All characters belong to sensei
Masashi Kishimoto
Rate:T
warning: typo, gaje, Abal, ide pasaran, EYD tidak beraturan, dan banyak lagi.
don't like don't read
it's just for fun
happy reading
Aku tahu kau pasti lupa dengan ku, tapi akan ku buat kau mengingatku.
.
.
.
Virus Corona yang sekarang sedang mengguncang seluruh penjuru dunia, tidak ada yang tersisa untuk terlewatkan oleh virus mengerikan ini. Termasuk perempuan pirang yang di nyatakan positif Corona. Pekerjaan nya adalah seorang dokter jantung. Mungkin akibat berdekatan dengan banyak nya pasien yang terkena Corona atau pun tidak. Tapi Ino sebelumnya selalu menyangkal keberadaan virus mengerikan itu, dengan berkata 'tidak ada virus semacam itu'. Mungkin hal itu pantas di sebut karma untuk dokter pirang itu.
Sudah seminggu ini dia melakukan karantina mandiri. Dan di sinilah Ino sekarang, berdiri menatap apartemen nya yang mulai berantakan karena tak di urus olehnya.
"yosh. ayo semangat Ino" ucapan semangat terlontar dari bibir nya, untuk dirinya sendiri yang pasti.
"Ino...pig...!" teriakkan seorang gadis berambut gulali dengan seragam dokter, di tambah masker dan sarung tangan yang melekat pada tubuh nya. Yang seenak nya saja masuk kedalam apartemen milik Ino.
"tidak bisakah kau mengetuk jidat?" Ino bersidekap dada. Menatap tajam Sakura lalu berpindah ke tangan Sakura yang menenteng dua kantong plastik berwarna putih. "kau mau memeriksa ku eh?" tanya Ino memicing dan menatap wajah cerah Sakura. Karena bagaimanapun juga Sakura adalah dokter bedah, jadi bagaimana caranya ia akan memeriksa Ino?
Sedangkan masalah virus seharusnya di serahkan pada ahli nya bukan?
"hei ayolah. Aku datang untuk menjenguk mu, tau" Sakura tidak terima di curigai oleh sahabat nya itu. "asal kau tau ya pig, menjenguk mu itu perlu perjuangan tau" kembali Sakura berucap dengan wajah kesal dan bibir yang mengerucut.
"iya-iya. Jadi bagaimana caranya kau kesini jidat?"
"Aku hanya mengatakan akan memeriksa mu. Walau di hadiahi tatapan curiga dari Tsunade-sama, tapi akhirnya aku sampai di sini. Aku merindukan mu Ino" Sakura beranjak sambil merentangkan kedua tangannya dan ingin memeluk Ino.
"eit. Sakura ingat phisycal distancing" ucap Ino sambil menjauh dari sakura dan, menunjuk-nunjuk Sakura.
"iya-iya. Ah, ini aku membawakan mu makanan dan minuman. Dan buah-buahan, termasuk buah tomat ceri kesukaan mu. Beberapa vitamin untuk menambah imunitas tubuh mu. Kuharap kau bisa segera sembuh. Tapi ingat kau harus menghabiskan semua nya, tidak ada diet untuk mu pig. Jadi di makan ya" Sakura berucap dengan senyum manis kepada Ino.
Ino memutar bola matanya jengah melihat sahabat nya seperti seorang kaachan sekarang. "iya aku tahu cerewet"
"ck. kau ingin bisa bekerja lagi atau tidak sih?" Sakura dongkol menghadapi sahabat nya itu.
"iya. aku tahu" Ino menerima plastik itu dan menaruhnya di meja ruang tamu.
drt...drt...drt...
ponsel Sakura bergetar di dalam tas jinjing nya. Sakura memberi gesture minta izin pada Ino untuk melihat isi pesan dari ponsel nya itu.
"Ino. Aku harus pergi sekarang, ada pasien yang harus ku tangani" Sakura berjalan keluar bersama Ino di sampingnya.
"jaa Ino" ucap Sakura lalu keluar.
Ino yang memang hanya mengantar sampai ke pintu apartemen nya, langsung masuk dan menutup pintu apartemen nya. Belum genap lima langkah suara bel apartemen nya terdengar. Lagi.
Ino memutar bola matanya malas. 'apa si jidat itu, ketinggalan sesuatu?' batin Ino kesal, walau tak seutuhnya benar-benar kesal.
"apa kau ketinggalan sesuatu ji- eh... apa ini?" Suara Ino sempat terhenti karena melihat sebuket bunga dan sebuah kotak makan. 'milik siapa ini? Apa ini untuk ku? Apa Sakura yang memberikan nya?' Ino membatin sambil mengedarkan pandangannya ke lorong apartemen, yang ternyata kosong dari orang yang berlalu lalang. Ino masuk dan membawa buket bunga itu, beserta kotak makan yang sepertinya berisi makanan. Saat pintu tertutup kaki nya tak sengaja menendang gagang sapu sehingga terjatuh.
tlak...
Ino kembali tersadar akan tujuan awal nya. Yaitu membersihkan apartemen nya. Ino meraih sapu itu, dan menaruh barang yang di temukan di depan pintu keruang tamu, tepatnya di samping barang yang di bawakan Sakura tadi.
Ino mulai membersihkan apartemen di mulai dari kamarnya dahulu. Tapi sebelum itu Ino memasang lagu dengan speaker volume sedang. kalau tidak salah lagu nya berjudul smile, dan kalau tidak salah penyanyi nya Jhonny Stimson.
When my head is full of questions
And the sky is full of rain
When I'm worrying about what I can't change
I take a look at my reflection
And try to make a funny face
And for a second all my sorrows melt away
'Cause if we just smile
We can forget all of our troubles for a while
Ino menyanyikan lirik nya sesekali- saat berada di kamar nya. Membuat nya semakin semangat bersih-bersih. Mengingat lagunya membuat nya tersenyum seperti makna lagu itu.
We can just live inside this moment, you and I
Get through the darkness knowing we'll find the light
If we just smile
If we just, if we just
If we just smile
Yeah, if we just smile
Maybe we focus on the future
No use in living in the past
Try to remember that the bad times never last
And if we take one step, one step at a time
We're gonna make it, gonna make it alright
If we stick together we'll be fine
'Cause if we just smile
We can forget all of our troubles for a while
We can just live inside this moment, you and I
Get through the darkness knowing we'll find the light
If we just smile
If we just, if we just
If we just smile when the sky is falling
Smile when the love comes calling
We can take tomorrow on with style
If we just smile
We can forget all of our troubles for a while
Yeah, we can just live inside this moment, you and I
Get through the darkness knowing we'll find the light
If we just smile
If we just, if we just
If we just smile
Yeah, if we just smile
If we just smile
Yeah, if we just smile
If we just smile
Lagu itu berakhir bersamaan dengan kegiatan membersihkan kamar nya selesai. Kali ini, Ino berpindah ke ruang tamu- dengan lagu yang berbeda pula.
Lagu berbahasa Jepang adalah pengiring bersih-bersih Ino, judul nya amanojaku. Namun lagu ini lebih ke suasana tenang.
Sampai pada satu jam kemudian, Ino baru selesai membersihkan rumah nya dan yang pasti sudah menyemprot rumah nya dengan desinfektan, sejujurnya Ino tidak mau melakukan hal itu. Tapi Sakura sudah menyuruh nya dan mengatakan 'aku akan memeriksa apartemen mu. Kalau kau belum menyemprot apartemen mu- Aku yang akan melakukan nya' , Ya seperti itu lah yang di katakan Sakura pada Ino. Tentu saja Ino tidak mau Sakura yang melakukan nya, mengingat barang-barang nya akan di semprot dengan asal oleh makhluk gulali yang menjadi sahabat nya itu. Jadi mungkin penyemprotan itu di lakukan dengan terpaksa pasti nya.
"Yeay...! Akhirnya selesai juga" Seru Ino girang dengan senyum mengembang menatap penjuru apartemen nya yang sudah bersih dan rapi tentunya. Ino menjatuhkan diri nya di atas sofa sambil memandangi barang yang di berikan Sakura dan- orang misterius?
Ino melihat buket bunga aster yang tadi di temukan di depan pintu nya. Ino tentunya tau arti bunga itu. Sambil memandangi bunga itu Ino memikirkan artinya agar masuk akal tujuan pemberian bunga itu. Bunga aster melambangkan sebuah kasih dan kesabaran. Setelah berhasil mengingat artinya, Ino menjentikkan jari nya lalu berucap "oh. Mungkin maksud bunga ini adalah, menyuruh ku untuk sabar dan tetap semangat walau aku sakit. Ya... Benar juga" Ino berbicara sendiri tentang bunga itu.
"Baik sekali Sakura memberikan bunga ini" Ino berucap senang. Sampai mata nya menangkap bunga berwarna merah- tentu saja warna nya yang mencolok diantara warna putih membuat atensi Ino tertuju pada bunga,- yang ternyata anyelir merah. Ino mengambil bunga itu.
Lagu pada playlist Ino masih mengalun mengganti setiap lagu yang ada. Sekarang lagu nya berjudul i know you so well.Bunga anyelir merah memiliki arti cinta dan kasih sayang. Masuk akal jika memberikan bunga itu pada orang sakit. Tapi belum sampai situ saja, Ino memutar batang bunga itu dan mendapatkan sebuah kertas yang tergulung di sana. Ia mengambil nya dan membaca nya.
Aku tahu kau pasti lupa dengan ku tapi akan ku buat kau mengingatku.
Semoga cepat sembuh Ino Yamanaka.
from: Sahabat kecil mu.
Ino membalik-balikkan kertas itu mencari petunjuk yang lebih logis. Saat itu dirinya baru ingat, arti tersembunyi anyelir merah itu... 'Aku tidak akan melupakan mu'.
Lagu I know you so well mulai menambah suasana horor. Nada nya yang terkesan sedih dan tertekan membuat si perempuan pirang itu menjadi salah mengartikan.
"apa Sakura yang memberikan ini? Atau?- Ah... pasti Shikamaru... kalau bukan Sakura" Ino hanya berargumen pada dirinya sendiri terutama,-suaranya meragu di akhir perkataan nya, tentang buket bunga itu. Lalu dengan gesit Ino mematikan playlist nya.
Sekarang mata nya jatuh pada kotak bento. Kotak itu di bawa mendekat oleh nya, Ino membuka kotak makan itu dan mendapati onigiri. Walau bukan kesukaan nya, Ino tetap memakannya.
Satu kali gigitan onigiri itu, mata aquamarine itu langsung berbinar cerah. 'ini onigiri terenak yang pernah kurasakan' batinnya sambil tetap mengunyah onigiri itu. 'kapan si jidat lebar itu bisa masak?' kembali batin Ino berbicara.
Tapi perlu di ketahui kalau kesukaan Ino bukan onigiri. Tapi kenapa (yang mengaku menjadi) sahabat kecil nya memberikan onigiri? Bahkan Sakura sendiri tau apa yang ia sukai dan yang tidak di sukai. Bukan kah seorang sahabat akan mengetahui apapun tentang sahabatnya sendiri?
Kembali pada awal pemikiran nya. Ino tidak mengerti apa maksud dari hal yang di jumpai nya kali ini.
Berpikir positif adalah hal yang ampuh, untuk mengusir banyak nya pertanyaan yang mungkin hanya akan menyakiti kepalanya.
keesokan harinya...
Ting...tong...
bel apartemen Ino berbunyi dengan pelan di awal nya- Sampai pertengahan 15 menit kemudian suara bel itu makin terdengar brutal. Ino yang memang tengah mandi menjadi- mempercepat acara mandi nya. 'oh. Bagus... kali ini siapa?' Ino bersungut-sungut sambil memakai pakaian nya asal-asalan.
"tunggu~" ucap Ino lembut. Wajar kan, menyambut tamu harus seperti itu?
"Hai pig. Kau terlalu lama membuka pintu ini" ucap Sakura sambil menahan kesal akibat menunggu pintu terbuka.
"ck. Bukankah biasanya kau masuk seperti pencuri? Kenapa tidak melakukan hal itu lagi?" Ino mengejek Sakura, sambil menyingkir membiarkan Sakura masuk.
"karena aku sedang dalam waktu cuti... Horai..." kali ini Sakura sangat bersemangat, karena hari cuti nya kali ini ia bisa menemani sahabat pirang nya itu.
"Lalu? Apa hubungannya dengan ku?" Ino menutup pintu dan pergi ke dapur hendak menyediakan camilan dan minuman.
"Ino bisakah kau berhenti bersikap cuek? Ayolah..." Sakura memutar bola matanya kesal. "Apa aku tidak boleh menemani mu?" Kali ini Sakura berucap dengan raut wajah sedihnya.
"Tentu saja kau boleh. Aku juga merindukan mu..." Sontak Ino langsung berjalan kearah Sakura. Begitu juga Sakura dan akhirnya acara pelukan hangat terjadi antara kedua sahabat yang seolah sudah 20 tahun tidak berjumpa. Persetan dengan virus Corona yang akan menular, bahkan Sakura sampai menjatuhkan belanjaannya.
"Baiklah kita akan bersenang-senang" ucap Sakura girang dan melompat-lompat bersama Ino. Mereka terlihat seperti anak sekolah dasar.
Hal yang di lakukan kedua perempuan berbeda warna rambut itu adalah bermain game. Sampai mereka bosan dan lanjut lagi dengan menonton film horor, dan komedi romansa Setelah kegiatan itu mereka berhenti untuk menetralkan dunia game, dan film menjadi dunia nyata.
Ino kembali teringat kejadian setelah Sakura pulang. Tapi Ino sedikit ragu untuk menceritakan nya.
Sakura menangkap raut wajah berpikir Ino. "kau punya masalah?" Sakura menepuk pundak Ino pelan.
"ya" jawab Ino pendek. Karena yang di pikirkan Ino hanya itu sepertinya. Di tambah lagi dengan alasan 'kalau Sakura mau mendengar-aku akan cerita'.
"seperti apa kejadian nya?" Sakura sudah menegakkan tubuhnya, pada duduk nya supaya bisa memperhatikan Ino dengan jelas.
"tapi sebelum itu aku mau bertanya pada mu Sakura" ujar Ino menjeda sebentar. "apa kau mengirimi bunga untuk ku?"
"e...e... Bunga?" bukannya menjawab Ino, Sakura malah terlihat bertanya dengan bingung. "bukan berarti aku tidak mau memberikan mu bunga Ino. Hanya saja sepertinya aku tidak memberikan bunga untuk mu" jelas Sakura menambah kan perkataan yang sempat di jeda oleh nya.
"lihat ini bunga nya" Ino menunjukkan bunga aster yang di maksudnya, pada Sakura.
"oh... Mungkin itu penggemar mu Ino" ucap Sakura santai.
"memangnya kau pikir aku artis? Dan masalahnya lagi, lihatlah surat ini" Ino menunjukkan surat kecil yang berada pada satu bunga, dan bunga itu adalah anyelir merah.
Sakura mengambil bunga itu yang tangkai nya berlilitkan surat kecil. Saat membaca nya, ekspresi Sakura mulai terlihat aneh, atau lebih condong ke arah wajah bingung. "Mungkin saja itu Shikamaru"
"entahlah" Ino hanya menghela nafas berat.
lagu try mengalun dari ponsel Ini yang di atas meja kecil di samping sofa. Ino mengangkat panggilan itu. "moshi-moshi" salam Ino dari tempatnya kepada seseorang di sebrang sana.
"hai Ino, ini aku, Shikamaru. Apa kau sudah dapat paket ku?" tanya Shikamaru di telepon.
"paket?" Ino membeo Shikamaru.
"ya"
tok...tok...tok...
"tunggu sebentar" ucap Ino dari dalam dengan masih memegang ponsel nya.
"apa ini dengan Ino Yamanaka?" Ino melihat sepertinya seorang pengantar paket.
"iya dengan saya sendiri" jawab Ino tenang.
"ada kiriman untuk mu. Anda hanya perlu menandatangani ini" pengantar paket itu berucap dengan telaten memberitahu Ino apa saja yang harus di lakukan oleh nya.
"arigatou ojiisan" ujar Ino melambaikan tangan nya pada sang kurir paket itu.
Dengan cepat Ino langsung membuka isi nya. Ternyata baju.
"Ino, apa kau masih di sana?" tanya Shikamaru, yang sepertinya tidak mendengar suara Ino lagi di telepon nya.
"eh.. iya. Aku masih di sini" ucap Ino cepat.
"aku memberikan baju untuk mu. Karena ku pikir kau pasti di bawakan oleh Sakura makanan bukan? jadi mungkin kau juga butuh sandang baru, jadi itu ku berikan untuk mu. Ku harap kau suka" Shikamaru berucap panjang dengan nada yang berubah-ubah.
"arigatou Shika. Aku menyukai nya" ujar Ino. Walau memandang baju itu, Ino mulai merasa kehilangan pikiran positif tentang orang yg mengirimkan bunga berarti bukanlah Shikamaru. Lalu siapa?
"aku akan hubungi kau nanti" ujar Ino memutus sambungan.
"Ino, sebaiknya kau anggap saja itu adalah fans mu" ujar Sakura sambil menepuk pundak Ino pelan.
tok..tok...tok...
"biar aku yang buka" Sakura langsung beranjak kearah pintu.
"sia- Eh... Tidak ada ya?" Sakura memandang ke sekeliling namun mata nya tak menemukan manusia di sana. Matanya kali ini tertumbuk pada, bunga?
"Ino ada bunga yang di alamat kan untuk mu" Sakura mencari-cari nama si pengirim. Namun nihil.
Sakura menemukan surat di dalam bunga itu, tapi langsung menyerahkan pada Ino.
Ino melihat kertas kecil itu, yang ternyata isi nya sama saja dengan yang pertama.
"hei Ino aku baru ingat kabar baik. Tsunade-sama bilang kau akan kembali bekerja lusa. Karena ternyata kau sudah di nyatakan sembuh dari Corona ini, Ino. Untung saja kau tidak terkena Corona tingkat parah " ujar Sakura tersenyum hangat sambil menepuk-nepuk punggung Ino.
"benarkah?" Ino berusaha memastikan pendengaran nya.
"ya. Aku serius. Akhirnya kita bisa bekerja bersama lagi pig..." kembali nada cempreng Sakura terdengar.
mungkin kita akan segera bertemu Ino.
Ternyata ada tambahan kata-kata di balik surat itu. ya... setidaknya satu pikiran positif yang tertinggal adalah dia adalah manusia,-ya... itu yang perlu di garis bawahi atas pemikiran Ino.
.
.
.
.
Akhirnya kita bertemu. Tapi kau sepertinya tak mengenali ku
Lusa yang sudah dinanti datang juga...
Perempuan berambut pirang itu sudah siap dengan setelan baju yang rapih dengan masker yang menempel di wajah nya.
Ino bersiap pergi ke halte bus yang memang tidak jauh dari lokasi apartemen nya, Ino sebenarnya punya kendaraan sendiri, hanya saja seperti nya dia sudah rindu menikmati keindahan alam yang selama ini di gantikan dengan ruangan apartemen nya saja.
Dalam waktu satu jam kemudian, Ino sampai di halte dekat Rumah sakit tempat nya bekerja. Untung saat pergi menaiki bus pertama tidak ada kemacetan terjadi sehingga Ino bisa tepat waktu untuk menaiki Shinkansen, setelah itu baru Ia menaiki bus untuk yang terakhir kalinya hingga sampai di rumah sakit. Bagi gadis pirang itu perjalanan nya adalah hal yang menyenangkan, untuk ukuran nya yang sudah seminggu lebih di kurung di apartemen nya.
Ino berjalan melewati koridor rumah sakit. Banyak perawat yang menyapa nya, tak jarang pula menanyakan kesehatan nya. Ia hanya menanggapi dengan senyum formal. Kaki jenjang nya menuntun nya menuju ruangan nya.
Belum sempat Ino duduk, Ia sudah di hubungi dari telepon genggam rumah sakit yang ada di ruangan nya itu. Dengan sigap Ino langsung mengambil telepon itu dan mengangkat panggilan itu. "Moshi-moshi di sini dokter jantung, Ino Yamanaka" ucap Ino formal.
"ah. Ino kan? Apa kau sudah di beritahu Sakura sekarang kau ada jadwal dengan klien penting, mereka ada di ruangan VIP no 3 Ino. Segera temui mereka, kalau tidak rating rumah sakit ini akan turun" setelah percakapan yang di dominasi oleh pemimpin rumah sakit itu selesai , sambungan telepon langsung di putus oleh Tsunade yang berbicara panjang lebar dengan nada yang tidak sabaran.
Ino langsung bergegas keruangan yang di katakan oleh Tsunade.
Ino POV
Kali ini perjalanan ku ke ruangan VIP, seorang pasien yang Tsunade-sama bilang dapat mempengaruhi rating rumah sakit. 'Memangnya siapa?' Aku hanya bisa bertanya-tanya.
Hanya pertanyaan yang memenuhi kepala ku. Pasalnya aku baru kembali dari sakit ku. Tapi sudah di berikan pasien yang- bisa di bilang berpengaruh.
Di depan sana sudah terlihat jajaran ruangan VIP. Kali ini mata ku menatap pintu-pintu yang seharusnya ku masuki.
Ha... Itu dia...
Aku berjalan menuju pintu yang kutemukan. Kali ini mata ku menangkap dua sosok berdiri di depan pintu kamar rawat. Apa aku terlambat?
"sumimasen. Aku dokter yang ingin menangani pasien ruangan no 3" Ku lemparkan senyum ramah pada satu pasang paruh baya yang sekarang berdiri di depan ku.
"um... Yamanaka-san, ya?" wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu bertanya dengan wajah mengamati ke arah ku.
"iya. Saya sendiri" kembali ku beri jawaban seadanya. Tapi jujur Aku kenal wanita paruh baya ini. "Mikoto obachan?" Walau sedikit aneh mendengar suara yang ku keluarkan, tapi aku hanya sekedar ingin memastikan.
"ah... Kau benar, Ku kira Ino-chan melupakan ku" untungnya wanita ini adalah wanita yang ramah. Sehingga Aku masih bisa selamat dari hal yang seharusnya bisa saja mengancam pekerjaan ku.
"siapa yang sakit obachan?" Kembali pada sikap formal ku. Atau lebih tepatnya tujuan utama ku.
Ino POV end
"ayo masuk Ino-chan" suara wanita berambut hitam itu mengajak Ino masuk. Sedangkan pria paruh baya yang sedari tadi juga ada di sana sudah meninggalkan mereka.
Ino masuk untuk melihat siapa pasien nya. Saat itu juga manik aquamarine nya tertuju pada seorang pemuda dengan mata hitam kelam yang sepertinya selalu memperlihatkan tatapan tajam, rambut bertatanan emo dengan warna raven dan begitu juga dengan rahang tegas menambah kesan tampan yang berwibawa. Bahkan Yamanaka Ino sampai takjub- namun hanya sesaat di gantikan dengan senyum ramah seorang dokter. "ohayo gozaimasu Uciha-san" sapa Ino sopan sambil berjalan mendekat.
"hn" respon yang cukup singkat untuk menjawab sapaan selamat pagi dari Ino.
"Ino-chan dia Sasuke adik Itachi, dan Sasuke dia dokter yang akan mengobati mu" ujar Mikoto dengan wajah yang sesekali menatap Ino lalu berganti dengan Sasuke.
"benarkah? Ku kira Itachi-san tidak memiliki adik" Ino memandang Sasuke lalu melihat Mikoto. Sepertinya sekarang dirinya sedang mencari kemiripan antara kedua orang bermata legam itu.
Sedangkan satu pria paruh baya hanya memandang mereka dari sofa yang tersedia di ruangan itu.
"um... bukankah kalian pernah bertemu?" Mikoto memandang aneh ke arah Ino.
"kapan aku di periksa?" suara Sasuke yang sepertinya merasa kesal melihat kedua orang yang sepertinya mengacuhkan nya. Walau Sasuke dalam keadaan kurang vit, tetapi pandangan matanya selalu menyorot tajam pada siapapun.
"Gomennasai Uciha-san" ujar Ino sambil membungkuk empat puluh lima derajat.
Mikoto yang menyadari bahwa Ino akan bekerja membuat nya melangkah keluar bersama suami nya.
Di dalam ruangan Sasuke hanya ada Ino, dua orang perawat dan yang pasti nya Sasuke sendiri.
Ino mengeluarkan stetoskop nya dari dalam kantung jas putih nya- sedangkan perawat nya hanya membawa peralatan pemeriksaan fisik sederhana lalu menaruh nya pada meja di samping infus- dan kembali menjaga jarak dari dokter cantik dan pasien tampan itu.
Jujur saja Ino belum sempat membaca laporan kesehatan pasien nya kali ini. Jadi dirinya hanya melakukan pemeriksaan seperti biasa. "Uciha-san, ayo buka mulut. a..." Ino mencontohkan.
Sasuke tidak suka melihat hal seperti ini, tapi supaya lebih cepat Ia harus membuka mulutnya. Tapi tentu saja tidak dengan efek suara seperti yang di lakukan oleh Ino.
Ino memasukkan termometer nya dan Ia memasang wajah berpikir. Walau tidak terlalu kentara. 'selanjut nya apa ya? hah... aku menyesal tidak memperhatikan praktek dokter umum' Ino membatin merutuki kebodohan nya di masa lalu. Setidaknya Ino tidak melewatkan bagian awal nya.
Sasuke masih setia menunggu apa yang akan di lakukan oleh Ino. Kenapa Sasuke tidak protes karena ketidak profesionalan Ino?
Menyadari tatapan tajam Sasuke, Ino segera memakai stetoskop nya dan membuka sedikit bagian dada kiri Sasuke. "permisi" ucap Ino serius dan mencoba mendengar detak jantung Sasuke.
Saat mendengar dan merasakan sentuhan tangan halus Ino, di tambah lagi dengan kepala yang seolah ingin mendengar lebih jelas suara jantung nya. Apa stetoskop yang di gunakan si pirang itu rusak? Tentu saja hal kecil itu membuat Sasuke merutuki jantung nya yang seolah terpompa dua kali lipat lebih cepat. Bahkan belum selesai dengan jantung kali ini Sasuke juga harus menjaga wajah nya yang memanas dan mengakibatkan semburat merah menjalar dari pipi nya hampir ke telinga nya.
Ino menyadari detak jantung Sasuke meningkat, sontak kepalanya menoleh pada Sasuke. Ino menegaskan kalau Sasuke mengalami demam, karena perubahan warna wajah nya mendorong Ino untuk menegaskan pemikiran nya. Setelah itu ia kembali menarik pelan termometer dari mulut Sasuke. Suhu tubuh Sasuke mencapai 38,68. Ya cukup tinggi dari suhu normal manusia.
"um... Sepertinya anda terkena demam. Dengan suhu tubuh yang tinggi, wajah yang memerah, mata yang sayu dan-um... jantung yang berdetak cepat?" Ino mengakhiri ucapan dan coretan pada kertas yang di pegang oleh perawat yang lainnya. "tapi kalau demam jarang jantung menjadi cepat. Apakah Anda punya riwayat penyakit jantung?" ujar Ino menyelidik.
"tidak" Sasuke terlihat serius dengan mata yang menatap Ino sekarang. Sepertinya dirinya sudah netral dari hal-hal yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Ino berdiri tegak lalu menyerahkan kertas berisi tulisan nya tadi pada perawat itu. "kalau begitu Sasuke-san sedang terkena demam, yang di sebabkan oleh tifus ringan"
"aku tak pernah sakit sebelumnya" ujar Sasuke dengan tampang sehat dan sedikit angkuh.
Ino melihat itu hanya tersenyum tipis. "ya... Tapi ada kalanya manusia akan terserang penyakit. Mungkin di sebabkan oleh pekerjaan, penyakit bawaan, atau bahkan virus" terang Ino dan di akhiri dengan senyum manis.
Sasuke yang melihat itu langsung membuang muka, karena wajahnya kembali memerah hanya dengan melihat senyum manis Ino. Tapi karena kepalanya berputar dengan cepat, membuat suara meringis tak terelakkan lagi dari mulut Sasuke. "ahk" Sasuke berusaha menahan pusing di kepala nya.
Ino dengan cepat meraih kepala Sasuke dan membetulkan posisi tidur yang baik dan nyaman bagi pasien nya itu.
lagi-lagi Sasuke menatap wajah Ino yang dekat sekali dengan nya. Tapi kepalanya, yang pusing membuatnya hanya menatap Ino dengan tatapan sayu, seperti ingin tidur. "kau bisa menjauh" ujar Sasuke dingin. Sepertinya Sasuke tidak suka jika ada orang yang seperti ingin mencari kesempatan di dalam kesempitan.
Ino cukup terkejut akan perilaku Sasuke. Tapi sebagai dokter profesional Ino hanya tersenyum membalas ucapan dingin Sasuke.
"aku akan mempersilahkan orang tua mu masuk" Ino berjalan pergi ke luar ruang rawat Sasuke.
.
.
.
.
.
Hari sudah mulai gelap, Ino sudah menyelesaikan pekerjaan nya, dan hendak pulang ke rumah. Saat ia berjalan keluar dari kantor nya, mata nya beradu pandang dengan mata legam seseorang.
secara spontan Ino melemparkan senyum ramah, mengingat orang itu adalah salah satu keluarga pasien yang tadi di tangani nya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Itachi uchiha, si sulung dari anggota uciha.
"selamat malam uciha-san... Apakah Anda hendak menjenguk?" Ino memilih berbasa-basi kepada pria itu.
"selamat malam juga, dokter. ya, saya memang berniat menjenguk, tapi saya sudah melakukan nya tadi. Sekarang saya mau pulang" ujarnya menjelaskan apa yang benar-benar terjadi, (sepertinya?).
"Saya, membawa mobil sekarang. Mau pulang bersama?" Itachi, berusaha menawarkan diri untuk mengantar Ino, melalui pernyataan implisit kepada Ino.
Ino menaikkan alisnya, menimbang-nimbang ajakan uciha satu itu. Bukan kah ia bisa menghemat uang nya, jika ia mengikuti tawaran nya? Tapi aneh saja. 'Kenapa pria tampan ini menawarkan diri dan tumpangan untuk nya?' Ino membatin curiga. "apakah tidak merepotkan Anda?" akhirnya kalimat penolakan secara halus, namun di balut oleh pertanyaan tidak bermaksud menolak, akhirnya meluncur begitu saja dari belah bibir Ino.
"tentu saja tidak. Sudahlah tidak perlu terlalu di pikirkan" pria tampan berambut panjang itu akhirnya menyeret tangan kiri Ino, untuk mengikuti jalannya menuju parkiran di mana mobil nya berada.
Jujur saja, selama ia menjadi dokter, ia tidak pernah lagi menggandeng tangan seorang pria. Dan hari ini akan menjadi hari yang menjadi awal dirinya merasakan genggaman tangan dari seorang pria tampan. Memikirkan hal itu, membuat dirinya merasakan wajah nya memanas dan tanpa ia sadari sepuhan rona merah timbul di wajah nya. Jadi dirinya langsung menundukkan kepalanya.
"silahkan masuk, Yamanaka-san" suara Itachi memecahkan lamunan di kepala pirang nya.
"i-iya" Ino jadi benar-benar gugup, namun segera masuk setelah menjawab singkat.
Ino yang memberikan arahan di mana apartemen nya berada, selebihnya mereka berdua lebih sering diam, dan tak berucap apapun.
"apakah kau masih mengingat adikku itu?" ya... sekedar memecahkan keheningan, akhirnya Itachi berbicara pada nya.
"sebenarnya aku tidak mengingat dengan baik, uciha-san"
"begitu ya. Karena kita bertemu lagi, sebaiknya kau memakai ucapan yang lebih santai. Tidak perlu terlalu formal Ino" Itachi berucap lagi namun di akhiri dengan memanggil nama kecil gadis pirang itu.
"baiklah Itachi-nii" Ino tersenyum manis.
"ku harap kau mau merawat adikku itu, dan kembali me- Ah itu saja, mungkin?"
Itachi membatalkan ucapan nya saat di pertengahan kalimat nya.
"ah. itu dia apartemen ku. um... Itachi-nii mau mampir?" Ino menawarkan untuk bertamu sebentar ke apartemen nya.
"lain kali saja ya" ia menjawab dengan di akhiri senyum manis yang jarang sekali di perlihatkan pada orang lain.
"hoo... Apakah Itachi-nii ingin berkencan? Sampai tidak mau mampir?" Ino terkikik geli mendengar ucapan nya sendiri. Namun demi membuat atmosfer antara mereka berdua semakin lebih nyaman.
Itachi memandang Ino yang terlihat seperti mengejek nya, membuat nya menggeleng kan kepala nya, tak percaya gadis ini kembali seperti dulu saat masih sekolah menengah atas. Itachi menundukkan kepalanya perlahan dan menarik dagu Ino agar menatap manik legam nya.
Ino tersentak, mendapatkan perlakuan yang di luar dugaan nya. Mulut Ino terbuka sedikit namun tertutup lagi, karena tak ada yang mau di ucapkan oleh nya.
Wajah tampan itu semakin mendekat ke wajah Ino. Tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Ino memutuskan untuk diam dan mengikuti saja. Sampai manik aquamarine nya membelalak kaget, merasakan benda kenyal menempel lembut pada bibir nya. Bibir Itachi benar-benar memabukkan, terutama aroma mint yang menguar menyatu dengan bibir nya. Semakin lama ciuman yang hanya menempel berubah menjadi lumatan lembut yang memang sudah memaksa aquamarine itu tertutup.
Karena sudah kehabisan napas Ino mendorong pelan dada bidang Itachi dari wajah nya. Ino menatap Itachi dengan wajah sangat merah, tak jauh beda dengan Itachi yang seperti nya berusaha kembali tenang.
"maaf" akhirnya kata itu keluar dari bibir Itachi.
"i-itu, bukan masalah" Ino mengutuki dirinya yang seenaknya saja meng'iyakan maaf Itachi. Seharusnya ia memarahi pria itu, atau setidaknya memberinya tamparan di pipi Itachi, iya kan?
Ino langsung tersenyum dan berjalan dengan cepat menuju gedung apartemen nya, meninggalkan Itachi dengan pikiran nya sendiri.
"ada apa dengan ku?" benar saja, Itachi merutuki kebodohan nya dengan mencium gadis yang telah lama tidak berjumpa dengan nya dan keluarga nya, namun aneh saja, kenapa Ino tak menampar nya? Apa ia benar-benar marah sampai-sampai tidak mau melakukan hal yang membuang energi nya? benarkah?
"lain kali aku akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh" Itachi berujar sendiri, lalu memutar mobil nya untuk pulang kerumahnya.
note zeiii:
hai-hai *sambil, lambai-lambai*
Zei kembali membuat fict baru. Sebenarnya bukan baru, tapi udah lama ada di draft dokumen. karena kasian gak di up udah 4k word jadi saya putuskan untuk up ini cerita dan meninggalkan fict lama *para reader ingat, langsung Zei mau di lemparkan ke jurang penuh bunga (﹏)*
*plak*
oke lah para pembaca ku yang manis tinggu kelanjutan nya ya...
jangan lupa review nyaaaaaa...
