Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
Shinobi no Ittoki by Troyca DMM Pictures
.
.
.
Sebelum saya mulai, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para reviewer yang sudah memberikan kritik dan saran yang begitu membangun.
Untuk kepribadian Naruto, sebenarnya saya ingin membuatnya menjadi karakter yang dewasanya ada tapi jahilnya juga ada, tapi sepertinya tidak berhasil ya. Ya, sudahlah tidak apa-apa. Yang penting ceritanya lanjut.
Ya, saya pikir itu saja. Sekian terima kasih...
.
.
.
"Pencurian, penipuan, pembunuhan, dan manipulasi merupakan cara shinobi untuk bertahan hidup. Lakukan semuanya sampai yang tersisa hanyalah dirimu. Lakukan tugasmu sebagai seorang Fuma"
"Baik"
.
.
.
The Ancient Shinobi
.
.
.
Liburan musim panas akhirnya tiba. Setelah menjalani ujian praktek akhir kemarin, para murid Akademi Ninja Kokuten dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing untuk menikmati waktu liburan mereka. Khusus untuk Ryoko dan Kirei, mereka ikut Ittoki pulang ke Iga karena diajak olehnya.
"Namaku Suzunone Ryoko, mohon bantuannya"
"Umm, aku Kisegawa Kirei. Mohon bantuannya"
Ryoko dan Kirei memperkenalkan diri masing-masing pada Yumika yang telah menyambut mereka berdua dengan ramah.
"Tidak perlu terlalu kaku. Ryoko-san, pasti ini sangat sulit bagimu ya?" Pemimpin Iga menatap Ryoko dengan tatapan iba. Mendengar itu Ryoko memasang wajah sedih. Kemarin ia mendapat laporan bahwa gudang dan pabrik milik ayahnya terbakar habis, dan bisa dipastikan pelakunya 100% adalah Koga.
"Tidak apa-apa, anggap saja seperti rumah sendiri," lanjut Yumika.
"Maaf telah merepotkan anda" balas Ryoko.
"Ah, tidak sama sekali kok. Semua tamu yang datang ke Iga kami perlakukan dengan sangat baik. Ittoki, antar kedua tamu kita ke kamar yang akan mereka tempati," titah Yumika.
"Baik. Ayo ikut aku, Ryoko-san, Kirei-san. Ngomong-ngomong dimana Naruto?" Tanya Ittoki.
"Seperti biasa, setiap pagi dia akan keluar dan mencari tempat yang tenang untuk bermeditasi. Terkadang ia juga melakukannya di malam hari, sampai-sampai ia pernah terlambat sekolah karena tidur larut gara-gara hal itu" jawaban Yumika sedikit membingungkan mereka berempat.
"Meditasi? Aku tidak pernah melihat Naruto melakukannya?" Ucap Ittoki.
"Dia melakukan itu di tempat tinggalnya. Aku mengetahuinya saat aku datang kesana untuk mengantarkan makanan untuknya. Saat aku mengetuk pintu, ia sama sekali tidak menjawab. Ternyata ia sedang bermeditasi di balkon. Katanya itu membantunya untuk merilekskan diri setelah seharian penuh sekolah dan bekerja" mereka berempat mengangguk paham begitu mendengar penjelasan Yumika.
"Ah, begitu ya? Aku tidak menyangka Naruto-san melakukan hal-hal seperti itu. Pantas saja selama di akademi ia selalu mendapatkan nilai bagus meskipun ia terlihat suka bermain-main" ujar Ryoko.
'Jadi, itu sebabnya dia selalu keluar malam-malam' batin Kousetsu, ia pernah memergoki Naruto yang baru kembali ke asrama saat pukul setengah 12 malam.
Beralih ke Naruto yang sedang melakukan apa yang mereka bahas di atas. Bertempat di taman kediaman Iga yang dilengkapi rumput hijau segar, pohon bonsai, dan aliran air dari pipa bambu, Naruto duduk dengan tenang sembari memfokuskan tubuhnya untuk mencoba menyerap energi alam.
'Ayolah! Masuklah ke dalam tubuhku!' Naruto berusaha sekuat mungkin hingga peluh bercucuran di sekujur tubuhnya, namun kobaran energi alam yang ia kumpulkan hanya berputar-putar di sekitar tubuhnya. Sama sekali menolak untuk masuk.
'Tcih, masih belum mau juga ya? Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi' Naruto memutuskan untuk menyudahi meditasinya. Selanjutnya ia akan ikut dengan Ittoki dan kawan-kawan untuk menikmati hari pertama dari liburan musim panas, namun ia belum diberitahu apa yang akan dilakukan.
"Oh, hei kalian! Bagaimana tempatnya? Bagus kan?" Ia berpapasan dengan mereka berempat saat akan kembali ke kamarnya.
"Keren sekali! Seperti di penginapan!" Balas Kirei girang.
"Terima kasih untuk semuanya, Ittoki-san" ujar Ryoko.
"Orang tuamu sedang dalam tugas bukan? Aku juga tidak kepikiran untuk menghabiskan liburan musim panas bersama teman-teman," balas Ittoki.
"Yosh! Ayo kita bermain di Iga!" Seru Kirei penuh semangat.
"Ya, walaupun hanya ada gunung dan sungai sih" ujar Ittoki. "Jangan lengah" bisik Naruto. "Aku tahu, tenang saja Naruto"
"Ittoki, ayo pergi!" Suara Tokisada yang berasal dari pintu gerbang mengalihkan perhatian mereka. "Ya, tunggu sebentar! Baiklah, Silahkan nikmati waktu kalian"
"Eh, memangnya kau mau pergi kemana?" Tanya Kirei.
"Hari ini adalah hari kematian ayahku. Setiap tahun aku mengunjungi makamnya" balasnya
"Ah, umm...begitu ya? Kalau begitu, aku akan jalan-jalan keliling rumah saja" ujar Kirei.
"Aku mau melanjutkan meditasiku. Sudah terlalu banyak beban pikiran yang kutampung selama di akademi" sahut Naruto seraya pamit undur diri.
"Aku mau latihan saja" Kousetsu buka suara setelah dari tadi diam.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti teman-teman!"
The Ancient Shinobi
Berpindah ke kediaman keluarga Ban yang berada di komplek perumahan mewah. Nampak putra satu-satunya dari Housen, yaitu Suzaku tengah menerima pesan dari burung yang dikirim oleh Kirei. Kunoichi blonde itu baru saja memeriksa seberapa ketat keamanan di kediaman Iga.
"Tou-san" ia menghampiri ayahnya yang sedang sibuk mengotak-atik laptop.
"Ada apa?"
"Aku ingin ditempatkan di garis depan untuk rencana penyerangan Iga," ujar Suzaku dengan wajah serius.
"Darimana kau tahu hal itu?" Housen sedikit terkejut mendengar bahwa putranya mengetahui rencana Koga yang selanjutnya.
"Itu sudah jadi rumor" balas Suzaku.
"Hanya beberapa petinggi yang mengatakan itu,"
"Jadi, bagaimana selanjutnya?" Tanya Suzaku.
"Aku dengar beberapa murid Koga terluka parah saat ujian," balas Housen
"Iga memiliki Ninja yang sangat hebat selain kunoichi bermasker itu. Namanya Namikaze Naruto. Murid-murid Koga yang terluka saat ujian itu adalah ulahnya, selain itu..." Suzaku menjeda jawabannya,
"Apa?" Housen penasaran.
"Dia...mengalahkanku dengan mudah" ujarnya seraya menutup mata.
Tak ada reaksi terkejut atau marah dari Housen, hanya ada tatapan datar seperti biasa. Ia seperti sudah menduga bahwa putranya akan mengatakan itu.
"Begitu ya? Itu berarti kau harus lebih banyak berlatih lagi. Memangnya, apa yang kau dapatkan dengan mengobarkan sesama Ninja Koga?"
"Aku tidak akan gagal lagi"
"Kau tidak boleh gagal," tegas Housen, membuat Suzaku sedikit terkejut. "Bukankah kau ingin mewujudkan keinginan Kishinmaru-sama? Dunia yang tentram tanpa Ninja. Kita bertahan demi melindungi itu. Bukankah begitu?" Lanjutnya.
"Tou-san selalu bilang untuk membunuh hatiku. Jadi, aku berusaha membunuh kemarahanku pada Iga. Karena itulah, aku jadi bingung. Aku akan mengikuti kemarahanku" Suzaku main pergi begitu saja. Menyisakan Housen yang hanya merespon dengan helaan nafas seraya menatap fotonya dengan Suzaku saat masih kecil.
Latar tempat berpindah ke ruangan dari satgas yang menangani kasus kematian Minobe Kishinmaru. Ada komandan Annin, Goshogawara Hayato, bersama para anggotanya, tak lupa Kozuki Shione yang berperan penting dalam penyelidikan ini. Mereka sedang membahas apa yang Shione temukan saat membuntuti Tokisada di salah satu pabrik milik Koga.
"Aku menemukannya saat mengejar Tokisada. Tak ada hubungannya dengan peralatan Ninja. Bisa dipastikan, Koga sedang membuat sesuatu dengan tubuh Kishinmaru," Shione menerangkan foto yang ditampilkan di layar proyeksi. Foto itu adalah foto tubuh Kishinmaru yang disimpan dalam sebuah tabung.
"Ada rumor yang mengatakan bahwa Koga melancarkan serangan kepada Iga. Mungkin itu ada hubungannya," sahut salah satu anggota.
"Taichou, boleh aku berpendapat?" Ujar Shione. "Silahkan" Hayato mengizinkan.
"Saat ini, bukan Iga yang harus diselidiki, melainkan Koga. Kita tidak bisa melupakan insiden masa lalu. Tetapi lebih baik bila menghentikan tragedi yang lebih besar di masa depan,"
"Semua itu hanya dugaan," balasnya.
"Tapi..." Shione bangkit dari kursi, ia terlihat tidak setuju.
"Emosi akan melumpuhkan akal sehatmu. Jangan sampai informasi ini diketahui oleh unit lain,"
"Kenapa?"
"Ketidakpastian hanya akan menyebabkan kekacauan. Lanjutkan penyelidikanmu pada Tokisada,"
"Baik"
The Ancient Shinobi
Sore hari menyelimuti Iga, dimana saat ini Ittoki bersama ibunya sedang membersihkan makam ayahnya, Sakuraba Hidetoki.
"Ngomong-ngomong, Gakucho membicarakan tentang Tou-san," ujar Ittoki sembari menyapu.
"Benarkah? Apa yang ia katakan?" Tanya Yumika.
"Dia bilang Tou-san tidak mau jadi ninja yang melakukan pekerjaan kotor,"
"Dia memang begitu. Ayahmu juga menerima Ninja lain yang berasal dari luar Iga. Tidak menolak yang datang dan tidak mengejar yang pergi. Itulah caranya mengubah para Ninja. Pemikiran idealnya masih jauh dari kenyataan," balas Yumika.
"Begitu ya?" Ittoki berhenti menyapu, ia menundukkan kepala merenungi ucapan ibunya.
"Hidetoki meninggal saat bertugas bersama Tokisada. Karena itu, sampai sekarang Tokisada menyalahkan dirinya sendiri," pernyataan tersebut sedikit mengejutkan Ittoki.
"Lalu, aku sebagai pemimpin telah memaksa banyak orang untuk melakukan tugas yang berat. Saat kamu menjadi Ninja, kamu telah dibebani dengan dosa yang tidak terhapuskan. Jadi, ingat itu baik-baik, Ittoki" lanjutnya, menatap wajah Ittoki dengan serius.
"Baik" dan setelah membersihkan makam, ia dan Yumika mendoakan Hidetoki di alam sana.
Hari kedua dari liburan musim panas. Naruto dan kawan-kawan mengunjungi area pelayanan masyarakat milik Iga. Banyak sekali orang yang berkunjung untuk membeli barang dan oleh-oleh khas Iga untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.
"Wah, sudah lama aku tidak kesini dattebayo! Kira-kira berapa lama ya? Sekitar 4 bulan?" Ujar Naruto.
"Tempatnya besar juga! Keren!" Kirei dibuat kagum melihat area pelayanan milik Iga.
"Maaf, aku jadi merepotkanmu" ujar Ittoki.
"Tidak, aku juga berhutang budi padamu" balas Ryoko.
"Aku berhutang satu malam dan satu kali makan. Bayanganku akan pusat perbelanjaan tidak begitu jelas, tapi ini ramai sekali," sahut Kirei.
"Disini juga menjual berbagai macam barang, jadi kami sudah saling mengenal sejak lama. Tapi, aku gelisah bila merepotkan kalian" ucap Ittoki seraya memperhatikan daftar belanjaan yang harus ia beli.
"Astaga, Ittoki. Kita semua berada disini untuk tujuan yang sama, yaitu membeli bahan makanan bukan? Tidak ada yang merasa direpotkan disini. Benar kan teman-teman?" Sahut Naruto.
"Um" Kousetsu mengangguk.
"Ya / Itu benar" Ryoko dan Kirei pun setuju.
"Ahahaha, baiklah. Ayo, untuk yang pertama. Hmm, permisi" Ittoki menyapa seorang pria paruh baya yang sedang memeriksa sayuran.
"Ah, Ittoki-kun rupanya. Hari ini bersama Yumika-san ya?"
"Tidak, Okaa-san meminta tolong padaku" balasnya.
"Bagaimana, apakah kamu sudah bisa menggunakan shuriken?" Pertanyaan tersebut sedikit membingungkannya. "Eh? Bagaimana anda tahu?"
"Jangankan melempar shuriken, Ojii-san. Memegang kunai saja dia gemetar dattebayo," ledek Naruto.
"Benarkah? Kau butuh lebih banyak latihan lagi, Ittoki-kun. Ngomong-ngomong, Naruto. Kau juga menjadi Ninja ya?"
"Ya, itu benar. Rasanya cukup menyenangkan. Walau agak membosankan saat pelajaran di kelas, tapi aku cukup menikmati saat bagian praktek. Disana aku menghajar hampir seluruh para kecoa Koga dattebayo!" pria tua penjual sayuran itu jadi sumringah mendengar pernyataan Naruto.
"Woah! Benarkah? Itu luar biasa. Aku sudah menduga bahwa kau punya bakat untuk menjadi Ninja. Aku sudah memperhatikannya sejak saat kau masih bekerja mengangkut barang-barang dari tempat ini untuk di antar ke toko milik Yumika-san. Kau benar-benar lincah dan cekatan. Selain itu, kau juga memiliki fisik yang kuat" pujinya.
"Ahaha, itu bukanlah sesuatu yang harus dipuji, Ojii-san," Naruto memilih untuk merendah, seraya menggaruk belakang kepalanya.
"Tidak hanya itu, saat ada hari penting atau festival di malam hari, Naruto juga bertanggung jawab untuk bagian keamanan di saat Tokisada sedang mabuk. Dia pernah menghajar sekelompok Yakuza yang ingin mengacau disini, jumlahnya sekitar 20 orang dan mereka semua bersenjata sementara Naruto hanya bermodalkan tangan dan kakinya."
"Heehh? Benarkah? Itu sungguh hebat, Naruto-san!"
"Aku tidak menyangka dibalik tampangmu yang seperti itu, kau ternyata sangar juga" Ryoko dan Kirei memuji, dan itu membuat Naruto semakin tidak nyaman.
"Ayolah teman-teman, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, yaitu memastikan Iga aman dari gangguan apapun. Bukankah begitu, Bocchan?" Ucap Naruto, seraya meledek sahabatnya.
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu di depan umum seperti ini, Naruto. Itu memalukan!" Wajah Ittoki merona merah.
"Heh? Memangnya kenapa? Bukankah calon pemimpin itu harus dikenal oleh rakyatnya? Benar kan, Ojii-san?"
"Hm, itu benar"
"Wah, ada Ittoki-kun ternyata. Ada Naruto-kun dan Kousetsu-chan juga. Bagaimana sekolah kalian? Apakah menyenangkan?" Sepasang pria dan wanita menghampiri mereka.
"Cukup menyenangkan, Ojii-san. Umm, tidak. Sangat menyenangkan dattebayo!" Balas Naruto.
"Masa muda akan terasa menyenangkan saat memiliki teman yang cantik. Tapi, jangan mengabaikan latihan ya?"
"Eh? Jangan bilang kalian semua juga Ninja?" Ittoki sedikit kaget.
"Sepertinya satu-satunya orang yang bukan Ninja disini adalah dirimu, Ittoki-kun" balas Ojii-san penjual sayuran.
"Aku sama sekali tidak tahu" ujarnya pasrah.
"Baiklah, coba kulihat" pria yang datang bersama wanita tadi mengambil kertas di tangan Ittoki lalu beranjak pergi. "Eh? Ano..."
"Serahkan pada kami" balas si wanita tua. Dan setelah itu, seorang nenek dari toko seberang memberi isyarat pada mereka berlima untuk datang ke tokonya.
"Selamat siang" sapa Ittoki.
"Ini permen untuk kalian" Nenek itu memberikan sebungkus permen pada mereka masing-masing satu. Begitu Ittoki membuka bungkusnya, ia melihat ada sebuah kertas. "Ano, ini?"
"Di masa depan, kamu sudah bukan lagi Bocchan kan?" Ujar si nenek. Mereka berempat jadi kepo terhadap isi kertas yang ada di dalam bungkus permen Ittoki.
Sesuai apa yang dikatakan oleh isi kertas itu, mereka berlima berangkat menuju sungai dengan membawa peralatan memancing. Isi kertas yang ada di dalam bungkus permen itu bertuliskan,
Tangkap 100 ekor ikan Ayu
"Hahhh, ini mustahil" Ittoki menghela nafas pasrah sembari memegang joran yang terbuat dari bambu.
"Hoi!" Seru Kirei seraya berlari menghampirinya.
"Ada apa Kirei-san?" Tanya Ittoki.
"Bagaimana menurutmu, lelaki puber? Mana yang kau pilih?" Kirei memborbardirnya dengan pertanyaan yang sama sekali tidak diduga.
"Eh? A-apa maksudmu?" Pewaris Iga itu mendadak gelagapan. Ia mendapatkan jawabannya begitu melihat sosok Ryoko yang memakai pakaian renang berupa tankini berwarna krem dengan rok pendek warna ungu.
"Eto..Ryo-Ryoko-san?" Setetes peluh mengalir di pelipisnya. Selanjutnya ia melihat Kousetsu yang juga dalam pakaian renangnya, berupa bikini warna putih dan hotpants warna biru, tapi seperti biasa ia juga memakai masker.
"Maskernya tetap ikut ya?" Gumamnya,
"Hmph..." Kousetsu mendengar itu dan menunjukkan glare pada Ittoki.
"Eh...um...ugh..." ia memilih memalingkan wajah ke arah lain, menatap pada Kirei yang memakai hoodie berwarna biru terang.
"Eh? Tidak mungkin, aku? Aah~" candanya dengan desahan yang dibuat-buat.
"Pakaian renangmu bahkan tidak terlihat. Astaga, apa yang kupikirkan? Oh iya, ayo kita memancing ikan Ayu! Ngomong-ngomong, dimana Naruto?" Ittoki buru-buru mengganti topik, sembari mencari-cari keberadaan sahabatnya itu yang suka menghilang ketika dicari.
"Maaf tapi aku tidak akan memancing dengan kalian. Aku ingin memancing sendiri di tempat lain" sahut Naruto,
keluar dari dalam pepohonan. Mereka berempat terutama para gadis sontak melebarkan mata melihat Naruto saat ini. Bukan karena pakaian renangnya, melainkan pada tubuhnya yang terlihat begitu atletis. Nampak otot lengan, leher, dada, paha, dan betis terbentuk dengan baik. Yang paling mencolok adalah otot perut yang membentuk 6 gumpalan sempurna, atau yang biasa dikenal dengan sebutan six pack.
"Ada apa dengan kalian?" Naruto mendadak bingung melihat wajah para gadis memerah luar biasa.
"Ti-tidak ada apa-apa, Naruto-san!" Ryoko menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Wo-woah! Ka-kau seperti atlet binaraga!" Sementara Kirei dengan wajah berbinar disertai rona merah.
"I-Ini memalukan..." Lalu Kousetsu yang membuang muka.
.
"Naruto! Tolong buat aku agar memiliki tubuh sepertimu!"
The Ancient Shinobi
Perjuangan mereka dalam memancing ikan Ayu dimulai. Mereka memiliki cara tersendiri untuk memancingnya. Ryoko sudah tentu menggunakan peralatan Ninja. Kousetsu sendiri menggunakan cara yang unik yaitu menangkapnya secara langsung dengan tangan. Sementara Ittoki dan Kirei menggunakan cara konvensional yaitu dengan memakai joran bambu.
Bagaimana dengan Naruto? Seperti yang sudah ia katakan di atas, ia akan memancing terpisah dari teman-temannya. Jika mereka memancing di bagian tengah sungai, maka Naruto memilih untuk memancing di bagian hilir dimana aliran airnya lebih tenang.
Namun yang Naruto lakukan saat ini agak berbeda dari kegiatan memancing pada umumnya. Orang lain akan fokus mengamati bagaimana pergerakan ikan, sementara yang ia lakukan adalah duduk bersila di atas sebuah batu besar dengan sepasang kunai di kedua tangannya.
'Aku akan terus mencobanya. Ayolah, energi alam! Masuklah ke dalam tubuhku!' Di sela-sela kegiatan memancing, Naruto menyempatkan dirinya untuk bermeditasi dan mengumpulkan energi alam. Tak diduga, kumpulan ikan Ayu mendekat ke batu yang diduduki oleh Naruto.
'Suara gerakan ekor dan sirip? Apakah ikan-ikan Ayu itu tertarik pada energi alam yang kukumpulkan sehingga mereka mendekat padaku?' Tak menyia-nyiakan kesempatan, Naruto membuka mata dan langsung melemparkan kedua kunai ke arah kumpulan ikan Ayu di bawahnya.
SPLASH
SPLASH
Seperti ungkapan mengenai dua ekor burung dengan sebuah batu, kedua kunai itu mengenai 4 ekor ikan sekaligus.
"Wah, ternyata praktis juga. Dengan begini aku bisa menangkap banyak ikan dengan cepat" Naruto memandang hasil tangkapannya dengan sumringah. Setelah itu ia mengulanginya lagi dan mendapatkan hasil yang serupa. Ia terus melakukannya hingga dua ekor ember yang ia bawa terisi penuh.
"Yosh, akhirnya selesai juga. Walaupun meditasiku belum membuahkan hasil, tapi tidak apa-apa. Selanjutnya, aku akan berusaha lebih keras lagi agar energi alambisa masuk ke dalam tubuhku" gumamnya, seraya berjalan kembali ke bagian tengah sungai dimana Ittoki dan kawan-kawan masih sibuk memancing.
"Hoi, bagaimana? Kalian dapat banyak?" Tanya Naruto.
"Hahhh, kami baru dapat sedikit. Bagaimana denganm- T-Tunggu?! K-Kau sudah selesai?!" Pewaris Iga itu terkejut melihat dua ember Naruto sudah terisi penuh. Bukan hanya Ittoki, para gadis pun juga sama kagetnya.
"Apa?! Tapi, ini baru 15 menit" ujar Kirei, sembari memeriksa jam tangannya.
"Bagaimana kau melakukannya?" Kousetsu menuntut penjelasan.
"Aku hanya menerapkan sedikit tips dan trik yang kubaca di buku panduan bertahan hidup di hutan. Selain itu, aku pernah hidup di jalanan, jadi aku tahu bagaimana caranya memperoleh makanan dengan mudah dan praktis" balas Naruto dengan cengiran khasnya.
"Perlihatkan pada kami" sahut Kousetsu tiba-tiba. "Eh? Apa?" Mantan Hokage ketujuh itu memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Perlihatkan pada kami bagaimana kau menangkap ikannya" Kousetsu memperjelas maksud ucapannya. Naruto sontak jadi bingung, apakah ia harus memperlihatkan bahwa ia hanya duduk di atas batu dan secara ajaib ikan-ikan akan datang menghampirinya?
"Ayolah Naruto-san, perlihatkan pada kami. Siapa tahu itu berguna untuk kami juga" pinta Ryoko.
"Hahhh, baiklah," Naruto menghela nafas. Tapi ia tidak akan menunjukkan cara yang sebenarnya ia gunakan.
"Sederhana saja. Aliran air yang mengarah ke hilir disumbat dengan tumpukan batu, kemudian dari arah hulu, kalian tinggal berjalan sambil menendang-nendang air. Tujuannya adalah membuat ikan-ikan takut dan berenang ke arah hilir yang telah disumbat. Mereka akan tertahan dan berkumpul disana sebab aliran hilir telah terhalang. Selanjutnya tinggal menangkapnya dengan tangan saja. Mudah dan praktis bukan?" Naruto mendemonstrasikan cara yang lain.
"Wah, seperti itu ya? Kenapa tidak terpikir dari tadi?" Ujar Ittoki.
"Naruto-san memang cerdas. Ternyata tidak melulu harus menggunakan peralatan Ninja ya?" Puji Ryoko.
"Astaga kalian ini, sudah kubilang ini bukan apa-apa. Cara sederhana seperti ini juga banyak dipakai orang lain. Sudahlah, ayo cepat lakukan. Aku mau istirahat dulu"
Naruto beranjak naik ke daratan untuk beristirahat di bawah pohon seraya mengeluarkan barang-barang dari tasnya, yaitu termos air panas, dan ramen instan.
"Huahhh, aku lelah sekali" Kirei datang menghampirinya dengan seember penuh ikan.
"Kerja bagus Kirei-chan, ini untukmu" Naruto melemparkan sebotol air.
"Terima kasih Naruto-kun! Ahh, segarnya!"
"Kulihat-lihat, kau juga juga handal dalam memancing ya?" Tanya Naruto.
"Eh? Aku? Hmm, entahlah. Mungkin aku hanya mahir dalam menggunakan umpan yang hidup. Kalau umpan buatan aku sama sekali tidak bisa" balasnya, sembari duduk di sebelah Naruto.
"Bukankah itu sudah bagus? Kau tidak harus menguasai menggunakan umpan buatan juga kan? Lagipula, masih ada cara lain seperti yang aku tunjukkan tadi"
"Ya, kau benar. Hmm, apa kau tahu Naruto-kun?"
"Soal apa?"
"Umpan dengan ikan Ayu itu dibenci oleh ikan Ayu yang lain. Rasanya seperti diriku" ujar Kirei, seraya menatap kumpulan ikan Ayu yang sedang berusaha di tangkap oleh Ittoki dan yang lain. "Memangnya kenapa?" tanya Naruto.
Kirei sempat terdiam untuk beberapa saat. Pikirannya teringat pada kata-kata sang ayah saat ia masih kecil.
'Berbohonglah pada dirimu sendiri'
"Aku tidak punya desa. Orang tuaku adalah Ninja bebas," balas Kirei.
'Ninja bebas ya? Itu artinya orang tua Kirei-chan tidak terikat pada desa manapun' batin Naruto.
"Memangnya ada Ninja yang seperti itu?" Tanya Naruto, seolah-olah belum tahu.
"Ada. Walaupun bebas, tapi sungguh lemah. Kami tidak punya pilihan selain bergantung pada desa lain, tapi kami tidak bisa melakukannya terus menerus. Rasanya seperti diusir dari rumah sendiri"
'Terus berbohong!' Suara ayahnya kembali terlintas.
"Maaf bukan bermaksud tidak sopan, tapi bisa dibilang Ninja seperti itu adalah Ninja serabutan bukan? Mereka melakukan apapun demi bisa menyambung hidup." Ujar Naruto.
"Ya, itu benar" Kirei pun teringat kembali pada masa kecilnya yang suram.
Mini Flashback
"Jangan percaya pada orang lain"
Kirei kecil hanya bisa terduduk lesu di depan ayahnya. Suasana di rumah kecil yang gelap itu benar-benar terasa menyeramkan. Hanya dengan bermodalkan cahaya lilin, Kirei kecil hanya bisa diam dan mendengarkan kata-kata ayahnya.
"Leluhur kita terbunuh karena mempercayai orang! Jawablah!" Ia menangis sesegukan seraya mendekap sebuah boneka berbentuk ikan.
BRAKK
"I...I-Iya...hiks...hiks..." bahunya dipukul dengan sebatang kayu. Ayahnya merampas boneka ikan yang ia peluk.
"Darimana kau mendapatkan ini?"
"Da-Dari...teman..."
"Apa kau mencurinya?"
"Bu-bukan. Aku...menerimanya"
"Tidak berguna" ayahnya menjatuhkan boneka ikan itu, lalu menjatuhkan sebuah kunai tepat di samping Kirei. "Manusia, hanyalah mangsa. Perasaan kepada mangsa hanya akan membuang-buang waktu," lanjutnya. Kirei mulai menitikkan air mata.
"Hiks...hiks...!"
"Berbohong, teruslah berbohong. Kebohonganlah yang melindungi Fuma. Sampai pada akhirnya, kau bisa meneruskan nama Fuma di generasi berikutnya. Hanya itulah tujuan hidupmu!"
BRAKK
"Aaaghh!" Kirei kembali menerima pukulan dari batang kayu.
"Lakukanlah!" Seru ayahnya. Dengan air mata yang terus bercucuran, Kirei menggenggam kunai itu tanpa keraguan lalu menusuk dan menghancurkan boneka ikan di depannya.
End of Mini Flashback
"Rasanya sangat sulit untuk menjalani hidup dengan masa lalu yang kelam. Tapi aku salut padamu, Kirei-chan. Kau bisa menahan dan menjalani kehidupanmu sampai saat ini,"
"Eh, kenapa?" Kunoichi blonde itu menunjukkan raut bingung.
"Kupikir masa lalu kita berdua terlihat mirip. Kau harus melakukan apapun demi menghidupkan keluargamu, begitu juga diriku. Aku tidak punya orang tua, jadi aku bertaunggung jawab untuk diriku sendiri. Tidur di jalanan, memancing ikan di sungai, memungut makanan sisa, bahkan mencuri semuanya kulakukan agar aku bisa bertahan hidup. Sampai pada akhirnya, aku bertemu dengan Yumika-san. Ia membawaku ke dalam sebuah kehangatan bernama keluarga," tukas Naruto, sedikit menjelaskan masa lalunya di dunia ini.
"Eh? Aku tidak menyangka masa lalumu sangat keras, Naruto-kun,"
"Semua orang pasti memiliki masa lalu yang buruk, Kirei-chan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Menurutku, kau itu berbeda dengan umpan ikan Ayu, selalu menolong orang yang sendirian. Itulah orang baik" balas Natuto. Mendengar itu Kirei menundukkan wajahnya seraya termenung. Ia mulai bimbang apakah yang telah ia lakukan selama ini benar atau salah dengan menjadi mata-mata bagi Koga.
Dan akhirnya mereka berhasil menyelesaikan misi untuk menangkap 100 ekor ikan Ayu. Dengan ember-ember penuh ikan di tangan masing-masing, mereka menyerahkannya pada Kozo dan Reiha.
"Wah, terima kasih banyak!" Ucap Kozo.
"Memangnya ikan sebanyak ini mau diapakan, Kozo-san?" Tanya Naruto.
"Hari ini seluruh Ninja Iga akan berkumpul untuk memperingati kematian pemimpin yang sebelumnya," balas Reiha.
"Eh? Jadi ini dilakukan setiap tahun? Aku sama sekali tidak tahu" Ittoki agak terkejut, berarti selama 15 tahun ia tidak pernah ikut dalam perayaan ini.
"Selama ini kami menyembunyikan hal-h berbau Ninja darimu" balas Reiha.
"Aku sungguh terharu pada akhirnya hari ini tiba untukmu. Aku akan memberikan kalian bertiga satu tugas lagi," ujar Kozo.
"Yosh, serahkan pada kami!" Seru Naruto.
"Apa ada yang bisa kami bantu?" Sahut Ryoko.
"Ah, tidak. Tidak perlu. Kalian berdua adalah tamu kami" Kozo jadi tidak enak jika membuat Ryoko dan Kirei harus ikut membantu lagi.
"Kalau tidak kerja ya tidak dapat makan" sahut Kirei,"
"Baiklah, kalau kalian memaksa. Silahkan ikut kami ke dapur" ujar Reiha.
Sesuai apa yang dikatakan oleh Reiha, seluruh Ninja Iga berkumpul untuk membantu dalam penyelenggaraan hari peringatan kematian pemimpin Iga yang sebelumnya, Sakuraba Hidetoki. Nampak dapur yang ramai oleh orang-orang Iga yang turut membantu dalam memasak makanan serta menyiapkan peralatan makan.
Sementara itu Naruto dan Ittoki bertugas untuk membakar ikan yang tadi mereka tangkap. Saat tengah asyik-asyiknya membakar, Tokisada tiba-tiba nimbrung dan mengambil satu tusuk.
"Hmm! Enak sekali!"
"Ojii-san, semua orang sedang bekerja sementara kau hanya malas-malasan saja" Ittoki protes.
"Itu benar. Kau cuma mau bagian makannya saja" Naruto menambahkan.
"Aku juga sedang bekerja kok, sebagai pendeteksi racun" guraunya.
"Mereka semua benar-benar bekerja dengan giat ya?" Ittoki memandang ke arah orang-orang yang mondar-mandir mengangkut barang-barang.
"Semua ini untuk Yumika. Setelah kematian pemimpin sebelumnya, semua orang berusaha untuk menyemangatinya. Makanya sekarang menjadi lebih ramai," balas Tokisada, kemudian secara tak sengaja ia melihat Kousetsu tengah mengangkut susunan piring yang terlihat tinggi.
"Kalau Kousetsu, dia sudah tidak punya keluarga. Dia dibuang dan dipungut oleh Yumika kemudian diasuh sampai sekarang, sama seperti Naruto. Banyak orang yang berhutang budi pada Yumika. Oleh karena itu, banyak yang menyukai dan menghormatinya" lanjutnya.
"Karena itulah dia akan melakukan apapun demi Yumika-san, sama sepertiku. Jadi, pahamilah Ittoki, semua yang aku dan Kousetsu-chan lakukan selama ini demi untukmu dan juga Yumika-san" sahut Naruto.
"Ya, aku paham," dan setelah itu, Tokisada tiba-tiba menghilang bersama beberapa tusuk ikan bakar yang menancap di tanah, hanya menyisakan satu tusuk saja "Eh? Huh?"
"Astaga, dia cepat sekali menghilangnya" bukan hanya Ittoki, Naruto pun berhasil dikelabui. 'Tidak heran jika dia dijuluki Shura no Tokisada' batin Naruto, terkesan akan kemampuan Tokisada yang menghilang tanpa jejak.
Kemana Tokisada pergi? Dia membawa ikan bakar itu bagian luar kediaman Iga, tepatnya keluar pagar dimana ada seseorang yang membuntutinya.
"Ini, kau mau makan?" Ia menawarkan ikan bakar tersebut pada orang yang membuntutinya, siapa lagi kalau bukan Shione.
"Apa aku seburuk itu?"
"Bagiku, semuanya juga begitu," balas Tokisada.
"Apa kalian sungguh membunuh Kishinmaru?" Tanya Shione, dengan raut serius.
"Menanyakan hal seperti itu hanya membuang-buang waktu. Ini, tangkap" Tokisada melemparkan setusuk padanya.
"Eh? Eh?" Kunoichi Annin itu sempat kesulitan menangkapnya, namun ia berhasil menggenggamnya. "Enak..."
Malam perayaan pun tiba, waktunya bagi seluruh Ninja Iga untuk menikmati pesta jamuan yang telah mereka siapkan dari tadi pagi.
"Semuanya, mari kita nikmati malam ini seakan-akan pemimpin sebelumnya, Sakuraba Hidetoki ada disini" Yumika membuka jamuan malam itu.
"Ittadakimasu!" Semuanya mulai melahap apa yang tersedia di atas meja. Disertai dengan obrolan ringan ditemani segelas sake.
"Woah, enak sekali! Ini juga! Yang itu juga enak! Ya ampun, semuanya enak!" Kirei berseru girang.
"Ahahaha, silahkan makan sepuasnya teman-teman" ujar Ittoki.
"Hmm, ikan yang kau bakar ternyata enak, Ittoki-san" puji Ryoko.
"Eh? Benarkah? Y-ya, sebenarnya bukan hanya aku, Naruto juga ikut membakarnya" balas Ittoki. Pria dan wanita paruh baya yang menyapa mereka tadi pagi menghampiri Ittoki.
"Kami minta maaf atas ketidaksopanan kami tadi pagi,"
"Kami senang kau hadir disini Ittoki-kun. Setelah Hidetoki-sama meninggal, Iga nyaris hancur. Tapi Yumika-sama berhasil menyatukan kita kembali,"
"Memangnya, apa yang terjadi pada saat itu?" Tanya Ittoki, ia penasaran seperti apa kondisi Iga pasca ayahnya meninggal.
Mini Flashback
BRAKKK
"Minggir!"
GRAPP
WUSH
"Kozo-san!"
"Pemimpin kita telah dibunuh!" Seru Tokisada.
"Itu hanya kecelakaan!" balas Kozo.
"Bukan! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku akan membunuh mereka semua! Aku akan menghancurkan Koga!"
Keributan terjadi antara Tokisada dan para Ninja Iga yang lain. Mereka berselisih paham soal kematian pemimpin mereka, Sakuraba Hidetoki. Tokisada menginginkan balas dendam, sementara mayoritas Iga lainnya memilih bungkam.
"Kebodohanmu memang tak bisa dihilangkan ya?" Balas Kozo.
"Tapi Kozo-san, jika kita berdiam diri saja. Iga akan terus terpuruk!" Sahut salah satu Ninja.
"Apa maksudmu?" Kozo menuntut penjelasan.
"Pemimpin kita sudah meninggal, kita akan diincar oleh desa lain. Oleh karena kita itu, kita harus secepatnya melakukan sesuatu!"
"Jangan bercanda! Kau mau perang kembali terjadi?" Timpal Ninja yang lain.
"Usir saja dia dari sini! Dia hanya bisa membunuh. Kita seharusnya mengusirnya sejak dulu!" Salah satu Kunoichi menunjuk Tokisada.
"Jangan menghalangiku!" Tokisada menghunus kunainya. Semua Ninja Iga yang ada di ruangan itu ikut menghunus kunai masing-masing.
"Ini bukan saatnya untuk bertengkar! Kita masih belum menentukan pemimpin yang berikutnya!" Seru Reiha.
"Tak ada yang bisa menggantikan beliau!" Bentak Tokisada.
"Kau hanya bisa menggunakan kekerasan saja ya, Shura no Tokisada? Pemimpin kita melindungimu yang dipenuhi kekuatan, maka itu sama saja kau yang telah membunuhnya!" Sindir Kozo, membuat Tokisada tersentak.
"Kumohon, hentikan" ujar Yumika, namun suaranya terlalu kecil. Tak ada yang mendengarkannya.
"Dia orang yang sudah dibutakan oleh kekuatan!"
"Halangi pintu keluar! Jangan biarkan dia lari!"
"Hentikan" ujar Yumika lagi, namun masih tak ada yang medengar.
"Biarkan saja dia pergi. Daripada kita yang harus menjadi korban!"
"Tokisada!" Kozo merangsek maju.
"Sudah cukup! Hentikan!" Akhirnya semua orang mendengar Yumika setelah ia menaikkan volume suaranya. Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Tokisada.
"Yumika-sama! Mundur! Itu berbahaya!"
"Jangan mendekat padanya, Yumika-sama! Anda bisa mati!"
PLAK
Tak mereka sangka, Yumika berani menampar Tokisada. Ninja terkuat Iga itu langsung bereaksi dengan menodongkan kunainya tepat di depan wajah Yumika.
"Mundur! Aku bilang mundur!" Bentak Tokisada.
"Seseorang akan kehilangan arah setelah kehilangan sesuatu yang harus dilindungi," Yumika mengangkat tangannya untuk menggenggam kunai itu tanpa takut terluka. Tokisada dan semua Ninja Iga yang ada di ruangan itu melebarkan matanya
"Yang kau butuhkan bukanlah balas dendam, tapi mengingat apa yang harus dilindungi," darah mulai bercucuran dari tangan Yumika. "Suamiku sangat mencintai Iga. Demi kebahagiaan Iga dan kedamaian seluruh Ninja, dia mengorbankan dirinya. Tapi, apa kalian tidak merasa malu? Orang yang kalian sebut sebagai pemimpin mati hanya demi melindungi orang-orang yang ingin perang saudara? Yang hanya bisa kita lakukan sekarang adalah bersabar dan meneruskan keinginan Hidetoki!"
End of Mini Flashback
"Akhirnya! Aku bisa makan enak lagi, setelah beberapa bulan harus makan makanan Ninja yang tidak ada rasanya itu. Yosh, Ittadakimasu!" Serupa dengan Kirei, Naruto pun turut menyerbu apa yang ada di depannya, entah itu kare, wagyu, karaage, semuanya hingga memenuhi mangkuk nasinya.
"Hmmh! Enaknya! Oh?" Mata biru safirnya tertuju pada sebotol sake yang terletak di atas meja tak jauh dari tempatnya duduk. Botol sake itu milik seseorang yang berada di sebelahnya, sedang mengobrol dengan orang di sebelahnya dalam kondisi mabuk.
"Hm, aku ingin coba meminum sake. Sedikit saja kupikir tidak apa-apa" Ia diam-diam mengambil botol sake itu lalu menuang segelas.
"Wuah! Nikmatnya! Aku mau lagi dattebayo!" Ketagihan, Naruto terus menuang segelas demi segelas, lagi dan lagi hingga isi botol itu habis tak tersisa.
"Hik! Lagi! Aku mau lagi! Hik!" Naruto mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Beberapa orang yang masih sadar dan belum mabuk mendengar seruan itu, mereka terkejut melihat wajah Naruto yang memerah dan sempoyongan.
"Yu-Yumika-sama, Naruto mabuk!"
"Apa?! Siapa yang memberinya sake?!" Yumika terlihat murka. Suasana yang awalnya penuh suka cita berubah menjadi menegangkan.
"Astaga! Dia itu masih di bawah umur!" Seru Kozo yang juga marah. Di sisi lain, Ittoki dan kawan-kawan pun sama terkejutnya. Mereka tak menyangka bahwa Naruto berani meminum sake.
"Biar aku yang mengurusnya" Kousetsu memutuskan untuk turun tangan
"Eh, Kousetsu. Memangnya kau bisa menangani orang mabuk?" Tanya Ittoki.
"Aku bisa. Aku pernah melakukannya pada Ojii-san" Balasnya. Kousetsu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Naruto yang terus meracau sembari mengangkat gelasnya. "Hik!...Berikan aku sake! Hik!...Hoi! Mana sakenya?! Hik!"
"Ayo, Naruto. Ikut aku" Kousetsu berniat memegang bahunya.
TAP
"Jangan sentuh aku! Cepat berikan aku sake! Hik!" Tak diduga, Naruto malah menepis tangan Kousetsu dengan kasar. Kunoichi bermasker itu menunjukkan raut tak percaya pada apa yang baru saja Naruto lakukan padanya.
"Kau belum cukup umur untuk minum sake, Naruto. Itu tidak baik untukmu, ayo ikut aku"
"Kubilang jangan sentuh aku!" Merasa kesal, Naruto melempar gelas kaca di tangannya pada Kousetsu, beruntung ia bisa menghindarinya sehingga gelas kaca itu mengarah keluar dan pecah berkeping-keping.
"Naruto?! Apa yang kau lakukan?!" Seru Ittoki tak terima.
"Siapapun hentikan Naruto sebelum ia berbuat lebih jauh lagi!" Seru Kozo.
"Naruto, sudahlah. Tenangkan dirimu" Tokisada menghampiri dari belakang.
BHUAGH
"Agghhh!" Tak disangka, Naruto tiba-tiba menyerang Tokisada dengan menyikut area ulu hatinya. Seluruh pasang mata dibuat kaget.
BUGGHH
Belum selesai, Naruto melanjutkan dengan tendangan dengan gaya nyeleneh yang menghujam wajah Tokisada hingga mementalkannya hingga keluar halaman rumah.
"Tokisada! / Ojii-san!" Mereka semua sontak jadi khawatir, melihat sosok Ninja yang dikatakan terkuat di Iga itu menjadi samsak tinju oleh seorang remaja 16 tahun yang sedang mabuk.
"Howaaaghhh! Jangan main-main denganku! Hik! Aku akan...hik!...menjadi ninja nomor satu...hik!...di Jepang! Hik!" Mantan Hokage ketujuh itu berpose layaknya jagoan Kung Fu.
"Di-Dia masih bisa bertarung walaupun dalam kondisi mabuk?"
"Sulit dipercaya" ujar mereka yang masih tidak percaya Naruto mampu menumbangkan Tokisada hanya dalam dua kali serangan saja.
"Hentikan Naruto! Sudah cukup, kau sudah terlalu mabuk!" Seru Kousetsu.
"Mabuk? Hik! Apa maksudmu...Hik! Kousetsu-chan? Aku...tidak mabuk...Hik! Lihat?" Naruto berusaha berdiri sempurna, namun malah terlihat goyah.
"Maafkan aku, Naruto" Kousetsu mencoba memukul kepala Naruto dengan sebuah baki.
WUSH
Lagi-lagi Naruto membuat kejutan. Dia menghindari ayunan baki itu dengan menunduk ke bawah lalu menyentil area sensitif perut Kunoichi bermasker itu.
"Aaww!" Kousetsu meringis karena merasakan sakit dan geli secara bersamaan.
"Hik! Kau meleset...Hik! Kousetsu-chan!" Ledeknya. Tak lama setelah itu, tubuh Naruto mulai tak terkendali, ia sempoyongan kesana kemari hingga hampir menginjak meja dan makanan. Kousetsu memanfaatkan momen tersebut untuk memukul Naruto dengan baki sekali lagi.
WUSH
Dan percobaan keduanya kembali gagal, ia masih bisa menghindar dengan melentingkan tubuhnya ke belakang seperti tari Limbo.
BRUKK
Namun karena terlalu melenting, Naruto jadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kirei dengan sigap mengambil bantal dan meletakkannya di pahanya sebagai sandaran untuk kepala Naruto.
"Zzz...Zzzz..."
"Yah, dia ketiduran" Kirei terkekeh pelan. Semua orang yang ada di ruangan itu menghela nafas lega. Mereka sempat berpikir suasana yang harusnya penuh suka cita akan berubah menjadi chaos karena Naruto yang mabuk.
"Hah, syukurlah," gumam Yumika.
"Dia meminum semuanya" Reiha memeriksa botol sake yang telah diminum Naruto.
"Hoi, Tokisada. Kau baik-baik saja?" Kozo menghampiri Ninja Terkuat Iga itu yang masih tergeletak di luar. "Ya, aku baik-baik saja. Tapi serangan Naruto barusan sungguh menyakitkan. Aku sama sekali tidak menduganya" balasnya.
"Hahaha, apa kata dunia jika Ninja yang dijuluki Setengah Dewa ternyata tumbang melawan seorang bocah 16 tahun yang dalam keadaan mabuk" ledeknya.
"Sebaiknya kau tidak mengatakannya kepada siapapun, itu bisa merusak reputasiku"
The Ancient Shinobi
To Be Continued
