Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pelayan yang juga merangkap sebagai budak tawanan sebuah kerajaan yang begitu megah, berkuasa, dan penuh adidaya. Panji-panji keagungannya merata dari istana utama sampai perbatasan negara. Negara yang dipimpin oleh seorang raja yang maha tampan penikung ibu-ibu bersuami bernama Amato. Dengan bala tentaranya sang raja menaklukkan berbagai macam negara dan menaruh mereka pada kekuasaannya.

Sang pelayan adalah seorang budak dari negeri bernama Windara, putra angkat dari seorang ratu bernama Kuputeri. Sang pelayang yang dulunya adalah seorang prajurit terkuat juga seorang pangeran tunggal itu terpaksa merelakan dirinya menjadi budak rendah penuh debu kotor dan tersiksa demi negaranya dan sang ibunda ratu angkat, agar mereka bisa hidup bebas dengan menekan upeti serendah yang mereka bisa.

Tidur di kasur keras yang reot bersama budak lain di dalam ruang besar, makan apa saja yang disediakan dapur kerajaan yang umumnya berupa roti hambar dan sup, membersihkan sebagian besar ruangan sendirian.

Ya, sendirian. Sang pelayan yang malang itu selalu bekerja sendirian. Dia memiliki kelainan berupa mata yang menyala, kata mereka itu adalah kutukan. Seorang anak yang dikutuk dan dibuang ke gereja. Entah siapa aslinya orang tuanya, tetapi gegara mata itu dia juga dikaruniai kekuatan mengendalikan angin. Menciptakan bencana alam yang luar biasa membinasakan apapun rata dan porak poranda.

Dia dulu sangat ditakuti.

Namun Amato berhasil mengalahkannya. Menyegel kekuatannya dengan tanda uban putih di rambutnya. Membuatnya tidak memiliki kuasa untuk melawan, menyisakan matanya yang terus menyala dala malam.

Sang pelayan, mantan pangeran, seorang budak mengorbankan harga dirinya demi negara tercintanya, dialah Beliung.

.

.

.

Dongeng: Beliung dan Malam Penuh Kerinduan

Boboiboy (c) Monsta

Dongeng: Beliung dan Malam Penuh Kerinduan (c) Valkyrie Ai

Rated: T

Boboiboy x Beliung

Fairytale AU Royal AU

#MonthlyFFA #MidnightFFA #FourKingdom

Fanfic ini dibuat dengan penuh paksaan dan penekanan dari penulis yang tak mempunyai ide untuk TsubasaKei. Semoga menikamati.

Warning: OOC, AU, typo, slight BL

.

.

.

Setiap malam jikalau Beliung tak bisa tidur, dia akan pergi ke taman kerajaan. Hanya duduk di tengah taman memandang jauh langit malam. Merindukan kerajaannya dan bertanya-tanya bagaimana kabar mereka. Membayangkan kalau sang ibunda ratu sedang tertidur nyenyak di kasurnya yang empuk.

Membayangkannya saja menarik senyum kecil pada wajah Beliung.

Di malam yang selalu sunyi itu Beliung bisa merasakan semilir angin malam menyapu gerai rambut birunya. Menyejukkan hatinya dan menerbangkan syal tipis hadiah dari sang bunda ratu, satu-satunya hal yang Beliung mohon pada sang raja agar dia bisa terus memakainya.

Mata itu terpejam. Dalam benaknya tergambar negara Windara yang tenang. Semuanya bahagia. Segala kerusakan sudah diperbaiki. Semuanya tertidur nyenyak di malam yang sunyi itu.

Sungguh hanya inilah hal yang menenangkan hatinya.

"Kau sering sendirian di sini?"

Sebuah suara mengangetkan. Beliung membuka kelopak matanya dan menoleh. Dia membeliak tak percaya dan segera mengubah postur tubuhnya menjadi berlutut penuh hormat, menunduk pada sosok yang ada di depannya. Mulut bungkam tak mau bicara dan mata tak mau menatap. Beliung bukannya takut. Dia hanya tak mau salah langkah berakhir kepalanya dipenggal.

Dia terkekeh. Duduk di sebelah Beliung penuh santai dengan senyum hangatnnya, "Tak perlu seformal itu. Tidak ada yang lihat kok. Angkat wajahmu, posisi kita sebenarnya sama kan?"

Beliung ragu, namun dia akhirnya memutuskan mengangkat wajahnya. Memperhatikan lebih jeli sosok di depannya yang sedang tersenyum lembut. Memakai pakaian kasual yang masih memiliki corak apik berwibawa, dia Boboiboy, putra tunggal dari Amato dan putra tunggalnya yang sangat dibanggakan, calon raja berikutnya yang memilih untuk tidak terjun ke medan perang dan hanya fokus pada ekonomi dan kedamaian rakyat.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Ragu, Beliung mengalihkan pandangannya dan sedikit menunduk. Masih diam tak mau menjawab.

"Jangan diam saja, dong. Tidak akan ada yang menggigitmu, santai saja."

Beliung meneguk air liur sendiri membasahi kerongkongannya, "Hanya diam menenangkan diri." Jawab Beliung lirih.

"Ohhh..." Boboiboy mengangguk paham, beralih menatap lurus ke langit menikmati malam berbintang.

Sebentar Beliung melirik pada Boboiboy. Memperhatikan garis wajahnya yang terlihat muda di umurnya yang akan menginjak di angka dua puluh. Lalu kembali menengadah ke langit.

"Uhm, Beliung?" Boboiboy memanggil ragu.

"Ya?"

"Mau tidak kau menjadi temanku?"

Pertanyaan dari sang pangeran reflek membuat Beliung terpengarah. Dia dengan perlahan dan pertanyaan menumpuk di kepala dan isi hatinya memandang rupa ragu dan khawatir Boboiboy. Meminta penjelasan dalam kesunyian.

"Aku selalu sibuk di dalam istana. Semuanya enggan padaku kalau aku ajak ngobrol santai. Seperti takut begitu kalau salah bicara. Ya, aku paham sih kenapa mereka takut. Tapi, itu juga membuatku cukup sedih. Aku tidak ingin berdiri di atas mereka, aku ingin sejajar dan berkawan dengan banyak orang." Kata Boboiboy cukup panjang, dia menunduk, "Permintaanku untuk hanya menjadi teman apakah sulit dikabulkan?"

Hanya menjadi teman ya?

Seandainya Boboiboy bukan pangeran dan hanya rakyat biasa, dia pasti akan memiliki banyak teman. Dan Beliung paham akan situasi itu, dia juga kadang merasakan betapa kesepiannya dia di istana Kerajaan Windara tanpa seorang teman.

"Uhm, kau mau?" tanya Boboiboy menoleh ragu.

Beliung tersenyum, "Mau kok, tapi rahasiakan ini ya. Itu, aku tidak mau kalau sampai ketahuan raja."

"Ayah?" Boboiboy bertanya-tanya lagi dalam benaknya, kemudian senyum simpulnya tertarik, "Oke, bukan masalah kalau itu. Jadi, kita sekaran teman?"

"Ya." Beliung mengangguk.

Mereka berdua tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya. Lalu tertawa kecil entah pada komedi apa. Yang jelas mereka merasa bahagia saat itu.

.

Setiap malam Boboiboy dan Beliung selalu bertemu di taman berumput lapang. Saling bercerita dan tertawa akan bagaimana hari mereka berjalan. Cerita Beliung yang kadang kelabakan mengusir tikus yang entah datang dari mana, atau cerita Boboiboy yang harus pusing tujuh keliling mengatasi ekonomi kerajaan yang semakin melebar. Dia mengutuk ayahnya yang suka seenak jidat memperluas wilayahnya. Begitu sudah dapat dilempar ke Boboiboy guna mengurusnya. "Ayah kurang ajar." Itu umpatan yang selalu keluar dari mulut sang putra semata wayang.

Terkadang Boboiboy akan membawa beberapa makanan atau sesuatu yang menarik menurutnya untuk berbagi dengan Beliung. Dia membawa apa saja sampai Beliung kadang tertawa tanpa henti akan anehnya benda yang Boboiboy bawa. Dan saat itu Beliung baru tahu, kalau Boboiboy memiliki selera humor yang cukup mengocok perut.

Pertemanan mereka bagai gemerlap bintang di langit malam. Sangat indah dan bersinar terang menghias malam.

Boboiboy mengajaknya beradu gulat kecil, menjahilinya, mengajaknya berdansa di bawah langit malam dengan lantunan senandung yang Boboiboy nyanyikan. Senyum di antara keduanya, tawa di antara keduanya, kebahagiaan di antara keduanya, memekarkan bunga-bunga di tanah lapang. Seakan selamanya adalah musim semi yang hangat di malam hari yang dingin.

Sampai suatu hari Boboiboy mengajak Beliung keluar istana, menggandeng tangannya menelusuri jalanan sepi dengan tudung menutupi wajah mereka. Bersembunyi dari penjaga malam yang berpatroli di kota utama.

"Kita mau ke mana, Boboiboy?" tanya Beliung, membiarkan tangannya ditarik oleh Boboiboy.

"Nanti juga akan tahu." Jawab Boboiboy, senyum masih merekah di sana.

Beliung hanya diam mengikuti ke mana Boboiboy menariknya. Hanya bisu di antara mereka dan pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk. Sampai dia dibuat terpengarah oleh betapa megahnya bangunan yang menjulang tinggi di depannya. Sebuah gereja dengan batu kristal yang mencuat di setiap sudut yang acak. Batu kristal putih indah yang bersinar di malam bulan purnama sempurna.

"Kita mau apa ke sini?" Tanya Beliung lagi.

Tidak ada jawaban. Boboiboy malah membawa Beliung pada altar utama gereja. Berdiri di depan mimbar saling berhadapan. Dibukanya tudung kepala Beliung, memamerkan rambut biru gelapnya yang mengkilap indah dengan secuat uban yang menyegel kekuatannya.

"Beliung..." panggil Boboiboy lembut.

Pipi gembul Beliung tersipu. Iris coklat itu begitu teduh, menatap mata terkutuk Beliung penuh kasih sayang. Senyumnya yang selalu hangat terpatri indah mengukir paras tampan sang pangeran, "Boboiboy..."

Tangan lebar yang tidak digunakan untuk mengangkat senjata guna berperang itu menangkup wajah Beliung. Membuat sang mantan Pangeran Windara memejamkan mata, seakan bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Jantungnya berdegup kencang, napasnya terasa hangat, seperti ada kupu-kupu yang menari di dalam perutnya, perasaan asing yang menggelitik jantung dan paru-parunya. Beliung tak membencinya.

"Aku akan mengambilnya."

Kelompak itu membelalak sempurna. Tubuhnya gemetar, jantungnya berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Beliung menunduk pada perutnya. Lalu telinganya mendengar alunan himne yang melantung dari segala penjuru ruangan altar. Dia melihatnya, para pastor yang mengmadah melantunkan nyanyian pujian pada dewa. Membuka kitab sucinya yang aksaranya bersinar akan larik suci.

Satu darah menetes dari ujung belati yang menancap, terpaksa menamparnya pada kenyatakan kalau perutnya tertusuk. Pelaku, sang pangeran yang dia anggap teman. Darah dari orang yang dikaruniai untuk membina dan memelihara angin alam. Pembawa bencana alam, juga pembawa berkah Windara, menetes satu per satu menodai lantai bercorak altar gereja. Membentuk lingkaran sihir yang menyilaukan. Menyalakan kristal gereja dengan benderangnya antara dalamnya biru laut dan indahnya biru tua. Lambang warna sang admiral topan.

"Boboiboy..." Beliung memanggil, mulutnya gemetar tak percaya. Tangannya meremas jubah hitam Boboiboy. Mata yang dia anggap selalu hangat dan seindah pepohonan di musim semi itu berubah menjadi dingin dan kosong. Jalan menuju lorong panjang tak berujung yang gelap, menakutkan, "Kenapa?"

Belati itu dicabut, rasa sakitnya semakin menjalar ke seluruh tubuh. Beliung jatuh tertidur miring menekan titik darahnya mengalir di perutnya. Menekan pendarahan parah yang membawanya pada kondisi kritis.

Kematian.

"Mulaikan upacaranya!" titah Boboiboy. Berjalan pergi meninggalkan Beliung yang hanya tersungkur lemas di lantai sampai cahaya di mata Beliung meredup, menampakkan iris birunya yang selama ini tersembunyi. Membulat sempurna pada syok berat sebelum tertutup selamanya akan pengkhianatan yang tak dia sangka.

Beliung, sang pangeran dari Kerajaan Windara, putra angkat dari sang Ratu Kuputeri, tewas dibunuh oleh Pangeran Boboiboy di altar gereja malam itu.

.

.

.

End

.

A/N: Valky memutuskan kembali ke fandom dengan cerita gak warasnya. Jadi awal mula dibuatnya cerita ini karena saya pengen banget nulis tapi gak ada ide. Jadi saya minta seseorang buat request ke saya dan Kei, JENG JENG JENG!!! Dia minta pair yang langka di fandom dan dongeng. Iya kan dongeng? Saya amnesia mendadak. Dan terbentuklah ini fanfic. Selamat untuk saya, yey! Jangan lupa tinggalkan review kalau suka dan tunggu saya di dongeng absurb yang lain.

.

OMAKE

"Dan akhirnya pangeran Beliung meninggal dibunuh pangeran Boboiboy, tamat." Kaizo menyudahi dongeng pengantar tidurnya.

Fang, lima tahun, menarik selimutnya sampai bawah hidung dan gemetar ketakutan.

"Nah, dongengnya sudah selesai. Sekarang tidurlah, Kau besok masuk taman kanak-kanak." Suruh Kaizo, tiga belas tahun, disuruh mendongeng untuk adiknya agar bisa tidur.

"Apa yang pangeran Boboiboy lakukan berikutnya?" tanya Fang kecil, masih ketakutan dan penasaran.

Kaizo beranjak dari sisi kasur Fang, berjalan ke pintu kamar Fang dan menutupnya, "Selamat malam, Fang."

"Kak! Fang penasaran!" Seruan Fang tak dijawab. Pintu kamarnya ditutup. Fang kecil masih gemetaran. Sampai ujung-ujungnya dia lelah berpikir dan tertidur nyenyak.