"Meow!"

Seekor anak kucing—berbulu krem kekuningan dengan sedikit warna gelap di area hidung, telinga, kaki, serta ekornya—mendusel di kaki Gempa. Si bocah cilik yang sedang membuat menara pasir di halaman rumahnya kemudian menunduk demi melihat makhluk mungil berbulu halus tersebut.

"Wah anak kucing! Meow! Dimana Mamamu?" Gempa tertawa kecil dan segera menggendong si kucing kecil. Dia lalu meletakkan kucing itu dipangkuannya untuk dielus. Si kucing sepertinya senang dengan perlakuan lembut Gempa padanya. Akan tetapi, mendadak ekspresi kucing itu berubah. Dia menatap Gempa dengan mata cyan berkaca-kaca.

Seolah meminta tolong.

Anak kucing itu lalu melompat dan berlari kecil menjauh dari Gempa.

"Kucing mau kemana?"

Tanpa pikir panjang Gempa mengikutinya. Nggak lama kemudian kucing kecil itu berhenti di pinggir jalan. Gempa yang berhasil menyusulnya dengan segera menjemputnya dalam dekapan.

Anak kucing membiarkan Gempa menggendongnya. Namun, dia terus menatap ke jalan raya. Gempa yang penasaran kemudian mengikuti arah pandangnya.

Gempa menutup mulutnya syok. Di tengah aspal terkapar tubuh kucing betina yang mirip sekali dengan si anak kucing. Bahkan jalanan itu terdapat noda merah yang nggak sedikit.

Gempa gemetar. Dia memeluk anak kucing lebih erat namun juga lembut. "Nggak apa-apa, Gempa akan merawatmu ..."

Anak kucing diturunkannya dengan hati-hati. Gempa ingin memastikan dulu apakah ibu kucing masih hidup. Setelah memeriksanya, Gempa sekarang yakin jika sang ibu kucing memang telah berpulang. Kebetulan Gempa menemukan kardus bekas di tempat sampah yang nggak jauh darinya. Gempa mengambil kardus itu lalu dengan hati-hati dia meletakkan mayat ibu kucing di atasnya. Kemudian dia menarik kardus perlahan ke pinggir jalan yang nggak dilalui orang-orang.

"Kita panggil Papanya Gempa dulu, ya? Gempa nggak bisa membawa Mamamu tanpa bantuan, Papa ..."

Gempa lalu menggendong kembali anak kucing dan berlari ke rumah. Sesampainya di rumah, Gempa segera berlari masuk ke ruang keluarga.

"Papa!"

"Oh, Gemeow sudah pulang dari main. Udah cuci tangan dan kaki belum?" pria yang tadinya sedang menonton liputan berita di televisi tersenyum menyambut kepulangan anak bungsunya.

"Be-belum, daripada itu Papa harus lihat ini ..." Gempa menunjukkan anak kucing dalam gendongannya.

"Wah! Anak kucing yang lucu. Di mana Ibunya?"

"Hiks ... hiks ..."

Tangisan mendadak dari si bungsu lantas membuat bapak-bapak berkaos jingga dan bersarung coklat itu terkejut. Papanya lalu berjongkok menyamakan tingginya dengannya. Tangannya bergerak mengusap air mata di pipi tembam bocah itu.

"Adek kenapa ini?" tanya BoBoiBoy lembut.

"Mamanya ... hiks ... udah nggak ada ..."

Sejenak tatapan papanya meneduh. Dia menyeka matanya sembari tersenyum menenangkan.

"Ayo kita kuburkan Mamanya di depan rumah kita."

Gempa mengangguk dengan wajah memerah karena habis menangis. Setelah itu dia dan papanya berangkat menuju tubuh ibu kucing berada. Sesampainya di tempat ibu kucing, si bungsu hanya diam melihat papanya memindahkan mayat ibu kucing ke dalam kardus yang lebih besar agar lebih mudah dibawa.

Tin! Tin!

"Pak BoBoiBoy! Dek Gempa!" seorang tetangga menekan klakson motor dan menyapa mereka.

"Y-ya!"

Namun BoBoiBoy nggak sempat balas menyapa karena tetangga mereka itu keburu menjauh. Begitu juga dengan Gempa. Mereka lalu tiba di rumah dalam waktu singkat. BoBoiBoy segera pergi ke gudang untuk mengambil cangkul. Setelah kembali dia mulai mencangkul tanah kosong di halaman rumah.

Gempa menepuk-nepuk tanah untuk meratakan tanah makam ibu kucing. Disampingnya ada kucing kecil yang hanya terdiam melihat aktivitasnya.

"Papa," panggil Gempa pada BoBoiBoy yang sedang menyeka keringatnya.

"Ya?"

"Sepertinya anak kucing lapar."

Gempa mengangkat kucing tinggi-tinggi agar papanya bisa melihat dengan jelas.

"Meow!" kucing mengeong semangat.

BoBoiBoy tertawa kecil dengan tangan terangkat mengelus anak kucing itu.

"Kucing kecil yang tangguh."

Papa dan anak itu kemudian mencuci tangan dan kaki mereka di kran samping rumah. Setelah selesai mereka masuk ke rumah untuk memberi makan kucing.


。:•. .•:。

Saat ini BoBoiBoy dan Gempa asyik menonton anak kucing yang sedang makan. Bahkan Gempa hampir nggak berkedip melihat pemandangan lucu itu.

"Papaaa!" tiba-tiba Gempa merengek panjang.

"Ya— AAKH!"

BoBoiBoy dibuat heart attack oleh Gempa yang menatapnya dengan kitty eyes yang besar dan berkilau lucu. Dalam situasi tersebut BoBoiBoy masih sempat berpikir jika anaknya sebenarnya jelmaan anak kucing. Lihatlah anaknya itu. Gempa dengan golden kitty eyes-nya ditambah hoodie hitam dengan aksen telinga kucing, sama sekali nggak ada bedanya dengan anak kucing!

"Anak kucing tinggal di sini, ya? Boleeh?"

Gempa yang masih dengan kitty eyes-nya kini memiringkan kepala. Sang Papa menahan napas. Ugh! Damage-nya bukan main, bro.

Namun nggak sampai di situ. Anak kucing yang selesai makan ikut-ikutan menatap BoBoiBoy dengan cyan kitty eyes-nya. Dan kini dua pasang mata yang berbinar bersatu menyerang BoBoiBoy.

Double attack!

"BOLEH! BOLEH! BOLEH!"

"Yeay! Sayang Papa!"

"Meow!"

Gempa dan anak kucing bersorak dengan kedua tangan terangkat ke atas. Sementara BoBoiBoy—

'UWUWUWUWU!'

—batinnya menjerit karena tergemas-gemas dengan dua makhluk mungil didepannya.


Papa Boy dan Dede Gemeow fluff is terbaik. Mari tergemas-gemas bersama, haha.

⟦𝑷𝒂𝒑𝒂𝒃𝒐𝒚𝒑𝒆𝒅𝒊𝒂⟧_ _ _

BoBoiBoy memanggil si bungsu Gemeow karena Gempa suka kucing dan dimatanya menggemaskan seperti anak kucing.

Cerita ini juga dipublikasikan di apk jingga lapak sebelah dengan nama akun yang sama.

040322