Kemudian Ice dan Gempa melanjutkan perjalanan mereka bersama lumboat.
"Kak Ice. Ikan itu sedang apa?"
Ice melihat ke arah yang ditunjuk Gempa. Terlihat seekor ikan besar menggerak-gerakkan stik yang menyala.
"Dia ikan polisi, jadi dia mengawasi lalu lintas."
"Ooh."
"Apa di sini ada sarden?" tanya Gempa lagi.
"Tentu saja.
"Ayahku kadang memasak sarden untuk sarapan."
"Sepertinya enak. Tapi jangan berkata seperti itu jika kau bertemu sarden. Mereka bisa pingsan. Ini juga berlaku untuk ikan lainnya," pesan Ice.
Gempa mengangguk-angguk kemudian menatap sekelilingnya dengan dahi berkerut.
"Mengapa aku tidak melihat manusia lainnya?" tanyanya.
"Tempat ini pinggiran kota tempat tinggal ikan, manusia ada di pusat kota," jelas Ice.
"Kamu mau ke sana?" tawar Ice.
"Mau!" sahut Gempa.
Ice mengangguk lalu memberitahu lumboat tujuan mereka berikutnya. Lumboat bersuara tanda dia akan melakukan perintah.
"Kita akan menaikkan kecepatan berkendara, pegangan yang erat."
"Siap!"
Lumboat berbelok demi mengambil jalan pintas yang lenggang. Dia lalu menaikkan kecepatannya perlahan. Setelah melalui jalan ditengah padang anemon, kini mereka akan memasuki goa karang.
"Wah!"
Gempa terkesima ketika memasuki goa. Bagian luarnya seperti batu karang biasa sedangkan pada bagian dalam goa seperti dinding dari kristal es. Dinding goa berkilau dengan warna biru muda transparan yang permukaannya terdapat sedikit gradasi pelangi akibat pembiasan cahaya. Tak hanya itu, di dalam goa ini juga ada beberapa manusia bernetra aquamarine yang berlalu lalang.
"Ini pertama kalinya aku melihat banyak orang bermata aquamarine."
"Semua manusia di sini bernetra aquamarine."
"Wah, terbaik! Penduduk di sini punya mata yang indah dan berkilau."
Mendengarnya Ice tertawa kecil. Dia lalu menepikan lumboat ke dinding goa.
"Bukan kami saja. Lihatlah."
Tunjuk Ice pada dinding goa. Awalnya Gempa merasa bingung. Namun begitu melihat cermin itu dia terkejut karena netra emasnya sekarang bersinar.
"Di tempat ini. Semua benda yang menyerap cahaya berpotensi memancarkan cahaya. Termasuk mata manusia."
"Apa tempat di sini bisa terang bukan karena ada lampu?" tanya Gempa.
"Benar," jawab Ice. Ekspresi heran terlukis di wajahnya.
"Aku kira karena ada listrik," balas Gempa sambil matanya terus mengobservasi goa yang memang sangat terang. Tidak ada hal lain di sana selain isi goa yang indah. Karena memang goa itu berfungsi serupa terowongan biasa.
"Memang ada listrik di sini. Tapi bukan sebagai alat penerang. Kami membutuhkannya untuk hal lain," Ice memacu lumboat lebih cepat ketika mereka akan tiba diujung goa.
"Omong-omong, kau cukup cerdas untuk seorang anak kecil. Aku senang tidak perlu menjelaskan panjang lebar."
"Hmph! Aku bukan anak kecil lagi!"
"Oh ya berapa umurmu?"
Gempa mengangkat lima jarinya dengan dagu terangkat. Seketika raut Ice berubah datar.
"Terserahmu saja," ketus Ice masih dengan muka datarnya. Tangan kirinya menarik pipi kiri bocah itu agak kuat.
"Aw! Sakit tau!" pekik Gempa seraya menjauhkan tangan besar itu dari pipinya. Ice sang pelaku hanya mendengkus geli.
"Eh?!" Gempa menutup rapat matanya kala cahaya yang menyilaukan mengenai mereka. Setelah rasa silau itu mereda, barulah Gempa membuka matanya perlahan.
Sebuah kota di bawah laut, hampir seperti pinggiran kota tempat dia tiba pertamakali. Namun, di tempat ini terdapat gedung pencakar langit. Bagaimana Gempa mendeskripsikannya? Mungkin kalian bayangkan saja ada kota di dalam akuarium.
"Lumboat tolong berenang lebih tinggi."
Lumboat bergerak sesuai arahan Ice. Seketika Gempa terkagum melihat penampakan kota dari atas. Ada beberapa bangunan besar yang menyerupai cangkang kerang ataupun terumbu karang. Namun yang paling membuatnya takjub adalah Istana besar berwarna putih dengan aksen warna biru laut dan emas. Atapnya berbentuk seperti kerang kerucut. Dindingnya berhiaskan kristal biru laut, mutiara serta cangkang kerang.
Di tengah suasana menyenangkan itu, tiba-tiba muncul suara lantang yang berteriak ke arah mereka.
"Hei, kalian aku menemukannya!"
Ekspresi terkejut serta kesal Ice membuat Gempa langsung merasa jika situasi tidaklah baik. Mereka mencari asal suara itu dan menemukan seekor lobster sedang meluncur ke arah mereka.
"Berhenti di situ!"
"Kak Ice! Lobsternya bicara!"
"Gawat! Lumboat naikkan kecepatan aku yang akan memandu!" perintah Ice. Lalu dengan cepat mereka pergi dari tempat itu.
"Harusnya kau tidak berteriak, Blaze. Dia jadi pergi kan!" omel si gurita pada si lobster.
"Tidak ada waktu, Solar. Mari kita ajak yang lain untuk menangkapnya!"
"Ugh, mau bagaimana lagi. Kalian kemarilah kami menemukannya!" Solar si gurita menggunakan jam di tentakelnya mengirim voice note untuk rekan-rekannya yang lain. Dia juga mengirimkan lokasi kemungkinan Ice berada sekarang.
"Ayo Blaze, Halilintar sekarang berada di area paling dekat dengan mereka," ujar Solar lalu meluncur bak roket dengan kecepatan penuh.
"ARGH! LAGI-LAGI AKU DITINGGAL!"
"Hei Blaze! Kenapa mengamuk sendiri begitu?" tanya seekor ubur-ubur. Disampingnya ada seekor buntal. Mereka baru sampai.
"Untung kalian datang, ayo cepat kita ikuti Solar!"
Blaze kemudian naik ke kepala ubur-ubur. Sedangkan si ubur-ubur berpegangan ke buntal. Lalu setelah itu kaki si ubur-ubur bergerak mendayung kanan dan kirinya bergantian secara cepat sehingga mereka bisa meluncur laju dengan menggunakan si buntal.
Gempa menoleh ke belakang. Kali ini gurita yang meluncur ke arah mereka.
"Kenapa kita dikejar gurita?! Apa kita akan dimakannya?!" tanya Gempa panik. Sungguh selama lima tahun hidup di dunia dia tidak pernah membayangkan akan dikejar gurita.
"Nanti aku jelaskan, yang penting kita harus kabur dulu."
"Eh?!"
Mata Gempa melebar. Sesosok makhluk hitam panjang seukuran lengan manusia, dengan percikan listrik yang menyelimutinya kini sedang mengejar mereka dengan kelajuan di atas rata-rata. Begitu juga dengan Lumboat yang ikut panik karena dia tahu makhluk itu dan si gurita dapat menyaingi kecepatannya.
"Kak Ice itu apa, kok item serem laju gitu...," tanya Gempa dengan wajah pucat.
"Bukan, apa-apa. Itu hanya belut listrik. Kalau kau takut tutup matamu." Gempa kemudian menutup matanya sesuai arahan Ice.
"Hoi balik sini ceffaaat!" teriak ubur-ubur dengan toa miliknya.
"Taufan, kau berisik!" tegur si ikan buntal.
"Thorn, cepatlah nanti kita kalah!" seru Blaze.
"Memangnya kita lagi balapan?" tanya Thorn bingung.
Tinggal beberapa centi si gurita dan belut listrik dapat menyusul lumboat. Ice ingin membelokkan arah, namun Solar keburu menghadang jalannya. Dan ketika dia mencoba berbalik arah ada Halilintar yang menghalanginya. Dan sekarang rombongan Blaze juga menghadang sisi lainnya. Mereka telah terkepung!
"Pangeran Ice tolong berhenti sekarang juga! Ini perintah Raja! Jika Anda tidak mengacuhkannya maka Raja sendiri yang akan turun tangan!" peringat Halilintar. Salah satu belut listrik yang ditugaskan mengawal Ice.
Deg!
"Ugh...!" dengan terpaksa Ice mendengarkan karena tahu apa yang dikatakan Halilintar adalah benar. Sebab tidak ada yang akan berani menggunakan nama Raja sembarangan. Ice mengisyaratkan lumboat untuk membawa Gempa agak menjauh. Ice sendiri turun untuk menghadapi dua teman lautnya.
Sementara itu, Gempa menatap Ice dengan ekspresi terkejut. 'Kak Ice adalah Pangeran?'
"Anda menunda pekerjaan lagi! Ada lima tumpuk penuh di atas meja!" keluh Solar si gurita yang ditugaskan membantu pekerjaan Ice. Dia juga menunjukkan hologram dengan gambar ruangan kerja.
Sementara itu Taufan, Blaze dan Thorn pergi dari sana karena mereka lebih tertarik pada sosok anak kecil yang bersama lumboat.
"Hei kau! Warna matamu tidak biasa. Apa kau manusia darat?"
"I-iya. Kalian bisa bicara?"
"Tentu saja."
"Berisik Solar. Kenapa tidak kau saja yang kerjakan kalau mau cepat? Kau kan punya banyak tangan," sahut Ice malas.
"Itu kan kerjaan Anda! Saya hanya membantu bukan mengambil alih."
"Hai manusia! Aku Thorn si ikan buntal!"
"Kalau aku Taufan dan ini Blaze!"
"Kami ini satu geng!"
Ice tampak tidak mendengarkan satupun ocehan Solar. Malah dia lebih fokus mengorek telinganya.
"Ha-hai ... namaku Gempa."
"Kyaa lucuu!"
"Tangkap dia, Thorn! Kita bawa pulang!"
"Sebentar Blaze, Thorn! Aku cari karungku dulu! Ah ini dia! Masuk sini ceffaaat!"
"Jangaaan! Aku tidak enak!"
"Kejar diaaa!"
"Kak Ice toloong!"
Suara teriakan dari Gempa sukses mengambil perhatian Ice dan kedua rekannya.
"Hei apa yang kalian lakukan?! Kenapa kalian masukkan dia dalam karung?!"
"Mau bawa pulanglah, apalagi?" ceplos ketiganya serentak.
"Tidak boleh. Lepaskan dia!" suruh Ice.
Ketiga hewan laut itu menggeleng. "Boleeh!"
"Tidaak!"
"Boleeeh!"
"Tidaaak!"
"Boleeeh!"
"Tidaaak!"
"Tidaaak!"
"Bole-- tidak boleh!"
"Buu! Pangeran Ice tidak seru!" ketiganya kemudian dengan setengah hati membebaskan Gempa.
"Gempa, kau tidak apa?" tanya Ice.
Gempa mengacungkan jempolnya. "Aku baik."
"Baguslah. Sebagai permintaan maaf ayo ikut kami makan siang."
Ice, Gempa dan teman-teman kecil mereka lalu pergi ke sebuah gedung restoran. Mereka masuk ke sebuah ruangan luas yang dipenuhi dekorasi khas lautan, seperti cangkang kerang dan mutiara misalnya. Namun di ruangan indah itu hanya ada para pelayan yang menyambut tamu di sana. Gempa memandang barisan pelayan bernetra aquamarine itu. Mereka tampak rupawan dan rapi dengan setelah hitam-putih. Ice kemudian berjalan ke arah lift. Namun sebelum itu dia memanggil salah satu pelayan.
"Bawakan aku akuarium untuk teman-temanku."
Seorang pelayan laki-laki melakukan perintah dan membawakan akuarium besar dengan troli. Tanpa harus disuruh semua teman laut Ice masuk ke dalam akuarium itu. Gempa hanya diam walaupun dia penasaran itu semua untuk apa.
Mereka bersama seorang pelayan itu memasuki lift. Di dalam lift air dikuras hingga tidak menyisakan satu tetes pun. Kecuali air di akuarium yang tetap ada.
Mereka akhirnya sampai di lantai paling tinggi restoran. Tempat itu cukup sederhana untuk sebuah restoran bintang lima. Ada hal menarik yang ditemukan Gempa. Membawa teman berupa hewan laut rupanya adalah hal biasa bagi penduduk bawah laut.
"Kau bisa memesan apapun," ujar Ice begitu mereka mendapat kursi.
Gempa lalu membuka daftar menu dengan bersemangat. Namun dengan cepat dia menjadi lesu setelah membacanya.
"Apa ini semua sayur? Aku tidak terlalu suka sayur...," walaupun tidak enak hati, Gempa tetap mengatakannya. Sayang sekali kalau dia memesan namun tidak memakannya.
"Ada kok yang bukan sayur, ada buah dan makanan dari ternak darat," Ice menunjukkan beberapa menu.
Gempa terlihat menimbang. Dia melihat pada teman-teman kecil Ice. Walaupun itu ternak darat, rasanya dia tidak enak harus makan itu di depan mereka. Mungkin inilah mengapa menu sayur dan buah lebih banyak ketimbang olahan daging.
"Bagaimana kalau ini saja, aku sering memakannya saat masih kecil," Ice menunjuk pada satu menu. Bentuknya terlihat seperti sayur sop yang sering kakeknya buat. Walaupun Gempa menyukai semua masakan kakeknya, hanya sayur yang belum menjadi favoritnya.
"Ini enak, percayalah. Aku dulu juga tidak suka sayur, setelah makan ini baru bisa memakan sayur apapun."
Selama beberapa jam dia berkenalan dengan Ice, Gempa belum pernah melihatnya bersemangat seperti itu. Rasanya dia tidak tega menolak usulannya itu.
"Hm, baiklah."
'Semoga aku bisa menghabiskannya.'
Ice kemudian memanggil waiter dan mereka pun menunggu. Beberapa saat kemudian pesanan datang dan dengan cepat teman-teman kecil Ice menyambar makanan masing-masing. Mengenai apa yang mereka makan, Gempa tidak tahu apa. Tapi ada beberapa pelayan yang membantu mereka makan.
Gempa hampir tersedak ludahnya sendiri ketika melihat Ice makan dengan rakusnya. Bagaimana mengatakannya? Dia sekarang sama sekali tidak punya kharisma seorang pangeran.
Melihat teman-teman barunya makan dengan lahap Gempa pun memandang sayur sopnya. Entah sayur sop macam apa yang dia pesan, ada beberapa sayur yang tidak dia temui di daratan dan juga beberapa potong dada ayam. Makanan hangat itu masih mengepul, sangat cocok untuk dimakan di iklim laut yang dingin.
"Gempa, kenapa tidak makan?" tegur Thorn. Ikan buntal itu menggembung lalu kembali menciut karena bersendawa.
"A-aku makan kok," dengan cepat Gempa menyendok makanan ke dalam mulutnya. Matanya tertutup rapat mengantisipasi rasa dari sop yang dimakannya. Kemudian matanya kembali terbuka lebar setelah merasakan masakan laut itu.
"Enak!"
"Tentu saja. Semua makanan di sini enak," ucap Ice dengan bangga.
Gempa melongo tidak percaya. Berdasarkan ucapan Ice ada kemungkinan jika dia sudah mencicipi semua masakan di restoran ini.
Tak butuh waktu lama bagi mereka menyelesaikan makan siang. Setelahnya mereka lalu kembali ke lantai paling dasar. Kemudian keluar menuju lahan parkir. Terlihat orang datang dan pergi dengan menaiki teman hewan mereka. Selain itu ada beberapa orang pergi dengan hanya berenang.
Gempa mendongak kala merasakan sinar menyilaukan dari atasnya. Kedua netra emasnya langsung disambut pesona air laut yang bagaikan cerminan dari langit di daratan. Jika saja tidak ada gelembung dan riak air pasti Gempa akan lupa jika dia sedang berada di dasar laut.
Memang kerajaan laut adalah kerajaan yang unik sekaligus indah.
Tapi juga penuh misteri.
Bersambung...
170322
