Ucapan Terima Kasih

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya yang pertama-tama kepada Bapak Masashi Kishimoto selaku pemilik karakter sebenar-benarnya, yang telah membiarkan saya begitu saja meminjam nama anak-anaknya secara cuma-cuma.

Di antaranya, ialah Bapak Kepala Desa Naruto Uzumaki, omong-omong Anda adalah karakter favorit saya (saya juga jatuh cinta, lho, sama Bapak). Kemudian, yang kedua ada Ibu Negara Hinata Hyuuga, Anda juga karakter favorit saya. Satu-satunya favorit saya sekali, betulan. Oh, iya, maaf karena saya telah jatuh cinta dengan suami Anda. Tapi jangan khawatir, saya tidak suka menjadi perusak rumah tangga orang, kok. Saya sependapat dengan apa yang dikatakan khalayak ramai di luaran sana, kadang cinta memang tak harus memiliki, benar bukan? Terima kasih kepada kalian berdua, kalian benar-benar mempunyai peranan besar dalam pembuatan cerita ini. Dan, karena kalian juga cerita ini bisa tertuang menjadi goresan hitam di atas putih. Terima kasih juga karena keberadaan kalian telah membangkitkan keinginan saya untuk menulis lagi. Pokoknya, kalian berdua terbaik. Oh, iya, kepada anak-anak kalian juga. Kawaki si abang kesayangan (kesayangan saya maksudnya). Lalu, Boruto si anak tengah yang penuh kejutan. Dan terakhir, si bungsu yang paling cantik dan menggemaskan. Kalian bertiga adalah pelengkap paling sempurna. Terima kasih, ya. Selanjutnya, ada Bapak Sasuke Uchiha dan Bapak Shikamaru Nara. Kalian juga keren. Kepada Bapak Sasuke, saya dulu juga pernah suka dengan Anda, dulu sebelum mengenal Bapak Naruto. Maaf, ya. Mana lagi sekarang Anda sudah mendapatkan wanita terbaik juga. Apalah saya dibanding Dokter Sakura. Hanya butiran debu. Pokoknya, terima kasih kepada Anda dan Bapak Shikamaru, dengan adanya kalian berdua pembuatan dialog dalam cerita ini dapat menjadi lebih hidup. Terus, kepada bapak siapa lagi, ya?

Oh, iya, untuk bapakmu.

Selamat membaca!


Sweeter Than Sweet

Ada yang lebih manis dari permen kapas, setoples manisan kering, dan aroma lembut yang mampu membuat siapapun meneguk liur tak sabar seperti saat sesekali jelang sore Himawari — si bungsu mungil tersayang — bergegas membuka pintu kamar demi menemukan sang ibu yang baru saja mengeluarkan pie apel dari dalam oven. Itu, kamu. Iya, kamu.

Oke, maaf. Bercanda. Sekali-kali menggodaimu 'kan tak apa. Biar senyum. Karena cemberut terus juga tak akan mengurangi sedikit pun kerumitan dunia.

Nah, benar begitu. Kan, manis.

Hehe.

Baiklah, baik. Ini tentang keluarga Uzumaki. Sebenarnya, tidak ada yang terlihat wah atau bagaimana. Kamu tahu, sekadar keseharian di pagi hari, namun terkadang bisa terlampau manis melebihi gulali, apple candy, dan lapis stroberi kesukaan anak-anak — tetapi sayangnya tak boleh makan banyak-banyak, sebab bisa bikin gigi jadi jelek, sakit perut, dan ngilu di kepala. Ya, barangkali inilah alasan mengapa hidup itu juga tidak harus selalu berasa manis. Pahit, asam, gurih, dan asin, itu tetap perlu. Benar, karena manis terus tidak berarti akan membuatmu bahagia melulu.

Matahari sudah meninggi. Teriknya yang telah menghidupkan semesta kini seolah tengah mencoba mengintip dari celah tirai jendela kaca yang sengaja belum dibuka. Mencari-cari celah tipis, seiring ketika Naruto telah sampai di ujung tangga dan lekas membuka pelan pintu kamarnya.

Berjalan tanpa suara, Naruto mengukir senyum. Iris biru lautnya memancar lembut, nampak sekali kalau pria tersebut sangat suka melihat wanitanya yang masih meringkuk nyaman dan hangat dalam selimut tebal — kendati sudah berubah turun jadi setengah badan, wanitanya ini masih terlihat begitu nyenyak. Tidak terusik, sekalipun si pria pemilik marga Uzumaki di sana baru saja selesai membuka sedikit tirai jendelanya lalu duduk di sebelahnya, menumpukan kedua tangan di sisi kanan dan kirinya guna menatap penuh kasih raut lelap sang istri yang tidak biasanya belum bangun bahkan di saat ia sudah bersiap untuk berangkat bekerja.

"Hinata. Bangun, sayang." Naruto berkata lirih sekali. Sebelah tangannya memegang bahu dengan lembut.

Bias cahaya yang masuk melewati jendela serasa menusuk mata. Hinata belum terbiasa. Kelopak matanya sibuk berkedip beberapa kali guna mengais nyawa dan berusaha mendapatkan kesadarannya kembali dengan sempurna. Meski begitu, mendengar sayup sisa suara bernada rendah yang baru saja menyebut namanya masih terngiang di dalam kepala, Hinata juga jadi diam-diam tersenyum malu. Bisa-bisanya ia bangun kesiangan sampai dibangunkan oleh suami sendiri. Makin tak bisa menyembunyikan rona merah di wajah — walau masih menyipitkan kedua matanya — manakala ia berguling, lalu begitu saja mendapati wajah sang rupawan berada tepat di atasnya, rapih dengan setelan baju kerja yang lengkap.

"Capek, ya, karena semalam diajakin begadang sampai larut?" Naruto berkata lagi yang langsung dibalas dengan pahatan kurva di kedua sudut bibir. Hinata tersenyum tak masalah.

"Sekarang sudah jam berapa, Naruto-kun?" balas Hinata bertanya serak.

"Barusan sebelum naik, sih, di ruang tengah masih jam setengah sembilan kurang."

Setengah sembilan? Waw.

Sejenak Hinata mendengus. Ah! Malu sekali rasanya. Tetapi kemudian reflek meraih sebelah tangan Naruto yang masih mengungkungnya di kedua sisi, simpul yang masih berpendar di sudut bibir Hinata kini kembali tergerak menuntut jawaban dari sebuah pertanyaan baru. "Boruto?"

"Sudah berangkat ke sekolah bersama Kawaki."

"Himawari?"

"Masih di kamar. Tidurnya nyenyak sekali seperti Mamanya."

Seketika senyum Hinata makin merekah saat satu tangannya turut memukul jenaka karena salah tingkah. Dan, lantunan tawa kecil yang terdengar halus nan manis tersebut praktis mendorong Naruto jadi kembali mengikis jarak. Merendahkan tubuhnya lagi sedikit lebih dekat. Sedikit saja, tidak banyak-banyak. Memandangi sampai menemukan sekali lagi semburat merah di pipi, tak kuasa rasanya untuk tak ikut tersenyum. Hatinya membuncah, hangat tak terkira.

"Jadi, mereka berdua dikasih sarapan apa tadi?"

"Roti panggang." Naruto berbisik malu. Terkikik sendiri, sebab Hinata pasti tahu ia hanya pandai membuat sarapan itu — kecuali cup ramen tentu saja, atau ramen instan, semua orang juga pasti pandai memasak makanan tak sehat begitu, bukan? Sementara di bawahnya tampak Hinata lagi-lagi sedang mendengus senyum sambil mengangguk maklum, Naruto lalu melanjutkan, "Kamu juga aku bikinkan satu, eh dua, ada di meja. Barusan, jadi masih hangat."

"Mmh. Terima kasih, Naruto-kun."

"Tapi kalau kamu mau tidur lagi tidak apa-apa. Ini aku cuma mau pamit berangkat kerja kok," ujar Naruto lagi tak mau memberatkan, seraya diam-diam menyelipkan jemarinya bermain di antara anak rambut selagi menunggu sang istri yang kemudian menggelengkan kepala, lalu menariknya mendekat saat mencoba mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher.

"Mau bangun sekarang?" Naruto bertanya pelan di dekat telinga.

Hanya dengan anggukan kepala dari balik bahu, Naruto lantas beranjak menegakkan punggung, yang secara mekanis juga turut membawa tubuh Hinata ikut terangkat dan membuatnya sama-sama duduk saling berhadapan — tak berjarak, sebab Hinata masih merengkuh lehernya; oh, barangkali hanya wajah mereka yang masih memiliki jarak; itu pun hanya dua senti, tak begitu berarti.

"Selamat pagi, Nona Muda," sapanya hangat, terlambat sekali memang.

"Nona Muda? Aku masih terlihat muda, ya?"

"Hm."

Hinata mendengus. Entah untuk yang keberapa kali wanitanya itu dibuatnya tak bisa berhenti mengulas senyum. Suaminya ini sungguh pintar sekali menyenangkan hatinya. Maka tak tahu lagi harus berkata apa, dan bukannya segera bangkit dari tempat tidur lalu mengantar suaminya sampai di depan pintu rumah seperti biasanya, Hinatanya kini justru tiba-tiba memberikan ciuman pagi secara mengejutkan.

Naruto jadi tak tahan ingin tertawa. Tahu benar hal tersebut adalah sebuah isyarat. "Ada apa? Mau nitip apa? Mampir ke toko Yamanaka? Mau beli bunga lagi?"

Hinata memajukan bibir, tak terima. "Kenapa kalau aku bersikap manis selalu saja dikira ada maunya."

"Terus?"

Naruto nyaris tak percaya saat tahu-tahu Hinata malah memiringkan kepala dan mempertemukan kembali tubirnya yang masak dengan miliknya. Menyesap lembut. Sesekali menggoda dengan lumatan yang lebih manis. Jelas saja Naruto terang-terangan melepas senyum di tengah aksi dari bibir keduanya yang masih saling beradu.

Salah. Salah besar, Naruto. Bukan karena ada maunya. Sok tahu, sih.

Hinata malah seolah tak mau membuat ciuman mereka berlangsung singkat begitu saja. Ketika bahkan wanitanya di sana bergerak menumpukan kesepuluh jemarinya di kedua bahu tatkala mencoba memperbaiki cara duduknya agar menyamai tinggi dengannya. Atau mungkin sedikit melebihi tingginya. Biar lebih mendominasi.

Namun saat merasakan tangan sang pria di belakang punggung yang mulai terbawa oleh atmosfer panas yang dibuatnya, Hinata justru tiba-tiba menarik diri. Walau nyaris tak berjarak, kedua tangannya yang masih bertahan menangkup di kedua pipi tak menghentikannya dalam meloloskan tawa kecil, terbius oleh euforianya sendiri. Mana lagi istri tercintanya ini menambahkan kecupan-kecupan singkat yang bertubi-tubi, rasanya Naruto sudah kehabisan aksi. Maka terima saja dengan senang hati, kemudian tersenyum hangat, sebelum akhirnya berkata menyerah, "Tapi aku harus segera berangkat, sayang."

"Iya. Tahu, kok."

Naruto menaikkan sebelah alis. Mengerling heran manakala Hinata lagi-lagi malah makin merapatkan tubuh dan kembali mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher. Rona di pipi yang berubah semerah tomat entah bagaimana membuat sang dara jadi terlihat makin memikat dengan setelan bangun tidur yang menggemaskan. Mendorong jemarinya bergerak lembut di pinggangnya, bukti bahwa Hinatanya kini benar-benar telah berhasil membuatnya menyerah.

"Kenapa kamu tiba-tiba ingin melakukannya saat aku sudah harus pergi kerja, hm?" Meski terdengar seperti enggan, namun nyatanya pertanyaan tersebut hanyalah kalimat retoris. Sebab sesaat setelah Hinata membalas dengan cekikikan manis, Naruto begitu saja menerjangnya dengan kecupan, hisapan, serta lumatan demi lumatan yang saling menawarkan keintiman intens, persis seperti yang Hinata harapkan.

Matahari terik yang menembus jendela kaca tak menghambat aksi dari sepasang manusia yang tengah sibuk memamerkan keromantisan mereka di pagi bolong begini. Si pria bahkan baru saja membaringkan tubuh mereka. Bukan bergerak tak sabaran, tetapi lebih kepada saling menikmati afeksi kuat bersama sensasi menggelitik yang ditawarkan. Pun tak hanya saling menukar kelembutan dari riuh rendah setiap decapan, tetapi juga jemari lentik yang dengan terampil mengurai simpul dari tali jubah Hokage yang Naruto kenakan. Di mana sedetik kemudian, si pirang rupawan tersebut begitu gesit mengambil alih dengan tangannya sendiri sebelum melemparnya secara asal.

Pagi yang erotis.

Tetapi, ah, akui saja. Bukankah terasa sangat manis?

Dan, oh! Puja kerang ajaib. Naruto sungguh biadab — dalam konteks jenaka. Maksudnya apa melemparkan jubah Hokagenya ke sembarang arah jika akhirnya tak memberi izin pada jemari Hinata untuk melanjutkan menarik turun kancing baju kerja yang ia pakai dan menahannya di sana seraya melepas ciuman secara tiba-tiba?

Oh, ayolah! Tadi itu sudah sangat panas, dan mereka juga sudah sama-sama memerah.

Namun masih, Naruto teguh pada pendiriannya. Tak enak hati, sebenarnya. Tak ingin pula melewatkan momen manis ini — atau bahkan terlampau manis, sebab jarang-jarang Hinatanya bertingkah agresif begini. Tapi mau bagaimana lagi, tuntutan pekerjaan kadang ada yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Melakukannya dengan cepat juga bukan solusi. Karena jelas, kalau sudah bersama Hinata, Naruto tidak bisa jika tidak berlama-lama.

Maka dengan berat hati, Naruto tersenyum lembut. "Sudah untuk pagi ini, ya. Terima kasih, tadi itu manis sekali."

Hinata mengerjap, sejenak menatap kosong. Merasa tak percaya manakala sepasang iris pucatnya bergulir menyiratkan kekecewaan. "Naruto-kun, bercanda ya?"

Naruto mendengus gemas, dalam hati berkata imut sekali seiring kepalanya yang kemudian menggeleng. "Aku benar-benar harus pergi sekarang," jawabnya sambil meraih jubah Hokagenya yang ikut berantakan di antara selimut tebal.

"Benarkah? Tidak bisa ditunda sebentar saja?"

"Tidak bisa." Naruto memberi jeda. Kepalanya merendah, lalu memberikan ekstra kecupan sekilas. "Pagi ini Sasuke akan datang ke Konoha, sayang. Jadi, pasti akan ada pertemuan terkait informasi penting yang dibawanya. Kamu tahu, Shikamaru bahkan mengancam akan memenggal kepalaku kalau sampai terlambat datang. Mana Sasuke juga tak mau bermalam lama-lama di Konoha. Dasar memang bocah sialan itu, yang jadi Hokage siapa, yang mengatur jadwal siapa." Naruto tanpa sadar malah menggerutu sebal. Terbawa oleh kekesalannya sendiri.

Entah Naruto memang sedang sebal sungguhan, atau sebenarnya hanya membual sekadar karena ingin menghapus kekecewaan dan membuatnya tertawa, Hinata tidak tahu. Tetapi yang pasti, Naruto telah berhasil. Berhasil membuat atmosfer intim yang melingkupi mereka kembali hangat, dan rasanya jadi tidak ingin lagi memasang muka masam lebih lama.

"Ya sudah, iya, tidak apa-apa," balas Hinata seraya sekali lagi membawa kedua lengannya merengkuh tengkuk leher, sementara prianya itu lekas beranjak bangun sekaligus menarik tubuhnya bersama-sama.

"Tapi, kok, mukanya begitu? Senang, ya, kalau aku menderita?"

Entahlah, katanya mau cepat-cepat pergi, tapi masih saja ingin bermain kata. Mana kedua tangannya masih tertahan di sana sambil setengah memeluk. Jelas saja Hinata jadi gemas sendiri. Tak bisa lagi menahan tawa, dan lolos begitu saja selagi kedua tangannya beralih mengambil jubah Hokage dan membantu memakaikannya sembari berkata menyindir, "Masih mau di sini? Nanti betulan dipenggal, lho, kepalanya."

Naruto sontak saja ikut tergelak. Membalas setuju. "Kejam sekali, kan?" katanya. Tetapi kemudian merapatkan rengkuhannya untuk yang terakhir kali, masih dalam atmosfer yang menyelimuti hangat keduanya, Naruto lantas menambah satu kali lagi ekstra kecupan di dahi sesaat sebelum akhirnya benar-benar harus berkata pamit, "Aku pergi sekarang, ya. Nanti aku usahakan pulang cepat — "

"Jangan suka membuat janji kalau tidak ditepati."

"Ah, iya." Naruto menggaruk pelipis. Menciut. Kalah telak. "Kalau masih capek jangan dipaksain, lho. Istirahat. Sesekali rumah berantakan tidak apa-apa kok." Bergerak mengusap dengan sayang pipi Hinatanya sebentar, Naruto kemudian bangkit. "Oh, iya. Roti panggang bikinan suami tercinta jangan lupa dimakan, ya. Aku pergi, sayang. Dah."

Senyum lembut terpatri begitu Naruto berbalik hingga berjalan ke luar kamar. Akan tetapi, belum genap satu menit berlalu, pria yang menjuluki dirinya sendiri sebagai suami tercinta tersebut tiba-tiba membuka pintu kamarnya lagi, lalu buru-buru memunculkan setengah badannya seolah telah melupakan sesuatu yang amat penting yang mungkin tertinggal. Tetapi tidak, Naruto hanya kembali demi memenuhi tradisi yang ia buat sendiri.

"Aku melupakan mantranya." Naruto berseru tergesa. Dilihatnya Hinata tengah menarik kedua sudut bibirnya antusias. Menanti — padahal sudah hafal benar mantra apa yang hendak ia rapalkan.

"Hinata, I love you, sayang." Begitu mantranya. Terdengar tulus.

Mungkin bagi sebagian orang akan terdengar membosankan. Tapi, Naruto tidak peduli. Ia punya alasan sendiri. Bahwa semenjak menjadi Hokage, ia merasa jadi jarang sekali memiliki waktu untuk keluarganya sendiri. Terlebih di beberapa pekan terakhir, setiap kali pulang tak jarang lampu rumah sudah dalam kondisi padam. Maka dari itu, satu-satunya yang bisa ia berikan tanpa harus memusingkan waktu, ialah hal kecil berupa mantra sihir — yang agak klise memang, namun ia sungguh berharap hal tersebut dapat membuat Hinatanya akan selalu dipenuhi oleh cinta darinya, tanpa perlu merasa jauh kendati ia tak bisa selalu membersamai dalam kesehariannya, dan ia juga ingin Hinata tahu bahwa ia selamanya akan mencintainya begitu banyak. Banyak sekali.

Barangkali satu-satunya yang masih bisa Naruto dapatkan usai merapal mantra dan sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu, lalu berakhir senyam-senyum sendiri sepanjang ia menuruni anak tangga, mengenakan sepatu, mungkin juga sampai di sepanjang jalan menuju ke kantornya nanti, ia sempat melihat ada rona samar di antara senyum tulus yang menyentuh mata. Ya, tentu, Hinata menyukainya. Hinata juga mencintainya begitu banyak. Bukan, bukan soal mantranya berhasil atau tidak. Tetapi, Hinata memang sudah seperti itu sejak dulu. Sudah mencintainya begitu banyak sejak pertama kali mereka bertemu. Hanya terlalu bodoh saja ia sempat tak menyadarinya. Ya, Hinata akan selalu seperti itu. Selalu.

Maaf, Hinata.

Terima kasih, Naruto-kun. []

.

.

.

Fin.

Semoga suka, ya. Ily.