Naruto by Masashi Kishimoto

Genre : History, Slice of Life

Summary : Uchiha Sasuke, seorang remaja yang tiba-tiba mengalami lompatan waktu dan pergi ke masa lalu, ke masa Periode Sengoku. Tanpa memiliki kemampuan berpedang, bagaimana dia bisa bertahan di puncak era para samurai tersebut?

Chapter 1 : Tahun Eiroku kedelapan, Pertengahan Maret Tahun 1565.


~~XxXxX~~

Bagi seorang maniak sejarah, dapat pergi ke masa lalu dan melihat bagaimana sejarah berjalan merupakan sebuah mimpi yang menjadi nyata. Jika aku mendapat kesempatan untuk pergi ke masa lalu, pergi ke Periode Sengoku misalnya, aku mungkin akan memenuhi seluruh buku catatanku dengan apa yang aku lihat dan alami di sana. Sampai-sampai jika orang modern melihatnya, mungkin mereka akan berpikir bahwa itu hanya sebuah delusi dari maniak sejarah dan budaya sepertiku.

Yah, tetapi itu tidak salah, sih. Bahkan, ide pergi ke masa lalu saja sudah sangat delusional. Namun, jika itu benar-benar bisa dilakukan, daimyo seperti apa yang kira-kira akan aku layani nanti?

Jika bisa memilih, aku ingin melayani Tokugawa Ieasu, sih. Dia terkenal bijaksana dan merupakan pemersatu tanah Jepang. Jadi, cukup menyenangkan mungkin jika bisa melayaninya. Akan tetapi, sekali lagi itu pastilah hanya angan-angan.

Lagi pula, kesempatan orang modern yang bahkan tidak tahu cara memagan pedang sepertiku untuk bisa bertahan di Periode Sengoku … mendekati nol persen.


~~XxXxX~~

"Lagi-lagi kau berdelusi tentang sejarah, Sasuke?"

Merasa kesenangannya terusik, pemuda bernama Sasuke tersebut lantas menolehkan kepalanya ke belakang, tempat sumber suara tersebut berasal. Di belakangnya, Ia mendapati seorang pemuda berambut pirang berantakan dan bermata biru layaknya orang-orang Barat.

"Kemarin kau berkhayal menjadi seorang revolusioner di Abad Kegelapan Eropa," lanjut pemuda berambut pirang tersebut, "Sekarang apa? Kau berpikir ingin pergi ke Timur Tengah dan mempertahankan Kota Konstanisasi?"

"Konstantinopel," koreksi Sasuke dengan cepat, "Yah, aku tadi malam baru saja membaca kembali buku ensiklopedia sejarah Jepang-ku. Jadi, aku berpikir bahwa Periode Sengoku benar-benar keren."

"Sengoku? Bukannya dulu kau bilang kalau Periode Heian yang keren? Kau mengatakan bahwa itu adalah puncak budaya atau semacamnya."

"Intinya, semua zaman di sejarah itu keren, Naruto. Cobalah membaca beberapa dan kau akan mengerti."

Tidak langsung menanggapi, pemuda pirang yang dipanggil Naruto itu justru menyeret kursi—yang dia ambil dari bangku sebelah—dan menempatkannya di sisi samping bangku Sasuke.

"Tidak, itu membosankan. Aku lebih suka membaca manga daripada sejarah," ucap Naruto tepat setelah dia duduk di sebelah temannya, "Selain itu, bukankah kau memiliki selera yang cukup aneh? Kau sangat menyukai sejarah, tetapi di sisi lain, kau juga sangat menyukai sains dan teknologi."

Sasuke menyenderkan punggungnya ke senderan kursi dan menatap langit-langit kelasnya sejenak sebelum membalas perkataan temannya.

"Sejarah dan perkembangan peradaban—khususnya sains dan teknoogi—selalu saling berkaitan satu sama lain secara paralel. Jika kau melihat sejarah, revolusi industri pertama ditandai dengan penemuan mesin uap untuk produksi pabrik, revolusi industri kedua ditandai dengan penemuan mobil dan listrik, revolusi industri ketiga dipicu dengan sistem automasi yang mulai menggantikan peran manusia, dan revolusi industri keempat dipicu dengan perkembangan digitalisasi yang dikombinasikan dengan automasi, termasuk juga internet."

Sasuke menjeda penjelas panjangnya hanya untuk mengambil napas dalam-dalam dan kemudian melanjutkan lagi.

"Orang-orang berpikir bahwa AI akan menjadi pusat revolusi industri kelima, tetapi aku tidak berpikir seperti itu. AI—sebagai salah satu produk revolusi industri keempat—memang akan terus berkembang di masa depan. Namun, perannya nanti hanya sebagai instrumen saja. Karena menurutku, dasar dari revolusi industri yang selanjutnya nanti adalah nanoteknologi. Nanoteknologi—bersamaan dengan teori mekanika kuantum—akan mengubah peta peradaban manusia. Carbon nanotubes berbasis karbon atom berukuran dua dimensi dari grafena akan menggeser seluruh fungsi semikonduktor dan bahan manufaktur. Bukan hanya itu—."

"Baik-baik, berhenti. Aku tidak mengerti sama sekali. Jadi, berhentilah," ujar Naruto sambil menutup kedua telinganya, "Membiarkanmu berbicara tentang sejarah dan sains benar-benar sesuatu yang buruk."

Uchiha Sasuke, anak kedua dari keluarga Uchiha—salah satu konglomerat Jepang—memang terkenal sebagai pemuda yang cukup nyentrik untuk anak seusianya. Di usianya yang sekarang—yang akan menginjak 15 tahun dan baru masuk SMA—Sasuke memiliki pengetahuan yang luar biasa luas di bidang sejarah, budaya, sains, dan teknolgi. Hal tersebut dipicu karena ketertarikannya yang sangat tinggi terhadap bidang-bidang tersebut. Baginya, sejarah, budaya, dan sains adalah satu-kesatuan yang saling melengkapi perkembangan peradaban. Di setiap peristiwa apa pun yang dia baca, budaya dan sains tidak pernah absen dari perannya dalam sejarah.

Jepang, yang terkenal memiliki salah satu ksatria terkuat di dunia—samurai—pun menjadi salah satu komoditas dari teknologi. Meskipun di masa lalu penelitian tentang sains belum dilakukan, tetapi sejarah telah mencatat bahwa Jepang dapat menciptakan pedang yang sangat tajam—katana—dengan teknologi menempa mereka yang terbilang unik. Dengan kondisi geografis yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki bijih besi berkualitas tinggi dan melimpah, para pandai besi tetap dapat menciptakan sebuah pedang unik yang terkenal dengan ketajamannya. Itulah yang disebut sebagai teknologi. Di masa modern, keberadan sains semakin mendorong perkembangan teknologi dengan sangat cepat.

"Omong-omong, bukankah kau seharusnya belajar lebih banyak tentang agrikultur dan akuakultur daripada membaca buku sejarah atau pergi ke pameran sains dan teknologi?"

Sasuke mendengus mendengar pertanyaan Naruto dan menjawab, "Aku mungkin akan senang hati membantu mengembangkan benih tanaman di laboraturium, tetapi aku tidak ingin pergi ke sawah ataupun laut."

"Bahkan meskipun kau adalah pewaris selanjutnya bisnis keluargamu? Maksudku, Itachi-san sudah mantab akan terjun ke politik, 'kan?"

Sasuke sedikit mengangkat bahunya dan berkata, "Jika aniki bisa memilih pekerjaannya, aku seharusnya juga bisa, 'kan?"

Naruto terdiam beberapa detik setelah mendengarkan jawaban temannya. Naruto bukan berasal dari kalangan elite seperti Sasuke. Jadi, Ia tidak begitu mengerti tentang kehidupan para konglomerat. Namun, satu hal yang dapat Naruto tahu, bahwa melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan itu jauh lebih menyenangkan.

"Yah, kau harus berhadapan dengan kemarahan ayah dan kakekmu, kurasa?"

Keluarga Uchiha adalah keluarga konglomerat yang sudah berdiri sejak era Perang Dunia Kedua. Dengan kata lain, Sasuke adalah generasi keemppat dari keluarga Uchiha.

Pada awalnya, keluarga Uchiha hanyalah keluarga petani dari Utara Kota Chiba. Kakek buyut Sasuke memulai bisnisnya dengan menjadi supplier beras dan beberapa bahan makanan lainnya di Wilayah Kanto. Namun, setelah Perang Dunia berakhir atau setelah penjatuhan bom atom di Hirosihma dan Nagasaki, kebutuhan logistik akan bahan-bahan pangan mulai meningkat di seluruh penjuru negeri. Kesempatan besar itu langsung diambil tanpa pikir panjang dan itu benar-benar sebuah bisnis yang menghasilkan kesuksesan besar.

Uchiha Madara—kakek Sasuke sekaligus kepala keluarga Uchiha generasi kedua—melakukan ekspansi lahan besar-besaran. Dengan keuntungan besar yang didapat dari bisnis logistik dan bahan pangan, Uchiha Madara membeli banyak tanah pertanian di beberapa prefektur seperti Prefektur Chiba, Iwate, Tochigi, Nagano, dan bahkan sampai ke Hokkaido. Semuanya ditanami dengan berbagai bahan makanan pokok, bahan endemik lokal, sampai ke peternakan. Dengan tanah-tanah luas yang berada Jepang Timur, membuat keluarga Uchiha mudah memonopoli jalur untuk suplai logistik.

Tidak berhenti sampai di situ. Pada akhir tahun 90-an, Uchiha Fugaku—ayah Sasuke—mulai mengembangkan bisnis keluarga ke ranah akuakultur yang terpusat di Chiba. Dengan dana investasi yang besar dari beberapa sumber, membuat bisnis ini cepat berkembang. Berkembangnya bisnis akuakultur milik keluarga Uchiha ini secara otomatis membauat aset milik Uchiha seperti kapal, gudang, dan kontainer menjadi terus menjamur di pelabuhan Chiba. Dengan perkembangan tersebut, keluarga Uchiha secara tidak langsung menjadi salah satu pemilik aset terbesar di pelabuhan terbesar Jepang—pelabuhan Chiba—dan itu membuat mereka benar-benar dipandang sebagai konglomerat Jepang.

Kepala keluarga Uchiha sekarang adalah oleh Uchiha Fugaku. Sementara itu, Uchiha Madara—yang telah pensiun—lebih suka mendedikasikan dirinya ke laboraturium untuk mengembangkan benih-benih tanaman unggul.

Meskipun tidak begitu suka dengan agrikultur dan akuakultur, Sasuke beberapa kali berkunjung ke laboraturium milik kakeknya itu. Bagaimanapun, seorang Uchiha Sasuke tetap menyukai segala sesuatu berbau sains, meskipun ketertarikannya terhadap pertanian sangat rendah.

"Orang yang tidak suka bertani, justru masuk ke sekolah seperti Chiba Agriculture High ini. Bukankah itu lucu? Lebih lucunya lagi, nilai praktikum dan teorimu justru lebih bagus dari rata-rata anak-anak lain," celetuk Naruto.

"Aku memang tidak begitu suka dengan agrikultur, tetapi aku juga tidak suka menjadi bahan olok-olok orang lain," balas Sasuke, "Jika seorang anak dari keluarga Uchiha tidak memiliki kemampuan di bidang pertanian, mereka mungkin akan mencibirku."

"Hmmm … bahkan orang-orang elite pun memiliki masalah mereka sendiri, huh?"

Percakapan ringan antar kedua pemuda itu terpaksa terhenti setelah mereka mendengar suara pintu dibuka. Tidak lama berselang, masuklah seorang pria paruh baya dengan setelan yang umum digunakan oleh guru-guru Jepang.

"Harap perhatiannya, anak-anak. Karena ada rapat dadakan, pelajaran jam kelima hari ini dibatalkan. Kalian bisa pulang lebih awal."

Mendengar ucapan dari guru tersebut, para murid pun tidak dapat menahan rasa gembira dan sorakan mereka. Namun, hanya ada satu anak yang mukanya berubah masam.

"Tunggu. Kalau begitu, bagaimana dengan benih-benihyang sudah saya bawa?" tanya Sasuke dengan nada sesopan mungkin meskipun Ia sedang merasa kesal.

"Maafkan aku, Uchiha-kun. Kita akan menggunakan benih-benih itu di pertemuan selanjutnya."

"Yang benar saja. Aku bahkan menghabiskan akhir pekanku bekerja di ladang hanya untuk mendapat benih-benih ini dari kakekku."

Merasa protesnya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan, Sasuke pun mendengus dengan kasar dan mulai memasukkan satu-persatu bukunya ke dalam tas sekolahnya yang memiliki model selempang. Setelah selesai, Ia mulai menggantungkan tas tersebut di pundak kirinya. Saat hendak keluar dari kelas, Naruto terlebih dulu berbicara kepadanya.

"Bagaimana kalu kita pergi ke warnet? Kudengar hari ini ada event di Makuhari."

Sasuke menimbang-nimbang tawaran itu sebenentar dan akhirnya menjawab, "Aku akan menyusul. Aku ingin membeli buku baru dulu. Aku sudah kehabisan bacaan, kau tahu?"

"Membosankan. Kau akan beli buku apa? Sejarah dan sains lagi?"

Sasuke menggeleng pelan dan menjawab, "Mungkin katalog senjata? Entahlah, aku ingin mencoba sesuatu yang baru saja."

"Sudah kuduga, seleramu aneh."

Pria berambut hitam itu terkekeh, "Pergilah duluan, aku akan menyusulmu nanti setelah aku beli buku. Atau kau ingin ikut denganku?"

"Tidak, kita bertemu di Stasiun Inage saja. Aku juga ingin membeli ramen dulu."

Sasuke mengangguk mendengar balasan Naruto dan mereka berdua pun berjalan bersama keluar kelas, hingga akhirnya mereka harus berpisah jalan setelah keluar dari gedung sekolah.


~~XxXxX~~

Udara segar yang terasa ringan saat dihirup, suara kicauan burung yang terdengar menenangkan, dan jangan lupakan angin sepoi-sepoi yang berhembus dari segala arah. Perasaan nyaman ini tidak akan dapat kau temui di Kota Chiba. Meskipun bukan ibukota negara, Kota Chiba tetaplah salah satu kota metropolitan dan sekaligus menjadi kota penyangga Tokyo. Jadi, hiruk-pikuk dan polusi akan menjadi temanmu sehari-hari.

Namun, untuk saat ini, suasana yang dirasakan oleh pemuda berambut hitam dengan model emo itu benar-benar terasa sangat asing. Bahkan, ketika dia pergi ke salah satu persawahan milik keluarganya di Tochigi sekali pun, tidak pernah dia dapat merasakan udara sesejuk ini.

Menyadari keanehan tersebut, mata Sasuke yang semula terpejam pun langsung terbelalak. Dengan tergesa-gesa, Ia langsung bangkit dari posisinya berbaring. Perasaan sakit dan pegal pun terasa di beberapa bagian di tubuh Sasuke.

Berusaha mengabaikan rasa sakit tersebut, Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Satu-satunya pemandangan yang dapat matanya tangkap hanyalah pepohonan saja. Sejauh mata memandang, Ia hanya dapat melihat objek-objek hijau berupa rumput, semak, atau pohon. Tidak ada yang lain selain itu.

"Di mana ini? Apa yang terjadi padaku?"

Dengan memaksa kepalanya yang sedikit sakit, Sasuke berusaha menggali kembali sisa-sisa ingatan yang dia miliki. Ingatannya sedikit kabur dan membuat pemuda tersebut sangat kesulitan untuk memahami apa yang terjadi padanya. Namun, ada satu hal yang benar-benar diingat Sasuke dengan jelas.

"Aku … tertabrak truk?"

Saat Ia selesai membeli buku katalog perkembangan senjata dari masa ke masa, Sasuke memutuskan berjalan santai di trotoar untuk menuju stasiun Inage, tempat pertemuannya dengan Naruto. Saat itu, anehnya, trotoar tidak seramai biasanya. Dalam ingatannya, ada sebuah truk yang sepertinya lepas kendali dan menabraknya di trotoar.

"Seharusnya aku sudah mati. Tidak masuk akal jika aku masih hidup setelah tertabrak seperti itu. selain itu, di mana ini?"

Dengan sedikit terhuyung, Sasuke akhirnya dapat berdiri. Ia memungut tas selempangnya dari tanah dan menempatkannya kembali di bahu kirinya. Ia merogoh kantung kirinya dan mendapati bahwa sesuatu yang Ia cari masih berada di sana.

"Tidak ada sinyal sama sekali," ucap Sasuke sambil memandangi ponsel yang baru saja dia keluarkan, "Bukankah Jepang seharusnya menjadi negara maju dan tidak memiliki krisis jaringan seperti ini?"

Masih memegang ponselnya, Sasuke berjalan ke sana dan kemari berharap menemukan sebuah sinyal untuk menghubungi keluarganya. Namun, hasilnya nihil, sejauh apa pun kakinya melangkah, dia sama sekali tidak mendapat sinyal atau bahkan emlihat sebuah jalan. Lupakan tentang jalan, dia bahkan tidak melihat manusia sama sekali.

Ia telah berjalan hampir satu jam lamanya dan tetap saja tidak mendapatkan apa pun. Sebelumnya, Ia dapat bersikap tenang, tetapi sekarang, Ia mulai khawatir. Pikrannya mulai tidak tenang. Pasalnya, seterpencil apa pun itu, tidak ada satu tempat pun di Jepang yang tidak ada jalan bersapal dan sinyal jaringan. Terlebih lagi, dia belum makan apa pun sejak sarapannya tadi pagi. Yah, dia memang sempat memakan roti yakisoba, tetapi itu bahkan tidak cukup untuk dikatakan sebagai menu makan siang.

Salah satu hal yang paling dibanggakan oleh Sasuke dari seorang Uchiha adalah pengelihatannya. Entah itu karena keturunan genetis atau semacamnya, semua orang yang telahir dari keluarganya selalu memiliki mata yang tajam. Kakeknya—Uchiha Madara—bahkan mengatakan bahwa pengelihatan tajam mereka sudah ada sejak sebelum kakek buyutnya memulai bisnis logistik milik Uchiha.

Dengan matanya yang tajam, Sasuke dapat melihat pergerekan sekecil apa pun dengan sangat jeli. Dia dapat menangkap pergerakan tidak wajar pada semak-semak yang berjarak sekitar 20 meter darinya. Entah mendapat pikiran dari mana, tetapi Ia yakin bahwa itu dihasilkan oleh manusia. Dengan langkah yang sudah lelah, Sasuke menggerakkan kakinya ke tempat tersebut dengan secercah harapan yang akhirnya muncul di benaknya.

Saat dia sudah semakin dekat, dia dapat melihat bahwa orang di balik semak-semak itu akhirnya menunjukkan dirinya.

Berbeda dari apa yang Sasuke harapkan, atau lebih tepatnya, itu memang manusia, tetapi bukan manusia yang Sasuke harapkan. Dia adalah pria tua dengan tampilan yang aneh, itu juga termasuk dengan tiga orang lain yang berada di belakang pria tua tersebut. Untuk ukuran manusia modern seperti Sasuke, melihat seorang pira tua memakai armor samurai lusuh tanpa lengan tentu saja sangatlah aneh, pria tua itu bahkan tidak memakai celana dan hanya memakai fundoshi saja, jangan lupakan juga tubuhnya yang juga terlihat sangat lusuh. Kecuali kau berada di set pembuatan film atau event cosplay, kau tidak akan pernah mendapati seseorang berpenampilan seperti itu. Bahkan, aktor sampingan di film atau drama sejarah saja tidak akan sekotor itu.

Satu-satunya hal yang membuat Sasuke tidak berpikir bahwa ini adalah set film adalah tiga pria di belakangnya yang semuanya bertelanjang dada dan kemaluannya hanya ditutupi oleh kain yang melingkar di pinggangnya ataupun fundoshi.

"Kau anak tinggi dengan pakaian yang aneh, apa kau juga punya banyak koin?"

'Koin?' batin Sasuke bingung dengan istilah yang dipakai pria itu, 'Selain itu, tinggi? Aku memang memiliki tinggi 170 centimeter, tetapi itu tidak setinggi itu sampai-sampai kau harus menyebutku 'anak tinggi' atau semacamnya.'

Memiliki perasaan yang tidak enak, Sasuke mundur secara perlahan. Setelah Ia mengambil tiga langkah ke belakang, akhirnya dia memutuskan untuk lari. Namun, sebelum Ia benar-benar dapat kabur, salah seorang pria dapat meraih tas sekolah Sasuke dengan tongkat yang dia bawa. Tanpa berpikir panjang, Sasuke segera melepas dan melempar tasnya ke sembarang arah agar tidak menghalanginya.

Sasuke memang memiliki tubuh yang sehat. Bahkan, dia cukup cepat jika dibandingkan dengan kecepatan rata-rata anak seusinya. Akan tetapi, Sasuke bukan orang bodoh yang akan berkelahi melawan empat orang dewasa sekaligus. Oleh sebab itulah, satu-satunya opsi paling logis yang dapat dia pikirkan adalah kabur secepat mungkin.

"Aaarrgghhh …."

Mendengar sebuah teriakan kesakitan dari arah belakangnya, Sasuke memutuskan menengok sejenak untuk melihat apa yang terjadi. Tidak kuasa melihat apa yang dia lihat, langkah kaki pemuda itu pun terhenti seolah kakinya telah terpaku di tanah.

Di sana, di tempat orang yang mengejarnya tadi, terlihat seseorang dengan armor lengkap yang menuskkan tombaknya ke punggung pria beramor lusuh tersebut.

"Bandit lagi, kalian benar-benar tidak ada kapoknya berkeliaran di wilayah tuanku."

Itu adalah pembunuhan pertama yang Sasuke lihat dengan mata kepalanya sendiri. Darah yang keluar dari lubang di punggung yang menembus sampai dadanya itu adalah darah asli, darah yang benar-benar terlihat kental. Eskpresi kesakitan yang tercetak di wajah tanpa nyawa itu pun terlihat sangat nyata.

Dengan sekujur tubuh yang bergetar dan kedua mata yang membelalak tidak percaya, Sasuke menyadari satu hal, bahwa tempatnya berpijak saat ini sudah bukan lagi tempatnya tinggal dulu.

"Di mana aku?" gumamnya dengan suara yang bergetar.

"Ada keributan apa ini?" teriak sebuah suara asing dari kejauhan.

Teriakan itu membuat semua yang ada di sana—termasuk Sasuke—menolehkan kepalanya menuju sumber suara berasal. Sasuke mendapati beberapa orang dengan armor lengkap, tombak di tangan, dan juga pedang yang disarungkan di pinggangnya masing-masing. Sementara itu, ada seseorang yang terlihat paling mencolok. Menjadi satu-satunya orang yang duduk di atas kuda, membuatnya memberi kesan bahwa dialah pemimpin orang-orang berpakaian samurai ini.

Semakin dekat rombongan kecil itu dengan lokasi keributan berasal, semakin jelas pula Sasuke dapat melihat sosok yang berada di atas kuda tersebut. Sebuah perawakan khas dari pria yang berusia di awal 30 tahunan atau akhir 20-an, ditambah lagi dengan garis wajah yang sangat tegas dan cenderung sangat mengintimidasi, itulah kesan pertama yang Sasuke dapat.

'lambang itu …, sebuah katana dengan tsuba berwarna emas …, cara berpakaian dan jubah yang eksentrik, sebuah aura yang luar biasa, dan juga hawa keberadaan yang mengintimidasi. Ti- tidak mungkin, hanya satu orang di dunia yang seperti itu. Tidak salah lagi, dia … Oda Kazusanosuke Saburou Taira No Ason Nobunaga.'

"Oda Nobunaga," ucap Sasuke dengan perasaan campur aduk.

Oda Kazusanosuke Saburou Taira No Ason Nobunaga adalah nama asli atau nama lengkap dari Oda Nobunaga. Oda sebagai nama klannya, Kazusanosuke sebagai nama alias, Saburou sebagai nama masa kecilnya, Taira sebagai penunjuk garis keturunannya yang menandakan bahwa dia berasal dari klan Taira, No Ason sebagai tradisi, dan Nobunaga sebagai nama pembirian atau nama pertama dalam sistem penamaan modern.

Menyebut nama lengkap atau nama asli seorang daimyo di masa lalu umumnya dilarang dan dinggap tidak sopan oleh masyarakat sosial. Hanya mereka yang dekat dengan orang tersebutlah yang dapat memanggilnya seperti itu, itu pun harus dengan persetujuan dari yang bersangkutan.

Untuk Sasuke, dia beruntung karena dia berhasil menahan hasratnya untuk tidak menyebut nama asli Oda Nobunaga tepat di depan orang tersebut. Karena jika tidak, Oda Nobunaga mungkin sudah memenggal kepalanya.

Nobunaga turun dari kudanya. Dengan langkah yang pasti, dia berjalan menuju tempat Sasuke berada. Hawa keberadaan Nobunaga yang sangat kuat semakin mengintimidasi pemuda Uchiha tersebut ketika daimyo tanah Owari itu semakin mendekatinya. Insting survival Sasuke pun segera berteriak di dalam kepalanya dan tanpa dia sadari, tubuhnya telah bersujud di tanah di hadapan Nobunaga.

Sebagai seorang Uchiha, salah satu konglomerat Jepang, bersujud di hadapan orang lain tentu sangat memalukan. Namun, yang di hadapan Sasuke sekarang bukan sekedar orang lain biasa, tetapi Oda Nobunaga!

"Kau …, remaja dengan penampilan yang aneh. Katakan, siapa namamu?" tanya Nobunaga dengan suaranya yang bariton.

"Nama saya … Uchiha Sasuke."

Mendengar jawaban itu, membuat Nobunaga mengernyit heran.

"Uchiha? Jangan bercanda, mereka sudah musnah saat Perang Onin dulu," balas Nobunaga yang sedikit geram karena menduga remaja di hadapannya ini berusaha membodohinya.

Sementara itu, Sasuke yang masih bersujud, tidak mengerti maksud Nobunaga. Hingga beberapa detik kemudian, barulah Ia tahu apa yang dimaksud oleh pria terasebut.

Uchiha, jika dilihat dari bagaimana cara pengucapannya, itu akan terdengar seperti Klan Uchiha yang hidup di Periode Heian sampai akhirnya musnah ketika Perang Onin 100 tahun yang lalu. Klan Uchiha yang dimaksud Nobunaga adalah salah satu keturunan dari Klan Taira, lebih tepatnya dari garis keturunan Taira no Masakado. Yang berarti, Klan Uchiha yang dimaksud Nobunaga adalah klan yang bisa dibilang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Klan Oda, yang juga sama-sama keturunan dari Klan Taira.

Namun, sebenarnya, nama "Uchiha" yang dimiliki Sasuke itu berbeda dengan "Uchiha" yang dimaksud Nobunaga. Keduanya memiliki cara pengucapan yang sama, tetapi kanji yang dipakai sangatlah berbeda.

Metode penamaan seperti ini sangat umum di peradaban modern. Banyak nama keluarga di zaman modern yang terdengar sama seperti nama keluarga di Periode Sengoku. Contoh paling umumnya adalah nama Oda itu sendiri. Di zaman modern, nama "Oda" pada Oda Eichiiro—pengarang One Piace—memiliki kanji yang berbeda dengan "Oda" pada Oda Nobunaga.

Namun, alasan seperti itu tidak bisa dipakai oleh Sasuke. Dia tidak mungkin bilang ke Oda Nobunaga bahwa dia dari masa depan. Akhir terburuk yang bisa dia terima mungkin adalah dia akan dicap sebagai penyihir sesat dan dijatuhi hukuman mati.

"Sa- saya dibesarkan di Nanban."

"Nanban, huh?" gumam Nobunaga sambil mengobservasi Sasuke yang masih bersujud.

Nanban, sebuah istilah yang digunakan oleh orang-orang di Periode Sengoku untuk menyebut orang Eropa yang mengambil jalur perdagangan di wialayah Selatan Jepang. Dalam buku-buku sejarah, Nanban lebih merujuk ke kelompok pedagang Eropa yang berinteraksi langsung dengan masyrakat lokal di masa Perode Sengoku. Orang-orang Nanban sering kali disematkan untuk sebagian kecil orang Kyuushu Selatan, Tiongkok, Ryukyuu—Di masa modern menjadi Okinawa—hingga beberapa wilayah di Utara Asia Tenggara.

Sasuke memilih Nanban sebagai alasannya pun bukan tanpa dasar. Tidak banyak orang Jepang di masa Periode Sengoku, khususnya di pulau Honshu yang berinteraksi langsung dengan pedagan Eropa. Selain itu, orang-orang Selatan Kyuushu juga dianggap sebagai orang-orang bar-bar. Jadi, karena sedikitnya informasi tentang Nanban yang dimiliki orang-orang di Periode Sengoku, membuat Sasuke berpikir bahwa itu adalah alasan yang tepat untuk latar belakangnya.

"Uchiha yang selamat dan dibesarkan di Nanban. Kau memiliki gaya rambut yang aneh, pakaianmu juga tidak biasa," ujar Nobunaga yang masih mengobservasi, "Angkat kepalamu, anak muda."

Mendengar perintah itu, Sasuke dengan hati-hati mengangkat kepalanya dan menghadap langsung ke Nobunaga. Namun, satu-satunya yang dia dapat adalah wajah kemarahan Nobuanga.

"SIAPA SEBENARNYA KAU INI?" ucap Nobunaga dengan pedang yang secara cepat dihunuskan ke muka Sasuke.

Bagi Sasuke yang hidup di era perdamaian di mana semua serba enak dan nyaman, kecepatan Nobunaga menghunuskan pedangnya itu seperti sebuah kedipan mata. Dalam hal ini, Sasuke benar-benar yakin, dia tidak akan bisa bertahan hidup di dunia negara-negara berperang tanpa adanya dukungan dari siapa pun.

Dengan menundukkan kembali kepalanya dalam-dalam, Sasuke mebalas pertanyaan Nobunaga.

"A- aku bukan orang yang penting, aku bersumpah."

"Kalau begitu, di mana kampung halamanmu?" tanya Nobunaga.

"Nenek saya hanyalah pelayan yang mengandung ayah saya dan melarikan diri ke Kyuushu saat Perang Onin terjadi. Saat ayah saya dewasa, dia pergi dengan orang-orang Nanban ke Ming dan menikah dengan warga setempat hingga memiliki saya. Saya pun dibesarkan di perkampungan Nanban di Selatan Ming, hingga akhirnya saya kembali lagi ke sini, ke tanah Hinomoto ini," balas Sasuke dengan alasan yang dia buat-buat.

'Maafkan aku. Aku terpaksa berbohong untuk bertahan hidup,' batin Sasuke yang sedikit bersalah karena menyebut keluarganya seorang pelayan.

"Tuanku, ucapannya benar-benar mencurigakan, anak ini mungkin mata-mata yang dikirim Klan Saito," ucap salah seorang prajurit di sisi Nobunaga.

Klan Saito, merupakan sebuah klan yang memerintah Provinsi Mino—sekarang menjadi Prefektur Gifu—dan merupakan musuh terdekat Nobunaga saat ini.

'Jika Nobunaga masih bermusuhan dengan Klan Saito, itu berarti aku berada di tahun sebelum 1567 Masehi. Dengan kata lain, usia Nobunaga sekarang setidaknya kurang dari 31 tahun,' batin Sasuke yang berusaha menguraikan informasi sebanyak-banyaknya.

Meskipun dalam kondisi di bawah tekanan dan kepalanya sedang sangat panik bukan main, tetapi Sasuke tetap berusaha mendapatkan informasi apa pun yang dia bisa.

Namun, mendengar tuduhan salah seorang prajurit di sebelah Nobunaga, harus membuatnya menyingkirkan berbagai macam pemikiran yang tidak perlu. Sangat gawat jika dia dicurigai sebagai mata-mata, karena itu akan menjadi akhir dalam hidupnya. Oleh sebab itu, dia harus memikirkan jalan keluarnya secepat mungkin jika dia masih ingin hidup.

'Satu-satunya nilai paling berharga di sini adalah ketrampilan militer, tetapi aku tidak memilikinya sama sekali. Aku tahu masa depan, tetapi aku tidak dapat mengatakan apa yang terjadi kepada Nobunaga. Satu-satunya pengetahuanku yang berharga adalah sains dan teknologi, tetapi itu tidak akan berguna karena orang di zaman ini masih buta akan hal itu. sial, tidak ada hal yang bagus … ."

Saat pikirannya sedang buntu, tiba-tiba Ia teringat salah satu kemampuan yang dia miliki. Sebuah keunggulan yang tidak begitu Ia sukai dan tidak akan Ia tekuni jika itu bukan karena tuntutan keluarganya.

Dengan tarikan napas yang dalam, Sasuke pun mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke Nobunaga.

"Saya tidak dapat menggunakan pedang, tombak, atau kunai. Tidak mungkin orang seperti saya menjadi mata-mata. Seperti yang saya katakan, saya adalah seorang Uchiha, meskipun saya hanyalah keturunan hasil hubungan gelap dari pelayan, tetapi darah Klan Taira masih mengalir di tubuh saya dan itulah yang membawa saya kembali ke tanah Hinomoto ini."

Oke, dua kalimat yang terakhir itu hanyalah bualan Sasuke. Jika dia tidak dapat bertarung secara fisik, dia akan mengguanakan mulut dan otaknya untuk bertahan hidup.

"Apa maksudmu?" tanya Nobunaga.

"Klan Taira adalah Klan yang pernah menguasai Hinomoto di masa lalu. Setelah Klan Taira runtuh, berbagai konflik telah terjadi di tanah leluhur para Dewa ini. Karena itulah, saya berniat kembali ke Hinomoto untuk melayani Daimyo dari garis keturunan Taira dan membantunya untuk menyatukan Hinomoto kembali. Fakta bahwa saya dihadapkan kepada seorang Oda Nobunaga, ini pasti takdir yang dikehendaki oleh Surga."

"Hahahaha … membantuku menyatukan negeri ini, katamu? Kau, yang mengaku tidak dapat memegang pedang dan tombak, apa yang bisa kau lakukan untukku?"

Sasuke meneguk ludahnya kasar dan membalas, "Saya memiliki pengetahuan di bidang agrikultur dan saya yakin, itu akan sangat berguna untuk Anda."

Bukan Nobunaga, tetapi prajurit di sampingnya yang bereaksi pertama kali.

"Agrikulutur? Apa-apaan itu? Apa kau sedang becanda di—."

"Diam," ujar Nobonaga yang memotong ucapan prajuritnya

Pandangan matanya menatap lurus ke arah remaja Uchiha tersebut, berusaha mencari celah di antara sepasang netra hitamnya. Namun, tidak ada setitik pun keraguan dia temukan.

Itu wajar, tentu saja. Meskipun Sasuke terintimidasi, tetapi Ia percaya diri dengan apa yang dia ucapkan barusan. Mungkin dia tidak begitu menyukai agrikultur, tetapi itu bukan berarti dia tidak memiliki ilmunya. Keluarganya adalah penyuplai bahan pangan terbesar di Jepang, mulai dari bahan pangan pertanian hingga perairan. Bahkan, dia telah dituntut belajar agrikultur dengan keras sejak kakaknya menolak meneruskan bisnis keluarga.

Selain itu, ilmu agrikultur yang dia miliki berbeda dengan ilmu pertanian secara konvensional. Keluarganya telah menegembangkan berbagai teknik pertanian yang didorong dengan perkembangan teknologi dan sains, itu secara otomatis membuat produktivitasnya jauh lebih tinggi dari metode pertanian konvensional. Meskipun di era tempatnya berada saat ini tidak ada teknologi mesin yang membantunya, tetapi itu masih dapat diganti dengan jumlah manusia hingga tahap tertentu.

Terlebih lagi, di tas sekolah yang dia lempar tadi, masih terdapat benih yang telah dikembangkan menggonakan metode propagasi modern untuk penyeleksian benih-benih unggul. Masalahnya saat ini adalah Sasuke sudah melempar tasnya, sehingga benih-benih itu tidak berada di tangannya saat ini. Namun, itu seharusnya tidak menjadi masalah. Dia masih ingat dengan jelas di mana dia melempar tasnya tadi. Jadi, dia tidak terlalu khawatir akan kehilangan jejaknya.

Terlebih, Nobunaga saat ini masih belum menaklukkan Mino. Itu berarti, Nobunaga yang sekarang bahkan belum menyatukan seluruh Owari. Dengan kata lain, bahkan jika Sasuke dibawa ke kediaman Nobunaga, tempatnya pasti tidak jauh dari sini. Jadi, dia bisa menyelinap dan mencari tasnya.

Meminta bantuan? Tidak, itu adalah pilihan terakhirnya. Di dalam tas Sasuke terdapat beberapa buku sejarah dan juga katalog senjata. Jika sampai buku-buku itu jatuh ke tangan Nobunaga, Sasuke tidak dapat memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi nantinya.

"Sasuke, apa teknologi agrikulturmu itu juga teknologi Nanban?"

"Ya, dengan improvisasi dan penelitian yang sudah saya lakukan sendiri, tentu saja," balas Sasuke dengan serius, "Jadi, jika bisa saya katakan secara sederhana, ini adalah teknologi yang belum ada di Hinomoto untuk saat ini … atau bahkan mungkin dunia."

Oda Nobunaga terus memandangi Sasuke dengan matanya yang semakin menyipit. Banyak skenario-skenario yang sudah dia pikirkan, tetapi banyak juga risiko-risiko yang meunggunya jika ini semua ternyata hanya sebuah bualan. Namun, jika itu memang benar-benar nyata … .

'Jika ini sebagus yang dia katakan, itu akan dapat meningkatkan jumlah produksi dan akan membawa Owari menjadi negeri yang kaya. Kemudian, itu akan meningkatkan jumlah manusia dan secara otomatis akan menambah jumlah prajurit. Jika pertanian dan produktivitasnya meningkat, itu juga akan mencegah pemberontakan oleh rakyat dan bahkan prajurit dari kalangan petani. Namun, jika ini semua hanyalah omong kosong dan dia adalah mata-mata, Owari bisa hancur dengan sekjap mata,' batin Nonunaga.

Baginya, ini adalah sebuah perjudian besar. Keputusan hari ini mungkin akan membawa malapetaka di kemudian hari. Namun, jika semua berjalan sesuai harapan, keputusan hari ini juga bisa membawa kejayaan di masa depan.

"Baiklah, aku terima bakatmu," ujar Nobunaga, "Uchiha Sasuke, mulai hari ini, kau akan melayaniku. Momen di mana kau meninggalkanku adalah momen di mana kau sudah mati. Kau harus hidup untuk bekerja dan melayaniku, mengerti?"

Sasuke, di antara berbagai emosinya saat ini, dia benar-benar tidak menyangka akan melayani Nobunaga. Dia memang sempat berkhayal untuk menjadi samurai yang melayani Tokugawa Ieyasu, tetapi Oda Nobunaga adalah sesuatu yang sangat berbeda. Terlebih, dia melayani Nobunaga bukan sebagai seorang samurai, tetapi sebagai seorang yang akan meningkatkan produktivitas pertanian.

Sebuah bidang ilmu yang tidak begitu Ia sukai, ilmu yang tidak begitu Ia minati dan hanya belajar karena itu tuntutan keluarganya. Namun, tidak disangka sama sekali, bahwa ilmu itulah yang membuat kepala Sasuke masih melekat dengan lehernya sekarang.

"Baik, Nobunaga-sama," ucap Sasuke dengan jelas.

~~Bersambung~~


Author Note : Haloo, bertemu lagi denganku. Yaahh, jujur saja, aku gak tahu apakah aku seharusnya bikin fict ini atau enggak. Ini adalah fict pertamaku di fandom Naruto sih (tanpa x-over). Bahkan, di akunku yang lama, aku gak pernah nulis di sini wkwk.

Aku nulis ini setelah selesai baca manga Sengoku Komachi dan tiba-tiba pengen banget nulis Sasuke di era Sengoku. Untuk plot, yah, aku mungkin akan ngikut dengan plot Sengoku Komachi. Intinya, aku hanya menggunakan Sasuke sebagai MC dan sisa plot utamanya mungkin akan ngalir ngikutin plot Sengoku Komachi, tentu saja dengan perubahan sedikit di sana-sini.

Oke, pertama-tama, kenapa MC nya Sasuke? Karena menurutku dia yang paling cocok. Dia punya rambut hitam, mata hitam, dan bentuk mata yang kecil khas orang Asia. Maksudku, gak mungkin kan aku pakai Naruto yang perawakannya justru cenderung perawakan orang Barat? Karena fict ini nuanasa kental sejarah Jepang dan karakternya harus dari Jepang, jadi aku pikir Sasuke dengan segala perawakannya sangat pas.

Kemudian, karakter yang muncul nanti semuanya adalah karakter-karakter dari sejarah. Jadi, sangat kecil kemungkinan karakter original Naruto muncul. Yah, mungkin akan ada beberapa, tetapi itu gak akan menjadi karakter jendral perang atau politikus.

Selain itu, Owari, tempat Sasuke "jatuh" saat ini adalah tempat yang mana sekarang menjadi sebagian Prefektur Aichi. Jika kalian pergi ke Jepang, ini mungkin akan menjadi prefektur yang samgat romantis. Aku sih ngerasainnya gitu ya, gak tau kalau kalian nanti ngerasainnya gimana jika pergi ke Aichi. Selain Owari, nama tempat yang sering muncul nanti mungkin adalah Hinomoto. Hinomoto ini adalah cara penyebutan Jepang di masa lalu.

Oke, kembali lagi ke cerita. Paruh pertama chapter ini aku gunakan sebagai pengenalan karakter Sasuke lebih. Selain itu, jangan berharap bahwa Sasuke akan menjadi samurai hebat yang mengayunkan pedang dan tombak ke sana-sini. Sejak awal sudah jelas, bahwa orang dari era yang damai seperti Sasuke akan mati begitu saja jika bertarung dengan pedang dan tombak. Namun, di sisi lain, Sasuke juga memiliki kelebihan selain otaknya yang moncer. Apa itu? yah, kalian bisa menemukan jawabannya nanti, tapi hint nya sudah aku kasih tahu di chapter ini kok wkwk.

Oke, itu saja dariku. Jika ada yang bingung atau ingin ditanyakan, kalian bisa bertanya via review. Terima kasih untuk yang sudah membaca dan tolong tinggalkan jejak kalian berupa review, karena review kalian adalah penyamangatku. Terima kasih dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.