Warning :
The Characters absolutely ain't mine. This is my fiction story, with all its mistake. Beware of the rate. It's surely not for a child. Hehehe
"Ugh…" Seorang wanita pirang tak dapat menahan desahannya ketika sesuatu yang sebelumnya mengisi dirinya itu ditarik keluar.
Seorang pria dengan sibuk menarik lepas pelindung yang sudah berisi cairan putih. Pria itu mengikatnya asal dan membuangnya tepat di tempat sampah kecil di samping meja nakas.
"Jadi.. Sasuke, kau ingin langsung pergi?" Celetuk si wanita pada seseorang yang sedang sibuk memakai kembali pakaiannya yang berserakan.
"Tentu saja. Memang apalagi yang harus kulakukan disini selain menyetubuhimu?" jawab pemuda itu, yang saat ini tengah siap dengan pakaian lengkap.
"Kurang ajar." Wanita itu menimpali lirih. Menghisap rokok yang terselip di jari-jari lentiknya.
"Haha… Aku hanya bercanda, Ino. Setelah ini aku ada balapan. Oiya… berhenti merokok sebelum kau mati." Sasuke merebut cepat rokok yang dihisap Ino, kemudian membawa pergi selongsongan tembakau itu dan menghisapnya.
"Sialan!" Ino melemparkan bantalnya pada Sasuke, namun pemuda itu dengan tepat waktu keluar dari apartemen si wanita.
Ino meraih kembali sebatang rokok baru dan korek dari meja nakasnya —- hendak merokok. Namun, tangan gadis itu berhenti, dan melemparkan kembali benda-benda kecil itu ke tempat asalnya.
Yamanaka Ino. Gadis cantik berusia 25 tahun yang hidup sebatang kara. Ibu dan ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Semenjak saat itu, Ino terpaksa harus mandiri dan berhenti bergantung kepada orang lain. Hingga, ia mengenal seseorang 5 tahun lalu tepatnya. Uchiha Sasuke.
Ino mengenal Sasuke saat gadis itu tengah menerima project pemotretan satu merk busana, dimana saat itu Sasuke menjadi partnernya, menggantikan model pria.
Ino merasa sangat nyaman berada di dekat Sasuke, bahkan dari awal ia bertemu dengannya. Apa karena Sasuke tampan? Ino rasa bukan itu. Dalam melakoni pekerjaannya tentu Ino selalu bertemu dengan banyak pria tampan, dan ia terbiasa dengan itu.
Lantas, Ino dan Sasuke bertukar nomor telepon. Dan hubungan mereka semakin akrab dari hari ke hari. Hingga Ino tahu, Sasuke telah memiliki seseorang yang disukai. Dan itu bukan dirinya. Melainkan seseorang yang jauh mengenal Sasuke lebih dulu, Haruno Sakura.
Ino tak tahu pasti bagaimana masa lalu mereka berdua. Namun, sebagai sesama wanita Ino tahu dalam sekali lihat, bahwa Sakura sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama dengan Sasuke. Tapi kenapa wanita itu malah memutuskan untuk menikah dengan Naruto? Yang tak lain adalah sahabat baik Sasuke?
Hingga saat Ino melihat sendiri betapa hancurnya Sasuke di hari pernikahan Sakura dan Naruto. Ino benar-benar sakit melihat Sasuke begitu terpuruk.
Sampai ucapan itu terucap dari mulut Ino…
Flashback
Sasuke menatap diam cangkir keramik berisi cairan hitam kental, yang sudah dari sejam yang lalu Ino suguhkan di depan pemuda itu.
"Sasuke…"
"Ino… aku tak mengerti…" Sasuke menundukkan kepalanya. Helaian rambut hitamnya jatuh membingkai wajah tampan itu.
Ino mengusap lembut punggung tangan Sasuke, bermaksud memberikan kenyamanan.
"Mungkin… Sakura memiliki alasannya sendiri Sasuke…" Ino mencoba menenangkan pemuda itu. Tubuh Sasuke nampak sedikit bergetar, menahan tangis.
Selama mengenal Sasuke, Ino tak pernah sekalipun melihat pemuda itu begitu terpuruk. Ino semakin sadar, betapa berharganya Sakura bagi Sasuke, dan semakin mustahil bagi dirinya mendapatkan cinta Sasuke.
"Oh Ya… Aku mengerti Ino… Mungkin karena Naruto memiliki segalanya, sedangkan aku? Aku hanyalah seonggok sampah yang tak berarti Ino!" Dapat Ino lihat dengan jelas air mata yang menggenang di pelupuk mata Sasuke, siap jatuh.
Hati Ino semakin sakit, mendengar perkataan Sasuke barusan. Gadis itu refleks membawa Sasuke ke dalam pelukannya. Mengusap lembut surai hitam pemuda itu. Air mata Ino jatuh, ia sudah tak dapat menahannya lagi.
"Sasuke… kumohon… Jangan seperti ini… Aku… Aku akan membantumu melupakan Sakura. Aku… akan membantumu melupakan segala rasa sakitmu…" ucap Ino lirih, yang masih sangat jelas di telinga Sasuke.
"Bagaimana? Apa yang bisa kau lakukan Ino?" Sasuke mengusap wajahnya kasar. Frustasi.
Ino menangkup wajah Sasuke. Membuat pemuda itu bertemu pandang dengannya. Gadis itu mengecup singkat bibir Sasuke, membuat sang lawan terbelalak kaget. Belum sempat Sasuke berkata, Ino membawa jari Sasuke ke dalam mulutnya. Mengulumnya singkat. Sasuke dibuat semakin kebingungan akan tindakan Ino, sekaligus membuat darahnya berdesir.
Gadis itu dengan berani membuka seluruh kancing bajunya di hadapan Sasuke, membuat Sasuke masih diam terpaku. Sasuke dapat melihat dengan jelas, kulit putih bersih Ino yang hanya tertutupi bra ungunya. Sasuke tahu Ino memiliki figur yang sempurna, namun itu semua lebih dari apa yang dibayangkannya. Sasuke menelan ludahnya dengan susah payah.
Ino tahu Sasuke bingung dengan situasi ini, namun dengan berani Ino meletakkan tangan Sasuke di payudaranya yang besar dan sekal itu.
Nalurinya sebagai laki-laki tak dapat ia tepis, namun sesaat Sasuke sadar, bahwa Ino adalah sahabatnya, lagipula apa yang dia bilang? Membantunya melupakan Sakura?
Secara tidak langsung, Ino menawarkan dirinya sebagai pelarian. Dan, apa selama ini Ino. . .
Sasuke menarik cepat tangannya yang berada di tubuh Ino. Laki-laki itu lantas berdiri dari posisinya.
"Jangan berkata yang tidak-tidak Ino. Jangan melakukan hal yang nantinya akan membuatmu menyesal." Sasuke memperingati.
Ino pun ikut berdiri, meraih pergelangan tangan Sasuke.
"Kau mengenalku Sasuke. Aku tak pernah bermain-main dengan perkataanku."
Apalagi kali ini? Apa Ino ingin membuatnya menjadi teman yang bejat? Argh Apapun itu, setidaknya biarkan Sasuke meyakinkan dirinya, Ino yang memulai ini semua. Ino yang melemparkan dirinya sendiri pada Sasuke. Setidaknya itu akan menjadi alasan pembenarannya.
Sasuke meraih tangan Ino yang memegang tangannya. Menariknya ke sofa terdekat mereka. Tak menunggu lama, Sasuke melepas kain yang membalut tubuh bagian atasnya. Menampilkan otot-otot yang terbentuk sempurna disana. Membuat wajah Ino semakin memanas, apalagi posisi Sasuke yang saat ini di atas tubuhnya yang telentang. Rasanya seakan ribuan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di dalam perut Ino.
Ino memalingkan wajahnya. Wajah Sasuke yang berjarak sangat dekat dengannya membuatnya semakin gugup, berkat atmosfer tak biasa yang tercipta di ruangan itu. Namun Sasuke tak membiarkan satu halpun terlewat, Ia meraih wajah Ino dan mempertemukan bibir keduanya.
Ino membelalak kaget. Ah, jadi begini rasanya berciuman dengan orang yang ia cintai? Terasa manis dan cukup membuatnya menginginkan lebih dari ini.
"Ugh…" Tangan Sasuke tak betah untuk diam saja, apalagi disuguhi sesuatu yang membuatnya makin berhasrat.
Kedua insan itu pun 'bersatu' untuk pertama kalinya. Ino, yang merasa bahagia karena setidaknya Sasuke melihatnya barang sedikit saja. Sedangkan pemuda itu. . . Entahlah. Sasukepun tak tahu apa yang ia rasakan. Perasaan kalut dan putusasa karena kesedihannya, namun ada juga sedikit rasa bahagia?
Flashback end
Sejak saat itu, Ino dan Sasuke lebih sering menghabiskan waktu bersama.
Inopun tak tahu bagaimana perasaan Sasuke terhadapnya, sebab mereka berdua pun tak pernah membicarakan atau membahas perasaan masing-masing. Apakah mereka hanya sebatas partner sex? Tidak juga, sebab Ino dan Sasuke juga menjadi lebih dekat satu sama lain.
Selama mengenal Sasuke, Ino pun tak tahu latar belakang Sasuke. Berbeda dari dirinya yang terbuka perihal kematian orangtuanya, Sasuke tak pernah barang sedikit pun membicarakan keluarganya.
Sasuke sama seperti dirinya, seorang model. Jika Ino serius di bidang ini, Sasuke justru hanya mengambil job sesekali saja. Karena pada dasarnya Sasuke mengerjakan semua pekerjaan yang bisa ia lakukan. Seperti saat ini, Sasuke mengikuti pertandingan balap. Atau bahkan Sasuke juga sering menerima job pengganti barista di sebuah bar, jika kebetulan temannya sedang libur.
Ino sempat khawatir dengan kondisi kesehatan Sasuke, namun nampaknya kekhawatiran itu tak berarti. Sasuke sangat baik dalam menjaga kesehatan tubuhnya, terbukti dengan fisiknya yang selalu bugar dan terlatih.
Ino meraih tisu basah di meja nakasnya, mengambil beberapa dan membersihkan area kewanitaannya dari bekas-bekas aktivitas sebelumnya.
"Um…" Ino meleguh. Sensasi Sasuke dalam tubuhnya masih terasa. Dan wanita itu berakhir memuaskan dirinya sendiri sebelum pergi tidur.
Pip… pip…. Pip…
Ino terbangun dari tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ia pun mencari sumber suara yang membangunkan paksa dirinya. Telepon masuk. Dari Sasuke. Ada apa?
"Halo? Dengan nona Yamanaka?" Suara seorang perempuan di seberang sana.
"Ya, saya Yamanaka. Maaf, saya berbicara dengan siapa? Kenapa handphone teman saya ada pada anda?" Ino nampak was-was.
"Maaf, Yamanaka-san. Pemilik handphone ini sekarang sedang berada di rumah sakit Konoha. Pasien mengalami kecelaka-…" Ino langsung memutus sambungan telepon itu. Dirinya bergegas mengenakan pakaiannya. Rambutnya ia ikat asal dan segera pergi ke tempat yang disebutkan.
"Shit!" Ino mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang gila. Bahkan ia tak sedikit mendapat umpatan dari pengendara lainnya karena gaya menyetirnya yang sembrono. Demi apapun dia tak ada waktu untuk meladeni itu semua!
Ia tak percaya adanya Tuhan, tapi kali ini Ino memohon siapapun di atas sana, jangan biarkan Sasuke meninggalkannya seperti kedua orang tuanya. Ino hanya memiliki Sasuke dan saat ini hanya orang itu yang ia pedulikan.
Sesampainya di rumah sakit, Ino bergegas menuju meja resepsionis.
"Pasien dengan nama Uchiha Sasuke. Tolong segera!" Staff yang paham dengan kekalutan Ino segera mencarikan nama Sasuke di daftar pasien mereka.
"Uchiha Sasuke berada di IGD, silahkan lurus lalu belok kanan." Mendapat arahan, Ino berlari secepat yang ia bisa.
"Sasuke…"
"Sasuke…"
Ino dengan tak sabaran menyibak beberapa tirai yang menutupi beberapa ranjang pasien.
"Ino!" Wanita itu menoleh ke arah sumber suara yang berada di ujung ruangan. Ino bergegas mendekat.
Di lihatnya Sasuke sudah duduk bersender di kepala ranjang, dengan arm sling di tangan kanan dan perban pada dahinya. Ino benar-benar ingin menangis! Antara sedih atau lega karena Sasuke tak separah yang ia kira.
"Oh wow… rupanya kau sangat khawatir kepadaku Ino…" Penampilan Ino saat ini sudah sangat menjelaskan betapa kalut dan khawatirnya wanita itu.
Ino mengikuti arah pandang Sasuke, ternyata sedari tadi ia mengenakan sandal dengan berbeda warna. Ia juga menggunakan baju dan celana yang nampak kusut, dengan surai pirangnya yang ia ikat asal.
Ino meraih bantal terdekat dengannya dan memukul kaki Sasuke yang terdapat lecet dan memar disana.
"Argh! Sakit Ino! Aargh…" Sasuke mengernyit kesakitan.
"Rasakan! Ku pikir kau akan mati makanya aku cepat-cepat kemari!" Ino kesal, namun dalam hatinya ia sangat-sangat lega setidaknya kondisi Sasuke tidak begitu parah.
"Lagipula Ino, mengapa kau tak mendengarkan kata perawat itu sampai selesai? Dia hanya akan mengabarkan kalau aku baik-baik saja dan bisa pulang hari ini. Baka!"
"Aku hanya takut kau akan meninggalkanku sama seperti orang tuaku, Sasuke. Itulah sebab sebenarnya aku tak begitu suka kau di dunia balap." Sasuke mematung. Suasananya sangat serius sekarang. Ya, Sasuke tahu, Ino hidup sendirian dan ia tahu betapa berat kehidupan wanita itu.
Sasuke tersenyum tipis.
"Hai, wakatta, Ino-sama. Lagipula aku tak akan mati semudah itu." Sasuke menggenggam tangan Ino, menenangkan.
Netra onyx dan aqua itu bertemu. Saling menyelami satu sama lain. Mereka tak ingin kehilangan seseorang yang berada di hadapan mereka. Tanpa disadari, rasa saling bergantung dan takut kehilangan antara keduanya semakin nyata.
Ino memapah Sasuke, membantunya berjalan. Wanita itu dengan sabar membantu Sasuke duduk bersandar di kepala ranjang. Saat ini Sasuke tengah berada di apartemen Ino. Lagipula, tempat Ino adalah pilihan yang tepat. Ia tak akan bisa melakukan semuanya sendiri selama kondisinya belum pulih benar.
Ino bergegas menuju dapurnya. Mengambil beberapa bahan di kulkas dan memasak sup untuk Sasuke. Pemuda itu memejamkan matanya barang sebentar, menunggu Ino datang.
Selang beberapa waktu, Ino kembali dengan nampan berisi mangkuk sup dan teh hangat.
Diperlakukan Ino seperti ini, membuat Sasuke tersipu. Entah mengapa, Ino terlihat berkali lipat lebih cantik saat ini, meskipun sebenarnya wanita itu belum membasuh muka maupun badannya sedikitpun.
"Buka mulutmu Sasuke." Ino telah siap dengan sendoknya, hendak menyuapi Sasuke.
Tanpa ragu Sasuke menurutinya.
Makanan hangat itu dengan mudah masuk ke dalam kerongkongannya. Ino memang tak begitu pandai memasak, namun masakannya juga tidaklah buruk.
Suap demi suap, dan mangkok itupun bersih. Sasuke sangat penuh sekarang. Ino membantu Sasuke meminum tehnya selagi masih hangat.
"Kubantu kau berbaring. Istirahatlah." Ino menyarankan.
"Ano… Ino?"
"Hm..?"
"Sebenarnya, aku agak tidak nyaman. Aku sangat ingin mandi, tapi karena lukaku masih basah, bisakah kau membasuhku Ino?" Blush… semburat merah muda muncul di pipi mulus wanita itu. Untung saja Sasuke tak menyadarinya.
"Baka!" Ino bergegas berdiri. Keberatan dengan perkataan Sasuke.
"Hey, ayolah Ino. Lagipula kau juga sudah sering melihat tubuhku, dan begitu sebaliknya. Lihatlah Ino, apa yang bisa kulakukan dengan kondisiku yang seperti ini?" Sasuke mencoba membujuk Ino.
Ino melengos pergi begitu saja menuju bathroom. Sasuke menyeringai, nampaknya usahanya berhasil.
Ino kembali dengan membawa baskom berisikan air hangat dan handuk. Wanita itu tak tega juga. Lagipula ia membawa Sasuke kemari karena memang untuk merawatnya bukan?
Ino mulai membuka pakaian Sasuke satu persatu dengan perlahan dan arm slingnya. Memar-memar di tubuh Sasuke memang nyata adanya. Ino menghela nafas, paling tidak ini lebih baik daripada Sasuke kritis ataupun mati.
Ino memeras handuk dalam baskom itu dan mulai mengusap tubuh Sasuke. Pemuda itu memejamkan mata. Rasa geli mulai menjalar seiring pergerakan tangan Ino.
"Egh…" rintihan kecil keluar dari mulut Sasuke tatkala tekstur kasar handuk itu menyentuh memar-memar di kulitnya. Ino blushing, melihat ekspresi Sasuke yang terpejam dan sedikit… erotis?
'Hei sadarlah Ino! Apa yang kau pikirkan!' Ino menjerit dalam hati.
Atensi Ino teralihkan pada bagian bawah Sasuke yang 'sedikit bangun'. Ah, apa Sasuke terangsang? Ino mencoba untuk tidak perduli, namun wanita itu telah selesai dengan bagian atas si pemuda, dan mengharuskannya untuk turun.
Ino mencoba melewati bagian 'itu', namun Sasuke nampaknya tambah bergairah ketika Ino mengusap pahanya.
"Ugh… Ino…" leguh Sasuke lirih. Benar saja, bagian bawah penuda itu sekarang sudah tegak. Ino pun tak paham mengapa dirinya gampang sekali horny apabila di dekat Sasuke. Padahal pemuda itu juga gak melakukan apapun padanya. Bagian bawahnya saat ini terasa lembab. Gila! Bukankah baru semalam ia dan Sasuke bercinta?
"Ugh…." Desahan Sasuke lolos. Netranya terbuka, melihat kegiatan yang Ino lakukan sekarang. Wanita itu tengah mengulum penisnya. Ah. Ino memang sudah berpengalaman melakukan ini. Berapa kalipun Sasuke mendapatkannya, ia tak pernah bosan.
"Aah… ummm…." Sasuke sudah sangat tegang sekarang. Bagian bawahnya sudah akan meledak saja rasanya.. dan benar. Dapat Ino rasakan cairan Sasuke dalam mulutnya. Wanita itu memejamkan mata, membiarkan cairan itu lolos ke dalam kerongkongannya. Ino menelannya dengan susah payah. Ia heran dengan wanita-wanita dalam film biru yang terlihat sangat menikmati sperma yang mereka telan. Rasanya… benar-benar sangat aneh!
Sasuke melihat kondisi Ino yang terlihat sangat seksi di matanya. Rambutnya yang berantakan dengan bekas-bekas sperma di sekitar wajahnya. Jika saja dia tak sedang sakit, ia pastikan Ino akan kesusahan berjalan setelahnya.
"Ino… bisakah kau melakukannya untukku?" Wanita itu paham apa yang dimaksud Sasuke. Penis pemuda itu memang belum sepenuhnya 'tenang' setelah pelepasannya.
Ino tak menjawab, namun ia segera menanggalkan celana panjangnya. Ia tak munafik. Wanita itu juga terangsang setengah mati.
Perlahan, Ino naik ke atas tubuh Sasuke. Ia sangat berhati-hati, sebab luka-luka itu akan sangat berdenyut apabila tersentuh.
"Aah…"
"Mm…"
Desah keduanya ketika mereka telah menyatu. Ino menumpukan tangannya pada bahu kokoh Sasuke, dan mulai bergerak.
Desahan-desahan erotis lolos dari keduanya. Menikmati sensasi penyatuan itu yang sudah sangat sering mereka rasakan, namun seakan tak pernah cukup.
Suara jarum jam yang berdetik, diiringi desahan-desahan halus sepasang insan itu terus mengalun memenuhi ruangan itu. Saling merengkuh, memberi dan diberi. Mengambil apa yang mereka butuhkan.
Ino merasakan benda di dalamnya itu berdenyut. Ia menjauhkan tubuhnya sesaat sebelum Sasuke klimaks. Mereka tak mengenakan pengaman, jadi Ino masih cukup waras untuk tak membiarkan cairan putih itu memasuki tubuhnya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Ia tak apa tak selesai. Ino hanya ingin Sasuke lega. Wanita itu mengambil handuk yang sempat ia geletakkan, dan membersihkan sisa-sisa kegiatan panas mereka. Ino membantu Sasuke berbaring, dan menyelimuti pemuda itu hingga sebatas leher.
Sasuke meraih pergelangan tangannya. Membuatnya berhenti.
"Berbaringlah di sebelahku Ino. Aku tak ingin sendirian." Mata Sasuke nampak sayu, sedikit menahan kantuk. Ino mengangguk. Yah, sebenarnya saat ini ia sudah cukup lelah dan malas melakukan apapun. Ino sangat suka mandi, tapi biarlah hari ini menjadi pengecualian. Kali ini saja.
Ino melepas pakaian bagian atasnya yang masih tersisa, lalu masuk ke dalam selimut. Tangan kiri Sasuke yang bebas, menarik tubuh Ino mendekat. Memeluknya.
Detak jantung Sasuke sangat nyaman di telinganya. Membuatnya juga merasakan kantuk.
Sasuke mengusap lembut surai pirang itu. Dilihatnya, Ino sudah memejamkan mata. Ia pun tersenyum tipis.
"Ino… bolehkah… aku menyukaimu?" Ucapnya lirih. Tentu saja Ino tak mendengarnya. Namun tak lama, Sasuke juga ikut terlelap.
Sudah tiga bulan Sasuke dirawat oleh Ino. Sekarang kondisinya pun sudah pulih. Lukanya sudah tidak sakit dan nyeri meskipun masih berbekas. Ketika Ino melakukan pemotretan, maka manager Ino, Shikamaru lah yang merawat Sasuke. Shikamaru dapat diandalkan dan juga sudah cukup akrab dengan Sasuke, sehingga Ino merasa tak sungkan meminta bantuannya.
Sasuke menatap keluar jendela apartemen Ino. Menyesap teh manis hangat kesukaannya. Lalu seseorang ikut duduk di sebelahnya, Shikamaru.
"Bagaimana Sasuke? Apa layanan kebersihan sudah datang ke rumahmu?" Shikamaru memulai obrolan.
"Sudah Shikamaru-san. Sebentar lagi mungkin akan selesai. Terima kasih untuk bantuannya." Shikamaru mengangguk.
"Lantas sebenarnya.. Kau dan Ino-chan itu apa?"
"Ee… sebenarnya kita hanya teman. Kita tak menjalin hubungan apapun lebih dari itu." Sasuke sedikit bingung harus merespon seperti apa.
"Benarkah? Aku pikir kalian sepasang kekasih. Melihat bagaimana dekatnya dan pedulinya Ino-chan padamu. Dengar ini Sasuke, kau tahu bukan? Ino-chan itu tipe wanita yang banyak disukai laki-laki di luar sana. Mungkin jika saja aku belum menikah dengan Temari, aku juga akan menyukainya." Jelas Shikamaru.
"Begitukah?" Sasuke tertawa canggung.
"Jadi… jika kau memiliki perasaan lebih dari seorang teman, nyatakan. Atau kau akan menyesal nantinya."
Perkataan Shikamaru ada benarnya. Ia tak ingin melakukan kesalahan yang sama dua kali. Dulu ia dan Sakura tak terikat dalam sebuah hubungan romantis meskipun keduanya sama-sama saling mencintai. Dan sekarang, ia tak ingin Ino akan pergi sama seperti masa lalunya dulu. Ya. Ia harus menyatakannya pada Ino.
Sasuke pergi ke sebuah toko perhiasan, bermaksud membelikan Ino sebuah cincin untuk menyatakan perasaannya. Ia memilih sebuah cincin yang berhiaskan permata ungu berbentuk hati. Terlihat simpel namun mewah. Ia rasa Ino akan menyukainya. Selesai dengan itu, Sasuke meraih handphonenya bermaksud menghubungi wanitanya.
'Ya Sasuke?' Jawab Ino di seberang telepon.
"Kapan kau akan selesai Ino?"
'Pemotretan sudah selesai, tinggal bebersih, mungkin 30 menit lagi. Ada apa?'
"Oh… tidak ada, aku hanya ingin menjemputmu Ino. Shikamaru-san tadi sempat berkata ada urusan mendadak." Jawab Sasuke. Tentu saja ia dan Shikamaru sudah bekerja sama.
'Baiklah… datang 30 menit lagi, oke? Jangan sampai telat atau aku akan membunuhmu.' Sasuke tertawa kecil. Ino sangatlah imut.
"Hai. Hai. Tuan putri." Kemudian sambungan telepon itu terputus.
Sasuke bergegas pergi dari pusat belanja itu, namun…
"Sasuke-kun…" Sasuke terhenti. Ia sangat mengenali suara itu. Namun masih enggan berbalik badan.
"Kaukah itu Sasuke-kun?" Suara itu makin nyata. Sasuke membalikkan badannya. Matanya membelalak kaget. Seseorang yang sudah cukup lama tak pernah ia lihat, sekarang berdiri tepat di depannya. Haruno Sakura.
To be continue….
Terima kasih Minna-san yang sudah mampir. Fanfic keduaku setelah heels. Maaf untuk heels belum update, namun segera akan ku perbarui. Chapter dua sudah selesai. Semoga minna-san masih setia untuk menunggunya.
Aku akan sangat senang jika minna-san meninggalkan review. Aku sangat terbuka dengan kritik dan saran. Thank you. Hope you all enjoy this story. Luv-
