Warning :
The Characters absolutely ain't mine. This is my fiction story, with all its mistake. Beware of the rate. It's surely not for a child. Hehehe
Dua orang berbeda warna rambut itu duduk berhadapan dengan dua gelas kopi di depan masing-masing. Hawa canggung benar-benar menyesakkan. Sasuke, nampak enggan membuka percakapan. Ia masih tak habis pikir, mengapa ia harus bertemu lagi dengan Sakura?
Setelah 2 tahun lamanya pernikahan Sakura dan Naruto, mereka pergi tanpa pamit padanya entah kemana. Bukankah sebenarnya hal itu bagus untuk menyembuhkan luka hatinya? Namun tetap saja, Naruto adalah sahabatnya, dan Sakura. . . Paling tidak, bisa dikatakan ia dan wanita itu telah bersama dalam waktu yang tak singkat.
"Sasuke-kun… bagaimana kabarmu?" Wanita bersurai terang itu memulai percakapan.
"Oh.. aku? Yah.. bisa kau lihat aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Semenjak kau dan Naruto menikah, kita tak pernah berkabar lagi." Jawab Sasuke sesantai mungkin.
Tentu saja ia tak baik-baik saja sekarang. Luka lama yang berangsur pulih, kini harus terbuka lagi dengan kehadiran Sakura. Ia tak munafik, tentu kenangan bersama Sakura selama ini masih berbekas dan cukup nyata di ingatan Sasuke.
"Ah… sebenarnya, aku dan Naruto-kun sudah bercerai 3 bulan yang lalu." Sakura menyadari perubahan ekspresi Sasuke.
"Oh.. k-kita bercerai secara baik-baik, Sasuke-kun. Ternyata kita memang tidak bisa memaksakan perasaan satu sama lain." Jelas Sakura.
"Maksudmu?" Sasuke benar-benar bingung sekarang. Bukankah pernikahan itu memang kehendak keduanya, namun mengapa Sakura berkata demikian?
Akhirnya, Sasuke mengetahui kebenarannya. Pernikahan Sakura dan Naruto adalah murni perjodohan. Naruto tak pernah mencintai Sakura begitupun wanita itu.
Pernikahan itu adalah murni paksaan dari orang tua Sakura. Mereka tak ingin Sakura dekat dengan Sasuke yang asal usulnya tidak jelas. Orang tua Sakura mengancam jika Sakura tak menyetujui pernikahan itu, maka Sasuke akan celaka. Naruto pun terpaksa harus menyetujuinya juga. Ia sangat paham sifat ayah Sakura, ia tak ingin sahabatnya benar-benar celaka.
Setelah beberapa waktu melewati pernikahan itu, Sakura dan Naruto akhirnya menyerah. Sakura memutuskan untuk putus hubungan dengan keluarganya dan mengakhiri kehidupan pernikahannya dengan Naruto. Pria itu mendukung penuh semua keputusan Sakura. Asal wanita itu bahagia.
Sasuke mulai goyah. Perasaannya pada Sakura yang sudah ia kubur dalam-dalam, akhirnya kembali ke permukaan. Ia sadar, ia belum sepenuhnya melupakan Sakura.
Di sisi lain, layar handphone Sasuke menyala beberapa kali. Nampak beberapa panggilan dari Yamanaka Ino yang tak sempat ia terima.
"Cih! Sialan! Harus berapa lama lagi aku menunggu?" Ino menatap arlojinya. Sudah satu jam sejak Sasuke terakhir meneleponnya dan berkata akan datang, namun sampai sekarang pria itu belum juga datang.
'Apa terjadi sesuatu?' Pikir Ino. Kekhawatiran Ino bukan tak beralasan, mengingat insiden kecelakaan Sasuke beberapa bulan lalu.
Ino mencoba menelepon kembali Sasuke, namun handphonenya mati karena lowbat. Ino pun pasrah, dan hanya bisa berharap Sasuke baik-baik saja. Kakinya sudah sangat pegal berdiri terlalu lama di pinggir jalan. Badannya juga seakan remuk, begitu lelah.
Ino pun melambaikan tangannya pada taksi yang lewat, ia hanya ingin merebahkan punggungnya secepat mungkin.
Urusan Sasuke, mungkin besok pagi-pagi sekali jika pemuda itu tak mengabarinya, ia akan mendatangi tempat Sasuke.
Skip
Sasuke mengerjapkan matanya, terganggu oleh sinar matahari yang memaksa masuk dari celah-celah gordennya yang tertutup rapat. Ah, dia hampir saja meloncat dari ranjang itu ketika dilihatnya seseorang masih tidur meringkuk dibalik selimut tebal.
Ya, semalam setelah pertemuannya dengan Sakura setelah sekian lama, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat wanita itu. Dan beberapa hal terjadi.
Sasuke mengecek handphonenya yang berada di meja samping. Matanya melotot ketika tertampang jelas notif telepon tak terjawab dari Ino sebanyak 30 kali lebih. Salahkan dirinya yang selalu menggunakan mode hening!
Sasuke dengan segera memakai semua pakaiannya dan meninggalkan note untuk Sakura di atas bantalnya. Ia bergegas pergi menuju tempat Ino.
Bodoh, sungguh bodoh! Kali ini Ino akan benar-benar marah padanya. Tolonglah, siapapun akan sangat marah jika mereka di posisi Ino.
Pip… pip… pip…
Sasuke dengan segera memasukan digit angka akses pintu tempat Ino. Marah! Ino benar-benar marah padanya hingga handphonenya tidak bisa ia hubungi! Namun, Sasuke sedikit bernafas lega ketika ia melihat Ino masih memejamkan mata. Sasuke meraih handphone Ino di meja, dan ternyata wanita itu lupa tak menchargenya. Paling tidak, Sasuke masih ada harapan Ino 'tak begitu marah' padanya.
Dilihatnya, Ino masih tertidur nyenyak. Tak ada tanda-tanda wanita itu akan segera bangun. Ya, Ino pasti sangat kelelahan. Pria itu lantas beranjak menuju dapur, bermaksud membuatkan makanan untuk Ino, sekaligus mengisi perutnya yang keroncongan.
Sasuke tiba-tiba teringat sesuatu! Ia menggeledah kantong jaket yang ia kenakan, dan barang yang dicarinya pun nihil. Cincin. Cincin yang ia beli untuk Ino, hilang. Apa mungkin masih di tempat Sakura? Ataukah jatuh ketika perjalanannya ke apartment Ino?
"Sial!" Morning greeting dari seorang Uchiha Sasuke.
Ia pun tersadar. Apa yang baru saja ia lakukan? Mencari cincin? Untuk apa? Menyatakan perasaannya pada Ino? Lantas, mengapa semalam ia bersama dengan Sakura? Apa ia mencoba menjadi bajingan sekarang?
Demi Tuhan, dirinya tak ingin menyakiti siapapun. Namun, Sasuke juga tak bisa membohongi dirinya. Ia menyayangi Ino lebih dari sekedar sahabat. Ino selalu ada di sisinya, dan peduli padanya. Namun, kehadiran Sakura yang tak diduga-duga juga membuatnya mulai goyah. Ada sebagian dari hatinya yang merindukan wanita itu.
Sasuke tak tahu sekarang. Dia tak ingin jadi bajingan egois! Dia tak bisa menahan Sakura dan Ino untuk tetap disisinya. Sungguh.
Di tenpat lain, Sakura terbangun dari tidurnya. Suasana hatinya sedang bagus sekarang. Ya, apa lagi jika bukan karena Sasuke. Cinta lamanya. Dan cintanya hingga sekarang. Sasuke juga terlihat masih memiliki rasa padanya. Sakura harap seperti itu.
Sakura menilik note kecil di sampingnya.
'Maaf, Sakura. Ada suatu hal yang perlu ku urus. Hubungi aku di xxxxxxxxx'
Sakura dengan segera meraih handphonenya. Menginput nomor baru Sasuke di layar persegi itu. Tak menunggu lama, ia melakukan panggilan.
Sasuke sedikit terkejut handphonenya berdering. Sungguh! Ia sangat tidak terbiasa dengan itu, sebab ia selalu menggunakan mode hening. Ia pun bertekad setelah kejadian missed calls berulang dari Ino, ia tak ingin menggunakan mode hening kembali.
"Halo? Dengan siapa?" Ujar Sasuke begitu menempelkan benda persegi itu ditelinganya.
"Ini nomorku Sasuke-kun. Aku baru saja terbangun dan melihat note darimu." Jawab Sakura.
"Oh begitukah?" Tangan Sasuke masih sibuk menata piring dan hidangan di dalamnya.
"Sasuke-kun? Apa kau sudah selesai dengan urusanmu? Aku ingin makan berdua denganmu."
"Eh… Maaf Sakura. Tapi aku sedang agak sibuk sekarang. Mungkin… lain kali?"
"Memangnya kau sedang bersama siapa sekarang?" Tanya Sakura penasaran. Belum sempat Sasuke menjawab, suara seorang perempuan terdengar.
"Sasuke? Kau disini?Dasar siala—" pip.. Sambungan telepon itu terputus.
"Halo? Halo? Sasuke-kun?" Sakura mengernyit tak suka. Sangat jelas yang ia dengar tadi adalah suara perempuan. Mood yang tadinya bagus, anjlok seketika. Sakura tak akan membiarkannya! Sasuke miliknya dan selamanya akan seperti itu.
Di tempat Ino~
"Ino… Ino.. tunggu… tunggu… biar aku jelaskan ya? Ya?" Sasuke menahan pergelangan tangan Ino yang sudah sangat siap mengayun padanya.
"D-duduk dulu Ino. Lihat… aku datang dan membuatkanmu sarapan. Hehe…" Sasuke menarik satu kursi dan menggiring Ino untuk duduk.
Ekspresi kesal Ino masih tergambar jelas di wajahnya. Sasuke menelan ludahnya dengan susah payah. Ketakutan.
Sasuke mengisi piring Ino dengan masakan yang telah ia buat.
"Jadi?" Ino memecah keheningan.
"Huh? Oh… semalam? A-anu… sebenarnya, aku bertemu dengan Sakura." Sasuke membuat gerakan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu. Pria itu agak ragu mengatakannya kepada Ino.
"Begitukah?" Timpal Ino. Wanita itu tersenyum canggung. Ino mengambil sendok di samping piringnya dan menyuap satu suapan besar ke dalam mulutnya. Ia tak tahu apa yang sedang ia rasakan sekarang. Marah? Ya. Cemburu? Tentu. Kesal? Sangat.
Kenapa? Kenapa Sakura harus muncul di saat ia dan Sasuke semakin dekat? Ino juga tahu betul, sebenarnya masih ada sisa rasa untuk Sakura di hati Sasuke. Apa penantiannya selama ini akan sia-sia? Atau memang selama ini, ia tak cukup sadar bahwa memang Ino lah yang memaksa masuk di antara Sasuke dan Sakura?
Sasuke menatap Ino dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu Ino sedang tak baik-baik saja sekarang.
"Ino…"
"Terima kasih untuk makanannya. Aku sudah selesai." Ino beranjak berdiri dari posisinya dengan mulut yang masih terisi penuh.
"Ino.. Ino.. kumohon…" Sasuke menarik tangan Ino. Wanita itu berdiri mematung, tak berbalik arah. Matanya sangat merah menahan tangis. Sungguh ia tak ingin melihat Sasuke sekarang.
"Apa? Kenapa Sasuke? Selamat untukmu karena sudah bertemu dengan Sakura kembali. Bagaimana dengan Naruto?" Katakan Sasuke, katakan jika Sakura dan Naruto hidup bahagia dengan anak mereka. Sungguh Ino ingin mendengar demikian.
"Mereka sudah bercerai." Deg. Air mata Ino jatuh. Ia tersenyum frustasi. Tentu. Apa yang dia harapkan? Memang sejak awal ia dan Sasuke sudah seharusnya hanya berteman.
"Baguslah. Jadi kau bisa bersama dengannya." Ino melepas tangan Sasuke yang menahan tangannya. Ia hanya ingin berbaring di kasurnya dan menumpahkan semua air mata sialan itu.
"Ino…" Sasuke pun tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Nama Ino terucap begitu saja tanpa ia tahu harus berkata apa.
"Ada apa? Aku sudah selesai makan. Dan sudah berterima kasih. Ku mohon, Sasuke. Tinggalkan aku sendiri. Sungguh aku tak ingin ada siapapun di sini." Ino melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya.
Ino merosot jatuh di balik pintu yang sudah ia kunci rapat itu. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk meredam suara tangisnya yang ia coba tahan.
Dadanya sangat-sangat sesak. Rasanya sangat sakit. Jika bisa memilih, ia akan senang hati menerima luka fisik, daripada apa yang ia rasakn sekarang.
Tuk… tuk… Pintu Ino diketuk.
"Ino… aku sudah membereskan semuanya. Sisa makanan ku taruh di kulkas. Kau bisa memanaskannya lagi nanti." Suara Sasuke terdengar dari balik pintu kayu itu.
Ino tak menjawab. Hening. Tak lama setelah itu, ia mendengar derap langkah Sasuke menjauh dari tempatnya.
Ino tak ingin seperti ini. Bagaimanapun ia tak bisa memaksakan perasaannya. Sasuke hanya mencintai Sakura. Dan ia tahu betul bagaimana hancurnya Sasuke saat harus melepas Sakura. Ino tak ingin Sasuke terpuruk seperti dulu lagi.
Ia janji akan mendukung apapun keputusan Sasuke, tapi untuk saat ini pengecualian. Ino hanya ingin sendiri, dan melepaskan semua beban yang telah ia bawa selama ini. Ya. Sehari saja. Ia akan berusaha untuk baik-baik saja.
Sasuke mencari-cari cincinnya di mobil. Semua bagian yang memungkinkan, sudah ia geledah. Namun nihil.
Cincin itu. Ia ingin Ino memakainya. Dan terima kasih atas kecerobohannya, sekarang cincin itu hilang.
"Baka!" Sasuke memukul stir mobil kesal.
Dan disinilah Sasuke sekarang. Duduk berhadapan kembali dengan wanita musim semi. Pandangannya hanya menunduk. Entah mengapa sepasang sepatunya cukup menarik. Suara sang wanita yang sedari tadi ia dengarkan, hanya menjadi sebuah backsound samar yang sebenarnya ia tak tahu betul apa yang wanita itu katakan.
"Sasuke-kun? Sasuke-kun? Uchiha Sasuke!" Sakura sudah nampak sangat kesal sekarang.
"Y-ya? In- Sakura?" Jawab Sasuke spontan menegakkan kepalanya. Ia hampir saja menyebut nama wanita pirang yang sejak tadi ia pikirkan.
"Ino? Ino temanmu itu? Jadi tadi pagi kau bersamanya?" Selidik Sakura.
"Um… Ya.. semacam itulah." Sasuke menenggak kopinya yang sudah dingin. Sungguh dia sangat membenci minuman hitam itu jika suhunya sudah menurun.
Sakura menggenggam tangan Sasuke yang menganggur di atas meja.
"Sasuke-kun. Aku tak tahu apa yang terjadi sejak aku pergi. Namun, aku kembali untukmu. Kumohon. Aku hanya ingin memulai semuanya kembali denganmu, Sasuke-kun." Tatapan Sakura membuat Sasuke luluh.
Benar. Dia sudah memberikan seluruh hatinya untuk Sasuke. Menikah dengan Naruto pun ia lakukan demi melindungi Sasuke. Dan sekarang, ia juga harus mengambil resiko pergi dari keluarganya demi pria yang ia cintai. Sakura tak mengharap apapun selain pria itu. Cukup Sasuke imbalannya untuk semua pengorbanan yang ia lakukan.
Sasuke menarik tangannya perlahan. Melepaskan genggaman Sakura. Ia berpikir, selama ini Inolah yang selalu ada di sampingnya. Ino yang menyembuhkannya dari luka dalam yang dibuat oleh wanita di depannya ini. Dan disaat Sasuke ingin mememastikan hubungannya dengan Ino, Sakura kembali padanya.
Sungguh ia tak merasa kasihan atau iba kepada Ino. Yang ia rasakan memanglah rasa sayang terhadap wanita itu. Perlu ditekankan, rasa sayang lebih dari seorang sahabat.
Justru ia merasa iba kepada Sakura. Ia rela meninggalkan semua yang ia miliki, demi dirinya. Anggapannya kepada wanita itu selama ini adalah salah. Sasuke merasa tak bisa meninggalkan Sakura karena… wanita itu telah banyak berkorban demi dirinya. Dan ia akan merasa tak pantas jika meninggalkan wanita itu. Entahlah. Sasuke tak paham dengan perasaannya terhadap Sakura. Masihkah ada perasaan yang dulu ia rasakan pada wanita itu ataukah hanya rasa sayang kepada sahabat lama dicampur dengan rasa iba?
Melihat reaksi Sasuke, membuat Sakura mengerti. Pria itu memang mempunyai wanita lain di hatinya. Yang tak lain memang teman pirangnya itu. Tak boleh! Semua tak boleh terjadi!
"Sasuke-kun… Apa kau ingin menonton film? Ku dengar ada film bagus yang tayang hari ini."
"Sepertinya tidak untuk hari ini Sakura… aku merasa… sedikit lelah dan tak fokus…" tolak Sasuke.
"Ah.. begitu? Baiklah.. kita pulang ke rumahku ya?" Ajak Sakura tak menyerah.
"Um… aku ingin pulang ke rumahku sendiri Sakura. Maaf.." Sasuke tersenyum canggung. Ia sangat ingin sendiri saat ini.
Sakura tak bisa memaksa. Ia tak ingin imejnya buruk di depan Sasuke.
Lagipula ada tujuan lain yang ingin ia kunjungi.
Ding.. dong… ding… dong
Tangan Ini yang sedang sibuk membuat sketsa baju terhenti karena mendengar bel berbunyi. Ino memang hobi menggambar sketsa baju. Ia ingin suatu saat sketsa-sketsa buatannya dapat ia wujudkan dan ia kenakan di atas catwalk.
Ino beranjak menuju pintu depan, hendak membukakan pintu untuk tamunya.
Cklek…
Deg! Ino melotot kaget. Ia menatap tak percaya pada seseorang yang saat ini tengah berdiri tepat di depannya.
"Hai Ino? Apa kabar? Lama tak bertemu."
"Ssssss… Sai?!" Ino tak percaya. Sahabat kecilnya yang sudah lama tak ia jumpai, sekarang muncul di hadapannya.
"Ya.. haaha… rupanya kau bisa mengenaliku.. haha…" Sai melemparkan senyum manis.
"Bagaimana kau bisa tahu alamatku?"
"Um.. mungkin aku bisa menjelaskannya setelah aku masuk ke dalam?"
"Oh ya.. kau benar.. masuklah Sai.." Ino mempersilakan.
Sai Shimura. Teman masa kecil Ino. Mereka bertemu pada saat keduanya duduk di bangku sekolah dasar. Mereka sangat dekat waktu itu, hingga setelah kelulusan, Sai harus pindah ke Amerika. Dan sekarang, takdir mempertemukan mereka kembali.
Sai adalah seorang fotografer handal. Dan kebetulan Sai dipindahtugaskan oleh rumah mode tempatnya bekerja ke tempat dimana Ino juga bekerja. Selama belasan tahun ia di Amerika, baru kali ini lah ia menginjakkan kakinya kembali ke negara asalnya.
Sai sama sekali tak berubah. Kulit putih pucatnya, rambut hitam gelapnya, dan mata onixnya yang meneduhkan. Ino masih sangat-sangat ingat, itulah mengapa ia masih bisa mengenali Sai setelah sekian lama.
Saat itu Sai tengah berkunjung ke tempat kerja barunya sebelum besok ia pergi bekerja untuk pertama kali. Dan saat sedang berada disana, ia melihat foto Ino disana. Bocah perempuan pirang yang menggemaskan dulu telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Tentu saja ia juga langsung mengenali Ino. Apalagi ia ingat betul saat kecil Ino sangat gemar berpose dan difoto. Itulah mengapa ia bertekat untuk menjadi fotografer handal, karena Ino. Padahal Sai juga tak cukup yakin apakah ia akan bertemu dengan sahabat kecilnya atau tidak. Namun nampaknya semesta sangat mendukung.
Ia berusaha mati-matian meyakinkan staf disana untuk memberikan alamat Ino padanya. Tentu ia tahu hal itu tidaklah mudah. Apalagi Sai adalah orang baru. Namun dengan cerdik, Sai memanfaatkan wajah tampan dan karismanya, dan disinilah Sai berada. Di tempat Ino.
"Dasar! Untung saja Shizune-san percaya padamu." Ino tertawa geli mendengar cerita Sai.
"Tentu… pesonaku tidak akan pernah bisa ditolak, Ino. Right?" Sai sedikit narsis. Namun Inopun mengamini apa yang Sai katakan. Bocah cengeng yang dulu ia kenal, sekarang telah berubah menjadi seorang pria tampan dan gagah.
Ruangan itu tiba-tiba hening seketika. Hawa canggung terasa kental disana.
"Ehem.." Sai berdeham-deham ringan.
"Ino… kau tinggal sendiri?" Sai membuka percakapan kembali.
"Uh.. Ya. Ibu dan ayahku sudah meninggal. Sudah cukup lama." Terang Ino.
"Ah.. Maaf, Ino. Aku tak bermaksud…"
"Tak apa Sai. Lalu, bagaimana denganmu? Kau sekarang tinggal dimana? Apa kau masih menempati rumah lamamu?" Ino penasaran.
"Tentu tidak, Ino. Keluargaku sudah menjualnya sejak kami pindah. Lagipula orang tuaku memang berencana untuk menetap di Amerika, sejak ayahku pindah tugas disana." Terang Sai.
Obrolan itu terus berlanjut. Sai dan Ino saling bertukar cerita. Nampaknya suasana canggung yang semula melingkupi keduanya, sudah perlahan menghilang.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sai dan Ino memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka. Apalagi Sai harus pergi bekerja besok paginya. Pemuda itu perlu istirahat yang cukup, setelah perjalanan panjang.
Ding… dong…
Bel kembali berbunyi.
"Huh? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" Ino bergegas membukakan pintu.
"Ya sa—… Sakura?" Apalagi kali ini? Bukan Sai, namun Sakura?
"Hai Ino… boleh aku masuk?" Sapa Sakura..
Ino tak menjawab. Namun ia bergeser memberikan jalan untuk Sakura.
"Duduklah, Sakura." Ino mempersilakan Sakura duduk.
"Terima kasih, Ino." Sakura tersenyum manis padanya.
"Langsung saja, Ino. Aku kemari ingin mengatakan sesuatu perihal Sasuke-kun." Ya. Ino tak perlu kaget. Tebakannya sudah sangat tepat. Apalagi yang akan Sakura katakan selain tentang Sasuke?
"Kau tahu benar bukan? Siapa yang Sasuke-kun cintai? Aku, Ino. Haruno Sakura. Kami saling mencintai. Jadi kumohon, tolong jauhi Sasuke mulai saat ini." Sorot mata Sakura begitu serius.
"Lalu kenapa kau memilih menikah dengan orang lain dan meninggalkan Sasuke? Apa kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan?" Ino menimpali.
"Dengar Ino. Apa yang terjadi di masa lalu, itu bukanlah menjadi urusanmu. Dan kurasa aku tak perlu berpanjang lebar menyampaikan semuanya padamu. Aku permisi." Sakura beranjak dari posisinya. Ia tak mau berlama-lama berhadapan dengan Ino. Ia sangat membencinya sekarang.
Ino mematung. Ia memang tak mengenal Sakura, namun Ino merasa Sakura benar-benar telah berubah sekarang.
Cinta memang membutakan. Tak jarang juga membuat orang berubah. Dan tak terkecuali Sakura sekarang.
Skip…
Sinar matahari menerobos masuk tirai yang tak tertutup sempurna itu. Menyapa wajah tampan yang masih terlelap. Namun, nampaknya pemuda itu cukup terusik hingga menampilkan netra gelapnya. Sasuke bangkit dari posisina. Melakukan streching untuk merilekskan tubuhnya sebelum pergi mandi dan bekerja. Hari ini Sasuke ada jadwal pemotretan. Dirinya nampak bersemangat. Karena project kali ini ia akan dipasangkan dengan Ino. Ia meraih handphonenya di meja nakas. Ada pesan masuk yang belum terbaca.
Sesuke terdiam sesaat. Ternyata pesan tersebut dari staf tempatnya bekerja.
'Sasuke, datang tepat waktu jam 9 pagi. Ino-chan tidak bisa datang hari ini, jadi akan digantikan Karin. Jangan terlambat kita adakan briefing.'
Apalagi kali ini? Apa Ino sengaja menghindarinya?
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Artinya masih ada jeda waktu satu jam mulai sekarang.
Sasuke bergegas membersihkan diri dan pergi secepat yang ia bisa. Namun tujuannya bukanlah tempatnya bekerja, melainkan tempat Ino.
Pip pip pip..
"Arghh! Sialan! Ino! Ino! Buk pintunya! Ino!" Sasuke menggebrak-gebrak pintu apartment Ino dengan tak sabaran. Tentu saja karena Sasuke tak bisa mengakses kembali kode masuk apartemennya.
Ino menyeruput teh hangatnya dengan santai, sambil menikmati pemandangan di luar jendelanya.
Suara Sasuke di luar sana juga sudah tak terdengar. Nampaknya pemuda itu telah ditarik keluar oleh petugas keamanan.
"Maafkan aku Sasuke."
Handphone yang Ino pegang kemudian berdering.
"Halo? Baiklah. Saya segera kesana." Ino beranjak mengambil tasnya dan bergegas pergi.
To be continue…
Wah… terima kasih untuk minna-san yang sudah mampir dan meninggalkan satu dua kalimat.. Aku sangat senang! Terima kasih banyak. And here! Chapter 2 is up!
