Submission for #AOTFluffWeek2022 by @aotficfess (on Twitter)

Porco Galliard — Sasha Braus

Day 2 : Late Night Drive - Date


Coffee and Night


Setelah menerima pesan dari sang kekasih, Sasha pun segera turun dari kamar kosnya yang berada di lantai dua. Ia bergegas memakai sepatu Skechers maroon miliknya yang mana tampak senada dengan kaos maroon yang tengah ia kenakan.

Sesampainya di hadapan Porco—sang kekasih. Sasha pun langsung memakai sweater hitam miliknya dan segera mengikat rambutnya yang masih setengah basah. Ia pun meraih helm berwarna coklat tua yang sedari tadi dipegang oleh Porco.

"Mandi jam berapa sih kok rambutnya masih basah?" tanya Porco ketika Sasha naik ke atas motor

"Jam enam kok," Sasha berkata sembari mengecek penampilannya dari spion, "Emang tadi tuh masih dipakein handuk jadi ga sempet kering."

Melihat Sasha yang sudah siap di belakangnya, Porco pun menyalakan motor miliknya, "Jalan yaa?"

"Yaa!"

Porco mengendarai motor miliknya tidak terlalu cepat, karena ia memang berniat untuk santai saja ketika keluar malam ini. Ketika ditanya Sasha mau ke mana pun ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ada arah dan tujuan mau pergi ke mana. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Sasha karena sudah lama mereka tidak jalan keluar.

"Sha kamu kalo mau mampir ke suatu tempat bilang aja yaa?"

"Iya ih lagian aku juga bingung mau ke mana."

Porco merasakan dagu Sasha diletakkannya di atas pundak sebelah kirinya. Tangan Sasha melingkar semakin erat di pinggang Porco.

"Co, kamu inget ga waktu kita pertama kali jalan pas awal pacaran dulu?"

Porco refleks terkekeh ketika mendengar pertanyaan dari Sasha, "Ingetlah apalagi waktu pertama kali makan bakso eh tutup botol kecapnya malah lepas haha"

Sasha bangun dari sandarannya di pundak Porco lalu memukul punggung lelaki itu pelan, "Kenapa ingetnya pas bagian itu sih!"

"Ya gimana yaa ga mungkin lupa soalnya haha," Porco merasakan kepala Sasha kembali bersandar di punggungnya, "Mau mampir makan bakso tempat kita pertama dulu?" tanya Porco sembari melihat ke arah Sasha dari spion motornya

"Emang masih buka?"

"Ya gatau, liat aja dulu mana tau masih buka, kan?"

"Boleh deh."

Porco pun kemudian melajukan motornya agak lebih cepat dari sebelumnya. Sebenarnya ia sedikit ragu karena sudah hampir pukul sembilan malam. Seingatnya warung bakso tempat ia dan Sasha makan dahulu hanya buka sampai pukul delapan malam.

"Ya udah keburu tutup, Sha." ucap Porco ketika meminggirkan motornya di sebelah kiri trotoar jalan.

"Yaudah gapapa. Lagian udah malem sih mana mungkin buka, kan?"

Porco membalikkan badannya dan menatap ke arah Sasha. Dirapikannya poni Sasha yang tampak berantakan di balik helm gadis itu. Jari tangannya tak sengaja menyentuh pipi Sasha.

"Dingin banget pipi kamu. Kedinginan kamu, Sha?"

Sasha menggeleng, "Emang dingin tapi ga kedinginan kok."

"Laper ga? Mau makan dulu?"

Lagi-lagi Sasha menggeleng, "Aku masih kenyang. Kamu laper?" Sasha berbalik tanya ke Porco, "Kalo kamu laper ayolah aku temenin makan aja."

"Belum terlalu laper sih," Porco kembali menyalakan motornya, "Kita jalan lagi dulu aja yaa, kalo ketemu cafe nanti kita mampir."

"Okay!"

Porco pun kembali melajukan motornya. Di sepanjang jalan, Porco dan Sasha tidak ada hentinya membahas apapun. Entah itu cerita mereka di kampus, cerita konyol yang mereka lakukan atau menceritakan sesuatu yang mereka lihat di jalanan. Dan terkadang mereka harus terdiam sejenak ketika ada kendaraan lain yang lewat dengan suara yang sangat bising—Porco mengamuk tentu saja—mengganggu obrolan mereka berdua.

Motor Porco pun berhenti ketika lampu rambu lalu lintas berubah menjadi merah. Sembari menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, Porco setengah menyandarkan punggungnya di badan Sasha. Jari-jari tangan kiri Porco pun diletakkannya di atas paha kiri Sasha. Kebiasaan yang selalu Porco lakukan adalah menggaruk lutut Sasha dan mengelusnya perlahan.

"Mau ke puncak atau ke pantai?"

Sasha pun langsung mendongak melihat ke arah simpang jalan di hadapan mereka, "Ke pantai aja kali yaa? Jalanan agak basah, serem kalo lanjut ke arah atas."

Jawaban Sasha hanya dibalas dengan anggukan kepala Porco saja. Setelah lampu rambu lalu lintas berubah menjadi hijau, Porco segera membelokkan stang motornya ke arah kanan. Mereka pun menuju ke arah bawah, ke arah pantai lebih tepatnya.

Porco dan Sasha langsung disambut oleh suara deburan ombak pantai. Bau asin dari pantai membuat keduanya merasakan ketenangan. Angin dingin yang berasal dari pantai pun ikut berhembus membuat Sasha semakin mengeratkan pelukannya.

Porco yang menyadari pelukan di pinggangnya berubah semakin erat pun agak mempercepat laju motornya. Ia pun membelokkan stang motornya ke arah kiri jalan dan masuk ke salah satu parkiran di sebuah cafe di dekat pantai.

"Mau turun?" tanya Sasha yang melihat Porco memarkirkan motornya.

"Iya, agak dingin. Gapapa yaa kita masuk dulu aja?"

Sasha mengangguk dan segera turun dari motor Porco. Dilepasnya helm yang ia kenakan dan langsung ia berikan ke Porco agar disimpan oleh kekasihnya itu. Setelah sempat merapikan rambutnya sebentar, Porco pun langsung merangkul Sasha dan mengajaknya masuk ke dalam cafe.

"Yah, hujan?"