishu di balik kaca. Wajah yang masih terlihat santai namun kursi listrik yang ia duduki mengikatnya dengan erat. Terlihat banyak noda merah di pakaiannya membuat Takashi mengerutkan dahi nya. Seingat dia, Seishu tidak terluka di bagian lehernya. Noda darah yang mengotori kerah pakaian nya membuat dirinya bertanya-tanya.
"Kalian melakukan sesuatu kepada nya sebelum aku kemari?" Tanya Takashi ke wanita berseragam di sampingnya.
"Ketua Kisaki yang memerintahkan kami untuk menghajarnya."
"Alasannya?"
"Mengetahui seberapa lama vampir melakukan regenerasi tubuh mereka."
"Bukankah kita sudah pernah melakukannya?"
"Karena kasus Inui Seishu berbeda, kami diperintahkan untuk melakukannya lagi." Pertanyaan tegas dan terasa memojokkan dijawab oleh wanita itu dengan mudah. Didikan Kisaki Tetta memang beda. Tidak gentar walau aura Takashi sudah mengintimidasi nya.
Memijit batang hidungnya perlahan, Takashi sedang memikirkan bahan interogasi nya agar dapat menguliti hal misterius dari makhluk penghisap darah. Jika saja dia tidak bersikap profesional, Takashi akan menyerahkan tugas ini sepenuhnya ke bagian interogasi. Tetapi kehadiran Kisaki Tetta yang selalu datang ke bagian tersebut membuat Takashi resah. Ditambah kehadirannya di saat dirinya dan Takemichi pergi ke bengkel Ken. Mungkin saja Chifuyu yang memberitahukan lokasi nya kepada Tetta.
Teringat sikap loyalitas Chifuyu kepada Baji Keisuke membuat Takashi memikirkan teori lain. Ada kemungkinan Kisaki Tetta bukan menyelamatkan Matsuno Chifuyu, tetapi menangkapnya. Teori tentang Matsuno Chifuyu berubah menjadi vampir pun mungkin telah terjawab dari hasil uji laboratorium, tetapi teori barusan memperkuat hipotesis itu.
Apalagi Tetta memberhentikan tugas Chifuyu secara tiba-tiba karena dikabarkan keadaan mental nya yang rusak akibat diculik oleh Baji Keisuke. Takashi tidak mengingat bahwa anak buahnya punya mental tempe seperti itu.
"Di mana Ketua Kisaki Tetta saat ini?" Tanya Takashi lagi ke wanita di sampingnya.
"Beliau sedang berada di kantornya."
Ah, tapi tidak mungkin Kisaki meninggalkan tahanannya sendirian.
Niat berkunjung ke kediaman Kisaki Tetta langsung diurungkan oleh Takashi sendiri. Segera ia memasuki ruang interogasi dan membawa gelas plastik berisi cairan merah pekat. Polisi wanita yang melihat nya pun langsung mengerutkan dahi nya.
"Anda membawa makanan ke binatang buas yang sedang kelaparan?"
Takashi langsung menjawab. "Tidak seperti kalian, dia jinak terhadapku.
"..dan sekali lagi kalian menghajarnya, aku tidak akan segan-segan untuk memperlakukan hal yang sama dengan kalian."
Pintu ruang interogasi tertutup keras, wanita itu tak mampu membuka mulutnya untuk melawan suara itu.
Kini pandangan Takashi beralih ke pria yang terikat di atas kursi listrik. Tatapan yang sebelumnya penuh dengan kebencian kini menjadi kekhawatiran yang terdalam. Wajah Seishu yang terlalu pucat membuatnya tidak tega. Bibir tipis yang ingin bergerak pun diperhatikan sepenuhnya oleh Takashi. Ia tidak akan menyia-nyiakan untuk mendengar suara yang ia rindukan.
"Bagaimana kabar Luna dan Mana?"
Orang yang sedang duduk dan terikat di atas kursi listrik dengan tegangan tinggi, mengucapkan satu pertanyaan yang membuat Takashi merasa bersalah sudah mengucapkan hal yang tidak baik kepada nya. Namun kapten divisi tidak akan mengendorkan sikap waspada nya.
Takashi tidak menjawab pertanyaan dari makhluk penghisap darah itu. Langkah kakinya tidak menuju kursi yang terletak berhadapan dengan Seishu, tetapi mendekat hingga jarak antar mereka hanya satu jengkal tangan. Ia arahkan gelas plastik berisi darah rekannya yang baru saja tewas ke wajah rupawan itu, ujung sedotan ditekan pelan di atas bibir nya.
"Kenapa?" Takashi tahu bahwa Seishu sedang kelaparan. Namun pria itu masih sempat bertanya kepadanya.
"Aku tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan para rekan kerja ku."
Seishu yang mengerti langsung menyeruput minuman itu. Dalam hati, Takashi merasa bersyukur ketika pria itu sedikit lebih bertenaga setelah menghabiskannya.
"Akan kubuka dengan pertanyaan personal ku. Kejadian beberapa tahun lalu, kematian Ibu Luna dan Mana, apakah kau yang melakukannya?"
Seishu mengerutkan dahi nya. "Aku sedang bersama mu kalau kau lupa."
"Kau mengetahui pelaku nya?"
Seishu menggeleng pelan dan membisu, membiarkan kursi listrik bereaksi dengan kejujurannya. Takashi yang memerhatikannya pun memberi kesimpulan bahwa Seishu tidak sedang berdusta kepada nya.
"Aku tidak memiliki kemampuan seperti itu."
"Lalu apa kemampuanmu?"
"Aku juga tidak tahu." Kursi listrik tidak bereaksi. Tetapi Takashi khawatir dengan jawabannya.
"Aku khawatir kau akan disiksa kembali oleh anak buah ku kalau jawabanmu seperti itu."
"Kenapa kau khawatir dengan pelacur seperti ku? Mereka melakukannya karena tugas mereka, bukan?"
Napas Takashi tercekat. Memori diputar kembali di pikirannya, Takashi membenci kata itu keluar dari mulutnya dan mengenai pria yang ia cintai. Penyesalan selalu datang di akhir. Tetapi dirinya tidak bisa berbuat apapun untuk dirinya yang sudah diselimuti oleh kekecewaan.
Takashi memilih untuk tidak membalas pertanyaan Seishu. Kini ia mengajukan satu pertanyaan penting yang tidak pernah dijawab jujur oleh Seishu. Sengatan listrik di kursi itu memang mematikan, tetapi tidak bisa membunuh makhluk penghisap darah yang memiliki kemampuan regenerasi sel yang cepat.
Tapi tetap saja rasa sengatannya sangat kuat. Takashi sedikit mengagumi kemampuan Seishu yang dapat menahan rasa sakit seperti itu.
"Apakah Chifuyu juga menjadi bagian dari kalian?"
Hening. Seishu enggan berkata jujur, tetapi Takashi tahu bahwa pria itu sudah letih menahan rasa sengatan listrik. Mungkin vampir bisa mati jika mereka kelelahan.
"Takashi.. aku kedinginan.."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Kumohon.." Suara Seishu terdengar lirih, melunturkan sikap profesional Takashi yang sudah dibentuk dari awal masuk ke kepolisian.
Kebiasaan mereka, ketika Seishu suka mengeluh kedinginan, Takashi akan mengusap punggung tangannya dengan lembut. Merengkuh tubuhnya bila perlu. Namun Takashi masih ingin hidup dan tidak tersengat listrik dari kursi khusus tahanan. Jadi ia hanya memegang tangan ramping yang kasar akibat pekerjaan kerasnya dan mengusap punggung tangannya dengan hati-hati.
Wanita yang bertugas di bagian interogasi sedang memerhatikan sepasang kekasih di balik kaca satu arah. Earphone yang ia pakai adalah suara dari dalam ruangan yang disadap. Tidak ada suara selama lebih dari satu menit. Ia merasa ada kejanggalan di sana namun sebagian dirinya berpikir bahwa mereka sedang menuangkan rasa rindu nya.
Sampai suara Takashi tertangkap oleh telinga nya dan berkata. "Aku tidak akan bisa memaksa mu karena hubungan kita. Akan kuserahkan anak buah ku untuk mengurusmu."
Rasa curiga terhadap kaptennya semakin meningkat.
Sudut pandang cerita beralih lagi ke ruang interogasi, dimana terlihat wajah Seishu yang penuh dengan rasa pasrah. Akan tetapi pria itu tetap mampu membalas ucapan Takashi. "Maafkan aku."
"Aku juga." Takashi berbalik arah dan menuju ke pintu ruangan untuk keluar. "Semoga kau masih diberi kehidupan, Seishu." Bisiknya pelan dan Seishu dapat mendengarnya. Senyum manis terukir di wajah indahnya, luka hati Takashi semakin lebar karena nya.
Setelah keluar dari ruangan, Takashi sudah disambut oleh anak buah yang bekerja di bagian interogasi dan kepala pendiri divisi pemburu vampir. Sudah berkali-kali dirinya harus mengerutkan dahi nya menghadapi keanehan di tempat kerja nya.
"Ada apa, Kisaki?" Tanya Takashi tanpa basa-basi.
Pria berkacamata itu memberitahu nya pesan yang tak terduga. "Inui Seishu akan dibebaskan hari ini."
"Dia baru tiga hari ditahan dan kau membebaskannya dengan mudah?" Takashi menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ingin rasanya ia menghajar wajah pria di depannya dengan gelas plastik yang ia pegang, tetapi itu sama saja dirinya melawan atasannya.
"Kau sangat lucu, Kisaki." Tawa ejek keluar dari Takashi. Wanita yang sedang di samping Tetta menatapnya tajam. "Kau disuap oleh siapa kali ini?"
"Menukar informasi jika saya diizinkan untuk mengoreksi Anda, kapten."
"Kau." Jari telunjuk di arahkan ke wajah wanita yang tidak sopan kepada nya. "Aku bisa saja menghancurkanmu kapan saja sebagai ketua mu. Tutup alat bicaramu sebelum aku tidak dapat mengendalikan emosi ku."
Tetta yang tidak ingin konflik kecil menjadi lebih besar pun menepuk pundak wanita yang membela nya. Wanita itu pun menyingkir dan membiarkan atasannya menghadapi amarah sang kapten.
"Mitsuya, itu benar. Ini adalah hasil negosiasi ku dan Inui Seishu harus kita relakan."
Takashi berdecih kesal. "Oke. Jadi siapa yang bisa mengalahkan si raja negosiasi Kisaki Tetta ini?" Tanya nya dengan sindiran yang terselip di sana.
"Kokonoi Hajime, petinggi perusahaan bahan kimia yang bekerja sama dengan kepolisian."
Tentu saja ia mengenal nama tersebut. Selain sering dipuja-puja banyak orang kantornya, nama itu juga sempat diucapkan di kegiatan ranjangnya bersama Seishu.
.
.
.
.
.
Dari ruang interogasi, kini Inui Seishu dipindahkan ke ruang yang lebih luas dan tidak duduk di atas kursi listrik. Tangannya masih diborgol tetapi Takashi tahu bahwa pria itu lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Ruang ini seharusnya banyak tahanan yang akan menemui keluarga nya. Akan tetapi, Takashi meminta untuk mengosongkan ruangan tersebut untuk kali ini saja. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan kepanikan para tahanan ketika ada vampir di sini.
Tahanan vampir dan manusia memang sudah dipisah, namun baru kali ini vampir dipertemukan oleh tamu luar. Pertemuan Inui Seishu dan Kokonoi Hajime dirahasiakan sehingga hanya petinggi kepolisian dan divisi pemburu vampir yang mengetahuinya. Sembari menunggu tamu yang ditunggu, Takashi membaca berkas hasil interogasi nya kembali.
Tetapi ia tak sempat menganalisa kumpulan kertas tersebut karena bunyi pintu terbuka terdengar. Takashi melirik ke arah Seishu yang duduk dengan wajah datarnya, berusaha keras agar tidak ada ekspresi yang terbaca oleh Tetta maupun dirinya yang sedang menemani Seishu. Namun usaha nya terlihat sia-sia bagi Takashi yang sudah lama bersama dengannya.
Kau diselamatkan oleh orang yang kau cintai dari dulu. Kenapa kau harus bersedih?
Tamu yang ditunggu sudah memasuki ruangan. Rambut hitam dengan model kuncung di setengah poni dan beberapa kepang menjadi ciri khas pria paling berharta di Tokyo. Takashi sangat ragu dengan selera nya.
"…lama tidak berjumpa, Akane-san."
Tatapan Seishu semakin redup. Takashi dapat melihatnya dengan jelas.
Hajime mendekati pria yang sedang duduk di tengah ruangan. Ketika tubuhnya sangat dekat dengan kehadiran vampir itu, tangan Hajime langsung menangkup wajah rupawan di hadapannya. Perlakuannya sangat lembut, ibu jari yang mengelus pipi nya dengan kasih, sesekali rambut pirang Seishu diselipkan di belakang daun telinga nya. Oh, tangan Takashi sudah gatal untuk mengeluarkan pistol ke arah pria itu.
"Kau terlihat pucat, Akane-san."
"Namanya Inui Seishu. Saya tidak tahu Anda punya penyakit mata." Takashi baru sadar bahwa dirinya terlalu berani telah menyela salah satu orang paling berkuasa di Tokyo. Bahkan seisi ruangan, termasuk Seishu, takjub melihat jiwa jantan Takashi keluar di waktu yang tidak tepat. Hajime yang mendengar celaan Takashi langsung menghampiri nya. Dengan tinggi yang hampir sama, Takashi sama sekali tidak terintimidasi.
Takashi merasakan jari telunjuk Hajime menekan dada nya dengan keras, layaknya peringatan ringan untuk dirinya. "Kau beruntung aku sedang senang bertemu Akane-san. Ingat tempatmu, kapten divisi pemburu vampir."
Takashi tidak membalas dan membiarkan Hajime kembali ke Seishu.
"Akane-san, cinta pertama ku.."
Takashi sudah muak mendengarnya. Tetapi ia tidak akan keluar dari ruangan sebelum Seishu bebas dari masa tahanannya.
"Kau lapar, kan? Pelayanku sudah menyiapkan makan untukmu."
Tidak ada jawaban, Hajime terlihat tidak suka karena merasa diabaikan oleh Seishu.
Hajime yang masih terpesona dengan keindahan wajah milik Seishu, dapat mengesampingkan rasa kesalnya dan mencium bibir pucat itu pelan. Sengaja memperlama hingga urat kesabaran Takashi hampir putus dibuatnya.
"Oi, Kisaki. Aku akan langsung mengambilnya. Berkas-berkas yang berkaitan dengannya akan kuurus belakangan."
Tetta mengangguk paham dan menjawab titah dari Hajime. "Baik, Tuan Kokonoi. Akan ku perintahkan bawahanku untuk melakukannya."
Tetta melangkahkan kaki nya menuju Seishu untuk melepaskan rantai yang mengikat di kedua tangannya. Hajime pun langsung mengambil pria itu tanpa menunggu waktu.
Takashi memerhatikan Seishu, lebih intens dibandingkan sebelumnya. Bahkan gerakan bibir tipis itu dapat diartikan oleh dirinya sendiri. Sebagai kode untuk melanjutkan tugasnya.
Dirinya yang paham langsung menuju ke ruangannya. Beruntung letak ruangannya tidak terlalu jauh sehingga langkah kaki nya tidak terlihat buru-buru. Ia merasa bahwa Tetta tidak akan menyadari nya.
Sembari melangkah ke ruangannya dengan cepat, Takashi mengambil ponselnya dan menghubungi Takemichi. Berkali-kali sambungan telepon terputus, membuat dirinya semakin buncah. Bahkan pintu ruangannya sudah di depannya, telepon masih tidak dapat menyambung ke nomor kontak Hanagaki Takemichi.
Takashi membuka pintu nya, disambut oleh Hayashi Ryohei dan Tachibana Naoto. Kapten divisi melihat ruangannya menjadi rapi. "Aku ingin berterima kasih dan mentraktir kalian. Tetapi waktu nya tidak tepat." Takashi melirik ke arah Ryohei. "Peyan, bukannya aku menyuruhmu memanggil Naoto besok, bukan hari ini?"
Belum sempat menjawab, Naoto menepuk pundak Ryohei untuk diberikan izin berbicara kepada sang kapten. Ryohei pun mengangguk dan mempersilahkan pria itu membuka mulutnya. Mimik muka yang terlihat resah dari Naoto membuat Takashi merasakan firasat buruk.
"Mohon maaf saya datang di waktu yang tidak tepat. Kehadiran saya ke sini ingin menyampaikan berita buruk yang berkaitan dengan misi ini.
"Hanagaki Takemichi memberikan ku pesan sebelum ia menghilang.." Naoto mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan layarnya ke Takashi. Di sana ada pesan singkat dari Hanagaki Takemichi yang tertulis di sana. Kelopak mata sang kapten terbuka lebar setelah melihat isi pesannya.
"Naoto, Peyan, akan kuserahkan misi pertama kalian sebagai anggota divisi pemburu vampir. Misi ini sangat berat dan membutuhkan keahlian menembak kalian."
Kedua anggota mengangguk perlahan dan menyimak perintah dari sang kapten. "Kita akan berpencar untuk pergi ke kediaman Kisaki Tetta dan Kokonoi Hajime. Misi akan dimulai satu jam setelah waktu kerja sudah berakhir."
Cerita berputar balik ke bagian interogasi Inui Seishu, di saat Takashi memegang tangannya.
Kapten divisi merasakan sengatan yang tajam, tetapi ia tahu bahwa sengatan ini bukanlah sengatan dari kursi listrik yang diduduki oleh Seishu. Kepala nya terasa pusing, tetapi suara yang muncul di pikirannya memaksa untuk fokus dan menyimaknya.
"Mitsuya, ini Draken. Kau benar, Chifuyu berubah menjadi vampir dan Keisuke telat untuk menolongnya. Tapi bukan itu yang ingin ku sampaikan..
"Mungkin kau akan sadar kalau Kisaki tidak bisa dipercaya setelah mengetahui hal ini. Takemichi ditahan oleh Kisaki bersama dengan Chifuyu.
"Kau pasti bertanya kenapa dia menahan Takemichi yang tidak pernah mengkhianati kepolisian. Kau akan menemukan jawaban itu setelah kau menyelamatkan mereka berdua..
"Atau kau juga harus menyelamatkan Seishu yang sebentar lagi akan diambil paksa oleh vampir lain."
To be continued
