'Why don't you go?'

Fandom : Kuroko no Basket

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Pair : Mayuzumi x Akashi

Warning : Sho-ai, Ooc dan ketidak jelasan lainnya

.

.

.

"Kau tidak jadi pergi?"

Seijuurou menoleh. Tak biasanya Mayuzumi berpakaian rapi seperti ini. Kemeja abu dengan celana bahan warna hitam. Biasanya ia hanya mengenakan kaus belel yang sudah molor dengan celana jins panjang. Kalaupun ia pergi keluar paling-paling hanya ditutupi jaket saja. Seijuurou jadi makin curiga.

"Tidak jadi sepertinya,"

Seminggu yang lalu Seijuurou pernah menangkap basah Mayuzumi sedang berfoto selfie dengan salah satu wanita yang bercosplay menjadi Sasha, tokoh favorite di novel yang Mayuzumi suka baca di sebuah acara festival. Seijuurou tak berniat menguntit. Ia hanya kebetulan menemani Midorima yang hendak mencari boneka yang merupakan benda keberuntungan yang katanya tersedia di festival tersebut. Setelah mata mereka bertemu, bukannya menyapa atau melakukan apa, Mayuzumi justru menyalami tokoh Sasha dan membiarkan Seijuurou seolah mereka berdua tidak saling mengenal.

Seijuurou kesal? Tentu saja. Ia membalas Mayuzumi dengan mendiaminya selama tiga hari. Tapi memang dasarnya Mayuzumi tidak peka, ia bukannya meminta maaf atau setidaknya menyadari kesalahan, justru ia malah sibuk dengan pekerjaannya yang ia bawa pulang ke rumah. Pada akhirnya Seijuurou pun lelah dan menyudahi pertengkaran sepihaknya.

"Kenapa tidak jadi? Bukankah kau ingin bertemu dengan ayahmu yang baru saja pulang dari Inggris?"

Seijuurou tak langsung menjawab. Kedua manik rubinya sibuk meneliti tingkah Mayuzumi yang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Mengecek barang satu persatu di dalam tas selempang yang diletakkan di atas sofa samping tempatnya duduk sekarang. Apa-apaan cara bicaranya itu? Ia terlihat seperti memaksa Seijuurou untuk pergi dari apartemennya dan melakukan hal yang ia suka. Awalnya Seijuurou memang ingin berniat menemui ayahnya yang tinggal di Tokyo ketika mendapat kabar bahwa ayahnya sudah kembali dari urusan bisnis di Inggris selama tiga bulan. Seijuurou rindu dengan ayahnya tentu saja. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang. Setidaknya Seijuurou ingin bertemu langsung dan sedikit berbincang santai dengan ayahnya. Tapi sekarang ada masalah yang lebih penting.

"Kau terlihat sibuk sekali ya," bicaranya terdengar sarkas. Seijuurou sama sekali tak menjawab pertanyaan Mayuzumi satu menit yang lalu. Ia pun bahkan tidak menanyakan perihal kemana Mayuzumi akan pergi dengan pakaian rapi seperti itu. Harga diri Seijuurou terlalu tinggi untuk menanyakan hal itu. Nanti bisa-bisa Mayuzumi curiga lagi kalau Seijuurou sebenarnya cemburu.

Tunggu, Seijuurou tidak cemburu dengan Mayuzumi. Ia hanya tidak suka kalau Mayuzumi sibuk dan pergi tanpa memberitahunya. Seijuurou saja selalu memberitahu Mayuzumi kemana pun ia pergi atau ketika ada urusan. Bahkan ketika ia ingin pergi menemui ayahnya, Seijuurou sudah berbaik hati memberitahu Mayuzumi dua hari sebelumnya. Seijuurou jadi merasa ia menjalani hubungan sepihak.

"Ya… Sepertinya…" Dahi Sejuurou berdenyut. Mayuzumi jelas-jelas membalas perkataan Seijuurou yang tadi. Mayuzumi meletakkan kembali sepatu pantofel yang tadi pagi-pagi sekali ia semir ke dalam kotak sepatu dan memindahkannya kembali ke atas rak seperti semula. Mata Seijuurou masih awas mengamati pergerakan Mayuzumi bahkan seujung jari pun.

"Kenapa sepatunya dikembalikan disana?"

"Memang seharusnya aku letakkan dimana?"

Malah balik bertanya. Kesabaran Seijuurou tidak tak terbatas.

"Ohh, kau tidak jadi pergi?" Akhirnya Seijuurou mengalah. Mengutarakan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. Mayuzumi kemudian menyusul duduk di sofa tepat di sebelah Seijuurou. Manik abunya melirik Seijuurou yang entah kenapa terlihat kesal sekenanya.

"Yah kau tidak jadi pergi, kenapa aku harus pergi?" Benar-benar keterlaluan. Jadi benar Mayuzumi ingin bermain-main di belakangnya? Jadi benar kata Ryota bahwa ia pernah melihat Mayuzumi pergi ke toko perhiasan bersama Mibuchi dua minggu yang lalu? Sebelumnya Mibuchi, setelah itu Sasha. Terus hari ini mau bertemu siapa lagi?

Mayuzumi membuang napas berat. Ia bangun dari duduknya kemudian pergi berlalu meninggalkan Seijuurou di sampingnya yang belum cukup menerima penjelasan.

"Chihiro, kau mau kemana? Masih ada yang ingin kubicarakan,"

Mayuzumi yang belum melangkah terlalu jauh dari ruang TV hanya menoleh tak minat. Dilihatnya Seijuurou dengan kedua tangan bersidekap. "Mau bikin teh untukmu. Kau nampak sedang tak mood untuk diajak bicara, Sei. Setidaknya segelas teh mungkin bisa menenangkan hatimu,"

Seijuurou menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. "Aku sedang tak marah. Untuk apa aku marah? Dan jangan pernah termakan iklan, Chihiro,"

"Suaramu naik satu tingkat dari biasanya. Jangan tanya aku kenapa kau marah, karena aku sendiri pun tak tahu," Mayuzumi kembali melangkahkan kakinya ke arah dapur yang tadi sempat terhenti karena panggilan Seijuurou. Pemuda merah itu pun nampaknya tak berminat untuk mengajaknya bicara lebih jauh dari ini.

Seijuurou pun turut menghela napas lelah ketika ia tak lagi melihat wujud Mayuzumi di dekatnya. Mungkin orang-orang di luar sana mengira bahwa Seijuurou dan Mayuzumi berpacaran. Padahal kenyataannya tidak. Ia dan Mayuzumi hanya tinggal bersama selama dua tahun di apartemen sederhana ini. Biarkan saja pikiran orang di luar sana, Seijuurou malah berharap bahwa itu akan menjadi kenyataan. Seijuurou memang sudah suka dengan Mayuzumi sejak dirinya kelas satu SMA. Mayuzumi saja yang memang pada dasarnya tidak peka.

Seijuurou sendiri lupa bagaimana dirinya dan Mayuzumi bisa kembali bertemu setelah mereka sempat tidak saling menghubungi setelah lulus dari SMA. Seijuurou hanya bisa mengingat tahu-tahu dirinya berinisiatif untuk tinggal dengan Mayuzumi bahkan tanpa persetujuan si pemilik apartemen setelah pertemuan mereka yang ketiga kalinya. Awalnya Mayuzumi nampak tak terima dengan kehadiran Seijuurou di apartemennya. Tapi seiring berjalannya waktu, Mayuzumi mengurangi kadar gerutuan ke si penumpang tak diundang tersebut. Mayuzumi sudah paham betul dengan sifat Seijuurou sejak SMA yang tak suka ditentang.

Dulu sekali Aomine yang merupakan teman satu tim SMP-nya juga pernah bertanya, "Kenapa tidak mengungkapkannya saja langsung kepadanya," tapi pada akhirnya temannya itu sadar bahwa mana mungkin Seijuurou yang memiliki harga diri setinggi langit itu mengungkapkannya lebih dulu. Kemudian kisah cinta Seijuurou pun berakhir dengan kelulusan Mayuzumi yang meninggalkannya tanpa mengucapkan salam perpisahan sedikit pun.

Seijuurou memijat keningnya. Kenapa jadi semelelahkan ini mengingat awal hubungannya dengan Mayuzumi?

'Drrrt! Drrrt! Drrrt!'

Seijuurou menoleh ke samping ketika merasakan getaran di sampingnya. Dari dalam tas Mayuzumi sepertinya.

Di lain tempat Mayuzumi baru saja selesai menyiapkan dua cangkir teh untuk dibawanya ke ruang TV. Ia meletakkan kedua cangkir putih itu di nampan kemudian membawa nampan itu perlahan dan kembali ke ruang TV.

"Sei– " panggilannya terhenti. Manik abunya fokus pada benda kotak yang dipegang Seijuurou, "Kau membuka tasku,"

Seijuurou mengangkat kepalanya dari perhatiannya kearah kotak persegi berwarna merah ke Mayuzumi yang berdiri dua meter di depannya. Pria itu sudah mengganti pakaiannya kembali dengan kaus putih belel dan celana pendek selutut berwarna abu-abu. Tak lupa masih memegang nampan dengan kedua cangkir teh yang mengepul diatasnya.

"Chihiro….Ini untukku?" Tak hanya harga dirinya saja yang tinggi, kepercayaan diri Seijuurou pun juga tinggi. Bukannya menjawab, Seijuurou malah balik bertanya. Mayuzumi pun demikian, ia tak menjawab pertanyaan Seijuuoru mengenai kotak kecil yang dipegang si surai merah. Bukan handphone tentu saja yang dipegang oleh Seijuurou sekarang ini. Dilihat sekilas juga pasti akan sadar bahwa yang dipegang Seijuurou adalah kotak cincin. Dengan hati-hati Mayuzumi letakkan nampan yang dibawanya di atas meja tepat di depan Seijuurou. Ia menatap Seijuurou dengan wajah datarnya.

"Sini berikan padaku," tangannya terulur meminta barang yang dipegang Seijuurou.

"Uh –Huh? Tidak, jawab dulu pertanyaanku," Seijuurou menghalangi tangan Mayuzumi yang hendak meraih kotak merah yang masih dipegangnya. Menjauhkan kotak tersebut dari jangkauan si pemilik aslinya.

"Yakin sekali dirimu, Sei,"

Masih mencoba menghalangi Mayuzumi yang memaksa mengambil kembali kotak cincinnya. "Karena aku selalu benar," nada bicaranya terdengar arogan. Tapi dari tatapan matanya Mayuzumi tahu bahwa Seijuurou menunggu penjelasan.

Mayuzumi menyerah. Ia menjatuhkan dirinya di sofa tepat di samping Seijuurou. Seijuurou sendiri masih bertindak waspada. Mencoba menjaga jarak jikalau Mayuzumi tiba-tiba kembali merebut kotak di tangannya.

"Itu memang untukmu," jedanya sesaat, "Niatnya akan kuberikan setelah aku menghadap ayahmu,"

"…Kau hendak melamarku?" Seijuurou merasa terkesima dengan ucapan Mayuzumi barusan. "–Tunggu, bukankah prosesmu terbalik Chihiro? Lamar aku dulu baru menghadap ayahku,"

"Kalau kau sih sudah pasti terima," ternyata kepercayaan diri Mayuzumi pun sama tingginya. "Lagipula lebih penting dapat izin dari ayahmu dulu dari semua proses,"

Memang tak salah apa yang dikatakan Mayuzumi. "Kenapa tidak bilang kalau kau ingin menemui ayahku? Jadi jangan-jangan hari ini kau sebenarnya ingin pergi ikut denganku?" Seijuurou merasa bodoh sekali hari ini. Bisa-bisanya ia tidak sadar dari semua perkataan Mayuzumi bahwa pria itu ingin ikut dengannya.

"Kau tak pernah bertanya padaku. Menanyakan perasaanku pun kau tak pernah,"

"Kau juga tak pernah menanyakan perasaanmu padaku–"

"–Kalau itu sih sudah jelas,"

Seijuurou terdiam. Ia menatap lama kotak cincin yang dipegangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menaruh kotak cincin itu kembali pada tas Mayuzumi di sampingnya dan pergi dari tempatnya tanpa berkata-kata. Mayuzumi harus mengangkat kedua alisnya tak mengerti dengan apa yang Seijuurou pikirkan. Salahkah perkataannya barusan? Salahkah ia selama ini? Lagipula dari awal hubungan mereka memang tidak jelas. Terlebih Seijuurou tidak pernah bertanya apapun kepadanya. Mayuzumi saja yang memang baik hati ingin melamar sang tuan muda dan tak mau menggantungkan perasaannya lebih lanjut setelah beberapa tahun ini.

Untungnya kebingungan Mayuzumi tak berlangsung lama. Ia mendengar pintu kamar Seijuurou terbuka dan Seijuurou keluar sudah dengan pakaian rapi dan tas selempang di bahunya.

"Ayo Chihiro, kita pergi ke rumah ayahku,"

"Sei…" Mayuzumi speechless, "Tiket yang kau beli kan sudah berangkat setengah jam yang lalu," Mayuzumi mengingatkan.

"Aku tahu. Aku sudah membelinya lagi barusan,"

Seijuurou-nya ini memang benar-benar sesuatu sekali.

Mayuzumi memberikan senyuman sekilas sesaat. Seijuurou tidak keburu melihatnya. "Baiklah, tunggu aku lima menit lagi,"

Mayuzumi berdiri dan mengacak-acak rambut Seijuurou sebentar. Tak mengindahkan gerutuan si pemilik rambut yang kesal karena diperlakukan seperti anak kecil. Kemudian berlalu pergi mempersiapkan diri dan juga hatinya. Meninggalkan dua cangkir teh yang mulai mendingin dan mungkin tak lagi mereka minum.

.

.

.

~ THE END ~

.

.

.

A/n : Lama sekali rasanya diriku tak menulis fanfict. Semoga cerita dan tulisannya tidak terlihat kaku. Dan semoga kalian menikmati cerita dariku ini xD