Getsurenka

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto selamanya XD

Genre: Friendship, Fantasy(campur aduk dan tidak terikat budaya apapun) dan lain-lain.

Warning: AU, OC, OOC, Gaje, Typo, Author masih perlu belajar banyak dalam membuat FF.

Rate: T

Main Pairing: NejiTen

Usia karakter: Amamiya (Hyuuga) Neji: 22 tahun.

Hayasaka Tenten: 20 tahun.

Namikaze Naruto: 22 tahun.

Yamanaka Ino: 20 tahun.

Uchiha Sasuke: 22 tahun.

Characters: Hyuuga Neji, Tenten, Uzumaki Naruto, Others. (Kemungkinan ada karakter2 lain yang akan muncul sesuai cerita)

.

.

.

Chapter 1

Tiga belas tahun kemudian pada pagi harinya. Di dalam Istana Konoha, Kamar Tidur Tenten….

Kicauan burung-burung menyambut datangnya sang mentari yang tengah muncul dari ufuk Timur. Sinar mentari datang dan menembus masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup oleh tirai jendela itu. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku bagi sang Putri Mahkota yang kini sudah berusia sembilan belas tahun, Hayasaka Tenten. Jam weker berbentuk panda itu terus berdering nyaring meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.55 pagi, sang pemilik justru mengabaikannya dan malah semakin terlelap dalam alam mimpinya. Rambut panjang cokelat miliknya pun terlihat berantakan, begitu juga dengan selimut yang tadinya menutupi tubuhnya kini tersingkir entah kemana. Bahkan sinar matahari dan kicauan burung serta alarm yang sejak tadi berbunyi tidak membuat gadis tersebut membuka matanya barang sedikit saja.

CKLEK!

Yamanaka Ino, gadis Holy Seraphim kelas bangsawan yang berasal dari Klan Yamanaka yang bekerja sebagai salah satu pengawal pribadi Tenten sekaligus asisten pribadinya telah membuka pintu kamarnya. Kemudian, Ino berjalan masuk dan menghampiri Tenten untuk membangunkannya.

"TENTEN! BANGUNNNNN! MAU SAMPAI KAPAN KAU TIDUR SEPERTI ITU HAH?! KAU MAU BERSAING DENGAN BERUANG YANG SEDANG HIBERNASI?!" Terdengar kurang sopan memang ketika membangunkan seorang Putri Mahkota dengan cara seperti ini, tapi hal ini sudah biasa bagi mereka berdua termasuk Neji dan Sasuke yang sudah bersahabat sejak masa kanak-kanak sampai sekarang walau berbeda kasta dan ras, begitu pula dengan Naruto yang notabene merupakan kakak sepupu yang sangat dekat dengan Tenten.

Tenten yang merasa terganggu pun dengan terpaksa membuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali dan mendapati Ino yang sedang berdiri di hadapannya.

Sang Putri Mahkota Kerajaan Konoha itu menggeram kesal lalu dengan cepat ia pun mengubah posisi tidurnya menjadi terduduk dan menatap sengit Ino, "Apa yang kau lakukan di sini, Ino?"

"Tentu saja untuk membangunkanmu, Panda." Jawab Ino malas.

"Eum….tapi aku masih ngantuk. Biarkan aku tidur sepuluh menit lagi…." Gumam Tenten sebelum akhirnya ia kembali memejamkan mata dan merebahkan dirinya di tempat tidur.

Ino mengibaskan keenam sayap putih keperakannya tak sabar. Gadis berambut pirang pucat panjang yang dikuncir kuda itu berkacak pinggang sambil melotot ganas ke arah Tenten yang malah asyik terlelap, "Ya ampun, Tenten! Ini sudah hampir jam tujuh! Yang Mulia Raja sudah menunggumu di ruang makan! Cepat bangun dasar, Putri Tidur!"

Dengan malas, akhirnya Tenten bangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan gontai menuju ke kamar mandi dan menghilang di dalamnya. Melihat Tenten sudah masuk ke kamar mandi, dengan segera Ino membereskan tempat tidur Tenten dan menyiapkan pakaian dan perlengkapannya untuk Tenten. Setelah semuanya beres, Ino melangkah keluar meninggalkan Tenten yang sedang sibuk membersihkan diri di kamar mandi.

.

.

.

Setelah selesai mandi, Tenten segera berpakaian dengan pakaian dan perlengkapannya yang sudah disiapkan oleh Ino. Gadis berambut cokelat terkepang satu dengan dua cepol di kedua sisi kepalanya yang menjadi ciri khasnya itu mengenakan qipao pendek tanpa lengan berwarna putih dengan bagian punggungnya terbuka hingga batas pinggang, dengan aksen lidah api berwarna biru langit di sebelah kiri depan qipao-nya (re: Gaya rambut dan pakaian qipao-nya persis seperti di The Last: Naruto the Movie tapi bagian punggung dan warna aksen lidah apinya diubah sedikit :D), lalu ia mengenakan sebuah sabuk berwarna hitam yang melingkari pinggang mungilnya. Kemudian ia mengenakan sarung tangan berwarna hitam tanpa jari yang menghiasi tangannya hingga ke bawah siku, sepasang kakinya yang jenjang dilapisi stoking hitam dan ia juga mengenakan sebuah armor baja berwarna biru langit di sekitar dada, perut, pinggang hingga punggung bawah, sedangkan bagian punggung atasnya tetap dibiarkan terbuka tanpa terlindungi apapun. Sebagai sentuhan terakhir, ia mengenakan pelindung terbuat dari logam yang berwarna senada dengan armor yang dikenakannya pada bagian leher (re: Berbentuk seperti kerah pakaian qipao-nya), bahu, lengan bawah, lutut dan kaki.

Selesai berpakaian, Tenten langsung mengeluarkan keenam pasang sayapnya yang indah dan unik dari punggungnya, empat pasang sayap biru muda langit dan dua pasang sayap biru kehitaman. Kemudian ia melesat terbang dari kamarnya menuju ruang makan keluarga Kerajaan Konoha untuk sarapan bersama dengan Ayahnya.

Setibanya di sana, Tenten melihat sang Raja Konoha ke-XXIII sekaligus Ayahnya, Hayasaka Tenrai yang sudah duduk di kursi meja makan menunggunya untuk sarapan bersama.

"Ohayou, Tenten." Sapa Raja Tenrai sambil tersenyum penuh wibawa saat melihat Tenten memasuki ruang makan.

"Ohayou, Tou-san." Jawab Tenten sambil tersenyum manis. Setelah menyapa Raja Tenrai, Tenten kembali menyembunyikan keenam pasang sayapnya dan berjalan ke arah meja makan dan tidak lupa mencium kedua pipi sang Ayah. Lalu ia beranjak untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Raja Tenrai.

"Rupanya putri kecilku ini masih belum bisa bangun pagi dengan mandiri ya?" Goda Raja Tenrai pada Tenten.

"Siapa bilang?" Protes Tenten setelah mendudukkan dirinya di kursi yang biasanya ia tempati. "Aku bisa bangun sendiri kok." Lanjutnya sambil menatap Ayahnya dengan tajam.

"Kalau begitu kenapa kau terlambat hari ini? Kalau Ino tidak membangunkanmu pasti kau akan tertidur sampai siang." Balas Raja Tenrai seraya menahan tawa.

"Tou-san!" Pekik Tenten kesal.

Raja Tenrai hanya tertawa pelan melihat wajah putri tunggalnya sedikit merengut karena ulahnya, "Hahahaha, Tou-san hanya bercanda, Tenten. Ah, sebaiknya kita makan dulu nanti sarapannya keburu dingin."

Sarapan pagi ini berlangsung hangat seperti biasa. Raja Tenrai dan Tenten sedikit mengobrol mengenai masalah perpolitikan dan berbagai topik lainnya. Selain itu, mereka juga membahas Hall of the Sanctuary dan kondisi batu Kristal Sanctuary yang selalu dijaga dan diawasi ketat oleh Divisi ANBU. Tak lupa Raja Tenrai juga menanyakan perkembangan kemampuan bertarung Tenten yang tentunya dijawab oleh Tenten secara antusias membuat Raja Tenrai selalu tersenyum melihatnya. Dalam hati dia bersyukur karena memiliki putri seriang, sebaik, sekuat, setangguh, semanis dan secantik Tenten.

Raja Tenrai sangat memperhatikan Tenten. Ia benar-benar sangat menjaga dan melindungi sang putri tercintanya yang kelak akan menjadi penggantinya. Karena itu meski Tenten kuat, pemberani dan pintar, Raja Tenrai selalu memberikan perlindungan demi keamanan dan keselamatan putrinya. Para sahabat dan kedua adik ipar terdekatnya, Namikaze Minato dan Namikaze (Uzumaki) Kushina sangat mengerti bahwa Tenten adalah satu-satunya keturunan dan satu-satunya penerus Klan Hayasaka dan Kerajaan Konoha. Lagipula sang Raja tidak berminat untuk menikah lagi, karena ia masih sangat mencintai almarhum istrinya, Hayasaka (Uzumaki) Hisayo. Sebagai seseorang yang merangkap sebagai kepala keluarga, pelindung Kristal Sanctuary juga Raja Kerajaan Konoha, Raja Tenrai tetap memikirkan putri tunggalnya, berusaha membagi waktunya antara pekerjaannya, Negaranya, Kristalnya dan Tenten. Ia sangat menyayangi Tenten dan Tenten tahu itu.

"Tou-san pergi dulu ya, Tenten. Masih banyak dokumen yang harus Tou-san periksa." Kata Raja Tenrai. Pria berusia lima puluh tahun itu bangkit dari kursinya kemudian berjalan pincang dengan bantuan tongkatnya menghampiri Tenten, tak lupa ia mencium kedua pipi sang Putri dengan lembut lalu pergi meninggalkan Tenten dan berjalan menuju ke ruang kerja pribadinya. Sementara Tenten yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum sembari menatap lurus punggung Ayahnya yang perlahan pergi menjauh dari hadapannya.

Kemudian Tenten kembali melanjutkan menyantap sarapannya. Setelah beberapa menit, akhirnya Tenten menyelesaikan sarapannya. Lalu ia menoleh pada salah satu prajurit Centaurus yang diketahui bernama Kotetsu.

"Sampaikan pada Amamiya Neji agar dia segera menemuiku di area latihan khusus keluarga kerajaan setelah jam sarapan nanti." Titah Tenten pada prajurit tersebut.

"Baik, Oujo-sama. Akan hamba sampaikan pada Neji-sama." Jawab Kotetsu sembari membungkukkan tubuhnya hormat.

"Arigatou." Ucap Tenten sambil tersenyum ramah. Prajurit Centaurus itu mengangguk dan pergi dari tempat itu.

.

.

.

Setelah acara sarapan pagi selesai, Tenten segera terbang menuju area latihan khusus keluarga kerajaan. Hobi memanah merupakan salah satu hal yang selalu disukai Tenten selain bertombak, berpedang, bela diri dan berkuda dengan Unicorn dan Pegasus.

Iris hazel itu menatap tajam ke arah tiga papan target panah dengan jarak sekitar 50 meter darinya. Tenten menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara teratur. Dengan lihai, ia menarik tali busur dan melepaskan tiga anak panah berwarna perak yang langsung melesat jauh dan cepat menuju sasaran di depan sana.

DAK!

DAK!

DAK!

Dan alhasil, itulah yang terjadi. Tenten menyeringai ketika ketiga anak panah yang dilepaskannya itu sukses menancap tepat di bagian tengah tiga papan target panah.

"Kemampuan memanah Anda semakin berkembang pesat, Oujo-sama."

Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berhasil menyita perhatian Tenten. Tenten langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Lebih tepatnya ke arah seorang pemuda berambut cokelat panjang yang dikuncir di ujungnya yang sudah tak asing lagi bagi Tenten. Amamiya Neji, pemuda itu merupakan salah satu sahabat yang paling disayangi dan dicintainya. Selain itu, pemuda bermarga Amamiya itu merupakan sahabat pertama yang berasal dari ras Manusia. Terlihat pemuda itu mengenakan mantel lengan panjang yang terbuka berwarna hitam yang memperlihatkan atasan berupa uwagi berwarna hitam. Bagian pinggangnya diikat dengan obi berwarna abu-abu gelap, kemudian di bagian depan obi miliknya, terdapat ikat pinggang kulit berwarna hitam yang melilit obi tersebut. Ia juga mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu gelap untuk dalaman uwagi-nya. Lalu ia mengenakan ikat kepala berlambang Kerajaan Konoha, celana panjang, sarung tangan kulit dan sepasang sepatu boot sebatas betis yang sama-sama berwarna hitam (re: Anggap saja pakaian Neji sebagai seorang Jedi Master Robe Star Wars ^-^)

"Neji-kun!" Seru Tenten riang saat mendapati sosok sahabat kesayangannya yang berstatus sebagai Ksatria dari Divisi ANBU sekaligus salah satu pengawal pribadinya sedang berjalan santai ke arahnya.

"Anda memanggil hamba, Oujo-sama?" Tanya Neji dengan bahasa dan nada formal sambil membungkukkan tubuhnya hormat pada Tenten.

Tenten yang melihat Neji bersikap seperti itu hanya mendengus kesal sambil memutar kedua bola matanya dengan tangan yang terlipat, "Neji! Sudah aku katakan jika hanya ada kita, kau jangan bersikap formal seperti itu!"

Neji terkekeh geli melihat kelakuan sang Putri Mahkota di depannya. Lalu ia berdeham kecil sebelum membuka suara kembali, "Ada apa kau memanggilku kemari, Tenten?"

Tenten tersenyum lebar saat melihat Neji kembali bertanya dengan menggunakan bahasa informal. Akan tetapi bukannya menjawab, Tenten justru mengarahkan tangan kanannya ke depan. Busur panah yang tadi dipegangnya sudah menghilang. Tetapi, di tangan kanannya kini muncullah sebuah tombak berwarna emas keperakan. Neji terdiam sesaat, namun sedetik kemudiania mengangguk dan langsung mengeluarkan pedang jenis Jian dari sarungnya yang tersemat di belakang punggungnya.

"Jangan kau pikir aku akan kalah lagi darimu." Tenten mengedipkan sebelah matanya seraya mengacungkan tombaknya ke arah Neji.

"Tentu saja tidak." Jawab Neji sambil memasang kuda-kuda menyerang. Pemuda bermata amethyst itu sedikit menyunggingkan bibirnya membentuk seringai tipis. "Kalau begitu tunjukkan padaku seberapa jauh kemampuanmu yang sebenarnya, Oujo-sama."

Tenten melihat seringai Neji juga ikut menyeringai, "Heh. Kalau begitu ayo kita mulai."

TRANG!

TRANG!

Tanpa berkata apapun lagi, Neji dan Tenten langsung melesat dan saling menyerang. Senjata mereka yang saling beradu menimbulkan suara yang cukup memekakan telinga menggema di area itu.

.

.

.

Untuk kesekian kalinya Raja Tenrai menghela nafas lelah. Sedari tadi ia harus dihadapkan dengan laporan-laporan mengenai berbagai permasalahan yang terjadi di Kerajaan Konoha. Ia jelas harus super ekstra teliti, penuh perhitungan dan pertimbangan. Sang Raja tidak boleh gegabah karena masa depan kerajaannya tergantung dari keputusannya nanti, apalagi semuanya sudah dipersiapkan dengan baik untuk sang calon Ratu di masa depan.

Sementara Raja Tenrai sedang terlarut dalam pekerjaannya, terlihat Namikaze Minato yang sekarang menjabat sebagai Perdana Menteri sekaligus Kepala Klan Namikaze yang berasal dari ras Sun Elves dan penasehat pribadi sang Raja sejak tujuh tahun lalu bersama Sarutobi Asuma Jenderal Divisi Ksatria Pegasus yang berasal dari ras Kerubim, Might Guy Jenderal Divisi Infantri yang berasal dari ras Centaurus dan Hatake Kakashi Jenderal Divisi ANBU yang berasal dari ras Siluman Serigala hanya berdiri terpaku di tempat masing-masing. Mereka saling melirik satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seketika sang Raja baru menyadari bahwa ada empat sosok lain di ruangan itu. Kemudian Raja Tenrai langsung mengedarkan pandangannya pada keempat orang tersebut sambil tersenyum lemah.

"Ah…..maaf, aku lupa kalau kalian ada di sini." Ucap Raja Tenrai dengan nada bersalah.

Keempat orang itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum, "Tidak apa-apa. Kami mengerti, Yang Mulia."

Sang Raja perlahan bangun dari kursinya, lalu berjalan pincang dengan bantuan tongkatnya menuju balkon istana. Iris hazel-nya menengok ke atas, memandang langit biru cerah. "Bagaimana keadaan di wilayah Ragnaval, Asuma?"

"Semuanya aman terkendali, Yang Mulia. Masyarakat beraktifitas seperti biasa. Tidak ada hal yang mencurigakan terjadi di sana." Jawab Asuma.

Raja Tenrai mengangguk, "Situasi dan kondisi sekitar perbatasan, Guy?"

"Perbatasan Konoha dengan Suna, Kumo dan Kiri masih terasa aman terkendali sampai saat ini, Yang Mulia. Hanya saja, kita masih beradu dengan Kerajaan Ame tentang wilayah kekuasaan. Apalagi masalah pemberontakan yang terjadi di daerah Barat Konoha tiga hari yang lalu. Untungnya pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan dengan cepat sebelum memakan lebih banyak korban." Jelas Guy mengacungkan jempolnya sembari memamerkan cengiran khasnya disertai dengan efek sinar pada gigi putihnya, sedangkan yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala pengecualian bagi Raja Tenrai dan Minato yang hanya terkekeh melihatnya.

"Bagaimana dengan kondisi Kristal Sanctuary, Kakashi?"

"Kondisi Kristal Sanctuary masih tetap sama. Tidak ada hal aneh yang terjadi pada kristal tersebut, Yang Mulia."

Raja Tenrai tersenyum tipis, "Kerja bagus, Asuma, Guy, Kakashi. Tidak salah aku mengangkat kalian bertiga menjadi Jenderal…"

Ketiga Jendral itu tersenyum mendengar perkataan sang Raja.

"Minato. Kuperintahkan kau untuk mengirimkan sebuah paket ke Kerajaan Rouran. Dan untuk kalian bertiga, tetap fokus pada tugas kalian. Untuk saat ini pertemuan selesai, kalian bisa kembali ke tempat kalian masing-masing." Titah Raja Tenrai sekaligus membubarkan pertemuan tersebut.

.

.

.

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

Suara gesekan senjata yang beradu memenuhi seisi area latihan khusus keluarga kerajaan. Tenten dan Neji masih bertarung sengit di atas arena itu. Mereka saling menusuk, menyerang dan bertahan. Keduanya sangat gencar melakukan serangan. Tenten mengayunkan tombaknya cepat ke Neji yang segera ditangkis dengan pedangnya.

Neji mundur beberapa langkah di saat jeda waktu beberapa detik setelah serangan sebelumnya. Kemudian dirinya melompat salto ke tembok, berlari beberapa langkah sebelum akhirnya meluncur seraya mengayunkan pedangnya ke arah Tenten.

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

Neji melayangkan berbagai serangan dengan cepat. Tenten menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan Neji, kemudian balik menyerang pemuda itu dengan lebih cepat dari sebelumnya membuat Neji cukup kesulitan menahan serangan Tenten yang sangat cepat. Tenten yang melihat ada celah pun langsung menghantamkan tendangan ke Neji. Tendangan tersebut sukses ditahan Neji dengan tangan kirinya yang diangkatnya untuk melindungi wajahnya. Kemudian memberikan serangan balasan berupa serangan pedang yang dilayangkan dengan menggunakan tangan kanannya. Tenten menangkis serangan tersebut dengan tombaknya, lalu ia melompat mundur ke belakang menjauh dari Neji.

Tenten memutarkan tombaknya, lalu ia memegang tombaknya secara vertikal, Kemudian muncullah sebuah lingkaran sihir tepat di atas Tenten. Bibirnya merapalkan sesuatu yang menyebabkan lingkaran sihir tersebut berpendar kebiruan.

"Icicle Rain!"

Dari dalam lingkaran sihir yang dirapal Tenten, muncullah ribuan jarum es kecil melesat ke arah Neji. Namun, Neji bersalto mundur sambil menangkis beberapa ratus jarum es sekaligus merapal mantra sihir untuk melindungi dirinya dari serangan jarum es yang masih mengarah padanya.

Neji dengan cepat menghempaskan pedangnya yang berselimutkan api hitam kemerahan ke serangan jarum es yang dirapalkan oleh Tenten. Beberapa detik, muncullah sebuah gelembung berselimutkan lidah api hitam kemerahan dan berukuran sedang telah menyelubungi dirinya, membuat jarum-jarum es itu mencair dan lenyap seketika begitu serangan es tersebut mengenai gelembungnya. Dengan gerak cepat, Tenten pun kembali menyerang Neji.

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

Tak pelak, adu pedang dan tombak antara Neji dan Tenten pun kembali terjadi. Namun, kali ini Neji menyerang dengan lebih agresif yang mengakibatkan Tenten cukup kewalahan menghadapinya. Bukan hanya karena teknik serta kecepatan dan kekuatan magic yang dimiliki Neji itu yang luar biasa. Melainkan juga karena staminanya yang tampak tiada habis-habisnya.

"Fiery Wave!" Imbuh Neji. Ia melayangkan tebasan secara horizontal. Menciptakan tebasan kobaran api hitam kemerahan berbentuk horizontal yang melesat menuju ke arah Tenten.

BWOSHHHH!

Tenten tak tinggal diam. Ia mengganti tombaknya yang kini menjadi sebilah pedang. Saat serangan yang dilancarkan oleh Neji akan sampai pada gadis bermarga Hayasaka itu. Tenten langsung mengayunkan pedangnya, menebas kobaran api tersebut hingga kobaran api tersebut meledak.

DHUARRRR!

"Ice Blast!" Tenten kembali merapal sihir elemen es. Sebuah bongkahan es berukuran besar melesat ke arah Neji. Namun, Neji dengan tangkas menghindari serangan tersebut. Lalu, baik Neji dan Tenten kembali melesat cepat dan saling menyerang satu sama lain.

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

TRANG!

PRANG!

BRUAK!

JLEB!

Ujung pedang berwarna putih keperakan yang tajam itu melayang berputar-putar kemudian jatuh dan menancap di tanah. Untuk sesaat, Tenten menahan nafas. Ia terpaku dan terkejut melihat Neji yang tengah berhasil melucuti senjatanya. Terlihat Neji yang tetap berdiri tegak dengan nafas yang tersengal sambil mengacungkan pedangnya ke arah Tenten yang sudah jatuh berlutut di atas area yang kini tertutupi oleh lapisan es dan kobaran api-api kecil yang bahkan telah padam di segala sisi.

"Hah…Hah….Hah….Aku menyerah, Neji-kun." Ujar Tenten seraya mengangkat tangan kanannya.

"Sejauh yang kuamati, kemampuan bertarung dan serangan sihirmu semakin meningkat, Tenten. Pengendalian sihirmu juga cukup baik dilihat dari sihir esmu tadi. Berlatihlah yang giat agar kau bisa menjadi Ratu yang hebat kelak." Kata Neji sambil menyarungkan pedangnya, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Tenten berdiri.

"Hah…hah…hah…terima kasih atas sarannya." Kata Tenten sambil menerima uluran tangan Neji. Gadis bercepol dua itu menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya dengan menggunakan tangan kirinya. Napasnya masih terengah-engah, namun ia sudah bisa mengontrolnya sekarang. Sudah lima jam untuk waktu yang terbuang karena mereka terus berlatih tanpa henti dan keduanya hampir kehabisan stamina karena hal ini. "Kau juga memiliki kemampuan dan kekuatan yang tidak kalah hebat dengan Naru-nii, Sasuke dan para Jenderal lainnya. Tou-san dan Minato-jisan pun mengakui dan mengagumi bakatmu. Bahkan Tou-san sendirilah yang merekomendasikan kamu menjadi anggota ANBU."

"Kau terlalu berlebihan, Tenten." Kata Neji seraya menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak berlebihan, Neji-kun. Aku berbicara sesuai fakta."

"Tenten. Berhentilah berbicara. Lihatlah kau begitu kelelahan. Ini, minumlah dulu." Tukas Neji sambil mengulurkan botol air minum yang dibawanya pada Tenten.

"Hehehe! Arigatou, Neji-kun!" Tenten menerima botol minuman tersebut sambil tersenyum ke Neji, lalu ia meminumnya dalam sekali teguk. "Ah aku lapar sekali. Latihan hari ini pokoknya benar-benar menguras tenaga."

"Oh benar juga, ini sudah waktunya makan siang. Sebaiknya kita kembali ke istana." Ajak Neji.

Tenten menggelengkan kepalanya menolak ajakan Neji, "Tidak mau. Aku bosan dengan masakan yang dimasak koki istana. Sesekali aku ingin makan di luar. Lagipula Tou-san sedang sibuk mengurus laporan-laporan yang dikerjakannya. Pasti ia tidak akan sempat makan siang bersama denganku."

"Lalu kau mau makan apa?" Tanya Neji lagi.

"Bagaimana kalau kita makan di Kedai Ichiraku saja? Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Teuchi-san." Usul Tenten.

Neji mengangguk, "Baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi sekarang."

.

.

.

Kedai Ichiraku Ramen. Itulah nama kedai ramen yang Neji dan Tenten lihat di papan nama yang dipasang di atas sebuah bangunan di depannya.

Baru beberapa langkah mereka berjalan ke kedai tersebut, terdengar suara tak asing yang memanggil nama mereka berdua.

"Oi! Neji! Tenten-chan!" Seru seseorang membuat Neji dan Tenten menatap ke arah asal suara tersebut.

Terlihat sosok seorang pemuda berambut pirang jabrik dan bertelinga lancip khas Sun Elf yang mengenakan baju zirah metal berwarna hitam dengan ikat kepala berlambang Kerajaan Konoha berwarna hitam. Pada bagian lengan atas terdapat aksesoris emas berbentuk kepala naga, pada sisi kiri baju menjuntai kain sutera berwarna hitam dengan pinggiran keoranyean yang diikat oleh ikat pinggang berwarna hitam yang pada bagian tengahnya terdapat sebuah lambang Uzumaki berwarna emas dan rumbai-rumbai dikedua sisi ikat pinggang tersebut. Ia mengenakan celana panjang berwarna hitam. Lalu ia mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam. Sepasang kakinya dilengkapi sepasang sepatu boot sebatas lutut berwarna hitam metal. Sementara pemuda yang satunya berambut raven dengan gaya mencuat ke belakang dan bermata onyx telah memiliki telinga dan ekor serigala berwarna sama dengan rambutnya. Pemuda itu mengenakan pakaian, coat, sarung tangan tanpa jari dan sepasang sepatu boot sebatas lutut berwarna serba hitam. Kedua pemuda tersebut berjalan ke arah mereka.

"Ck! Bisakah kau tidak usah berteriak, Baka?!" Seru pemuda siluman serigala yang dikenal bernama Uchiha Sasuke.

"Hehehe….gomen, Teme." Balas pemuda bertelinga lancip khas Elf yang diketahui bernama Namikaze Naruto itu sambil nyengir.

"Naru-nii!" Pekik Tenten senang. Tenten pun langsung memeluk Naruto tiba-tiba yang kemudian dibalas Naruto dengan memeluk Tenten.

"Hai, Naruto, Sasuke." Sapa Neji.

"Hnn." Sasuke mengangguk. "Apa yang kalian lakukan di sini siang-siang begini?"

"Sebenarnya kami berdua baru saja selesai berlatih, tapi karena Tenten tidak mau makan siang di istana, dia berencana untuk makan siang bersamaku di Kedai Ichiraku." Jawab Neji.

"Naru-nii, Sasuke-kun. Kalian berdua dari mana?" Ganti Tenten yang bertanya.

"Aku baru saja meyelesaikan misi patroli gabungan bersama si muka tanpa ekspresi ini. Kebetulan kami juga mau makan siang di Kedai Ichiraku." Jawab Naruto sambil mengarahkan jempol kanannya ke arah Sasuke.

"Siapa yang kau maksud si muka tanpa ekspresi, Dobe?"

Mendadak aura di belakang Naruto menjadi menyeramkan. Sasuke mencengkram bahu Naruto dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Neji dan Tenten yang melihatnya hanya bersweatdrop ria.

"Ehehehe…aku cuma bercanda kok, Teme." Ucap Naruto sembari menelan ludah. "Oh ya! Mana si Ino? Dia tidak ikut dengan kalian?"

"Dia sudah kuajak, sayangnya dia masih ada urusan." Kata Tenten.

"Yah... sayang sekali. Baiklah kalau begitu, ayo kita makan Ramen Ichiraku sekarang juga!"

.

.

.

Di Dalam Kedai Ichiraku Ramen…

"Irasshaimase." Seorang pria tua pemilik Kedai Ichiraku yang diketahui berasal dari ras Kerubim telah menyambut kedatangan pelanggannya.

"Hai, Teuchi-jisan! Lihat siapa yang aku bawa sekarang?"

"Naruto-sama, Sasuke-sama, Neji-sama! Oh….s-s-se-selamat datang Oujo-sama! Maafkan atas ketidaksopanan saya, Oujo-sama!" Kata Teuchi sambil membungkuk dalam.

"Bukan masalah. Lagipula, sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan anda, Teuchi-san." Tenten hanya tersenyum kepada Teuchi.

"Oi, Teme, Neji, Tenten-chan, ayo kalian duduk dan pesan ramen yang kalian inginkan. Oh iya, Teuchi-jiisan. Aku pesan miso ramen spesial ukuran jumbo, dattebayo!" Setelah memesan menu favoritnya sendiri, Naruto mengajak Sasuke, Neji dan Tenten duduk di kursi paling depan yang berhadapan langsung dengan pemilik kedai tersebut. Tenten duduk di posisi tengah antara Naruto dan Neji, sedangkan Sasuke duduk di sebelah kanan Naruto.

"Aku pesan ramen yang biasanya, Teuchi-san." Kata Sasuke.

"Hnn. Aku pesan chashu ramen special ukuran jumbo dan satu porsi gyoza bakar. Kalau kau, Tenten?" Tanya Neji.

"Hmmm...Kalau begitu bagaimana dengan ini? Sepertinya ini enak." Ujar Tenten.

Beberapa menit kemudian setelah mereka memesan. Ramen yang mereka pesan telah tersaji di hadapan masing-masing. Terlihat mangkuk ramen yang berada di hadapan Tenten sangat penuh dengan topping chashu, narutomaki dan nitamago.

"Wah! Kenapa toppingnya banyak sekali?" Tanya Naruto heran.

"Anggap saja ini sebagai ucapan minta maaf saya atas ketidaksopanan saya pada anda tadi, Oujo-sama."

"Anda tidak usah repot-repot, Teuchi-jiisan. Padahal saya tidak mempermasalahkan hal tadi." Kata Tenten yang sedikit risih.

"Sudahlah. Lebih baik sekarang kita makan. Nanti makanannya keburu dingin." Kata Sasuke sembari mengambil sumpitnya.

"Ah kau benar, Teme. Itadakimasu!"

Setelah mendengar perkataan Sasuke, mereka mulai memakan ramen dengan tenang.

"Wah...jadi Kaa-san dan Tou-san waktu muda seperti itu ya? Tak kusangka..."

"Ahahahaha! Begitulah. Kalau bukan karena Yang Mulia Raja Tenrai dan almarhum Yang Mulia Ratu Hisayo, Minato-sama dan Kushina-sama ….."

Selagi Naruto asyik berbincang dengan Teuchi dan Sasuke hanya diam mendengarkan perbincangan mereka. Tenten berbicara pelan dengan Neji yang suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua.

"Pst. Neji…."

"Hnn? Ada apa, Tenten?"

"Kau masih lapar? Aku sudah kenyang. Aku mau memberikan sebagian chashu, narutomaki dan nitamago untukmu. Teuchi-jisan terlalu banyak memberikannya."

"Baiklah. Berikan saja padaku."

Kemudian Tenten mulai menyumpit chashu, narutomaki dan nitamagonya dan menaruhnya ke dalam mangkuk Neji.

"Eh?" Naruto mengerutkan keningnya ketika ia melihat hal yang dilakukan oleh adik sepupu kesayangannya pada Neji, begitu juga dengan Sasuke yang melihat kejadian tersebut hanya menyeringai dengan tatapan yang sulit diartikan. "Oi, Tenten-chan? Kenapa kau berikan semua toppingmu pada Neji?" Tanya Naruto heran.

"Karena aku sudah kenyang dan tidak sanggup menghabiskannya. Jadi kuberikan saja pada Neji."

"Selama ini kau selalu saja berbagi apapun dengan Neji sejak dulu bahkan sampai sekarang. Kalian berdua benar-benar sudah seperti sepasang kekasih saja." Ucap Sasuke sambil meneguk minumannya.

Wajah Neji dan Tenten sontak saja memerah mendengar perkataan Sasuke. Tenten tidak menyangka bahwa perlakuannya pada Neji berhasil membuahkan respon seperti itu dari Sasuke.

"A-apa maksudmu sih, Sasuke?" Tanya Tenten.

"Kali ini aku setuju denganmu, Teme! Tuh wajah kalian memerah! Apa jangan-jangan kalian sudah pacaran? Ayo ngaku saja deh."

Tangan Neji kini terangkat untuk menepuk dan mengelus punggung Tenten lembut dan Tenten pun langsung diam terpaku akan tindakan Neji, "Sudah cukup bercandanya, Naruto. Daripada meributkan soal ini, lebih baik kita membicarakan beberapa hal lain yang lebih menyenangkan."

Pada akhirnya, mereka berempat kembali melanjutkan memakan ramennya masing-masing. Dan….waktu berlalu bagaikan air yang mengalir. Mereka terlibat perbincangan ringan dan terkesan relaks mengenai apa saja yang mereka lakukan selama beberapa hari terakhir ini.

.

.

.

Malam hari di Kekaisaran Iwa, Ruang Tahta Kaisar…..

"Semua persiapan sudah selesai, Yang Mulia…." Jendral Iwa bertubuh besar itu berlutut sambil menundukkan kepalanya di depan sang Kaisar Iwa yang sedang duduk di singgasananya, Kamizuru Onoki. Sedangkan Dewan Menteri dan Jendral hanya menatap lurus pada sang Kaisar yang tersenyum puas mendengar perkataan Jendral Iwa yang bertubuh besar itu.

"Kerja bagus, Kitsuchi." Sahut Onoki.

Jendral bernama Kitsuchi itu mengangguk dalam diam. Kemudian, seseorang dari Dewan Menteri Iwa bertanya pada Kaisar Onoki, "Lalu apa langkah kita selanjutnya, Yang Mulia?"

"Kirimkan pesan pada 'Mereka' untuk mengadakan pertemuan denganku. Malam besok di sini." Perintah Onoki dingin sambil berdiri dari singgasananya.

"Baik, Yang Mulia…" Kitsuchi, Dewan Menteri dan seluruh Jendral menunduk hormat dan beranjak pergi dari hadapan Onoki, menyisakan Onoki seorang diri.

Onoki duduk kembali di atas singgasananya dan menopang dagunya dengan tangan kanan. Lalu, Kaisar tua itu langsung menjentikkan jari tangan kirinya dan seketika itu muncullah dua buah batu Kristal berbentuk prisma segi enam panjang berwarna topaz kuning dan berwarna cokelat keemasan yang bergerak melayang berputar-putar di atas telapak tangan kirinya. Kaisar itu terdiam untuk beberapa saat sampai sebuah senyuman mengerikan terpahat jelas di wajahnya.

.

.

.

TBC

Keterangan mengenai berbagai ras:

Pegasus: Sesosok makhluk mitologi menyerupai kuda dan memiliki sepasang sayap.

Unicorn: Sesosok makhluk mitologi menyerupai kuda dengan tanduk yang tumbuh di dahinya.

.

.

.

Konnichiwa! :D

Akhirnya saya berhasil update chapter selanjutnya! XD

Author juga minta maaf atas keterlambatannya karena author sibuk bekerja di dunia nyata! XD

Author juga minta maaf bila banyak kekurangan pada FF ini! Author juga mengucapkan terima kasih pada siapapun baik silent reader maupun reader untuk membaca, menfollow dan menfavourite FF ini. So please kasih review! Arigatouuuuuuu dan sampai ketemu di chapter berikutnya! :D