"Terimakasih untuk hari ini ya, Kak! Makan siangnya juga sangat lezat!" ucap Gempa.

"Terimakasih kembali," balas Ice tersenyum. Tangannya mengusap rambut coklat lebat bocah cilik itu dengan gemas. Tiba-tiba Ice jadi terpikirkan sesuatu. Jika seandainya dia meminta adik pada Raja dan Ratu apakah mereka akan mengabulkannya?

"Gemgem, apa kau mau melihat pertunjukkan kami?" tanya Blaze bersemangat.

"Mau!" Gempa menjawab antusias.

"Yuhuu! Ayo kita panggil teman-teman untuk menyiapkan panggung!" Setelah itu Blaze, Taufan dan Thorn melesat pergi entah kemana.

"Ayo kita juga menyusul mereka," Ice menekan jam tangannya, lalu beberapa menit kemudian lumboat datang menjemput.

"Hai lagi lumboat!" sapa Gempa yang dibalas lumboat dengan lambaian siripnya. Gempa lebih dulu berlari menaiki lumboat, Ice ingin membantu namun bocah itu bersikeras naik sendiri.

"Aku ingin berdikari!" begitulah katanya.

"Bawa kami ke gedung umang-umang," perintah Ice. Lumboat berbunyi kemudian melesat berenang dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan mereka berpapasan dengan penduduk bawah laut yang menyapa pangeran mereka. Dan disepanjang perjalanan itu pula Gempa dapat merasakan tatapan penasaran mereka padanya. Beruntung mereka tidak bertanya apapun tentangnya. Mengingat Gempa bukan termasuk kelompok mereka.

Netra emas Gempa berbinar takjub. Lumboat berenang turun menuju gedung putih besar yang berbentuk seperti rumah umang-umang. Lampu-lampu mutiara bersinar menghiasi gedung itu.

Beberapa orang bergegas berenang menyambut mereka atau lebih tepatnya Ice. Berniat menuntun pergi ke tempat kursi khusus yang berada di atas. Namun Ice menolak.

"Biarkan kami duduk di kursi bersama yang lain."

Kemudian staff di sana menyiapkan kursi paling depan untuk Ice, Gempa dan lumboat tentunya. Mereka lalu duduk di kursi yang telah disiapkan, bersama para penduduk bawah laut dan teman-teman hewan mereka. Gempa menoleh ke sampingnya ketika merasakan sosok besar duduk di sebelahnya. Dan seketika dia menahan nafas. Ada hiu duduk di sebelahnya!

Hiu itu sadar akan lirikan Gempa padanya. Dia menoleh padanya lalu melambaikan sirip sambil tersenyum lebar menampilkan gusi tanpa giginya.

Oh! Gempa baru teringat jika itu hiu yang pernah menyapanya. Gempa menghela nafas lega lalu balas melambai padanya.

Tirai panggung perlahan terbuka bersama bunyi terompet serta tabuhan gendang. Saat tirai terbuka sepenuhnya, Gempa memekik senang mengetahui barisan anjing lautlah yang memainkannya.

Halilintar bersama pasukan belut listrik lainnya memasuki panggung dengan tubuh yang dipenuhi listrik merah menyala. Mereka bergerak cepat ke posisi masing-masing sehingga terciptalah lambang kerajaan laut.

Setelahnya para belut listrik itu membubarkan diri. Dan lalu munculah beragam jenis hewan laut ke atas panggung. Masing-masing dari mereka pergi ke posisi yang telah ditentukan. Namun ada juga yang berenang bebas ke berbagai arah. Gempa beserta para penonton lain sangat terhibur, mereka hampir tak berhenti bertepuk tangan.

Diantara hewan-hewan itu ada Taufan dan teman-teman ubur-uburnya yang mengambang naik-turun bersama menciptakan gelombang ubur-ubur.

Juga ada Thorn bersama teman-teman buntalnya membentuk formasi lingkaran, mereka berputar sambil mengembang dan mengempis bergantian.

Sedangkan Solar dan teman-teman guritanya melakukan tari modern dengan aksesoris berupa kacamata hitam dan topi. Tak lupa tubuh mereka juga memancarkan cahaya dengan beragam warna.

Mata Gempa bergulir terlihat mencari-cari sesuatu. "Blaze mana, ya--"

"Wohooo!"

Baru saja Gempa bertanya tiba-tiba secara dramatis muncul Blaze beserta pasukan lobsternya. Hewan-hewan laut lain yang berada disekitar mereka menyingkir guna memberikan ruang.

"Bakar! Bakar! Hahaha!" suara Blaze menggema memenuhi gedung. Seseorang lalu membakar bola dan kemudian melemparkan bola itu ke arah Blaze. Dengan gesit Blaze menyambut bola yang lebih besar darinya itu lalu mengopernya ke arah dugong. Namun dugong sepertinya belum siap, dia hampir saja telat menyambut bola api itu. Lalu setelahnya acara mengoper bola api terus berlanjut.

"Wow! Kak Ice lihat! Lihat!" Gempa menarik-narik lengan baju Ice sehingga membuatnya terbangun dari tidur.

"A-apa?" tanya Ice setengah sadar. Lalu dengan cepat dia kembali tidur. Gempa yang tidak dapat melepaskan pandangannya dari pertunjukan tidak menyadari jika Ice malah menggunakan waktu menonton untuk tidur.

Pertunjukkan bola api berakhir setelah beberapa saat, lalu sebagai penutup semua hewan itu berbaris dan menunduk memberi salam. Tirai pun kembali tertutup bersama suara terompet dan tabuhan gendang dari anjing laut. Dengan begitu pertunjukan telah berakhir.

Ice terbangun akibat mendengar suara tepuk-tangan riuh dari penonton. Dia lalu berdiri dan mengajak Gempa dan lumboat keluar.

"Bagaimana pertunjukannya?" tanya Ice.

Gempa tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya. "Sangat seru! Terbaik!"

"Syukurlah kau menyukainya," Ice tersenyum puas karena bocah cilik itu merasa senang. Sebelah tangannya menggenggam tangan Gempa. Bocah itu bilang ingin belajar berenang, jadi dia membiarkannya terbiasa mengapung di air.

"Gempa! Kau lihat aku 'kan?! Bagaimana?!" Blaze muncul disusul yang lain.

"Kau keren sekali, Blaze!"

"Yeah!"

Taufan, Thorn dan Solar yang tidak mau kalah dengan Blaze ikut meminta pendapat.

"Bagaimana dengan aksi mengambangku?!"

"Bagaimana Thorn tadi?!"

"Aku tadi ganteng sekali kan?! Itu lho waktu pakai topi sama kacamata!"

"Kalian semua memang terbaik!" Gempa mengacungkan kedua jempolnya sehingga keempatnya bersorak gembira. "Yeah!"

"Solar, itu apa?" Gempa menunjuk botol ramuan yang dipegang Solar.

"Ini tinta, banyak kegunaannya seperti untuk menulis. Kau mau?!" Solar menunjukkan botol itu.

"Aku tidak mau memberikan tinta ini ke sembarang orang, lho. Tapi kau bisa memilikinya."

"Um, baiklah."

Gempa menerima botol kecil itu dan memperhatikannya. Seketika dia terpana karena terdapat kerlipan glitter hologram di tinta itu. "Wah, cantik sekali. Terimakasih Solar!"

Solar membetulkan letak kacamanya bangga. "Sama-sama!"

"Omong-omong," Gempa menoleh pada si belut listrik yang sejak awal tidak banyak bicara. "Halilintar tadi keren sekali!"

"Biasa saja," ucap Halilintar walaupun dalam hati dia senang dengan pujian dari Gempa.

Diam-diam lumboat yang tidak ikut berpartisipasi dalam pertunjukan merasa sedih. Jika seandainya dia ikut pasti Gempa juga akan mengapresiasinya.

Lumboat tersentak ketika secara tiba-tiba Gempa menyentuh moncongnya. Dia menatap bocah cilik yang kini tersenyum manis padanya.

"Lumboat juga keren karena hampir seharian ini membawa Gempa dan Kak Ice berkeliling!" Gempa lalu memeluk lumba-lumba itu sehingga membuatnya sangat bahagia.

"Ayolah~ Apa kau tidak mau memeluk ubur-ubur?" tanya Taufan sambil merentangkan tangan-tangannya. Sementara Thorn tanpa pikir panjang menyusup di antara Gempa dan lumboat, lalu dia menggembungkan tubuhnya untuk membuat jarak diantara mereka. Akibatnya lumboat berbunyi kesal pada Thorn.

"Hei Thorn curang!" Blaze meluncur ke bagian zona pelukan yang kosong.

"Hei, jangan lupakan aku!" Taufan tidak mau repot-repot berdesakan bersama dua temannya. Maka dia menempel di ubun-ubun Gempa. Sedangkan si bocah cilik merinding. Rasanya seperti ada jeli dingin di atas kepalanya.

"Astaga," Ice menepuk dahinya. Malu. Untung Halilintar dan Solar tidak seperti mereka--

"Minggir Thorn! Kau memenuhi tempat!"

"Ini tempat punya Thorn! Pergilah Solar!"

"Hei belut, minggir! Tidak ada tempat untukmu di sini!"

"Diam kau lobster!"

Ah, lupakan.

"Hehehehe, beruntung aku di atas sini."

"Untung apanya, cuma kau yang tidak dipeluk karena berada di atas sana! Haha!"

"Argh! Benar juga si Blaze! Minggir kalian ceffaaat!"

Mereka semua berebut tempat termasuk lumboat. Dia merasa kesal, padahal dia duluan yang dipeluk namun mereka malah ikut-ikutan.

"Kak Ice! Kemarilah!" panggil Gempa yang tampak senang itu. Sehingga Ice merasa tidak punya pilihan selain menuruti permintaannya. Ice menggeleng lalu memeluk mereka semua. "Sudah kan?"

Teman-teman kecil Ice menatap pangeran mereka itu dengan mulut terbuka. Selama ini pangeran mereka itu terkenal tidak punya keinginan untuk melakukan sesuatu. Dia tidak tertarik menekuni bidang apapun ataupun terlibat sesuatu yang berkontribusi untuk masa depan kerajaan. Dia lebih sering menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur.

Ice seakan hidup tanpa ambisi seperti ikan mati yang membiarkan dirinya terseret arus. Dan baru kali ini mereka melihatnya bersemangat selain karena makanan. Tak bisa dipungkiri, melihat diri Ice yang terlihat lebih hidup itu membuat mereka sangat senang.

"Uh...," mendadak Gempa merasa nafasnya tercekat. Thorn yang menyadari perubahannya bertanya panik.

"Gempa kenapa?!"

"Huh?! Ada apa dengan Gempa?!" tanya Halilintar.

"Gempa kau kenapa?!" Ice menangkup wajah pucat bocah itu.

"Nafasku ... hah ... sesak...," Gempa berkata dengan susah payah.

"Apa ini karena kita memeluknya terlalu erat?!" tanya Solar.

"Sepertinya bukan...," Ice terlihat berpikir. Sesaat kemudian matanya membelalak. "Jangan-jangan!"

"Jangan-jangan apa--"

Ice memotong pertanyaan Halilintar.

"Kita harus membawanya ke permukaan sekarang! Ice mengangkat Gempa kemudian menaikkannya ke atas lumboat. Dia juga memasangkan sabuk pengaman.

"Gempa berpegangan yang erat pada lumboat! Dan lumboat cepat berenang ke permukaan! Halilintar dan Solar bantu lumboat berenang lebih cepat!"

Ketiganya kemudian segera melaksanakan perintah Ice. Halilintar dan Solar menarik tali yang digigit lumboat sehingga mereka dapat berenang lebih cepat. Sedangkan Ice dan tiga lainnya berenang menyusul.

"Gempa bertahanlah..."

"Apa?! Apa yang terjadi pada Gemgemku?!" tanya Taufan tidak sabar.

"Ini salahku. Aku lupa sudah waktunya dia harus kembali ke permukaan," ujar Ice dengan raut bersalah.

"Jangan menyalahkan diri, Pangeran!" kata Thorn dengan sedih.

"Thorn benar! Sekarang yang terpenting adalah keadaan Gempa!" sahut Taufan dan Blaze.

"Kalian...," Ice menenangkan diri. Mereka benar, yang terpenting sekarang ini adalah keadaan Gempa. Apa yang telah terjadi biarlah menjadi pengingat untuknya agar dia lebih berhati-hati kedepannya.

Kini mereka telah tiba di permukaan. Langit gelap penuh bintang serta Gempa yang keadaannya sudah lebih baik menyambut mereka.

"Kau sudah merasa baik?" tanya Ice.

Gempa mengangguk. "Iya, aku baik!"

"Syukurlah ... eh?" tak sengaja ekor mata Ice menangkap siluet cahaya kecil menuju ke arah mereka. Yang lain ikut melihat ke arah yang sama. Setelah beberapa saat dapat terlihat wujud dari benda bercahaya itu, rupanya itu adalah bulan sabit yang berlayar menuju mereka.

"Sepertinya sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal," Ice kembali menatap Gempa, begitu juga sebaliknya. Di sana Gempa paham jika bulan sabit itu datang untuk menjemputnya.

"Eh?! Gemgem mau pulang sekarang?!" tanya Thorn dengan mata berkaca-kaca.

"Huwee jangaan!"

Makhluk-makhluk kecil itu kemudian mengerumuni Gempa lebih dekat.

"Kenapa tidak tinggal di sini saja? Seekor ubur-ubur menjadi Kakakmu adalah ide bagus bukan?!"

"Atau kau mau lobster ini jadi kakakmu?!"

"Tidak, Gempa lebih suka ikan buntal menjadi Kakaknya!"

"Ngomong apa kalian?! Sudah jelas gurita lebih baik!"

"Tidak. Belut yang terbaik!"

Gempa hanya tertawa melihat perdebatan lucu teman-teman lautnya itu. Setidaknya melihat mereka seperti itu mengobati sedikit rasa sedih dihatinya. Dia tidak menyadari jika Ice menatapnya dalam diam.

Tuk!

Bulan sabit tiba dan merapat mengenai lumboat. Gempa lalu berdiri di atas lumboat untuk menaiki bulan sabit disebelahnya. Melihat Gempa sedikit kesulitan, Ice lalu mengulurkan tangan membantunya. Namun walaupun Gempa sudah duduk, Ice masih enggan melepaskan tangan mungil itu.

"Huwee Gempa!" tangisan dari teman-teman kecilnya hampir membuat Gempa meneteskan air mata. Namun dia berusaha menahannya.

'Gempa tidak boleh nangis. Kan manly...'

Bulan sabit pun bergetar lalu perlahan bergerak menjauh. Dengan terpaksa Ice melepaskan tangan itu. Teman-teman kecil Ice semakin kencang menangisi kepergian sosok itu. Gempa menoleh ke belakang dan berusaha memberikan senyum terbaiknya sambil melambai pada mereka.

"Bye-bye semua!"

"Bye-bye, Gempa!"

Mereka balas melambai dan terus diam di situ hingga sosok Gempa menghilang dari pandangan.

"Huhu, Gemgem sudah pergi," Thorn masih terisak.

"Ah! Harusnya tadi kita karungin saja lalu bawa pulang!" seru Taufan.

"Argh! Kenapa kau baru bilang sekarang?!" ucap Blaze frustrasi.

Solar menggeleng. "Tidak boleh. Gempa harus pulang, dia tidak bisa hidup di dalam laut terlalu lama. Dia bisa bernafas di air pun hanya untuk beberapa jam. Untuk sekarang teknologi kita tidak cukup canggih untuk membantunya bernafas di air."

Halilintar mengernyit. "Hei, bukankah bulan sabit itu adalah alat yang digunakan dalam keadaan darurat. Seperti ketika ada kejadian yang mengharuskan membawa perwakilan manusia darat ke tempat ini?"

"Benar, tapi alat itu malah digunakan seseorang untuk hal yang bukan darurat," lirik Solar pada Ice. Sehingga semuanya ikut menatap Ice.

"Pangeran dengar bukan?! Lain kali jangan sembarangan memakainya! Untung yang dibawa itu Gempa bukan orang jahat!"

Ice menghela nafas, "Iya, lain kali aku akan berhati-hati."

Ice mengakui kecerobohannya. Walaupun sebenarnya dia tidak sengaja menyalakan benda itu. Waktu itu Ice iseng menggunakan alat itu untuk tidur dikarenakan alat itu sangat empuk dan lembut. Dia pikir tidak akan ada yang terjadi karena hanya sebatas digunakan untuk tiduran.

"Hei kalian," panggil Ice yang masih menatap ke depan. Serentak teman-teman kecilnya menatapnya.

"Ayo kembangkan teknologi lebih canggih agar Gempa bisa berkunjung lebih lama ke sini."

Gasp!

"Pangeran Ice akhirnya ingin melakukan sesuatu?!" seru Blaze kaget. Sedangkan Halilintar membatu dengan mulut terbuka lebar.

"Setelah bermilyar-milyar kata motivasi yang diberikan, akhirnya Pangeran mendengarkan!" Solar mengelap air matanya terharu.

"Sekarang kedepannya Pangeran akan makan untuk hidup! Bukan hidup untuk makan!" Thorn senang karena berpikir jatah makannya tidak akan dicomot Ice lagi.

"Ayo beritahu pada Raja agar mengadakan syukuran bagi-bagi makanan!" Taufan mengacungkan toa-nya.

Mereka semua lalu bersukacita bersama sambil berenang berputar-putar saling berpegangan sirip dan tentakel. Berbeda dengan Ice yang bersiap untuk meledak.

"Kemari ke sini kalian!"

"Kabuur!"

Kemudian dengan cepat hewan-hewan laut itu berenang secara terpencar untuk menghindari amukan Ice.

"Huh! Dasar."

.

.

.

.


"Ah, hampir sampai." Gempa menatap jalur putih tempat dimana dia pertama kali tiba dari kejauhan.

"Setelah ini apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Aku tidak ingat bertanya pada Kak Ice," bocah cilik itu kini kebingungan.

Ditengah kebingungan Gempa, tiba-tiba saja bulan sabit berguncang di tempat. Dia baru sadar jika bulan sudah berhenti berlayar.

"Ada apa ini?" tanya Gempa semakin bingung. Padahal laut sangat tenang tapi bulan terus berguncang.

"Apa mungkin rusak-- huwaa!"

Bulan yang ditumpangi Gempa tiba-tiba terbalik. Kembali menjatuhkan Gempa seperti waktu itu. Reflek Gempa menutup matanya merasakan tubuhnya kembali terjatuh dari ketinggian. Hingga akhirnya punggung Gempa mendarat di landasan yang terasa empuk. Gempa membuka matanya cepat dan melihat langit-langit kamarnya...


"Kak Ice!"

Ice yang tengah menonton televisi menengok ke arah tangga. Dia menatap adik bontotnya yang tersenyum lebar dengan rambut kusut berantakan. Entah mengapa penampilannya itu justru membuatnya tambah menggemaskan. Seperti anak kucing yang belum dimandikan pemiliknya.

Gempa berlari dengan langkah kecilnya ke arah Ice. Dia ikut naik ke atas sofa lalu duduk di sebelah kakaknya. Ice kemudian membagi selimutnya dengannya.

"Ada apa? Tak biasanya kau terlambat bangun."

"Tadi Gempa mimpi seru sekali!"

"Mimpi apa?"

"Mimpi tentang kerajaan bawah laut dan bertemu Pangeran di sana!"

"Oh ya, siapa?"

"Kak Ice!"

"Hah aku?" tanya Ice heran.

Gempa mengangguk. "Iya, Kak Ice!"

Mendadak Ice merasa penasaran. "Terus? Terus?"

Gempa kemudian menceritakan setiap detail mimpi yang bisa diingatnya kepada Ice. Remaja bernetra aquamarine itu sedikit terkagum karena adiknya bisa memimpikan hal hebat dengan dia sebagai tokoh utamanya.

"Apa Ice itu mirip denganku?"

"Iya mirip sekali!'

"Tapi," Gempa memasang pose berpikir.

Dengan tak sabar Ice bertanya, "Tapi apa?"

"Tapi Kak Ice di mimpiku lebih keren! Lebih aktif! Lebih berwibawa! Lebih tampan! Lebih--"

"Heh! Jadi Gempa mau bilang Kak Ice yang ini sebaliknya begitu?!"

Ice berdiri lalu mencubit dan menarik-narik kedua pipi tembam si bocah cilik. "Rasakan ini!"

"Ti-twidak kwok! Ampwun! Hwaaa!" rengek Gempa berusaha melepaskan tangan berbisa kakaknya dari pipinya. Ice melepaskan cubitannya lalu berkacak pinggang.

"Maaf diterima tapi buatkan aku es coklat!"

"Hmph! Kita bukan teman!" seru bocah cilik itu dengan pipi menggembung kesal. Walaupun begitu dia tetap berlari ke dapur untuk melakukan apa yang disuruh sang kakak.

Ice tersenyum puas, namun senyumnya dengan cepat memudar.

"Ice di mimpi itu mengambil perhatian adikku. Tak bisa dibiarkan!" ujarnya geram.

"Hah? Kau bicara apa sih? Bisa-bisanya kau marah pada orang yang juga bernama Ice," Blaze muncul tiba-tiba.

"Diam kau, Blaze!"

"Apa?! Marilah kalau berani!"

"Siapa takut--"

"Blaze! Ice! Kalau kalian mau bertengkar maka tidak ada sarapan untuk kalian!"

"Eh?! Ampun Ayah!"

"Hmph!" dengkus Ayah Amato yang sibuk di dapur demi menyiapkan sarapan untuk tujuh putra tercintanya.


Tamat