Disclaimer: Sunrise

A story from a third party point of view, enjoy~

;)


.

Hari ini juga tidak ada, pikirku sambil menghela nafas.

Aku baca semua daftar reservasi di pusat data kami, yang masuk melalui layanan reservasi online maupun via telepon, dan membuat catatan sendiri di kepalaku.

Hari ini hari Jumat jadi reservasinya cukup banyak; baik untuk ruangan privat maupun ruangan makan utama. Seperti hari Jumat biasanya, malam ini akan menjadi malam yang sibuk. Dan di saat orang-orang mulai menikmati libur panjang mereka, justru di situlah saat di mana pekerjaanku dan rekan kerjaku mengalami puncak kesibukan, dan biasanya akan berlanjut sampai Minggu siang.

"Kenapa wajahmu seperti kecewa begitu, Aven?" Kudengar seseorang tiba-tiba memanggilku. Kuangkat wajahku untuk melihat Viola, salah seorang rekan kerjaku. Dia pasti baru saja selesai ganti pakaian kerja dan mulai masuk shift-nya seperti aku.

"Kecewa apanya? Sama sekali tidak kok," aku menjawab.

"Kau sedang menunggu mereka?"

"Eh?" Kenapa dia bisa tahu?

"Kenapa kaget? Bukannya kau sendiri yang cerita padaku pasangan itu selalu kemari di sekitaran tanggal segini," rekan wanitaku berkacak pinggang menatapku. "Aku cuma heran kenapa kau seperti begitu menantikan mereka berdua tiap tahun," ujarnya lagi sambil mengitari meja ke tempatku duduk, dan memperhatikan layar komputer yang sedang kubuka. "Waah, lumayan banyak juga reservasi malam ini. Yah, permulaan akhir pekan memang selalu begini sih." Viola berdiri tegak lagi dan melihat padaku yang masih duduk, "Baru juga tanggal 6 kan, masih dalam kurun waktu mereka datang ke sini. Berarti ruangan itu tidak ada yang pakai kan hari ini?" Viola menunjuk ke arah lantai atas di mana ruangan privat berada. Aku mengangguk padanya, yang kemudian berlalu untuk membereskan restoran bersama pekerja yang lainnya.

Semuanya berawal dari kebetulan saja.

Kebetulan waktu itu tahun keduaku bekerja di restoran 'Akatsuki' ini, yang berada di lantai atas salah satu hotel di pulau utama Orb. Restoran kami cukup terkenal karena selain interiornya yang tentu saja sepadan dengan reputasinya sebagai salah satu restoran hotel bintang lima, masakannya pun semua disajikan oleh koki ternama, juga tempatnya yang berada di lantai 29 dan 30; dari sini, tergantung posisi mejamu, kau bisa melihat pemandangan kota Olofath terutama nightscape-nya yang memukau, pelabuhan, laut, dan juga gunung Yalafath. Restoran kami dibagi menjadi dua; ruangan makan utama di mana semua orang-baik tamu hotel maupun tamu biasa bisa menikmati makanan di buffet prasmanan di lantai 29, dan ada juga ruang privat yang menyatu dengan bar di lantai 30. Untuk ruangan privat yang disebut Sky Lounge, semuanya ada enam ruangan. Diantaranya, ada satu ruangan privat Sky Lounge nomor 5, yang mana dari jendelanya, kau bisa melihat semua pemandangan tadi; laut, gunung, dan juga kota sekaligus. Bisa dibilang ruangan itu memiliki pemandangan yang paling bagus.

Dan sejak lima tahun yang lalu, ada satu pasangan yang selalu datang kemari tiap tahun, mereservasi ruangan itu untuk berdua saja.

Mereka berdua selalu datang di awal bulan Maret, selalu di sekitaran tanggal empat hingga sepuluh. Selama lima tahun, selalu sang pria yang memesan tempat, dan selalu sekitar tiga—empat hari sebelum mereka datang.

Tadinya aku kira mereka merayakan ulang tahun, tapi sang pria maupun wanita tidak pernah meminta layanan khusus ulang tahun seperti kue dan semacamnya, jadi sepertinya bukan. Dan lagi mereka hanya datang sekali dalam setahun.

Suatu waktu, ketika aku meminta mereka untuk berpartisipasi mengisi angket restoran, aku mendapatkan konfirmasi dari rasa penasaranku, bahwa mereka kemari untuk perayaan hari jadi. Mungkin hari anniversary mereka menjadi sepasang kekasih? Karena aku tidak melihat ada cincin di jari sang wanita.

Tapi yang membuatku bingung adalah jawaban yang mereka berikan pada salah satu poin kuesioner yang menanyakan alasan mereka memilih restoran ini. Kalau mereka menjawab karena masakannya enak, karena vibe-nya nyaman dan elegan, karena restorannya bergengsi, reviewnya selalu bagus, sering digunakan oleh para artis/aktor terkenal, atau pemandangannya yang bagus, aku masih bisa mengerti.

Tetapi, sang pria yang mengisi angket saat itu menuliskan, 'Karena sekuriti sistemnya bagus dan terpercaya.'

Memang sekuriti sistem di hotel ini bisa dibilang salah satu yang terbaik di antara hotel berbintang lainnya di Orb, karena sering digunakan oleh banyak tokoh masyarakat; artis, pengusaha, bahkan beberapa anggota pemerintah pernah menggunakan hotel kami untuk kegiatan mereka.

Tapi siapa yang makan di suatu restoran dengan mempertimbangkan keamanan tempatnya?

Meskipun poin perhatian nomor satu mereka adalah keamanan, nampaknya mereka juga menikmati makanan yang kami sajikan. Sang wanita selalu mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi masakan yang mereka santap hari itu dengan ramahnya.

Setelah dua kali melayani mereka, akhirnya begitu bulan Maret datang, tanpa sadar aku selalu memperhatikan daftar reservasi dan mencari nama sang pria setiap awal bulan Maret. Mereka berdua pun selalu tersenyum begitu datang kemari dan melihatku lagi. Syukurlah sepertinya mereka lebih merasa nyaman denganku dibandingkan bosan, karena selalu dilayani olehku.

Tapi aku sedikit heran kalau mereka datang untuk anniversary, kenapa mereka tidak pernah datang di tanggal yang sama? Dari tahun ke tahun tanggal mereka datang selalu di awal bulan, tetapi tanggalnya selalu saja berbeda. Apa karena sang pria sibuk dalam pekerjaan sehingga mereka tidak bisa datang tepat di hari jadi mereka, ya?

Penasaran, sebelum aku beranjak dan mulai mengerjakan tugasku seperti Viola, aku mencoba mengecek reservasi di tanggal berikutnya, tanggal 7 dan 8.

Dan di tanggal 8 Maret, aku melihatnya.

Reservasi untuk 2 orang, pukul 20 malam, atas nama Alex Dino.

Biasanya, isi reservasinya tidak mendetail, hanya seperti itu saja. Mereka tidak pernah memesan course yang sudah ditetapkan, selalu memesan sesuai mood mereka di tempat.

Tapi kali ini, di bagian catatan, pelanggan tahunan restoran kami ini menuliskan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Begitu memeriksa semua permintaan khusus yang ia tuliskan, aku tersenyum.

Sepertinya makan malam mereka besok lusa akan menjadi sesuatu yang spesial.


Tiga puluh menit sebelum waktu reservasi, aku menyelesaikan hiasan bunga di meja dalam Sky Lounge nomor 5 yang sudah dipesan hari ini. Biasanya tidak ada hiasan apapun di meja, hanya lilin hias kecil saja. Ini adalah bagian dari layanan tambahan yang diminta tuan Dino di reservasinya beberapa hari yang lalu. Aku yakin pasti ia merencanakan sesuatu untuk pasangannya.

Begitu mereka datang aku tahu dugaanku beberapa hari yang lalu benar.

Biasanya, sang wanita selalu datang dengan slacks yang formal, paduan jas dan celana panjang, dengan kemeja warna pastel. Tetapi kali ini ia datang dengan dress selutut yang simple tapi elegan berwarna biru tua. Satu hal yang selalu sama adalah, sang wanita selalu menggunakan skarf—yang warnanya dipadukan dengan bajunya—yang menutupi seluruh bagian atas kepalanya, dan juga kacamata lumayan tebal yang selalu ia kenakan.

Dan begitu aku mengantar mereka ke ruangan, sesuai dugaan, sang wanita sedikit terkesiap melihat meja yang ditata lebih elegan dari biasanya. Ketika sang wanita berbalik ke arah pasangannya, tuan Dino hanya berkata, "Aku yang memintanya. Sekali-sekali tidak apa-apa kan?"

Setelah mereka duduk nyaman di kursi masing-masing, seperti biasa aku menanyakan sparkling sebagai minuman pembuka. Mereka selalu mendengarkan menu rekomendasi yang ada dan selalu memesan makanan yang berbeda, meskipun mereka selalu datang di bulan yang sama; sayang sekali mereka jadi tidak bisa mencoba menu yang bisa kami sajikan di musim lain.

Selain itu, kali ini, Tuan Dino yang biasanya tidak pernah memesan alkohol, meminta sebotol sampanye di awal santap mereka—hal lain yang ia tambahkan di catatan reservasinya. Sambil berbincang sekilas tentang Tuan Dino yang menghindari minuman selama lima tahun ini, ia berkata bahwa malam ini mereka tidak perlu mengkhawatirkan menyetir dalam pengaruh alkohol ketika pulang nanti. Aku mengiyakan, dan melanjutkan layanan santap dari makanan pembuka hingga menu utama seperti biasanya.

Waktu berlalu, hingga tiba saatnya makanan penutup. Setelah menyajikan tart buah kepada keduanya, menuangkan kopi, dan meletakkan air mineral yang diminta oleh Tuan Dino, ia berkata supaya memberi mereka waktu selama 30 menit sebelum datang kembali untuk membereskan alat makan. Aku mengangguk patuh, dan begitu aku menutup pintu dari luar, aku tersenyum sendiri.

Aku sering melihat di TV atau cerita drama tentang orang-orang yang menyatakan perasaannya di tempat seperti ini. Setelah makan malam yang tenang dan romantis, sang pria akan menyatakan cintanya. Malam ini cerah, tidak hujan dan tidak berawan. Pemandangan dari jendela juga pasti terlihat bagus. Situasinya benar-benar mantap!

Kira-kira bagaimana perasaan sang wanita ya?

Entah kenapa aku malah ikut bersemangat, padahal aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka. Mereka tamuku, tidak lebih, sama seperti orang-orang yang ada di lantai di bawah ruangan ini. Tapi meskipun aku hanya bertemu mereka tiap setahun sekali, mereka sudah bersama hingga lima tahun. Itu bukan waktu yang singkat.

Dan selama lima tahun, aku selalu melihat keduanya saling bertatapan dengan pandangan yang khas, meskipun hanya sekilas. Siapapun yang melihat wajah itu, tidak akan ada yang meragukan hubungan mereka—bahwa mereka berdua saling menyayangi satu sama lain. Dan melihat mereka masih saling menatap seperti itu bahkan setelah lima tahun lamanya, aku merasa tidak bisa untuk tidak mengharapkan kebahagiaan bagi mereka.

Meskipun hanya sebatas tamu, tidak salah kan kalau aku mendoakan mereka?


Tiga puluh menit sudah berlalu sejak aku meninggalkan ruangan nomor 5. Sesuai instruksi, aku kembali ke ruangan untuk membereskan. Dalam hati aku merasa antusias untuk mengetahui bagaimana hasilnya. Apa aku akan melihat wajah bahagia mereka? Kalau melihat atmosfer mereka berdua, rasanya tidak mungkin kalau wanitanya menolak.

Begitu membuka pintu, aku tidak langsung melihat mereka; ada lorong pendek sebelum aku bisa sampai ke meja makan tamu. Namun baru beberapa langkah dan belum sempat aku memberitahukan kedatanganku, aku mendengar suara isakan.

"Cagalli!"

Suara yang terdengar panik itu sedikit mengagetkanku. Seketika langkahku terhenti, bingung. Aku mempertimbangkan pilihanku, apa sebaiknya aku ke sana dan menanyakan apa mereka perlu bantuan atau sebaiknya aku mundur sebentar.

"Apa caraku masih belum benar?" Aku mendengar tuan Dino bertanya, ada nada khawatir dalam suaranya. "Maaf, aku—"

"Bukan…" Aku mendengar suara lirih sang wanita.

Didengar dari suaranya, tidak ada tanda-tanda panik, jadi sepertinya bukan situasi darurat.

"Apa kau benar-benar tidak keberatan dengan orang sepertiku? Yang tidak bisa menyisihkan waktunya untukmu, kecuali sekali setahun seperti ini…? Yang dulu pernah mengkhianatimu—" aku mendengar suara wanita itu meneruskan.

Oke, sepertinya aku harus keluar dulu, aku menyimpulkan. Belum waktunya aku muncul; sepertinya aku terlalu cepat masuk.

Dengan hati-hati aku berjalan kembali menuju pintu untuk keluar, sebisa mungkin tanpa disadari oleh mereka. Sudah 30 menit berlalu sejak tuan Dino memintaku menunggu. Tapi dari situasi tadi, mungkin sebaiknya aku beri mereka waktu 20 menit lagi saja.

Begitu tiba kembali ke luar, aku tiba-tiba tersadar, tadi pertama kalinya aku mendengar tuan Dino memanggil nama pasangannya.

Cagalli.

Nama yang sama dengan kepala negara kami.

Apa orangnya juga mirip seperti beliau ya?

Mau tidak mau, pikiranku terbang ke satu hari di bulan Desember, 8 tahun lalu.

Aku tidak ikut menontonnya langsung, aku hanya melihat di siaran televisi dari rumah—iringan mobil pengantin nona Cagalli dari kediaman rumah keluarga Seiran menuju Kuil Suci Haumea. Kamera televisi memang sesuatu, bahkan wajah nona Cagalli dari dalam mobil pun bisa tertangkap dengan jelas. Yang aku ingat saat itu adalah wajah nona Cagalli yang tersenyum dengan air mata mengalir di wajahnya. Tangannya melambai ke arah orang-orang yang mengiringi parade itu, yang turut berbahagia dan juga mendoakan kebahagiaan nona Cagalli sendiri

Apa tangisannya waktu itu tangis bahagia?

Sebab senyumnya waktu itu tidak ikut terpancar dari matanya.

Lalu acara pernikahan ditunda di tengah-tengah dan muncul kabar bahwa nona Cagalli diculik sebelum upacaranya selesai. Lalu setelah itu, pimpinan negara diambil oleh keluarga Seiran yang secara posisi memang bertanggung jawab atas semuanya kalau nona Cagalli tidak ada. Tapi gara-gara mereka Orb tiba-tiba menjadi medan perang tanpa ada pemberitahuan pada kami rakyat sipil sama sekali. Di bawah kepemimpinan Representatif Uzumi dulu pemerintah dan militer memberitahukan situasi yang terjadi dengan sigap dan kami diarahkan dengan tertib untuk mengungsi sebelum daerah kami terlibat perang. Tapi di bawah pemerintahan Seiran sat itu, perang tiba-tiba pecah ketika kami masih menjalankan kegiatan seperti biasa. Jadi aku tidak heran kalau ada juga golongan orang-orang yang masih dendam pada keluarga bangsawan itu.

Waktu upacara pemakaman simbolis keluarga Seiran yang gugur dalam perang pun nona Cagalli tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar, entah apa yang beliau rasakan saat itu. Sampai sekarang nona Cagalli masih menyendiri. Apa beliau sedih karena suaminya meninggal tidak lama setelah mereka menikah? Apa beliau sesayang itu pada mendiang Yuna Roma sampai belum mencari pasangan baru? Atau ada alasan lainnya?

Hmm? Memangnya waktu itu mereka resmi menikah ya?

Berarti nona Cagalli bukan janda kan?

Aku menampar ringan pipiku sendiri. Memangnya aku boleh ya berpikiran seperti ini tentang nona Cagalli? Kalau ketahuan aku bisa-bisa ditangkap intel yang menyamar jadi pedagang kaki lima di depan rumah.

Tapi…

Begitu pernikahan nona Cagalli dan Tuan Yuna diumumkan, aku yakin semua orang tahu ini adalah pernikahan politik. Tujuan utamanya mungkin untuk mengeratkan hubungan antar-bangsawan. Meskipun begitu tentu saja kami berharap nona Cagalli bisa bahagia bersama Tuan Yuna.

Setelah kejadian tersebut, tidak ada yang tahu apakah pernikahan nona Cagalli nantinya akan jadi pernikahan politik lagi atau bukan. Tapi seandainya beliau bisa menikah dengan orang yang benar-benar disayangi tanpa ada embel-embel politik dan semacamnya, aku yakin semua juga akan ikut senang untuk nona Cagalli.

Meskipun aku hanya salah satu dari warga sipil Orb yang mungkin tidak akan punya kesempatan bertemu dengan beliau, aku berdoa supaya suatu saat dia bisa menemukan kebahagiaannya.


Setelah 20 menit berlalu sejak aku meninggalkan ruangan, aku kembali ke ruangan nomor 5, berharap pembicaraan mereka sudah selesai. Kalau menurutku, seharusnya semua berakhir baik-baik saja, tapi untuk jaga-jaga aku tidak mau terlibat dengan drama, apalagi dari tamu.

Begitu aku melewati ujung lorong, aku melihat kedua tamuku sedang duduk di kursi mereka masing-masing. Nona Cagalli—aku merasa aneh karena setiap memikirkan nama itu aku langsung teringat nona Cagalli Yula Athha—sedang duduk bersandar di kursinya; dan meskipun ada sisa air di matanya, aku bisa melihat dengan jelas ada senyum bahagia di wajahnya.

Dan di tangan kiri yang tertangkup di tangan kanannya, aku melihat sebuah cincin dengan batu berwarna hijau yang aku yakin tidak tersemat di jarinya ketika mereka datang.

Sementara tuan Dino sedang meminum kopinya dengan tenang; tatapan matanya tidak pernah lepas dari wanita yang duduk di kursi di seberangnya. Meski terhalang cangkir kopi, aku bisa melihat senyumnya yang tidak kalah bahagia dari pasangannya.

Aku pun tidak bisa menyembunyikan senyumku sendiri.

Setidaknya sepertinya pasangan yang satu ini mendapatkan happy end-nya.

"Permisi, boleh saya ambil piring kosongnya?" Aku mengumumkan kedatanganku, merasa sedikit tidak enak karena merusak suasana bahagia mereka. Tapi aku sedang masuk shift, kalau cuma berdiri menunggu di luar bisa-bisa aku ditegur.

"Ya, terima kasih," tuan Dino meletakkan kembali gelas kopi yang sudah ia minum.

Segera aku membereskan meja dari semua peralatan makan yang sudah selesai digunakan. Sebelum pergi aku menanyakan apakah mereka membutuhkan hal lain, tuan Dino menggelengkan kepalanya, dan langsung meminta tagihan untuk malam ini. Aku mengangguk dan meninggalkan ruangan itu lagi.

Mereka berdua sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan begitu aku datang untuk mengembalikan kartu juga bukti pembayarannya. Seperti biasa mereka selalu berterima kasih padaku yang telah melayani mereka, dan juga karena aku selalu mengantar mereka sampai ke pintu depan restoran ketika mereka pulang.

Tapi di sini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkannya.

"Maaf!" Aku menahan mereka sebelum mereka melangkah ke luar. Kedua pasangan itu berhenti dan berbalik kepadaku.

Langsung aku menundukkan kepala dan berkata dengan cepat, "Selamat atas pertunangannya!" Aku menahan tubuhku selama beberapa waktu, sebelum mengangkat kepalaku lagi dan menatap mereka berdua. Kulihat mereka seperti takjub padaku.

Untuk beberapa lama mereka tidak mengatakan apapun. Aku tiba-tiba merasa khawatir, jangan-jangan aku sudah kelewatan.

Namun di saat itulah aku mendapat kesempatan memperhatikan sang wanita—Nona Cagalli. Aku memperhatikan matanya yang ada di balik kaca mata tebal itu berwarna keemasan seperti madu. Dan matanya—yang menatap lurus ke arahku—tiba-tiba terlihat seperti berkaca-kaca.

Dialah yang lebih dulu menjawabku.

"Aku tidak menyangka kau jadi orang pertama yang menyelamati kami," ia tersenyum, entah kenapa seperti ada suatu emosi yang dalam pada senyumnya, dan aku mendengarnya mengakhiri dengan suara haru, "Terima kasih."

"Terima kasih," kali ini tuan Alex Dino yang mengucapkannya padaku. Wajahnya juga menunjukkan ekspresi yang hampir sama seperti nona Cagalli.

Padahal aku hanya pelayan restoran, tapi entah kenapa ucapan selamat dariku seperti melengkapi salah satu kebahagiannya.

"Semoga Anda berdua selalu berbahagia," kali ini aku menunduk singkat.

Lagi, keduanya tampak tertegun mendengar ucapanku, apalagi sang wanita. Kenapa? Apa selama ini tidak ada yang pernah mengucapkan itu kepada mereka berdua? Apa ada yang menentang hubungan mereka atau apa?

Mereka berdua tersenyum padaku sekali lagi, dan mengucapkan terima kasih lagi padaku, dengan suara yang lebih kecil, tapi aku tetap bisa merasakan emosi yang kuat dibalik suara mereka. Seperti takjub, haru, dan senang yang menjadi satu.

Setelah itu akhirnya mereka berjalan meninggalkan restoran ini.

Apa tahun depan mereka akan datang lagi kemari ya?


Aku tergolek di kursi lipat yang ada di ruang istirahat pegawai. Seperti biasa, hari pertama sweets buffet selalu saja melelahkan. Musim ini kami mengadakan Peach Fair—di mana kafe yang ada di lantai satu membuka buffet aneka jenis kue yang berbahan dasar persik, dan karena buffet tahunan yang diadakan dalam waktu terbatas ini selalu populer, aku yang biasanya berjaga di restoran Akatsuki di lantai atas ditarik ke kafe lantai satu untuk membantu staf yang lain.

Para gadis-gadis influencer pemburu foto makanan imut benar-benar mengerikan.

Kubuka botol minuman yang tadi kubawa kemari dan menghabiskan hampir setengahnya. Tiga puluh menit istirahat dan berikutnya aku harus bersiap untuk kembali ke Akatsuki untuk layanan santap malam.

Tiba-tiba seseorang masuk ke ruang istirahat; kulihat Viola datang sambil terburu-buru.

"Hei, kau sudah selesai juga?" Viola tidak menanggapiku sama sekali. Ia buru-buru duduk ke kursi yang paling dekat dengan televisi dan menyahut pada sensor suara untuk menyalakannya.

"Kau mau nonton drama petang hari? Memangnya sempat, 30 menit lagi kita ada giliran di Akatsuki," aku memperingatkannya. Setahuku Viola memang suka menonton sinetron drama harian di televisi, tapi ia selalu menonton siaran ulangnya sepulang kerja, tidak pernah di waktu istirahat.

"Kau memangnya tidak tahu kabar kalau hari ini Representatif Athha mau mengadakan konferensi pers?"

"Hah? Ada apa memangnya?" Memang ada kejadian khusus apa akhir-akhir ini?

Mendengar Representatif Athha aku jadi teringat tamu reguler tahunanku yang datang beberapa bulan yang lalu. Karena mereka memiliki nama depan yang sama.

Apa sekarang mereka sedang merencanakan pernikahan mereka ya?

"Katanya Representatif Athha mau mengumumkan pertunangannya."

"Oo—Haaah?"

Kenapa kebetulan sekali? Dua orang yang bernama Cagalli yang aku tahu bertunangan di waktu yang lumayan dekat. "Kapan kabar itu muncul?"

"Tadi pagi, katanya pers diberitahukan kalau pertunangannya sudah diterima oleh jajaran Dewan Eksekutif, dan sore ini beliau akan mengadakan konferensi pers."

Dari belakang aku mendengar suara pintu terbuka lagi, dan suara beberapa orang masuk. Kudengar mereka bertanya apakah konferensi persnya sudah mulai atau belum. Sepertinya mereka kemari untuk tujuan yang sama dengan Viola. Sambil menunggu acara dimulai, komentar-komentar dari mereka langsung mengalir layaknya gosip tetangga yang sering aku dengar ketika keluar rumah untuk bekerja.

"Sudah 8 tahun sejak pernikahan beliau dengan mendiang Yuna Roma kan?"

"Kali ini siapa pasangannya ya?"

"Tapi waktu itu memangnya pernikahannya sah ya? Bukannya diinterupsi di tengah-tengah upacara pemberkatan?"

"Coordinator atau Natural ya?"

"Buat apa menanyakan itu?"

"Cuma penasaran saja kok. Yang manapun tidak masalah buatku. Yang penting Nona Cagalli bahagia."

"Hei, diam, diam. Sudah mau mulai!"

Aku memilih duduk diam sambil melihat layar televisi yang menampilkan ruangan tempat konferensi pers. Kulihat di sudut layar terpampang nama tempat acara diadakan; rumah dinas kepala representatif yang juga terkadang dipakai sebagai tempat menjamu beberapa tamu spesial, dan juga untuk tempat konferensi pers beberapa kali. Kamera masih menunjukkan ruangan yang hanya diisi oleh staf, pasukan pengamanan, dan para wartawan.

Beberapa detik kemudian, Representatif Athha memasuki ruangan konferensi pers, diikuti seseorang… yang terasa familiar.

"Itukah tunangannya? Perwira militer?"

"Lho, itu Admiral Athrun Zala kan?"

"Zala? Bukannya itu…"

"Kau tidak tahu? Dia sudah ditunjuk jadi Ketua Staf Gabungan sejak beberapa tahun lalu."

"Kau tahu banyak soal militer ya?"

"Kakakku anggota militer, tapi di angkatan laut. Jadi dia hanya bertemu Admiral kalau ada kegiatan gabungan atau khusus. Kadang-kadang aku mendengar cerita tentangnya juga sih. Kalau di sana posisinya sudah sangat kuat sekarang dan sangat dipercaya bawahan langsungnya."

"Tapi kan tetap saja dia dulu…"

Semua membicarakan tentang Admiral Zala dan karirnya, rekam jejak masa lalunya, dan lain-lainnya. Sementara yang ada di kepalaku hanya satu.

Bukannya itu tamu yang selalu datang ke restoran kami setiap tahun di awal bulan Maret?!

"Selamat siang. Saya Representatif Dewan Eksekutif Negara Kesatuan Orb, Cagalli Yula Athha."

"Ketua Staf Gabungan Angkatan Militer Negara Kesatuan Orb, Admiral Athrun Zala."

Aku masih sangsi meskipun melihat wajah Admiral Zala tadi, tapi begitu dia membuka suaranya, tidak salah lagi, Admiral dan tuan Dino adalah orang yang sama.

Berarti selama ini, pasangannya yang bernama Cagalli itu…

"HAAAAAAAAAH?!"

"Shhh, Aven, diam!" Viola menegurku yang tiba-tiba berdiri dari kursiku.

"Kenapa kau kaget begitu?" Tanya yang lain.

Aku tidak mengindahkan mereka, mataku tetap terpaku pada layar televisi, sambil mencoba memahami semua informasi baru yang berjubel di kepalaku.

"Terima kasih kepada rekan pers yang telah menyempatkan diri memenuhi pemberitahuan mendadak kami. Seperti yang sudah disebutkan oleh kepala kesekretariatan kabinet sebelumnya, kami di sini bermaksud untuk mengumumkan pertunangan saya dengan Admiral Athrun Zala."

Berarti selama ini aku melayani dua orang dengan posisi paling tinggi di negara ini!

Lututku gemetar membayangkan selama melayani mereka, apa aku pernah berbuat sesuatu yang tidak sopan atau apa. Tapi karena sampai saat ini aku masih hidup, seharusnya sih tidak apa-apa. Malah selama ini, mereka bisa dibilang tamu paling ramah yang pernah aku layani.

Berarti bisa dibilang, akulah orang pertama yang menjadi saksi pertunangan mereka. Tidak, bahkan sebelum itu; aku menyaksikan perjalanan mereka dari masa mereka berpacaran hingga akhirnya bertunangan.

Oke, sekarang lututku benar-benar lemas. Aku duduk kembali ke kursiku, sementara begitu aku sadar dan memperhatikan konferensi persnya lagi, sepertinya pernyataan dari Nona Cagalli sudah selesai dan para wartawan mulai mengajukan pertanyaan mereka masing-masing. Dan di sekelilingku, teman-temanku mulai bersahutan lagi dengan komentar mereka.

"Publik figur Natural yang menikah dengan Coordinator, sepertinya belum terlalu banyak ya? Kalau orang biasa sih aku sering dengar sekarang, sudah mulai lumrah kan."

"Tapi kalau Nona Cagalli menikah dengan anggota militer, apa mungkin ini pernikahan politik juga ya?"

"Kalau pernikahan politik lagi, kasihan sekali Nona Cagalli. Kalau nanti dia diculik lagi di tengah pernikahan bagaimana? Apalagi Zala yang dulunya…"

Mendengar pertanyaan itu, aku langsung menyanggah singkat. "Bukan," dengan yakin aku menjawab pertanyaan mereka. "Ini bukan pernikahan politik. Mereka benar saling mencintai," ujarku sambil tetap memperhatikan layar televisi.

"Tahu dari mana? Kau malah sepertinya yang paling kaget di antara kita tadi," Viola bertanya padaku. Aku bisa merasakan pandangannya ke arahku.

Aku merasa aku tidak bisa bilang bahwa identitas tuan Alex Dino yang selalu aku layani selama 5 tahun ini sebenarnya adalah Admiral Zala yang selalu datang kemari bersama nona Cagalli. Pasti bakal ribut kalau mereka tahu, belum lagi kalau ada yang buka suara pada pihak lain yang bukan orang hotel. Aku juga masih ingin menyimpan rahasia ini untukku saja. Jadi aku mencari alasan lain untuk menjelaskan kata-kataku.

"Kalian memang tidak melihatnya tadi?"

Untung ada hal lain yang bisa mendukung pernyataanku. Meskipun cuma sekilas, tadi mereka berdua menatap wajah satu sama lain setelah mendengar satu pertanyaan dari salah satu wartawan yang hadir. Ekspresi yang hanya berumur satu detik dan mungkin hanya sedikit yang menyadarinya. Namun aku langsung tahu karena itu adalah ekspresi yang familiar bagiku. Karena aku sudah pernah melihatnya, beberapa kali dalam lima tahun ke belakang.

Wajah yang damai karena keberadaan satu sama lain. Ekspresi lembut yang hanya ditujukan pada satu sama lain saja.

Dan puncaknya adalah ketika mereka datang kemari beberapa bulan lalu, ketika nona Cagalli keluar dari ruangan itu dengan cincin bermata hijau di jarinya.

Sekarang pun cincin itu masih ada di sana.

Dalam hati, aku merasa tersanjung karena bisa menjadi orang pertama yang tahu mengenai pertunangan mereka, menjadi saksi perjalanan mereka, bahkan memberikan selamat.

Aku yang melihat mereka dari tempat yang terbilang dekat meskipun hanya setahun sekali, bisa berkata dengan pasti bahwa pertunangan Representatif Cagalli Yula Athha dengan Admiral Athrun Zala bukan sesuatu yang didasari politik atau apapun. Hubungan mereka sudah berlangsung sejak lama, dan apa yang ada di antara mereka adalah hubungan yang tulus.

Setelah sekian tahun menyembunyikan perasaannya, dengan ini mereka pasti sudah siap menghadapi reaksi dunia atas resminya hubungan mereka. Dan dengan masa lalu Admiral Zala, pasti akan ada pro dan kontra. Belum lagi dengan posisi penting yang dipegang masing-masing. Mereka sudah tahu konsekuensinya dan tetap mengumpulkan keberanian untuk terbuka dan mengumumkan pertunangannya. Maka dari itulah aku yakin mereka yang sudah bersama selama itu pasti bisa melewati semuanya, dan pada akhirnya mendapatkan happy end mereka.

Akupun teringat doaku malam itu, dan berbisik dalam hati sambil tersenyum.

"Terima kasih sudah mengabulkan doaku, Haumea. Lindungilah mereka sampai tiba hari bahagianya."


Terinspirasi dari Cagalli-sama yang bilang, "Kaya gini caramu ngasih cincin sama perempuan!?"

Jadi ceritanya Athrun balas dendam dan melakukannya dengan cara yang benar.

Akhir-akhir ini sering baca fic asucaga dari sudut pandang orang lain, jadi lagi senang nulis yang beginian. Maaf kalau asucaganya ga terlalu kelihatan.

Thanks for reading,

Cheers~