APOLOGIZE

"Terkadang ada sesuatu yang lebih baik dibiarkan tak terucapkan. There is a voice that doesn't use words. Listen!"

.

.

CHAPTER 1

.

.

.

.

Tak...tak..takk...

Tombol-tombol keyboard di tekan secara bergantian. Menimbulkan bunyi nyaring di telinga pemuda keturunan China-Korea itu. Ia melirik wanita berpakaian compang-camping di bangku sebelah. Memeluk tasnya di dada dengan tangan gemetaran. Kopernya ia biarakan tergeletak di dekat tempat duduknya. Wajahnya sarat akan kebingungan, seperti anak kucing yang tersesat. Ketika matanya tak sengaja bertemu dengan gadis itu, cepat-cepat ia memalingkan wajahnya.

"Anda kenal gadis itu?" Tanya petugas polisi yang duduk di depannya dengan bahasa mandarin.

"Tidak," jawab pemuda itu cepat.

"Anda bisa bahasa Korea? Kupikir gadis itu tidak bisa bahasa mandarin, kita juga - "

"Maaf tapi bisakah kau mengurus surat kehilangan dompetku lebih cepat. Aku ada acara keluarga setelah ini."

Polisi itu tersentak sesaat karena tiba-tiba ucapannya di potong, namun kemudian meminta maaf dan segera mengetik kembali. Namun itu tak berlangsung lama karena seorang gadis lainnya berlari masuk dengan hentakan kaki yang keras. Sekujur tubuh basah kuyup. Ia menghampiri dan memeluk gadis berbaju compang-camping tadi.

Pemuda itu melirik kedua gadis itu. Sangat dramatis pikirnya. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di meja untuk beberapa saat, kemudian berseru dengan nada seolah-olah terkejut, "Luhan? Kenapa kau disini?"

.

.

.

Kaki Kyungsoo tak bisa berhenti berlari melewati trotoar jalanan. Dengan sewa murah, ia rela menanjak dan menuruni jalanan hingga sampai ke stasiun terdekat. Lalu kembali berlari lagi, kali ini halaman depan K.A.I Furniture dengan puluhan anak tangga tersusun sampai ke lobi gedung.

"Kau titipkan siapa hari ini?"

"Bibi Jung." Ketika tersadar dirinya menimpali seseorang, kakinya mengerem mendadak. Dengan was-was ia menoleh kepalanya sambil memegangi dada, takut jika jantungnya tiba-tiba menggelinding di lantai.

Kris mengangkat sebelah alisnya, tangannya mengambil tisu di saku jas. Menyeka keringat Kyungsoo dengan hati-hati. Baru beberapa usapan, tangan Kyungsoo menahannya. Ia mengalah, menurunkan tangannya dan berucap dengan datar. "Biarkan putraku bersamaku, aku ayahnya kenapa menitipkannya kepada orang lain?"

"Aku tau kau sibuk Tuan Wu, aku tak ingin merepotkanmu," balas Kyungsoo kembali berjalan dengan langkah lebar menuju lift terdekat. "Aku orang lain disini, jadi kumohon berpura puralah tak mengenalku."

Lift terbuka. Hanya satu orang yang berdiri disana. Menggeser tubuhnya ke sisi belakang, memberi ruang untuk dua orang. Kyungsoo membungkuk berterima kasih, karena ia tahu itu pimpinannya disini. Kim Jongin.

Si bungsu dari tiga bersaudara. Di paksa berhenti dari dunia layar kaca dan di minta membuat perusahaan baru di bidang furniture oleh sang ayah. Perusahaan yang nantinya menjadi anak perusahaan Kim Corp. Untungnya setelah beberapa kali harus di rawat di rumah sakit karena gangguan pengelihatan dan penyakit syaraf, akhirnya Kim Jongin berhasil membuat nama K.A.I Furniture di kenal.

Jongin membenarkan kaca matanya seraya menegakkan kepalanya melihat makhluk peradaban mana yang berdiri di depannya. Untuk sesaat ia terkejut mendapati pemilik gedung sebelah berada di lift kantornya dan lebih anehnya lagi bersebelahan dengan staf sekretarisnya, Nona Do Kyungsoo.

Ia memilih menyimpan keterkejutannya dan bersikap acuh sembari menggulir layar ponselnya. Namun entah bagaimana ia tak bisa mengabaikan Kyungsoo yang sedari tadi pelan-pelan menggeser tubuhnya beberapa jengkal dari Wu Kris. Melipat tangannya di dada dan tanpa sadar menatap layar penujuk lantai lift. Ia tak suka terjebak disini.

Apa karena aku? Pikir Jongin menduga-duga. Sebab tak ada satupun yang suka berada di dekat dirinya. Begitulah yang ia dengar dari obrolan bawahannya. Namun akhirnya Jongin menyudahi acara menduga-duganya pagi ini dan tak ambil pusing.

Di sisi lain mood Kyungsoo pagi ini semakin memburuk sejak kedatangan Kris. Menyibukkan diri adalah cara menyingkirkan stressnya. Ia segera bergelut dengan dokumen dan segera membuat reservasi untuk perjalanan bisnis pimpinannya.

"Kyungsoo-ssi bisa kau bantu aku membuat presentasi produk baru kita?" suara Baekhyun, sekretaris utama sekaligus ketua divisinya. Yang tak bisa diam di tempat duduknya karena menemani sang pimpinan kesana-kemari.

Tidak ada jawaban lain selain. "Tentu, akan ku selesaikan hari ini." Setelah mendapatkan jawaban Kyungsoo, Baekhyun berlalu pergi hingga suara hak tingginya menghilang di pintu.

"Apa kau tau Tuan Kim akan perjalanan bisnis ke China?" Bisik Yixing yang tiba-tiba menodorong kursinya mendekat.

"Ya, aku sudah memesan hotel dan tiket pesawat," jawab Kyungsoo sekenanya, jari-jarinya tetap aktif mengetik.

"Apa kau tau siapa yang akan menemaninya?" suara Yixing semakin antusias.

"Bukannya Sekretaris Byun? Atau mungkin Tao sunbae yang lebih senior dan bisa bahasa mandarin," jawab Kyungsoo asal.

"Oohh Maaf...aku tidak akan mau, gajiku dinaikan pun aku tidak akan sudi," sahut Tao di sebrang meja.

"Kenapa?" Kali ini Kyungsoo menolehkan wajahnya, meminta penjelasan Yixing.

"Hey kau panda, jangan menakut-nakutinya!" Yixing melempar gumpalan kertas ke kepala Tao. Tao berbalas memakinya dengan bahasa mandarin agar tak ada yang tau.

"Sebaiknya kau bersiap Kyungsoo-ya. Mungkin Sekretaris Byun akan membawamu. Dan tahan dirimu untuk tidak muntah saat mereka bermesraan," nasehat Yixing bernada sedih.

"Mereka sepasang kekasih?" tanya Kyungsoo lagi, menyusun kertasnya bersiap menggandakan di ruang cetak.

"Bukan, Sekretaris Byun punya kekasih sendiri. Mereka hanya berteman dekat sejak bangku sekolah, begitu kata orang-orang. Bahkan Sekretaris Byun akan membantu siapa pun yang ingin mendekati Tuan Kim," jelas Yixing.

"Tapi sia-sia saja," sahut Tao lagi.

"Dia salah satu korbannya. Semua staf sekretaris disini pernah mencobanya kecuali aku," sambung Yixing. "Karena aku sudah punya pria idaman lain."

"Kau tak ingin mencobanya, Kyungsoo-ssi?

Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya sambil membawa tumpukan berkas yang akan ia gandakan. "Tidak, terima kasih. Kertas-kertas ini saja sudah cukup merepotkanku, aku tak mau mempersulit hidupku hanya untuk menggoda pria."

"Padahal menggodanya bukan hal yang sulit."

"Apa jika berkencan dengannya bisa membuatku cuti sebulan dengan gaji full ? Jika tidak lupakan saja," Kyungsoo berseru lalu menatap Yixing dengan dahi berkerut. Seniornya itu sedang sibuk menerima telepon sekarang lalu siapa yang menimpalinya sejak tadi?

Tap. Secup coklat panas menyentuh meja kerja Kyungsoo dengan nyaring. Karena terkejut Kyungsoo memutar kepalanya pelan-pelan, instingnya berkata dirinya dalam bahaya.

"Minumlah dan kau bisa bernego denganku nanti," ucap Jongin dingin lalu pergi ke ruangannya tanpa banyak kata. Kyungsoo tak bisa membedakan apakah itu serius atau sebuah sindiran.

Baekhyun yang sedari tadi menimpalinya, tersenyum cerah di belakang Jongin. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. "Kau bisa cuti satu tahun jika kau mau, Nona Do," ujarnya. Kyungsoo hanya bisa tersenyum kecut.

"Nona Byunnn!" Tegur Jongin dari dalam ruangan.

"Tidak usah berteriak, Jongin! Aku tidak tuli, kentutmu saja aku bisa dengar." seru Baekhyun.

Untuk sesaat semua orang di ruangan bergegas terlihat sibuk dan berpura-pura tak mendengarkan teriakan mereka berdua.

.

.

.

"Apa aku seburuk itu?" Tanya Jongin tiba-tiba.

Baekhyun berpikir sebentar, menerka-nerka pertanyaan konyol itu tiba-tiba muncul di saat dirinya sudah siap menjinjing tas dan berlari memeluk Chanyeol di depan gedung. "Ya," jawabnya duduk di atas meja Jongin.

"Kenapa? Akhirnya kau sadar?" timpal Baekhyun tak bisa menahan untuk tidak mengolok-olok sahabatnya itu. "Lihat bibirmu sudah berkarat karena terlalu lama tidak di lumat. Makanya turunkan keangkuhanmu itu, Jonginnn!"

"Lupakan saja," Jongin malas mendengarkan ceramah Baekhyun selarut ini. "Pulanglah!" usirnya kesal.

Namun bukan Byun Baekhyun jika tidak penasaran. "Kenapa kau bertanya? Dan kenapa kau memberi Nona Do coklat panas? Kau kan medit dan kikir," ucapnya dengan pandangan menyelidik.

"Hanya kasian, dia terlalu giat bekerja," sahut Jongin.

"Jangan melakukannya lagi. Nona Do mengirimiku puluhan pesan khawatir jika kau marah sampai-sampai memberinya coklat panas pahit."

"Pahit?" ulang Jongin bingung. Beberapa detik kemudian ia tersadar kalau lupa memesan menambahkan gula, sebab sang pemilik cafe sudah hafal dirinya memesan coklat pahit, kopi pahit, teh pahit. "Aahhh...maaf aku lupa memesan yang manis."

Baekhyun turun dari meja Jongin, "Bagaimana kalau Nona Do yang menemanimu ke China?" usulnya jahil.

"Kau gila? Turtle neck nya saja sudah sangat menggangguku, kau malah menyuruhnya bersamaku seharian," Seru Jongin menyurakan penolakannya dengan keras.

Mulanya Baekhyun tidak paham, kenapa Jongin begitu terganggu dengan turtle neck Kyungsoo. Tapi kemudian ia segera paham keresahan Jongin. "Aku tidak tau kalau kau punya fetis dengan hal-hal yang tertutup," goda Baekhyun usil.

Jongin berdecak kecil, "Fetis? Yang benar saja."

"Lalu kenapa kau terganggu dengan model turtle neck ?" Baekhyun tak mau kalah. "Aku sering memakainya dan kau biasa saja."

"Bukannya aku sudah menyuruhmu pulang?" Bentak Jongin enggan di usik lebih jauh. Memaksa Baekhyun melangkahkan kakiknya ke pintu.

Baekhyun mengangkat kedua tangannya ke atas. Menyerah mengorek privasi Jongin. "Baiklah...baiklah...kita akan ke China bersama Nona Do. Aku membutuhkannya, kau terlalu merepotkan jika ku tangani sendiri. Tidak ada penolakan."

"BAEKKKK!" protes Jongin tak terima.

Namun Baekhyun yang sudah memegang gagang pintu berbalik memarahinya. "Sssttt...dia sedang tidur," ujarnya tanpa bersuara.

Lucunya Jongin menjadi ikut-ikutan bertanya tanpa bersuara, hanya dengan gestur mulutnya saja ia bertanya, "Siapa?"

Baekhyun meninggikan krah bajunya hingga menutup leher. Lalu menunjuk Jongin dan membuat bentuk hati di dadanya. Tak lupa diakhiri dengan tawa cekikikan ala Byun Baekhyun.

Jongin sukses melemparinya dengan bantal sofa. "Yakkkkk...aku akan memecatmu secepatnya!"

Sepeninggal Baekhyun. Jongin memeriksa meja karyawan dan benar Kyungsoo masih disana. Terpejam dengan komputer masih menyala. Tangan Jongin meraih mouse komputer menyimpan semua data lalu mematikannya. Kemudian ia terdiam sesaat, menimbang-nimbang membangunkan Kyungsoo atau membiarkannya.

Ponsel Kyungsoo yang berdering menjadi jawabannya. Jongin mengangkatnya. Suara wanita setengah baya dari seberang sana. Menyapanya dengan hormat. "Nona Do bisakah anda memberitahu dimana anda sekarang? Tuan muda cemas karena anda tak mengangkat teleponnya."

Mulut Jongin sedikit kelu untuk sekedar menjawab. Ia tak punya ide apa pun di kepalanya. Jika ia jujur firasatnya berkata akan ada kesalahpahaman yang muncul.

"Nona Do..." panggilnya lagi.

"Aakhhh maaf, Nona Do sedang pergi ke luar sebentar untuk makan malam dan ponselnya tertinggal di meja kantor. Mungkin ia akan kembali beberapa menit lagi. Apa ada yang ingin disampaikan? mungkin aku bisa memberitahunya ketika ia kembali."

"Syukurlah, sampaikan pada Nona Do. Tuan muda akan menunggunya di halaman gedung."

"Tentu akan kusampaikan nanti."

Jongin berjalan menuju jendela kaca besar. Gerimis yang turun cukup membuat halaman gedungnya basah. Beberapa genangan air terbentuk di jalanan yang tidak rata. Ia tak sabar menunggu mobil mana yang akan menjemput gadis ini.

"Sebaiknya anda tidak menaruh rasa penasaran pada saya," suara Kyungsoo membuyarkan lamunan Jongin.

Jongin menoleh, menemukan Kyungsoo sudah terbangun dari tidurnya. Tanganya sibuk membereskan dokumen dan berkemas-kemas. "Saya minta maaf untuk ucapan saya tadi pagi. Saya tidak bermaksud menyingung anda, sajangnim," Kyungsoo membungkuk beberapa kali sebagai tanda keseriusannya.

"Aku tidak merasa tersingung," elak Jongin berjalan pelan-pelan mendekati meja Kyungsoo.

Posisi Kyungsoo yang masih duduk di kursinya, mengharuskan ia mendongakkan kepalanya guna melihat ekspresi sang pimpinan. Cahaya yang minim karena semua lampu sudah di padamkan menambah laju jantung Kyungsoo semakin kencang. Rasa waspadanya muncul tanpa bisa dibendung.

Jongin mengembalikan ponsel Kyungsoo, dengan nada begitu lembut ia berkata, "Maaf mengangkat teleponmu. Cepatlah pulang, makan yang banyak dan tidur dengan nyenyak."

"Kurasa kekasihmu datang menjemput beberapa menit lagi," imbuhnya sambil melirik jam di ruangan. Kemudian pergi begitu saja menuju ruangannya seperti tadi pagi.

"Anda sudah makan?" cetusnya. Jongin mengabaikannya, ia tetap masuk ke ruangan tanpa menjawab. Tiba-tiba rasa bersalah menghantuinya, tanpa alasan. Kyungsoo segera membuka laci mejanya, mengambil secup mie instan dan sumpit. Menyeduhnya dengan air panas di dispenser.

Lewat kaca jendela ia tahu Kris sudah menunggunya di bawah dengan mobil hitam mengkilap terkena tetesan gerimis, namun Kyungsoo malah mengetuk pintu ruangan Jongin. Lalu meninggalkan secup mie instan itu di depan pintu. "Sajangnim, Anda juga harus makan. Maaf hanya ini yang ku punya."

Jongin mampu mendengarnya dari balik pintu. Setelah suara kaki Kyungsoo menghilang, Jongin baru berani membuka pintunya. Menemukan secup mie instan dengan sumpit di atasnya. Bibirnya tertawa tipis memikirkannya kemungkinan mienya sudah mengembang dan kuahnya tinggal sedikit. Ia berjongkok disana, cukup lama. "Baekhyun akan tertawa puas jika melihatku sekarang ini," keluh Jongin tertawa getir.

.

.

.

Baekhyun menggoyang-goyangkan isi gelasnya. Bongkahan es berputar-putar, sesekali membentur dinding gelas tanpa bisa di cegah. Chanyeol menatapnya dengan alis di angkat, bersiap mendengarkan cerita kekasihnya.

"Si bungsu otak kayu?" tebak Chanyeol karena Baekhyun tak kunjung membuka mulutnya.

Isi gelas Baekhyun habis dalam sekali tegak, lalu tersenyum mengerikan. "Aku akan membunuhnya jika aku sudah punya anak nanti," serunya bengis.

Chanyeol mendelik lucu, mengorek kupingnya asal untuk memeriksa pendengarannya. "Sungguh malang sekali kau,nak! Ibumu seorang kriminal," komentarnya.

Baekhyun merengut kepadanya, seolah-olah Chanyeol baru saja mencolok matanya. Chanyeol langsung siaga 1, lalu segera berkata dengan penuh perhatian. "Oke...oke jadi apa yang membuatmu kesal, sayangku?"

"Bocah itu melarang semua orang masuk ruangannya. Jadi hanya aku yang melaporkan seluruh kegiatan perusahaan beserta jadwal pribadinya. Mulutku berbusa, mataku iritasi karena terus melihat wajahnya."

"Sudahlah, mungkin Jongin sedang marah. Belikan saja permen atau susu," cetusnya asal.

Baekhyun menyeringai jahil. Sesuatu yang buruk sudah merasuki otaknya. Chanyeol yakin itu. Dengan tawa yang di paksakan Chanyeol berkata, "Aku hanya bercanda... Jongin kan pemuda dewasa...hahaha. Mana mungkin suka permen atau su - "

Begitu mengatakannya, Chanyeol tersadar. Ia ingin sekali bisa menjahit mulutnya sendiri. "Kau tidak berniat memberikan..." tanganya membentuk bulatan di depan dada. "Pada Jongin kan?"

Baekhyun tidak menjawab, masih dengan ekspresi menyeringainya. Chanyeol memegangi pundak Baekhyun, mengguncangnya sedikit keras. "Tidak...tidakkk...tidak..." serunya dramatis.

"Sepertinya rencanaku akan gagal," wajah Baekhyun mendadak menjadi lesu, matanya terpaku ke jendela cafe. Chanyeol berhenti mengguncang, mengikuti arah pandang kekasihnya. Memiringkan kepalanya guna melihat siapa yang menurunkan seseorang di depan halte, di tengah malam seperti ini. "Hell, si tua bangka."

"Siapa?" Baekhyun menoleh dengan cepat.

"Ahh... maksudku Tuan Wu Kris. Bos ku. Kau tak mengenalnya?"

"Paman itu pimpinan Wu Entertaiment?"

"Iya, sayang."

"Paman itu? Pimpinan?"

Chanyeol menoleh untuk menatap Baekhyun lurus-lurus. "Bukankah memanggilnya paman terlalu berlebihan? Si tua bang- maksudku Tuan Wu Kris hanya selisih 7 tahun dengan kita. Saat kita lahir, dia baru masuk sekolah dasar, Baek!"

"Kau mengatainya tua bangka tadi. Kau lebih buruk dariku, SAYANGG!" cerca Baekhyun tak terima.

Mereka menyudahi perdebatan dengan mengintip bersama di balik jendela kaca cafe. Menonton bagaimana Kris berjongkok di depan wanita itu. Mulanya mereka berdua berpikir bos agensi besar itu sedang mencium lutut sang wanita di hadapannya. Namun setelah menyipitkan mata, mereka menemukan anak kecil yang berdiri di samping gadis itu, mendapat ciumam sayang di pipinya dari sang bos besar.

"Well, si tua bangka memang beda. Ternyata kegaduhan di keluarga Wu karena seorang wanita bukan isapan jempol belaka." Diam-diam Chanyeol meraba pelipisnya yang tertoreh luka bekas jahitan. Selama ini ia menutupinya dengan rambutnya yang dibiarkan memanjang.

"Kudengar kegaduhan itu karena Tuan Wu menikah lagi, alhasil Wu Kris sebagai anak tunggal marah besar," Baekhyun menimpalinya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Ada kegaduhan yang lebih besar lagi setelahnya. Soal wanita-lagi dan putranya," Chanyeol menunjuk anak kecil yang berdiri disana. "Anak itu putra Kris, Sehun pernah bilang padaku."

"Lalu wanita itu - istrinya?" tanya Baekhyun takut-takut.

Chanyeol mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Entahlah. Kris tak pernah menjelaskan statusnya."

Mulut Baekhyun terkatup rapat-rapat. Ia tau benar gadis itu staf barunya, yang rencannya ia gunakan untuk mendekati Jongin. Agar kelak ketika dirinya resign , Jongin punya seseorang untuk menggantikannya. Ia pikir gadis biasa dan pekerja keras seperti Kyungsoo akan cocok menggantikannya. Tapi - orang sekelas Tuan muda Wu ada di belakangnya atau bahkan ternyata suaminya, ia tak pernah membayangkan ini sebelumnya.

"Bagaimana mungkin media tak mencium berita sepanas ini?" komentar Baekhyun, menatap kekasihnya.

"Kau saja tak mengenali wajahnya. Hanya segelintir orang yang tau wajah Wu Kris," jelas Chanyeol meminun kopi panasnya. Ia harus menyetir, tidak ada alkohol untuknya.

"Bantu aku berpikir..." ucap Baekhyun cepat.

"Oke, akan aku pinjami otakku," balas Chanyeol asal.

"Misal - "

"Ya hmmm..."

"Misalkan wanita itu istri Tuan Wu Kris dan bekerja di perusahaanku dan ternyata kawanku di perusahaan menyukainya. Apa yang harus ku lakukan?"

"Apa kita sedang membicarakan kawanmu si bungsu otak kayu?" tebak Chanyeol.

Baekhyun mengangguk kuat-kuat. Chanyeol menarik nafas kuat-kuat sebelum berkata, "Biarkan saja. Siapa tau Jongin berhasil merebutnya."

"Maaf, aku tidak ingin menyela, tetapi ... bisakah berhenti membicaranku?"

Baekhyun dan Chanyeol hampir terlompat dari kursinya. "Sejak- sejak kapan anda disini?"

"Baru saja." Kris menarik salah satu kursi disana dan bergabung dengan sepasang kekasih ini. Wajah mereka berdua begitu tegang sampai tak berani membuat gerakan sedikit pun.

Sudut mata yang tajam dan tulang hidung yang tinggi. Dengan tatanan rambut begitu rapi dan ekspresi angkuhnya, dia tampak seperti vampir hidup sampai-sampai Baekhyun harus menahan dorongan untuk tidak menutupi lehernya dan berkata, "Darahku pahit."

Kris menatap gelas milik Baekhyun yang telah kosong. Meraih sebotol alkohol, mengisi kembali gelas Baekhyun yang kosong. "Kau kenal Kyungsoo?" tanyannya dengan sebuah lirikan kecil.

"Mmm...ya, dia staf baruku. T-tenang saja aku... aku...tak akan macam-macam dengannya," lidah Baekhyun mendadak kelu. Sial, kharisma bos kekasihnya memang tak bisa diabaikan.

"Minumlah," ujarnya setelah selesai mengisi gelas Baekhyun yang kosong.

Jujur saja Baekhyun merasa risi harus minum sambil dipandangi. Namun Kris tak bersuara lagi, ia hanya khusyuk menatap Baekhyun yang sedang minum. Menunggu gelas itu kosong kembali. Begitu kosong, sudut bibir Kris tertarik sedikit. Alisnya terangkat saat ia berucap dengan bahasa mandarin, "Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu. Nona Do bilang kau memperlakukannya dengan baik dan kau cukup menawan katanya. Aku percaya sekarang."

Baekhyun tersenyum penuh percaya diri sekarang, hatinya meleleh karena kata-kata manis. Namun Kris menoleh sekilas ke Chanyeol lalu berkata lagi, "Yang tidak ku tahu kenapa kau berkencan dengan orang sepertinya?"

"Kenapa Anda juga memperkerjakan orang tolol seperti dia?" balas Baekyun setengah berbisik.

Kris tertawa tipis. Mengambil jarak dengan Baekhyun. Bersandar di punggung kursi dan melipat tangannya di dada dengan sangat rapat. "Kau tahu - kadang ada hal-hal yang di luar kendalimu. Dan tak usah berbisik, dia tidak akan mengerti apa yang kita bicarakan. Lihat dia hampir sinting karena tak di ajak bicara!"

Dilihatnya Chanyeol yang sudah memberengut kesal. Baekhyun berkata tanpa melepas tatapnya pada Chanyeol. "Dia di luar kendaliku juga."

Kris hanya bisa mengangguk paham. Melirik arloji mahal miliknya. Ia harus segera pulang. "Tolong bersikaplah biasa kepada Nona Do. Ingat aku menyandera kekasihmu di perusahaanku," ujarnya setengah bergurau meski raut wajahnya berkebalikan.

" - kau bisa menghubungiku jika sesuatu terjadi padanya. Begitu juga jika sesuatu terjadi padamu."

Hati Baekhyun sekarang tidak hanya meleleh tapi juga lumer. "Jika sesuatu terjadi Chanyeol, apa aku bisa menghubungi Anda?"

"Tidak, hubungi saja rumah sakit jiwa terdekat."

.

.

.

Pertemuan dengan kolega tinggal beberapa menit lagi, namun Kyungsoo maupun Baekhyun tak menemukan batang hidung Jongin. Bocah besar itu masih merajuk karena nekat membawa Kyungsoo. Baekhyun tau setelah melihat gelagat ingin membunuhnya ketika nama Kyungsoo di sebut. Dan berakhir ia berjanji akan menyusul dengan jadwal penerbangan yang berbeda.

"Apa sajangnim memberi kabar?" tanya Kyungsoo menoleh kesana kemari, siapa tau bos nya tersesat di bandara.

"Tidak, mungkin zipper celananya macet," jawab Baekhyun berniat melucu, namun yang ia dapati Kyungsoo yang menatapnya serius dan khawatir. Yahh terima saja stafmu ini tak bisa bercanda jorok, batin Baekhyun iba pada dirinya sendiri.

"Haruskah kita membantunya?" usul Kyungsoo.

"Tidak," tolak Baekhyun cepat lalu buru-buru merubah topik. "Aku akan disini sampai besok pagi, sisanya akan kuserahkan Jongin padamu. Apa kau - " ucapan Baekhyun terputus begitu saja saat batang hidung Jongin muncul. Menyeret koper dan menenteng paspor di tangan lainnya.

Baekhyun dan Jongin bertukar pandang sengit dari kejauhan namun apa pun yang tengah mereka pikirkan, mereka tidak membaginya pada Kyungsoo. Kaki panjang Jongin berbalik arah tanpa menyapa. Meninggalkan dua gadis yang menunggunya dengan dahi berkerut.

"Hei, BOCAH TENGIKK!" protes Baekhyun berlari mengejarnya. Langkah Jongin semakin cepat.

Pengejaran mereka berakhir di taksi sempit. Baekhyun duduk di depan bersama seorang sopir taksi. Sisanya duduk di kursi penumpang. Saling berjauhan meski hanya bisa sejengkal saja. Mencoba menempel pada masing-masing sisi jendela.

"Hey, ada apa dengan kalian?" tegur Baekhyun melirik kaca spion, lalu memincingkan matanya curiga. "Jongin kau tidak benar-benar punya fetis pada - "

"Tutup mulutmu!" desis Jongin.

"Tuan Kim apa kau belum tahu Nona Do sudah punya kekasih? Benarkan, Kyung?" Baekhyun berulah lagi.

"Tidak / Aku sudah tau," jawab mereka berbarengan. Lalu keadaan menjadi sangat canggung. Bagi Baekhyun sekalipun.

Jongin mengangkat kedua alisnya. Jadi orang yang menjemputnya tempo hari bukan kekasihnya. Lalu berarti Kyungsoo masih - pikiran itu terhenti begitu saja. Terkutuklah pikiranku, dimana otak warasku? Mengencani karyawanku sendiri.

Taksi melaju cepat ke hotel tempat mereka menginap. Disanalah Jongin harusnya duduk setidaknya setengah jam lalu. Sayangnya, jalanan tak bisa diprediksi. Ada saja yang mencoba menerobos jalanan sesuka patatnya. Memaksa taksi mereka mengerem mendadak. Memutar layaknya gangsing di tengah-tengah jalan raya.

"Adouw," suara Baekhyun tubuhnya bergoyang kesana-kemari karena putaran. Jika saja ia tak pakai sabuk pengaman, dirinya sudah membentur seluruh sisi taxi.

Sementara pintu belakang kanan mobil terbuka lebar. Angin masuk dengan senang hati. Menghantam para penumpang belakang. Kyungsoo maupun Jongin masih terikat dengan sabuk pengaman. Namun kabar buruknya sisi kanan taxi akan menghantam ke pembatas, sebagai akhir dari atraksi. "Lepaskan sabukmu!" suara Jongin memohon padanya. Tangannya memegangi lengan Kyungsoo kuat-kuat, bersiap menariknya.

Ada banyak jawaban yang mungkin saja Kyungsoo berikan, dari "Sabukku macet" atau "Singkirkan tanganmu dari lenganku! Aku alergi orang kaya!" sampai "AKU BISA TERPELANTING TERBANG BOS." Satu-satunya yang bisa terpikir olehnya untuk ia katakan adalah "Jangan khawatir aku akan baik- baik saja...sepertinya."

"Nona Do kau belum ikut ansuransi perusahaan, jika kau ma-"

"Ya," cetus Kyungsoo. "Terima kasih banyak, Sajangnim sudah mengingatkan saya."

"NONA DO —"

Mobil benar-benar menepi ke sisi kanan. Menghantam pinggiran tembok pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Seperti memarut sebuah taxi. Suara gesekan besi yang nyaring berduet dengan suara rem memekakan telinga membuat Baekhyun memejamkan mata erat sambil komat-kamit berdoa.

Taxi berhenti dengan sedikit asap mengepul. Sang sopir duduk di kursi kemudi masih mengalami serangan kaget tak berkesudahan. Baekhyun hanya memar di kepala akibat benturan, tapi cukup membuatnya terhuyun-huyun keluar dari taxi. Saat kesadarannya kembali, ia segera teringat dua rekannya.

Ia sempat terkejut melihat pintu taxi yang hampir copot dari tempatnya. Ditambah bangku kanan yang kosong dan remuk pinggirnya. Kekhawatirannya memuncak. "Kyungsoo - ," panggilnya seperti mencicit, menoleh ke sekitar secara acak. Berharap stafnya itu tidak terlempar terlalu jauh. "Kyungsoo!" Panggilnya lebih keras.

"Dia disini, Baek" suara Jongin.

Baekhyun mencari sumber suara, menengok ke dalam taxi. Terselimuti tubuh besar Jongin, wajah Kyungsoo mencuat di balik punggungnya. Dia berkedip untuk mengenyahkan air mata yang keluar. Tak ada luka tapi dari tatapannya jelas ia sedang terguncang. Mungkin karena kecelakaan ini atau - hal lainnya.

"Tak apa, kau sudah selamat...kau baik-baik saja," ucap Jongin sadar Kyungsoo sedang tak baik-baik saja.

"Lepaskan dia bodoh, alih-alih takut mati dia lebih takut padamu," kata Baekhyun.

"Apa? Tapi aku-" suara Jongin tak percaya, tapi ia segera menurut melonggarkan tubuhnya dan memberinya jarak. Dipandanginya tangan Kyungsoo yang gemetar tak terkontrol. Menundukan wajahnya hingga rambutnya yang tergerai turun menutupi wajah.

"Nona Do -" Jongin mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Kyungsoo. Kyungsoo bereaksi cepat, menampik tangan Jongin dari lengannya. Baekhyun maupun Jongin sama kagetnya.

Jongin memelototinya seakan dia bakal meninjunya. Atau setidaknya membentaknya, aku sudah menyelamatkanmu lalu kau merasa jijik denganku. Sesuai dengan tempramennya yang buruk. Tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan Baekhyun. Dia menelengkan kepala dan menciumnya.

"Wow,bung!" gumam Baekhyun. "Kau mabuk ya?"

Tentu tangan gemetaran Kyungsoo mendorongnya menjauh. Kali ini sorot mata Kyungsoo lebih menyeramkan, seolah menaruh dendam kesumat pada Jongin.

"Kuharap kau hanya kaget karena kecelakaan ini," kata Jongin menekan suaranya agar tidak meledak. "Istirahatlah setelah ini. Biar Baekhyun bersamamu dan aku akan berhenti memperlakukanmu dengan baik."

"Akan ku pindah kau ke divisi lain, agar kau tak perlu repot-repot melihatku lagi," sambungnya.

Lalu ia berjalan menjauh dari taxi. Dari kejauhan samar-samar Baekhyun melihat bos nya itu meremas bahunya sambil memgumpat, "Terkutuklah leher tegangku."

Baekhyun berseru keras. "Oeyy, otak kayu! Kau bercanda kan? Kyungsoo hanya shock saja, itu wajar jika dia menjauh darimu. Kau tak sadar wajah jelekmu menyeramkan!"

"Yakkk...yakkk...Jong! JONGG!" Teriakan itu di abaikan Jongin.

.

.

.

.

Untuk para pembaca,

Dengan amat menyesal, sepertinya Reincarnation ngga bakal di lanjutin sampai waktu yang tak ditentukan. Tapi serius, aku sayang kalian semua. HAHAHAHAHA