Naruto by Masashi Kishimoto
Genre : History, Slice of Life
Summary : Uchiha Sasuke, seorang remaja yang tiba-tiba mengalami lompatan waktu dan pergi ke masa lalu, ke masa Periode Sengoku. Tanpa memiliki kemampuan berpedang, bagaimana dia bisa bertahan di puncak era para samurai tersebut?
Chapter 2 : Tahun Kedelapan Era Eiroku, Pertengahan Maret Tahun 1565.
—OoOoO—
Setelah pertemuannya dengan Oda Nobunaga, Sasuke dibawa olehnya ke kastel Nobunaga. Jarak lokasi pertemuannya terbilang cukup jauh karena dia harus berjalan berjam-jam hingga akhirnya sampai ke kastel Nobunaga. Pada awalnya, Sasuke bahkan tidak tahu ke mana Ia akan dibawa. Namun, setibanya di kastel, dia dengan cepat berusaha mencocokkan pemandangan kastel di depannya dengan bangunan kastel yang ada di ingatannya di era modern.
Fakta bahwa Nobunaga belum menaklukkan Mino dan ada kemiripan berbagai aspek kastel tersebut dengan yang ada ingatan Sasuke, Ia sangat yakin bahwa itu adalah Kastel Kiyosu. Meskipun Kastel Kiyosu yang Sasuke tahu telah mengalami banyak renovasi di era modern sehingga ada beberapa aspek yang berbeda dengan kastel yang Ia lihat sekarang, tetapi tidak salah lagi, itu adalah Kastel Kiyosu, kastel yang telah melindungi keluarga Oda sebelum akhirnya Oda pindah ke Mino.
Tentu saja, ada banyak tentangan dan ketidaksukaan ketika Nobunaga membawa anak yang asal-usulnya tidak jelas menjadi salah pengikutnya. Namun, Nobunaga adalah Nobunaga, dia akan melakukan apa pun yang Ia inginkan saat dia sudah memantapkan hatinya.
Begitulah akhirnya Sasuke berakhir menjadi seperti ini. Setelah menghabiskan waktu beristirahat semalam dan berganti pakaian di salah satu kamar pelayan, dia pun diberangkatkan menuju ke sebuah desa untuk memulai pengabdiannya.
Dengan busana yang sangat berbeda dengan seragam sekolahnya yang dia pakai kemarin, saat ini Sasuke menggunakan sebuah yukata berwarna biru gelap sebagai atasannya dan celana kain berwarna hitam sebagai bawahan. Ia juga mengenakan tasuki untuk mengikat lengan yukata-nya agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk alas kaki, Ia mengenakan kaus kaki sekolahnya yang berwarna hitam dan sandal yang umum digunakan di Periode Sengoku.
"Mulai sekarang, laki-laki di sebelahku ini akan menjadi kepala desa di sini," ujar Mori Yoshinari dengan suara baritonnya kepada para warga desa yang duduk di tanah dengan kaki ditekuk ke belakang.
Mori Sanzaemon Yonshinari atau yang lebih umum dikenal dengan Mori Yoshinari. Dia memiliki banyak julukan dan disebut-sebut sebagai pengikut Nobunaga terkuat. Namun, di antara banyaknya julukan yang dia miliki, Yoshinari lebih bangga saat dia disebut sebagai pengikut paling setia Oda Nobunaga. Baginya, tidak ada yang lebih berharga dari kesetiaannya terhadap Nobunaga. Di era di mana pencapaian pribadi dalam perang lebih dipentingkan, Mori Yoshinari dikatakan sebagai seorang samurai yang tidak akan segan membuang segalanya—bahkan pencapaiannya dalam medan perang—untuk kemenangan Prajurit Oda Nobunaga.
'Jika dilihat sekilas, dia justru terlihat seperti om-om yang cukup bersahabat, sih. Namun, aku pasti akan dipenggal jika mengatakan itu tepat di depan wajahnya,' batin Sasuke.
Sasuke, sebagai seorang maniak sejarah, tentu saja sangat bersemangat saat melihat sosok Mori Yoshinari selama perjalanannya. Dalam catatan pribadi yang dia buat sendiri, Sasuke menganggap Mori Yoshinari sebagai sosok orang yang bijak dengan pemikiran layaknya prajurit modern, di mana dia menganggap kemenangan sebuah tentara jauh lebih penting daripada pencapaian pribadi.
"Kepala desa?"
"Dia … terlihat seperti anak-anak? Akan tetapi, tubuhnya sangat tinggi."
"Apa yang bisa dilakukan anak-anak?"
Ada satu hal yang baru Sasuke ingat saat datang ke tempat ini dan itu menjelaskan kenapa bandit kemarin memanggilnya "anak tinggi", termasuk juga kenapa orang-orang di desa ini yang sempat kebingungan dengan tinggi badannya. Di Periode Sengoku sampai menjelang akhir Periode Edo, tubuh orang-orang Jepang bisa dikatakan sangat pendek. Rata-rata tubuh laki-laki dewasa hanya sekitar 150-an centimeter, bahkan bisa lebih pendek lagi jika laki-laki itu berasal dari rakyat jelata yang kesulitan mendapat makan. Mori Yoshinari yang berada di sebelah Sasuke saat ini, beliau hanya memiliki tinggi sekitar 158 hingga 160 centimeter saja. Bahkan, Oda Nobunaga hanya memiliki tinggi sekitar 165 centimeter saja.
Sementara Sasuke, seorang anak 15 tahun yang memiliki tinggi 170 centimeter, sudah cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya merasa takjub sekaligus sedikit terintimidasi. Meski begitu, Sasuke tetaplah remaja yang bahkan belum lama ini menginjak 15 tahun. Hal itu membuat kontur wajahnya masih terlihat seperti wajah anak-anak. Apalagi, Sasuke yang merupakan anak dari era modern, secara alami memiliki paras yang terlihat lebih rupawan dan bersih dari orang-orang di Periode Sengoku. Jangankan di Periode Sengoku, di era modern saja Sasuke termasuk ke anak yang memiliki wajah jauh di atas rata-rata.
Dengan wajah tampan yang membuatnya terlihat seperti dia hanyalah anak bangsawan yang tidak akan tahu-menahu tentang bercocok tanam, membuat warga desa tersebut menjadi skeptis akan Sasuke yang tiba-tiba ditunjuk sebagai kepala desa mereka.
"Jika kalian tidak suka, desa ini akan diratakan dengan tanah."
Mendengar ancaman dari Mori Yoshinari, membuat semua warga desa yang duduk di hadapannya pun segera bersujud dan menempelkan dahi mereka ke tanah.
"Ka- kami tidak keberatan sama sekali."
Puas dengan jawaban orang-orang desa tersebut, Yoshinari berganti mengalihkan pandangannya ke Sasuke yang berdiri di sampingnya.
"Sasuke-dono, tuanku memiliki banyak ekspektasi kepadamu. Jadi, bekerjalah dengan baik sehingga kau bisa memenuhi ekspektasi itu."
"Saya mengerti," balas Sasuke sambil membungkukkan badannya 70 derajat.
"Ini adalah upahmu untuk saat ini," ujar Yoshinari sambil menunjuk setumpuk beras yang dibungkus dengan komedawara [1], "Aku akan meninggalkan beberapa prajurit di sini yang akan berjaga-jaga jika ada masalah. Kau bisa memberikan perintah kepada mereka."
'Dengan kata lain, prajurit-prajurit itu ada untuk mengawasiku, huh?' batin Sasuke yang dapat dengan mudah memahami makna di balik keberadaan beberapa prajurit itu.
Setelah mengatakan itu, Yoshinari pun pergi menunggangi kudanya degan dikawal oleh prajurit-prajuritnya, meninggalkan Sasuke seorang diri di hadapan orang-orang yang sangat asing baginya. Di era modern, Sasuke sudah beberapa kali bertemu rekan-rekan bisnis keluarganya sehingga Ia cukup terbiasa berinteraksi dengan orang yang baru Ia temui. Namun, itu semua dia lakukan sebagai Uchiha Sasuke, pewaris selanjutnya konglomerat Uchiha, menggantikan kakaknya yang lebih ingin berpolitik daripada meneruskan bisnis keluarga. Hal tersebut membuatnya lebih mudah didengar dan diperhatikan oleh orang lain meskipun dia hanya anak-anak
Sedangkan saat ini, dia hanyalah Uchiha Sasuke yang sama sekali tidak memiliki latar belakang. Orang-orang hanya menganggapnya sebagai anak bau ingus yang entah muncul dari mana. Terlebih, para pengikut Nobunaga sepertinya banyak yang tidak menyukai Sasuke karena dia adalah anak tanpa pencapaian apa-apa, tetapi justru diberi kepercayaan Nobunaga dalam membangun sebuah desa.
Sasuke menghela napas lelah dan berusaha menyingkirkan pikiran negatifnya. Ia kembali menatap ke arah orang-orang desa tersebut untuk memastikan tenaga manusia yang dia miliki.
'Terlepas dari rencanaku yang berusaha menggunakan tenaga manusia dengan efisien …, orang-orang ini justru terlihat sangat kurus dan kurang gizi. Sial, aku lupa kalau orang-orang di Periode Sengoku banyak yang kekurangan nutrisi.'
Secerdas dan seluar biasa apa pun pengetahuan Sasuke, dia masihlah seorang anak yang belum lama ini menginjak 15 tahun. Hal tersebut terkadang membuat pikiran naifnya keluar tanpa Ia sadari. Sasuke sempat berpikir, bahwa Ia akan baik-baik saja meskipun tidak ada mesin karena dia bisa menggantinya dengan tenaga manusia. Namun, itu adalah pemikiran yang sangat naif.
Sasuke tahu akan fakta bahwa mal-nutrisi banyak terjadi di Jepang, bahkan sampai tahun 1970-an. Keluarga Sasuke adalah penyuplai logistik bahan pangan terbesar di Jepang. Hal itu membuatnya dapat mengakses data ketersediaan pangan dan kondisi masyarakat di Jepang. Meski dia enggan untuk mengetahui data tersebut, orang tuanya akan memaksa Sasuke untuk mempelajari data-data itu.
Namun, sekali lagi, Sasuke tetaplah seorang anak-anak, dia mencintai sejarah dan terkadang rasa cintanya itu menimbulkan delusi romansa yang tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Bahkan, meskipun Sasuke sadar betul dengan kenyataan sejarah yang ada, tetapi jika sekali dia menganggap bahwa "Periode Sengoku sangat keren", pemikiran-pemikiran bias lainnya pun akan saling tumpang tindih dengan fakta sejarah yang ada. Kondisi manusia yang saat ini Sasuke hadapi pun salah satu efek bias dari pemikiran romansa Sasuke akan sejarah.
Meskipun begitu, beruntung baginya karena hari ini dia dapat belajar bahwa dia harus benar-benar menghadapi masalah-masalah yang akan datang tanpa melibatkan pemikirannya yang bias.
"Pertama-tama, perkenalkan, namaku Uchiha Sasuke, salam kenal," ucapnya sambil membungkuk ke arah warga desa. "Dengan teknologi Nanban, mari mengincar jumlah panen yang melimpah."
"Itu suatu kehormatan."
"Senang bertemu denganmu, tuan."
Sambutan-sambutan hangat diterima oleh Sasuke. Namun, tentu saja, tidak semua orang suka dengan kedatangan Sasuke yang tiba-tiba.
"Kenapa kita harus mendengarkan kata-kata seorang anak? kulitmu bahkan terlalu mulus untuk tahu apa itu bertani," ujar salah seorang pria dewasa.
Ucapan pria itu seperti sebuah gelombang yang akan memancing gelombang lain dan bersatu membentuk sebuah gelombang yang besar. Karena tidak lama setelah itu, muncul banyak protes satu-persatu yang menyuarakan ketidaksukaan mereka dipimpin oleh anak belasan tahun.
Akan tetapi, penolakan ini adalah sesuatu yang sudah Sasuke duga. Karena dia tahu, di masa-masa sejarah dimulai, status sosial seorang anak dan perempuan bisa dikatakan sangat rendah. Di masa itu, perempuan dianggap tidak memiliki hak dan cenderung diperlakukan seperti sebuah debu. Bahkan, wanita bangsawan sekali pun hanya dipandang sebagai sebuah alat politik saja.
Akan tetapi, sejarah selalu mencatat, tidak peduli di masa apa pun itu, akan selalu ada orang-orang yang berpikiran lebih terbuka dari masanya.
"Hei, kau seharusnya berperilaku lebih baik kepada Kepala Desa! Jika bukan karenanya, desa ini sudah rata dengan tanah," ucap salah seorang perempuan muda.
"Diam! Perempuan dan anak-anak lebih baik diam saja. Kalian tahu apa soal pekerjaan ini, ha?"
"Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan Mori-sama? Sasuke-sama adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Oda-sama, kau tahu?"
"Peduli setan dengan itu! memangnya, apa yang bisa dilakukan anak yang bahkan tidak tahu kerasnya hidup seperti dia?"
Meskipun menjadi topik utama perdebatan, Sasuke tidak ambil pusing dan tidak berniat melerai. Dia memang sengaja membiarkan perdebatan tersebut selama mereka tidak saling berkelahi satu sama lain. Ini bukan karena Sasuke adalah orang yang cuek atau semacamnya, tetapi karena dia ingin mendengar langsung keluhan yang dimiliki warga desa terhadap dirinya.
Saat Ia melirik ke arah beberapa prajurit yang ditinggalkan oleh Mori Yoshinari, dia mendapati bahwa beberapa dari mereka menikmati keributan ini dan bahkan ada yang memandang rendah Sasuke.
'Baguslah mereka terang-terangan tidak menyukaiku. Jadi, aku tidak perlu menahan diri kepada mereka nanti.'
"Tahun ini, kami, para laki-laki, akan melakukan dengan cara kami sendiri!" teriak salah seorang pria.
Dengan teriakan itu, sekaligus menjadi akhir perdebatan antara dua kubu tersebut. Sementara kubu Anti-Sasuke meninggalkannya, sedangkan kubu yang menyambut keberadaannya tetap berada di sisinya.
"Biarkan saja kepala batu itu pergi! Kita juga bisa melakukan dengan cara kita sendiri," ucap salah seorang wanita yang berada di kubu Pro-Sasuke.
Sedangkan si remaja belasan tahun yang mendadak menjadi kepala desa itu, hanya menghela napas dan memperhatikan orang-orang yang masih tersisa. Ia menyisir rambut emo-nya ke belakang dengan kasar menggunakan tangan, menunjukkan bahwa Ia pun sebenarnya juga sedikit kesal.
'Hanya sepuluh wanita dan tiga pria yang tersisa, huh? Itu pun para prianya sudah berusia paruh baya,' batin Sasuke.
"Untuk sekarang, aku akan berkeliling dan melihat-lihat sekitar dulu," ujar Sasuke yang dibalas dengan anggukan orang-orangnya.
—OoOoO—
Saat Ia berkeliling desa, dia dapat menyimpulkan bahwa kondisi desanya ini terbilang sangat buruk, hal tersebut sesuai dengan perkataan Nobunaga sebelum Sasuke berangkat kemari. Desa ini hanya memiliki sepuluh kepala keluarga, dengan total penduduknya hanya 30 orang. Selain itu, jumlah anak kecil di sini sangat-sangat sedikit, bahkan Sasuke dapat menghitungnya menggunakan satu tangan. Desa ini juga hanya memiliki dua ekor sapi saja. Sedikit ke selatan desa, ada seorang pengrajin besi dan kayu. Sasuke sangat bersyukur dengan adanya orang ini, karena Sasuke nanti akan mengandalkannya untuk membuat peralatan-peralatan pertaniannya.
Berdiri di atas lahan pertanian yang belum dibajak, Sasuke pun berjongkok dan mengambil sampel tanah menggunakan tangannya sendiri.
"Tanahnya tidak terlalu subur, tetapi secara keseluruhan, masalahnya bukan ada di tanah karena tanahnya itu sendiri tidak terlalu buruk."
Ada banyak faktor yang menyebabkan tanah menjadi tidak subur, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan tanah yang seharusnya memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi, tetapi nutrisi di dalam tanahnya justru menghilang sehingga menyebabkan tanah tidak terlalu subur. Dalam kasus ini, hanya dengan melihatnya sekilas, Sasuke tahu apa yang menyebabkan tanah desa ini tidak terlalu subur meskipun memiliki kondisi tanah yang tidak terlalu buruk.
Dari topografi desa ini, tanah yang digunakan untuk rumah-rumah warga berada di tanah yang datar. Sementara itu, di tengah-tengah desa terdapat sebuah sungai. Sedangkan untuk area persawahan, tanah yang digunakan justru merupakan tanah yang miring. Tanah yang miring secara alami akan menghilangkan nutrisi-nutrisi yang berada di tanah. Apalagi jika saat hujan, aliran air akan menyapu bersih nutrisi tanah menuju sungai dan akan membuat tanah benar-benar tidak subur.
"Kemiringan tanahnya tidak terlalu curam, mungkin hanya sekitar tiga sampai lima persen. Setidaknya, ini bisa diakali dengan membuat terasering kridit. Namun, aku masih perlu membuat kompos untuk mengganti nutrisi tanah yang hilang."
Terasering kridit, terrace ridges, atau ridges-field. Ini adalah metode yang sering digunakan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Umumnya digunakan di tanah dengan kemiringan tiga sampai sepuluh persen. Mereka yang menerapkan terasering kridit akan membajak tanah dengan lebih dalam dari biasanya, sehingga seolah-olah membentuk seperti garis-garis gundukan tanah sepanjang sawah. Jarak antar gundukannya dan tinggi gundukannya selalu bervariasi antar petani satu dengan yang lain karena pembuatannya tergantung dengan jenis tanaman dan kondisi kemiringan lahan.
—OoOoO—
Selesai menginspeksi desa, Sasuke kembali mengumpulkan kembali warga desanya yang masih bersedia bekerja di bawahnya, termasuk juga si pengrajin besi dan kayu. Pertama-tama, dia menyuruh si pengrajin untuk membuat bak dari kayu berbentuk bulat berukuran dua lengan orang dewasa.
"Dengan bahan yang kita miliki, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membuat tiga bak?"
"Itu bukanlah sesuatu yang sulit, sore nanti kurasa sudah selesai," balas si pengrajin kayu tersebut dan mendapat anggukan kepala dari Sasuke.
"Aku akan mengumumkan sesuatu," ucap Sasuke kepada warganya, "Penanaman akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Namun, mulai besok kita akan melakukan pembajakan tanah. Kita akan membuat sistem yang bernama terasering kridit."
"Terasering … kridit?" gumam orang-orang yang tidak mengerti ucapan Sasuke.
Terasering pertama dicatat dalam sejarah digunakan oleh bangsa Babilonia. Akan tetapi, itu hanyalah sebuah bak berpetak untuk konstruksi dan bukan untuk pertanian. Barulah pada sekitar tahun 1000 Masehi, orang-orang dari pegunungan Andes di Amerika Selatan menggunakan sistem yang diduga sebagai terasering pertama di dunia pertanian. Namun, metode tersebut masih cukup primitif karena pengaturan sudut kemiringannya tidak terlalu diperhatikan dengan detail. Hingga akhirnya pada abad ke-15 sampai 16, penggunaan terasering mulai banyak digunakan di berbagai tempat.
"Aku akan mengajarkan caranya membajak yang sesuai dengan terasering kridit besok pagi," balas Sasuke, "Dan juga, saat pembuatan ember dan kotak kayu sudah selesai, aku ingin kalian kembali berkumpul di sini, aku akan mengajarkan kalian cara membuat kompos."
"Komuposu?"
'Oh, benar, kompos belum diperkenalkan di era ini.'
Sasuke mengangguk dan berkata, "Untuk yang lain, bisakah kalian membuat ember kayu yang cukup besar? Kira-kira setinggi pinggangku kalau bisa. Semakin tinggi dan besar akan lebih bagus, tetapi tidak sampai itu juga tidak masalah. Kita bisa membuatnya secara bertahap nanti. Tolong buatkan juga kotak kayu berukuran sedang."
"Kenapa tidak sekalian membuat lima bak besar saja, kepala desa?"
"Bak itu nanti akan digunakan untuk menanam bibit tanaman, sedangkan ember besar dan kotak kayunya akan digunakan untuk membuat kompos."
Mendengar jawaban Sasuke, semua warga desa yang bersama dengan Sasuke hanya bisa mengeluarkan bunyi "oooh" dari mulut mereka meskipun mereka tidak tahu maksud Sasuke dan tidak tahu apa itu kompos sama sekali.
"Baik, itu saja untuk saat ini. Ingat, kita akan berkumpul sore nanti di sini."
Dengan ucapan tersebut, Sasuke pun membubarkan warganya dan pergi ke tempat yang sangat ingin dia kunjungi sejak awal.
—OoOoO—
Satu-satunya yang membuat Sasuke merasa lega setelah pergi dari kastel milik Nobunaga, adalah fakta bahwa desa yang menjadi tempat pengabidannya tidak jauh dari tempatnya "jatuh" di era ini. Berjalan selama kurang dari satu jam ke Utara, dia sudah sampai di gunung tempat pertama kali dia membuka mata. Hal tersebut benar-benar membuat Sasuke merasa tenang karena Ia dengan cepat dapat menemukan jalan masuk ke gunung yang sempat dia lewati saat pergi ke Kastel Kiyosu kemarin. Hanya dengan melihat jalan masuknya saja, otak cerdas Sasuke sudah secara otomatis mengingat berbagai jalan dan tempat dia melempar tasnya kemarin.
Setelah satu setengah jam Sasuke masuk ke gunung, dia pun akhirnya menemukan tas sekolahnya. Tasnya berada di cekungan tanah di dekat akar pohon, sehingga tidak akan ditemukan orang kecuali orang tersebut benar-benar memperhatikan sekitarnya dengan teliti.
"Baru satu hari, tetapi ini sudah sedikit kotor dan basah."
Sasuke duduk di salah satu tonjolan akar pohon yang menurutnya cukup nyaman untuk menjadi tempat peristirahatannya sejenak. Ia tidak tahu, sudah berapa banyak langkah kaki yang dia lakukan sejak datang ke era ini. Yang jelas, sejak dia pergi ke Kastel Kiyosu kemarin dan pergi ke desa yang dimandatkan Nobunaga kepadanya hari ini sampai pergi mencari tasnya di gunung, semua itu Sasuke lakukan dengan berjalan kaki. Nobunaga dan Yoshinari memang menunggangi kuda sebagai transportasinya, tetapi orang tanpa latar belakang yang tiba-tiba dipungut oleh Nobunaga seperti Sasuke tidak akan memiliki hak khusus untuk menunggangi kuda. Hal itu membuat sendi-sendi di kedua kakinya terasa seperti ingin lepas saja.
Sasuke adalah orang yang hidup nyaman di zaman modern. Meskipun warga Jepang terkenal dengan rata-rata langkah kaki hariannya yang terbilang banyak dan Sasuke sendiri yang ke mana-mana lebih nyaman berjalan dan menggunakan transportasi umum walaupun dia berasal dari keluarga konglomerat, tetapi intensitasnya dalam berjalan kaki sehari-hari tidak bisa dia bandingkan dengan intensitas berjalan kaki di era Sengoku walau hanya dalam kurun waktu satu hari saja!
"Aku tidak pernah sebenci ini dalam berjalan kaki sebelumnya," ujar Sasuke sambil memijit kedua betis dan telapak kakinya.
Merasa bahwa memijit kakinya hanya akan menambah lelah kedua tangannya, Sasuke pun menghentikan kegiatan itu dan memilih membuka tasnya. Ia mengecek satu-persatu barangnya, memastikan bahwa semua yang di dalamnya masih sama seperti yang dia bawa sebelum terlempar ke Periode Sengoku.
"Aku memiliki benih labu, jagung manis, tomat, bayam komatsuna, dan bawang. Aku bahkan juga memiliki bibit ubi satsumaimo, beniazunma, dan annoimou yang merupakan tiga jenis ubi putih di Jepang. Selain bibit ubi, aku juga memiliki bibit beet sugar dan tebu jenis miscane[2] …—serius, dua bibit ini akan sangat-sangat membantu. Di samping benih dan bibit, aku juga memiliki pisau dapur berukuran medium dan tupperware. Dan tentu saja, buku-buku pelajaran, termasuk juga buku Katalog Perkembangan Senjata dan Perkembangan Revolusi Industri Dalam Kacamata Sejarah dan Sains Jilid II."
Memasukkan kembali buku-buku dan barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan agrikultur ke dalam tas, Sasuke menyisakan benih dan bibitnya yang dia letakkan berjajar di atas tanah. Ia mengelompokkan bibit-bibit dan benih-benih yang dia miliki berdasar dari kemudahan dalam membudidayakannya. Dalam hal ini, Sasuke harus benar-benar selektif karena tanah yang dia miliki tidak terlalu subur, tuntutan Nobunaga yang cukup tinggi, dan hasil panen yang bagus yang perlu dia tunjukkan secepat mungkin. Ditambah lagi, dari inspeksi yang dilakukan Sasuke, dia menyimpulkan bahwa menanam padi adalah hal yang mustahil dilakukan dalam panen musim ini.
Jadi, salah satu pertimbangan yang Sasuke tambahkan dan tidak dapat dia abaikan adalah menanam tanaman pengganti untuk mengganti padi, tetapi tetap memiliki kandungan karbohidrat yang setara atau setidaknya mendekati kandungan karbohidrat yang dimiliki padi. Dalam hal ini, pilihan paling logisnya adalah jagung manis meskipun itu akan sedikit sulit dibudidayakan karena kondisi tanah saat ini.
Walaupun salah satu program utama Sasuke adalah pembuatan kompos untuk menyuburkan tanah, tetapi butuh waktu minimal enam bulan sampai kompos benar-benar matang. Dengan kata lain, penggunaan kompos secara optimal baru bisa dilakukan setidaknya pada tahun depan. Oleh sebab itu, kriteria utama tanaman yang akan Sasuke tanam adalah tanaman yang benar-benar dapat ditanam meskipun kondisi tanah tidak begitu bagus.
"Kalau begitu, selain jagung manis, pilihan yang paling masuk akal adalah ubi dan labu. Keduanya memiliki ketahanan yang bagus di tanah yang tidak begitu subur, khususnya ubi. Selain itu, aku bisa menanam salah satu antara tebu atau beet sugar."
"Namun, hanya ubi, labu, dan jagung saja tidak akan cukup. Aku pun tidak akan menanam beet sugar dalam jumlah besar untuk musim ini," lanjut Sasuke sambal mencubit dagunya, "Meskipun ini akan sulit, mungkin aku bisa menanam tomat juga."
Selain jagung yang menjadi pengganti padi, Sasuke telah menetapkan bahwa ubi akan menjadi panen utama yang akan dia sajikan, sedangkan labu dan tomat akan menjadi pelengkapnya. Ubi memiliki nutrisi yang lengkap dan kemampuan yang bagus untuk tumbuh meskipun di tanah yang tidak begitu subur sekali pun. Pertimbangan itulah yang membuat Sasuke memutuskan bahwa Ubi akan menjadi panen utamanya kali ini.
Sementara itu, tanaman tebu dan beet sugar yang merupakan bahan mentah untuk membuat gula pasir dan gula cokelat atau brown sugar, akan menjadi kartu as Sasuke jika seandainya Nobunaga tidak puas dengan panennya kali ini. Di era ini, gula adalah komoditas mewah yang dapat dijual dengan harga selangit. Hal tersebut tidak hanya berlaku di daratan Jepang, tetapi juga di seluruh dunia. Karena itulah, jika panen utamanya kali ini tidak sesuai dengan harapan Nobunaga, setidaknya, dia bisa menggunakan gula untuk menutupi ketidakpuasan Nobunaga tersebut.
Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat Sasuke dilema akan tebu jenis miscane dan gula bit yang dimilikinya.
"Tebu hanya bisa ditanam di wilayah beriklim subtropis dan tropis. Tempat penanaman tebu di Jepang hanya ada di Kagoshima dan Okinawa. Sementara itu, beet sugar yang termasuk tanaman umbi-umbian, mudah di tanam di berbagai kondisi iklim dan tanah."
Sejak dikembangkannya beet sugar di akhir abad ke-20, banyak penelitian-penelitian yang membandingkan gula hasil dari tanaman tebu dan beet sugar. Jika berbicara tentang gula sebagai produk akhir dari tanaman tebu dan beet sugar, ada dua perbedaan yang paling mendasar antara keduanya.
Gula pasir dari tanaman tebu cenderung memiliki proses produksi yang panjang dan rumit. Setidaknya, gula pasir dari tebu membutuhkan dua proses terpisah hingga benar-benar menghasilkan kristal putih yang umum disebut gula pasir. Belum lagi, pembuatan gula pasir akan cenderung menggunakan material-material lain seperti jeruk nipis hingga tulang hewan yang dibakar sebagai arang. Karena material-material tambahan beserta pemrosesan yang membutuhkan setidaknya dua metode pemrosesan berbeda, membuat biaya produksi gula pasir dari tebu menjadi mahal.
Sementara itu, beet sugar hanya memerlukan satu lapis pemrosesan saja. Pemrosesannya hanya perlu mengiris tipis-tipis buahnya, direbus hingga menjadi sirop yang cukup kental, sarinya akan ditiriskan atau diekstraksi dari sirop, dan kemudian dikeringkan. Proses yang sangat cepat dan hanya membutuhkan satu lapis pemrosesan ini sangat-sangat sederhana dan memangkas banyak sekali biaya produksi jika dibandingkan dengan gula tebu.
Oleh sebab itu, harga gula pasir dari beet sugar cenderung jauh lebih murah dari harga gula pasir yang dihasilkan dari tebu. Bukan hanya itu, sugar beet juga memiliki kandungan sukrosa hingga 18%, itu jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan tebu yang kandungan sukrosanya hanya sekitar 10 hingga 11%. Dengan kata lain, beet sugar dengan jumlah yang sama dapat menghasilkan gula yang jauh lebih banyak dari tebu dengan jumlah yang sama.
Mampu menghasilkan kadar manis yang sama, jumlah yang lebih banyak, dan biaya produksi yang murah, itulah pertimbangan utama Sasuke untuk menanam beet sugar daripada tebu.
Keuntungan lainnya dari beet sugar, kau bisa menanamnya di berbagai kondisi tanah—selama itu bukan tanah yang benar-benar tandus—dan juga dapat bertahan di iklim dingin. Berbeda dengan tebu yang hanya dapat ditanam di iklim tropis dan subtropis, itu pun harus dengan tebu dari genus saccharum atau yang umum disebut dengan tebu jenis saccharum sinense. Tebu jenis inilah yang ditanam di Prefektur Kagoshima dan Okinawa.
Omong-omong, pertanian beet sugar terbesar di Jepang ada di Prefektur Hokkaido dan itu dimiliki oleh keluarga Uchiha. Itulah yang membuat Sasuke dapat memiliki bibit beet sugar yang dia bawa ke sekolah.
Namun, dari berbagai keuntungan tersebut, beet sugar tentu saja memiliki kekurangan jika dibandingkan dengan tebu. Gula cokelat yang dihasilkan oleh pencampuran gula pasir dan molase dari beet sugar cenderung jarang diminati karena rasanya yang pahit dan aromanya yang terlalu kuat jika dibandingkan dengan gula cokelat dari tanaman tebu. Akan tetapi, dari sekian banyak keuntungan yang disediakan, Sasuke berani mengambil beet sugar sebagai komoditas gula yang akan disajikan untuk Nobunaga nanti.
Namun, bukan itulah sumber dilema Sasuke saat ini.
"Tebu miscane, tebu yang baru dikembangkan tahun 2015, persilangan dari tebu saccharum dengan rumput mischantus yang tahan dingin. Persilangan keduanya menghasilkan tebu yang bahkan dapat bertahan di suhu 10º C. Memungkinkannya untuk tumbuh di suhu rendah, sehingga dapat menanamnya di awal Maret dan memanennya di akhir November."
Tebu miscane, adalah sebuah tebu hasil penyilangan antara tebu saccharum dengan rumput mischantus. Penelitian yang pertama kali dilakukan pada 2015 itu dapat memungkinkan tebu mampu bertahan di suhu yang cukup rendah. Meski begitu, dedaunan tebu akan rontok, tetapi warna hijau-kemerahan pada batangnya tidak akan pudar. Yang berarti, tebu tersebut masih dapat berfotosintesis meskipun laju fotosintesisnya menjadi lambat.
Tebu ini dikembangkan atas kerja sama Amerika Serikat, Jepang, Kanada, dan beberapa negara lain. Bahkan, hingga tahun 2022, penelitian-penelitian terkait tebu miscane masih tetap dilakukan untuk mendapat data dan hasil yang lebih valid. Keluarga Uchiha, sebagai salah satu sponsor utama dalam penelitian ini, membuat mereka dapat mengakses bibit-bibit tebu miscane. Saat Sasuke mengatakan akan menanam beberapa tanaman di sekolah untuk bahan ajar, Fugaku memberikan beberapa bibitnya ke Sasuke agar dapat dilakukan praktik budidaya dalam skala kecil.
"Lupakan saja, aku akan menanam tebu sialan ini tahun depan saat aku memiliki persiapan yang lebih matang. Untuk sekarang, beet sugar sudah jauh lebih dari cukup."
Setelah semuanya sudah diputuskan, Sasuke mengemasi benih dan bibitnya kembali untuk dimasukkan ke dalam tas. Saat dia menata bibit dan benihnya agar dapat dimasukkan dengan rapi, matanya tidak sengaja menangkap sampul buku katalog perkembangan senjata miliknya.
"Di Periode Sengoku ini … kebutuhan akan bubuk mesiu memang tidak bisa diabaikan, bukan?"
Meskipun berada di puncak era para samurai, bukan berarti samurai-samurai ini tidak menggunakan teknologi berbasis senjata api. Faktanya, hampir setiap daimyo besar pasti memiliki musket—senapan api generasi awal—meskipun jumlahnya sangat terbatas. Meskipun Oda Nobunaga adalah daimyo yang paling terkenal dengan penggunaan musket, tetapi pada faktanya, daimyo yang terkenal memegang budaya kuat Buddha dan samurai seperti Uesugi Kenshin pun tetap memiliki pasukan bersenjata api, meskipun jumlahnya tidak sebanyak Nobunaga.
Saat selesai mengemasi seluruh barang-barangnya dan hendak beranjak dari tempat duduknya, Sasuke melihat sesuatu yang melintas 50 meter di depannya. Dengan pengelihatannya yang sangat bagus, Sasuke dapat mengenali dengan mudah makhluk yang baru saja melintas itu.
"Rusa?" ujarnya sambil meneguk air ludahnya, "Kesampingkan tentang membuat bubuk mesiu, sepertinya aku harus memasukkan hama perusak tanaman itu di prioritas yang harus kuatasi dalam waktu dekat ini."
Rusa Jepang adalah salah satu jenis rusa yang tersebar luas di daratan Jepang dan bahkan luar Jepang. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, bahwa hewan itu sejak jaman dulu sampai modern selalu dianggap sebagai musuh petani karena sering merusak dan memakan tanaman-tanaman di sawah. Sebagai salah satu mamalia yang memiliki kecepatan berkembang biak yang tinggi, pertumbuhan populasi rusa pun bisa naik secara eksponensial jika populasinya tidak dikendalikan. Namun, petani-petani di zaman modern tidak perlu terlalu memikirkan keberadaan mereka karena sudah ada lembaga tersendiri yang menangani satwa seperti mereka.
Akan tetapi, di masa negara-negara berperang seperti ini, masyarakat petani sangat bergantung dengan keberadaan seorang pemburu karena merekalah satu-satunya kelompok yang akan memburu rusa-rusa ini tanpa memungut biaya sedikit pun.
"Apa aku minta bantuan ke Nobunaga?" pikir Sasuke yang secara cepat langsung dia singkirkan pemikiran tersebut.
Dia masih belum membuat pencapaian apa-apa untuk Nobunaga. Jika sampai dia mengadu kepada Nobunaga hanya untuk mengatasi masalah seperti ini, Sasuke takut bahwa Nobunaga akan menganggapnya tidak berguna dan kemudian membuangnya. Ide untuk meminta bantuan beberapa prajurit yang ditinggalkan Yoshinari untuk mengawasi Sasuke pun segera Ia tepis jauh-jauh. Meskipun Mori Yoshinari terlihat seperti om-om yang baik, tetapi dia tidak ingin mempercayai begitu saja kepada orang yang menaruh prajurit untuk mengawasi kegiatannya.
Keterbatasan solusi itu pun memunculkan ide lain di kepala Sasuke.
"Jika aku menangkap rusa itu dan membuat dagingnya menjadi bahan konsumsi orang-orang desa, kekurangan nutrisi mereka pun dapat segera diselesaikan. Jadi, memburunya sendiri adalah pilihan yang paling menguntungkan di sini. Pertanyaannya, bagaimana aku bisa memburunya? Aku bahkan tidak bisa menggunakan panah."
Merasa bahwa otaknya mengalami kebuntuan, Sasuke pun menghela napas dan beranjak pergi dari tempatnya.
"Terserahlah, aku akan memikirkan caranya nanti."
—OoOoO—
Sore hari, di waktu pertemuan yang telah disepakati oleh Sasuke dan warga-warganya yang mau mengikuti dirinya. Kecuali Genma—si pandai besi dan pengrajin kayu—mereka semua berdiri mengelilingi tiga bak besar yang baru saja dibuat. Dengan Sasuke yang menjadi pusat perhatian, mereka yang ada di sini memiliki berbagai macam pemikiran dan yang paling membuat mereka penasaran adalah teknologi Nanban yang akan Sasuke perkenalkan.
Peralatan lain yang Sasuke minta untuk disediakan juga telah mereka bawa. Selain tiga bak kayu itu, ada juga ember kayu besar—lebih besar dari yang Sasuke pinta—dan kotak kayu berukuran sedang yang akan digunakan sebagai wadah pembuatan kompos. Ada juga peralatan lain yang sepertinya mereka bawa atas inisiatif mereka sendiri, seperti satu set peralatan pertanian dan pertukangan, yah, meskipun kondisinya tampak tidak terlalu terawat, tetapi setidaknya itu masih sanggup digunakan bekerja.
"Pertama-tama, kita isi ketiga bak ini dengan tanah dan kemudian kita akan tanam ini," ujar Sasuke sambil menunjukkan tiga bungkus kain, yang masing-masing berisi tiga jenis bibit ubi yang berbeda.
"O- oohh, a- apa ini? Aku tidak pernah melihat tanaman yang seperti ini."
Beberapa warganya yang beru pertama kali melihat bibit ubi beniazuma, atsumaimo, dan annouimo pun tidak dapat menahan kekagumannya. Dengan Sasuke yang membawa tanaman yang seharusnya diperkenalkan pertama kali di Periode Edo tersebut, sejarah pun dengan resmi akan ditulis ulang di masa depan nanti.
"Setelah selesai di tanam seperti ini, kemudian kita akan menyirami bibit-bibit ini. Karena ini hanya bibit, menyiraminya satu kali dalam sehari saja sudah cukup. Kita akan menyirami ini setidaknya sampai enam hingga tujuh hari dari sekarang atau setidaknya, sampai daun dan batangnya mulai tumbuh," jelas Sasuke sambil memberikan contoh bagaimana menanam bibit-bibit tersebut, "Setelah semuanya sudah kita tanam seperti yang aku contohkan, kita akan menempatkan ketiga bak ini di tempat yang mendapat cukup sinar matahari."
"Ha- hanya itu?" tanya seorang warga.
"Untuk sekarang, iya. Namun, jika kalian memiliki abu kayu atau dedaunan seperti jerami atau kulit padi, kalian bisa memotongnya kecil-kecil dan menaburkannya di sini dengan merata. Efeknya tidak akan sebagus kompos yang sudah jadi, sih. Namun, kita setidaknya bisa sedikit memberikannya nutrisi."
Beberapa orang masih ada yang ragu meskipun telah mendengar penjelasan Sasuke. Apa yang Sasuke katakan benar-benar baru. Terlebih, mereka tidak berpikir bahwa menanamnya terlebih dahulu di bak ini akan membuat perbedaan dengan menanamnya langsung di lahan.
Sasuke yang mengetahui kegelisahan mereka pun akhirnya menjelaskan lebih lanjut.
"Menanam di bak terlebih dahulu seperti ini memberikan banyak keuntungan. Pertama, pemberian nutrisi kepada tanaman akan lebih mudah terkontrol. Kedua, karena nutrisi yang diberikan menjadi lebih mudah dikontrol, nutrisi yang diberikan pun akan lebih mudah diserap oleh akar sehingga akar dan batangnya menjadi lebih kuat. Dengan begitu, jika ini nanti kita pindahkan di sawah, tanaman-tanaman ini akan dapat tumbuh dengan lebih sehat dan cepat,"
"Ooohhh … ," respons warga desa bersamaan.
"Lalu, Kepala Desa, bagaimana dengan sesuatu yang bernama ko … ko … ko—atau apalah itu namanya."
"Maksudmu kompos?" tanya Sasuke untuk memastikan dan dibalas anggukan oleh orang tersebut.
Sasuke memandangi tiga pria paruh baya yang berdiri di sisi kanan.
"Apa kalian sudah menyiapkan apa yang saya minta tadi?" tanya Sasuke sesopan mungkin kepada orang yang jauh lebih tua darinya.
Ketiga orang itu pun mengangguk dan meminta izin untuk pergi mengambil sesuatu. Sementara itu, Sasuke mengambil ember dan kotak kayu yang berada di belakangnya dan membuka penutupnya. Tidak lama berselang, ketiga pria paruh baya itu telah kembali membawa dua ember berukuran sedang yang masing-masingnya tertutup dengan cukup rapat. Sementara satu orang lainnya membawa berbagai macam sisa-sisa jerami, kulit padi, dan dedaunan yang dibungkus menggunakan kain lusuh.
Meskipun kedua ember berukuran sedang itu tertutup, tetapi orang-orang di sana dapat dengan mudah mencium bau dari dalam ember tersebut. Dengan refleks, mereka pun mulai menutup hidung mereka dan bahkan beberapa ada yang mengambil langkah menjauh. Sasuke, yang walaupun sudah sering mencium bau ini, dia tetap tidak bisa terbiasa dan itulah salah satu alasan yang membuat Sasuke tidak begitu suka bercocok tanam, apalagi jika itu membudidayakan tanaman organik.
Namun, untuk saat ini, Sasuke harus menahan dirinya untuk tidak menutup hidung atau menjauh agar para warganya dapat mencontohnya dengan baik. Karena jika mereka dapat mencontoh dengan baik, Sasuke dapat meminimalkan dirinya berurusan dengan bau tidak sedap seperti ini di masa depan.
"Ke- Kepala Desa, ba- bau ini, bukankah i- ini kotoran sapi?" tanya seorang warga.
"Ya … dan inilah yang akan kita gunakan untuk membuat kompos," balas Sasuke acuh tak acuh, "Kompos dibuat dari bahan organik yang diuraikan. Karenanya, gas dan hama tidak akan muncul. Unsur hara dan kondisi tanah akan membaik, karena memiliki banyak mikroorganisme pengurai di dalamnya. Hama juga akan ditekan dan tanah akan lebih stabil karena peningkatan kapasitas penyangga. Untuk mencapai itu, membuat kompos adalah suatu keharusan. Dibutuhkan setidaknya setengah tahun untuk membuatnya dengan benar, tetapi meskipun begitu, kita masih bisa menggunakan kompos setengah jadi untuk keperluan darurat."
Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk membuat kompos organik. Namun, untuk saat ini, Sasuke akan menggunakan dua metode secara terpisah, yakni metode vermikompos dan takakura.
"Pertama-tama, kita akan menyiapkan kotak yang terbuat dari kayu ini sebagai wadahnya. Kemudian, kita akan menuangkan tanah yang telah dicampur rata dengan serbuk kayu dan sekam padi."
"Itu terlihat cukup mudah," celetuk salah seorang warga.
"Setelah selesai, kita akan tuangkan ini," ujar Sasuke sambil menuangkan sesuatu dari dalam gelas.
"I- Itu, ca- cacing?" ucap serentak warga desa, "A- apa tidak masalah me- menggunakan ca- cacing? Ji- jika tidak salah ingat, Kepala Desa tadi mengatakan kompos ini akan digunakan kepada tanaman, 'kan?"
Sasuke mengerti dari mana kekhawatiran mereka berasal. Sejujurnya, saat Sasuke pertama kali belajar agrikultur dan bagaimana cara membuat vermikompos dulu, ada banyak keraguan juga yang timbul dalam benaknya.
"Tidak masalah, cacing ini digunakan hanya untuk mengurai unsur hara pada tanah. Itu tidak akan mengotori sayuran atau semacamnya seperti yang kalian pikirkan. Akan tetapi, tetap penting untuk mencuci sayuran sebelum dimasak."
'Kebersihan belum diperhatikan dengan baik, makanya banyak penyakit dan busung lapar yang terjadi di era ini. Selain itu, sabun pun belum ada, tetapi tanaman soapberry seharusnya cukup mudah ditemukan di sekitar gunung-gunung pada era ini. Sial, banyak sekali yang harus aku kerjakan dalam waktu dekat ini,' keluh Sasuke dalam hati.
"Y- yah, jika Kepala Desa bilang seperti itu, aku rasa tidak ada masalah."
Sasuke mengangguk dan melanjutkan penjelasannya, "Kita akan meratakan cacingnya menggunakan tongkat ini. Sebenarnya, jika ada sarung tangan, akan lebih baik menggunakan sarung tangan. Setelah selesai, kita akan menuangkan kotoran sapi yang sudah sedikit kering ke atasnya. Kita aduk rata kembali dan masukkan sampah-sampah organik seperti sekam padi, dedaunan, atau semacamnya. Jika kalian punya kulit telur, kalian juga bisa memasukkannya ke sini, asal jangan memasukkan tulang saja. Tentu saja, sebelum memasukkannya, kita harus memotong-motong semua sampahnya kecil-kecil supaya lebih mudah diurai.
Setelah semua sampah dan kotoran sapinya diaduk merata, kita akan menyirami komposnya ini sekali sehari. Tidak perlu terlalu banyak air, cukup disiram untuk menjaga kelembapan komposnya saja. Kemudian, tutup kotak kayunya menggunakan jerami yang sudah dirajut. Jangan lupa untuk membuat lubang-lubang kecil juga, agar sirkulasi udara untuk cacingnya tetap terjaga. Seharusnya, selama satu sampai satu setengah bulan lagi komposnya sudah bisa digunakan meskipun baru setengah jadi."
Metode vermikompos pada dasarnya adalah pembuatan kompos organik yang memanfaatkan cacing sebagai media pengurai komposnya. Metode ini sangatlah berguna, karena dapat memberikan nutrisi unsur hara makro sampai mikro. Keberadaan cacing dalam kompos pun akan sangat berguna jika nanti akan disebarkan di tanaman karena dapat mengurai nutrisi sehingga lebih mudah diserap oleh akar. Metode vermikompos ini juga sangat berguna untuk memperbaiki dan menjaga pH tanah dan inilah alasan utama kenapa Sasuke akan menggunakan vermikompos.
Sebenarnya, diperlukan juga sesuatu seperti pelepah pisang atau kayu yang sudah dilubangi kecil-kecil untuk media bertelurnya cacing. Namun, karena pisang belum ada di Jepang saat ini dan Sasuke kekurangan waktu untuk membuat media bertelur lainnya, Ia memutuskan untuk membiarkan cacing-cacing tersebut bertelur secara alami saja. Lagi pula, Sasuke sekarang tidak sedang melakukan penanaman tanaman yang sulit perawatannya. Jadi, dia tidak memerlukan terlalu banyak cacing dalam komposnya. Bahkan, mungkin dia akan memberikan lebih banyak kompos pada tanaman tomatnya nanti daripada tanaman yang lain, mengingat tomat membutuhkan jumlah kalsium yang sedikit lebih banyak agar buahnya yang tumbuh nanti tidak mengerut dan busuk.
Di antara berbagai macam keuntungan dalam pemakaian vermikompos, memberikan kompos ini kepada tanaman terus-menerus juga bukanlah pilihan yang bijak. Karena metode vermikompos sangat bergantung dengan keberadaan cacing, itu berarti, seorang petani juga harus dapat mempertahankan kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk cacing dapat hidup dan memperoleh makanannya. Karena jika tidak, cacing-cacing tersebut justru akan memakan akar-akar muda pada tanaman. Hal inilah yang cukup sulit untuk dikendalikan, khususnya di negara seperti Jepang yang curah hujannya tidak terlalu banyak.
Oleh sebab itu, untuk memberikan makanan pada cacing sekaligus memberikan nutrisi lebih lanjut kepada tanaman, pemupukan selanjutnya yang Sasuke pilih adalah pemupukan menggunakan kompos hasil metode takakura.
"Jika tadi kita menggunakan wadah berbentuk kotak, sekarang kita akan menggunakan ember besar ini untuk membuat kompos yang selanjutnya. Pertama-tama, kita sebarkan sekam padi di dasar embernya secara merata. Kemudian, kita akan lapisi dinding-dinding embernya menggunakan beberapa lembar kain. Hal ini bertujuan untuk menjaga supaya kadar air di komposnya dapat dikontrol."
Sebenarnya, pembuatan metode takakura ini memerlukan jaring yang digunakan untuk membungkus sekam padi. Namun, sekali lagi, Sasuke tidak memiliki bahan-bahan jaring tersebut.
"Sisanya, kita tinggal memasukkan kotoran sapi ini, sampah-sampah organik, dan juga jagan lupa menutupnya menggunakan penutup yang sudah dilubangi ini."
"Oh, cara pembuatannya tidak jauh berbeda dari kompos yang pertama," ucap salah seorang gadis muda.
"Benar. Yang membedakannya dengan vermikompos adalah, vermikompos membutuhkan cacing dan kita harus menyiraminya setiap hari. Sedangkan kompos takakura ini tidak perlu disirami dan kita hanya membiarkannya saja sampai komposnya matang," balas Sasuke dengan jelas, "Pembuatannya mudah, bukan? Jika nanti kalian memiliki sampah seperti dedaunan atau sayuran lainnya, kalian bisa memasukkan itu kapan saja ke kompos-kompos ini."
"Baik, Kepala Desa!"
Sasuke tersenyum tipis mendengar respons warganya itu, "Kalau begitu, untuk hari ini sampai di sini saja. Besok pagi kita akan berkumpul lagi di sini untuk pembagian tugas membajak sawah. Aku besok akan menunjukkan bagaimana caranya menggunakan metode terasering kridit. Sekarang, kalian bisa pulang dan jangan lupa bersihkan tangan kalian."
—Bersambung—
Author Note : Haloo, bertemu lagi denganku di chapter 2 ini. Gimana pendapat kalian tentang chapter kali ini? Omong-omong, aku mengedit beberapa hal di chapter 1 kemarin karena ada beberapa yang salah dan ada yang aku lengkapi penjelasannya.
Di antaranya adalah umur Nobunaga. Aku salah lihat catatanku, seharusnya umur Nobunaga pada masa ini adalah 31 tahun, tetapi kemarin aku nulis 29 karena yang aku lihat kemarin ternyata adalah tahun lahirnya Nouhime. Yang kedua yang aku ubah adalah penjelasan tetang Nanban. Gak banyak sih, cuma aku lengkapin aja penjelasannya.
Trivia :
[1] tempat untuk membungkus hasil panen, khususnya beras, yang dibuat dari rajutan Jerami. Gambarnya bisa kalian lihat di google.
[2] publication/333616464_Saccharum_Miscanthus_intergeneric_hybrids_miscanes_exhibit_greater_chilling_tolerance_of_C4_photosynthesis_and_postchilling_recovery_than_sugarcane_Saccharum_spp_hybrids
Oke, itu saja dariku. Terima kasih untuk yang sudah baca dan review. Jangan lupa berikan pendpat kalian dan jejak berupa review karena review kalian adalah penyemangat buatku. Terima kasih dan sampai bertemu di chapter depan.
