Byun Baekhyun. Pemuda berusia 20 tahun yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengasuh anak dari Keluarga Park, Park Jackson. Kebetulan sekali Keluarga Park tinggal tepat di sebelah rumahnya jadi ia tidak perlu merasa terbebani bekerja di sana.

Baekhyun pernah beberapa kali bekerja sampingan sebagai barista, kasir, bahkan kurir antar barang. Tetapi ia merasa pekerjaan itu tidak cocok baginya sebab entah mengapa setelah pulang dari bekerja badannya terasa sangat pegal.

Aku memang tidak cocok untuk pekerjaan seperti itu, pikirnya.

Seperti biasa, selesai sarapan dari rumah, Baekhyun segera berpamitan kepada ibunya untuk menuju ke kediaman Keluarga Park. "Ibu, aku pamit dulu, ya. Bila sampai pukul sembilan aku belum pulang, Ibu tidak perlu menungguku."

"Siapa yang kau bilang akan menunggumu? Ge-er sekali," ucap Ibu Baekhyun yang saat ini tengah berada di wastafel, mencuci piring-piring bekas makan mereka tadi.

"Ibu bilang seperti itu, tetapi nanti saat aku pulang Ibu sudah tertidur di sofa ruang tengah." Baekhyun berucap dengan nada mengejek.

Tak terima dengan ucapan anaknya barusan, Ibu Baekhyun menghentikan aktivitas mencuci piringnya dan berbalik menghadap ke arah putranya. "Yak! Itu karena Ibu tiba-tiba mengantuk saat ingin mematikan lampu ruang tengah!"

Baekhyun berjalan ke arah Ibunya. "Baiklah, baiklah. Ibuku ini memang gengsinya besar," ucapnya sembari mengusap-usap pundak kanan Ibunya. Ibu Baekhyun nampak terkejut melihat tingkah putra satu-satunya itu. Baekhyun yang melihat raut terkejut Ibunya segera berlari menghindar.

"Anak kurang ajar! Kemari kau! Yak Byun Baekhyun!" Ibu Baekhyun berlari mengejar anaknya dengan menggenggam panci di tangan kanannya.

"Aku juga menyayangimu, Ibu!" Baekhyun berteriak kencang dari luar rumah hingga membuat orang yang tengah berada di sekitarnya menatap ke arahnya sembari menggelengkan kepala.

Baekhyun tak memedulikan itu. Ia tetap melanjutkan perjalanannya ke kediaman keluarga Park.

CEKLEK!

"PERMISI PAKET!" Begitulah Baekhyun. Saat tuan rumah sudah mengatakan, 'Anggap saja rumah sendiri,' maka ia akan benar-benar melakukannya.

Seorang wanita cantik terlihat keluar dari kamarnya saat mendengar suara nyaring Baekhyun. "Ssttt, Baekhyun. Jackson sedang tidur."

"Ups, maafkan aku Noona. Hehe," ucap Baekhyun sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

Park Chaeyoung, wanita cantik tadi, membalas ucapan Baekhyun dengan seulas senyuman manis. "Tak apa. Oh iya aku sudah mau berangkat kerja. Kau ada kuliah hari ini?"

"Hari ini tidak. Ngomong-ngomong, Noona tidak berangkat bersama... Tuan Chanyeol?" Baekhyun merasa tidak enak saat menyebut nama tuannya itu. Baekhyun tidak sedekat itu dengan tuannya.

Park Chanyeol itu kaku sekali. Pernah sekali Baekhyun melayangkan lelucon kepadanya dan bukan tawa yang ia dapat melainkan tatapan tajam yang membuatnya langsung tak berkutik lagi. Sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bermain-main dengan tuannya itu.

"Tidak. Aku hari ini ada dinas di Malaysia. Lihat koperku." Chaeyoung menunjukkan koper yang sedari tadi ia genggam kepada Baekhyun.

Baekhyun menatap koper itu sekilas. Lalu kembali menatap Chaeyoung yang ada di depannya. "Kapan Noona akan pulang?"

"3 hari kedepan. Kenapa? Kau takut merindukanku, hm?" ucap Chaeyoung dengan menaik turunkan alisnya.

"Ge-er sekali. Aku menginginkan oleh-olehku!" ucap Baekhyun sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Tak lupa dengan bibir mencebik seakan mengejek Nonna-nya itu.

"Baiklah, baik. Kau akan mendapatkannya, anak anjingku~" ucap Chaeyoung dengan nada menggemaskan. Tangannya ia bawa untuk mengelus puncak kepala Baekhyun.

"Ekhem." Chaeyoung menghentikan aktivitasnya. Baekhyun terkejut saat menolehkan kepalanya ke sumber suara. Buru-buru ia membungkukkan badannya ke seseorang yang baru datang itu.

"M-maafkan aku Tuan atas kelancanganku." Dalam hati Baekhyun berdoa agar hari ini ia bisa pulang dengan anggota badan utuh. Ia harus berhati-hati dengan orang seperti tuannya yang tidak terprediksi ini.

Chanyeol tak menghiraukan permintaan maaf Baekhyun dan lebih memilih untuk menghampiri istrinya.

"Kau akan pergi sekarang?" Baekhyun sedikit tertegun. Bagaimana tidak, wajah yang tadinya kaku kini berubah lunak saat sudah berhadapan dengan istrinya.

Ah~ apakah aku juga akan seperti itu saat sudah mempunyai istri nanti?

"Iya. Sayang, jangan terlalu kasar dengan Baekhyun. Bagaimanapun dia yang sudah menjaga anak kita saat kita sedang tidak ada di rumah. Satu lagi, jaga dia selagi aku tidak ada. Aku tidak mau anak anjingku ini kelaparan." Chaeyoung berucap dengan sangat manis kepada suaminya itu.

Baekhyun yang malu mendengar perkataan Chaeyoung hanya bisa mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Tak sengaja pandangannya malah bertubrukan dengan milik Chanyeol yang ternyata tengah memperhatikannya sejak tadi.

DEG!

Chanyeol orang pertama yang memutuskan kontak mata mereka. Baekhyun saat ini malah semakin merasa malu. Jantungnya juga berdegup semakin kencang.

Diamlah jantung, bodoh!

"Kau tak ingin kuantar?" Chanyeol kembali memfokuskan atensinya kepada Chaeyoung.

"Tidak usah. Aku akan mengendarai mobilku sendiri. Makanlah sarapanmu di meja makan! Awas saja kalau sampai kau tidak sarapan seperti kemarin!"

"Iya, Sayang. Sini kubawakan kopermu." Chanyeol mengambil alih koper dari tangan Chaeyoung. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan keluar rumah.

Baekhyun mengamati kepergian Tuan dan Nyonya Park. Melihat kedua tuan rumahnya berlalu, Baekhyun akhirnya dapat bernapas dengan lega. Entah mengapa sejak kehadiran Chanyeol jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Wajahnya itu loh seperti ingin memakanku hidup-hidup.

Saat ia ingin berbalik, tiba-tiba dapat ia rasakan tangan kecil memeluk kaki kirinya.

"Jackson, sudah bangun?" ucap Baekhyun sembari mengelus surai pirang milik Jackson.

Anak laki-laki yang dipanggil Jackson tersebut mendongakkan kepalanya. "Apakah Jackson harus menjawab pertanyaan Kakak Cantik yang satu itu?"

Walaupun umurnya baru menginjak 4 tahun, tetapi Jackson bisa dibilang adalah anak yang cukup pintar. Ia sudah bisa menghitung penjumlahan dan pengurangan. Bahkan ia juga sudah pandai membaca.

"Jackson, sudah berapa kali aku memperingatimu untuk tidak memanggilku dengan sebutan 'Kakak Cantik'? Aku ini pria, kan sudah kubilang yang cantik itu wanita kalau pria itu TAMPAN." Baekhyun sedikit menekankan kata 'tampan' di dalam kalimatnya.

"Tapi Kakak itu pria cantik, tau!" Jackson berucap sambil memajukan bibirnya. Daripada melihat anak di depannya ini menangis Baekhyun akhirnya memilih untuk mengalah.

"Jackson baru bangun tidur, kan? Lebih baik sekarang kita mandi oke?"

"Dengan Kakak, ya!" ucap Jackson penuh semangat dengan binar di matanya.

"Iya nanti Kakak mandikan," ucap Baekhyun seraya menggendong tubuh mungil Jackson.

"Tidak mau! Kakak juga harus ikut mandi!"

Hah~Apa lagi sekarang? Kenapa dia menjadi dua kali lebih menyebalkan dari biasanya?

"Kakak sudah mandi Jackson tadi di rumah."

"Huaaaa! Kakak jahat! Jackson mau turun!" Jackson meronta-ronta minta diturunkan dari gendongan Baekhyun. Belum sempat Baekhyun menurunkan tubuh Jackson, suara lain menyauti dari arah ruang tamu.

"Biar aku saja yang memandikan Jackson. Kau tolong rapihkan kasur Jackson saja."

"Daddyyy!" Jackson berlari ke arah tubuh Chanyeol setelah berhasil turun dari gendongan Baekhyun.

"B-baik, Tuan. Saya permisi." Baekhyun membungkuk singkat kemudian dengan segera ia berlari kecil menuju kamar tidur Jackson.

"Jackson, sudah berapa kali Daddy bilang untuk tidak bersikap manja seperti tadi dengan orang asing."

Baekhyun menghentikan langkahnya.

"Tapi Kakak Cantik bukan orang asing, Daddy..."

"Hah~ Jackson tidak tau kan apa yang bisa dilakukan dia terhadapmu saat Jackson lengah. Daddy minta Jackson jaga jarak dengan dia, ya?"

"Ehmm baiklah Daddy..."

"Anak pintar."

Setelahnya, tak ada lagi suara yang dapat Baekhyun dengar. Entah mengapa dadanya terasa nyeri saat Chanyeol mengatakan hal itu kepada Jackson. Bagaimanapun ia sudah menganggap Jackson seperti anaknya sendiri. Mendengar Chanyeol yang berbicara seperti itu membuatnya merasa seperti dijauhkan dari anaknya.

Jangan berharap lebih, Baek. Bagaimanapun kau hanya pengasuh Jackson.

Selesai membereskan kamar tidur Jackson, Baekhyun memilih untuk pergi ke ruang tv. Menonton variety show yang terpampang di layar tv. Ia saat ini hanya butuh hiburan untuk mengembalikan moodnya yang tadi tiba-tiba rusak.

Baekhyun tertawa terbahak-bahak bahkan saat host di acara tersebut tengah berbicara serius. Ia tidak menyadari bahwa sedari tadi dirinya sudah diperhatikan oleh dua pasang mata.

"Jadi ini kerjaanmu selama disini?" Suara itu tentu saja menghentikan semua kegiatan Baekhyun. Tubuhnya tiba-tiba membeku. Perlahan ia menghadap ke belakang sofa yang saat ini sedang ia duduki.

Benar saja di sana sudah ada Chanyeol dengan pakaian rapih yang tengah menggendong Jackson.

"A-aku t-tadi..."

Kenapa aku jadi gugup, sih?!

"Kau ingin dipecat lebih cepat rupanya. Aku heran kenapa Chaeyoung dengan senang hati menerimamu menjadi pengasuh Jackson. Padahal aku bisa mencari pengasuh anak yang lebih profesional daripada kau." Chanyeol berucap dengan nada datar.

"Jackson tidak mau! Jackson cuma mau sama Kakak Cantik, Daddy! Daddy tidak boleh bilang begitu ke Kakak Cantik!" ucap Jackson yang kini sudah menunjukkan raut wajah ingin menangis.

"Maafkan saya, Tuan. Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sekali lagi maafkan saya." Baekhyun berkali-kali membungkuk meminta maaf.

"Sudahlah, lagian aku tidak peduli. Tanpamu juga aku yakin Jackson bisa ditinggal sendiri. Tetapi sekali lagi kau seperti tadi, aku tidak segan-segan untuk memecatmu. Aku tidak mau membuang-buang uangku hanya untuk orang sepertimu." Chanyeol menurunkan Jackson dari gendongannya.

Jackson segera berlari ke arah Baekhyun. Dengan perlahan, baekhyun membawa tubuh Jackson ke dalam gendongannya.

Tanpa mengucapkan apa-apa, Chanyeol segera berlalu begitu saja keluar rumah.

"Maafkan Daddy ya Kak. Sejak kejadian Jackson tidak sengaja menumpahkan susu di keyboard komputernya, Daddy jadi seperti itu."

"Kapan kejadian itu?" tanya Baekhyun sedikit penasaran.

"Tadi saat Daddy mengajakku ke ruang kerjanya," jawab Jackson dengan memampangkan wajah tanpa dosa.

"Ah~ Lupakan masalah itu. Sekarang bagaimana kalau kita bermain lego?" ajak Baekhyun dengan nada ceria sembari berjalan ke arah ruangan bermain milik Jackson.

"Jackson bosan bermain lego. Bagaimana kalau Kakak ajari Jackson berhitung lagi?" Baekhyun terkejut mendengar perkataan Jackson.

"Woah, sepertinya Jackson sudah ingin bersekolah, ya? Nanti bilang ke Mommy dan Daddy agar Jackson bisa belajar berhitung di sekolah."

"Sekolah itu seperti apa sih Kak?" Jackson bertanya pada Baekhyun penasaran.

"Nanti di sekolah Jackson akan diajarkan oleh guru cara menggambar, membaca, dan berhitung. Lalu Jackson juga akan punya banyak teman." Baekhyun menjelaskan dengan semangat. Ia sebenarnya juga tak sabar melihat Jackson memakai seragam sekolah.

"Tidak mau Jackson mau diajarkan sama Kakak saja! Kakak Cantik kan juga sudah jadi teman Jackson. Kalau sudah ada Kakak Cantik Jackson tidak butuh siapa-siapa lagi." Mendengar perkataan Jackson barusan membuat Baekhyun sedikit terharu.

Baekhyun mengelus surai Jackson perlahan sembari mengembangkan senyum di bibirnya. "Terima kasih Jackson sudah menganggapku seberharga itu. Tapi aku tidak selamanya bersamamu."

Jackson mengerucutkan bibirnya ke depan. "Apa yang Jackson harus lakukan supaya Kakak terus bersama Jackson? Apakah Jackson harus menikahi Kakak seperti yang dilakukan Daddy kepada Mommy?"

Baekhyun nampak terkejut mendengar ucapan Jackson barusan. Ia berpikir sejenak bagaimana caranya menjelaskan kepada Jackson. "Eumm, Jac-Jackson tidak perlu melakukan itu. Walaupun aku sudah tidak bekerja jadi pengasuh Jackson, tapi aku berjanji akan sering datang mengunjungi Jackson."

Jackson menyodorkan jari kelingkingnya. "Pinky promise?"

Baekhyun membalas ajakan 'pinky promise' dari Jackson dengan senyuman lebar. "Pinky promise."

Tiba-tiba saja Jackson mencium pipi kanan Baekhyun dengan lembut. Baekhyun tersentak kaget. Karena selama ia bekerja disini, belum pernah sekalipun Jackson menciumnya seperti barusan. "Jackson sayang, Kakak. Kakak sudah seperti Mommy kedua buat aku."

Jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Ia juga merasakan wajahnya yang memanas. Hatinya pun perlahan menghangat. Senyuman ia kebangkan di wajahnya. "Jackson boleh berbicara dengan aku seperti itu. Tapi jangan di depan Daddy dan Mommy Jackson, ya."

"Memangnya kenapa?"

"Ini rahasia kita berdua." Baekhyun berbisik tepat di depan telinga Jackson membuat Jackson merasakan sensasi geli.

"Oke, Kakak. Rahasia harus disimpan baik-baik." Jackson ganti berbisik di dekat telinga Baekhyun.

"Kalau begitu sekarang kita belajar berhitung ya Jackson. Tolong ambilkan kertas dan pensilmu, Jackson."

"Sebentar! Nah ini Kak." Jackson memberi Baekhyun selembar kertas hvs dan dua buah pensil.

"Terima kasih. Jackson sudah pandai penjumlahan, kan? Kakak akan membuat soal penjumlahan nanti Jackson jawab, mengerti?"

"Ay ay, Kapten!" ucap Jackson sambil menampilkan gestur hormat.

Waktu demi waktu mereka lewati dengan canda dan tawa. Hingga tak terasa waktu malam telah tiba.

Baekhyun saat ini tengah menceritakan tentang masa kecilnya pada Jackson. Tentu saja Jackson yang memintanya.

"Kakak, ceritakan masa kecil Kakak lagi!"

"Baiklah, tapi setelah ini Jackson tidur, oke? Ini sudah pukul sembilan malam."

"Iya, iya." Baekhyun berpikir sejenak. Mengingat-ingat kembali kenangan masa lalunya sendiri.

"Dulu saat Kakak berumur 7 tahun, Kakak pernah punya teman. Kakak menyebutnya Tuan Kutukan."

"Kenapa Kakak menyebutnya begitu? Itu terdengar jahat sekali, tahu!" Jackson menginterupsi cerita Baekhyun.

"Sebab setiap dekat dengannya Kakak selalu tidak bisa fokus. Jantung Kakak seperti sedang menaiki wahana roller coaster. Karena tidak fokus, Kakak jadi sering terkena sial. Seperti jatuh dari tangga, menabrak tembok hingga kepala Kakak benjol, sampai hidung Kakak pernah mimisan karena terkena bola basket yang ku pantulkan sendiri."

Baekhyun tertawa membayangkan dirinya dulu yang begitu polos. Ia bahkan tidak menyadari kalau dirinya sedang jatuh cinta. Iya, anak laki-laki yang sering ia panggil 'Tuan Kutukan' itu adalah cinta pertamanya. Sayang sekali akibat sering memanggil dengan nama julukan yang aneh itu, Baekhyun jadi lupa nama aslinya.

Di tengah-tengah baekhyun bercerita, Jackson berakhir tertidur pulas disebelahnya.

Baekhyun mengamati wajah Jackson yang saat ini sudah tertidur pulas disebelahnya. Sesekali ia mengelus surai dan pipi Jackson dengan lembut secara bergantian.

DEG!

Kenapa wajah Jackson bila diperhatikan mirip dengan Tuan Kutukan itu?

Baekhyun membuang pikirannya jauh-jauh. Tidak mungkin Tuan Kutukan bereinkarnasi menjadi Jackson, bukan?

Lagipula sikap mereka berdua berbeda jauh. Jackson itu manis dan menggemaskan, sedangkan Tuan kutukan? Jangankan tersenyum, Baekhyun panggil namanya saja ia malah pura-pura tidak dengar. Terkadang Baekhyun bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus jatuh cinta pada patung berjalan?

CEKLEK!

Selesai menidurkan Jackson, Baekhyun berjalan ke arah ruang tv. Menghidupkannya dan menonton acara yang ditayangkan sambil memakan jajanan yang ia simpan di laci dapur. Sepertinya ia lupa dengan ucapan yang tadi siang diucapkannya di depan tuannya.

Ngomong-ngomong, Baekhyun selalu pulang saat tuan rumahnya sudah kembali dari bekerja. Ia tidak mau meninggalkan Jackson sendirian di rumah.

Tidak biasanya Tuan dan Nyonya Park pulang lebih dari pukul sembilan. Tapi ini sudah hampir pukul sepuluh.

Ah~ aku baru ingat kalau Noona sedang dinas ke Malaysia. Lalu kemana Tuan Chanyeol? Apakah dia lembur? Tidak mungkin.

Selama enam bulan Baekhyun bekerja di sini, belum pernah ia menjumpai Chanyeol lembur di kantor. Ia terlalu sayang dengan anaknya hingga apabila jam sudah menunjukkan pukul delapan tetapi pekerjaannya belum selesai, ia akan membawanya pulang dan mengerjakannya di rumah. Setidaknya itu kata Noona-nya.

Terlalu asik menonton tv, membuat Baekhyun tidak merasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia bimbang sekarang. Di satu sisi ia tidak bisa meninggalkan Jackson sendiri, tetapi di sisi lain ia juga ada kelas pagi besok.

Sepertinya saat ini Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Belum sempat ia memutuskan, suara deru mesin mobil sudah terdengar memasuki pekarangan rumah Keluarga Park.

Baekhyun mengambil jaket yang tadi ia sampiri di sofa tempatnya duduk. Rencananya, ia akan pulang setelah menyapa Chanyeol.

CEKLEK!

"Selamat malam, Tuan. Saya sudah menidu-mmmpphh!" Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, bibir tuannya sudah lebih dulu mengunci miliknya membuat dirinya terkejut setengah mati. Sesekali Chanyeol melumat dan mengigit bibir Baekhyun dengan brutal. Baekhyun tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya terasa membeku.

Baekhyun merasakan sesak di dadanya. Ia tidak bisa bernapas sampai akhirnya Chanyeol melepaskan tautan ciuman mereka. Air mata yang sedari tadi berusaha Baekhyun tahan berakhir keluar deras.

"Apa yang barusan anda lakukan, Tuan?" Baekhyun bertanya dengan nada bergetar. Ia merasa lemah karena untuk menatap wajah Chanyeol saja ia tidak mampu.

"AKU TIDAK INGIN KAU MENANGIS! AKU MAU KAU MEMUASKAN PENISKU MALAM INI!" Baekhyun terkejut mendengar Chanyeol yang membentaknya. Bahkan ia tidak pernah di bentak orang tuanya selama hidupnya, tapi pria di depannya dengan lantang meneriakinya dengan kata-kata tidak senonoh.

Tangan Baekhyun sudah terkepal kuat. Ia berusaha tidak melayangkan tinjuan ke wajah tuan brengseknya itu. "Anda tidak boleh berkata seperti itu. Ingat istri anda." Sebisa mungkin Baekhyun tidak meninggikan suaranya.

"PERSETAN DENGAN DIA! AKU TIDAK PEDULI KARENA SAAT INI YANG KUINGINKAN ADALAH KAU YANG BERADA DI BAWAH TUBUHKU, BYUN BAEKHYUN!"

PLAK!

"SADAR, BODOH! KAU SAAT INI HANYA DIKUASAI NAPSUMU! KAU MABUK!" Baekhyun tidak dapat menahan amarahnya lagi. Ia tidak menerima bila orang yang saat ini sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri dihina seperti barusan.

Chanyeol memegang pipi kanannya yang habis terkena cap lima jari dari Baekhyun. Dinding dalam pipinya sepertinya sobek sehingga ia bisa merasakan asin darah dalam mulutnya.

"AKU MENGINGINKANMU BAEKHYUN HANYA KAU! AKU SUDAH MENAHAN INI SEJAK LAMA, MENUNGGUMU AGAR MENYADARINYA, TAPI KENAPA KAU TIDAK KUNJUNG MENYADARI ITU BAEKHYUN! AKU! Aku adalah Tuan Kutukanmu itu..."

DEG!

"A-apa kau bilang?" Baekhyun meminta Chanyeol mengulangi kalimatnya karena mungkin ia salah dengar.

"Aku, aku adalah anak yang kau panggil Tuan Kutukan."

"T-tidak mungkin." Baekhyun mundur beberapa langkah. Tangannya bergetar hebat saat ini.

Chanyeol maju perlahan mendekati Baekhyun. Kilasan masa lalu seakan kembali berputar di dalam kepalanya, seperti memaksa Baekhyun untuk kembali mengingat sesuatu yang pernah ia lupakan.

*flashback on

Baekhyun kecil saat ini tengah bermain dengan lima orang teman dekatnya di taman komplek perumahannya. Ia bermain dengan riang gembira. Sampai pada akhirnya ia dan teman-temannya merasa lelah.

Satu persatu temannya kembali ke rumah mereka masing-masing. Baekhyun juga ingin pulang ke rumah sekarang.

Saat Baekhyun hendak melangkahkan kakinya keluar taman, tiba-tiba saja niatnya itu ia urungkan. Ekor matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang. Padahal seingat dia selain dirinya dan teman-temannya tidak ada orang lain lagi di taman. Kelima orang temannnya juga sudah pulang.

Dengan rasa penasaran yang kini sudah mencapai ubun-ubun kepalanya, Baekhyun kecil memberanikan diri menghampiri anak laki-laki yang saat ini tengah duduk di bangku taman dengan buku yang ia genggam di kedua tangannya.

"Emm, hai?" Baekhyun yang kini sudah berdiri di sebelah anak laki-laki itu menyapanya dengan malu-malu.

Ia menoleh ke arah , tidak! Mata bulatdi balik kacamataanak laki-lakiitumenatap Baekhyun dengan intens. Membuat Baekhyun merasa jantungnya tidak berdetak seperti semestinya. Pikiran Baekhyun seperti melebur entah kemana.

"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, kau bisa pergi." Ucapan anak laki-laki itu selanjutnya membuat Baekhyun kembali tersadar. Ia kini sangat malu bahkan hanya untuk menegakkan kepalanya.

"A-aku hanya ingin memastikan kau manusia atau bukan. Sekarang aku sudah yakin kau benar-benar manusia," ucap Baekhyun yang kedengarannya seperti suara cuitan burung itu.

"Ha? Kau ini bicara apa sih?" Anak laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun. Baekhyun tersentak kaget. Mata sipitnya melebar hingga terlihat seperti mau keluar. Ia merasakan hawa panas di sekitar pipinya.

"T-tidak. Tidak jadi." Baekhyun memalingkan wajahnya ke arah samping. Berlagak melihat-lihat taman. Yang penting pandangannya tidak bertemu dengan milik anak laki-laki itu.

Kini anak laki-laki itu kembali menormalkan posisi duduknya. "Ngomong-ngomong siapa namamu?" Ia berucap sembari memfokuskan dirinya lagi pada buku yang kini sedang ia genggam.

Baekhyun merasa seperti ada jutaaan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Dengan senyuman yang mengembang di bibirnya Baekhyun menjawab, "Byun Baekhyun. Kau sendiri?"

Anak laki-laki itu kini kembali menatap Baekhyun. "Park Chanyeol. Kau terlihat bahagia sekaliku ajak berkenalan."

Mendengar itu, Baekhyun kembali menormalkan ekspresi wajahnya. "T-tidak. A-aku biasa saja."

"Kau berbohong, wajahmu memerah."

Ini karena kau, bodoh! Rutuk Baekhyun dalam hati.

"Sudahlah! Aku mau pulang!" Baekhyun berjalan menjauh dari Chanyeol dan pergi ke arah rumahnya.

Belum jauh Baekhyun berjalan, ia kembali menghentikan langkahnya. Sesuatu membuatnya merasa berbunga-bunga.

"Dia menggemaskan." Hanya itu. Iya, hanya itu. Tapi sebab dua kata itu juga Baekhyun berubah.

Baekhyun yang dulunya tidak pernah memperhatikan penampilannya sama sekali saat ini selalu menjaga penampilannya agar tetap terlihat bersih dan rapih. Ia juga sekarang lebih sering membaca buku di perpustakaan demi bisa melihat Park Chanyeol yang ternyata merupakan kakak kelasnya saat ia beranjak ke sekolah dasar.

Mulai saat itu, ia bertekad untuk selalu memilih sekolah yang sama dengan Chanyeol.

"Yak! Tuan Kutukan! Tunggu aku!" Baekhyun memanggil-manggil Chanyeol yang ada di depannya. Tetapi tidak sama sekali Chanyeol menghentikan langkahnya atau hanya sekedar menoleh ke arah Baekhyun. Hingga saat mereka sudah sampai di depan rumah Baekhyun, barulah Chanyeol berhenti dan berbalik.

Pletak!

"Bicaralah yang sopan. Aku ini kakak kelasmu."

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menampilkan cengiran andalannya. "Hehe. Kalau aku tidak berteriak seperti tadi kau tidak akan berhenti, kan?"

Chanyeol menghela napas perlahan. "Ada apa?"

"Eumm, kau nanti mau SMA di mana?" Entah mengapa Baekhyun merasa sedikit malu untuk menanyakan ini.

"Memangnya kenapa? Kau mau mengikutiku lagi?" Chanyeol bertanya dengan wajah datar. Ia yakin alasan ia selalu satu sekolah dengan Baekhyun bukan karena kebetulan melainkan kesengajaan Baekhyun sendiri.

Baekhyun terkejut Chanyeol tahu kalau selama ini ia sengaja memilih sekolah yang sama dengan Chanyeol. "Ekhem, ya... bisa dibilang begitu."

Baekhyun berusaha menahan dirinya untuk bersikap biasa saja. Baekhyun tahu Chanyeol sadar kalau ia menyukai Chanyeol. Mau ditutup-tutupi seperti apapun juga tidak ada gunanya.

"Aku akan mengikuti pilihan orang tuaku. Tapi sepertinya aku akan bersekolah di Apgujeong. Sudah puas sekarang?"

Mendengar itu, Baekhyun tidak dapat menahan senyumannya. "Baiklah. Aku... masuk dulu, Chan."

Setelah itu, Baekhyun segera berlari memasuki rumahnya. Ia tidak sadar kalau Chanyeol sedang menahan untuk tidak memukulnya yang sudah memanggilnya tanpa embel-embel 'Hyung'.

Waktu demi waktu berlalu, hari ini adalah hari pertama Baekhyun di SMA. Ia sudah tidak sabar bertemu Chanyeol lagi. Ia begitu merindukan sosok Chanyeol saat ini.

Bagaimana tidak, satu bulan belakangan ini, Chanyeol dan dirinya tidak pernah bertemu lagi. Beberapa kali Baekhyun pergi ke taman untuk menemui Chanyeol. Tapi yang ia dapatkan hanya beberapa kelompok anak yang tengah bermain. Ia juga sudah mengunjungi rumah Chanyeol, tetapi ibunya selalu bilang kalau Chanyeol belum pulang dari sekolahnya.

Pikiran-pikiran negatif memenuhi kepala Baekhyun. Seperti, 'Apakah Chanyeol lebih memilih bermain dengan teman barunya?' atau 'Apakah Chanyeol saat ini sudah punya kekasih sebab ituia melupakan Baekhyun?' Tetapi ia selalu menepisnya. Ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia harus percaya Chanyeol.

Bel istirahat berbunyi. Teman-teman sekelas Baekhyun yang sudah mulai berbaur beranjak keluar kelas. Sekarang hanya tersisa beberapa anak di dalam kelasnya. Baekhyun berencana untuk pergi ke perpustakaan karena ia yakin Chanyeol sedang membaca buku disana.

Dari kelas Baekhyun menuju ke perpustakaan sebenarnya tinggal jalan lurus saja. Kelas Baekhyun ada di gedung bagian depan sekolah. Sedangkan gedung perpustakaannya ada di bagian paling belakang sekolah.

Baekhyun sebenarnya agak malas untuk ke perpustakaan karena dari kelas ke perpustakaan dan sebaliknya bisa dibilang cukup jauh. Tetapi demi melihat Chanyeol, apapun akan Baekhyun lakukan.

Sambil bersenandung ria, ia berjalan menuju gedung yang jaraknya 200 meter dari kelasnya. Sesekali ia juga menyapa guru yang lewat walaupun ia belum terlalu mengenal guru-guru yang ada di sana.

Beberapa menit kemudian, akhirnya ia tiba di depan gedung perpustakaan. Bangunannya minimalis tetapi memiliki kesan modern.

Baekhyun melangkahkan kakinya ke dalam gedung tersebut. Ada beberapa anak di dalam perpustakaan sedang mencari dan membaca buku.

Dengan langkah lebar, Baekhyun berjalan menuju ke arah rak buku biologi. Setelah istirahat, pelajaran selanjutnya adalah biologi. Ia agak kesal sebenarnya sebab ini adalah hari pertamanya bersekolah di SMA, tetapi sudah mulai pelajaran saja.

Setelah memilih-milih buku, Baekhyun berjalan mencari meja yang tersisa. Cukup banyak anak yang sekarang sedang membaca di perpustakaan membuatnya kebingungan mencari meja kosong. Baekhyun berpikir sejenak. Sepertinya ia harus bertanya kepada penjaga perpustakaan.

"Eumm, permisi. apakah di sini tidak ada meja kosong lagi?" Baekhyun bertanya dengan hati-hati agar tidak mengganggu anak yang lain.

Penjaga itu menatap Baekhyun sejenak. Kemudian tangan kanannya menunjuk ke arah meja pojok kanan belakang di perpustakaan tersebut. "Di sana. Anak-anak jarang duduk di sana." Setelah mengatakan itu, ia kembali memfokuskan pandangannya ke layar komputer di depannya.

"A-ah~ terima kasih."

Setelah itu, Baekhyun berjalan ke arah meja yang ditunjukkan penjaga tadi dengan perlahan. Aura yang semula hangat menjadi dingin. Membuat bulu kuduk Baekhyun berdiri. Tetapi ia tidak menghiraukan itu. Pelan-pelan ia berjalan ke arah meja tersebut. Sedikit lagi sampai, tiba-tiba ada suara yang memasuki indra pendengarannya.

"Aahhh Chanhh... ssshhh pelanhh p-pelanhhh..."

Baekhyun benar-benar merinding sekarang. Suara itu seperti suara desahan perempuan. Apa memang desahan perempuan? Karena rasa ingin tahunya, ia kembali melanjutkan langkahnya.

Semakin dekat, suara itu semakin terdengar jelas. Hingga saat Baekhyun sudah berada di depan meja tersebut, jantungnya seketika berhenti berdetak. Tubuhnya seperti tak dapat menerima apa yang ia lihat sekarang. Matanya mulai menitihkan bulir-bulir air mata. Ia ingin menolak mempercayai apa yang ia lihat saat ini tetapi tidak bisa.

Chanyeol yang sedang melakukan hubungan badan dengan seorang wanita yang sudah dapat dikatakan dalam keadaan berantakan.

"Sebentar... lagi... Chaeyoung... ahh..."

Tak dapat menahan tangisnya lagi, Baekhyun segera meninggalkan perpustakaan itu. Ia berlari menuju kelasnya dengan air mata bercucuran. Tak dipedulikan lagi pandangan orang-orang terhadap dirinya saat ini.

Sesampainya di kelas, ia meraih tasnya dan berjalan ke samping sekolah. Melompati tembok tinggi yang nantinya di balik tembok tersebut merupakan jalan menuju ke rumahnya. Bagaimana laki-laki manis seperti Baekhyun dapat melompati tembok yang tingginya hampir 2 meter itu? Kalau kalian lupa, Baekhyun pernah nakal sebelum bertemu dengan Chanyeol. Ya walaupun itu sudah lama sekali.

Saat tiba di rumah, ibunya menghujam Baekhyun dengan berbagai pertanyaan. Tetapi Baekhyun selalu membalasnya dengan permintaan bahwa ia ingin pindah sekolah. Ibunya tentu saja marah. Bagaimana mungkin anaknya yang baru satu hari bersekolah sudah mau pindah lagi. Tapi melihat keadaan Baekhyun yang mengenaskan seperti saat itu, akhirnya ibunya menyetujui permintaan anak semata wayangnya tersebut.

Sejak saat itu, Baekhyun bertekad untuk melupakan semua kenangan yang pernah ia buat bersama Chanyeol.

*Flashback off

GREB!

"Ikut aku, Baekhyun." Belum sempat Baekhyun menjawab, Chanyeol sudah menariknya terlebih dahulu.

Baekhyun berusaha melepaskan genggaman tangan Chanyeol dari pergelangan tangannya, tetapi ia tidak berhasil karena kekuatan Chanyeol lebih besar darinya.

Chanyeol membawa Baekhyun ke kamar utama yang biasa ia tempati dengan Chaeyoung.

"Tuan, kita tidak sebaiknya-Aw!" Chanyeol membanting tubuh Baekhyun di atas tempat tidur dengan sangat keras, membuat Baekhyun tanpa sadar memekik kesakitan.

Baekhyun merasakan tubuh Chanyeol sudah berada di atasnya.

"Baekhyun, panggil namaku untuk malam ini saja. Aku ingin sekali mendengar kau mendesahkan namaku," bisik Chanyeol tepat di daun telinga kiri Baekhyun. Membuat Baekhyun dapat merasakan sensasi merinding menyeruak di sekujur tubuhnya.

"Tuan, saya mohon berhenti yang kita lakukan ini A-ahh..." Baekhyun merasakan sakit di leher bagian kirinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Chanyeol yang saat ini sedang menggigitnya seperti vampir kehausan darah.

"Aku sudah memperingatimu untuk memanggilku dengan namaku tetapi kau tidak melakukan perintahku. Hahaha. Orang yang melanggar harus dihukum bukan, Byun Baekhyun? Hm?"

"Cha-Chanyeol, kumohon jangan..." Baekhyun sebisa mungkin menahan tangisannya. Ia takut. Takut dengan sosok Chanyeol yang saat ini ada di depannya.

"Terlambat. Bisa kau lihat sesuatu yang ada di balik celanaku ini? Sialan, aku bahkan tegang hanya karena mendengar desahanmu tadi." Baekhyun menurunkan arah pandangannya ke bagian bawah Chanyeol. Benar saja. Di sana nampak jelas milik Chanyeol yang sudah kesesakkan di dalam celana yang Chanyeol kenakan.

"Kenapa, hm? Ingin menyentuhnya?" Chanyeol mengambil telapak tangan Baekhyun yang tadinya tergeletak di samping tempat tidur. menuntunnya ke arah 'kepunyaan' Chanyeol.

"Chanyeol. A-aku tidak mau! Jangan!" Baekhyun saat ini bisa merasakan tangannya mendarat di atas sebuah gundukan.

"Aahhh... Gerakan tanganmu Baekhyun."

"Tidak mau!"

"Hah~ selalu saja membantah. Kau memang sengaja agar ku hukum, hm?"

Baekhyun terkejut saat tiba-tiba Chanyeol mencium bibirnya dengan brutal. Baekhyun tidak dapat melawan karena kedua tangannya sudah digenggam oleh Chanyeol. Chanyeol menggerakkan telapak tangan kanan baekhyun yang masih berada di kepemilikannya. Tangan satunya lagi mengunci pergerakan tangan sebelah kiri Baekhyun.

Baekhyun mendesah saat Chanyeol menggigit bibir bagian bawahnya. Celah tersebut digunakan Chanyeol untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun. Lidah Chanyeol bergerak di dalam sana mengabsen gigi Baekhyun satu persatu. Baekhyun sedikit tersentak saat tiba-tiba Chanyeol melepas tautan mereka.

"Hm, Sepertinya kau menikmati permainanku, Baekhyun." Chanyeol menampilkan smirk andalannya saat melihat muka Baekhyun yang semakin memerah.

"Siap untuk permainan selanjutnya?" Chanyeol berbisik di sebelah telinga kiri Baekhyun. Belum sempat Baekhyun menjawab, Chanyeol sudah memasukkan tangan kanannya ke dalam kaos Baekhyun. Bermain dengan puting milik Baekhyun di dalamnya.

Baekhyun memejamkan matanya dan menutup bibirnya rapat-rapat. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan desahannya. Tetapi sepertinya akal sehat baekhyun kalah dengan napsunya karena saat ini baekhyun sudah tidak dapat berpikir jernih lagi.

"A-ahhh Chanhhh..." Mendengar Baekhyun mendesahkan namanya, Chanyeol semakin tidak sabar lagi ingin segera melakukan hubungan intim dengan Baekhyun.

"Aku sudah tidak dapat menahannya. Ku harap kau bisa menikmatinya malam ini, sayang."

Dan benar saja. Malam itu jadi malam paling berbekas di hidup Baekhyun. Tiap detikan jam, potongan-potongan memori malam itu selalu muncul di benaknya. sekalipun ia berusaha untuk melupakannya. Sepertinya kehilangan ingatan akan lebih baik daripada hidup dengan sesuatu yang selalu menghantui pikiranmu.

4 bulan telah berlalu.

Kejadian 4 bulan lalu benar-benar menggunjang mental sekaligus perasaan Baekhyun. Baekhyun yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Bahkan Baekhyun sendiri mengakui itu. Tak ada lagi senyum hangat yang selalu ia suguhkan pada orang-orang terdekatnya. Ia sepertinya sudah lupa apa itu bahagia.

Untuk kalian yang penasaran apa yang terjadi setelah malam itu, keesokan harinya, tepatnya pukul dua siang, Baekhyun terbangun dari tidurnya. Ia tidak dapat melihat sosok lelaki yang semalam bersama dengannya. Kamar yang semalam mereka tempati juga sudah rapi kembali. Seprai, selimut, serta bantal juga sudah diganti dengan yang baru. Entah perasaan apa yang ada di dalam diri Baekhyun saat itu, ia merasa...dibuang?

Dengan segera Baekhyun keluar dari rumah itu. Ia tak memedulikan lagi suara Jackson yang berteriak memanggil-manggil namanya. Hari itu juga, Baekhyun memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rumah keluarga Park. Ia merasa sudah tidak punya muka lagi untuk memijak di tempat itu.

"Baekhyun!"

"Eung!"

"Melamun lagi? Ibu sudah memanggilmu berkali-kali tadi."

"Maaf." Ibu Baekhyun menatap anaknya sendu. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya selalu melamun menatapi rumah di sebelah mereka lewat jendela.

"Turunlah ke bawah. Ibu sudah menyiapkan susu untukmu," ucap Ibu Baekhyun sebelum keluar dari kamar anaknya itu.

Sekitar lima menit setelahnya, Baekhyun baru terlihat menuruni anak tangga. Ia mengarahkan langkahnya langsung ke meja makan. Dilihatnya sudah ada beberapa menu masakan Ibunya serta satu gelas susu untuknya.

Dengan terpaksa, Baekhyun meminum susu yang dibuatkan untuknya itu. Sungguh, rasa susu itu selalu membuat Baekhyun mual sekalipun ia menyukai susu stroberi.

"Hoek!"

"Oh tidak jangan lagi... Baekhyun! Jangan muntahkan!"

Terlambat. Wastafel mereka kini telah dipenuhi dengan muntahan Baekhyun.

"M-maaf..." Baekhyun mencicit pelan.

"Hah~ sudahlah tak apa. Baekhyun makan ya sekarang? Ibu sudah menyiapkan makan malam untukmu. Jangan lupa minum vitaminmu juga." Ibu Baekhyun membantu anaknya itu membersihkan muntahannya kemudian menuntunnya menuju ke meja makan lagi.

"Lihat. Ibu sudah memasakkan semua kesukaanmu." Tanpa membalas perkataan Ibunya, Baekhyun segera mengambil lauk yang ada di atas meja, kemudian menatanya di piring miliknya. Dengan perlahan, ia menyendokkan makanan ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.

melihat itu, Ibu Baekhyun tersenyum. Ia senang anaknya mau makan sekarang. Biasanya Baekhyun bisa tidak makan nasi seharian dan itu membuat dia sedikit khawatir. Apalagi Baekhyun tidak hanya memberi makan dirinya sendiri sekarang.

"Aku selesai."

"Baiklah letakkan saja disitu. Nanti akan ibu bereskan."

"Eum. Aku akan kembali ke kamar."

"Ya~ istirahatlah yang banyak."

Baekhyun menaiki tangga menuju ke kamar tidurnya.

Ia kembali ke aktivitas, 'mari memandangi rumah Keluarga Park lewat jendela' -nya itu lagi.

"Kau tahu," Baekhyun memulai percakapan dengan seseorang yang ada di dalam perutnya saat ini.

"Aku tidak ingin memiliki suami berengsek seperti Chanyeol. Tapi mau bagaimana lagi, dia yang sudah membantuku membuatmu. Tidak, bukan membantu. Lebih tepatnya memaksaku.

Bayangkan, dia saja bisa melakukan hal 'itu' denganku saat istrinya tidak ada. Berengsek bukan? Aku jadi kasihan terhadap Noona. Dia bahkan belum mengetahuinya.

Tapi bagaimanapun aku sangat menyayangimu. Karena itu aku serasa ingin melemparkan sepatuku saat Chanyeol menyuruhku untuk menggugurkanmu. Hah~ ku harap sifatnya tidak menurun kepadamu."

*flashback on

Baekhyun tak menyangka setelah 1 bulan yang lalu melakukan hubungan badan dengan Chanyeol ia akan hamil. Ini bahkan sudah memasuki hari ke 11. Karena itu ia mencoba untuk memberitahukan hal ini kepada Chanyeol.

"Cha-Chanyeol..."

"Cepat katakan apa maumu. Lalu segeralah pergi dari kantorku," ucap Chanyeol dengan nada datar. Kedatangan Baekhyun ke kantornya sungguh membuang-buang waktu berharga miliknya.

Sebisa mungkin Baekhyun menahan tangisnya yang sebentar lagi pecah.

"Aku h-hamil..."

Hening.

"Lalu? Kau ingin aku memberi selamat atas kehamilanmu?" Entah mengapa Chanyeol merasa seketika dirinya menjadi bodoh. Dia paham maksud perkataan Baekhyun barusan. Sangat paham.

"Aku hamil anakmu, Chanyeol!"

"AKU TAHU!" Chanyeol sungguh tidak dapat berpikir jernih sekarang. Ia melemparkan segala macam barang yang ada di sekitarnya. Berharap itu dapat menenangkan pikirannya. Bahkan pecahan vas yang chanyeol lempar tak sengaja mengenai jari tengahnya sendiri.

Baekhyun yang menyaksikan itu bergetar ketakutan.

Baekhyun memundurkan langkahnya saat tiba-tiba Chanyeol berjalan mendekatinya. Dengan cepat Chanyeol meraih kedua bahu Baekhyun dan menekannya kuat-kuat. Membuat Baekhyun meringis kesakitan.

Chanyeol menatapnya dengan tatapan penuh emosi.

"Gugurkan, Baek."

"Tidak!" Air mata yang dari awal Baekhyun tahan akhirnya keluar juga.

Baekhyun memberi tahu Chanyeol bukan dengan maksud agar Chanyeol bertanggung jawab. Ia hanya ingin Chanyeol tahu bahwa anak yang dikandungnya saat ini adalah hasil dari benih Chanyeol sendiri. Ia tak mengapa bila harus mengurus anaknya sendiri. Tapi perkataan Chanyeol barusan sungguh membuat hatinya hancur berkeping-keping.

"Kau harus!"

"Dia tidak salah! A-aku... Aku tidak butuh bantuan apapun darimu! Aku bisa mengurusnya sendiri!"

"Terserah! Tapi jangan sekali-kali kau berani menyangkut pautkanku dengan apa-apa yang berhubungan dengannya. Aku memperingatkanmu, Byun Baekhyun."

"Okey!"

"Okey!"

"Jauhkan tanganmu dariku! Aku tidak sudi disentuh olehmu. Lagi." Chanyeol melepaskan cengkeramannya dari bahu Baekhyun.

"Haha. Bermimpilah, Jalang."

PLAK!

"KALAU AKU JALANG KAU APA, BERENGSEK?!GIGOLO?!" Baekhyun segera meninggalkan ruang kerja Chanyeol setelah mendaratkan tamparan ke wajah lelaki tampan itu.

Yes! Akhirnya hasratku yang ingin menamparnya terpuaskan! Baekhyun berucap dalam hati.

Pegawai-pegawai kantor yang ia lewati memandangnya aneh. Bagaimana tidak, matanya bengkak seperti habis menangis, tetapi wajahnya begitu ceria. Bagaimanapun, Baekhyun tak menghiraukan hal tersebut.

"Baekhyun?"

"E-eh, Noona!"

"Sedang apa kau di kantor suamiku?"

"A-aku..." Ku tebak Chanyeol belum memberi tau Noona soal ini.

"Aku baru saja mengantarkan makanan delivery ke sini. Hehehe." Baekhyun tertawa renyah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Chaeyoung menatap Baekhyun dari atas ke bawah. Pandangannya seperti mau menguliti tubuh Baekhyun.

"Kau terlihat berbeda. Kau terlihat sedikit gembul, terutama di bagian pipi. Usahakanlah untuk diet. Matamu juga bengkak. Kau... habis menangis?"

Baekhyun bingung mau menanggapi ucapan Chaeyoung bagaimana. Dirinya juga sedikit tersinggung saat diminta untuk diet.

Aku tidak gembul, Noona! Ibu bilang aku bertambah imut!

"Akan ku usahakan. Aku permisi dulu, Noona." Tanpa menunggu balasan dari Chaeyoung, Baekhyun segera keluar dari gedung kantor itu.

"Hey! Kau belum menjawab pertanyaanku yang satunya! Aishh! Tapi... sepertinya aku tau alasannya. Haha dasar sok polos."

*flashback end

Rrrr!

Ponsel baekhyun yang tiba-tiba bergetar menyadarkan dirinya dari lamunannya barusan.

'Nomor Tidak Dikenal'

Mungkin hanya orang iseng, pikir Baekhyun.

Tapi nomor itu terus menghubungi Baekhyun berkali-kali hingga membuat Baekhyun kehilangan kesabarannya.

"IYA! HALO-HALO! ADA YANG BISA SAYA BANTU? BILA TAK ADA JANGAN HUBUNGI SAYA LAGI!" Baekhyun yang sudah naik pitam tanpa ia sadari berteriak ke seseorang yang ada di seberang ponselnya.

Lima menit berlalu, masih belum ada jawaban.

Sudah ku duga pasti orang iseng, ucap Baekhyun dalam hati.

"Baiklah akan saya tutup."

"Tunggu! B-Baekhyun..."

DEG!

Suara ini...

"Ekhem, Ada yang bisa saya bantu?" Baekhyun berusaha berbicara senormal mungkin. Walau hatinya merasakan sedikit denyutan nyeri.

"Baekhyun, ini aku C-Chanyeol." Baekhyun memutarkan bola matanya malas.

Hah~ mau apa lagi orang ini?

"Ada apa?"

"Bisa... kita bertemu?" Baekhyun yang mendengar itu mengerutkan keningnya bingung.

"Ku pikir kau tidak mau menemuiku lagi." ucap Baekhyun santai sembari mengamati kuku-kuku jari tangannya yang sudah terlihat panjang.

"Kumohon Baek... Aku hanya ingin menemuimu sekali ini saja..." Chanyeol berucap dengan nada yang amat sangat jelas terdengar memelas. Hal itu membuat Baekhyun tanpa sadar mengembangkan senyumnya.

"Baiklah. Dimana? Kapan?"

"Apakah bisa sekarang? Di taman kompleks saja."

Ada apa sih? Sepenting itu hingga harus saat ini juga?

"Okey. Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"

"Tidak. H-hanya jangan lupa mengenakan mantelmu. Di luar dingin. J-jangan salah paham! Aku hanya tidak ingin kau merepotkanku bila tiba-tiba kau mati kedinginan!" Jelas sekali terdengar bahwa Chanyeol sedang gugup.

Baekhyun yang mendengar itupun hanya terkekeh pelan. "Baiklah. Lagi pula kalau aku mati pun kau pasti akan senang."

Tidak ada balasan dari Chanyeol. Tiba-tiba sambungan mereka dimatikan sepihak oleh Chanyeol.

Baekhyun memandang ponselnya. Hanya satu kata yang bisa mendeskripsikan Chanyeol yang barusan menghubunginya itu. Aneh.

Dengan terburu-buru, Baekhyun menyambar mantel coklat miliknya yang sengaja ia gantungkan di belakang pintu kamarnya. Ia juga tak lupa membawa ponsel dan dompetnya. Setelah itu baru ia turun ke bawah.

Ibu Baekhyun yang sedang menonton televisi di ruang tengah menatap anaknya bingung. Mau ke mana anaknya buru-buru seperti itu?

"Baekhyun! Mau ke mana?"

"Keluar sebentar." Baekhyun memandang Ibunya itu sesaat. Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah tersenyum manis seraya berkata, "Tak usah memasang wajah khawatir begitu. Aku akan kembali."

Belum sempat Ibunya membalas, pintu rumah sudah ditutup duluan oleh Baekhyun.

"Walaupun kau memintaku untuk tidak khawatir, perasaan ini selalu menghantuiku Baekhyun setiap kali kau melangkah keluar rumah... Yang dapat kulakukan adalah berharap ini bukan perasaan yang berarti apa-apa..."

–Lord Jinx–

Setelah lima menit berjalan, akhirnya sampai juga Baekhyun di taman. Pencahayaan di sana memang remang-remang karena ini sudah malam hari dan jarang ada orang lewat saat sudah di atas jam 10 malam begini.

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke sekitar taman. Mencari di mana keberadaan Chanyeol.

Tak berapa lama, akhirnya ia menemukan siluet seorang pria yang tengah duduk di kursi taman. Dapat terlihat pandangannya lurus ke depan. Ia juga tidak melakukan apa-apa. Hanya, melamun?

Setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu adalah Chanyeol, Baekhyun segera berjalan mendekat ke arah pria itu.

"Chanyeol?" Baekhyun menepuk pundak pria itu pelan. Namun pria itu malah terlihat terkejut sekali atas kedatangan Baekhyun membuat Baekhyun juga ikut berjengit kaget.

"Baekhyun! Kau mengagetkanku, tau!" Ternyata memang itu Chanyeol.

"Reaksimu yang berlebihan juga membuatku kaget!" ucap Baekhyun tidak mau kalah.

"Hah~ sudahlah aku tidak mau ribut denganmu. Duduklah." Chanyeol menepuk tempat kosong di sebelahnya. Baekhyun dengan perlahan mendudukkan dirinya.

Hening beberapa saat. Chanyeol dan Baekhyun sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Angin malam yang menyapu wajah mereka berdua seakan membawa ketenangan tersendiri bagi diri mereka masing-masing.

"Baekhyun, aku ingin minta maaf padamu." Dengan keberanian yang telah ia kumpulkan sejak lama, akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Chanyeol.

"Minta maaf untuk apa?" ucap Baekhyun dengan pandangan yang masih fokus ke depan.

"Maaf telah membuatmu menderita selama 4 bulan terakhir ini. Karena ku... Karena ku kau harus menanggung ini semua sendiri. Maaf sekali lagi. Aku sungguh menyesal telah melakukan itu." Setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Chanyeol. Disusul dengan tetesan-tetesan berikutnya.

Baekhyun mengalihkan atensinya ke arah Chanyeol. Melihat chanyeol yang menangis membuat hatinya terasa seperti disengat ribuan lebah. sakit sekali.

Dengan perlahan, Baekhyun membawa Chanyeol ke dalam pelukannya. Mengusap punggung Chanyeol dengan gerakan teratur. Bermaksud agar Chanyeol bisa sedikit lebih tenang.

Chanyeol menjatuhkan kepalanya ke pundak kanan Baekhyun. menyembunyikan wajah cengengnya di sana. Chanyeol membawa kedua lengannya ke punggung belakang Baekhyun. Memeluknya erat-erat. Menyalurkan seluruh emosinya lewat pelukan.

"Sshhh, aku tidak menyangka. Chanyeol yang biasanya hanya membentakku, memandangku dengan tatapan dingin, bahkan menaparku, bisa menangis juga." Dapat Baekhyun rasakan pelukan Chanyeol mengerat. Baekhyun terkekeh pelan.

"Aku belum bisa memaafkanmu, Chanyeol. Sikapmu padaku dulu sungguh keterlaluan. Tapi bukan berarti aku tidak mau memaafkanmu. Aku hanya perlu waktu lebih." Tidak ada jawaban dari Chanyeol. Ia masih setia menyembunyikan wajahnya di pelukan Baekhyun.

"Aku menyayangimu, Chanyeol. Sungguh." Baekhyun sedikit tersentak saat tiba-tiba Chanyeol melepas pelukan mereka. Wajah sembab sehabis menangis Chanyeol sungguh membuat Baekhyun ingin tertawa. Tetapi sebisa mungkin ia tahan.

"Sudah puas menangisnya?" Baekhyun bertanya dengan senyuman keibuannya. Membuat Chanyeol merasakan seperti ada jutaan kupu-kupu tengah berterbangan di dalam perutnya.

"Aku juga menyayangimu, Baekhyun." Baekhyun yang tidak menyangka akan mendapat pernyataan seperti itu memasang wajah terkejutnya yang mana malah membuat Chanyeol semakin gemas.

"Jangan memasang wajah seperti itu, Baekhyun. Kau membuatku semakin ingin menciummu." Baekhyun yang mendengar itu menundukkan wajahnya malu. Ia yakin pipinya saat ini sudah seperti udang rebus.

"Maka lakukanlah." Baekhyun bercicit pelan. Chanyeol yang tidak dapat mendengarnya sedikit memajukan wajahnya agar dapat mendengar suara Baekhyun lebih jelas.

"Apa kata-"

Cup~

Belum sempat Chanyeol menyelesaikan kata-katanya, kecupan manis dari Baekhyun sudah mendarat di bibir miliknya. Chanyeol tentu saja terkejut. Tapi setelah itu senyuman lebar ia sunggingkan.

Dengan gerakan sigap, Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun ke arahnya. Membawa Baekhyun ke dalam sebuah ciuman yang lembut.

Baekhyun terkejut. Wajahnya yang tadi sudah merah bertambah merah. Bahkan dapat ia rasakan telinganya juga ikutan memanas.

Lama-lama, Baekhyun dapat mengikuti pergerakan Chanyeol. Ciuman mereka pun yang awalnya lembut, kini sudah dibumbui dengan napsu keduanya. Membawa mereka ke ciuman panas syarat akan napsu.

Baekhyun yang mulai kehabisan napas menepuk dada Chanyeol perlahan. Chanyeol yang mengerti pun segera melepaskan tautan ciuman mereka. Meskipun sudah terlepas, belum ada niatan dari keduanya untuk menjauhkan wajah mereka. Mereka berdua masih saling tatap dengan jarak yang bisa dibilang sangat dekat itu.

Chanyeol memandangi wajah Baekhyun yang terlihat semakin menawan dengan tambahan rona merah di sekitar pipinya.

Baekhyun memandangi wajah Chanyeol dengan perasaan kagum. Wajah Chanyeol masih terlihat sangat tampan meski matanya sedikit sembab.

"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun."

Dengan malu-malu Baekhyun menjawab, "A-aku juga..."

"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu." Chanyeol sedikit menggoda Baekhyun.

"Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol!" Chanyeol terkekeh geli. Baekhyun yang melihat itu mem-pout kan bibirnya kesal. Tak lupa dengan rona merah merona yang kini semakin tercetak jelas di pipinya.

Chanyeol menyingkirkan rambut Baekhyun yang menutupi dahi pria manis itu. "Pulanglah. Ini sudah larut malam. Aku tidak ingin kau dan anak kita sakit."

Baekhyun yang mendengar itu tersenyum malu-malu. Anak kita ya...

"Kau tidak pulang juga ke rumahmu?" Baekhyun bertanya pada Chanyeol dengan raut wajah kebingungan. Rumah mereka bersebelahan, mereka bisa kan jalan pulang bersama.

"Kau duluan saja. Aku masih ingin menikmati langit malam dulu di sini," ucap Chanyeol seraya memberi seulas senyuman kepada Baekhyun.

Chanyeol memang tersenyum, tetapi menurut Baekhyun di balik senyuman itu seperti ada sesuatu yang Chanyeol sembunyikan. Entahlah, mungkin hanya perasaannya saja.

"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya," ucap Baekhyun seraya beranjak dari tempat duduknya.

Belum sempat ia melangkahkan kakinya, tangan besar Chanyeol terlebih dahulu menggenggam pergelangan tangannya. Dengan sekali hentakan, Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam ciumannya.

Hanya ciuman singkat, tetapi dapat membuat jantung kedua insan itu berdetak tak karuan.

"Hati-hati di jalan." Chanyeol hanya dapat mengatakan itu. Ia sangat gugup saat ini.

"E-eum. A-aku duluan." Baekhyun berbalik membelakangi Chanyeol. Perlahan ia melangkahkan kakinya menjauh. Meninggalkan lelaki tinggi itu di belakangnya.

Semakin Baekhyun menjauh, semakin Chanyeol merasakan sakit di dada kirinya. Air mata yang semula masih dapat ia tahan mulai mengucur deras. Ribuan kata maaf ia ucapkan pada sosok di depannya yang semakin lama semakin tak terlihat oleh jarak pandangnya.

Perasaan menyesal seperti menyelimuti hatinya. Ia menyayangi Baekhyun, tapi apabila ia tak menuruti perintah wanita gila itu, putra kesayangannya lah yang akan merenggut nyawa.

"ARRGHH! PARK IDIOT CHANYEOL!"

–Lord Jinx–

Bernafaslah Baek Bernafaslah, Baekhyun mengatakan kalimat-kalimat penenang kepada dirinya sendiri.

Uwaaa aku baru pertama kali merasakan perasaan seperti ini!

Jantungku tidak mau berhenti berdetak!

Tunggu, kalau berhenti berdetak tandanya aku mati, dong?

Kyaaa aku tidak mau mati dulu sebelum dilamar Chanyeol!

Lamunannya terhenti saat Baekhyun melihat ada seorang wanita di depannya. Dalam hati ia berdoa semoga wanita itu bukan sesosok hantu. Tapi beruntung lah Baekhyun langsung mengenali suara wanita di depannya ini saat wanita itu memanggil namanya.

"Baekhyun..." Suara itu terdengar sangat parau.

"Chaeyoung Noona? Apa yang kau lakukan di sini larut malam begini?" Baekhyun bertanya kebingungan sekaligus resah.

Dalam benaknya ia bertanya, 'Bagaimana jika Chaeyoung Noona tahu aku baru saja pergi menemui Chanyeol?'

Namun Chaeyoung tidak juga menjawab pertanyaan yang Baekhyun lontarkan. Ia hanya berjalan lurus ke depan mendekat ke arah Baekhyun saat ini.

Baekhyun semakin dibuat bingung. Ada apa dengan Noona-nya?

Beberapa waktu setelahnya, Chaeyoung kini sudah berada tepat di depan Baekhyun. Menyisakan hanya beberapa jengkal saja jarak di antara mereka.

Baekhyun tentu saja dapat merasakan tatapan dingin yang diberikan Chaeyoung kepada dirinya. Hanya saja ia tidak punya ide apa maksud dari tatapan tersebut.

"Noona, Kau tidak-"

JLEB!

Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, sebuah tusukan telah mendarat di atas perutnya.

Perlahan tubuhnya terduduk di tanah. Baekhyun sungguh tidak dapat mengolah kejadian apa yang barusan ia alami.

"Itu untuk kau yang telah datang ke kehidupanku!"

JLEB!

JLEB!

Dua buah tusukan mendarat tepat di dadanya.

Baekhyun sungguh sudah tidak berdaya sekarang. Pandangannya mulai buram. Yang dapat ia lihat hanyalah sosok Chaeyoung yang saat ini berada di atas tubuhnya yang sudah tergeletak. Dapat ia rasakan darah berdesir keluar dari tubuhnya.

"Itu untuk kau yang telah berani-beraninya bercinta dengan suamiku!

Dan terakhir,"

JLEB!

Pisau Chaeyoung layangkan menembus leher Baekhyun, memutus urat nadinya seketika.

Baekhyun,

telah kehilangan nyawanya di tangan Chaeyoung.

"Itu untuk kau yang telah merebut hati suamiku,hiks..." Isakan-isakan yang semula terdengar parau lama kelamaan semakin terdengar jelas. Digantikan dengan suara tangisan yang meraung-raung.

Suara sirine yang Chaeyoung yakini berasal dari mobil polisi semakin lama semakin terdengar jelas. Ia tak berniat melarikan diri. Ia tetap berada pada posisinya sedari tadi yang berada di atas tubuh baekhyun yang sudah tak bernyawa itu.

Ciiit..!

Polisi mulai keluar dari mobil patrolinya masing-masing kemudian berdiri mengelilingi Chaeyoung dengan mengacungkan pistol ke arahnya.

"Berdiri! Jatuhkan pisaumu dan angkat kedua tanganmu ke udara!" Chaeyoung menuruti perintah polisi itu. Ia sudah benar-benar pasrah saat ini.

Polisi yang berjalan mendekat kearah Chaeyoung, dengan kasar mulai memborgol kedua tangan wanita itu di belakang. Menyeret Chaeyoung dengan paksa agar masuk ke mobil patroli untuk segera dibawa ke kantor polisi.

Chanyeol yang baru saja sampai syok dengan apa yang ia lihat di depannya saat ini. Tubuh Baekhyun yang tergeletak bersimpah darah menjadi satu-satunya hal yang dapat ia lihat.

"BAEKHYUN!" Chanyeol berlari ke arah tempat kejadian perkara yang telah dikelilingi oleh garis polisi.

Belum sempat ia melewati garis polisi tersebut, dua orang polisi berbadan besar telah mencegahnya terlebih dahulu.

"APA-APAAN KALIAN! AKU INGIN MENEMUI BAEKHYUNKU!" ucap Chanyeol memberontak.

"Anda tidak bisa, Tuan. Itu dapat merusak bukti-bukti yang ada di TKP," ucap salah satu polisi tersebut.

"AKU TIDAK PEDULI! BAEKHYUNKU SAAT INI SEDANG KESAKITAN!"

"Bawa dia menjauh." Salah seorang polisi tersebut berucap ke rekan polisinya yang lain.

"Baik."

"LEPASKAN AKU! BIARKAN AKU MENEMUI BAEKHYUN! LEPASKAN! Lepaskan, kumohon..."

Chanyeol dibawa menjauh dari TKP utama. Ia kini tengah duduk di kursi taman yang beberapa jam lalu menjadi tempat di mana ia dan Baekhyun saling mengucapkan perasaan mereka antara satu sama lain. Pikirannya benar-benar hanya dipenuhi dengan wajah Baekhyun saat ini.

"Baekhyun, maafkan aku... Aku benar-benar pengecut... Aku tidak dapat melindungimu... Maafkan aku..." Air mata mulai mengucur deras dari kedua pelupuk mata Chanyeol. Kenangan-kenangan masa lalunya dengan Baekhyun seketika muncul di dalam kepalanya bak kaset film.

"Chanyeol..." Sosok Baekhyun yang dibalut dengan setelan jas berwarna putih bersih tiba-tiba muncul di hadapan Chanyeol. Parasnya yang memang sudah indah bak Dewi Aphrodite semakin terlihat menawan. Datang dengan seorang bayi manis yang kini tengah tertidur pulas dalam gendongannya.

"Baekhyun? Baekhyun... aku merindukanmu... Maafkan aku, Baekhyun... Kembalilah bersamaku..." Tangisan Chanyeol semakin menjadi-jadi.

Dengan perlahan, Baekhyun membelai rambut Chanyeol dengan tangan kanannya. mengulas senyuman termanisnya yang Chanyeol bahkan baru melihatnya sekarang.

"Jangan menangisi aku lagi, Chanyeol. Aku sudah tenang di sini bersama anak kita. Kau tak perlu terus-terusan meminta maaf padaku. Aku sudah memaafkanmu, Chanyeol. Tidak ada yang perlu kau sesali, Chanyeol. Ini memang sudah jalan-Nya. Hiduplah dengan bahagia bersama Jackson. Mengerti?"

"Bagaimana aku bisa hidup bahagia tanpamu di sisiku, Baekhyun?! Aku tidak bisa!" Chanyeol berteriak di tengah isakan tangisnya.

"Kau bisa. Hanya perlu mencoba. Aku sudah bahagia. Kau juga harus bahagia Chanyeol. Aku menyayangimu Chanyeol."

"Aku menyayangimu juga Baekhyun."

Seakan di tiup angin, sosok Baekhyun seketika menghilang bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berhembus kencang.

Chanyeol menundukkan kepalanya ke dalam kedua lututnya yang ia lipat di atas kursi taman. mencoba menenangkan hati dan pikirannya sesaat.

Chanyeol menyadari sesuatu. Mungkin Baekhyun mencoba mengatakan ini kepadanya. Ia tidak dapat memulai halaman baru dalam hidupnya apabila ia terus membaca ulang halaman terakhir. Baekhyun tak menyuruh Chanyeol untuk melupakan semua kenangan tentang dirinya, ia hanya meminta chanyeol untuk mulai mengikhlaskan kepergiannya. Karena Baekhyun yakin, semua pasti akan berakhir baik-baik saja nantinya.

THE END

Ini FF Oneshot CHANBAEK pertamaku jadi... ya mohon maklum kalo masih berantakan plus nggak nge-feel :')

Menerima kritik atau saran yang membangun, jadi kalo misalkan kalian nemu ada typo atau ada diksi yang menurut kalian kurang cocok bisa kasih tau aku, ya (* _)