APOLOGIZE
"Terkadang ada sesuatu yang lebih baik dibiarkan tak terucapkan. There is a voice that doesn't use words. Listen!"
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
.
Pagi ini cukup semarak dengan bau detergen, mesin cuci tua yang mengeluarkan bunyi menjengkelkan glodak-glodak setiap mencoba mengeringkan baju. Kyungsoo duduk di sampingnya, memeluk kedua lututnya sembari memainkan kuku kedua ibu jarinya. Meski begitu bising, namun ia masih mampu mendengar derit pintu yang terbuka.
"Sehun menemukannya, Kyung," ucap Luhan yang muncul dari balik pintu. Sehun mengekor di belakang, menggenggam erat dasi di tangan. "Sehun bilang dasi ini milik - "
"Tolong hilangkan dia dariku...tolong," igaunya memohon dengan tatapan mata yang kosong.
"Tentu, kita akan menyeretnya ke penjara," timpal Luhan.
Sehun memandang ke sekeliling ruangan. Ruangan cuci kedai Tuan Lu berubah menjadi sebuah kamar kecil, dengan menempatkan ranjang dan meja di sisi yang longgar. Tergeletak benda kecil di atas meja, bergaris dua meski garisnya begitu samar. Lidah Sehun mendadak kelu. Ia memegang lengan kekasihnya, Luhan. Membisikan sesuatu ke telinganya.
Luhan berdiri dengan tergagap, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia ingin mengumpat tapi Kyungsoo tak butuh tambahan ide umpatan. "Aku tak sudi temanku menampung darah daging kotornya," serunya segera memeluk Kyungsoo erat.
"Tenang, Kyung...Sehun akan mencarikanmu rumah sakit untuk menyingkirkannya, semua akan baik-baik saja. Benar kan, Hun?"
Deg. Jatung Sehun berpacu sangat cepat, "T-tentu, semua akan baik-baik saja setelah itu." Luhan memberikan tatapan terima kasih, sampai-sampai ia merasa bagai pembohong besar. Bagaimana mungkin ia bisa menjanjikan kepadanya bahwa semuanya akan baik-baik saja?
"Sayang sekali, dia pasti bayi yang lucu," gumam Sehun pelan. Sangat pelan. Seperti tak ingin ketahuan oleh dirinya sendiri. Kyungsoo menoleh, seakan mendengarnya. Untuk sesaat mata mereka saling bertemu.
.
.
.
Baekhyun terbang kembali ke Korea kemarin malam. Meninggalkan bos-nya yang tukang merajuk dengan staf-nya yang masih agak depresi. Untungnya, Kyungsoo kembali ceria dengan cepat. Hanya saja suasana canggung mereka semakin canggung dan di bumbui wajah sinis Jongin. Itu bukan hal yang mengejutkan sepertinya. Mereka sama-sama salah dan saling menyakiti tanpa sadar.
Di anggap menjijikan orang yang kau sukai. "Terjemahkan saja apa yang ia katakan. Jangan mengacau, ini kesepakatan yang penting. Mengerti?"
Di sentuh dan di cium oleh orang yang lain seenak duburnya. "Aku mengerti. Jika ini gagal saya siap Anda pindah di divisi yang mengepel lantai anda sampai mengkilap. Itu lebih baik."
Dahi Jongin berkerut lucu. Cleaning servis? Itu bukan sebuah divisi. Dan apa katanya? Lebih baik? Apa artinya dirinya ini lebih buruk dari kain pel?
"Pakai ini," Kyungsoo memberinya plester dengan gambar dinosaurus. Menunjuk punggung tangan Jongin yang tergores dengan dagunya. "Akan perih jika terkena sabun atau mungkin sambal."
Sambal? Hell, siapa yang akan mengoleskan sambal ke lukanya sendiri. Kecuali Kyungsoo benar-benar dendam padanya dan sengaja menumpahkan sambal ke tangannya. Atau mencelupkan tangannya ke sambal dengan sengaja.
"Terima kasih, tapi gam - "
Kyungsoo meraih tangannya. Menempelkannya dengan paksa. Sang dinosaurus berleher panjang tertempel di sana, tersenyum lembar sambil mengunyah daun seolah mengejek Jongin. Hai, bung.. Aku membuatmu tambah konyol.
"Saya harap Anda tidak tersinggung lagi hanya karena gambarnya dinosaurus," sindir Kyungsoo menekan kata lagi. "Saya hanya kaget saja kemarin, tidak perlu sampai menghibur saya dengan ciuman."
Jongin melihat mata Kyungsoo berkedip lebih cepat saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Kyungsoo sedang berbohong, ia tidak kaget karena kecelakaan itu. Apa pun alasannya, dirinya rasa harus mengakatan, "Maaf..."
Helaan nafas Kyungsoo terdengar sangat berat. "Sudahlah mari kita lupakan saja. Anda harus fokus pria gempal itu," kata Kyungsoo saat pria tua dengan perut membuncit dan hidung yang besar menghampiri mereka dengan senyum bisnisnya.
Tangannya menjabat tangan Jongin cukup keras. Tidak butuh mata yang jeli agar dapat melihat wajah kesakitan Jongin. "Senang bertemu dengan Anda Tuan Kim Jongin dan Nona Kim - "
"Do Kyungsoo," koreksi Kyungsoo dengan tenang. Ia mengabaikan tangan Tuan Ming yang ingin menjabatnya. Kyungsoo memilih membungkuk agak dalam.
Jongin mulai menjelaskan penawarannya, Kyungsoo hanya menerjemahkan untuk kedua belah pihak. Membukakan surat perjanjian jika negosiasi hari ini berhasil. Bosnya cukup persuasif, pikir Kyungsoo tanpa sadar saat (terpaksa) menyimak bibir itu berucap.
"Jika Anda mau, kami akan mengurus iklan hotel Anda di stasiun tv Korea. Dengan begitu produk kami juga akan terlihat di setiap sudut ruangan. Anda tahu kan bagaimana loyalnya fans tiongkok pada idol negara kami?" Kyungsoo menerjemahkan dengan nada semirip mungkin dengan Jongin.
Tuan Ming mengangguk-angguk. Kyungsoo yakin jika pria ini mempunyai janggut, ia akan membelai jangutnya selagi berpikir. "Apa kau tak punya penawaran sendiri untuk membujukku? Jika negosiasi ini sukses kau akan banyak dapat bonus bukan?"
"Anda benar, dan jika gagal aku akan di kirim memegang gagang pel," balas Kyungsoo. Tuan Ming berdecak kagum dengan keberanian Kyungsoo.
"Jadi berkencanlah denganku malam ini, maka akan ku sepakati penawaran kalian. Bukankah itu lebih baik di banding bermalam dengan anak ingusan ini?"
"Apa dia bilang sesuatu? Kenapa kalian berbincang sendiri?" Jongin bertanya pada Kyungsoo.
"Dia bilang Anda tampan seperti Kai EXO."
Jongin tak lantas percaya. Ia sudah dibekali Baekhyun jika Tuan Ming sering menggoda wanita. Baekhyun lolos karena rumor berdar dirinya pacar Jongin. "Tanyakan bagaimana keputusannya,"
"Oke..oke...asal idol yang mempromosikannya dari Wu Entertaiment. Mereka sangat di gemari dan aku baru ingat wajahmu," Tuan Ming menelisik wajah Kyungsoo. "Kau simpanan Tuan Wu Kris bukan? Benar kan?"
Di mata Jongin, Tuan Ming terlihat sangat senang hampir seperti orang gila. Namun Kyungsoo sebaliknya, tangannya mengepal kuat di atas lutut. "Ohh tentu permintaanku bukan hal yang sulit, kau bisa meminta idol itu untuk perusahaanmu saat menungganginya," kata Tuan Ming lagi.
"Anda salah orang, dan saya bukan penunggang - kuda," elak Kyungsoo tersenyum dengan begitu kaku.
"Di sini informasi pembisnis susah untuk di tutupi. Tidak seperti di negaramu. Dan kurasa bocah ingusan ini belum tahu," Tuan Ming melirik Jongin seperti mendapatkan mainan baru. "Apa aku perlu memberitahunya?"
"Tuan Ming ingin idol dari agensi Wu Entertaiment untuk iklannya. Apa Anda bisa menyanggupinya?" ucap Kyungsoo pada Jongin.
"Bagaimana dengan idol agensi lain? Agensi sebelah terlalu merepotkan. Tolong tawarkan padanya," balas Jongin.
"Bagaimana dengan agensi lainnya?" Kyungsoo menerjemahkannya dengan singkat.
"Boleh, tapi berkencan denganku malam ini."
"Saya tidak berminat."
"Yasudah, kalau begitu dari Wu Entertaiment. Apa kau takut mereka berdua bertemu?"
Kyungsoo diam saja.
"Tuan Ming, kita sudahi saja. Aku tidak paham apa yang kalian bicarakan. Tapi aku tahu kau sedang bernegosiasi sendiri di luar bisnis ini dengan sekretarisku. Berkencan...Tidur bersama...atau apa pun itu...aku melarangnya. Aku menjual barang bukan karyawanku," sela Jongin.
Kyungsoo mungkin saja bakal duduk di sana seharian sambil memandangi Jongin dan mencoba mengingat-ingat siapa pria yang ada dihadapannya ini, tapi Jongin menyentakkanya kembali ke kenyataan. "Apa yang kau lakukan? Cepat beritahu dia apa yang aku katakan!"
"Tuan Kim bilang ia menjual barang bukan karyawannya," ucap Kyungsoo.
"Sependek itu?" cerca Jongin tak percaya.
"Katakan sendiri kalau Anda mau," balas Kyungsoo jengkel.
"Katakan padaku apa dia meminta hal aneh padamu?" desak Jongin dengan suara meninggi.
"Tidak," seru Kyungsoo lebih keras.
"Bohong."
"Tuan Ming hanya memintaku berkencan dengannya."
"Hanya? Kau bilang hanya? Itu termasuk tindakan asusila."
Kyungsoo berdecak tak percaya, "Asusila ya? Katakan itu pada orang yang menyentuh dan mencium orang lain tanpa persetujuan. Setidaknya Tuan Ming bertanya dulu, itu lebih sopan di banding Anda."
"Baiklah kalau begitu aku juga akan bertanya. Maukah kau ku cium? Atau mau kah kau tidur denganku? Apa itu terdengar sopan?"
Saat Kyungsoo menatap matanya, rahangnya hampir copot. Seakan-akan Jongin serius dengan ucapannya. Tak ada nada gurauan di kalimatnya.
Tuan Ming terkekeh cukup keras, melihat bagaimana kedua tamunya ini bertengkar. "Hey...hey...anak muda pelan-pelan kalian bisa saling mencekik setelah ini."
"Apa katanya?" tanya Jongin pada Kyungsoo.
"Katanya saya harus mencekik Anda sekeras mungkin," balas Kyungsoo.
"Terjemahkan dengan benar Nona Do," kata Tuan Ming memperingatkan. "Minta Tuan Kim Jongin mengirimiku kabar jika setuju dengan penawaranku. Entah yang berkencan denganmu atau menggunakan idol dari agensi Wu Entertaiment. Aku tunggu sampai besok pagi."
"Anda diminta mengiriminya kabar jika setuju dengan penawarannya. Entah saya berkencan dengannya atau menggunakan idol dari agensi Wu Entertaiment. Tuan Ming tunggu sampai besok pagi."
"Kau tidak boleh berkencan dengannya," tolak Jongin keras.
"Alasannya?"
"Tidak ada alasan."
Pandangan Kyungsoo beralih ke Tuan Ming. Berdebat tak akan membuat ini selesai. "Baiklah kurasa Tuan Kim memilih opsi kedua. Anda bisa tanda disini sebagai bukti sah," pinta Kyungsoo membuka map nya dan memberinya bolpoin.
Tugasnya sudah selesai hari ini, Kyungsoo melirik ke luar jendela. Di luar sudah sangat gelap, bangunan-bangunan tinggi menjulang menghiasi kota. Bercahaya kelap-kelip sangat cantik kalau saja ia tak punya kenangan disini. Sayangnya kenangan itu terlanjur menjelma menjadi kebencian pada kota ini. "Aku ingin pulang," gumamnya tanpa sadar.
Ketika lamunannya berhenti, Kyungsoo menoleh ke bos nya. Pria itu sibuk membolak-balik setumpuk lembaran kertas dan bolpoin di tangan, namun ketika sadar Kyungsoo menatapnya dia mendongak sambil membenarkan kacamatanya, "Apa?"
Kyungsoo mendesah ringan. Pulang ke Korea dalam waktu dekat agaknya berlebihan, pulang ke hotel tepat waktu juga tidak mungkin. "Tidak apa-apa," ucapnya menatap kertas-kertas itu dengan pandangan seperti akan menangis.
Namun akhirnya, Kyungsoo mengambil beberapa lembar kertas sambil menggulung lengan panjangnya dan mengikat rambutnya asal. "Apa yang kita cari- anu, sajangnim kenapa Anda tersenyum?"
"Tidak apa-apa," Jongin berusaha menyingkirkan senyumnya atau mungkin pikiran kotornya juga. Oohh ayolah tengkuk Kyungsoo tak seindah itu kan, ini bukan saatnya untuk tersipu, payah.
Susah payah Jongin mengubah suaranya menjadi tegas dan dingin. "Singkirkan saja idol yang bukan dari agensi Wu. Kau harus bertanggung jawab memilih berurusan dengan agensi keparat itu. Lusa, kau bisa ke agensi Tuan Wu dengan Sekretaris Byun - "
Dahi Jongin berkerut serius. Ia ingat sesuatu tentang pria tinggi jelmaan vampir itu, beserta pengikut setianya yang bertelinga lebar. "Jangan ajak Sekretaris Byun."
.
.
.
Kim Minseok, anak tertua di keluarga Kim, sibuk bergelut dengan dua malaikat kecilnya atau mungkin setengah iblis (itu kata Jongin). Mindae, anak perempuannya yang genap berumur 7 tahun. Seokjong, sang adik laki-laki yang berumur 2 tahun. Mereka saling tarik menarik cat warna hingga memercik ke baju. "Ohh Ya Tuhan, anak-anak bisakah -
Ponsel yang berdering menghentikannya, meloncat dengan gesit ke meja dekat televisi. Ponsel suaminya, Chen. "Hallo, tanpa mengurangi rasa hormat kami, mohon maaf untuk pelaporan bisa hubungi nomor kantor kami. Jika mendesak bisa langsung ke pos polisi terdekat."
"Noona?" suara adik bungsunya. Minseok mengecek layar ponselnya. Adik Ipar Baru Paling Baru.
"Chen hyung kemana?"
"Kenapa? Kau tidak sedang butuh wali untuk operasi usus buntumu kan?" tanyanya malas. Karena terakhir kali adiknya menghubungi ketika dirawat karena gangguan syaraf. Setelahnya adiknya tak ada kabar dan tak pulang ke rumah.
"Tidak. Cepat berikan ke Chen hyung," desak Jongin.
Minseok mengintip suaminya yang sedang mengobrol serius dengan Suho di halaman depan."Dia sedang sibuk. Ada apa? Aku kakakmu kenapa tak minta tolong padaku saja."
Suara hembusan nafas Jongin yang bergitu berat terdengar jelas, dengan latar suara jalan raya yang ramai. "Apa yang biasanya Chen hyung pakai?"
"Baju, celana, jaket, sepatu dan jam tangan. Kenapa? Kau ingin memberikannya kado? Kau habis di diagnosa penyakit langka?"
"Bukan...bukan..bukan itu noona," kata Jongin. "Yang di pakai untuk mencegah Seokjong punya adik lagi."
Suara Jongin begitu terdengar gugup di telinga Minseok. Wah, ini masalah serius pikirnya, lebih berbahaya dari usus buntu. Dengan berat hati ia berjalan mengitari ruang tamu yang luas dan menyebrang ke halaman depan. Dimana Chen dan Suho duduk di atas rumput beralaskan sandal rumah.
"Maaf menyela. Ini mendesak adikku dalam bahaya," ujar Minseok pada Chen. "Adik kecilmu," koreksinya beralih pada Suho.
"Dia bertanya apa yang sering kau pakai untuk mencegah berkembangbiak?" kata Minseok sukses membuat kedua pria keluarga Kim itu saling berpandangan.
"Apa saja asal sesuai ukuran/jangan beritahu dia," jawab Chen dan Suho berbarengan.
"Jangan lakukan hal bodoh, Kim Jongin!" tambah Suho bernada tegas.
"Kenapa manusia peradaban purba itu ada disana?" protes Jongin mendengar suara kakak keduanya.
"Dengar, adik iparku. Senang mendengarmu ada memajuan dalam hubungan. Setelah sekian lama kau selalu berakhir mengancingkan rapat-rapat baju semua perempuan yang di kirim Nona Byun, jujur saja aku berkesimpulan kau menyimpang," kata Chen panjang lebar. Minseok menatapnya tak percaya.
Jongin di sebrang sana memutar bola matanya malas. Mulut sahabatnya itu memang tak bisa di kunci dengan baik.
"Jadi biar kutanya ini untuk wanita atau ehemm - pria?" tanya Chen hati-hati karena kedua kakak Jongin sedang serius memelototinya.
"Aku berasa di sidang keluarga," keluh Jongin. "Ini hanya untuk berjaga-jaga jadi ayolah katakan saja yang kalian pakai!"
"Aku pakai apa saja, yang mahal akan lebih bagus," jawab Chen diplomatis.
"Suho hyung?" Jongin belum mendengar suara Suho lagi.
"Dia jangan ditanya - " sahut Minseok.
Suho buru-buru memotongnya, "Aku tidak pakai. Aku agak sensitif jadi gambling saja. Toh sudah saatnya aku punya anak."
"Kupikir kau perjaka,dik!" cemooh Minseok.
Suho mendelik tak suka. "Terima kasih kuanggap itu pujian."
"Kau menyukainya?" tanya Suho lagi.
"Kurasa tidak," Jongin terdengar agak bimbang menjawabnya. "Aku hanya ingin - mmm membedahnya."
Chen berhenti mencabuti rumput di sekitarnya, Minseok berhenti memenceti komedo di hidungnya. Menatap Suho untuk mengecek pendengarannya. Seperti, apa aku tak salah dengar? Adik kecilku ingin membedah seorang gadis seperti membedah katak di laboratorium?"
"Adikmu ingin membedah seseorang dengan alat pengaman. Jelas jelas itu bukan rencana pembunuhan," Suho memutuskan.
Minseok menimpali dengan cepat, "Tapi rencana pencabulan."
.
.
.
Di luar matahari malu-malu muncul. Korden berwarna abu-abu masih menyatu dengan langit. Kyungsoo selalu terprogram mencari petunjuk waktu ketika ia bangun, entah jam dinding ataupun ponselnya. Namun tak ada jam, tak ada ponsel di dekatnya. Yang matanya temukan hanyalah dada telanjang dan bau tembakau. Kedua bahunya menegang.
Kesadarannya pulih seketika. Tangannya kembali gemetaran seperti tempo hari. Potongan-potongan kenangan buruk merasuki pikirannya secara bersamaan, berdesak-desakan di pikirannya. Berebut untuk segera respond.
Mata Kyungsoo melebar penuh ketakutan. Posisinya berubah menjadi meringkuk di ranjang. Memaksa selimutnya tak terpasang dengan benar. "K-kumohon pergi dariku...aku sampah sekarang, kumohonnn pergiiiiii," gumamnya dengan suara lirih, sambil menutupi kedua telinganya. Setelahnya ia mengigit bibirnya agar mengatup sebelum berteriak dengan nyaring seperti kerasukan.
Kyungsoo nyaris berharap Jongin akan mengabaikannya. Namun, Jongin melihatnya, dahinya berkerut dalam. Kaca matanya melorot beberapa inci, namun segera ia perbaiki dengan jarinya yang mengapit putung rokok.
"Berhenti mengigit bibirmu, kau bisa berdarah!" Seru Jongin agak keras, cukup membuat tangan Kyungsoo semakin gemetaran hebat. Ia tidak bermaksud semarah itu terhadapnya. Di lain pihak, menenangkan wanita setelah ia tiduri bukanlah kelebihannya.
Apa tidur bersama dirinya, bisa membuat seorang gadis begitu terguncang, pikir Jongin bingung. Diam-diam ia mengumpat pada ketiga kakaknya yang membuat rencana ini.
Jongin memutuskan bangun, membuang putung rokoknya yang baru setengah terbakar. Menggeser tubuhnya ke depan stafnya itu, memaksa Kyungsoo untuk menghadapnya. "Ada apa denganmu?" desaknya, tentu ia tak mau mendapat jawaban bahwa gadis ini kerasukan setan tiongkok.
Mata Kyungsoo terus saja menghindari tatapannya. Tenggorokanya seperti tersumbat, namun seperti sedang menjerit. Ini lebih buruk dari kecelakaan di taksi. Dia - bagaimana mengatakannya? Dia -hampir- menjadi gila.
Ponsel Jongin berdering di saat tidak tepat. Sekretaris Byun menelponnya. Mulut-mulut saudara-saudarinya pasti sudah membocorkan rencana licik ini pada Baekhyun. Mungkin Baekhyun berniat memberikan selamat, namun suaranya dimulai dengan nada tinggi dan terdengar tak bersahabat.
"Aku akan keluar sebentar," ujarnya meraih pakaiannya yang tersampir dikursi. Ia tak ingin Kyungsoo mendengar pekikan mengerikan Baekhyun.
Di sebrang sana ocehan Baekhyun di mulai. "Apa kau tolol, huh? Aku tak tau kau orang yang sepicik itu demi mencapai tujuanmu. Kau tak lihat apa yang terjadi pada Kyungsoo setelah kau memeluk dan menciumnya? Dia gemetaran ketakutan bodoh, tolol, keparat, anjing laut -"
"Hey, anjing laut cukup lucu," timpal Jongin.
"Pak Kim Jongin yang terhormat, aku sedang serius sekarang. Kau tak tau bagaimana gilanya aku saat Wu Kris menemuiku bersamaan kakakmu Minseok menelpon memberitahu rencana busukmu? Aku hampir tak waras lagi."
"Aku tidak tau kau berkencan dengan Tuan Muda Wu sekarang. Dan berhenti menudingku menjadi orang jahat. Aku tak sejahat itu, Baek."
"Bukan itu intinya, Jongin. Kyungsoo tak boleh disentuh, Kris baru saja memberitahuku untuk menjauhkan darimu. Kyungsoo punya trauma," jelas Baekhyun. "Dia korban tindakan kejahatan asusila. Di kota yang sama, yang sedang kalian inapi."
"Sial," kejengkelan Jongin memuncak. Kenapa baru sekarang memberitahu. Sudah terlanjurkan? Baiklah. "Kita lanjutkan nanti, kalau begitu," ujarnya.
Kekhawatirnnya menjadi-jadi. Dengan sendal hotel Jongin setengah berlari kembali ke kamarnya. Menempelkan kartunya ke pintu dengan nafas tak beraturan. Ini buruk. Ini bukan yang dirinya harapkan.
Ranjangnya telah kosong. Digantikan suara gemricik air dari kamar mandi. Kyungsoo duduk dilantai kamar mandi yang penuh genangan air. Menggosok-gosok tubuhnya dengan kasar, sampai memerah. Seolah berusaha menghilangkan lapisan kulitnya sendiri dan berharap hanyut bersama guyuran air shower.
Jongin tak tau harus berkata apa tapi tubuhnya sudah berlutut tanpa perintah. Membiarkan dirinya basah kuyup. Mulutnya terasa seperti penuh dengan lem. Ia ingin menyuruh Kyungsoo melupakan segala sesuatunya.
"Aku-aku-," dia menarik nafas dengan susah payah, lalu seperti lupa menghembuskan lagi. "Aku bersalah. Kau bisa memukulku setelah ini. Tapi kita harus keluar dari sini."
Tangan Jongin meraihnya, menariknya menjauh dari guyuran air. Namun Kyungsoo mendorongnya, hingga membuat Jongin terjerambab di lantai. Lebih sialnya lagi, nyeri syaraf punggungnya muncul di saat-saat tak terduga seperti ini.
Setelah beberapa menit meringis kesakitan, syaraf sialan itu mengalah namun tetap menjalari punggung hingga pinggangnya. Beruntung, ia masih bisa mengambil selimut menutupi tubuh Kyungsoo dan menyeretnya keluar kamar mandi. Serius, Jongin hanya mampu menyeret gadis itu, ia sungguh tak mampu menggendongnya ataupun membopongnya.
"Dengarkan aku, ini tidak terlalu buruk. Kau baik-baik saja setidaknya sampai sebelum kau bangun. Tubuhmu cukup nyaman bersamaku, sebelum kau bangun. Aku tak berbahaya bagimu, sebelum kau bangun," ucapnya sambil mengelap kacamatanya yang berembun.
Kyungsoo mendengarkan, Jongin tahu itu. Kyungsoo sempat tersentak sesaat saat Jongin mengatakan dirinya tak berbahaya. Semoga itu bisa mengendurkan kabel sirine waspadanya.
Jongin memamerkan punggung tangannya yang terplester gambar dinosaurus. "Kau pasti menganggapku cukup lemah sampai memberiku plester ini. Memberiku cup mie instan di depan pintu. Aku seperti - anak beruang."
Ia tidak tahu kenapa anak beruang tiba-tiba muncul di kepalanya. Mungkin anak kucing lebih terdengar lucu dan bersahabat. Tapi yasudahlah, sudah terlanjur. Intinya ia pernah membaca buku di toko buku (tanpa membeli- sebagaian besar dari kita memang begitu kan?) Trauma membuat seseorang takut pada objek sumber trauma. Mengaitkan ciri yang sama menjadi sebuah ancaman. Dalam hal ini, pria dan hubungan badan. Anak beruang laki-laki mungkin ciri yang tak terkait, semoga saja.
"Apa ada yang sakit? Sebelah mana yang sakit?" Jongin berusaha untuk cerewet tanpa menyentuhnya. Sangat susah untuk seorang yang sering merengek dalam kebisuan.
"Kau sakit karena ku sentuh, kalau begitu balas aku. Kau bisa menyentuhku," kata Jongin. "Dimana pun."
Dengan hati-hati Jongin membimbing tangan yang gemetaran itu menyentuh dadanya. Telapak tangan Kyungsoo mungkin saja mampu merasakan jantungnya berdetak disana. Lalu membawanya semakin ke atas melewati tengkuk. Dengan keyakinan Kyungsoo tak mungkin tiba-tiba mencekiknya. Dan berhenti di pipinya.
"Lihat aku tidak apa-apa. Aku tidak kotor. Kau pun juga sama, No- Kyungsoo-yaa," hampir saja lidah Jongin terpeleset, memanggilnya secara formal sebagai Nona Do.
Tiba-tiba tangan Kyungsoo terlepas dari pipinya dan memberingsut mundur. Memeluk dirinya lagi, mengubur wajahnya di lutut. Jongin mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan diri untuk tidak mendengus frustasi. "Akan kuberi kau waktu untuk sendiri. Kita tidak bisa lama-lama, 2 jam lagi jadwal keberangkatan kita."
.
.
.
Hak tinggi Baekhyun terhentak kuat-kuat mengikuti kemana Jongin melangkah, sembari memberinya daftar dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Menekankan kemalangan staf barunya yang sudah absen selama dua hari ini. Pemandangan yang langka, Jongin membiarkannya tanpa mengumpat serapah.
"Apa kau sudah selesai? Jika sudah kau bisa kembali ke ruanganmu, aku akan mengecek bagian desain," Jongin berhenti hanya untuk menyeruput cup kopi yang ia tenteng sepanjang jalan.
Tangan Baekhyun mencengkram krah kemeja putih Jongin, dengan berjinjit. Lalu berteriak histeris, "Kembalikan stafkuuu! Kau mencabulinya lalu membuangnya! KEJAMMM!"
Dari dekat Baekhyun baru menyadari di balik bingkai kacamata Jongin atau lebih tepatnya di bawah matanya lebih menghitam dan bergelambir. Samar-samar bau tembakau menyusul kecurigaannya.
"Apa tidak bisa lebih keras lagi?" timpal Jongin melirik ke sekitar yang menatapnya penuh ingin tahu. Oke, ini akan jadi urutan pertama gosip minggu ini. "Lalu kau ingin aku apa? Membolos kerja dan berlutut di halaman rumahnya?"
"Itu tidak sepadan - "
"Baik, aku akan menulis wasiat untuk Nona Do lalu bunuh diri," putus Jongin. Ia sedang tak ingin berdebat hari ini. Terlebih waktu tidurnya terpangkas cukup banyak, ia harus menghemat energi. "Sudah sepadan? Kau puas?"
"Belum. Aku tak butuh nyawa tololmu itu. Sekarang katakan padaku kau kau tak benar-benar mencabuli gadis malang itu kan?"
"Hentikan mengatakan mencabuli! Itu terlalu kasar, Baek!" Namun Baekhyun tak menggubrisnya, ia sudah tak sabar mencabik-cabik dan membuangnya ke selokan. "Ya, aku - aku terlanjur tidur dengannya. Maaf."
Baekhyun menunggu. Jongin bukan tipe orang yang suka melawak, tetapi sekarang adalah saat tepat andaikan dia ingin tertawa dan berteriak, TAPI BOHONG!
"Apa ini hari ulangtahunku? Kenapa kau membuat gurauan semengerikan ini?" ucap Baekhyun melepaskan tangannya dari krah Jongin. "Bukankah sudah ku katakan dia punya trauma, Jongin."
"Kau terlambat memberitahuku. Sangat amat terlambat sekali." Jongin tahu gadis itu sedang khawatir, sesama perempuan pasti Baekhyun bisa merasakan ketakutan Kyungsoo. "Aku akan menebusnya. Aku sedang merawatnya."
Baekhyun mendongak, memincingkan matanya. Menajamkan pendengarannya. "Si bungsu Kim merawat seorang gadis korbannya? Ini pasti bukan Jongin yang ku kenal," simpulnya.
Tapi disinilah Baekhyun sekarang. Sebuah rumah kontrakan menanjak. Baekhyun bersumpah tak akan membuat peraturan harus memakai hak tinggi bagi stafnya. Terlebih menaiki puluhan anak tangga hingga ke balkon dan di hadiahi tatapan dingin seorang bocah berumur tak lebih dari 4 tahun. Berbaju hitam, rambut tak di sisir, noda tanah di pipi dan tangan. Tatapannya menyebalkan seperti Jongin atau mungkin - Kris. Upss maaf hanya sebuah kejujuran.
Baekhyun mengendalikan rasa terkejutnya dengan bertegur ramah, "Oh- hey? Siapa namamu, tampan?"
Anak itu mematung dan mendongak menelisik wajah Baekhyun. Siapa tante girang ini, pikirnya. Dengan enggan Jongin menjawabnya untuk bocah itu, "Aku sudah menanyainya ribuan kali tapi tetap ia tak mau jawab."
"Saatnya mandi,nak!" kata Jongin pada anak itu. Wajahnya mendengus sebal tapi ia mengulurkan tangan kanannya ke atas, meminta di gandeng. Jongin menyambutnya dan menggandeng hingga memasuki rumah. Dengan pintu seperti korban dobrakan maling, tak bisa di kunci dan rusak di beberapa sisi.
"Aku akan menggantinya jika sempat," janji Jongin."Atau memanggil tukang sepertinya lebih cepat," imbuhnya.
"Dimana Kyungsoo?" tanya Baekhyun betul-betul penasaran keadaan stafnya yang tak bisa di hubungi dan membolos dua hari. "Mungkinkah Kris membawanya ke - "
Jongin berhenti menggulung lengan bajunya. Si bocah juga berhenti melucuti bajunya. Mereka berdua menengok serentak pada Baekhyun. Tak mengharapkan nama itu di sebut-sebut. "Dia di kamar. Sedang tidur mungkin, ku dengar dokter memberinya obat agar lebih banyak beristirahat."
Tangan Jongin melanjutkan aktivitasnya, menggulung lengan kemeja dan membantu si bocah melepas baju. "Aku memanggil temanku dokter kejiwaan tapi ia tak bisa menunggui, jadi ia datang sehari sekali untuk terapi dan mengecek keadaannya. Memasang infus juga, aku agak ngeri melihat jarum."
"Apa kau sudah tau semuanya, Jongin?" suara Baekhyun harap-harap cemas.
"Tidak banyak, aku hanya asal tebak. Bocah ini, Tuan muda Wu, keadaan psikis Nona Do. Kau menyembunyikannya dariku?" sahut Jongin dari kamar mandi, suara gemricik air dan pekikan bebek karet bersaut-sautan.
"Aku hanya tidak sengaja tau dan aku berjanji pada Kris untuk tutup mulut," jawab Baekhyun yang kemudian teringat sesuatu. "Tunggu...Kris tau kau - "
Tanpa Baekhyun tau, Jongin tersenyum getir sembari menggosok punggung kecil di depannya. "Aku tidak tau situasinya, tapi memunculkan diriku di hadapan Tuan Muda Wu aku yakin adalah hal bodoh."
"Lalu?" seru Baekhyun yang duduk di sofa. "Ceritakan detailnya, Jongin! Aku benci tidak tau apa-apa."
"Setibanya di Korea, Nona Do terus menjerit ketika ku dekati. Namun aku tetap membuntut ke sini, menjaga jarak. Bocah ini ada di depan pintu, melihat ibunya pulang dengan tatapan kosong dan ketakutan tanpa sebab. Kau tau? Dia langsung melempariku dengan pot sepaket dengan tanah gembur dan kaktus."
Jika situasinya normal, mungkin Baekhyun sekarang sedang tertawa cekikikan, berguling-guling di lantai kalau perlu. Namun sekarang jangankan tertawa, tergelitik untuk senyum saja tidak.
"Sampai kami berdua sadar, pintu sudah terkunci dari dalam. Nona Do berniat mengurung dirinya dan melupakan bocah ini. Aku menawarinya ikut pulang denganku, tapi dia menempel di pintu seperti cicak. Jadi yahh aku mendobrak pintunya saja...dan Tuan Muda Wu datang setelahnya," Jongin keluar dengan bocah laki-laki yang telanjang sambil memegang bebek karet. "Yak tutupi burungmu! Nanti tante Byun tergoda."
Bocah itu malah lari ke belakang rumah dan Jongin tak mengejarnya. Keadaannya seperti seorang pembantu rumah tangga versi laki-laki. Dengan rambut basah berantakan, lengan baju di gulung, celana yang di gulung juga ke atas, handuk yang tersampir di pundak.
Si bungsu Kim akhirnya ikut merebahkan diri ke sofa. Melepas handuk di pundak, melepas tiga kancing paling atas dan melepas ikat pinggangnya -
"YAKKKK APA YANG INGIN KAU LAKUKAN!" pekik Baekhyun menggeser tubuhnya menjauh.
Mata Jongin menatapnya jengah. Menaruh ikat pinggangnya ke punggung sofa karena perutnya terasa begah. "Berlebihan. Seperti aku tergoda saja," cercanya.
"Kau habis mencabuli orang tentu saja aku was-was," cemooh Baekhyun. "Jadi Kris tau kau disini? Kris tau Kyungsoo sakit? Dan sungguh aku penasaran kau benar-benar mampu mencabuli orang? Dannnn bagaimana bisa bocah itu mau kau mandikan setelah melemparmu dengan kaktus?"
"Kris tidak tau. Ketika Kris datang, bocah itu menyeretku bersembunyi di bawah meja tanpa alasan. Dan dia menemui Kris di luar sambil berteriak senang. Sungguh anak itu bisa bicara, aku mendengarnya berseru 'Baba..', lalu mengobrol dengan bahasa mandarin. Mandarin aksen anak-anak, level kepahamanku anjlok meresot terjun bebas."
Baekhyun menganguk simpatik dan setuju akan kebodohan bos nya itu terkait bahasa. "Anak dengan multibahasa akan terlambat bicara. Itu bisa dipahami kenapa ia tak mau bicara."
"Aahh aku ingat satu kata, sleep. Dia mencampurkan bahasa inggris juga. Jadi kurasa, dia beralasan Nona Do sedang tidur. Aku tidak tau kenapa bocah itu menyembunyikanku, padahal aku jahat pada ibunya," Jongin melempar pandangan ke pintu belakang rumah. Bocah tanpa nama itu sudah berpakaian piyama sembari merapikan rambutnya yang basah dengan jari-jari tangan.
"Ambil sisir,nak...lalu kemarilah!" perintah Jongin seperti di kantor. Tegas dan harus dituruti. Bocah itu cemberut namun tetap menurut, mencari sisir kesana kemari dengan kaki kecilnya.
"Dan sudah kukatakan aku tak mencabulinya. Aku tidur dengannya saja, Baek. Benar-benar tidur bersama secara harafiah. Yahh hanya saja dengan bumbu melepas baju, sebagai kejutan - "
Baekhyun memotongnya, "Dan Kyungsoo benar-benar terkejut sekarang. Kakak-kakakmu bilang kau membeli pengaman."
"Hanya jaga-jaga. Aku pengecut yang nekat, Baek. Aku hanya ingin - mmm lebih dekat. Dan menghilangkan fetis tololku itu. Aku sudah melihatnya tapi - "
Baekhyun memotong lagi, "Tetap ingin melihat lagi dan fetismu tidak hilang? Itu artinya kau mesum, idiot."
Pembicaraan mereka berhenti karena bocah tanpa nama itu muncul mengacungkan sisirnya tinggi-tinggi. Jongin menyisiri rambut lebatnya dengan telaten. Ia sangat sadar mata bulat, alis yang menukik dan panjang, dagunya bersudut v dipadu pipi tembam khas anak-anak, telinga lebar. Semuanya perpaduan Kyungsoo dengan Kris, kecuali bagian telinga lebar. "Jadi benar ayahnya Wu Kris?" tanyanya.
Baekhyun mendesah panjang. "Aku juga tidak tau. Mungkin saja begitu. Mungkin juga bukan. Coba pikir, Kyungsoo saja trauma mana mungkin ia melakukan hubungan seksual lagi setelah apa yang menimpanya. Jadi sangat pasti anak ini anak laki-laki keparat itu."
Tangan Jongin dengan sigap menutup telingga bocah tak berdosa yang sedang ia sisiri dengan khitmad. "Hati-hati dengan kata-katamu, Baek!"
"Upss...maaf," kata Baekhyun dengan nada menyesal dibuat-buat. "Pilihanya hanya 2. Kris ayah sambungnya atau Kris laki-laki keparat itu."
"Dua-duanya tak mengubah ketidaksukaanku padanya. Dan kau tau? Aku terlanjur menyepakati kontrak dengan tuan Ming untuk menggunakan artis dari agensinya," keluh Jongin berpindah dari sisir ke ponselnya untuk memesan makanan. "Kau bisa mengurusnya untukku kan?"
"Yeaahhh...tak masalah. Chanyeol pasti bisa membantu," ucap Baekhyun. "Kurasa aku harus pulang, kau juga...besok jadwalmu padat, sajangnim."
"Aku tau, Baek," sahut Jongin ikut berdiri mengantar Baekhyun menuju kamar Kyungsoo untuk berpamitan. Kenop pintunya di buka hati-hati. Kyungsoo sedang tertidur disana, selang infus tertancap di tangan kiri. Wajah Baekhyun mendadak murung. Ia tak mendekat, menutup pintu dan segera pulang.
"Mau kugantikan untuk rapat besok?" tawar Baekhyun berhenti sejenak sebelum menuruni tangga. "Atau kukosongkan jadwalmu?"
Entah sejak kapan tangan Jongin sudah memegang putung rokok, ujungnya baru terbakar sedikit. "Tidak, terima kasih. Aku masih bernafas jadi aku harus berangkat."
"Senang melihatmu merokok lagi. Kau kelihatan seksi," goda Baekhyun. "Jangan terlalu sering, nanti kau bengek."
.
.
.
Mata bulat Wu Nico menatap kesal ke paman hitam yang berjongkok di sebelahnya. Pipinya tergores duri-duri kaktus yang ia lempar. Paman itu pasti yang membuat ibunya pulang dengan keadaan linglung hingga mengunci rumah dari dalam, lupa putranya yang tampan ini masih di luar.
"Hey bocah!" serunya. Nico tak peduli ia masih menggedor-gedor pintu dengan anarkis. "Sementara pulanglah kerumahku - ahh kau pasti tidak mau. Yasudah minggir!"
Paman hitan itu berdiri, mengambil jarak dengan pintu lalu berlari dan melemparkan tubuhnya sendiri ke pintu. Dengan sintingnya ia mengulangi sampai lima kali, hingga terdengar bunyi kayu patah dan pintu terbuka lebar-lebar.
Nico melongo di tempatnya, rahangnya jatuh ke bawah. Ia pernah melihat adegan ini di film-film. Apa paman ini aktor? Dia terlihat konyol dan - kereennnnn...
