Permukaan kulit Seishu bagaikan es yang tak akan mencair dengan kehangatan yang diberikan oleh Takashi. Diam-diam ia meringis dengan hawa beku dari makhluk penghisap darah yang sedang duduk di kursi listrik milik kepolisian. Teringat sosok puan yang telah melahirkan dirinya dan kedua adiknya, terbunuh oleh kerakusan makhluk seperti Seishu. Sekilas yang menyakitkan, karena sengatan tiba-tiba datang menyadarkan Takashi dari memori masa lalu nya.

Terutama suara Ken, sahabat lamanya, menyusul getaran tajam yang singkat.

Takashi, sembari mengusap punggung tangan Seishu dengan ibu jarinya, memusatkan fokusnya ke penjelasan Ken tentang semua yang sudah terjadi. Pertama dari klarifikasi tentang Matsuno Chifuyu yang tidak sengaja berubah menjadi bagian dari mereka, Hanagaki Takemichi yang ditangkap bersamaan oleh Kisaki Tetta, hingga nasib vampir yang sedang duduk di hadapannya setelah interogasi ini usai.

"..atau kau juga harus menyelamatkan Seishu yang sebentar lagi akan diambil paksa oleh vampir lain." Takashi tahu bahwa Ken sengaja menggunakan nama depan kekasihnya, mengingatkan kebiasaan Takashi yang hampir pudar akibat kekecewaan.

"Draken! Aku tidak ingin menjadi beban!" Sudah pasti sebagai perantara, Seishu dapat menimbrung percakapan tak bersuara mereka.

"Inupi! Sadarlah, kau yang selalu membebani dirimu sendiri." Takashi dapat mendengar hela napas kesal di sela ucapannya. "Koko sudah gila. Kau bisa mati di tangannya."

"…dia mencintai ku karena aku mirip dengan Akane."

"Benar, kalau dia belum sadar bahwa kau bukan kakakmu." Lubang besar di tengah perdebatan. Takashi dapat merasakan bahwa tangan Seishu bergetar, ragu dengan rencana naif nya sendiri.

"Tapi aku masih ingin mencintai nya." Sesuatu menusuk tepat di jantung Takashi setelah tutur jujur itu keluar dari Seishu. "Izinkan aku untuk mencintai nya sebelum aku membunuhnya."

"Kau yang akan terbunuh, Inupi."

"Aku kuat seperti kalian kalau kau lupa."

"Kau saja tidak tahu kemampuan asli mu."

"Aku yakin bahwa Koko akan lengah akibat fakta itu."

"Mau sebagus apapun kau beropini, semua bergantung pada Mitsuya." Setelahnya, Takashi pun mengikuti permintaan Seishu dan menghindari protes dari Ken. Jika Seishu sudah yakin, untuk apa dirinya tidak mau menaruh kepercayaan kepada nya.

Waktu bergerak seirama dengan perubahan manusia. Setelah bertemu dengan Kokonoi Hajime, Takashi bertekad untuk menolong nya tanpa memikirkan bayaran yang akan menimpa nya.

.

.

.

.

.

Tiga puluh menit sebelum jam kerja berakhir, namun tiga pria yang sedang di ruang divisi pemburu vampir masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Seperti Ryohei yang berusaha membuat CCTV di ruangan menjadi malfungsi, hanya memutar potongan rekaman berulang agar tidak dicurigai. Sedangkan Naoto dan Takashi sedang meneliti berkas-berkas data Kisaki Tetta dan Kokonoi Hajime. Berterima kasih kepada Naoto yang sudah meretas beberapa data penting dengan cekatan. Dilihat dari luar, Naoto memang ulung dalam hal seperti ini. Berbeda dengan Hayashi Ryohei yang terlihat tidak meyakinkan.

"Jadi, sebenarnya kita tidak bisa menyelidiki kediaman Kokonoi Hajime karena kita kekurangan anggota.."

"Bukan." Takashi mengoreksi anak buah yang sedang memegang dua data. Ia pun mengambil berkas yang tertulis nama Kokonoi Hajime di sana. "Kau dan Peyan yang pergi ke Kisaki. Sedangkan aku pergi ke orang ini.."

"Kapten, datang ke sana sendirian itu berisiko."

"Panggil Mitsuya saja, Naoto."

"Mitsuya-kun, datang ke sana sendirian itu berisiko." Selain membenarkan panggilannya ke Takashi, Naoto hanya mengulang pendapatnya. Setelah mendengarkan penjelasan tentang makhluk yang mereka buru dari kaptennya, anggota baru itu semakin waspada. Sama seperti Ryohei yang berubah menjadi pendiam, sangat asing bagi Takashi yang sudah mengenal Ryohei dari masa kecilnya.

Mungkin kematian orang terkasih membuatnya terpukul hebat. Pria berhelai rambut silver pun tidak dapat membayangkan bila ia berada di posisi temannya. Maka dari itu, aksi nekat menyelamatkan Inui Seishu terlintas di pikirannya.

Mitsuya Takashi terkenal dengan kepala dingin dalam memutuskan suatu tindakan. Namun hari ini ia bersikap di luar karakternya. Naoto yang dulunya mengagumi sikap seperti itu merasa sedikit kecewa. Takashi dapat merasakannya di balik ekspresi datarnya.

Suasana kantor tak membiarkan keheningan berlangsung lama. Suara pengeras suara yang terletak di ujung ruangan membuyarkan pikiran tiga pria yang ada di ruangan. Shift kerja belum berakhir, anggota baru yang resmi dilantik Tetta mulai bekerja esok hari. Divisi ini sangat kekurangan anggota dan belum siap untuk menerima tugas lagi.

"Dua makhluk vampir menyerang di daerah Distrik Shibuya! Diharapkan Divisi Pemburu Vampir segera ke tempat!"

"Dua makhluk vampir menyerang di daerah Distrik Shibuya! Diharapkan Divisi Pemburu Vampir segera ke tempat!"

"Dua makhluk vampir menyerang di daerah Distrik Shibuya! Diharapkan Divisi Pemburu Vampir segera ke tempat!"

"…ck sial."

"Bagaimana ini, Mitsuya? Kita masih belum memastikan rencana nya." Ryohei mulai panik, begitu pula yang lainnya. Suara dari pengeras suara masih mengulang titah hingga Takashi muak mendengarnya. Segera ia menekan tombol di meja, memberi pesan bahwa mereka menerima tugas tersebut. Setelahnya, suara itu hilang karena sudah menerima pesannya.

Tanpa bersuara, Takashi bangkit dari tempat duduknya. Mengambil pistol yang sudah diisi peluru, diikuti dua bawahannya lalu keluar dari ruangan. Mereka terburu-buru hingga melupakan sesuatu yang penting. Pintu tidak dikunci dan kamera pengintai masih memutar video tiga pria duduk di depan meja dengan tenang.

.

.

.

.

.

.

Mereka, tentu saja, tidak dapat menggunakan kendaraan roda empat untuk pergi ke Distrik Shibuya. Penduduk yang memadati jalanan membuat mobilitas mereka terhambat. Tiga polisi pun akhirnya menggunakan motor polisi mereka, berpencar di sela-sela gedung. Informasi yang mereka dapatkan bahwa ada dua vampir menyandera pengunjung di pusat perbelanjaan dan mengancam akan memangsa mereka semua jika divisi pemburu bangsa mereka dibubarkan.

Lantas, apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka harus berpencar? Sedangkan para polisi yang sudah mengelilingi pusat perbelanjaan, menenangkan warga yang ada di sekitarnya, menunggu kedatangan mereka.

"Mitsuya, kau sudah mematikan sistem navigasi di motor kalian?" Suara Ken yang datang dan menggema di pikiran sang kapten menjadi penyebab mereka melakukan rencana mereka.

"Kau harus berterima kasih kepada otak kecil Peyan yang sudah mengakali navigasi milik kami." Takashi lelah jika ia berbicara tanpa mulut yang bergerak. Ken masih mampu berkomunikasi dengannya. Dalam hati, Takashi kagum dengan kelebihan yang dimiliki oleh teman lama nya.

"Jangan memuji ku tiba-tiba. Kau mengerikan."

Hampir saja Takashi jatuh dari motornya. "Aku tidak terima ucapan itu dari orang yang bisa membaca pikiran." Hening sejenak, setelah itu disusul dua tawa renyah yang terdengar hangat bagi Takashi. Hanya terpisah tiga hari setelah konflik terjadi, tetapi rasa rindu nya dengan sahabat tak dapat dibendung.

"Sialan, kita masih sempat tertawa di tengah keadaan tiga nyawa teman kita yang terancam." Takashi menarik rem nya ketika ia menemukan gedung kosong di ujung Shibuya. Sebelum masuk bersama kendaraannya, sepasang mata ia gunakan untuk menyisir lingkungan di sekitarnya. Memastikan tidak ada satu orang pun yang tahu. Temannya memang cerdik dalam memilih tempat yang sepi walaupun di kota yang tak pernah kenal dengan keheningan.

"Dua anak buahmu sudah sampai di sini. Kau masuk saja."Takashi pun memasuki gedung tersebut. "Jangan membuang waktu lama. Setidaknya aku ada teman untuk menahan amukan Baji."

Satu masalah baru yang merepotkan, batin Takashi.

Setelah masuk ke gedung yang sudah tak bernyawa, Takashi tetap bersiaga sembari memerhatikan sekitarnya. Senjata sudah di tangannya dan terisi peluru, langkah kaki pun terdengar ringan hingga hampa tak dapat menangkap suara nya. Sepasang alat indera pendengarnya menangkap suara yang tak asing baginya. Ia pun menuju ke sumber suara dan menemukan dua teman lama beserta dua pria yang berseragam sama dengannya.

Suara tak asing itu berasal dari ponsel yang dipegang oleh Ken, terdengar wanita seperti pembawa acara berita. Semakin mendekat, narasi yang dibawakan oleh wanita itu terdengar jelas bahwa mereka sedang liput di daerah pusat perbelanjaan di Shibuya. Sudah pasti tentang dua makhluk vampir yang menyandera pengunjung di sana.

"Aku kira kalian yang melakukannya agar kami bisa keluar dari pengawasan Kisaki."

Ruangan minim cahaya, tapi Takashi mampu melihat Ken mengerutkan dahi nya. "Kami bukan kriminal, Mitsuya."

"Kalian tetap buronan di mata kami." Balas Takashi cepat, tetapi suasana tidak tegang seperti sebelumnya. Semua orang di sana tahu bahwa tiga anggota polisi ini sudah bertekad untuk mengkhianati atasannya sendiri.

Banyak bukti kuat yang mampu membuka mata seorang kapten Mitsuya Takashi. Kesal karena dia sudah terperangkap di rencana Kisaki, tetapi ada rasa syukur karena ia disadarkan oleh teman-temannya. Juga rasa lega bahwa temannya tidak pernah mengkhianati dirinya, walaupun kekecewaannya tentang dusta mereka terhadap Takashi masih membekas di dalam dirinya.

Takashi mengesampingkan rasa personal nya. Sepasang mata nya memerhatikan kembali semua orang yag ada di dalam gedung remang. Takashi baru menyadari bahwa ada seorang pria bertubuh besar, menggunakan jaket hitam besar, dan kepala nya tertutup oleh hoodie dari jaket yang ia kenakan.

Takashi yang tak dapat menebak identitasnya pun bertanya kepada Ken. "Dia siapa?"

Belum sempat Ken menjawab, pria besar itu langsung melepaskan hoodie nya dan mengulurkan salam ke arah sang kapten. Takashi tidak dapat membohongi dirinya sendiri karena terejut dengan eksistensi pria di depannya. "Yo, sepertinya aku tidak perlu memberitahukan nama ku, bukan?"

"A-Akashi Takeomi?" Takashi langsung menajamkan pandangannya ke arah Ken. "Apa maksudmu ini, Draken?"

"Kau lihat saja taring orang tua di depanmu."

Takashi langsung melihatnya dan menyadari bahwa pria di depannya juga memiliki taring tajam seperti Ken dan Keisuke. "Aku merasa paling bodoh di sini."

"Memang." Keisuke yang duduk di ujung ruangan menyahut kesal terhadap keluhan yang dilontarkan oleh Takashi.

Takashi yang emosi nya terpancing akibat Keisuke pun melangkah ke arahnya, mengabaikan salam yang diberi oleh Takeomi. Suasana kini menjadi tegang. Semua yang memerhatikan sebenarnya mengerti dengan keadaan mereka berdua. Dua dari tiga teman yang nyawa nya terancam adalah orang yang paling berharga bagi dua pria yang sedang menatap tajam satu sama lain.

"Aku tahu Chifuyu sedang dalam keadaan berbahaya. Tapi tenangkan dirimu untuk sekali ini saja, Baji." Takashi terlihat ingin damai dan tidak mau adanya pertengkaran karena hal kecil seperti ini. Tetapi ekspresi nya tak dapat disembunyikan oleh Keisuke yang sedang menatapnya.

Keisuke terkekeh, mengejek Takashi dengan tawa kecilnya. "Kau butuh kaca untuk bercemin? Aku bisa membawakannya untukmu." Ia pun bangkit dari duduknya dan mengintimidasi temannya dengan tinggi badannya yang tak jauh beda. Walaupun begitu, badan Keisuke yang besar membuat aura dominasi nya lebih kuat dibandingkan pria berpakaian polisi di depannya.

Takashi tak pernah takut dengan Keisuke. Status sebagai penghisap darah juga dapat diabaikan olehnya. Senjata api yang masih di tangannya langsung ia arahkan ke Keisuke tanpa pikir panjang. Di saat bersamaan, ia merasakan ujung kuku dingin di lehernya. Tak ada yang berani menjadi penengah di konflik mereka berdua.

"Peluru lebih cepat dibandingkan kuku mu."

Terdengar geraman dari Keisuke. "Aku bisa bergerak lebih cepat."

"Kau terlalu percaya diri atau terlalu bodoh?"

Pria yang tadinya diabaikan oleh Takashi kini sukarela menjadi penengah di tengah konflik mereka. "Ya ya ya. Ayo anak muda. Hentikan perkelahian kucing kalian." Suara Takeomi terdengar santai, bahkan dua pria berseragam polisi selain sang kapten merasa tenang dengan keberadaannya. Berbeda dengan Takashi dan Keisuke yang terintimidasi dengan suara Takeomi. Hawa mencekam mampu mencekik tenggorokan mereka hingga tak mampu melontarkan protes mereka.

Takashi menurunkan senjata nya, begitu pula Keisuke yang menjauhkan kuku nya dari leher Takashi. Senyum puas terukir dari wajah Takeomi. Lalu sepasang telapak tangan mendarat di atas kepala mereka, mengelus kasar agar epala mereka dapat berfungsi lebih baik.

"Dasar anak muda. Semangat kalian membuatku sedikit kewalahan." Takeomi melanjutkan tuturnya sembari memerhatikan dua pria yang lebih muda darinya. "Tapi aku suka ini. Seharusnya kuajak Senju untuk melihat masa muda yang membara."

Dua tangan kini beralih ke pundak mereka. "Jangan khawatir. Matsuno Chifuyu dan Inui Seisu terlalu sulit untuk dibunuh. Percayalah, mereka kuat."

"Bagaimana dengan Takemichi-kun?" Naoto bertanya dengan nada khawatir. Ia tidak ingin kakaknya sedih jika calon suami nya tidak dapat diselamatkan.

"Salah sendiri dia lemah. Dia beruntung bahwa dirinya ditangkap bersama Matsuno." Hela napas keluar dari Takeomi. "Aku tidak mengerti kenapa Senju tertarik kepada Hanagaki. Yah, tapi kami juga membutuhkan anak itu untuk gabung bersama kami."

Takashi menatap Takeomi dengan pandangan penuh dengan tanya. Seorang Hanagaki Takemichi menjadi tujuan utama seorang Takeomi untuk bekerja sama dengan Ryuguji Ken. Ia sedikit mengetahui bahwa hubungan Ken dan pria lebih tua itu dekat karena seorang Sano Sinichirou. Tapi tetap saja, orang akan bekerja sama jika ada keuntungan baginya.

Suara pembawa acara dari ponsel Ken membuat Takashi mengesampingkan penasarannya terhadap tujuan Takeomi. Ia pun menghampiri temannya dan menyimak berita yang sedang ditayangkan secara langsung. Berita itu menampilkan keadaan di dalam pusat perbelanjaan lewat kamera pengintai. Terdapat dua pria tinggi yang berdiri di tengah pengunjung yang sedang tengkurap dan mengamankan leher mereka dengan kedua tangan. Sudah dapat dipastikan bahwa kedua sosok itu adalah makhluk penghisap darah yang menyandera pengunjung di sana.

Sebenarnya Takashi lelah dengan kejutan yang datang bertubi-tubi dan menyerang batinnya. Namun ia tetap saja terkejut bahwa dua pria itu adalah orang yang ia kenal semasa sekolahnya. Mereka adalah salah satu yang berpartisipasi menjadi saksi bentroknya Valhalla dan Tokyo Manji, juga mantan anggota Tenjiku.

"Ada berapa korban yang sudah dibunuh oleh mereka?" Tanya Takeomi kepada Ken.

"Sepuluh. Bertambah satu karena ada beberapa polisi berhasil menyusup dan mencoba untuk menembak salah satu di antara mereka, tepat di kepala."

"..dan sudah pasti mereka masih hidup." Tanggap Takeomi enteng. "Dua Haitani bersaudara itu tidak akan mati jika tidak dibunuh sekaligus. Apalagi gerakan mereka terlalu cepat dan kuat."

Ken mematikan ponsel nya, fokus ke Takeomi. "Sepertinya kau benar. Kisaki memancing pasukan Mitsuya dengan dua Haitani."

"Apa maksudmu?" Takashi bertanya.

Takeomi menggaruk kepala nya. Sepertinya pria berusia sepuluh tahun lebih tua dari Takashi lelah untuk mengulang penjelasannya lagi. "Singkatnya, pembentukan Divisi Pemburu Vampir adalah rencana Kisaki untuk membunuh kalian bertiga dan menguasai dunia."

Takeomi menunjuk ke arah sang kapten Divisi Pemburu Vampir. "Mitsuya Takashi, Matsuno Chifuyu, dan paling penting adalah Hanagaki Takemichi." Takeomi menurunkan telunjuknya. "Sebenarnya aku hanya memperdulikan Hanagaki tetapi dua orang lainnya juga bahaya jika Kisaki memanipulasi dan menjadikan kalian sebagai sekutu nya."

Takashi mengerutkan dahinya. "Aku semakin tidak mengert."

"Intinya kalian akan celaka jika Kisaki masih di sekitar kalian." Ken membantu Takeomi untuk menjelaskannya dengan singkat. Mereka tidak punya waktu lebih untuk membahas ini. Tapi ia sempat mengeluarkan satu pertanyaan ke Naoto yang masih bersikap pasif di antara mereka. "Oi, Takemichi tidak pernah bercerita tentang apapun mengenai tugasnya sebagai anggota kepolisian di Divisi nya Mitsuya?"

Naoto menggeleng dan menjawabnya dengan jujur. "Tidak ada."

"Berarti Takemichi baru menyadari kebenarannya pada saat malam itu." Ken sempat mengingat bahwa Takemichi berbicara kepada Kisaki setelah menangkap Seishu. Takashi yang juga memutar memori nya pun menyadari bahwa Takemichi tidak ikut ke mobil Takashi, melainkan ikut memasuki kendaraan Kisaki bersamaan dengan Chifuyu.

"AAAKHHH! SIAL!" Suara teriakan dari Ryohei mengejutkan mereka yang sempat termenung. Takashi langsung bertanya ke anak buahnya yang berhasil memecahkan suasana hening di sana.

"Mitsuya, kamera pengintai nya.. kamera pengintai di ruangan kita.."

Anjing.

"Draken, Baji, Takeomi, kita harus cepat menyelamatkan mereka." Wajah ketiga polisi berubah menjadi pucat. Ken dan Keisuke merasakan ada hal buruk yang telah terjadi.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kita memang harus bergerak cepat." Takeomi menoleh ke arah Ken. "Kau jangan sekali-kali bertelepati ke Inupi dan Chifuyu."

"..apa maksudmu Draken tidak boleh menggunakan kekuatannya?" Takashi menaikkan nada nya ke Takeomi. Kekuatan Draken adalah kunci mereka untuk menemukan sosok Seishu, dan itu merupakan hal yang penting bagi Takashi.

"Kekuatan Kokonoi Hajime adalah dapat mengendalikan tubuh seseorang jika ia sudah mencicipi darah korban. Lebih parahnya, dia dapat membaca pikiran korban sehingga bisa menjadi bahaya jika Draken menggunakan telepati nya."

"Jika Inui-kun tidak memberikan darahnya ke Kokonoi Hajime, seharusnya tidak masalah, bukan?" Naoto bertanya. Ia yakin jika ada perkelahian terjadi antara mereka, Seishu bisa mencegah hal tersebut.

"…." Takashi menyadari bahwa Ken ragu untuk menjawab pertanyaan dari salah satu anak buahnya. Dengan tidak sabar, ia menarik kerah baju Ken dan memaksa pria itu agar dapat berbicara.

"Mitsuya, tolong ingat ini sebelum kau mendengar penjelasanku." Kedua tangan ia daratkan di atas dua bahu tegap temannya, Ken langsung melanjutkan bicara nya. "Inupi berusaha untuk mencintai mu."

"Berarti selama ini aku bertepuk sebelah tangan?"

"Bukan! Dia hanyalah pria bodoh yang tidak sadar dengan perasaan asli nya." Pegangan di bahu nya mengerat, ekspresi terluka terlukis di wajahnya. Begitu pula Keisuke. "Kegiatan seksual mereka sangat tidak sehat. Bayangkan saja, Koko menyiksa pembuluh darah Inupi tanpa menyentuhnya."

"Bukan hanya dapat mengendalikan gerakan, si sinting itu bisa tahu lokasi Inupi. Bahkan selama ini dia tahu bahwa Inupi bekerja di tempat Draken." Lanjut Takeomi menjelaskan

"Kenapa dia tidak segera mengambil Seishu?"

"Kami juga tidak tahu. Kemungkinan masalah personal nya yang masih tidak ingin menerima kenyataan." Balas Ken jujur.

Keisuke menyela pembicaraan, menghampiri Takeomi yang menjadi otak rencana mereka. "Kalian selamatkan saja Inupi. Biar aku sendiri yang menyelamatkan Chifuyu."

"Aku tahu kau bodoh, tapi jangan sekarang, Keisuke." Takeomi memijat kepala nya. "Astaga, memang benar kata Shinichirou. Kau memang bebal."

"Aku bisa menghajar anak buah Kisaki seperti hari Halloween Berdarah." Keisuke masih keras kepala. Tapi Takeomi masih bisa menahan usaha nya. "Kalau fisik, memang kau juara nya. Kalau otak, kau kalah telak."

Keisuke pun terdiam, ucapan Takeomi benar adanya.

Hela napas lelah lagi-lagi keluar dari mulut Takeomi. Dia tidak berbohong jika ia kewalahan dengan masa muda mereka. "Beruntung anak Tachibana ini sudah pernah bekerja di bawah Kisaki. Jadi kita bisa masukkan dia di kelompok penyelamatan Matsuno dan Hanagaki."

Takeomi menunjuk satu persatu orang yang ada di ruangan. Rencana mereka semua bergantung kepada orang yang lebih berpengalaman.

"Keisuke dan Tachibana ikut denganku untuk menyelamatkan Hanagaki dan Matsuno. Sisanya ikut Draken untuk menyelamatkan Inupi." Semua mengangguk setuju, respon yang diharapkan oleh Takeomi.

"Di sini banyak pintu keluar. Kita bisa berpencar agar tidak menimbulkan curiga orang-orang yang melihat. Semua motor kita tinggalkan di sini dan jangan berharap untuk mengambilnya lagi."

Tanpa aba-aba, mereka langsung berpencar dan memulai rencana mereka. Tiga polisi yang masih mengenakan seragam pun melepaskan baju mereka. Beruntung Ken dan lainnya membawa baju lebih untuk mereka, toh mereka sudah merencanakan ini semua. Naoto dan Ryohei mengambil jaket hitam dari Takeomi yang melemparkannya ke arah mereka. Sedangkan Takashi menerima jaketnya dari Keisuke.

Ekspresi menyesal terlihat di wajah tampannya. Begitu pula dengan Takashi yang sempat naik darah terhadap sikap teman lama nya. Tangannya meraih jaket dari Keisuke dan berkata. "Kita memang lelaki payah yang tidak dapat melindungi orang yang kita cintai."

Keisuke menyetujuinya. "Aku hanya tidak dapat membayangkan jika tangan kotor Kisaki menyentuh Chifuyu."

"Chifuyu kuat, Baji. Kisaki akan menjadi debu akibat pukulannya." Ucap Takashi meyakinkan.

Keisuke menyerahkan jaket di tangannya sembari membalas ucapan Takashi. "Kau juga tak perlu khawatir. Aku pernah merasakan tendangan Inupi tepat di perutku. Muka si sinting berduit itu akan tidak berbentuk akibatnya."

Kekehan lega terdengar dari Mitsuya Takashi. Ia pun menggunakan jaket pemberian temannya lalu mengulurkan salam tinju ke arah Keisuke. "Kalau begitu, kita buktikan ke mereka kalau kita pantas untuk melindungi mereka."

Keisuke pun membalas salam itu tanpa kata yang keluar. Setelahnya, mereka berpisah dengan senyum lebar di wajah. Tali persahabatan kini kembali tersambung. Kekuatan pertemanan mereka sejak kecil tidak dapat dipisahkan oleh takdir perbedaan mereka.

To be continued…