"Hihihi."
Sore itu dihiasi tawa pelan seorang anak yang sedang bersembunyi di balik dinding dapur. Netra emasnya berbinar ceria. Dengan pelan dia menghitung mundur sambil terus memantau pintu rumahnya.
"10, 9, 8, 7, 6, 5--"
"Meow!"
Tiba-tiba seekor anak kucing melompat kedepannya, lalu duduk dan memiringkan kepala. Dia penasaran akan hal yang dilakukan majikan kecilnya itu.
"Sssst! Ochobot diam dulu. Gempa mau sembunyi," bisik Gempa dengan ekspresi menasihati. Si kucing menyeringai geli melihat ekspresi temannya itu.
Gempa lalu mengambil kucingnya untuk ikut bersembunyi bersamanya. Ochobot pun hanya diam menantikan apa yang akan terjadi.
Kemudian Gempa kembali menghitung mundur.
"4, 3-"
Brak!
Suara pintu yang terbuka nyaring menginterupsi kegiatan menghitung Gempa. Dia tersentak tanpa suara.
"Assalamualaikum! Papa pulaaang!" lolong seseorang yang telah dinantikannya sejak tadi, yaitu BoBoiBoy. Seperti biasa, Papanya kalau pulang selalu menjerit ceria seperti tadi. Benar-benar perilaku yang nggak sesuai dengan umurnya.
Hening.
BoBoiBoy celingukan menyadari nggak ada yang menyambutnya. Dia menggaruk rambutnya pelan. Nggak biasanya rumah sepi begini. Selalunya ada bontot kecilnya yang akan menyambutnya dengan senyum secerah bunga matahari sembari menjawab salam dan menyahut, 'Selamat datang Papa!'
Hikseuu!
Bahu BoBoiBoy merosot. Dengan langkah lunglai dan wajah lesu BoBoiBoy memasuki rumahnya. Pintu rumah ditutupnya dengan sebelah kaki tanpa berbalik sedikitpun. Dia terus berjalan sambil memindai sekitar.
"Gemeow! Papa pulang lho! Kamu dimana?"
Sebelum BoBoiBoy berjalan ke arah dapur, Gempa yang membawa Ochobot lebih dulu pergi ke tempat persembunyian selanjutnya. Lemari kayu yang sisi kanan bawahnya kosong karena piring-piringnya dibawa sang mama ke acara hajatan tetangga.
"Puuuur! Gemeow! Purrrr! Gemeow!"
BoBoiBoy terus memanggil anaknya sambil dia bekerja mencarinya ke penjuru dapur. Gempa menahan napas ketika beberapa kali BoBoiBoy melewati lemari tempatnya bersembunyi. Tapi untungnya papanya melewatkan memeriksa lemari satu itu.
Sekarang BoBoiBoy tengah memeriksa kolong meja makan dan berakhir menghembuskan napas kecewa. Tak ingin menyerah. BoBoiBoy kembali tegak berdiri. Dia segera berlari ke lantai dua untuk mengecek kamar-kamar di sana.
Kepala Gempa menyembul dari lemari setelah langkah kaki BoBoiBoy yang berlalu ke lantai dua menghilang. Dari bawah, dia dapat mendengar suara pintu-pintu yang dibuka dan teriakan papanya memanggilnya. Gempa dan Ochobot berpandangan, lalu sama-sama tertawa geli.
Kemudian Gempa berlari ke kursi kubus di dekat sofa. Sebuah kursi yang juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang. Dia membuka bagian tutupnya dan masuk ke dalamnya. Ruang di dalam kursi itu cukup besar dan terdapat lubang udaranya. Jadi Gempa tak khawatir bersembunyi di dalam sana. Sementara Ochobot naik ke sofa dan duduk melingkar di sana. Berpura-pura tertidur.
Setelah beberapa menit mencari, BoBoiBoy kembali turun ke ruang TV. Wajahnya itu semakin lesu saja. Seperti anak kecil yang nggak berhasil mendapatkan permen kesukaannya.
BoBoiBoy menghempaskan diri ke sofa. Momen pulang dari kerja adalah yang paling ditunggu BoBoiBoy di saat dia merasa penat dengan hari yang dilaluinya. Satu pelukan dari bontot kecilnya sudah mampu mengisi baterai jiwanya. Namun, bontot kecilnya itu malah nggak kelihatan telinga kucingnya.
BoBoiBoy berulang kali mengecek pesan dari Halilintar yang mengatakan jika Gempa ada di rumah. Sebenarnya kemana anaknya satu itu? Diculik Taufan kah?
Gempa mengintip dari celah kecil di kursi. Melihat wajah lesu papanya itu malah membuatnya ingin tertawa. Tapi setelah beberapa menit mengamati papanya itu, Gempa lama-lama menjadi nggak tega juga.
'Huh, semoga lain kali Papa nggak iseng lagi!'
Gempa menggembungkan pipinya ketika mengingat dia yang sering jadi korban keisengan bapak-bapak itu. Hari ini dia ingin sedikit balas mengerjainya. Agar BoBoiBoy tahu kalau dijahili itu nggak enak. Maka Gempa memutuskan tetap bersembunyi selama beberapa waktu.
"Ochobot~ liat bontot aku nggak?"
BoBoiBoy bertanya pada si kucing. Ochobot lalu membuka sebelah matanya demi melihat wajah ngenes majikannya itu. Karena loyalitasnya pada Gempa, Ochobot kembali menutup matanya. Dan berpura-pura tertidur.
"Ochobooot~" rengek BoBoiBoy sambil berusaha membangunkan kucingnya itu. Si kucing lantas membuka matanya dan melotot padanya dengan ekspresi berkata, 'Memangnya kamu anak-anak?!'
Ochobot lalu berdiri, dan pergi meninggalkan BoBoiBoy yang kini uring-uringan sambil berbaring di sofa.
Tak sengaja ekor mata BoBoiBoy melihat kursi kubus putih dengan tulisan ABCDEF pada setiap sisinya. Kursi yang dibelinya beberapa hari lalu. Dia sangat ingat dengan Gempa yang bahagia saat tahu ada ruang di dalam kubus itu. Bontot kecilnya itu segera masuk ke dalam kubus dan diam di sana selama beberapa saat. Nggak jarang Gempa sampai tertidur didalamnya. Persis seperti anak kucing yang kegirangan karena menemukan kotak kardus.
Lalu BoBoiBoy kembali mewek teringat anak bontotnya itu. Padahal dia sangat rindu padanya karena baru saja pulang dari dinas ke luar kota selama seminggu.
'Eh tunggu dulu!'
BoBoiBoy tiba-tiba teringat sesuatu. Dia bangkit dari pembaringan dan duduk menghadap TV. Tapi ekor matanya melirik ke kanan di mana kubus itu berada. BoBoiBoy punya firasat lain tentang kubus itu. Tak ingin buru-buru menyimpulkan, BoBoiBoy pun sedikit menguji.
"Aduh, sepertinya Gempa lagi pergi, ya. Bagus deh, coklat dari Kakek bisa dimakan sendiri~"
Netra emas Gempa seketika membulat kaget. Dia baru teringat jika setiap sebulan sekali Kakeknya akan memberikannya setoples bola-bola permen coklat yang lezat. Satu hari dari sebulan itulah yang selalu dinantikan Gempa. Dan jika Papanya memakan semuanya, maka itu artinya dia harus menunggu sebulan lagi. Gempa nggak sanggup!
BoBoiBoy menyimpan senyum saat tahu kubus itu bergerak sedikit.
"Gempa mau juga!" tanpa pikir panjang, Gempa keluar dari persembunyiannya.
"Eh, lho? Gempa! Kok bisa ada di sini?!" BoBoiBoy memasang raut pura-pura terkejut. Sedang dalam hati dia tertawa puas karena berhasil membuat Gempa muncul sendiri.
Gempa melihat toples kosong yang dipegang BoBoiBoy. Matanya membulat tak percaya. Apa papanya sangat kelaparan sehingga bisa menghabiskan coklat itu kurang dari semenit?!
BoBoiBoy tahu apa yang dipikirkan Gempa. Namun, dia hanya diam saja. Sebenarnya toples yang diberikan ayahnya sudah dia amankan. Sedangkan yang dipegangnya sekarang adalah toples kosong bekas bulan kemarin. Sang papa dalam diam menunggu reaksi dari anaknya.
Apakah anaknya akan marah, mengamuk atau bahkan menangis? Membayangkannya membuat BoBoiBoy cekikikan dalam hati. Ah, memang bapak-bapak satu ini hobi sekali mengisengi anaknya sendiri. Terlebih anak bungsunya.
"Papa lapar banget, ya...?" tanya Gempa dengan raut sedihnya.
BoBoiBoy mengangguk. Berusaha menahan diri untuk tertawa.
Grep!
Gempa memeluk kedua kaki papanya. Lalu mendongak.
"Mama belum pulang, tapi tadi sudah masakin makanan kesukaan, Papa. Papa pasti capek, mau makan sekarang aja? Nanti habis makan Gempa pijitin deh!"
BoBoiBoy terpana karena reaksi Gempa di luar ekspektasinya. BoBoiBoy sangat tahu seberapa besar rasa suka Gempa terhadap coklat. Oleh karena itu, dia tak menyangka reaksi anaknya itu akan setenang ini.Gempa mengernyit pada sang papa yang membatu. Ekspresinya sekarang tak mudah didefinisikan. Kenapa dengannya? Apa karena efek kelaparan dan capek papanya jadi loading lama?
"Huhuhu!"
BoBoiBoy tiba-tiba sesenggukan sendiri. Dia berlutut lalu memeluk anak bontotnya itu erat-erat. Gempa yang sudah terbiasa dengan kelakuan random papanya itu hanya tersenyum dan balas memeluknya erat. Dia juga sangat rindu dengannya. Setelah beberapa saat, BoBoiBoy melepas pelukannya dan menggendong Gempa. Dia tersenyum lebar. Mencium pipi sang anak bertubi-tubi sehingga membuat anak itu tertawa senang.
Sementara Ochobot yang sejak tadi menyaksikan, ikut bahagia dengan interaksi harmonis antara papa dan anak itu. Kucing kecil itu melompat turun dari sofa lalu mengikuti mereka berjalan ke dapur.
Sekarang mungkin kalian punya gambaran, alasan mengapa BoBoiBoy sangat merindukan anak bontotnya itu.
140522
