"The Crown Prince's Woman"

PART 1

[EDITED VERSION]

Cerita ini adalah Chapter Spesial atau Spin-off dari cerita utama"Caught by The Emperor" yang Update teratur di Wattpad. Sebelum membaca ini kalian sebaiknya membaca Caught by The Emperor agar tidak mengalami kebingungan selama membaca.

(c) Animonsta

Story by Ellena Nomihara

Main Pair : Halilintar x Yanaya(Yaya)

Rate : M

Happy Reading ^^

Di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan hutan, berdiri tenda-tenda dengan banyak prajurit berlalu-lalang. Bendera berlambangkan kekaisaran Neosantara berkibar diterpa angin.

Ini adalah masa Raja Amato vir Mechamato. Neosantara sedang berperang dengan kerajaan TieMorLeste dalam rangka menundukkan kerajaan tersebut dan memperluas wilayah. Raja Amato adalah penguasa yang cukup ambisius. Dia menginginkan kerajaa n TieMorLeste menjadi miliknya setelah sebelumnya kerajaan yang tidak lebih kuat dari Neosanatara menolak membuat aliansi.

Perang kali ini di pimpim oleh para pangeran Neosantara. Pangeran Mahkota Halilintar vir Mechamato dan Pangeran Taufan vir Mechamato yang baru berusia tujuh belas tahun (Taufan belum jadi Duke atau jendral). Saudara kembar ini diberi tugas oleh Ayah mereka untuk memenangkan perang ini sekaligus menambah pengalaman. Sementara Pangeran Gempa ditugaskan menjadi diplomat dengan kerajaan lain untuk menjalin aliasi yang menguntungkan Kekaisaran.

Di dalam tenda paling besar, sebuah pertemuan tengah berlangsung. Seluruh petinggi militer Kekaisaran Neosantara hadir, termasuk kedua pangeran.

"Kita akan mengirim pasukan kecil untuk mengintai perkemahan musuh. Pang," sesosok dari bayangan bergerak cepat dan muncul berlutut kepada sang tuan, "Kau yang memimpin. Aku tidak mengharapkan kegagalan, Pang." Perintah Pangeran Halilintar dingin.

"Saya akan melaksanakan yang terbaik, Tuanku."

"Pergi."

Pang ialah sosok yang bergerak dalam bayangan. Kemampuan sangat menjanjikan terlebih dalam spesialis memata-matai. Karena itu, Pang selalu bergerak cepat dan diam. Datang dan pergi layaknya malam yang hening.

"Jendral Zoland, berkat anda, pusukan kita berhasil menghabisi lebih dari seperempat wilayah musuh tanpa korban di pihak kita. Pencapaian anda akan membuat senang Yang Mulia Raja." Puji Halilintar pada salah satu jendral. Meski nada suaranya datar namun orang-orang disana tahu bahwa pangeran satu ini benar-benar tulus memuji sang jendral.

Jendral Zoland lantas tertawa keras layaknya pemabuk tua, "HA-HA-HA! Terima kasih Yang Mulia. Anda terlalu memuji saya." Usai berkata begitu pria baya bertubuh besar itu kembali tertawa congkak. Kentara dia senang kontribusinya dinilai tinggi oleh keluarga kekaisaran. Sudah pasti nama keluarga nya akan semakin melambung tinggi, terlebih di dunia militer.

"Tertawa mu terlalu keras, Zoland." Tegur pria berwajah keras, dia adalah Jendral Tar-Rung. Jendral paling kuat serta merupakan guru beladiri para pangeran.

Jendral Koochi, pria paling pendek diantara para jendral ikut menyahut, "Lagakmu seperti sudah memenangkan perang ini sendirian saja, Jendral Zoland."

Jendral Zoland tersenyum remeh, "Kalian cuma iri, HA-HA-HA."

Taufan, yang berdiri disamping Halilintar, menyenggol pelan kembarannya, "Tidak kak Hali hentikan?" bisik nya. Pemadangan seperti ini sebenarnya biasa. Persaingan antar Jendral besar Neosantara sudah terkenal luas. Mereka berusaha membuat prestasi dan membuat bangga keluarga serta pasukan masing-masing.

Halilintar melipat tangannya di depan dada seraya bersandar pada punggung kursi. Dia menatap diam celotehan para orang tua paling kuat Kekaisaran yang kini sedang saling melempar hinaan seperti anak kecil.

Siapa bilang bertambah umur akan menambah kebijaksanaan? Faktanya para orang tua itu bertambah tua justru semakin tidak tahu malu.

Yahh…tidak semuanya sepertinya. Mata merah Halilintar melirik Jendral Kai, jendral yang belum lama diangkat. Dia yang paling muda dan paling pendiam. Mungkin karena ada jarak umur dengan jendral lainnya. Jendral Kai tidak terlalu akrab. Meski muda, kehebatan jendral satu ini mengagumkan hingga Halilintar cukup puas dengan kekuatannya.

"Yang Mulia Pangeran Halilintar, apa yang kita lakukan dengan para tahanan perang?" saat suasana kembali terkendali, Jendral Kai bertanya. Dia dan pasukannya yang bertugas menangkap para tahanan perang serta memisahkan mereka dalam beberapa kategori.

Halilintar menoleh pada saudaranya, "Taufan. Kau yang urus." Titahya sekenanya.

Tuafan mencibir dalam hati. Dia tahu kakak kembarnya ini tidak mau repot-repot mengurus tahanan perang yang sedemikian banyaknya itu, tapi sudahlah untung dia adik yang baik, "Baiklah. Biar aku yang urus."

"Tidak akan ada penyerangan dalam dua hari. TieMorLeste butuh waktu lama mengumpulkan orang untuk membalas kita. Gunakan waktu ini untuk memperbanyak senjata dan mengumpulkan persediaan makanan. Sembuhkan juga prajurit kita yang terluka."

Setelah itu, seluruh Jendral membubarkan diri.

"Kak Hali—ADOH! Kenapa memukulku, bajingan—DUH!" Taufan meraung pada kembarannya karena dengan seenaknya menendang dirinya hingga terguling ke tanah.

"Kepalamu yang selanjutnya ku tendang jika masih berani memanggilku dengan panggilan menggelikan." Ancam Halilintar kejam pada Taufan. Tangan yang dia gunakan untuk memukul sang adik, dengan santai meraih kopi hitam miliknya yang sudah dingin.

"Dasar kembaran keparat sialan." Umpat Taufan blak-blakan. Mulut Taufan saat muda memang kasar. Dia sangat ahli mengumpat layaknya bajak laut. Meski begitu, di masa depan keahlian itu mengurang banyak setelah menikah dan memiliki anak.

Halilintar mendengus kecil. Tidak ambil pusing diumpati Taufan—sudah hafal kekurang-ajaran nya.

"Kak Hali—Kak Halilintar! Karena kau memberiku wewenang mengurus tahanan perang kita, jadi aku boleh menggunakan beberapa dari mereka?" tanya Taufan yang menuai kernyitan tidak mengerti dari sang pangeran mahkota.

"Ada penduduk desa yang kita ambil sebagai tahanan, rencana awal mereka akan dibebaskan setelah kita menguasai TieMorLeste. Tapi aku berpikir menggunakan beberapa budak wanita untuk ku dan prajurit." Jelas Taufan berterus terang.

Ini adalah masa perang. Dimana penghuni atau penduduk wilayah yang telah di tundukkan menjadi tahanan perang. Ada seperempat wilayah TieMorLeste yang sudah di taklukkan dan penduduknya sudah ditandai menjadi milik Kekaisaran. Mereka adalah budak sebelum ada pernyataan resmi Neosantara membebaskan mereka dan menjadi warga Neosantara yang sah.

Para tahanan adalah budak. Meski sangat kasar, itu adalah kenyataan. Pernyataan Taufan tidaklah asing ditelinga Halilintar. Hampir 97% pasukan ialah laki-laki sehat dan kuat. Perang bisa berjalan berbulan-bulan bahkan tahunan. Kau pikir bagaimana para pria ini menyalurkan hasrat bihari mereka?

Halilintar melarang pasukannya menggunakan warga Neosarantara secara tidak hormat, Warga Neosantara adalah rakyat yang akan dia pimpin kelak, tidak akan Halilintar biarkan mereka kotor di bawah pengawasan nya. Jadi alternatifnya ialah menggunakan para budak. Adapun kelak mereka menjadi rakyat Noesantara, mereka tidak bisa menyalahkan kekaisaran atas kemalangan mereka karena memang sudah begitu dari dulu.

"Lakukan apa yang kau mau, Taufan." Putus Halilintar cepat. Lagipula prajurit nya juga akan senang dan cepat segar kembali.

Taufan menyeringai gembira, "Baiklah. Oh Kak, apa kau juga ingin memakai satu?"

Tangan Halilintar yang bergerak memindai kertas-kertas di atas meja terhenti. Mata merahnya menatap saudara kembarnya yang berada diambang pintu masuk—menatapnya dengan seringai menyebalkan.

"Aku sibuk." Jawab nya cepat dan kembali pada pekerjaannya.

"Yah…terserahmu kak. Aku cuma berpikir jika kau bisa bersantai sedikit. Anggap saja melepas stress."

Saat tidak ada respon dari sang raja masa depan, Taufan mendecih kecil dan pergi dari sana. Meninggalkan Halilintar yang mendesah kecil.

"…sialan!" umpatnya lirih saat bayangan gadis cantik merah muda terlintas begitu saja.

.


.

Meski tengah malam, camp Kekaisaran Neosantara tak lantas sepi aktifitas. Karena suasana perang yang mengharuskan semua orang waspada—termasuk pada serangan malam—karena itu ada pergantiaan patroli. Sementara yang lain istirahat atau melakukan kegiatan penghilang stress.

Pangeran Mahkota Neosantara, si sulung dari tiga bersaudara, mendecih seraya kembali menuangkan minum pada gelas nya. Suara-suara berisik dari seluruh penjuru camp terdengar sangat jelas.

"Ck, harusnya aku suruh mereka melakukannya dengan mulut tertutup." Gerutu Halilintar benar-benar terganggu dengan suara jeritan dan erangan perempuan yang tak henti terdengar setelah dia memberi Taufan wewenang.

Bosan berada di dalam tenda selama enam jam lebih, Halilintar akhirnya memutuskan untuk keluar menghirup udara segar. Malam memang sangat dingin tapi Halilintar terlalu kuat untuk jatuh sakit karena perkara sepele. Pangeran Mahkota Noesantara itu berjalan menuju sungai yang di jadikan sumber air minum dan mandi.

"Fuhh…" Halilintar mendesah menikmati air dingin yang membasahi wajah nya. Hawa dingin malam terasa segar bagi tubuhnya yang gerah di bebani armor berat. Kaos berlengan pendek dan celana panjang. Meski sederhana, wanita mana pun akan langsung gelonjota bila melihat penampilan 'panas' sang pewaris tahta.

Srek srek srek "Hachi!"

SING –Menebas!

Dalam siaga perang, Halilintar tidak pernah pergi tanpa pedang nya. Tidak terkecuali kali ini, karena itu saat suara mencurigakan terdengar pria muda itu langsung menghunuskan pedang panjang nya ke arah suara.

"Keluar. Sebelum aku memutuskan hidup mu cukup sampai di sini." Perintah Halilintar dingin kepada sosok yang di yakini nya berada di balik semak-semak.

Gemerisik semak kembali terdengar hingga tak lama kemudian sesosok manusia keluar dengan merangkak dan wajah menunduk. Meski malam, terima kasih kepada cahaya bulan purnama, Halilintar dapat melihat bahwa sosok di depannya adalah seorang perempuan. Perempuan lusuh.

Rambut panjang kecoklatan yang kusut dan menggumpal. Juga baju putih nya usang dan kotor. Sekilas mata merah nya bisa melihat beberapa luka gores dan lebam di tubuh kurus di yang bersujud di depannya ini. Atas semua itu Halilintar bisa menarik kesimpulan.

"Kau seorang budak." Itu pernyataan. Tidak ada perempuan di camp ini selain budak jarahan dari wilayah TieMorLeste yang sudah dia takluk kan.

"Ampuni saya Tuan. Saya—saya tidak bermaksud mengganggu Tuan Kesatria. Mohon ampuni nyawa saya." Perempuan itu memohon dengan suara bergetar. Terlihat jelas dia sangat ketakutan hingga tidak berani mengangkat wajah nya untuk melihat dengan siapa dia bersujud sekarang.

Halilintar mendengus kemudian menyarungkan pedang nya kembali. Dia kira siapa ternyata hanya seorang budak.

"Apa yang kau lakukan disini? Tempat mu berapa di barak barat." Barak barat adalah penjara sementara untuk para tahanan. Seingatnya Barak barat berjarak agak jauh dari sungai ini dan para tahanan dan budak jelas-jelas di larang berkeliaran.

"Ini—saya…saya…Tuan—"

"Kau kabur. Benar?" Halilintar menebak tepat sasaran. Mendadak dia jengkel dengan kerja anak buahnya yang bisa-bisa nya kecolongan.

Perempuan di depannya segera memohon pengampunan, "Mohon ampuni saya Tuan Kesatria! Saya bersumpah tidak berniat jahat atau kabur. Setidaknya saat malam, mohon izin kan saya bersembunyi disini." Pinta perempuan itu dengan putus asa. Sama-samar Halilintar mendengar isak tangis.

Halilintar yang besar dengan didikan keras lantas mendengus tidak suka dengan suara isak tangis menyedihkan perempuan di depannya. Seolah dengan begitu Halilintar akan luluh begitu saja meski sebenarnya Halilintar tidak benar-benar peduli. "Tangisanmu itu. Sebut kan alasan mu kabur. Jika aku tidak menyukai jawaban mu jangan salah kan aku untuk mengakhiri hidupmu di sini." Sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa yang hilang oleh tebasan pedang Halilintar. Menambah satu orang tidak bersalah bukan masalah baginya.

Perempuan itu kembali tergagap, "S-Saya ka-kabur k-k-kare-na tida-k ing-in pa-ra prajurit mengguna-ka-an sa-saya."

Hoo? Jadi perempuan ini kabur karena tahu nasib yang biasa menimpa budak wanita di masa perang? Tindakan berani namun juga sembrono. Meski secara kasar para budak wanita memang di jadikan budak nafsu para prajurit selama perang ini, namun tidak jarang terjadi kasus soerang kesatria atau prajurit menyukai budak atau tahanan tertentu dan mengangkat nya sebagai mitra bahkan istri. Selain itu, nekat pergi atau bertindak di luar kebijakan selama perang bisa mengakibatkan budak terbunuh.

Halilintar memikirkan tindakan selanjutnya yang akan dia ambil.

"Angkat wajah mu." Perintah Halilintar kemudian.

Budak perempuan itu tidak memiliki hak untuk menolak. Dia sangat tidak berdaya untuk melawan pria kuat di depannya. Maka dengan ragu dan tubuh bergetar dia mengangkat wajah nya. Perlahan dengan bantuan sinar bulan, wajah yang sedari tadi menghadap tanah terlihat oleh mata merah penuh kuasa tersebut.

"T-Tuan…?"

Untuk sejenak Halilintar terpaku. Mata merah nya menatap dengan teliti wajah kecil di depannya. Wajah budak itu kotor dan kusam. Bibirnya kering dan berdarah. Sama sekali tidak menarik. Tapi entah bagaimana Halilintar seperti familiar dengan wajah itu.

Terlebih sepasang mata coklat bening itu. Mata yang bergetar saat melihat nya. Untuk beberapa alasan Halilitar tidak bisa mengalihkan diri dari mata tersebut.

"T-Tuann…?"

"Hm." Halilintar segera kembali ke kewarasannya. Sejenak dia tidak percaya bahwa untuk beberapa saat dia teremenung mengingat sesuatu saat melihat budak di depannya,

Sampai di mana tadi? Oh ya Halilintar harus memutuskan harus melepas atau menghukum budak itu.

"Kembali esok pagi. Jika besok aku masih menemukan dirimu di sini, aku tidak akan segan." Yahh…untuk kali ini Halilintar akan mengampuni nya.

Budak perempuan itu mau tidak mau tersenyum dengan bibir kering nya, "Terima kasih atas kebaikan , Tuan Kesatria." Kepala nya kembali menunduk.

Halilintar mendengus, "Sebelum itu, bersihkan dirimu. Kau sangat kotor dan bau." Perkataan nya langsung membuat kedua pipi kusam budak itu memerah malu.

Padahal Halilintar pernah bermadikan darah musuh-musuh nya tapi dia tidak pernah mengeluh.

"Sebukan namamu."

"Nama saya Yanaya, Tuan."

Yanaya? Biasa sekali. "Pergilah."

"Baik Tuan. Terima kasih sekali lagi."

Perempuan itu lekas mendekati sungai. Seraya menjaga jarak agak jauh dengan Halilintar. Hingga sosoknya tidak terlihat lagi.


"Ya tuhan. Aku mengira aku akan mati." Yanaya ambruk di tepian sungai. Butuh agak lama baginya untuk menghentikan tubuh nya yang gemetar. Rasa takut dan ngeri saat pria bermata merah itu mengacungkan pedang, benar-benar mengerikan.

Teringat dengan tujuannya untuk mandi, Yanaya menjadi dilemma.

Yanaya adalah seorang penduduk desa kecil Kerajaan TiMorLeste yang letaknya memang dekat dengan perbatasan Neosantara. Saat Kekaisaran menyerang desanya, Yanaya di tangkap sebagai jarahan perang dan menjadi budak. Dua hari yang lalu dia sampai di camp ini dan tidak pernah Yaya tidak gelisah setiap malam nya.

Yanaya sangat tahu nasip para perempuan tahanan perang. Menjadi tempat para prajurit melepas hasrat adalah takdir mereka di masa perang ini. Memang ada kasus beberapa perempuan menemukan jodoh mereka tapi kebanyakan tahanan perempuan tidak seberuntung itu. Di beberapa kasus budak wanita yang ditangkap hanya sedikit, tahanan perempuan bahkan harus rela di gilir hingga pagi.

Karena itu, Yanaya memilih bersembunyi. Dia tidak ingin tubuh nya di sentuh oleh pria asing dengan tidak berperasaan. Dengan sedikit keberuntungan Yanaya berhasil bersembunyi jauh dari Barak. Jika mulus, Yanaya akan kembali ke Barak saat fajar menyinsing. Dengan begitu Yanaya akan aman dari terkaman para prajurit.

Tapi keberuntungan Yanaya tidak berlangsung lama. Hanya sampai tengah malam, seorang Kesatria bermata merah menemukan nya.

"Huff…Kalau begitu aku akan mandi senbentar dan menunggu di sini. Aku akan kembali seperti rencana—saat fajar menyinsing." Guman Yanaya.

Yanaya yakin semua orang sibuk. Setidaknya tidak akan ada orang yang ke tepi sungai tengah malam jadi sepertinya aman bila dia mandi. Soal Kesatria tadi…pasti dia sudah pergi setelah menyuruh Yanaya pergi.

Melepas pakaian lusuh nya Yanaya yang telanjang menceburkan diri pada sungai yang tidak terlalu dalam dan arusnya yang tenang. Air nya sangat dingin tapi Yanaya sudah biasa mandi air dingin di desa nya dulu. Membasuh wajah nya yang sengaja dia buat kotor. Tidak lupa Yanaya juga membasahi rambutnya hingga rambutnya yang menggumpal bersih dari tanah.

Ah~ menjadi bersih memang sangat menyenangkan. Sejak dirinya di tangkap Yanaya tidak pernah mandi. Boro-boro mandi, untuk makan dan tidur saja Yanaya selalu was-was. Setidaknya untuk semalam ini saja…Yanaya ingin bersih dan segar.

Mungkin karena terlalu menikmati mandi pertamanya setelah sekian lama, Yanaya sama sekali tidak menyadari keberadaan seseorang. Seorang pria tinggi tegap dengan sebilah pedang di pinggangnya. Seorang pria bermata merah.

Saat berbalik, Yanaya merasa tubuhnya langsung membeku. Matanya menatap takut sosok kesatria bermata merah yang di kiranya sudah pergi dari sungai.

"T-Tuan?"

Edited Version berakhir di sini.

Versi lengkap bisa kalian cari di Trakteer saya. Cara nya mudah kok. Kalian tinggal cari website Trakteer dengan google kalian, create Akun, lalu cari nama Ellena Nomihara, kalian bisa menemukan versi lengkap Chapter ini. Atau kalian bisa klik di Bio saya.

Oke, semoga kalian berminat dengan cerita ini. Sampai jumpa di karya selanjut nya

Salam Hangat

Ellena Nomihara. Rabu, 11 Mei 2022