Disclaimer :

-Naruto by Masashi Kishimoto

-Shinobi no Ittoki by Troyca and DMM Pictures


Pagi ini, seluruh anggota Annin dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk menerima laporan penting dari Kapten Divisi 2, Karajishi Genji.

"Goshogawara Hayato, Kapten Divisi 1 telah menghilang 72 jam yang lalu. Oleh karena itu, aku akan mengambil alih seluruh otoritas di Annin," Genji membuka konversasi.

"Tunggu sebentar!" Shione berdiri dari kursinya. "Bukankah Taichou sedang menjalankan misi solo?"

"Divisi 2 akan segera menginvestigasi hilangnya beliau. Selain itu, pemimpin Koga, Minobe Kido akan dibebaskan tanpa syarat karena bukti yang tersedia tidak cukup. Sementara itu, pemimpin Iga, Sakuraba Yumika akan dihukum sebagai pertanggung jawaban Iga terhadap pembunuhan Minobe Kishinmaru. Berdasarkan kode etik Ninja, dia akan dihukum mati"

Pernyataan yang keluar dari mulut Genji mengejutkan semua anggota Annin di dalam ruangan itu.

"Ah, aku hampir lupa. Kozuki Shione. Aku menunjukmu sebagai Komandan Divisi 1 untuk menggantikan Goshogawara Hayato,"

Shione menunjukkan tatapan tak percaya begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Genji. Pertama soal menghilangnya Hayato, kedua soal perubahan status Kido dan Yumika, ketiga dia tiba-tiba ditunjuk untuk menggantikan Hayato sebagai Komandan Divisi 1. Kunoichi berambut bob itu merasa ada yang janggal dari Genji. Ia yakin ada sesuatu dibalik semua ini.

"Ini sungguh aneh! Hilangnya Taichou dan keputusan Karajishi-san, semuanya aneh!" Ia membahas hal ini dengan para anggota Divisi 1.

"Aku pun sama. Tak ada siapapun yang menginginkan itu"

"Aku merasa keputusan Karajishi-san ada hubungannya dengan hilangnya Taichou. Perlakuannya terhadap Koga dan Iga juga jelas tidak adil. Saat konferensi kemarin, dia-"

"Cukup Shione. Kau sudah sudah terlalu jauh"

"Apa maksudnya?" Shione bingung.

"Annin harus benar-benar netral. Apa kau lupa? Sekarang kaulah komandan divisi ini. Bagaimana bisa komandan sepertimu marah-marah seperti ini?"

"Aku tahu itu, aku merasa tidak cocok sebagai seorang komandan. Tapi, Karajishi-san menunjukku untuk posisi itu untuk mempermudahnya. Dia berpikir bahwa pergerakan kita akan mempersulit dia," balasnya.

"Apapun itu, kita harus mencari Goshogawara-taichou terlebih dahulu. Kita mulai dari sana,"

"Tapi, kita semua sudah dikeluarkan dari penyelidikan kasus ini. Jika kita bergerak sendiri, itu melanggar perintah,"

Pernyataan salah satu anggota membuat Shione terpikir pada kata-kata Hayato saat rapat terakhirnya di Divisi 1.

"Teman-teman, apakah kalian masih ingat perintah terakhir Taichou? Lakukan yang menurut kita adalah benar" perkataan Shione kembali menyalakan semangat dan harapan mereka para anggota Divisi 1.

"Pertama, aku akan memberitahu Kaga Tokisada soal perubahan status Minobe Kido dan Sakuraba Yumika" lanjutnya.


Sementara itu, di sel penjara Annin. Yumika hanya duduk diam seraya memejamkan mata. Hingga suara langkah kaki membuatnya membuka mata dan melihat sosok Genji dengan tatapan licik.

"Bagaimana perasaanmu? Jangan khawatir. Aku punya kabar baik untukmu" ujarnya, seiring dengan terdengarnya suara langkah kaki yang lain. Itu adalah Kido yang baru saja dibebaskan oleh Genji.

"Pemimpin Koga ingin bernegosiasi denganmu. Annin yakin proposal ini akan menguntungkan semua pihak. Dengan begitu, kami akan menghapus hukumanmu" ujar Genji.

"Biar kutebak. Koga menginginkan Inti Ninja rahasia milik Iga bukan? Aku tidak akan memberikannya" balas Yumika dengan tegas.

"Inti Ninja Iga adalah asal mula dari semua Inti Ninja yang ada saat ini. Energinya dikatakan tidak terbatas, benarkan? Jika digabungkan dengan teknologi modern, maka akan tercipta kemajuan besar di dunia Ninja. Benda itu tidak seharusnya disegel maupun dihancurkan" sahut Kido.

"Alasan yang sama untuk tidak membiarkan bayi memegang pisau," balas Yumika lagi.

Kido menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti mengapa Yumika begitu keras kepala demi melindungi Inti Ninja rahasia itu.

"Kau bahkan bukan Ninja, kenapa kau mengorbankan dirimu demi ini? Kebanggaan dan harga diri sebagai pemimpin Iga, apa itu alasannya?" Mendengar ucapan Kido, Yumika bangkit dari duduknya untuk menatap Kido lekat-lekat.

"Kau...tidak akan mengerti" jawabnya dengan penuh ketegasan. Kido kembali menggelengkan kepala lalu beranjak pergi dari sel Yumika, merasa negosiasi yang ia lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.

"Eksekusimu akan dijadwalkan besok. Sampai saat itu tiba, tentukan keputusanmu. Ini adalah kesempatan terakhirmu" peringatan terakhir Genji, sebelum ikutan pergi dari situ.


Beralih ke kediaman Iga, dimana Naruto dan Tokisada sedang berada di luar, sementara Ittoki dan ketiga Kunoichi ada di dalam. Hingga seekor burung hinggap di bahu Tokisada dengan sesuatu di kakinya. Begitu dibuka, isinya adalah secarik kertas.

"Apa itu Tokisada-san?" Tanya Naruto yang penasaran. Tak ada jawaban dari Tokisada, ia membaca surat tersebut dalam diam sampai ia melebarkan matanya.

"Sebelum itu, panggil dulu Ittoki dan Kousetsu kemari. Ini sesuatu yang sangat penting. Aku juga akan mengumpulkan seluruh warga Iga" balas Tokisada dengan raut wajah yang serius. Jika Tokisada sudah seperti itu, Naruto merasa ada sesuatu yang buruk.

Mantan Hokage ketujuh itu masuk ke dalam rumah dan mendapati Ittoki dan ketiga Kunoichi sedang mengobrol dan bercanda.

"Maaf mengganggu. Ittoki, Kousetsu-chan,ikut aku. Tokisada-san ingin membahas sesuatu yang penting,"

Ittoki seketika bingung sekaligus penasaran mengapa Tokisada memanggilnya dan Kousetsu. Ia mendapatkan titik terang begitu masuk ke dalam ruang utama dimana seluruh warga Iga sudah berkumpul. Selaku pemimpin sementara, ia mengambil posisi duduk di depan para warga.

"Aku meminta kalian semua untuk berkumpul disini karena ada berita buruk. Aku baru saja mendapat laporan dari kenalanku di Annin. Mereka telah menentukan vonis hukuman mati untuk pemimpin kita" pernyataan Tokisada mengejutkan semua orang di dalam ruangan itu tanpa terkecuali.

"Apa?!"

"Tidak mungkin!"

"Mereka pasti bercanda!"

Terdengar reaksi tak percaya dari para warga Iga. Termasuk Naruto dan Ittoki. Sementara Kousetsu berusaha menahan air matanya.

"Dihukum mati? Ini pasti sebuah kesalahan!" Seru Kozo.

"Jangan bercanda!"

"Hei, ayo kumpulkan orang-orang dan cepat bergerak! Kita harus secepatnya menyelamatkan beliau!"

"Tunggu dulu. Jika kita melakukannya, itu artinya kita akan berperang melawan Annin. Iga bisa semakin hancur" Kozo berargumen.

"Tcih! Nasib Yumika-san sekarang berada di antara hidup dan mati!" Para Warga Iga yang lain mulai beradu mulut dengan Kozo. Mayoritas dari mereka menginginkan untuk menyelamatkan Yumika secepat mungkin. Sementara Ittoki hanya diam saja, menundukkan kepala dan membiarkan rakyatnya bertengkar. Ia terpikir pada dua kata itu, Hukuman Mati. Itu artinya ibunya akan kehilangan nyawa. Ittoki tak bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi.

"Semuanya! Mohon tenangkan diri kalian dulu!" Reiha mencoba melerai situasi yang semakin memanas. Namun tak ada satupun yang mendengarkan. Mereka semua semakin adu bacot dengan Kozo.

"Kami tidak bisa berdiam diri saja sementara nyawa Yumika-san sedang terancam!"

"Maka dari itu kalian tenang dulu! Kita akan memikirkannya baik-baik!" Jawaban Kozo sama sekali tak digubris. Malahan mereka semua berdiri dari tempatnya dan menekan Kozo.

"SEMUANYA DIAM!"

BRAKKK

Akhirnya, seisi ruangan yang tadinya terdengar berisik seperti ribuan lebah tiba-tiba hening seperti di kuburan begitu mendengar teriakan Naruto disusul dengan hancurnya dinding kayu yang dipukul olehnya.

"Na-Naruto?!" Kozo, Reiha, Tokisada, Ittoki, Kousetsu, serta seluruh warga Iga menatap tak percaya pada apa yang baru saja dilakukan oleh Ninja blonde itu.

"Apakah berdebat seperti itu akan menyelesaikan masalah?! Hah?! Jawab aku!" Bentaknya. Beberapa saat berlalu, tak satupun dari mereka yang menjawab.

"Kenapa kalian semua hanya diam saja?! Ayo jawab!" Bentaknya sekali lagi, mereka hanya bisa diam. Tak berani untuk menjawab Naruto yang terlihat berapi-api. Mantan Hokage ketujuh itu menjeda untuk beberapa saat, membiarkan situasi untuk mereda terlebih dahulu.

"Seperti yang dikatakan oleh Kozo-san tadi. Pertama-tama kita harus menenangkan diri terlebih dahulu, setelah itu mengamati situasinya. Bagaimana, Tokisada-san?" Lanjutnya.

"Eksekusinya akan dilakukan besok. Kalau tidak sekarang, kita tidak akan sempat," Ninja terkuat Iga itu menatap Ittoki dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu. "Ittoki, asingkan aku!" Kalimat yang keluar dari mulut Tokisada selanjutnya sontak mengejutkan semua orang.

"Aku akan menyelamatkan Yumika. Jika aku diasingkan, Iga tidak akan mendapat masalah," lanjutnya.

"Tidak bisa, itu hanya bersifat sementara" ujar Kozo.

"Tapi hanya itulah satu-satunya cara, apa menurutmu ada cara lain?" Salah satu warga Iga setuju dengan ide Tokisada.

"Kalau begitu, Tokisada-san akan menjadi buronan" sahut Reiha.

"Tidak ada pilihan yang benar. Pilihlah yang terbaik" balas Tokisada. Ittoki semakin dilema. Ia bingung harus memutuskannya. Keadaan jadi hening untuk beberapa saat. Hingga Kousetsu bangkit dari duduknya dan mengunci tubuh Ittoki sembari menodongkan pisau ke wajahnya. Seluruh pasang mata dibuat terkejut atas tindakan Kousetsu, termasuk Naruto.

"Kousetsu-chan! Apa yang kau lakukan?!" Naruto sama sekali tak menduganya.

"Kousetsu! Lepaskan!" Seru Kozo.

"Urgh! Kou...setsu...!" Ittoki meringis.

"Asingkan aku juga. Aku akan pergi menyelamatkannya. Aku tidak paham kenapa kau bimbang. Aku tidak punya keluarga, Yumika-san hanyalah satu-satunya yang kupunya!" Ujar Kousetsu, sambil mengingat kenangannya waktu bertemu Yumika saat masih kecil.


Mini Flashback

Kousetsu kecil berdiri di depan sebuah restoran dengan kondisi perut keroncongan serta kedinginan oleh musim salju. Sampai seorang wanita berambut coklat sebahu menghampirinya.

"Ada apa gadis kecil? Dimana ayah dan ibumu?" Tanya Yumika. Kousetsu kecil hanya merespon dengan menundukkan wajahnya. Yumika paham akan hal itu dan tersenyum padanya. "Ayo ikut aku"

Kousetsu kecil dibawa oleh Yumika menuju kediaman Iga. Disana ia bertemu dengan Tokisada untuk pertama kali.

"Tempatkan saja di panti asuhan," ujar Tokisada.

"Tidak, aku akan mengadopsinya. Dia ini adalah anakku" balas Yumika seraya tersenyum merangkul Kousetsu kecil. Setelah itu memorinya beralih ke dirinya yang sedang berjalan-jalan bersama Yumika dan Ittoki kecil.

End of Mini Flashback


"Bagimu, dia juga satu-satunya keluarga kan? Jika kau tidak membuat keputusan sekarang, aku akan melakukannya sendiri" Kousetsu masih belum melepaskan Ittoki. Dia terus menodongkan pisau pada wajahnya.

"Tenanglah, Kousetsu. Tokisada-san, setelah menyelamatkan Yumika-san apa yang akan kita lakukan?" Ujar Reiha.

"Pemimpin pun tidak bisa terus-terusan melarikan diri," Kozo menambahkan.

"Berisik! Ini lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa sama sekali!" Kousetsu semakin mendekatkan ujung pisaunya, Ittoki semakin kesulitan bernafas.

"Sudah cukup. Hentikan. Kau bisa membunuhnya" Naruto menarik tangan kiri Kousetsu yang memegang pisau. Kunoichi bermakser itu mencoba melawan, namun Naruto terlalu kuat. Ia dengan mudahnya menjauhkan pisau itu dari wajah Ittoki lalu membuangnya keluar.

"Tcih! Jangan ikut campur Naruto! Bagaimana kau bisa setenang ini sementara Yumika-san dalam bahaya?! Dia adalah orang yang telah menemukan dan mengadopsimu sama sepertiku!" Seru Kousetsu.

PLAK

Kembali lagi, tindakan Naruto mengejutkan semua orang. Ia menampar Kousetsu tanpa keraguan sedikitpun.

"Kau pikir aku juga tidak khawatir, hah? Kau pikir wajah tenangku ini tidak berarti apa-apa? Aku pun sama khawatirnya denganmu dan seluruh warga Iga, Kousetsu-chan. Tapi aku sadar, jika aku melampiaskan rasa kekhawatiranku dengan cara emosi sepertimu, itu malah akan memperparah situasi saat ini. Dinginkan kepalamu, setelah itu biarkan Ittoki yang memutuskan. Bagaimana Ittoki?"

"Naruto...Kousetsu...terima kasih. Aku telah membuat keputusan, aku tidak akan mengasingkan kalian. Sebagai Ninja Iga, tolong selamatkan pemimpin kita," ujarnya, menatap Tokisada dan Kousetsu.

"Setiap detik sangat berharga, jadi tidak ada pilihan lain. Bersiaplah dan pastikan Annin dan Koga tidak mengetahui pergerakan kita. Selain itu, usahakan untuk tidak menyakiti banyak orang," lanjutnya.

"Baiklah" balas Tokisada dengan senyum tipis.

"Akhirnya kau benar-benar bersikap layaknya seorang pemimpin. Itulah yang ingin kulihat dari dirimu" Naruto menambahkan, sembari menepuk pundaknya.

"Memangnya selama ini aku melakukan apa? Untuk semuanya, kumpulkan informasi untuk membuktikan pemimpin kita tidak bersalah. Jika tidak bisa mengandalkan Annin, maka tidak ada pilihan selain menggunakan kekuatan kita sendiri" ucap Ittoki ke seluruh warga Iga di ruangan itu.

"Siap!" Balas Kozo, mewakili para warga.

"Kita sama sekali tidak bersalah, jadi buktikan bahwa kita benar-benar jujur dan adil,"


The Ancient Shinobi


"Selamat datang kembali, Kido-sama" Sementara itu, Enbi dan Housen menyambut kembalinya Kido ke markas milik Koga setelah dibebaskan tanpa syarat oleh Genji yang telah menguasai Annin.

"Segera jadwalkan rapat. Kumpulkan seluruh anggota" balas Kido.

"Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu telah tiba," ujar Enbi, merujuk pada rencana Koga yang selanjutnya yaitu menyerang Iga.

"Kido-sama, ada tamu" suara telpon mengalihkan percakapan sejenak. "Siapa?"

"Ban Suzaku-sama"

"Apa kau tahu sesuatu soal ini?" Tanya Kido pada Housen. "Tidak, aku tidak tahu" Housen menggeleng.

"Biarkan dia masuk"

Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Suzaku

"Permisi. Aku ingin menyampaikan informasi ini secara langsung kepada wakil pemimpin. Dari mata-mata yang kukirim ke Iga, Kaga Tokisada telah meninggalkan Iga untuk menyelamatkan pemimpinnya" kalimat yang keluar dari mulut Suzaku mengejutkan Enbi dan Housen, sedangkan Kido hanya menggeram tipis.

"Sekarang kekuatan utama Iga sudah tidak ada. Aku pikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk menyerang mereka" lanjutnya.

"Informasi yang bagus, kau boleh pergi"

"Kalau diizinkan, aku ingin meminta sesusatu. Saat penyerangan Iga, bolehkah aku ditempatkan di garis depan?" Permintaan Suzaku tentu saja mengejutkan Housen. Apa yang pernah ia bahas saat di rumah waktu itu benar-benar serius.

"Aku dengar kau memang berbakat. Itu permintaan yang tidak bisa ditolak."

"Tunggu sebentar, tapi Suzaku masih anak-anak!" Housen tidak setuju.

"Aku pasti akan memenuhi ekspektasi anda!" Suzaku langsung menyahut. "Suzaku!" Housen tak percaya pada apa yang dikatakan oleh putranya itu.

"Silahkan bergabung dengan unit yang akan dibentuk," ujar Kido, tak mengindahkan protes dari Housen.

"Terima kasih banyak" Suzaku menunduk hormat lalu keluar dari ruangan Kido. Housen masih tak terima atas pilihan putranya. Ia pun menyusul keluar.

"Suzaku!"

"Aku bukan anak-anak! Aku yang memutuskan keputusanku sendiri" serunya, seraya memasuki lift.

"Apakah ini keinginan Kishinmaru-sama? memerintah secara diktator?" Suzaku mengeratkan rahangnya begitu mendengar perkataan sang ayah yang menyebut nama Ninja yang paling ia hormati itu.

"Jika aku memilih mundur, maka itu artinya aku hanyalah seorang pengecut!"

Housen sekali lagi menunjukkan tatapan tak percaya pada apa yang telah dilakukan oleh putranya. Ia hanya terdiam dan membiarkan Suzaku pergi, tak berniat mencegah atau apapun itu.

.

"Rapat keputusan akhir untuk penyerangan Iga dimulai. Enbi, bagaimana persiapannya?" Tanya Kido, membuka rapat.

"Baik, kita mengerahkan lebih banyak unit Asura dengan menambahkan pasukan Ninja Koga. Hal ini membuat kita 10 kali lebih kuat daripada Iga. Aku juga telah melacak keberadaan Kaga Tokisada, dan bisa dipastikan dia telah meninggalkan Iga. Tidak diragukan lagi bahwa ia pergi menyelamatkan pemimpinnya. Tanpa kehadirannya, kemenangan ada di tangan Koga" ujar Enbi dengan seringai licik.

"Bagus, bagaimana denganmu, Housen?" Kido beralih ke sisi kanannya.

"Aku...menolak penyerangan ini" Housen berdiri dari kursinya, diikuti seluruh peserta rapat yang duduk di sisi kanan dari Kido. "Kami juga sepakat dengan" Housen

"Apa maksudmu? Apa kau diam-diam memiliki rencana dibalik layar? Apa yang kau pikirkan?" Seru Enbi.

"Pertama, pasukan Asura masih belum sempurna. Aku pikir masih terlalu cepat untuk membentuk garis depan, tanpa pengalaman pertempuran skala besar" balas Housen.

"Kalau kau berkata seperti itu, Mau sampai kapan kita harus menunggu?! Kita punya segalanya. Kalau hanya untuk menghancurkan desa kecil saja-"

"Jangan meremehkan kekuatan Iga. Kali ini, kerusakan Koga sudah tidak bisa dihindari" Housen memotong ucapan Enbi, ia berusaha untuk meyakinkan Kido agar membatalkan serangan ke Iga.

"Ini demi dendam Kishinmaru-sama! Aku sudah siap untuk bertumpah darah sejak awal!" Enbi tak mau kalah.

"Aku tidak bisa membahayakan Koga tanpa rasionalis dan produktif hanya karena alasan balas dendam" Housen tetap kukuh dengan pendiriannya.

"Sampai saat ini, kita selalu berpikir bahwa kekerasan semata-mata demi keuntungan kita. Tapi, ini adalah sebuah pergerakan bodoh yang akan menutup masa depan Koga. Oleh karena itu, saya mohon pertimbangkan kembali" Housen menutup pembelaannya.

"Aku mengerti" dua kata yang keluar dari mulut Kido sontak mengejutkan semua peserta rapat. Mereka tidak menyangkanya.

"Terima kasih atas pengertian-aaarghhh!"

Housen terdorong dan terjatuh ke lantai usai dadanya ditembak oleh Kido dengan pistol yang diam-diam ia sembunyikan. Seluruh pasang mata melebarkan mata tak percaya pada apa yang baru saja dilakukan oleh Kido. Ia tidak segan-segan untuk menyingkirkan siapapun yang tidak sejalan dengannya.

"Housen, kau selalu benar. Aku yakin kali ini kau juga benar. Tapi, Koga tidak butuh seorang pengecut," Kido menodongkan pistol ke arah kepala Housen, untuk mengakhiri hidupnya.


The Ancient Shinobi


Beralih ke kediaman Iga dimana situasi mulai normal kembali setelah rapat darurat tentang misi penyelamatan Yumika.

"Hei, ada sesuatu yang terjadi. Lihat ini" ujar Naruto, seraya memperlihatkan ponselnya pada Ittoki, Kirei, dan Ryoko.

"Kebocoran pabrik kimia?"

"Gas beracun?" Mereka bertiga memperhatikan secara seksama. Begitu Naruto ingin mengetahui info lebih lanjut, koneksi ponselnya tiba-tiba menurun dan mati. "Astaga, kenapa tiba-tiba begini?" Naruto tak habis pikir.

"Gawat! Ini darurat!" Kozo tiba-tiba nyelonong masuk.

"Ada apa Kozo-san?" Tanya Naruto, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk.

"Informasi yang kalian lihat itu adalah hoax dari Koga. Mereka telah melanggar kode etik Ninja. Koga sedang meluncurkan serangan ke Iga dengan berbagai cara. Ini adalah deklarasi perang!" Pernyataan Kozo membuat mereka terkejut, terutama Naruto. Perang, itu adalah sesuatu yang sangat ia benci. Ia sudah pernah mengalaminya saat masih menjadi shinobi di kehidupannya dahulu, dan sekarang ia menghadapinya lagi.

"Kozo-san, aku tidak tahu apakah ini masih sempat atau tidak. Aku ingin kembali ke apartemenku. Ada perlengkapan pribadiku disana," Naruto berdiri dari duduknya.

"Tapi Naruto, jarak dari rumah ini ke apartemenmu itu jauh sekali" ujar Ittoki.

"Bukan masalah bagiku. Aku ini Ninja, dattebayo! Baiklah, aku pergi dulu, permisi"

WOOSSHH

Naruto langsung berangkat dengan keluar halaman lalu melompati pagar rumah tersebut. Menyisakan Ittoki dan yang lainnya untuk membahas strategi yang akan digunakan untuk melawan Koga.


The Ancient Shinobi


Sejatinya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk pergi ke kota Iga dari kediaman Iga yang berada diluar kota. Namun, Naruto adalah seorang Shinobi yang sudah bertahun-tahun dalam menjalankan misi jarak jauh, ia hanya membutuhkan waktu 5 menit saja untuk bisa sampai di apartemennya yang terletak di kota Iga.

"Tak kusangka akhirnya aku akan menggunakan benda-benda ini," gumamnya seraya menatap isi sebuah peti yang ia sembunyikan di bawah ranjangnya. Isi peti itu adalah puluhan bom kertas, kunai, shuriken, serta makibishi yang semuanya berdesain sama seperti di dunia asalnya dahulu.

"Yosh, waktunya bertempur" Sudah mendapatkan apa yang ia cari, Naruto bergegas kembali ke kediaman Iga.

.

Beralih ke rumah kediaman Iga. Ittoki, Kirei, dan Ryoko sedang duduk bersama Kozo dan Reiha.

"Ruangan ini akan menjadi pusat komando dan pertahanan terakhir untuk Iga," ujar Reiha, kemudian menekan sebuah remot. Selanjutnya dinding kayu di depan mereka terbuka dan menampilkan sebuah ruang kendali seperti di film-film militer lengkap dengan alat komunikasi dan radar.

"Kita akan mengendalikan semuanya dari sini" Kozo mengaktifkan sistem ruang kendali tersebut. Tak lama setelah itu, radar mendeteksi beberapa titik merah yang mendekat.

"Sial, mereka cepat juga" rutuknya.

DING

DING

DING

Terdengar bunyi nada dering dari ponsel Ittoki. "Telpon dari Naruto" ujarnya, begitu melihat siapa yang menelpon.

"Jawab saja, itu pasti sesuatu yang penting" balas Ryoko.

"Moshi-moshi, Naruto?" Tanya Ittoki.

"Moshi-moshi, Ittoki. Bisakah kau berikan pada Kozo-san? Aku sedang dalam perjalanan pulang menuju kesana"

"Baik, ini Kozo-san. Naruto ingin bicara denganmu" Ittoki menyerahkan ponselnya. "Loudspeaker saja, aku sedang fokus disini" balas Kozo. Ittoki mengangguk paham lalu mengaktifkan mode loudspeaker.

"Ada apa Naruto?" Tanya Kozo.

"Kozo-san, aku sedang dalam perjalanan pulang menuju kesana. Apakah pergerakan Koga sudah mulai terlihat?"

"Ya, aku sudah mendeteksinya. Mereka akan memasuki perbatasan Iga dalam waktu 8 menit lagi" monitor kemudian menampilkan gambar dari CCTV jalanan menuju Iga. Disana terlihat konvoi truk dan van sedang melaju. "Mereka menggunakan truk dan van" ia menambahkan.

"8 menit ya? Itu lebih dari cukup"

"Memangnya apa yang akan kau lakukan, Naruto?" Tanya Ittoki. Ia khawatir sahabatnya itu akan melakukan sesuatu yang gila lagi.

"Cukup duduk tenang dan tunggu kabar baiknya, Ittoki-sama" guraunya.

"Kau ini, sekarang bukan saatnya untuk bercanda!" serunya, namun tak ada jawaban dari Naruto. Ternyata telponnya sudah diputuskan. "Hahhh, dia itu. Selalu saja"

"Tapi tidak dipungkiri, kita membutuhkan tenaga Naruto di saat seperti ini. Tokisada dan Kousetsu tidak bersama kita. Sekarang kita cuma bisa berharap pada Naruto untuk bisa membalikkan keadaan" ujar Kozo.

"Aku berharap Naruto-kun baik-baik saja" sahut Kirei. Ryoko dan Ittoki mengangguk setuju.

.

.

.

Sementara itu, Naruto sendiri sudah stand by di area perbatasan Iga. Selama 8 menit yang ia sebutkan selama pembicaraan di atas, ia sudah memasang jebakan yang tersebar di sepanjang jalan.

"Yosh, aku sudah siap. Kemarilah kecoa-kecoa Koga!" Ninja Blonde itu memperhatikan datangnya konvoi truk dan van dari jauh.

VROOMMM

PSSHHH

BRAKKK

Truk yang berada paling depan menjadi oleng usai melindas tumpukan makibishi yang tersebar di jalanan, dikuti 3 van di belakangnya. Keempat kendaraan pengangkut pasukan Koga itu akhirnya tergelincir dan terbalik. Kejadian itu memaksa kendaraan yang di belakang untuk melambat dan berhenti.

"Masih ada lagi dattebayo!" Naruto mengkode untuk serangan selanjutnya.

SHOOT

BOOMMM

BOOMMM

Bunshin-Bunshin Naruto yang bersembunyi di sisi kiri dan kanan jalanan melemparkan kunai yang dikaitkan dengan bom kertas. Beberapa truk dan van pasukan Koga meledak dan hancur. Masih ada kendaraan yang lain lagi menunggu di belakang, mereka memutuskan untuk menurunkan muatan. Naruto menaikkan sebelah alisnya begitu melihat muatan yang turun dari dalam truk. Tubuh mereka seperti manusia, namun terbungkus kostum ninja dengan topeng yang memiliki 3 lampu merah menyala.

"Robot? Sementara yang turun dari van adalah manusia. Aku tidak menyangka mereka menggunakan robot sebagai pasukan Ninja. Koga dengan segala kedigdayaannya" Naruto menyeringai tipis, lalu melompat turun.

"Ayo maju!" Naruto memasang kuda-kuda Goken. Seakan mengerti maksudnya, kumpulan Ninja robot melesat maju untuk menyerang Mantan Hokage ketujuh itu.

BRUKK

BHUAGH

BUMMM

Naruto dengan mudahnya mengalahkan kumpulan Ninja robot itu. Ia mengincar kepala untuk langsung mematikan mereka.

"H-hoi, si-siapa orang itu?!"

"Dia dengan mudahnya mengalahkan pasukan Asura?!"

"Dia bahkan tidak memakai kostum Ninja!"

"Cepat beritahu Enbi-sama!"

WOOSHH

"Kalian mau mengobrol atau bertarung?" Para Ninja Koga melebarkan mata melihat keberadaan Naruto yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka.

"Ce-cepat sekali!"

"Konoha Dai Senpu!"

BRAKK

BRAKK

BRAKK

Naruto melakukan tendangan 360 derajat yang menghantam para Ninja Koga di sekitarnya.

"Se-Serbu! Dia pasti akan kewalahan jika kita menyerang bersama!" Mereka mulai frustasi. Para Ninja robot maupun manusia kemudian bersatu untuk menyerang Naruto bersama-sama.

"Jadi sekarang kalian main keroyokan ya? Baiklah, akan kuladeni!"

.

Sementara itu, di markas besar Koga dimana pusat komando penyerangan berada. Kido sedang duduk seraya memejamkan mata, ditemani oleh Enbi yang sedang sibuk mengotak-atik laptop.

"Maaf menganggu, Kido-sama! Enbi-sama! Ada berita buruk!" Seorang staf tiba-tiba masuk ke ruangan.

"Ada apa?!" Seru Enbi, ia bertanya-tanya kenapa bisa ada berita buruk di situasi seperti ini.

"Pasukan yang melalui jalur utama menuju Iga semuanya sudah dikalahkan!" Informasi yang dibeberkan oleh staf tersebut sontak mengejutkan Enbi dan Kido yang langsung membuka matanya.

"Apa maksudmu?" Kido menuntut jawaban.

"Anda bisa melihatnya sendiri" staf tersebut meminjam laptop Enbi lalu menunjukkan sebuah rekaman video. Rekaman tersebut menunjukkan kondisi jalanan perbatasan Iga yang penuh dengan truk dan van yang hancur dan terbalik, serta tubuh para Ninja robot dan manusia yang berserakan di sana-sini.

"Apa-apaan ini?! Kenapa ini bisa terjadi?! Apakah Iga diam-diam memiliki sebuah pasukan besar lalu melakukan serangan kejutan?" Enbi benar-benar murka, sementara Kido hanya diam saja. Walaupun sejujurnya ia juga kaget mengetahui bahwa pasukan yang terdiri dari Ninja robot dan manusia itu bisa dilumpuhkan.

"Tidak, justru semua ini disebabkan oleh satu orang saja"

"Satu orang? Siapa? Bukankah Tokisada tidak ada bersama mereka?" Kido penasaran. Pasukan Asura yang dibuatnya adalah sesuatu yang hampir mencapai kesempurnaan, ia tidak habis pikir orang macam apa yang bisa mengalahkannya ditambah dengan para Ninja Koga yang kenyang akan pengalaman bertempur.

"Anda bisa melihatnya di rekaman yang selanjutnya" beralih ke rekaman video yang lain, Kido dan Enbi dikejutkan oleh penampakan seorang Namikaze Naruto yang bertarung seperti sedang menari di tengah-tengah pasukan Koga yang mengeroyoknya. Yang lebih mengejutkannya lagi, Naruto sama sekali tidak memakai kostum Ninja.

"Siapa bocah ini? Kemampuannya sangat hebat meskipun tidak menggunakan kostum!" Seru Enbi.

"Aku pernah melihatnya, dia adalah salah satu pengawal Sakuraba Yumika selain Tokisada pada saat Konferensi Antar Ninja lalu. Tidak kusangka Iga memiliki Ninja yang hebat sepertinya" sahut Kido.

"Kami juga telah melakukan penelusuran padanya. Ia pernah bersekolah di Akademi Ninja Kokuten bersama pewaris Iga yang selanjutnya. Tidak hanya itu, dia lah penyebab terlukanya hampir seluruh Ninja Koga pada saat ujian akhir"

"Apa?! Kurang ajar, jadi selama ini Iga memiliki monster selain Tokisada? Lalu, bagaimana dengan pasukan yang melalui jalur rahasia?" Tanya Enbi.

"Sejauh ini aman-aman saja. Mereka berhasil masuk tanpa ada gangguan sedikitpun. Sepertinya Iga tidak menyangka kita akan masuk melalui jalur rahasia itu"


The Ancient Shinobi


Kembali lagi ke Iga, tepatnya pada ruang komando di kediaman milik keluarga Ittoki.

"Huh? Kozo-san, Reiha-san. Titik-titik merahnya menghilang" Ujar Ryoko, menunjuk pada radar yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan musuh.

"Benarkah? Wah, iya. Apa yang terjadi?" Kirei penasaran, begitu juga Ittoki.

"Aku akan menampilkan situasi terkini disana melalui CCTV" begitu Kozo menampilkannya, mereka semua terkejut melihat situasi jalan menuju Iga yang berantakan.

"A-apa yang telah terjadi?" Ittoki sampai gelagapan.

"Apa Naruto yang melakukannya?" Sahut Reiha.

DING

DING

DING

Bunyi nada dering dari ponsel Ittoki lagi-lagi mengalihkan perhatian. "Ah, dari Naruto!" Begitu ia mengangkatnya, Naruto langsung bersuara.

"Semuanya berjalan sukses, Ittoki-sama"

"Naruto! Syukurlah kau baik-baik saja. Hei, apakah itu tadi..."

"Siapa lagi kalau bukan aku? Sudahlah, ada sesuatu yang ingin kuberitahu pada kalian, ini penting"

"Apa itu?" Tanya Kozo.

"Koga menggunakan Ninja robot disamping Ninja manusia. Untuk mematikannya, tinggal menghancurkan kepala atau inti ninja yang terletak di dada, katakanlah sebuah jantung. Yosh, hanya itu saja"

"Terima kasih Naruto, itu informasi yang sangat berguna"

"Simpan dulu terima kasihmu sampai perang ini berakhir, Kozo-san. Baiklah, aku tutup"

TUT

Tepat setelah Naruto memutus sambungan telpon, radar kembali mendeteksi kumpulan titik merah.

"Gawat! Mereka berhasil masuk melalui jalur rahasia!" Seru Reiha.

"Apa?! Bagaimana mungkin?! Jalur itu hanya diketahui oleh para Ninja Iga!" Kozo terkejut.

"Apa itu jalur rahasia, Kozo-san?" Tanya Ittoki.

"Itu adalah sebuah jalur khusus yang tersembunyi. Letaknya berada di sungai dekat gunung dan hutan wilayah Iga. Hanya Ninja Iga yang mengetahui jalur itu. Sial! Bagaimana mereka bisa tahu jalur itu?! Reiha, alihkan pasukan untuk menghadang mereka!"

"Baik!"

.

Beralih ke sel penjara milik Annin yang saat ini sudah diterobos masuk oleh Tokisada dan Kousetsu. Mereka memutuskan untuk menerobos gerbang depan dan melumpuhkan para penjaga disana. Entah itu bom asap, lemparan shuriken, kunai, serta pertarungan kecil, semua mereka lalui untuk bisa masuk ke sel yang ditempati oleh Yumika.

"Kami datang untuk menyelamatkanmu" mereka berdua menemukan Yumika tengah terkurung.

"Tokisada, Kousetsu!" pemimpin Iga itu terkejut melihat kedua Ninja itu ternyata datang untuk menyelamatkannya. "Ceritanya nanti saja. Ayo kita pergi dari sini, tidak ada waktu lagi" balas Tokisada, tak ingin berbasa-basi.

"Kenapa kalian melakukan ini? Kalian bisa menjadi buronan Annin!" Yumika khawatir.

"Ini perintah putramu, dia telah melakukan yang terbaik" balas Tokisada seraya tersenyum tipis. "Ittoki..." Yumika termenung.

BRAKK

Berpacu dengan waktu dan keadaan, Kousetsu menendang pintu sel itu agar Yumika bisa keluar. Begitu ingin keluar dari gedung penjara tersebut, sebuah lampu sorot tiba-tiba menyorot mereka, diikuti dengan kemunculan sang komandan Annin yang korup, Karajishi Genji, beserta para anak buahnya.

"Ini sungguh buruk" Tokisada tersenyum getir.

"Merepotkan sekali, tak ada hukuman yang lebih baik daripada hukuman mati. Kami akan menahan kalian karena percobaan melarikan diri"

.


The Ancient Shinobi


.

To Be Continued

.

Akhirnya chapter 8 selesai, semakin mendekati akhir.

Semakin banyak konspirasi yang terungkap. Genji ternyata bersekongkol dengan Koga, lalu menguasai Annin usai membunuh Hayato. Tugas berat menanti Shione untuk mengungkap siapa dan apa yang sebenarnya terjadi dibalik semua ini.

Akhirnya Naruto kembali action setelah beberapa chapter sempat nganggur. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung mengisi garis depan yang ditempati oleh dirinya sendiri.

Kemudian, Kousetsu dan Tokisada harus melepaskan diri dari kepungan Genji untuk bisa menyelamatkan Yumika.

Bagaimana kelanjutannya? Nantikan di chapter berikutnya.